Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kebutuhan

energi

listrik

meningkat

seiring

berkembangnya

perekonomian, oleh karena itu upaya pembaharuaan energi untuk


memanfaatkan seluruh sumber daya alam sudah merupakan solusi untuk
mengatasi terbatasnya minyak bumi, gas dan batu bara.
Indonesia mempunyai potensi energi panas bumi terbesar di dunia sebesar
27.510 MWe.Karakteristik dari panas bumi ialah, bisa didapat secara terus
menerus tanpa terpengaruh oleh keadaan musim, selain dari pada itu untuk
mengubah energi panas bumi menjadi energi listrik memerlukan proses yang
relative sederhana dibandingkan dengan Pembangkit thermal lainnya.
Untuk menunjang beroperasinya unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas
Bumi (PLTP) terdiri dari beberapa sistem pendingin. Sistem pendinginan
yang terdapat pada unit PLTP salah satunya adalah cooling tower ( menara
pendingin ). Peran Cooling tower pada unit PLTP sebagai pendingin sangat
vital karena mempengaruhi dan menentukan kinerja unit pembangkit,
sehingga penyusun berminat untuk menginformasikan data tersebut sebagai
bahan kajian bersama.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai
berikut :
1. Sistem Operasi Cooling Tower
2. Klasifikasi Cooling Tower
3. Komponen Cooling Tower
4. Pemeliharaan Cooling Tower
1.3. Batasan masalah
Untuk menghindari meluasnya masalah maka permasalahan dibatasi yaitu:
1. Peran Cooling Tower di industri pembangkit listrik
1

2. Sistem operasi Cooling Tower


3. Klasifikasi Cooling Tower
4. Komponen Cooling Tower
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dibuatnya seminar mengenai Cooling Tower ini adalah :
1. Mendapatkan gambaran dan pemahaman secara jelas mengenai cara
kerja dari Cooling Tower pada unit PLTP
2. Mengenal Komponen komponen dari Cooling Tower
3. Mengenal Klasifikasi Cooling Tower
4. Mengenal dan mempelajari berbagai hal tentang permasalahan yang
terdapat di Cooling Tower pada unit PLTP

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Proses Produksi PLTP
Uap dari sumur produksi dialirkan ke steam receiving header ( 1 ), yang
berfungsi menampung pasokan uap serta tekanan uap diatur 6,5 Bar sehingga

tidak mengalami gangguan meskipun terjadi kelebihan pasokan uap dari sumur
produksi. Selanjutnya uap dialirkan ke separator ( 2 ) untuk memisahkan
partikel partikel padat dari uap, selanjutnya uap melalui flow meter agar
diketahui jumlah uap yang akan masuk turbin ( 3 ). Sebelum masuk turbin uap
melalui demister untuk memisahkan bintik bintik air yang terkandung di uap
( 4 ). Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya getaran, erosi, serta
pembentukan kerak pada sudu dan nozzle turbin.
Uap yang telah bersih itu di alirkan melalui main stop valve lalu
disitribusikan ke governor valve ( 5 ) menuju ke turbin ( 6 ). Turbin di PLTP
pada umumnya menggunakan jenis double flow yang dikopel dengan generator
( 7 ), pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini menghasilkan energi listrik dengan
arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dan tegangan output generator sebesar 11,8 Kv.
Melalui step up transformer ( 8 ) tegangan dinaikkan hingga 150 Kv,
selanjutnya dihubungkan melalui PMT 150 kv ( parallel ) dengan sistem
penyaluran distribusi ( 9 ).
Exhaust steam yang keluar dari turbin dikondensasikan di dalam kondensor
dengan cara kontak langsung dengan air pendingin yang berasal dari cooling
tower, exhaust steam yang tidak terkondensasi di kondensor dihisap
menggunakan ejector first stage dan second stage ( 10 ). Ketinggian permukaan
air pada kondensor selalu dijaga dalam kondisi normal ( NWL = 1500 ) oleh
main cooling water pump ( 11 ), lalu dipompakan menuju cooling tower untuk
proses pendinginan ( 12 ) sebelum disirkulasikan kembali kondensor.
Proses pendinginan yang terjadi pada cooling tower berlangsung dengan
sistem kerja penukaran panas yang menggunakan media udara dan air,
berkontak langsung satu sama lain sehingga terjadi perpindahan panas.
Kelebihan air kondensat dari proses yang terjadi pada menara pendingin akan
diinjeksikan kembali ke dalam sumur reinjeksi ( 13 ). Reinjeksi dilakukan untuk
mengurangi pengaruh pencemaran lingkungan, mengurangi ground subsidence
serta recharge water bagi reservoir di perut bumi.

