Anda di halaman 1dari 17

OBAT ANASTETIK UMUM

DEFINISI DAN SEJARAH ANASTESIA


Istilah anastesia dikemkakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak ada rasa
sakit. Anastesia dibagi menjadi dua kelompok yaitu anastesia lokal (hilang rasa sakit tanpa
disertai hilang kesadaran) dan anastesi umum (hilang rasa sakit disertai dengan hilang
kesadaran).
Sejak dahulu sudah dikenal tindakan anatesia yang digunakan untuk mempermudah
tindakan operasi. Misalnya orang Mesir menggunakan narkotik, orang Cina menggunakan
Canabis indica, dan pemukulan kepala dengan kayu untuk menghilangkan kesadaran. Pada
tahun 1776 ditemukan anastetik gas pertama, yaitu N2O; namun kurang efektif. Mulai tahun
1795, eter digunakan untuk anastesia inhalasi kemudian ditemukan zat anastetik lain eperti kita
kenal sekarang.

TEORI ANASTESIA UMUM


Sampai sekarang mekanisme terjadinya anastesia belum jelas, maka timbul berbagai teori
berdasarkan sifat obat anastetik, misalnya penurunan trasmisi sinaps, penurunan konsumsi
oksigen, dan penurunan aktivitas listrik SSP. Beberapa teori yang telah dikemukakan antara lain
sebagai berikut.
Teori Koloid
Teori ini mengatakan bahwa dengan pemberian zat anastetik terjadi penggumpalan sel
koloid yang menimbulkan anastesia yang bersifat reversible diikuti dengan proses pemulihan.
Teori Lipid
Teori ini mengatakan bahwa ada hubungan kelarutan zat anastetik dalam lemak dan
timbulnya anastesia. Makin larut anastetik dalam lemak, makin kuat sifat anastetiknya. Teori ini
hanya cocok untuk beberapa zat anastetik yang larut dalam lemak.

Teori Adsorpsi dan Tegangan Permukaan


Teori ini menghubungkan potensi zat anastetik dengan kemampuan menurunkan
tegangan permukaan. Pengumpulan zat anastetik pada permukaan sel menyebabkan proses
metabolisme dan trasmisi neural terganggu sehingga timbul anastesia.
Teori Biokomia
Teori ini menyatakan bahwa pemberian zat anastetik in vitro menghambat pengambilat
oksigen di otak dengan cara menghambat sistem fosforilasi oksidatif. Akan tetapi hal ini
mungkin hanya menyertai anastesia, bukan penyebab anastesia.

Teori Neurofisiologi
Teori ini menyatakan bahwa pemberian zat anastetik akan menurunkan transmisi sinaps
di ganglion cervicalis superior dan menghambat formasio retikularis asenden untuk berfungsi
mempertahankan kesadaran. Teori ini adalah teori yang sekarang banyak penganutnya.
Teori Fisika
Beberapa penyelidik menyatakan adanya hubungan potensi anastetik dengan aktivitas
termodinamik dan ukuran molekul zat anastetik tersebut. Anastesia terjadi karena molekul yang
inert dari zat anastetik akan menempati ruang dalam sel yang tidak menganduna air, dan
pengisian ini akan menimbulkan gangguan permeabilitas membran terhadap molerkul dan ion
yang penting untuk fungsi sel. Pendapat lain mengatakan bahwa zat anastetik dengan air di
dalam SSP dapat membentuk mikro-kristal (clathrates) sehingga mengganggu fumgsi sel otak.

STADIUM ANASTESIA UMUM


Semua zat anastetik umum menghambat SSP secara bertahap, mula-mula fungsi yang
kompleks akan dihambat dan paling akhir dihambat adalah medula oblongata di mana terletak
pusat vasomotor dan pusat pernapasan yang vital. Guedel (1920) membagi anastesia umum
dengan eter dalam 4 stadia.

