Anda di halaman 1dari 72

BAB I

PENDAHULUAN
Bahan Teknik adalah benda dengan sifat-sifatnya yang khas, dimanfaatkan pada
bangunan, konstruksi mesin, paralatan atau produk, misalnya ; logam, keramik, semi
konduktor, polimer/plastik, gelas, dielektrik, serat, kayu, pasir, batu dan berbagai jenis
bahan komposit.
Semua bahan-bahan teknik ini mengikuti siklus bahan, yang dimulai dari ekstrusi,
pembuatan, pemakaian, hingga sampai pada pelapukan. Bahan-bahan mentah diambil
dari bumi melalui penambangan, pengeboran, penggalian, atau panen. Kemudian bahanbahan tersebut diolah menjadi bahan-bahan seperti ingot logam, batu belah, bahan petro
kimia, kayu gelondongan. Pada tahapan berikutnya diolah kembali menjadi benda-benda
teknik untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akhirnya setelah digunakan selama jangka
waktu tertentu, bahan-bahan tersebut kembali lagi ke asalnya (ke tanah/bumi) sebagai
bahan bekas/sisa atau scrap.
Sebuah bahan teknik sama sekali digambarkan oleh sifat-sifat khasnya. Sifat-sifat
khas bahan teknik perlu dikenal secara baik, karena bahan tersebut dipergunakan untuk
berbagai macam keperluan dalam berbagai keadaan. Setiap sifat bahan berkaitan erat
dengan struktur intern bahan itu sendiri. Struktur intern bahan mencakup atom-atom
dan susunannya di dalam suatu kristal, molekul atau struktur mikro. Dengan demikian
sifat-sifat suatu bahan sangat tergantung pada struktur intern-nya. Bermanfaat atau
tidak, sifat akan selalu berubah bila terjadi perubahan struktur intern bahan selama proses
pembentukan.

Sifat-sifat bahan yang diinginkan sangat banyak antara lain; sifat-sifat mekanik
(kekuatan, kekerasan, kekakuan, keuletan, kepekaan takikan atau kekuatan impack,
hardenability, kelelahan dsb.), sifat-sifat listrik (hantaran listrik, dielektrisitas, dsb.),
sifat-sifat magnet (permeabilitas, koersifitas, histrisis,dsb.). Sifat-sifat termal (panas
jenis, pemuaian, konduktivitas panas, dsb.), sifat-sifat kimia (reaksi kimia, kombinasi,
segregasi, ketahan korosi, dsb.), sifat-sifat fisis ( ukuran, massa jenis, struktur dsb.), dan
sifat-sifat teknologi (mampu mesin, mampu keras, dsb.). Kebanyakan sifat-sifat tersebut
ditentukan oleh jenis dan perbandingan atom-atom yang membentuk bahan yaitu unsur
dan komposisi. Sebagai suatu contoh kadar suatu unsur yang sangat rendah terabaikan
dalam suatu ketakmurnian bahan memberikan pengaruh terhadap sifat-sifat mekanik
maupun sifat-sifat kimia.

1.1 JENIS-JENIS BAHAN TEKNIK


(1) Logam. Bahan logam yang dipakai secara luas dalam teknologi modren adalah baja
dan besi cor, karena bahan-bahan ini mempunyai sifat-sifat yang bervariasi dan
fleksibel.. Bahan baja kuat dan mudah dibentuk menjadi bentuk-bentuk siap pakai.
Baja merupakan unsur paduan besi (Fe) dengan unsur unsur logam maupun unsurunsur non logam. Jenis-jenis logam lainnya yang banyak dipakai sebagai bahan
teknik seperti Aluminium (Al) dengan paduannya, Magnesium (Mg) dengan
paduannya, Titanium (Ti) dengan paduannya, Nikel (Ni) dengan paduannya, seng
(Zn) dengan paduannya, Tembaga (Cu) dengan paduannya, dan sebagainya.

(2) Keramik. Jenis bahan keramik, terdiri dari unsur-unsur logam dan bukan logam.
Banyak contoh bahan keramik mulai dari semen adukan, beton, gelas bahan isolasi
busi, Aluminium oksida (Al2O3), sampai oksida bahan-bahan nuklir UO2. Setiap jenis
bahan keramik memiliki sifat keras dan rapuh dan tahan terhadap temperatur tinggi,
maupun korosi. Sesuai dengan sifat-sifat dasarnya, unsur logam dapat melepaskan
elektron pada kulit terluarnya dan memberikannya pada atom non logam yang
mengikatnya. Akibatnya elektron-elektron tersebut tidak dapat bergerak bebas,
sehingga bahan keramik umumnya bersifat isolator listrik dan isolator panas yang
baik. Oleh karena ion logam positip dan ion non-logam negatif saling tarik menarik,
maka setiap kation ( ion positip) dikelilingi oleh ion negatip. Diperlukan energi yang
cukup besar untuk memutuskan ikatan tersebut. Oleh karena itu tidak mengherankan
bahan keramik itu keras, tahan panas dan tahan korosi.

(3) Polimer. Bahan yang terdiri dari unsur-unsur bukan logam, membagi elektron untuk
membentuk molekul yang besar, sehingga polimer disebut zat molekul besar. Molekul
yang besar ini terdiri dari satuan yang berulang yang disebut dengan Mer. Dengan
demikian Polimer ini terdiri dari rangkaian panjang dari Mer. Polimer mempunyai
berat jenis yang rendah dan dapat digunakan sebagai isolator panas dan listrik.
(4) Komposit. Bahan komposit ini merupakan kombinasi dari jenis-jenis bahan
sebelumnya, yang merupakan pilihan alternatif yang sangat penting. Termasuk di
dalam komposit ini, bahan yang diberi lapisan, bahan yang diperkuat, dan kombinasi
lain yang memanfaatkan sifat-sifat khusus dari beberapa bahan yang ada. Biasanya
sifat-sifat bahan yang menyatu dalam komposit ini dapat dievaluasi dan diuji secara

terpisah. Dengan demikian sifat-sifat bahan komposit masih dapat dihitung


berdasarkan sifat-sifat komponen penyusunnya.
(5) Semi konduktor. Bahan semi konduktor adalah unsur-unsur logam maupun unsurunsur non-logam yang mempunyai sifat-sifat magnet dan sifat-sifat listrik yang
khusus. Bahan ini banyak digunakan sebagai bahan-bahan listrik maupun elektronik.

1.2. IKATAN LOGAM


(1) Struktur atom. Atom dianggap sebagai satuan dasar yang paling kecil dari struktur
intern yang masih memiliki sifat-sifat yang sama dengan unsurnya. Semua zat baik
dalam fasa cair, padat, maupun gas, tediri dari satu unsur atau gabungan dari beberapa
unsur yang terdiri dari atom-atom atau gabungan dari atom-atom. Oleh karena itu
sifat-sifat dari zat yang dibentuk akan sangat tergantung dari sifat dan cara
penggabungan dari atom-atom tersebut. Berhubung dengan hal tesebut maka perlu
untuk mempelajari struktur dari atom tersebut.
Berdasarkan pada model yang paling sederhana, tiap-tiap unsur kimia terdiri
dari inti atom yang dikelilingi oleh elektron. Inti atom tersusun dari neutron dan
sejumlah tertentu proton. Nomor atom dari suatu unsur, sama dengan jumlah proton
yang ada di dalam inti atom unsur tersebut.

Untuk suatu atom yang netral jumlah

elektron yang mengelilingi inti atom sama dengan jumlah proton. Elektron-elektron
ini selalu berputar pada lingkaran orbit. Jumlah elektron pada orbit yang paling luar
akan menentukan sifat-sifat utama dari bahan tesebut yaitu : (1) menentukan sifatsifat kimia, (2) menentukan jenis ikatan diantara atom-atom. Dengan demikian

sekaligus akan menentukan sifat-sifat mekanisnya, dan (3) Mempengaruhi


konduktivitas listrik dari bahan tersebut.
Karena massa satu elektron hanya 0,0005 kali massa neutron atau massa
proton maka massa dari suatu atom hampir berbanding lurus dengan jumlah proton
dan neutron. Jumlah neutron dan proton pada inti atom menjadi dasar dari identifikasi
kimia dari atom. Setiap proton maupun neutron mempunyai massa yang sama yaitu
sekitar

1.66 x10-24 gram. Besaran ini disebut dengan satuan massa atom (sma).

12
Sebagai contoh diambil unsur isotop karbon C 6 artinya berat atom rata-rata unsur

C di alam adalah 12.011 sma. Inti atom C mengandung 6 proton dan 6 neutron,
sehingga massa atom C 12 sma.
Bilangan Avogadro = 0,6023 x 1024 adalah suatu bilangan yang menyatakan
jumlah atom setiap gram-mol unsur, sehingga diperlukan 0,6023 x 10 24 atom untuk
menghasilkan 1 gram unsur tersebut.

Gambar 1.1 Secara skema elektron-elektron mengelilingi inti atom C

Berat satu elektron yang besarnya 9,107 x 10 -28 gram tidak banyak pengaruhnya pada
sifat-sifat unsur, tetapi muatan listriknya yang besarnya 1,6 x 10 -19 coulomb sangat
besar pengaruhnya.

(2) Ikatan ion. Ikatan ion terjadi sebagai akibat perpindahan elektron dari satu atom ke
atom yang lain. Atom yang memberi elektron akan bermuatan positip dan atom yang
menerima elektron akan bermuatan negatip. Ion-ion yang mempunyai muatan listrik
berbeda akan saling tarik-menarik. Gaya tarik menarik antara ion bermuatan positip
dengan ion bermuatan negatip menyebabkan terbentuknya ikatan ion. Gambar 1.2,
dibawah ini memperlihatkan proses terjadinya ikatan antara atom sodium (Na)
dengan atom chlorida (Cl).

Gamabar 1.2

Ikatan ion antara Na dengan Cl. Elektron berpindah dari atom Na ke atom Cl
sehingga membentuk Na+ dan Cl

Suatu atom akan stabil apabila jumlah elektron pada lintasan terluar = 8. Atom Na
melepaskan elektron membentuk ion Na+ yang mana ion ini mempunyai 8 elektron
pada kulit terluar (kehilangan satu kulit atom). Begitu juga atom chlorida menerima
satu elektron membentuk ion Cl-, sehingga jumlah elektron pada kulit terluarnya

menjadi 8. Ion-ion Na+ dan Cl- akan tarik-menarik membentuk ikatan ion. Dalam
ikatan ion besarnya gaya tarik-menarik (gaya coulomb) adalah :
Fe

K
a2

a = jarak antar atom , K= ko (z1.q)(z2.q), zI = valensi ion, q= muatan satu elektron


tunggal (0,16 x 10-18 C), dan ko= 9x109 Vm/C
Gambar 1.3 memperlihatkan gaya coulomb yang meningkat cepat dengan
pengurangan jarak atom. Ternyata jarak atom-atom ini tidak akan pernah sama
dengan nol. Oleh karena disamping adanya gaya tarik-menarik ternyata ada gaya
tolak-menolak antara satu sama lain. Besarnya gaya tolak-menolak ini dapat
ditentukan dengan rumus :

Fr = e-a/

dalam hal ini dan adalah konstanta yang diperoleh melalui percobaan pasangan
ion. Gaya total ikatan antara atom dapat dilihat seperti gambar 1.4. Karena ada gaya
tarik-menarik dan gaya tolak-menolak, maka atom-atom akan terletak pada suatu
tempat dimana resultante gaya-gaya tersebut besarnya sama dengan nol.