2.2 Sistem Pendinginan


Sistem pendingin pada unit PLTP terdiri dari dua macam sistem sirkulasi
yaitu sistem air pendingin utama ( Main Cooling Water System ) yang
melayani pendinginan pada kondensor dan sistem air pendingin sekunder
( Secondary Cooling Water System ), yang melayani pendinginan untuk
peralatan bantu seperti Oil Cooler, Generator Air Cooler, dan Compressor Air
Cooler.
Pendinginan ini terjadi sebagai akibat adanya penguapan dari sebagian air
kedalam aliran udara yang mempunyai kelembaban rendah, sehingga air panas
akan melepaskan sebagian panas sensibelnya dengan jumlah yang sama dengan
jumlah panas laten yang diperlukan untuk terjadinya penguapan tersebut.

BAB III
METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penggalian Data

Data yang digunakan dalam penulisan ini berasal dari data yang
didapatkan dari hasil studi literatur dari beberapa referensi buku dan internet.
Materi yang diambil adalah mengenai data-data yang menyangkut Cooling
Tower pada Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
3.2 Data
3.2.1 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penulisan ini didapatkan dari hasil studi
literatur dari beberapa referensi buku dan internet.
3.2.2 Jenis Data
Data-data yang dipakai dalam penyusunan seminar ini berupa Data
Sekunder, yaitu data yang didapat dengan membaca literatur-literatur yang
berkaitan dengan tema pembahasan.
3.2.3 Analisa Data
Data yang didapatkan dianalisis dengan mengkaji dan mempelajari
literature yang ada yang berkaitan dengan permasalahan, serta pengumpulan data - data
melalui buku-buku literatur atau buku petunjuk pengoperasian.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Definisi Cooling tower

Secara umum cooling tower dapat dikategorikan sebagai pendingin evaporatif


yang digunakan untuk mendinginkan air atau media kerja lainnya sampai
bertemperatur mendekati temperatur bola basah udara sekitar. Kegunaan utama dari
cooling tower adalah untuk membuang panas yang diserap akibat sirkulasi air
sistem pendingin yang digunakan pada pembangkit daya, kilang petroleum, pabrik
petrokimia, pabrik pemrosesan gas alam, pabrik makanan, pabrik semikonduktor,
dan fasilitas-fasilitas industri lainnya.

Jika suatu pabrik tidak dilengkapi dengan cooling tower dan hanya
menggunakan sirkulasi air pendingin sekali pakai, air pendingin yang telah
digunakan dan mengalami kenaikkan temperatur selanjutnya dibuang ke
laut, danau atau sungai yang ditentukan. Pembuangan sejumlah air hangat
tersebut dapat meningkatkan temperatur sungai atau danau tersebut sehingga
dapat merusak ekosistem lokal. Cooling tower dapat digunakan untuk
membuang panas ke atmosfir sebagai pengganti angin serta difusi udara
yang menyebarkan panas ke area yang lebih luas. Sistem operasi dari
cooling tower ditunjukkan pada gambar.

Gambar 1. Sistem operasi cooling tower

Pada PLTP, sistem pendinginannya memanfaatkan udara pegunungan


yang dingin dan bersih. Akan tetapi, karena udara bersifat sebagai gas, maka
dibutuhkan volume yang besar, dan permukaan pertukaran panas yang luas,
agar pendinginannya sempurna. Untuk itu dibutuhkan suatu menara yang
tinggi. Pada menara pendingin ini, udara dihisap kedalam dan setelah
mendinginkan

kondensator, udara

yang

telah

menjadi

panas

ini,

dihembuskan keluar melalui cerobong menara disebelah atas.