Stadium I (Analgesia)
Stadium I dimulai dari saat pemberian zat anastetik sampai hilangnya kesadaran. Pada
stadium ini penderita masih dapat mengikuti perintah, dan rasa sakit hilang (analgesia). Pada
stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan ringan seperti mencabut gigi, biopsi kelenjar
dan sebagainya.
Stadium II (Delirium/Eksitasi)
Stadium II dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan stadium pembedahan.
Pada stadium ini terlihat jelas adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak,
penderita terawa, berteriak, menangis, menyanyi, pernapasan tidak teratur, terkadang apnea
hiperpnea, tonus otot rangka meninggi, inkontinesia urin dan alvi, muntah, midriasis, hipertensi,
takikardi; hal ini terutama terjadi karena adanya hambatan pada pusat hambatan. Pada stadium
ini dapat terjadi kematian, karena itu stadium ini harus cepat dilewati,
Stadium III (Pembedahan)
Stadium III dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan spontan hilang. Tanda
yang harus dikenal ialah:

Pernapasan yang tidak teratur pada stadium II menghilang, pernapasan menjadi spontan dan

teratur oleh karena tidak ada pengaruh psikis sedangkan pengontrolan kehendak hilang.
Reflex kelopak mata dan konyungtiva hilang, bila kelopak mata atas diangkat dengan
perlahan dan dilepaskan tidak akan menutup lagi, kelopak mata tidak berkedip bila bulu mata

disentuh.
Kepala dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri dengan bebas dan bila lengan diangkat lalu

dilepaskan akan jatuh bebas tanpa tahanan.


Gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak merupakan tanda spesifik untuk permulaan

stadium III.
Stadium III dibagi menjadi 4 tingkat berdasarkan tanda-tanda berikut ini.
Tingkat 1: pernapasan teratur, spontan, terjadi gerakan bola mata tidak menurut keendak, miosis,
pernapasan dada dan perut seimbang, belum tercapai relaksasiotot lurik yang sempurna.
Tingkat 2: pernapasan teratur tetapi kurang dalam dibandingkan tingkat 1, bola mata tidak
bergerak, pupil mulai melebar, relaksasi otot sedang, refleks laring hilang sehingga dapat
dikerjakan intubasi.

Tingkat 3: pernapasan perut lebih nyata daripada pernapasan dada karena otot interkostal mulai
mengalami paralisis, relaksasi otot lurik sempurna, pupil lebih lebar tetapi belum maksimal.
Tingkat 4: pernapasan perut sempurna karena kelumpuhan otot interkostal sempurna, tekanan
darah mulai menurun, pupil sangat lebar dan refleks cahaya hilang.
Stadium IV (Paralisis Medula Oblongata)
Stadium IV dimulai dengan melemahnya pernapasan perut bila dibandingkan dengan
stadium III tingkat 4, tekanan darah tak dapat diukur karena kolaps pembuluh darah, berhentinya
denyut jantung dan dapat disusul kematian. Pada stadium ini kelumpuhan pernapasan tidak dapat
diatasi dengan pernapasan buatan.

PEMBAGIAN OBAT ANASTEIK UMUM


Pembagian Obat Anastetik Umum berdasarkan Bentuk Fisik
Obat anastetik umum berdasarkan bentuk fisiknya dibagi menjadi 3golongan, yaitu
sebagai berikut.

Anastetik Gas
Pada umumnya anastetik gas berpotensi rendah, sehingga hanya digunakan untuk induksi

dan operasi ringan. Anastetik gas tidak mudah larut dalam darah sehingga tekanan parsial dalam
darah cepat meninggi.
Nitrogen monoksida (N2O atau gas gelak)
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan
lebih berat daripada udara. Biasanya disimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam
tabung baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50 atm.
Anastetik ini selalu digunakan dalam campuran oksigen. N2O sukar larut dalam darah,
diekskresi dalam bentuk utuh melalui paru-paru dan sebagian kecil oleh kulit. Gas ini tidak
mudah terbakar.
Potensi anastetik N2O kurang kuat tetapi stadium induksi dilewati dengan cepat, karena
kelarutannya yang buruk dalam darah. Dengan perbandingan N2O : O2 (85:15) stadium induksi