Gambar 1.3 Gaya Coulomb pada NaCl

Gambar 1.4 Kurva resultante gaya ikat

(2) Ikatan Kovalen. Telah dijelaskan diatas bahwa suatu atom akan stabil apabila jumlah
elektron pada kulit terluarnya = 8, dapat diambil contoh seperti gas-gas mulia tidak
bisa bereaksi dengan unsur lain. Sifat-sifat gas mulia ini memperlihatkan kestabilan di
dalam struktur atomnya. Gas-gas ini, kecuali gas Helium mempunyai 8 elektron pada
lintasan kulit terluarnya. Dengan demikian dapat dilihat bahwa atom-atom yang
jumlah elektron pada kulit terluarnya kurang dari delapan, akan berusaha menarik
elektron yang dimiliki oleh tetangganya yang juga memerlukan tambahan elektron.

Ikatan yang terjadi karena pemilikan elektron bersama disebut ikatan kovalen atau
homopolar. Ikatan ini biasanya terjadi pada unsur dengan elektron valensi dari 4
sampai 7, juga pada senyawa-senyawa, CH4, NH3,H2O, H2S, dsb.

Gambar 1.5 Skematik ikatan kovalen pada molekul gas Cl2

(3) Ikatan Logam. Unsur-unsur yang mempunyai elektron 1 sampai dengan 3 pada
lintasan (orbit) terluarnya mempunyai sifat kecendrungan untuk melepaskan elektron
tersebut. Unsur-unsur ini biasanya dimasukkan dalam kelas logam. Pada suatu ikatan,
unsur-unsur ini adalah ion-ion positip yang diikat satu sama lain oleh elektronelektron valensi yang selalu bergerak. Ikatan ini terjadi karena adanya ion positip dan
ion negatip, oleh karena itu ikatan logam tersebut dianggap sebagai ikatan ion. Tetapi
bila dilihat bahwa ion-ion tersebut pemilikan bersama elektron-elektron yang

bergerak, maka ikatan ini dapat dianggap sebagai ikatan kovalen atau homopolar.
Dengan demikian ikatan logam merupakan ikatan campuran atau tengah-tengah
antara ikatan ion dan ikatan kovalen.

(4) Ikatan Van der Waals. Ikatan ini disebabkan karena adanya ketidak rataan distribusi
elektron. Karena ketidak rataan ini maka terjadi gaya tarik yang lemah. Bila
dibandingkan dengan ikatan jenis lainnya, biasanya ikatan Van der Waals ini tidak ada
artinya. Tetapi bila tidak ada ikatan lainnya misalnya gas mulia yang memadat pada
temperatur rendah, maka iktan Van der Waals ini memegang peranan penting.

Contoh-contoh Soal
1. Dengan mempergunakan daftar lampiran, hitung gaya tarik-manarik Coulomb
diantara Na+ dan Cl- dalam NaCl dan berapa gaya tolak dalam iktan ini ini.
Jawab :
Dari tabel : RNa+ = 0,098 nm
RCl- = 0,181 nm
Maka : ao = RNa+ + RCl- = 0,098 + 0,181 nm = 0,278
Fc

k o Z 1 q Z 2 q
a o2

Fc

(9 x10 9 V .m / C )(1)(0,16 x10 18 C )(1)(0,16 x10 18 C )


(0,278 x10 9 m) 2

dimana : 1 V.C = 1 joule sehingga diperoleh


Fc = 2,98 x 10-9 N
Karena Fc + FR = 0,

maka FR = -Fc = - 2,98 x 10-9

10

2. Hitung energy reaksi polimerisasi polyvinyl chlorida (PVC). Molekul (PVC) adalah
C2H3Cl
Jawab :
Secara umum setiap
ikatan C C

ikatan rangkap dua C C dipatahkan menjadi 2 kali bentuk

sehingga C C 2 C C dengan menggunakan tabel pada

lampiaran energy yang bersesuaian adalah : 680 kj/mol 2 (370 kj/mol) = 740
kj/mol, maka energy reaksi (740 680) kj/mol = 60 kj/mol

11

BAB II
SUSUNAN ATOM DALAM BAHAN PADAT
2.1 Kristal
Semua logam membentuk kristal sewaktu membeku. Atom-atom mengatur diri
secara teratur dan berulang dalam pola 3 dimensi, struktur semacam ini disebut kristal.
Pola teratur dalam kumpulan atom (dalam jangkau panjang) yang menyangkut puluhan
jarak atom dihasilkan oleh koordinasi atom dalam logam. Disamping itu pola ini kadangkadang menentukan pula bentuk luar kristal, sebagai contoh yang dapat disampaikan
adalah permukaan rata batu mulia, pasir kuarsa (SiO2). Demikian pula garam meja NaCl,
merupakan penampilan luar dari pengaturan di dalam kristal itu sendiri. Struktur dalam
kristal kuarsa tidak berubah meskipun bentuk permukaan luar tergesek, sehingga
membentuk butir pasir pantai yang bulat-bulat.

Gambar 2.1 Struktur kristal NaCl. Koordinasi atom-atom menghasilkan susunan periodik dalam
jangkauan panjang

2.2 Sel Satuan


Tata jangkau panjang yang merupakan karakteristik kristal dapat dilihat pada
gambar 2.2. dibawah. Gambar tersebut menyatakan susunan atom bila terdapat satu jenis
12

atom, karena susunan atom tersebut berulang secara tak terhingga, maka untuk mudahnya
kisi kristal ini dibagi dalam sel satuan. Sel satuan mempunyai volume terbatas dan
memiliki ciri yang sama untuk seluruh kristal.

a
A

a
A
a
A

a
A

a
a
A
a

a
Gambar 2.2 Karakteristik Kristal

Jarak yang selalu berulang, disebut konstanta kisi. Konstanta kisi menentukan
ukuran sel satuan dan juga merupakan dimensi sel satuan (a). untuk kristal kubik
konstanta kisi (a) sama untuk ke 3 arah sumbu koordinat (x, y, z). Titik sudut sel satuan
dapat di tempatkan di mana saja salam suatu kristal. Jadi sudut tersebut dapat berada di
pusat atom, tempat lain dalam atom-atom atau diantara atom-atom. Dimanapun berada,

13

volume yang kecil tadi dapat di duplikasikan dengan volume yang identik disebelahnya,
asalkan sel tadi memiliki orientasi yang sama dengan pola kristal. Setiap sel mempunyai
ciri-ciri geometrik, yang sama dengan kristal keseluruhan.

2.3 Sistim Kristal


Kristal kubik memiliki pola yang sama sepanjang ke 3 sumbu ; a1 = a2 = a3.
kebanyakan logam dan beberapa jenis keramik berbentuk kubik. Kristal bukan kubik
terjadi bila pola ulangnya tidak sama dalam ke 3 arah koordinatnya atau sudut antara ke 3
sumbu kristal tidak sama dengan 900. Ada 7 sistim kristal dengan karakteristik
geometrisnya seperti pada daftar berikut :
Sistim

Sumbu

Sudut Sumbu

Kubik

a1 = a2 = a3

semua sudut 900

Tetragonal

a1 = a2 c

semua sudut 900

Ortorambik

abc

semua sudut 900

Monoklin

abc

dua sudut 900, satu sudut 900 ()

Heksagonal

a1 = a2 = a3 c

semua sudut 900 212c

Rombohedral

a1 = a2 = a3

a1

semua sudut sama tetapi tidak 900

c
a3
a2

Ortorombik

Kubik

14

c
a

a2

b
Monoklin

a1

Tetragonal

c
a

Rombohedral

Triklinn

a
a

heksagonal
Gambar 2.3 Sistem Kristal

Contoh soal 2.1:

15

Sel satuan Cr adalah kubus pusat ruang (b.c.c) dan mempunyai 2 atom. Tentukan :
konstanta kisi (a) atom krom
Jawab :
Gunakan data pada lampiran : dimana berat jenis Cr : 7,2 Mg/m3., maka :
massa per sel satuan adalah :
2(52,0 gr )
172,26

gr
24
0,602 x 10
10 24

massa =
Volume sel satuan adalah :
a3

massa
beratjenis

172,26
172,26
172,26
gr
gr
24
24
7,2
a 3 10
10

Mgr
gr
1030
7,2 3
7,2 10 6 3
m
m
a 3 23,994 10 30 m 3

23,994 3
m
1030

23.994
1
m3
1000 (10 9 ) (109 ) (109 )

1
m3
(10 )(109 )(10 9 )
a 0,2884 n m
a 3 0,023994

2.4 Kisi kubik


Kristal kubik terdiri dari 3 bentuk kisi yaitu kubik sederhana, kubik pemusatan
ruang (kpr), dan kubik pemusatan sisi (kps).
Suatu kisi adalah pola yang berulang dalam 3 dimensi yang berbentuk dalam
kristal. Sebagian besar logam memiliki kisi kubik pemusatan ruang atau kisi kubik
pemusatan sisi.

16

2.4.1 Logam kubik pemusatan ruang.


Besi mempunyai struktur kubik. Pada suhu ruang, sel satuan besi mempunyai atom
pada tiap titik sudut kubus dan satu atom pada pusat kubus. Logam-logam-logam Fe, Cr,
Li, Na, K, Au, mempunyai struktur kubik pemusatan ruang (kpr).
Tiap atom besi dalam kpr dikelilingi oleh 8 atom tetangga, hal ini berlaku untuk
setiap atom baik yang terletak pada titik sudut maupun atom pada pusat sel satuan. Oleh
karena itu setiap atom mempunyai lingkungan geometrik yang sama. Sel satuan logam
kpr mempunyai 2 atom. Satu atom dipusat kubus dan 8, dari 1/8 atom di setiap titik
sudutnya. Dalam logam antara konstanta kisi (a) dan jari-jari atom (R)

terdapat

hubungan sebagai berikut.

Gambar 2.4 Struktur kubik pemusatan ruang (a) merupakan gambaran skematik, (model bola keras

17

Gambar 2.5 Sel satuan kubik pemusatan ruang (kpr)

b2 = a2 + a2
b2 = 2a2
b2 + a2 = ( 4R)2
2a2 + a2 = 16R2
3a2 = 16 R2

a2 =

16 2
R
3

a 4R

1
3

Faktor tumpukan (packing factor) (F.T.) didefenisikann sebagai perbandingan volume


atom dengan volume sel satuan :
Volume atom

Faktor tumpukan = volume satuan


Karena dalam sel satuan logam kubus pusat ruang terdapat 2 buah atom :
2(

FT =

FT =

4R 3
4R 3
4
) 2(
) 2. R 3
3
3

3 3
3
3
a
64 R
4R

3
3 3
V
3 0,68.

2.4.2 Logam kubis pemusatan sisi.


Pengaturan atom dalam Ca, Fe pada suhu 910 1390 0C Ni, Cu, Ag, Pb, adalah
kubis pemusatan sisi, pada tiap bidang sisi terdapat satu atom tambahan, tetapi pada pusat

18

kubis tidak terdapat tambahan atom. Logam dengan kubus pusat ruang mempunyai lebih
banyak atom.
1/8 atom pada titik-titik sudut sebanyak 8

= 1 atom

atom pada masing-masing bidang sisi 6 x

= 3 atom
4 atom.

Dalam kubus pusat ruang hubungan antara konstanta kisi a dengan jari atom R
dinyatakan oleh :
A2 + a2 = ( 4r2)2
R

2a2 = 16 R2

2R

a 2 = 8 R2
a =R

2.

R
a

Faktor tumpukan kubus pusat sisi.


Jumlah atom dalam satu unit sel : 4 atom.

F.T.

16
16 3
4 R 3
. R 3
R
3
3
= 3

3
a3
R3 8 2 2
R2 2

2
3 2

2 0,74.