Gambar 2. Diagram skematik sistim menara pendingin


4.2

Klasifikasi Cooling Tower


Cooling tower dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal, antara lain:
1. Menurut metode perpindahan panas
a. Wet CoolingTower (cooling tower basah)
Pada cooling tower jenis ini, air panas didinginkan sampai pada
temperatur yang lebih rendah dari temperatur bola basah udara sekitar, jika
udara relatif kering. Seperti udara jenuh yang melewati aliran air, kedua

aliran akan relatif sama. Udara, jika tidak jenuh, akan menyerap uap air lebih
banyak, meninggalkan sedikit panas pada aliran air.
b. Dry cooler (pendingin kering)
Cooling tower ini beroperasi dengan pemindahan panas melewati
permukaan yang memisahkan fluida kerja dengan udara ambient. Dengan
demikian akan terjadi perpindahan panas konveksi dari fluida kerja, panas
yang dipindahkan lebih besar daripada proses penguapan.
c. Fluid cooler (pendingin fluida)
Pada cooling tower ini saluran fluida kerja dilewatkan melalui pipa,
dimana air hangat dipercikkan dan kipas dihidupkan untuk membuang panas
dari air. Perpindahan panas yang dihasilkan lebih mendekati ke cooling tower
basah, dengan keuntungan seperti pada pendingin kering yakni melindungi
fluida kerja dari lingkungan terbuka.
2. Menurut metode pembangkitan aliran udara
a. Natural draft (penggerak udara alami)
Menara pendingin jenis natural draft atau hiperbola menggunakan
perbedaan suhu antara udara ambien dan udara yang lebih panas dibagian
dalam menara. Begitu udara panas mengalir ke atas melalui menara (sebab
udara panas akan naik), udara segar yang dingin disalurkan ke menara
melalui saluran udara masuk di bagian bawah. Tidak diperlukan fandan
disana hampir tidak ada sirkulasi udara panas yang dapat mempengaruhi
kinerja. Kontruksi beton banyak digunakan untuk dinding menara dengan
ketinggian hingga mencapai 200 m. Menara pendingin tersebut
kebanyakan hanya digunakan untuk jumlah panas yang besar sebab
struktur beton yang besar cukup mahal.
Terdapat dua jenis utama menara natural draft:

Menara aliran melintang udara dialirkan melintasi air yang jatuh dan
bahan

pengisi berada diluar menara.

Menara dengan aliran yang berlawanan arah : udara dihisap melalui air
yang jatuh dan oleh karena itu bahan pengisi terletak dibagian dalam
menara, walaupun desain tergantung pada kondisi tempat yang spesifik.

b. Mechanical draft (penggerak udara mekanik),


Menara draft mekanik memiliki fan yang besar untuk mendorong
atau mengalirkan udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun diatas
permukaan bahan pengisi, yang membantu untuk meningkatkan waktu
kontak antara air dan udara hal ini membantu dalam memaksimalkan
perpindahan panas diantara keduanya. Laju pendinginan menara draft
mekanis tergantung pada banyak parameter seperti diameter fan dan
kecepatan operasi, bahan pengisi untuk tahanan sistim dll.
Menara draft mekanik tersedia dalam range kapasitas yang besar.
Menara tersedia dalambentuk rakitan pabrik atau didirikan dilapangan
sebagai contoh menara beton hanya bisa dibuat dilapangan. Banyak menara
telah dibangun dan dapat digabungkan untuk mendapatkan kapasitas yang
dikehendaki. Jadi, banyak menara pendingin yang merupakan rakitan dari
dua atau lebih menara pendingin individu atau sel. Jumlah sel yang
mereka miliki, misalnya suatu menara delapan sel, dinamakan sesuai dengan
jumlah selnya. Menara dengan jumlah sel banyak,
dapat berupa garis lurus, segi empat, atau bundar tergantung pada bentuk
individu sel dan tempat saluran udara masuk ditempatkan pada sisi atau
dibawah sel.
Menurut letak kipasnya, jenis ini terbagi menjadi dua, antara lain:

Induced draft
Kipas pada cooling tower ini berada di bagian keluaran yang menghisap

udara melintasi menara. Hal ini menghasilkan kecepatan udara masukan

rendah dan kecepatan udara keluaran yang tinggi, sehingga mengurangi


kemungkinan resirkulasi udara.

Forced draft
Pada cooling tower ini kipas terletak pada bagian masukan tower,

sehingga menyebabkan kecepatan udara yang tinggi pada bagian masukan


dan kecepatan yang rendah pada bagian keluaran. Kecepatan yang rendah
pada bagian keluaran menyebabkan lebih mudah terjadi resirkulasi udara.
Kerugian lainnya desain penggerak paksa membutuhkan daya motor yang
lebih tinggi daripada desain kipas pada tipe induced draft. Keuntungan penggerak
paksa adalah kemampuannya dalam bekerja pada tekanan statik yang tinggi.
Tiga jenis menara draft mekanik dijelaskan dalam Tabel 1.