akan cepat dilewati. Untuk mempertahankan anastesia biasanya digunakan 70%N2O dan 30% O2.
Relaksasi otot kurang baik sehingga untuk mendapatkan relaksasi yang cukup sering
ditambahkan obat pelumpuh otot.
Nitrogen monoksida mempunyai efek analgesik yang baik, dengan inhalasi 20% N 2O
dalam oksigen. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesik maksimum 35%. Untuk
mendapatkan efek analgesik digunakan N2O : O2 (20 : 80); untuk induksi N2O : O2 (80 : 20) dan
untuk penunjang N2O : O2 (70 : 30); sedangkan untuk partus digunakan bergantian N 2O 100%
dan O2 100%.
Efek sampingnya yang terpenting adalah timbulnya hipoksia dan setelah penggunaan
lama dapat timbul anemia megaloblaster, akibat oksidasi dari atom kobal dalam vitamin B 12.
Sebagai anastetik tunggal N2O digunakan secara intermiten pada persalinan dan pencabutan gigi.
Siklopropan
Siklopropan merupakan anastetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak berwaarna, lebih
berat daripada udara dan disimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi. Gas ini mudah
terbakar dan meledak sehingga hanya digunakan dengan close method. Siklopropan relative tidak
larut dalam darah sehingga menginduksi dengan cepat sekitar 2-3 menit. Stadium III tingkat 1
dapat dicapai dengan kadar 7-10% volume; tingkat 2 dengan kadar 10-20% volume; tingkat 3
dengan kadar 20-35% volume; dan tingkat 4 dengan kadar 35-50% volume.
Siklopropan menyebabkan relaksasi otot yang cukup baik dan sedikit sekali mengiritasi
saluran napas, namun depresi pernapasan ringan dapat terjadi. Siklopropan tidak menghambat
kontraktilitas otot jantung; curah jantung dan tekanan arteri tetap atau sedikit meningkat
sehingga dipilih oleh penderita syok. Aliran darah kulit ditinggikan oleh siklopropan sehingga
mudah terjadi pendarahnan waktu operasi. Siklopropan tidak menimbulkan hambatan terhadap
sambungan saraf otot. Setelah waktu pemulihan sering timbul mual, muntah dan delirium.
Absorpsi dan ekskresinya melalui paru. Hanya 0,5% dimetabolisme dalam badan dan
diekskresi dalam bentuk CO2 dan air. Siklopropan dapat digunakan pada bermacam operasi.
Untuk mendapatkan efek analgesik digunakan 1-2% siklopropan dengan oksigen, untuk

mencapai induksi digunakan 25-50% siklopropan dengan oksigen, sedangkan untuk dosis
penunjang digunakan 10-20% dengan oksigen.

Anastetik Menguap
Anastetik yang menguap mempinyai 3 sifat dasar yang sama yaitu, berbentuk cairan pada

suhu kamar, mempunyai sifat anastetik kuat pada kadar rendah dan relative mudah larut dalam
lemak, darah dan jaringan.
Umumnya anastetik yang menguap dibagi menjadi dua golongan yaitu, golongan eter dan
golongan hidrokarbon.
Eter (Dietileter)
Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau, mebgiritasi saluran
napas, mudah terbakar dan mudah meledak. Eter merupakan anastetik yang sangat kuat(kadar
minimal untuk anastetik = 1,9% volume) sehingga penderita dapat memasuki setiap tahap
anastesia. Sifat analgesiknya kuat sekali, dengan kadar dalam darah arteri 10-15 mg % sudah
terjadi analgesia tetapi penderita masih sadar.
Eter pada kadar tinggi dan sedang menimbulkan relaksasi otot karena efek sentral dan
hambatan neuromuscular yang berbeda dengan hambatan oleh kurare, sebab tidak bias dilawan
oleh neostigmin. Eter menyebabkan iritasi saluran napas dan merangsang sekresi kelenjar
bronkus. Pada induksi dan waktu pemulihan menimbulkan salivasi, tetapi pada stadium yang
lebih dalam salivasi akan dihambat dan terjadi depresi napas.
Eter menekan kontraktilitas otot jantung, tetapi in vivo efek ini dilawan oleh
meningginya aktivitas simpatis sehingga curah jantung tidak berubah atau meninggi sedikit. Eter
tidak menyebabkan sensitisasi jantung terhadap kotelamin. Pada anastesia ringan menyebabkan
dilatasi pembuluh darah kulit dan pada anastesia yang lebih dalam kulit menjadi lembek, pucat,
dingin dan basah. Pada pembuluh darah ginjal menyebabkan vasokonstriksi sehingga terjadi
penurunan laju filtrasi glomerulus dan produksi urin secara reversible. Sedangkan pada
pembuluh darah otak menyebabkan vasodilatasi. Eter menyebabkan mual dan muntah terutama
pada waktu pemulihan.