Contoh : Cu mempunyai struktur kubus pusat sisi dan jari-jari atom = 0,1278 n m.
Hitung ; Berat jenis Cu
Jawab :

19

4
4
R
(0,1278) n m 0,3615 n m
2
2

A=

Jumlah atom dalam satu sel satuan :

Berat jenis =

8 1
x6 1 3 4
8 2

nm
a3 N A

Dimana :
n : jumlah atom dalam satu unit sel
m : berat atom
NA : Bilangan avogadro ( 0,602 x 10 24 atom/mol).
Berat jenis :
4atom 63,5

0,3615 n m 3

gr
mol

0,602 x 10 24

atom
.
mol

4atom 63,5
1
gram
3
0,602 x 10 24 atom
0,3615 n m

4(63,5) gr
(0,3615 ) (0,602) (10 9 ) 3 (10 24 ) m 3

gr

=8.931,25 (10 27 ) (10 24 ) m 3


= 8.931,25

1000 gr
m3

8,93 (1000.000) gr
(100.0000 cm 3 )

Berat jenis = 8,93

gr
cm 3

20

2.5. Kristal Heksagonal.


Struktur gambar 2.6.a dan b merupakan dua gambaran sel satuan heksagonal.
Volume sel pada 2.6.a tiga kali lebih besar dari pada sel pada gambar 2.6 b, demikian
pula sel pada 2.6. a mempunyai atom 3 x dari 2.6.b jumlah atom per satuan volume tetap
sama logam tidak membentuk kristal dengan susunan atom seperti gambar 2.6.a karena
faktor tumpukannya terlalu rendah.

Gambar 2.6. Sel satuan sederhana (a) Kisi hexagonal (b) kisi rombik

21

Gambar 2.7 Struktur hexagonal tumpukan padat (a) Gambar skematik yang menampilkan pusat
atom (b) Model bola padat

2.6. Heksagonal tumpukan padat.


Kisi heksagonal tumpukan padat diikuti oleh logam : Mg, Be, sd, Ti, Zu, tampak
pada gambar 2.7. Struktur ini mempunyai tumpukan yang lebih padat dibandingkan
dengan gambar. 2.6 yang disebut heksagonal tumpukan padat. Ciri khasnya ialah bahwa
setiap atom dalam lapisan tertentu terletak tepat diatas atau dibawah sela antara 3 atom
pada lapisan berikutnya. Akibatnya setiap atom menyinggung 3 atom lainnya pada
lapisan bawahnya, 6 atom dibidangnya sendiri dan 3 atom dilapisan diatasnya. Dalam
struktur heksagonal tumpukan padat terdapat 6 atom tiap sel satuan.
Faktor tumpukan logam Heksagonal tumpukan padat= 0,74.
Contoh :
Logam Mg dengan heksagonal tumpukan padat F.T. = 0,74
Tentukan : Volume sel satuan.
Jawab :
Dari lampiran B diperoleh : berat jenis Mg 1.74

Mg

m3

1,74 g

cm 3

Massa atom Mg : 24,31 sma


Dari gambar : 2.7.a
Jumlah atom tiap sel satuan :
3 + 2 x + 1/6 x 12 = 3 + 1 + 2 = 6 atom
Dalam 1m3 :

22

1,74 x 10 6 gr
1,74 x 10 6

x 0,602(10 24 )atom
24,31 gr
24,31
0,602 x 10 24 atom
1,74

30
= 24,31 x 0,602 x 10 atom

= 4,3088

10 28

atom m 3

6 atom

Volume sel satuan : 4 3 x 10 28 atom m3


= 1,4 x 10-28 m3=
= 0,14 x (10-9) (10-9) (10-9)m3
= 0,14 n m3

Contoh : Mis dimiliki atom bulat, berapa perbandingan c/a dalam logam heksagonal
tumpukan padat.
Jawab : Lihat gambar 2.7. perhatikan 3 atom di tengah dan satu atom diatas dipusatkan
segi 6, ke 4 atom membentuk tetrahedron dengan sisi a = 2R.
Hubungan h = a

2
3

C = 2h = 2 a
Mis untuk Mg :

2
= 1,63a.
3

a = 3,2088
C = 1,63a = 5,230344

Dari tabel :

c = 5,2095

Dari tabel ternyata


c
untuk
a

Mg = 1,62

Ti = 1,59

23

Zn = 1,85
Hal ini berarti bahwa harus dibayangkan atom Mg, Ti sebagai bulatan yang tertekan
sedikit (gepeng) sedang atom Zn sebagai bulat telur.
Contoh : Vol sel satuan Ti heksagonal tumpukan padat pada 200C 0,106 m3 lihat gambar
c
1,59
a

2.7. a.
Tentukan :

a). Nilai c dan a


b). jari-jari Ti dalam arah

dengan bidang alas sel satuan.

Jawab ;
a).

Dari geometri
Luas alas ; 6 x ( ) (a) ( a sin 600) = 2,6 a 2
Volume : (1,59a) (2,6a2) = 4,13a3
4,13a3 = 0,106 n m 3
a3 =

0,106 n m 3
0,02566 n m
4.13

a = 0,2950 n m
c = 1,59 a = 1,59 (0,2950) n m
= 0,469 n m

b)

a = 2 Ralas.
Ralas =

a 0,295

0,1475 n m.
2
2

Catatan :
Jari-jari rata-rata = 0,146 n m (lampiran B).

24

Atom Ti dan sel satuan sedikit tertekan dalam arah C.

2.7 Polimorfi
Polimorfi adalah 2 atau lebih ragam kristal dengan komposisi yang sama. Contoh
yang paling terkenal ialah polimorfi karbon berupa bentuk ganda grafit dan intan. Contoh
polimorfi logam ialah besi, kemampuan laku panas bahan dan kemungkinan untuk
merubah sifat-sifatnya tergantung pada hal ini. Bila besi dipanaskan maka sisinya
0

berubah bentuk kpr menjadi kps. Perubahan ini mampu balik pada waktu pendinginan

besi. Pada suhu ruang besi kpr mempunyai bilangan koordinasi S (BK bilangan
Besi /BCC a ; 2,93A
koordinasi
adalah
suatu
bilangan
yang menunjukkan jumlah tetangga terdekat suatu
1538
atom). Faktor tumpukan atom ; 0,68 dan jari-jari atom: 0,1241 nm. Besi murni berubah
1400
menjadi

kps pada 9120C pada saat ini bilangan koordinasinya 12, faktor tumpukan atom

0,74 dan jari-jari atomnya 0,129 n m.

Besi /FCC

a ; 3,65A

Banyak logam lain yang mempunayi 2 atau lebih bentuk polimorfi. Bahkan SiC,
910misalnya

memiliki sekitar 20, modifikasi kristal. Tetapi polimorfi SiC adalah suatu
Besi / BCC a ; 2,90
768pengecualian. Biasanya bentuk polimorfi mempunyai perbedaan dalam berat jenis dan
sifat lainnya.

2.8. Pendinginan Besi Murni

Besi /BCC
a ; 2,87

Waktu

FCC
BBC

25

2.9. Arah Kristal


Untuk mempelajari kaitan antara berbagai sifat dengan struktur kristal, maka
perlu memahami berbagai arah kristal, karena banyak sifat berubah dengan arah. Sebagai
contoh modulus elastisitas dalam arah diagonal ruang untuk besi kpr > moduluselastisitas

26

dlam arah rusuk kubus. Sebaliknmya permeabilitas maknit dari besi memiliki nilai
terbesar dalam arah // rusuk sel satuan.
Arah kristal diberi indeks sesuai berkas yang berasal dari titik asal melalui titik
dengan indeks untuk terkecil. Misalnya : arah ( 1 1 1 ) melalui titik (0,0,0) dan (1,1,1)
Perlu diingat bahwa arah ini akan melalui titik-titik ( , , ) dan (2,2,2) juga.
Demikian pula (1,1,2) melalui titik (,,1) tetapi untuk mudahnya digunakan penandaan
utuh. Indeks arah dituliskan dalam tanda kurung persegi UVW
Z

001
1,1,2
1,1,1

0,0,0

110

27

BAB II
SIFAT-SIFAT MEKANIS BAHAN TEKNIK

Pada setiap pembahasan persoalan yang kompeks asumsi, dan definisi merupakan
suatu titik tolak yang penting. Pada bagian pertama dari buku ini telah di bahas tentang
susunan atom dari logam yang di anggap paling mendekati keadaan sebenarnya. Ternyata
bahwa hal ini pada analisa-analisa selanjutnya, mengenai kekuatan logam memberikan
kesukaran-kesukaran yang sangat rumit.
Hal-hal yang rumit kemudian disederhanakan dengan mempergunakan asumsiasumsi yang kemudian dibuat defenisi-defenisi berdasarkan asumsi tersebut. Jadi jelas
bahwa dengan pengambilan asumsi-asumsi ini hasil yang dicapai hanya suatu
pendekatan. Hal yang demikian ini lazim dipergunakan di dalam dunia ilmu pengetahuan.

2.1 Beberapa Asumsi


Logam-logam digunakan dalam perancangan teknik untuk beberapa alasan, tetapi
pertimbangan utama dalam pemakaian logam untuk keperluan teknik adalah sifat-sifat
mekanik dari logam tersebut. Sifat-sifat mekanik merupakan suatu sifat khas yang
menggambarkan perilaku bahan terhadap aksi yang dikenai oleh gaya luar. Sifat-sifat
mekanis ini meliputi kekuatan, kekerasan, kekakuan, hardenability, keuletan, dll., dari
logam. Sifat-sifat ini sangat penting baik untuk penggunaan logam tersebut maupun
untuk pengerjaannya.
Sifat-sifat mekanik dari logam ini sangat erat sekali hubungannya dengan gayagaya dalam perubahan bentuk dan beban-beban luar. Di dalam menganalisa kekuatan

28

material, diasumsikan bahwa material atau logam yang dianalisa adalah kontinu,
homogen dan isotropis. Asumsi-asumsi tersebut dimaksudkan adalah sebagai berikut:
Suatu bahan/material yang kotinu adalah bahan/material yang tidak mempunyai
ruang-ruang kosong di dalamnya.
Suatu bahan/material yang homogen adalah bahan/material yang mempunyai sifatsifat yang sama ditiap-tiap titik yang terdapat di dalam bahan tersebut.
Suatu bahan/material yang isotropis bila sifat-sifat yang dipunyai oleh material
tersebut tidak dipengaruhi oleh arah dan orientasi yang terdapat di dalamnya.
Kenyataannya jelas bahwa logam-logam teknik sama sekali tidak memenuhi
batasan-batasan atau asumsi-asumsi tersebut di atas. Hal ini disebabkan karena :
a. Pada umumnya logam-logam teknik terdiri lebih dari pada beberapa fasa
dengan sifat-sifat mekanis yang berlainan, sehingga jelas bahwa hal ini tidak
dapat disebut homogen.
b. Logam-logam terdiri dari atom-atom dan ruang-ruang kosong, jadi tidak
kontinu.
c. Logam-logam terdiri dari kristal-kristal dengan sifat-sifatnya yang sangat
tergantung dari arah, jadi jelas tidak isotropis.
Walaupun telah dijelaskan di atas bahwa logam-logam teknis pada umumnya tidak
memenuhi keadaan-keadaan kontinu, homogen dan isotropis, tetapi dalam batas-batas
tertentu anggapan-anggapan tersebut masih berlaku. Hal ini disebabkan karena besar
butir-butir kristal relatif sangat kecil terhadap ukuran benda yang di buat dari logam yang
bersangkutan, sehingga setiap bentuk logam dengan volume yang agak besar secara
statistik dapat dianggap memenuhi asumsi-asumsi tersebut di atas.