Jenis menara pendingin


Keuntungan
Menara pendingin forced draft : Cocok untuk resistansi
udara yang tinggi karena
udara dihembuskan ke
adanya
fan
dengan
menara oleh sebuah fan yang
blower sentrifugal
terletak pada saluran udara
masuk

Fan relatif tidak berisik

Kerugian
Resirkulasi
karena
kecepatan udara masuk
yang tinggi dan udara
keluar yang rendah,
yang dapat diselesaikan
dengan menempatkan
menara
diruangan
pabrik digabung dengan
saluran pembuangan

10

Lebih sedikit resirkulasi


daripada menara forced
melintang induced draft :
draft sebab kecepatan
Air masuk pada puncak dan
keluarnya 3 hingga 4 kali
melewati bahan pengisi
lebih tinggi daripada
Udara masuk dari salah satu
udara masuk
sisi (menara aliran tunggal)
atau
pada
sisi
yang
berlawanan (menara aliran
ganda)

Fan
induced
draft
mengalirkan udara melintasi
bahan
pengisi
menuju
saluran keluar pada puncak
menara
Menara pendingin aliran

Fan dan mekanisme


penggerak
motor
dibutuhkan yang tahan
cuaca terhadap embun
dan korosi sebab mereka
berada pada jalur udara
keluar yang lembab

Menara pendingin aliran


berlawanan induced draft :

Air panas masuk pada


puncak
Udara masuk dari bawah
dan keluar pada puncak
Menggunakan fan forced
dan induced draft
Tabel 1. Ciri Ciri Berbagai jenis menara draft

3. Menurut arah aliran udara terhadap aliran air


a. Aliran crossflow
Pada tipe ini, aliran udara bergerak memotong secara tegak lurus
terhadap aliran air pada bahan pengisi. Kemudian udara melintasi menara
melalui bagian keluaran udara akibat gaya tarik dari fan yang berputar. Gambar
3 menunjukkan desain tipe cooling tower dengan aliran crossflow.

11

Gambar 3. Cooling tower tipe aliran crossflow


b. Aliran counterflow
Pada tipe ini, aliran udara pada saat melewati bahan pengisi ( fill
material) sejajar dengan aliran air dengan arah yang berlawanan. Gambar 4
menunjukkan desain tipe cooling tower dengan aliran counterflow.

12

Gambar 4. Cooling tower tipe aliran counterflow

4.3 Komponen Cooling Tower


Komponen dasar sebuah cooling tower meliputi rangka dan wadah, bahan
pengisi, kolam air dingin, eliminator aliran, saluran masuk udara, louver, nosel
dan fan.
Rangka dan wadah
Menara memiliki rangka berstruktur yang menunjang tutup luar (
wadah/casing , motor, fan, dan komponen lainnya.
Bahan Pengisi
Hampir seluruh menara menggunakan bahan pengisi ( terbuat dari plastik
atau kayu ) untuk memfasilitasi perpindahan panas dengan memaksimalkan
kontak udara dan air. Terdapat dua jenis bahan pengisi:
1. Bahan pengisi berbentuk percikan / Splash fill
Air jatuh diatas lapisan yang berurut dari batang pemercik
horisontal, secara terus menerus pecah menjadi tetesan yang lebih kecil,
sambil membasahi permukaan bahan pengisi. Bahan pengisi percikan dari

13

plastik memberikan perpindahan panas yang lebih baik daripada bahan


pengisi percikan dari kayu.
2. Bahan pengisi berbentuk film
Terdiri dari permukaan plastik tipis dengan jarak yang berdekatan
dimana diatasnya terdapat semprotan air, membentuk lapisan film yang
tipis dan melakukan kontak dengan udara. Permukaannya dapat berbentuk
datar, bergelombang, berlekuk, atau pola lainnya. Jenis bahan pengisi film
lebih efisien dan memberi perpindahan panas yang sama dalam volume
yang lebih kecil daripada bahan pengisi jenis splash.