Eter diabsorpsi dan diekskresi melalui paru, sebagian kecil diekskresi melalui urin, air
susu, keringat dan difusi melalui kulit tubuh. Eter dapat digunakan dengan berbagai metode
anastesia. Jumlah eter yang dibutuhkan tergantung dari berat badan dan kondisi penderita,
kebutuhan dalamnya anastesia, dan teknik yang digunakan. Untuk induksi digunakan 10-20%
volume uap eter dalam oksigen atau campuran oksigen dan N2O. untuk dosis penunjang stadium
III, membutuhkan 5-15% volume uap eter.
Enfluran
Enfluran ialah anastetik eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Enfluran cepat
melewati stadium induksi tanpa atau sedikit menyebabkan eksitasi. Kadar yang tinggi
menyebabkan depresi kardiovaskular dan perangsangan SSP, untuk menghindari hal ini enfluran
diberrikan dengan kadar rendah bersama N2O. Enfluran menyebabkan relaksasi otot lurik lebih
baik daripada halotan, sehingga dosis obat pelumpuh otot non-depolarisasi harus diturunkan.
Enfluran kadar rendah tidak banyak mempengaruhi sistem kardiovaskular, meskipun dapat
menurunkan tekanan darah dan meningkatkan frekuensi nadi. Enfluran menyebabkan sensitisasi
jantung terhadap katekolamin lebih lemah daripada dengan halotan.
Pemberian enfluran 1% bersama N2O dan O2 dengan pengawasan terhadap ventilasi, akan
menurunkan tekanan introkular dan berguna untuk operasi mata. Kadar 0,25%-1,25% bersifat
analgesik dan tidak menyebabkan pendarahan berat pasca persalinan.
Enfluran dapat menyebabkan efek samping setelah pemulihan seperti menggigil karena
hipotermi,gelisah, derilium, mual atau muntah. Enfluran dapat menyebabkan depresi napas
dengan kecepatan ventilasi tetap atau meningkat; tidal volume dan minute volume menurun serta
dapat menyebabkan kelainan ringan fungsi hati.
Sebagian besar enfluran diekskresi dalam bentuk utuh dan hanya sediki(2-5%) yang
dimetabolisasi menjadi F-. enfluran membahayakan penderita penyakit ginjal. Ekskresi Fmeningkat pada urin basa.
Untuk induksi, enfluran 2-4,5% dikombinasi dengan O2 atau campuran N2O-O2,
sedangkan untuk mempertahankan anastesia diperlukan 0,5-3% volume.
Isofluran (Forane)