29

2.2

Elastis dan Plastis


Pengalaman menujukkan bahwa semua bahan bila dikenai beban/gaya dari luar

akan berubah bentuknya (deformasi). Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa sampai


pada suatu beban tertentu benda-benda padat yang dikenai beban tersebut kembali
kebentuk semula bila bebannya dilepaskan. Sifat atau keadaan kembali kebentuk semula
bila beban dilepaskan disebut sifat elastis. Batas tegangan atau beban dimana benda
padat kembali kebentuk semula disebut batas elastis. Bila batas elastis ini dilampaui
maka benda padat tersebut akan mengalami perubahan bentuk tetap (deformasi
permanen), sifat ini disebut sifat plastis.
Pada beberapa material, pada daerah elastis hubungan yang terdapat antara beban
dan pertambahan panjang adalah berbanding lurus (linear). Hubungan ini dikenal sebagai
Hukum Hooke. Berdasarkan hubungan antara beban dengan pertambahan panjang dalam
hukum Hooke, maka pada daerah elastis tegangan juga akan berbanding lurus dengan
regangan. Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak semua bahan memenuhi
hukum Hooke. Banyak bahan-bahan, antara lain karet dan plastik yang pada daerah
elastisnya, hubungan antara tegangan dan regangan tidak garis lurus. Pada logam,
perubahan bentuk (deformasi) yang terjadi akibat dari beban luar relatif sangat kecil bila
dibandingkan dengan bahan lain, karena itu untuk menentukan besarnya regangan dan
batas elastis diperlukan alat-alat yang teliti. Dengan makin tingginya ketelitian
pengukuran maka batas elastis menjadi makin rendah, juga daerah dimana hukum Hooke
betul-betul berlaku menjadi sangat sempit sekali. Tetapi walaupun demikian, untuk
keperluan perencanaan teknik, hukum Hooke dianggap berlaku untuk seluruh daerah
elastis dari logam.

30

2.3 Tegangan dan Regangan


Analisa untuk menentukan sifat-sifat mekanis dari logam, pertama-tama dianggap
bahwa bagian-bagian konstruksi atau benda-benda kerja ada dalam keadaan seimbang.
Berhubung dengan hal tersebut maka persamaan-persamaan keseimbangan statis
dipergunakan untuk mendapatkan hubungan antara gaya-gaya luar yang bekerja dan
gaya-gaya dalam yang melawan gaya-gaya luar tersebut.
Gaya-gaya dalam yang melawan gaya-gaya luar tersebut dinyatakan sebagai
tegangan yaitu gaya-gaya yang bekerja pada suatu permukaan yang luasnya mendekati
nol, sehingga besarnya gaya dalam, dapat dinyatakan sebagai jumlah dari perkalian
antara tegangan dan deferensiasi dari luas di mana tegangan tersebut bekerja. Pernyataan
ini dapat dituliskan dalam bentuk rumus matematika seperti dalam persamaan
F

.d

(2.1)
dimana :

F = gaya dalam
= tegangan
dA = luas penampang

Dalam mengevaluasi rumus di atas perlu diketahui distribusi dari tegangan pada
bidang dimana tegangan tersebut bekerja. Berhubung tegangan tidak dapat diukur secara
fisik, maka yang diukur adalah pertambahan panjang yang diakibatkan oleh beban yang
dikenakan. Pertambahan panjang tiap satu satuan panjang batang, yang juga disebut
regangan untuk deformasi yang relatif kecil ternyata sebanding dengan tegangan. Jadi

31

dengan menentukan distribusi regangan, maka dengan sendirinya distribusi tegangan juga
dapat ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas maka regangan dapat dirumuskan sebagai berikut :

dimana :

dl
l

(2.2)

= regangan ,
dl = pertambahan panjang
l = panjang batang

2.4 Tegangan dan Regangan rata-rata


Pada penjelasan sebelumnya telah dinyatakan bahwa adanya beban luar yang
bekerja akan menimbulkan gaya perlawanan di dalam benda. Gaya dalam ini dinyatakan
sebagai tegangan yang didistribusikan pada semua penampang di dalam benda.
Berhubung distribusi tegangan ini sukar untuk diketahui, maka didefinisikan suatu
pengertian tentang tegangan rata-rata.
Sebagai contoh misalnya suatu batang mendapat beban luar F (gambar 2.1) maka:

LO

LO
L

32

F
(a)

(b)

Gambar 2.1.

(c)

a. Batang dengan panjang Lo sebelum ada beban.


b. Sesudah ada beban, panjang berubah menjadi Lo+
c. Keseimbangan gaya dalam dan beban

di dalam batang tersebut akan terjadi suatu tegangan yang mengimbangi besarnya gaya F
(gambar 2.1 c) yang bekerja pada setiap penampang batang misalnya penampang A.
Berdasarkan keseimbangan gaya-gaya maka besarnya gaya dalam harus sama dengan
besarnya beban seperti yang dinyatakan oleh persamaan (2.1) yaitu :

.d

bila tegangan rata-rata dinyatakan dengan r maka :

atau :

.d A .d A F

r dA F

r . A = F
r =

dimana :

F
A

(2.3)

r = tegangan rata-rata,
F = beban luar,
A = luas penampang batang

33

Dengan pertimbangan yang sama regangan rata-rata dapat dirumuskan sebagai

berikut :

dimana :

L Lo

Lo
Lo

(2.4)

r = regangan rata-rat
L = panjang batan
Lo = panjang batang semula
= pertambahan panjang

dengan menggabungkan persamaan-persamaan sebelumnya maka hukum Hooke dapat


dituliskan sebagai berikut :

r = E r,

atau

= E.
dimana :

(2.5)

= tegangan .
= regang
E = konstanta yang disebut modulus elastis/modulus Young.

Perlu ditekankan kembali bahwa hukum Hooke ini hanya berlaku pada daerah
elastis saja

2.5 Kekuatan Tarik

34

Kekuatan tarik (strength) merupakan ukuran besar gaya yang diperlukan untuk
mematahkan atau merusak suatu bahan. Kekuatan tarik merupakan sifat mekanis yang
sangat penting dari logam. Terutama untuk perhitungan-perhitungan dalam konstruksi.
Dalam hal sifat ini terdapat dua definisi yang penggunaannya berlainan. Disamping hal
tersebut, dalam menganalisa kekuatan tarik ini terdapat beberapa besaran mekanis
lainnya yang pada umumnya merupakan konstanta dari logam yang harus pula dibahas.
Beberapa

penyimpangan

dari

asumsi

yang

telah

dibahas

sebelumnya,

yang

mengakibatkan penyimpangan pada sifat mekanis dibahas pemanfaatannya.

2.5.1 Kurva tegangan-regangan teknik


Sifat-sifat mekanis dari logam dapat ditentukan dengan pengujian tarik. Hingga saat
ini pengujian tersebut digunakan secara luas untuk menentukan informasi-informasi dasar
dari bahan dan telah diterima sebagai cara pengujian untuk menentukan spesifikasi dari
material.
Pada pengujian tarik, batang percobaan (speciment) seperti gambar 2.2 dikenai
beban aksial yang makin besar secara kontinu. Pada saat yang bersamaan dilakukan
pengukuran-pengukuran yang diperlukan untuk menentukan besarnya tegangan dan
regangan.

Ao

35

Lo

Gambar 2.2 Batang uji (spesiment) untuk uji tarik

Untuk menentukan kurva tegangan-regangan teknik, yang dipergunakan adalah


tegangan dan regangan rata-rata seperti yang telah dirumuskan dalam fasal sebelumnya
Perumusan-perumusan tersebut menjadi :
t =
dimana :

F
Ao

t = tegangan teknik rata-rata,


F = beban,
Ao = luas penampang semula dari batang uji

Sedangkan untuk regangan teknik persamaan menjadi :


t

dimana:

L Lo
Lo

t = regangan rata-rata
L = panjang sesudah perpanjangan
Lo = panjang mula-mula

Kemudian tegangan teknik rata-rata di gambarkan dalam suatu sistem koordinat.


Untuk kebanyakan logam bentuknya akan mendekati kurva pada gambar 2.3
36

Gambar 2.3 a. Kurva tegangan-tegangan untuk logam bukan baja b. Kurva tegangantegangan untuk logam baja

2.5.2 Besaran-besaran dari tegangan-regangan teknik

37

Dari hasil pengujian tarik ini akan didapatkan besaran-besaran sebagai berikut: (a)
Kekuatan tarik, (b) kekuatan mulur, (c) perpanjangan, (d) modulus elastis dan beberapa
besaran lainnya. Besaran-besaran tersebut di jelaskan sebagai berikut:
(a) Kekuatan tarik. Kekuatan tarik dari suatu bahan dinyatakan sebagai beban
maksimum yang dapat diterima oleh bahan dibagi dengan luas penampang semula
dari batang uji. Kekuatan tarik adalah suatu sifat mekanis yang banyak ditonjolkan
yang dianggap sebagai kekuatan bahan. Tetapi dalam kenyataan untuk keperluan
perencanaan teknik kekuatan tarik ini tidak begitu berarti. Sebenarnya sifat mekanis
yang paling penting untuk menentukan kekuatan adalah batas elastis, karena titik ini
merupakan suatu batas antara terjadinya perubahan bentuk tetap dan kembali
kebentuk semula.
u

dimana : u

Fmaks
Ao

= kekuatan tarik dari bahan

Fmaks = beban maksimum


Ao

= luas penampang mula-nula dari batang uji.

38

(b)

Kekuatan Mulur. Telah dijelaskan di atas bahwa sifat mekanis yang terpenting
adalah batas elastis, sehingga batas ini perlu ditentukan dalam pengujian tarik. Tetapi
kenyataannya penentuan titik ini di dalam pengujian hampir tidak mungkin.
Berhubung dengan hal tersebut maka diadakan suatu pembatasan baru yang disebut
batas mulur atau kekuatan mulur (y). Kekuatan ini didefenisikan sebagai tegangan
yang timbul pada saat terjadi suatau regangan tetap atau regangan plastis yang telah
ditentukan. Biasanya diambil harga regangan plastis sebesar 0,001 atau 0,002 yang
dinyatakan dalam persen, yaitu 0,1 atau 0,2%. Dengan demikian kekuatan mulur
dirumuskan sebagai berikut:
y 0,1

F 0, 001
Ao

atau
y 0, 2

F 0, 002
Ao

Suatau hal yang penting dari kekuatan mulur ialah bahwa harga tersebut dapat di
pergunakan untuk meramalkan batas mulur statis untuk konstruksi-konstruksi yang
mendapat pembebanan yang kompleks dengan mempergunakan teori tentang energi
distorsi. Kekuatan mulur lebih dekat dari pada kekuatan tarik terhadap perubahanperubahan dalam perlakuan panas dan cara-cara pengujian.

(c) Perpanjangan. Perpanjangan adalah perbandingan antara pertambahan panjang


seluruhnya yang diukur pada batang uji yang telah patah terhadap panjang semula

39

dari batang uji. Perpanjangan ini pada umumnya dinyatakan dalam persen, sehingga
perumusannya menjadi:
maks

L Lo
x100%
Lo

dimana : maks = perpanjangan


L

= panjang batang sesudah pengujian

Lo = panjang mula-mula dari batng uji

Pertambahan panjang batang uji dianggap merata pada seluruh panjang batang sampai
dengan tercapainya beban maksimum. Setelah melampaui beban maksimum maka
akan terjadi pengecilan setempat pada batang uji. Perpanjangan ini sangat penting
untuk melihat kemampuan logam untuk dirubah bentuknya.

(d) Reduksi penampang. Reduksi penampang adalah perbandingan antara pengurangan


luas penampang batang uji sesudah pengujian terhadap luas penampang semula dan
biasanya dinyatakan dalam persen. Besaran tersebut dapat dirumuskan sebagai
berikut:

Reduksi penampang dapat digunakan sebagai ukuran kwalitatif dari kemampuan


untuk di bentuk. Suatu harga reduksi penampang yang tinggi menunjukkan bahwa
logam dapat mengalami deformasi yang ekstensif tanpa terjadi keretakan.