Gambar 5. Bahan pengisi berbentuk film


Kolam air dingin
Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian bawah menara, dan
menerima air dingin yang mengalir turun melalui menara dan bahan pengisi.
Kolam biasanya memiliki sebuah lubang atau titik terendah untuk pengeluaran
air dingin.
Drift eliminator

14

Alat ini berfungsi untuk menangkap tetes-tetes air yang terjebak dalam
aliran udara supaya tidak hilang ke atmosfir. Saat ini hampir kebanyakan
spesifikasi pengguna akhir mengasumsikan kehilangan karena kerugian ini
sebesar 0,02%.

Gambar 6. Drift eliminator


Saluran udara masuk
Merupakan titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk bisa
berada pada seluruh sisi menara ( desain aliran crossflow ) atau berada di
bagian bawah menara ( desain aliran counterflow ).
Louver
Pada umumnya, menara dengan aliran crossflow memiliki saluran
masuk louver. Kegunaan louver adalah untuk menyamakan aliran udara ke
bahan pengisi dan menahan air dalam menara.
Material yang sering digunakan untuk louver adalah asbes. Beberapa
desain untuk menara aliran counterflow tidak memerlukan louver.

15

Gambar 7. Louver
Nosel
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi bahan pengisi.
Distribusi air yang seragam pada puncak bahan pengisi adalah penting untuk
mendapatkan pembasahan yang benar dari seluruh permukaan bahan
pengisi. Nosel dapat dipasang dan menyemprot dengan pola bundar atau
segi empat, atau dapat menjadi bagian dari rakitan yang berputar seperti
pada menara dengan beberapa potongan lintang yang memutar.

Gambar 8. Nosel
Fan

16

Fan aksial (jenis baling-baling) dan sentrifugal keduanya digunakan


dalam menara. Umumnya fan dengan baling-baling/propeller digunakan pada
menara induced draft dan baik fan propeller dan sentrifugal dua-duanya
ditemukan dalam menara forced draft. Tergantung pada ukurannya, jenis fan
propeller yang digunakan sudah dipasang tetap atau dengan dapat dirubahrubah/ diatur. Sebuah fan dengan baling-baling yang dapat diatur tidak secara
otomatis dapat digunakan diatas range yang cukup luas sebab fan dapat
disesuaikan untuk mengirim aliran udara yang dikehendaki pada pemakaian
tenaga terendah. Baling-baling yang dapat diatur secara otomatis dapat
beragam aliran udaranya dalam rangka merespon perubahan kondisi beban.

Gambar 9. Fan aksia


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, peranan cooling tower sebagai salah satu alat
dalam sistem air pendingin utama ( Main Cooling Water System ) yang
melayani pendinginan pada kondensor pada unit PLTP sangat penting
peranannya, mengingat pasokan air pendingin tidak lagi menggunakan air laut
pada PLTU konvensional.

17

4.2 Saran
Dari pembahasan diatas saran-saran yang dapat penyusun sampaikan yaitu:
1.

Diharapkan kepada mahasiswa yang ingin mengambil seminar, Kerja


Praktek maupun Skripsi mengarah ke Pembangkit Energi alternatif
dengan harapan Pembangkit energy alternatif dapat berkembang lagi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyadari bahwa Laporan Seminar ini tidak akan dapat


terlaksana tanpa bantuan, bimbingan, petunjuk serta saran-saran dari
berbagai pihak. Untuk itu perkenankanlah saya untuk menyampaikan
ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

18

1. Bpk. Ir. Ammar Assof, MT selaku dosen pembimbing yang telah


banyak meluangkan waktu dan pikirannya hingga selesainya
Laporan Seminar ini.
2. Bpk Ir. Bambang Isti Eddy, MM selaku ketua Jususan S1 Teknik
Mesin.
3. Seluruh staf Jurusan Teknik Mesin yang tidak dapat saya sebutkan
satu persatu.
4. Teman-teman S1 Teknik Mesin yang selalu memberikan dukungan
dan semangat, serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan
satu per satu.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang sesuai atas
dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Diktat Kuliah, SUMBER ENERGI DAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
NON KONVENSIONAL oleh Ir. Imam Subekti, MSc.

2. www.google.com COOLING TOWER PLTP, Diakses pada 15 Juni


2012.
3. www.scribd.com Chapter Cooling Tower, Diakses pada 18 Juni 2012

19

20