40

(e) Modulus elastis. Modulus elastis adalah konstanta dari perbandingan lurus antara
tegangan dan regangan. Jadi jelas bahwa besarnya modulus ini sama dengan angka
kemiringan dari kurva tegangan-regangan yang berupa garis lurus pada bagian yang
dekat dengan titik nol. Modulus elstatis (E) atau disebut juga modulus Young
menunjukkan kekakuan dari logam. Ini berarti bahwa makin besar harga E, makin
kaku logam tersebut. Jadi harga ini penting sekali untuk menghitung defleksi atau
lendutan dari suatu konstruksi. Besarnya harga E ditetntukan oleh gaya-gaya pengikat
antara atom-atom. Karena letak atom tidak berubah dengan berubahnya struktur
mikro dari material, maka modulus elastis adalah sifat mekanis yang tidak peka
terhadap strukturmikro dari suatu bahan. Harga modulus elastis hampir tidak berubah
karena adanya pencampuran perlakuan panas atau pengerjaan dingin.

(f) Resilien. Resilien adalah kemampuan logam untuk menyerap energi deformasi elastis
dan melepaskannya kembali setelah beban ditiadakan. Kemampun ini biasanya
dinyatakan sebagai suatu modulus dan disebut modulus resilien, yang sebenarnya
adalah enersi regangan elastis persatuan volume.
Jadi berdasarkan kurva pada gambar 7.2. modulus ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
UR
dimana :

el x el y x y

2
2

UR = modulus resilien
y = tegangan mulur
y = regangan mulur

41

Modulus ini biasanya dipergunakan untuk mengukur kemampuan bahan untuk


menyerap enersi yang disebabkan oleh beban luar, misalnya penentuan bahan untuk
pegas.

(g) Keuletan logam. Keuletan logam adalah suatu kemampuan logam untuk menyerap
enersi deformasi plastis. Kemampuan logam dalam hal ini sangat penting untuk
bagian-bagian yang kadang-kadang harus menerima beban tegangan yang melebihi
batas elastis misalnya kopling-kopling, sambungan gerbong kereta api, roda-roda
gigi, rantai-rantai dan lain-lainnya. Berdasarkan definisi di atas maka dapat
disimpulkan bahwa keuletan logam dapat diwakili oleh seluruh luas bagian diagram
yang ada di bawah kurva tegangan-regangan (Gambar 7.3.).
Gambar 7.3. menunjukkan dua kurva tegangan-regangan, yang satu dari baja
karbon tinggi sedangkan yang lain dari baja karbon rendah. Bagian yang diarsir, yang
terdapat di bawah daerah elastis menunjukkan besarnya modulus resilien. Di sini dapat
dilihat bahwa baja karbon tinggi mempunyai resilien yang lebih besar bila dibandingkan
dengan banya karbon rendah. Hal ini disebabkan karena batas elastisnya yang lebih
tinggi. Tetapi sebaliknya keuletan baja karbon rendah lebih besar, hal ini menunjukkan
bahwa baja karbon rendah lebih mampu dirubah bentuknya daripada baja karbon tinggi.
Berdasarkan definisi di atas, keuletan dari suatu logam adalah :

Dimana : UL = keuletan
= tegangan
m = regangan maksimum

42

persamaan 7.10. di atas masih merupakan suatu pendekatan, karena di dalam


tegangan regangan teknik, hal-hal yang terjadi setelah melampaui batas elastis tidak
menggambarkan gambaran-gambaran yang sebenarnya. Hal ini akan dibahas lebih lanjut
pada bab berikut.
Beberapa harga besaran yang dapat dihitung dari hasil pengujian tarik dapat
dilihat dalam Tabel 7.1.
E(kg/cm2)

y(kg/cm2)

UR(kg cm/cm3)

Baja karbon sedang

20,5 x 105

3000

2,29

Baja karbon tinggi

20,5 x 105

9500

21,80

7,1x 105

1200

1,16

10,9 x 105

270

0,36

Bahan

Duralumin
Tembaga

2.6 Kurva tegangan-regangan sebenarnya


Kurva tegangan-regangan teknik tidak menunjukkan gambaran yang sebenarnya
tentang sifat-sifat deformasi dari logam. Hal ini disebabkan karena dalam perumusannya
atau definisinya tidak diperhitungkan tentang adanya perubahan bentuk dari batang uji.
Sedangkan keadaan sebenarnya pada waktu pengujian, bentuk dari batang uji selalu
berubah terus.
Untuk mendapatkan sifat-sifat yang sebenarnya, diadakan defenisi baru. Dalam hal
ini tegangan didefinisikan sebagai gaya dibagi dengan luas penampang yang sebenarnya,
yaitu luas penampang pada saat beban masih dikenakan sebenarnya. Regangan
didefinisikan sebagai pertambahan panjang dibagi dengan panjang yang sebenarnya.
Kedua definisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Tegangan

d s

dF
As

43

sehingga :

F
As

7.11.

s = tegangan sebenarnya

dimana :

F = beban
As = penampang sebenarnya
dL
L

regangan

d s

Sehingga :

s 1n .

L
Lo

7.12.

Bila harga-harga s dan s yang dihitung berdasarkan rumus tersebut di atas


digambarkan dalam suatu sistim koordinat, maka akan didapatkan suatu kurva teganganregangan. Kurva ini disebut kurga tegangan-regangan sebenarnya. Bentuk dari kurva
tersebut bersama-sama dengan kurva tegangan-regangan teknik ditunjukkan dalam
Gambar 7.4.

Gambar 7.4. Kurva tegangan-regangan sebenarnya, dan kurva tegangan-regangan


teknik.
Hubungan antara tegangan dan regangan teknik dan tegangan dan regangan
sebenarnya dapat dicari secara matematika sebagai berikut :
44

F
As

dengan asumsi bahwa volume batang uji tidak berubah, maka :


Volume = As Ls = Ao Lo = tetap
Sehingga :
A o Lo
Ls

As

jadi :
s

F
F . Ls

As A o Lo

atau :
s

F Lo
(
)
A o Lo

s O t (1 t ) 7.13.

untuk regangan nyata dapat dihitung sebagai berikut :


s 1n.

L
L
1n( o
)
Lo
Lo

s 1n(1 t ) 7.14.

hubungan sebaliknya, yaitu tegangan dan regangan teknik dinyatakan


dengan tegangan dan regangan sebenarnya ialah :

t s e s 7.15.
atau :

t e s 1 7.16.

45

Pada permulaan dari bagian ini disebutkan bahwa tegangan-regangan teknik tidak
menunjukkan sifat-sifat logam yang sebenarnya. Hal ini tidak berarti bahwa hasil-hasil
yang didapat dari tegangan-regangan tersebut tidak dapat dipergunakan, sebab pada harga
regangan yang sangat kecil perubahan bentuk dari batang uji sangat kecil sekali sehingga
dapat diabaikan. Dengan kenyataan bahwa untuk konstruksi atau bagian-bagian
peralatan, logam hanya dibebani dengan tegangan di bawah batas mulur, berarti bahwa
untuk keperluan ini tegangan-regangan teknik dapat dipergunakan sepenuhnya.
Sedangkan untuk keperluan pengerjaan yang berdasarkan perubahan bentuk di mana
regangan yang terjadi sangat besar, maka harus dipergunakan harga-harga yang
didapatkan dari kurva tegangan-regangan sebenarnya.

2.7 Persamaan tegangan-regangan sebenarnya.


Perhitungan-perhitungan kekuatan, tegangan dan regangan akan menjadi lebih
mudah bila hubungan antara tegangan dan regangan dapat dinyatakan dalam bentuk
matematik. Misalnya pada daerah elastis di mana berlaku hukum Hooke, kurvanya
dinyatakan.

46

2.8 Kekerasan Logam


Di antara sifat-sifat mekanis dari logam, kekerasan adalah sifat yang paling tidak
jelas definisinya. Hal ini disebabkan karena banyaknya orang yang memberikan definisi
dan cara mendefinisikannya yang diarahkan untuk keperluan bidang mereka masingmasing. Salah satu defenisi yang dapat diutarakan disini adalah sebagai berikut;
Kekerasan (hardness) adalah ketahanan bahan terhadap penetrasi pada permukaannya.
Kekerasan adalah suatu sifat dari bahan yang sangat penting karena banyak sifat-sifat
yang lain yang berhubungan dengan kekerasannya. Kekerasan berhubungan dengan
kekuatan, oleh karena itu imformasi kekerasan bahan sangat penting dalam perancangan
teknik.
Pada waktu ini dikenal tiga kelompok cara penentuan kekerasan yaitu kekerasan
goresan, kekerasan indentor dan kekerasan dinamik. Di antara ketiga kelompok cara
penentuan kekerasan hanya cara penentuan kekerasan dengan indentor yang sering sekali
dipergunakan di dalam teknik. Sedangkan kekerasan goresan banyak dipergunakan oleh
ahli-ahli mineral. Pada cara penentuan kekerasan dengan goresan ini dikenal skala
kekerasan menurut Mohs. Pada skala kekerasan Mohs ini, bahan mineral dibagi menjadi
sepuluh kelas kekerasan dengan mineral yang paling lunak yaitu talkum diberi skala satu
dan intan skala kekerasan sepuluh. Logam yang paling keras mempunyai harga kekerasan
pada skala Mohr antara 4 s/d 8
Pengukuran kekerasan dengan cara dinamik adalah dengan jalan menjatuhkan bola
baja pada permukaan bahan. Tinggi pantulan bola menyatakan energi tumbuk yang
merupakan ukuran kekerasan logam. Cara ini dikenal Shore Soeleroscope.

47

Penentuan
menggunakan

kekerasan

dengan

cara

penekanan

pada

permukaan

dengan

alat penekan (indentor) adalah cara yang paling banyak dipakai.

Umumnya dilakukan untuk pengukuran kekerasan bahan-bahan logam. Cara ini adalah
cara Brinell, Vickers dan Rockwell.

2.8.1 Kekerasan Brinell


Penentuan kekerasan melalui pengukuran lekukan bekas indentor diajukan oleh
J.A.Brinell pada tahun 1900. Uji kekerasan Brinell berupa pembentukan lekukan pada
permukaan logam dengan memakai bola baja diameter 10 mm dan diberi beban 3000 kg.
Untuk logam lebih lunak beban dikurangi hingga tinggal 500 kg untuk mengurangi jejak
yang lebih dalam. Untuk bahan yang sangat keras digunakan karbida Tungten. Jika F
adalah beban/gaya (kg) dan D diameter bola indentor (mm). Setelah indentor ditekan
pada permukaan logam, akan meninggalkan lekukan bekas indentor. Diameter lekukan
bekas indentor ini diukur dengan menggunakan mikroskop. Kemudian besarnya
kekerasan dihitung dengan membagi beban penekan dengan luas bekas indentor.
Berdasarkan definisi tersebut maka kekerasan Brinell dapat dihitung dengan persamaan :
H BR

dimana :

F
(D/2)(D

D2 d2 )

2.8.

F = beban tekanan (kg)


D = diameter bola indentor (mm)
d = diameter bekas indentor (mm)

Dengan mengadakan perubahan-perubahan, persamaan 2.8 dapat berubah menjadi :


2 P
1
H BR ( )( 2 )(
)
D 1 ( d )2
D

2.9

48

dari persamaan 2.9 dapat dilihat bahwa hasil-hasil kekerasan Brinell dapat dibandingkan

dengan tepat bila harga (

P
) sama untuk setiap pengukuran.
D2

Dalam menentukan kekerasan ini kesalahan yang terbesar yang timbul adalah hasil
pengukuran bekas indentor. Hal ini disebabkan karena batas bekas indentor yang tidak
jelas seperti digambarkan dalam Gambar 9.1. Bila kekerasan logam yang diukur
mendekati atau sama dengan kekerasan indentor, maka akan terjadi kesalahan pada cara
pengukuran menurut Brinell yang disebabkan oleh terjadinya perubahan bentuk pada bola
indentor.

Gambar 9.1. Jenis-jenis bekas indentor


a. Bekas yang muncul
b. Bekas yang tenggelam

2.8.2 Kekerasan Vickers


Pengukuran kekerasan Vickers dilakukan dengan cara menekan indentor dari intan
yang berbentuk priamid sebagai pengganti bola baja. Dengan demikian bahan-bahan
keras dapat diuji dengan presisi yang lebih baik dari cara Brinell. Biasanya sudut antara
permukaan-permukaan piramida yang saling berhdapan adalah 136o. Karena bentuk
penumbuknya pyramid, maka pengujian ini sering dinamakan uji kekerasan pyramid

49

intan. Atau angka kekerasan Vickers (HV). Didefenisikan sebagai beban dibagi luas
permukaan lekukan. Pada prakteknya, luasan ini dihitung dari pengukuran panjang
diagonal bekas injakan indentor dengan bantuan mikroskop. Kekerasan Vickers dapat
dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut :

Hv
dimana :

P
L

HV

2 P sin 2
L2

2P sin 68 o 1,854P

L2
L2

= beban tekanan (kg)


= panjang rata-rata diagonal bekas indentasi (mm)
= sudut antara dua permukaan piramid intan = 1360
= angka kekerasan Vickers

Uji kekerasan Vickers banyak dilakukan pada pekerjaan penelitian karena metode
tersebut memberikan hasil dengan skala yang kontinue, untuk suatu beban tertentu. Dapat
digunakan pada logam yang sangat lunak yaitu HV-nya 5, hingga logam yang sangat
keras dengan HV-nya 1500. Pengujian kekerasan lainnya seperti Brinell atau Rockwell,
biasanya diperlukan perubahan beban pada nilai kekerasan tertentu, sehingga pengukuran
pada suatu skala kekerasan yang ekstrim, tidak bisa dibandingkan denga skala kekerasan
yang lain. Pada metode Vickers ini, karena indentor berbentuk piramida, maka secara
geometris tidak terdapat persoalan mengenai ukurannya, sehingga kekerasan Vickers
tidak tergantung besarnya beban. Beban yang biasanya digunakan pada uji Vickers
berkisar antara 1 hingga 120 kg, tergantung kepada kekerasan logam yang akan diuji.

2.8.3 Kekerasan Rockwell


Rockwell mempergunakan cara yang agak berlainan dalam penentuan kekerasan
logam dengan metode lainnya. Untuk mendapatkan daerah penggunaan yang luas,
Rockwell membuat kombinasi antara 3 macam identor dan 3 macam beban utama. Tiap-

50

tiap kombinasi antara indentor dan beban diberi nama skala sendiri mulai dari A sampai
dengan K. Jenis indentor yang dipakai yaitu kerucut intan dan bola-bola baja dengan

1
diameter
16

"
dan

1
8

"
. Prinsip pengukuran kekerasan didasarkan kepada dalam

atau dangkalnya kerucut intan atau bola baja masuk kedalam logam pada beban tertentu.
Makin keras logam makin dangkal masuknya kerucut atau bola baja.
Skala A dapat dipakai pada pengukuran kekerasan logam dari yang paling keras,
dimana digunakan kecut intan sebgai indentor dengan beban 60 kg. Skala B dipakai pada
pengukuran kekerasan logam yang lebih lunak dengan mempergunakan bola baja

1
16

"
dengan beban 100 kg. Skala C biasanya dipakai pada penggunaan kekerasan

baja yang telah dikeaskan dan dipergunakan kerucut intan dan beban 150 kg. Skala-skala
lainnya dipakai pada pengukuran kekerasan logam yang lunak. Metode pengujian
kekerasan Rockwell banyak sekali dipakai di dalam industri. Hal ini disebabkan karena
cepatnya pengukuran. Pada metode kekerasan Rockwell, angka kekerasan ditentukan
oleh dalamnya bekas indentor yang dapat dibaca langsung dari alatnya. Metode Rocwell
ini kurang teliti dibandingkan dengan metode Brinell dan Vickers.

51

Kombinasi kekerasan Rockwell ini dapat dilihat pada Tabel


Skala Kekerasan
Roc
kwel
l

A
B
C
D
E
F
G
H
K

Kombinasi indentor dan beban


Indentor

Kerucut intan
Bola baja = 1/16
Kerucut intan
Kerucut intan
Bola baja = 1/8
Bola baja = 1/16
Bola baja = 1/16
Bola baja = 1/8
Bola baja = 1/8

Beban Utama (kg)

60
100
150
100
100
60
150
60
150

2.8.4 Kekerasan Mikro


Kekerasan-kekerasan yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, bekas
indentornya mempunyai ukuran antara 0,5 sampai 2 mm. Berhubung dengan hal ini maka
cara-cara tersebut tidak dapat dipakai untuk mengukur kekerasan pada bagian-bagian alat
yang kecil, permukaan yang sempit, butir kristal atau struktur logam lainnya yang
termasuk dalam kategori struktur mikro. Untuk keperluan ini Tukon telah membuat alat
pengukur kekerasan yang dilengkapi dengan mikroskop dan cara pembebanan yang dapat
dirubah-rubah dengan beban yang kecil, sehingga bekas indentor yang terjadi juga kecil.
Indentor yang dipergunakan adalah indentor piramid intan dari Vickers atau
indentor intan dari Knoop. Bekas Indentor ini dapat dilihat pada Gambar 9.2.
Perbandingan diagonal pada Vickers adalah 1:1 sedang Knoop adalah 1:7.
Cara melakukan pengukuran kekerasan mikro ini mula-mula ditentukan atau dicari
lebih dahulu tempat atau butir kristal yang akan diukur kekerasannya dengan mikroskop

52

yang telah disediakan dalam alat Tukon tersebut, baru kemudian indentor ditekankan
dengan beban yang telah dipilih sebelumnya.
Perhitungan kekerasan sama dengan perhitungan pada kekerasan Brinell dan
Vickers yaitu beban dalam kg dibagi dengan luas bekas dalam mm 2. kekerasan yang
didapat dengan indentor Vickers untuk kekerasan mikro ini disebut angka kekerasan
piramid (AKP) dan bila dipergunakan indentor Knoop disebut dengan angka kekerasan
Knoop (AKK).

(a)
Gambar 9.2.

(b)
a. Bekas indentor dari Vickers.
b. Bekas indentor dari Knoop

2.9.5 Hubungan antara beberapa macam kekerasan


Hubungan antara kekerasan-kekerasan ini didapatkan secara empiris. Hubungan
secara teoritis sukar untuk didapatkan karena masing-masing kekerasan penentunya
memakai dasar yang berlain-lainan. Hubungan ini biasanya ditabelkan dan diikut

53

sertakan bersama alat-alat pengukur kekerasan. Beberapa harga kekerasan untuk


beberapa jenis pengukuran kekerasan ditabelkan dalam Tabel 9.2.

Tabel

Hubungan antara beberapa kekerasan

Kekerasan
Mohs

Kekerasan
Skleroskop

8,0

Kekerasan Rockwell

Kekerasan
Vickers

Kekerasan
Brinell

667

627

54,7

591

555

47,2

474

444

70,6

40,4

396

375

45

66,3

32,1

319

302

5,5

37

62,5

24,2

261

248

5,0

28

57,0

91,0

195

192

4,5

23

49,5

80,0

151

149

79

A
80,5

B
-

C
58,7

7,5

73

78,4

7,0

64

74,3

6,5

54

6,0

BAB III
1700

BESI DAN BAJA


0

15360C

3.1. Besi Murni


1500

cair

-Fe
0
Besi murni adalah merupakan logam dasar
paduan baja dan besi tuang.
Besi
1392untuk
C

Ar4
dengan harga kemurnian
yang tinggi dapat dihasilkan melalui proses elektrolisa atau
1300

melalui proses anil (annealing proses). Secara teknik besi murni selalu mempunyai
-Fe

kandungan 0,01 s/d 0,001% dari unsur-unsur lain seperti Cr, Mn, Si, P, S, Cu, dan Ni.
Besi dengan kemurnian 99,9 % Fe, sudah dikatakan
sangat murni, dan mempunyai harga
1000
9150C
Ar3
kekerasan
60
Hb,
batas
elastisitas 100 N/mm2 , kekuatan tarik 200 N/mm2.
900
800

Ar2

7690C

-Fe

700

-Fe

600

Waktu
Gambar 3.1 Kurva pendinginsn dan pemanasan besi murni

54

Keterangan gambar 3.1


-

Pada suhu 1536 0 C disebut kristal point pertama menunjukkan titik beku atau titik
leleh besi murni.

Pada suhu 1392 0 C disebut kristal point ke dua yaitu terjadi perubahan bentuk kristal
besi dari bcc menjadi fcc ( dari besi menjadi besi ).

Pada suhu 900 0 C terjadi kristal point yang ketiga yaitu terjadi kembali perubahan
struktur kristal dari fcc menjadi bcc ( besi menjadi besi ).

Pada suhu 769

C terjadi kristal yang ke empat. Perubahan yang nampak pada suhu

ini adalah sifat kemagnetannya, yaitu pada suhu dibawah 769

C besi masih dapat

ditarik dengan magnet, tetapi pada suhu diatas 769 0 C besi tidak dapat ditarik dengan
magnet, maka dari sifat kemagnetan ini dapat dibedakan :
Besi murni pada suhu dibawah 769 0 C dinamakan besi dan
Besi murni pada suhu diatas 769 0 c dinamakan besi

55

3.2. Baja dan Besi


Baja dan besi paling banyak banyak dipakai sebagai bahan dalam industri, karena
sifat-sifatnya yang bervariasi. Baja dan besi ini mempunyai berbagai sifat, dari yang
paling lunak dan mudah dibuat sampai yang paling keras. Dari unsur besi berbagai
bentuk struktur logam dapat dibuat. Oleh karena itu baja dan besi ini disebut bahan yang
kaya dengan sifat-sifatnya.

Diagram fasa Fe-C


Zat karbon (C) adalah merupakan unsur paduan besi yang sangat penting. Dengan
kandungan zat karbon (C) yang relatif masih rendah, karakter dan sifat-sifat besi dapat
berubah. Baja dengan kandungan C

56

3.4. Besi cor (cast iron)


Besi cor adalah paduan Fe yang mengandung C, Si, Mn, S, dan P, dengan
persentase C 2%. Besi cor merupakan bahan yang sangat penting yang dipergunakan
sebagai bahan coran lebih dari 80%. Struktur mikro dari besi cor terdiri dari ferit,
pearlite, sementit, atau grafit. Besi cor dapat diklasifikasikan menjadi; besi cor kelabu,
besi cor mutu tinggi, besi cor kelabu paduan, besi cor putih, besi cor bergrafit bulat, besi
cor yang dapat ditempa, dan besi cor cil.

a. Besi cor yang paling banyak dipakai adalah besi cor kelabu. Sturuktur mikro dari
besi cor ini terdiri dari grafit yang berbentuk serpih-serpih berada pada matrik
ferit. Warna patahannya kelabu, disebabkan oleh serpihan-serpihan grafit.
Besi cor kelabu terdiri dari beberapa kelas, yang bervariasi menurut komposisi
kimia, dan sifat-sifatnya. Unsur C ( 2,5 3,8) %, dan kekuatan tarik (10 45)
kg/mm2.

57

b. Besi cor mutu tinggi. Besi cor jenis mutu tinggi ini mengandung lebih sedikit
karbon maupun silicon, dan ukuran grafiknya lebih halus dibandingkan dengan
besi cor kelabu, sehingga kekuatannya meningkat (30 50) kg/mm 2. Proses
pembuatan besi cor mutu tinggi dengan jalan menambahkan sedikit kalsium
silikon atau ferro silikon beberapa saat sebelum penuangan. Tujuannya adalah
untuk mencegah terjadinya besi cor putih. Dengan demikian grafit yang halus
terdistribusikan secara merata. Proses penambahan paduan tersebut dinamakan
inokulasi.

c. Besi cor kelabu paduan, selain unsur-unsur utama seperti yang disebutkan diatas,
juga mengandung unsur-unsur tambahan

dan grafit. Unsur-unsur yang

ditambahkan adalah Cr, Ni, Mo, Va, Va, dsb. Sehingga ketahanan panas, aus,
korosi, dan mampu mesin dari besi cor macam ini baik sekali.

d. Besi cor putih. Jenis besi cor ini mempunyai struktur mikro, dimana atom C yang
bebas pada besi cor kelabu terikat seluruhnya, menjadi sementit (Fe3C). Disebut
besi cor putih karena mempunyai patahan berwarna putih. Besi cor ini dapat
dibuat dengan jalan mendinginkan dengan cepat, sehingga terbentuk sementit.
Sifat-sifat dari besi cor ini adalah keras tetapi getas, dengan demikian
penggunaannya untuk komponen-komponen yang memerlukan ketahanan aus
yang tinggi.

58

e. Besi cor bergrafit bulat (besi cor nodular). Jenis besi cor ini, grafitnya berbentuk
bulat sehingga kekuatan dari besi cor ini lebih baik dibandingkan dengan jenisjenis besi cor lainnya. Kekuatannya berkisar (40 70 ) kg/mm 2. Unsur C (3,44,1)%.
Proses pembulatan grafit dilakukan dengan jalan inokulasi yaitu penambahan
sedikit unsur- unsur seperti Mg, Ca, Na, K, Ti, dsb. pada cairan besi cor sebelum
penuangan, tetapi karena masalah harga maka umumnya digunakan Mg.
Besi cor ini disebut juga dengan besi cor liat, karena mempunyai keuletan dan
ketahan panas yang baik. Oleh karena itu dipakai untuk berbagai macam
keperluan misalnya pipa-pipa, rol-rol penggiling, cetakan, komponen-komponen
mekanik, dan komponen-komponen untuk tungku.

f. Besi cor mampu tempa. Besi cor mampu tempa dibuat dari besi cor putih yang
dilunakkan didalam sebuah tanur dalam waktu yang lama. Struktur sementit dari
dari besi cor putih berubah menjadi ferit atau pearlite dan karbon mengendap.
Besi cor ini sangat baik keuletannya dan perpanjangannya dibandingkan dengan
besi cor kelabu, teapi harganya lebih mahal karena proses pelunakan.

g. Besi cor Cil. Besi cor cair yang mempunyai komposisi kimia yang cocok
dituangkan dalam sebuah cetakan logam atau cetakan sebagian dari logam, bagian
yang mengenai cetakan logam tersebut terdinginkan secara cepat menjadi besi cor
putih yang sangat keras, sedangkan pada bagian dalamnya menjadi besi cor

59

kelabu yang memberikan keuletan yang lebih baik. Pengecoran ini dinamakan
pengecoran cil.
Penggunan coran cil. Coran cil mempunyai sifat keras pada permukaannya. Dan
secara keseluruhannya masih ulet, banyak dipergunakan untuk roda-roda rel, rolrol untuk pengerolan logam, Rol untuk kertas, perkakas pertanian pompa air, dsb.
Perlakuan panas besi cor cil. Pada coran cil mempunyai perbedaan laju
pendinginan disetiap tempat dan mempunyai struktur mikro yang bervariasi,
sehingga menyebabkan tegangan-tegangan sisa yang bisa menyebabkan
deformasi dan keretakan, jadi tegangan sisa ini perlu dihilangkan. Sebaiknya
dilakukan perlakuan panas supaya sementit yang tumbuh secara kasar pada la[isan
cil

Tembaga dan Paduannya


Tembaga murni. Tembaga murni yang telah mengalami annealing mempunyai mampu
tarik maksimum 200 N/mm2 dan kekerasan 40 s/d 50 HB. Sifat-sifat fisik dari Tembaga
(Cu) yang paling penting adalah :
1. Daya hantar listrik yang tinggi, oleh karena itu sebagian besar hasil produksi dari
tembaga dipergunakan pada industri listrik seperti kabel dan lain-lain.
2. Penghantar panas yang tinggi, dengat sifat ini tembaga banyak dipergunakan
sebagai peralatan pendingin, seperti radiator dll.
3. Tahan terhadap korosi, merupakan sifat tembaga yang cukup penting, sehingga
tidak jarang dijumpai tembaga diperguankan sebagai bahan pelapis, seperti untuk
baja, besi, dll.

60

Tembaga paduan
Tembaga mudah dibuat dalam bentuk paduan denga logam lain, karena titik lelehnya
yang tinggi 10830. Tembaga paduan yang paling penting adalah :
1. Kuningan (Cu-Zn). Kuningan dengan konsentrasi Cu-Zn = 60:40 merupakan
paduan yang mempunyai kekuatan tinggi.
2. Kuningan khusus. Yang dimaksud dengan kuningan khusus adalah kuningan yang
diberikan unsure paduan tambahan dengan tujuan meningkatkan/ memperbaiki
sifat-sifatnya, seperti meningkatkan kekerasan, kekuatan tarik, ketahan korosi dan
ketahanan gesek. Unsur-unsur yang ditambahkan pada kuningan adalah Ni, Mn,
Fe, Pb, Sn, Al, dan Si.
3. Perunggu (Brons). Paduan antara tembaga dengan timah putih dikenal dengan
nama perunggu dalam arti sempit. Tetapi dalam arti yang luas perunggu berarti
paduan Cu dengan unsure-unsur logam lainnya selain dari Zn. Perunggu
merupakan paduan yang mudah dicor dan mempunyai kekuatan yang lebih tinggi,
ketahanan aus dan korosi yang lebih baik dibandingkan dengan tembaga murni
dan kuningan. Oleh karena itu banyak digunakan untuk berbagai komponen
mesin, bantalan, pegas, coran artistic, dll.
Jenis-jenis perunggu (Brons)
a.

Perunggu timah putih (Cu-Sn). Sn lebih mahal dari kuningan. Oleh karena itu
kuningan dipergunakan sebagai bahan baku, dan selanjutnya bahan yanh dicampur
(4-5)% Sn dipergunakan untuk keperluan benda-benda coran.

b.

Perunggu posfor (Cu-P). Pada paduan tembaga pospor berguna sebagai penghilang
oksidasi, oleh karena itu penambahan posfor (0,05-0,5)% memberikan kecairan

61

logam yang lebih baik, sehingga mempunyai sifat-sifat yang lebih baik
keelastisannya, kekuatannya, dan keausannya.
c.

Brons Aluminium . Paduan ini juga banyak diguankan dalam industri, dimana
paduan ini mempunyai sifat-sifat mekanis yang lebih baik dibandingkan dengan
borons timah putih, sehingga penggunaannya lebih luas. Tetapi mampu cornya
kurang baik, sehingga membutuhkan teknik yang lebih rumit dalam pengecorannya.

Aluminium Paduan
Aluminium murni dan aluminium paduan merupakan logam yang cukup banyak
dipergunakan didalam dunia industri yaitu setelah penggunaan baja dan besi tuang.
Aluminium murni mempunyai sifat lunak, tahan korosi, penghantar panas dan listrik
yang baik dan ringan. Karena sifat-sifat mekanisnya yang rendah maka aluminium
banyak dipergunakan dalam bentuk paduan.
Unsur-unsur paduan yang sering dipergunakan adalah Si, Cu, Mg. Zn, dan Mn, secara
satu persatu atau bersama-sama memberian peningkatan sifat-sifat mekaniknya.
Aluminium murni didapatkan dengan cara elektrolisa, dengan bahan dasarnya bauksit.
Aluminium murni mempunyai kemurnian 99 % - 99,99 %
Klasifikasi aluminium paduan.

62

Aluminum paduan diklasifikasikan dalam berbagai standard oleh berbagai negara


di dunia. Saat ini klasifikasi yang sangat terkenal dan sempurna adalah standard
Aluminium Assosiasi di Amerika (AA), yang didasarkan atas standard terdahulu dari
Alcoa (Aluminium Company of Amerika), dimana paduan tempaan dinyatakan satu atau
dua angka S, sedangkan paduan coran dengan 3 angka. Standard AA menggunakan
penandaan dengan 4 angka, sbb: angka pertama menyatakan system paduan dengan
unsure-unsur yang ditambahkan yaitu; angka 1 menyatakan Al-murni, angka 2
menyatakan paduan Al-Cu, angka 3 menyatakan paduan Al- Mn, angka 4 menyatakan
paduan Al-Si, angka 5 menyatakan paduan Al-Mg, angka 6 menyatakan paduan AL-MgSi, dan angka 7 menyatakn paduan Al-Zn. Sebagai contoh : Paduan Al-Cu dinyatakan
dengan angka 2000. Angka pada tempat kedua menyatakan kemurnian dalam paduan,
Sedangkan angka ketiga dan keempat dimaksudkan untuk tanda Alcoa terdahulu kecuali
S. Sebagai contoh ; 3 S ditulis sebagai 3003 dan 63 S sebagai 6063.
Paduan-Paduan Aluminium yang utama :
1.

Al-Cu. Sebagai paduan coran dipergunakan paduan yang mengandung (4-5)%


Cu. Paduan dapat dicor dengan baik apabila ditambahkan sedikit Si. Pada
penambahan Ti sangat efektif untuk memperhalus butir yang mengakibatkan
perbaikan sifat-sifat mekanisnya.

2.

Al-Cu-Mg. Paduan yang mengandung 4% Cu dan 0,5% Mg, dapat mengeras


dengan sangat dalam beberapa hari oleh pemanas pada temperatur biasa.
Duralium adalah adalah jenis dari paduan ini dengan penambahan sedikit unsure
Mn. Duralium ini adalah paduan praktis yang sangat terkenal disebut paduan
2017, komposisi standardnya adalah Al -4%Cu-0,5%Mg-0,5%Mn. Jenis lain dari

63

duralium ini adalah Duralium super dengan komposisi Al-4,5%Cu-1,5%Mg0,5%Mn, banyak dipakai sebagai bahan pesawat terbang.
3.

Al-Mn. Mn adalah unsure yang memperkuat Al tanpa mengurangi ketahanan


korosi dan digunakan untuk membuat paduan yang tahan korosi. Paduan Al1,2%Mn dan Al-1,2%Mn-0,1%Mg dinamakan paduan 3003 dan 3004 yang
dipergunakan sebagai paduan tahan korosi tanpa perlakuan panas.

4.

Paduan Al-Si. Karena kelarutan Si dalam Al sangat kecil, maka dengan


penambahan sedikit natrium Flourida akan dapat meningkatkan kelarutan Si
didalam Al. Paduan Al-Si sangat baik kecairannya, mempunyai permukaan yang
bagus sekali, tanpa kegetasan panas, dan sangat baik untuk [paduan coran,
ketahanan korosi yang baik, tahan aus. Paduan Al-Si sangat banyak digunakan
untuk paduan coran.

5.

Al-Mg. Paduan ini mempunyai sifat kemampuan penuaan yang baik, tahan
korosi, mudah ditempa, dirol dan diekstrusi.

6.

Paduan Al-Mg-Si. Mempunyai penuaan yang baik, dan mempunyai sifat mampu
bentuk yang tinggi pada temperatur biasa dan dapat dikeraskan.

7.

Paduan Al-Mg-Zn. Sifat paduan dapat dibuat keras sekali dengan penuaan
setelah perlakuan palarutan, tetapi bersifat patah getas akibat tegangan korosi.

64

Polimer
Plastik, serat, film, dsb. yang biasa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari
mempunyai berat molekul diatas 10.000. Bahan dengan berat molekul yang besar ini
disebut polimer. Umumnya polimer dibangun oleh satuan struktur tersusun secara
berulang, yang diikat oleh gaya tarik-menarik yang kuat yang disebut ikatan kovalen,
dimana setiap atom dari pasangan terikat menyumbang satu electron untuk membentuk
sepasang elektron.
Bahan polimer menunjukkan sifat berbeda dengan bahan organik yang
mwempunyai berat molekul rendah. Bahan organik yang mempunyai berat molekul
rendah, berubah menjadi cair dengan viscositas rendah, atau menguap kalau dipanaskan.
Sedangkan polimer mencair dengan viscositas sangat kental dan tidak menguap.
Banyak bahan yang mempunyai berat molekul rendah, larut pada pelarut yang
mempunyai viscositas rendah, sedangkan sejumlah bahan polimer umumnya tidak larut
pada zat pelarut dan kalau pun bisa larut viscositasnya sangat tinggi. Bahan polimer biasa
terbentuk oleh satuan struktur secara berulang, dimana unit tersebut dinamakan monomer.
Sebagai contoh adalah polietilene.

65

1. Berat molekul dan derjat Polimerisasi


Polipropilen terdiri dari banyak monomer propilen dalam rantai kombinasi

Polipropilen dibentuk oleh n satuan monomer propilen. Jumlah satuan struktur yang
berulang ini (n) dikenal sebagai derjat polimerisasi. Berat molekul dari polimer (M)
adalah berat molekul satuan (a), dikalikan dengan derjat polimerisasi (n). Jadi :
M = n.a
Molekul polimer disusun :
a. Dalam satu struktur rantai, seperti polietilen dan polipropilen.
b. Dalam struktur tiga dimensi dengan ikatan kovalen, seperti phenol dan
resin epoksi
c. Dalam struktur hubungan silang seperti karet, dimana sebagian molekul
rantai terikat satu sama lain.
Sifat-sifat thermik dan mekanik dari polimer sangat berbeda tergantung pada
keadaan. Sebagai contoh; kebanyakan molekul rantai memberikan sifat thermoplastik
dengan menaikkan temperatur, dapat mencair dan mengalir. Bahan tersebut disebut bahan
polimer thermoplastik. Dilain pihak polimer yang struktur tiga dimensinya terkeraskan
karena pemanasan, tidak bersifat dapat mengalir lagi karena pemanasan, bahan ini
dinamakan resin termoset. Polimer yang dihubung-silangkan secara tepat dengan S atau

66

lainnya, seperti halnya karet, menunjukkan sifat elastomer, dapat berdeformasi karena
diregangkan dan kembali ke asal apabila dilepas.
Sifat-sifat khas bahan polimer pada umumnya adalah sebagai berikut :
1. Mampu cetak adalah baik. Pada temperatur relatif rendah bahan dapat dicetak
dengan penyuntikan, penekanan, ekstrusi dsb. Yang menyebabkan ongkos
pembuatan lebih rendah dari pada logam dan keramik.
2. Produk yang ringat dan kuat dapat dibuat. Berat jenis polimer rendah,
dibandingkan dengan logam dan keramik (Berat jenis 1,0 1,7)
3. Banyak diantara polimer yang bersifat isolasi listrik yang baik.
4. Baik sekali dalam ketahanan air dan zat kimia.
5. Produk-produk dengan sifat-sifat yang cukup berbeda dapat dibuat tergantung
pada cara pembuatannya.
6. Umumnya bahan polimer lebih murah
7. Kurang tahan terhadap panas
8. Kekerasan permukaan yang sangat kurang, bahan polimer yang keras ada, tetapi
masih jauh dibawah kekerasan logam dan keramik.
9. Kurang tahan terhadap pelarut. Umumnya larut dalam zat pelarut tertentu, kecuali
beberapa bahan khusus, seperti politetraflouretilen.
10. Beberapa bahan tahan abrasi, atau mempunyai koefisien gesek yang kecil
Dengan melihat berbagai sifat yang disebutkan diatas, maka sangat penting untuk dapat
memilih bahan yang paling cocok.

THERMOPLASTIK

67

I.

RESIN UNTUK PENGGUNAAN UMUM


Dipakai sebagai bahan untuk memproduksi barang-barang yang diperlukan seharihari, berbagai barang kecil, kotak alat-alat listrik, film, dan lembaran tipis. Beberapa
contoh adalah :
1.

Polietilen.

Dapat dikelompokkan berdasarkan massa jenis ;

0,910 926, 0,926 0,940, dan

0,941 0,965.
Sifatnya pada temperatur rendah bersifat fleksibel tahan impak dan tahan bahan
kimia, karena itu banyak dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk untuk
pembuatan wadah, alat dapur, berbagai barabg kecil, botol-botol tempat minyak
tanah, film, pipa, isolator kabel listrik, serat, kantong tempat sampah dsbnya.
2. Polipropilen
Sifat-sifatnya serupa dengan polietilen, Masa jenisnya rendah yaitu 0,90-0,92,
termasuk kelompok yang paling ringan di antara bahan polimer. Penggunaannya
hampir sama seperti polietilen, polipropilen banyak dipakai sebagai bahan dalam
produksi peralatan meja makan, keranjang, peralatan kamar mandi, keperluan rumah
tangga , mainan, peralatan listrik, komponen mobil, dsb. Penggunaan yang luas itu
berkat kemanpuan cetaknya yang baik.
3. Polistiren
Sifat khasny tidak berwarna dan merupakan resin transparan dapat diwarnai secara
bening. Masa jenisnya lebih rendah dari polietilen dan polipropilen.

68

Jenisnya : a). polistiren keperluan umum adalah plastik yang paling umum dipakai.
B). Polistiren yang mempunyai kekuatan impak yamg tinggi yaitu dengan cara
penambahan campuaran karet sintetik.
Penggunaan polistiren keperluan umum dan yang mempunyai kekuatan impak tinggi,
dipakai untuk radio, TV, refrigrator, dan peralatan listrik lainnya, demikian juga untuk
barang-barang rumah tangga.
4. Polimetil Metakrilat.
Mempunyai sifat, tembus cahaya yang baik, kekuatannya 10 kali berat dari pada gelas
dan tahan cuaca, dan mempunyai mampu cetak yang baik. Polimetil metakrilat yang
dimodifikasi untuk memperbaiki kekerasan permukaannya, ada yang keras sekeras
gelas, dipergunakan sebagai lensa optik (kacamata).
5. Polivinil Klorida
Sifat dari jenis plaltik ini tahan korosi yang tinggi. Bahan polivinil dibuat untuk
selang, pembungkus, kabel listrik, film, kulit imitasi, lembaran tipis, dan pipa lunak,
botol-botol, cat, dan alat perekat, mainan, sarung tangan tahan air, kulit berbusa, dan
pipa kaku.

6. Polivinil asetat, dan Polivinil alcohol


Resin vinil asetat, digunakan sebagai perekat. Ada dua jenis emulsi dan jenis larutan,
dimana sangat banyak dipakai. Perekat tersebut terutama dipakai untuk kayu lapis,
perekat kayu, kertas karton, pembuatan kantong, pengepakan dan untuk bahan busa.

69

Sedangkan Polivinil alkohol, bahan ini dipergunakan untuk membuat serat tiruan.
Pada saat ini terutama dipakai untuk benang ban mobil, ban mesin dan bahan industri
lainnya.
7. Resin Kopolimer
Resin EVA (Etiln-Vinil-Asetat kopolimer). Ini adalah kopolimer dari etilen (E), dan
vinil asetat (VA). Sifat-sifatnya berubah tergantung pada kadar dan berat molekul dari
VA. Kalau VA kurang dari 7% mendekati sifat polietilen dan kalau lebih dari itu akan
menjadi cairan yang sangat kental. Jenis polimer ini banyak banyak digunakan dalam
pembuatan alat-alat listrik seperti peti es, mesin cuci, radio, TV, dan lain-lain alat
rumah tangga, mainan anak-anak, alat-alat jam, alat-alat optik, perabot rumah tangga,
bahan konstruksi dsb.

II.

PLASTIL INDUSTRI
Jenis polimer ini adalah plastik yang dapat digunakan sebagai bahan dan bagianbagian industri.
1.

Poliamid (Nylon)

Sifatnya menunjukkan sifat khas dari nilon yang dipakai sebagai resin industri.
Bahan-bahan ini sifat khas yang kuat yaitu unggul dalam kekuatan tarik dan ketahan
impak dan juga unggul dalam pelumasan, ketahanan abrasi dan ketahanan kimia,
tetapi akibat sifat serap airnya, maka kestabilan dimensinya dan sifat listriknya jelek.
Penggunaannya kebanyakan bahan digunakan dalam bentuk serat. Bahan ini masa
jenisnya kecil, koefisien gesek tinggi, kekuatan tekuk tinggi. Nilon sebagai serat
industri banyak dipakai untuk pembuatan tambang, benang ban mobil, jarring ikan,

70

ban konveyor dan sebagainya. Untuk konstruksi banyak juga dipakai untuk bantalan,
bantalan luncur, roda gigi tanpa bunyi dan mengabsorb getaran, cam, dsb.
2.

Poliasetal

Bahan ini adalah resin termoplastik yang kristalin dengan struktur polyester yang
terdiri dari rantai molekuler gugus metilen (CH2) dan oksigen yang berulang. Bahan
ini unggul ditinjau dari kekuatan, ketahanan lelah, ketahan melar dan ketahanan
absrasi. Bahan ini juga lebih ringan dari pada logam, unggul dalam ketahan air,
pelumasan sendiri, dan menguntungkan dalam kemampuan pencetakan, sehingga
bahan ini digunakan secara luas untuk roda gigi, bantalan, cam, roda ban, dan
komponen-komponen mesin lainnya.
3.

Polikarbonat Aromatik.

Jenis ini sangat baik ketahanan impak. Dengan sifat-sifat ini, bahan ini dipergunakan
secara luas untuk komponen elektronik dan listrik, misalnya untuk tombol kontak,
penutup, komponen komputer, mesin listrik, kipas listrik dsb. Dalam bidang mekanik
digunakan juga secara luas dan efektif untuk berbagai struktur, kipas, sambungan
pipa, mesin jahit, berbagai alat ukur, topi pelindung, badan kamera. Juga digunakan di
luar untuk alat lampu lalu-lintas, rangka jendela, dsb.
4.

Resin Poliester termoplastik jenuh

Dengan sifat-sifatnya yang halus mengkilat, titik leleh yang yang relatif tinggi, maka
bahan unggul dalam kestabilan dimensi, karena serapan airnya dan koefisien ekspansi
termalnya rendah. Bahan ini mempunyai kekuatan tinggi, kekuatan mekanik yang
unggul, yaitu tekanan impak, ketahanan absrasi, koefisien gesek, ketahanan melar,
ketahanan retak tegangan yang baik.

71

Bahan ini kebanyakan digunakan untuk pembuatan serat, film, botol, dsb.
5.

Polisulfon

Bahan ini sukar dioksidasi karena adanya gugus sulfon. Sehingga bahan ini dapat
digunakan sampai temperatur 150oC, dan bahan ini juga unggul dalam ketahanan
kimia. Walaupun tahan pada temperatur 150oC dalam waktu yang cukup lama, sifatsifat mekanik dan listriknya tidak berubah. Karena sifat-sifat diatas maka bahan ini
banyak digunakan untuk komponen listrik, komponen mekanik, maupun komponen
mobil, dan juga digunakan secara luas untuk keperluas lainnya.

72

Anda mungkin juga menyukai