Isofluran ialah eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Isofluran berbau tajam
sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap penderita karena penderita menahan
napas dan batuk.
Isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk melakukan intubasi. Obat pelumpuh otot
non-depolarisasi dan isofluran salng menguatkan sehingga dosis isofluran perlu dikurangi
sepertiganya. Tendensi timbulnya aritmia amat kecil, sebab isofluran tidak menyebabkan
sensitisasi jantung terhadap katekolamin.
Belum pernah dilaporkan adanya gangguan fungsi ginjal dan hati sesudah penggunaan
isofluran. Pada anastesia yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP. Isofluran
meningkatkan aliran darah otak pada kadar lebih dari 1,1 MAC (Minimal Alveolar
Concentration, kadar alveoli minimal) dan mungkin meningkatkan tekanan intrakranial.
Penggunaan obat ini masih terbatas, sehingga data toksisitas atau reaksi hipersensiivitas belum
lengkap ditemukan. Penurunan kewaspadaan mental terjadi 2-3 jam sesudah anastesia, tetapi
tidak terjadi mual, muntah atau eksitasi sesudah operasi.
Isofluran 3-3,5% dalam O2 atau kombinasi N2O-O2 biasanya digunakan untuk induksi,
sedangkan kadar 0,5-3% cukup memuaskan untuk mempertahankan anastesia.
Halotan (Fluotan)
Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar, dan tidak
mudah meledak meskipun dicampur oksigen. Halotan bereaksi dengan perak, tembaga,
magnesium, baja, aliminium, brom, karet dan plastik. Karet larut dalam halotan, sedangkan
nikel, titanium, dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang
disebut fluotec..
Efek analgesik halotan lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Halotan
secara langsung menghambat otot jantung dan otot polos pembuluh darah serta menurunkan
aktivitas saraf simpatis. Depresi napas terjadi pada semua konsebtrasi halotan. Makin dalam
anastesia, makinjelas turunnya kekuatan kontraksi otot jantung, curah jantung, tekanan darah,
dan resistensi perifer. Bila kadar halotan ditingkatkan dengan cepat, maka tekanan darah akan

tidak terukur dan dapat terjadi henti jantung. Halotan dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh
otot rangka dan darah otak sehingga aliran darah ke otak dan otot bertambah.
Halotan menyebabkan bradikardi, karena aktivitas vagal yang meningkat. Halotan
menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin sehingga terjadi aritmia jantung bila
diberikan katekolamin sewaktu inhalasi halotan. Penggunaan halotan berulangkali dapat
menyebabkan kerusakan hati yang bersifat alergi berupa nekrosis sel hati yang letaknya
sentrolobolar. Gejala yang mungkin timbul adalah anoreksia, mual, muntah dan terkadang
kemerahan pada kulit.
Absorpsi dan ekskresinya melalui paru, hanya 20% dimetabolisasi dalam badan dan
diekskresi melalui urin dalam bentuk asam trifluoroasetat, trifluoroetanol, dan bromida. Untuk
induksi, diberikan dengan kadar 1-4% dalam campuran dengan oksigen atau nitrogen monoksida
dan untuk dosis penunjang 0,5-2%.
Metoksifluran
Metoksifluran merupakan cairan jernih, tidak berwarna, bau manis seperti buah, tidak
mudah meledak, tidak mudah terbakar di udara atau dalam oksigen. Pada kadar anastetik mudah
larut dalam darah.
Metoksifluran termasuk anastetik kuat, kadar minimal 0,16% sudah dapat menyebabkan
anastesia dalam tanpa hipoksia. Induksi terjadi lambat dan sering disertai delirium sehingga
untuk mempercepatnya sering diberikan lebid dulu barbiturat IV. Depresi napas dan relaksasi
otot lebih nyata oleh metoksifluran daripada oleh halotan. Sifat analgesiknya kuat, setelah
penderita sadar juga masih ada.
Metoksifluran tidak menyebabkan iritasi dan stimulasi kelenjar bronkus, tidak
menyebabkan spasme laring dan bronkus sehingga dapat digunakan pada penderita asma.
Metoksifluran menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin, tetapi tidak sekuat pada
kloroform, siklopropan, halotan, dan trikloretilen. Metoksifluran bersifat hepatoksik jadi
sebaiknya tidak diberikan pada penderita kelainan hati.

Untuk mendapatkan efek analgesik, cukup diberikan 0,5% metoksifluran dalam udara,
untuk induksi diperlukan kadar 1,5-3% dengan campuran oksigen atau N 2O sedikitnya 1 : 1 dan
dilanjutkan dengan dosis penunjang 0,5%.
Etilklorida
Etilklorida merupakan cairan tak berwarna yang sangat mudah menguap, mudah terbakar
dan mempunyai titik didih 12 - 13 C. Bila disemprotkan pada kulit akan segera menguap dan
menimbulkan pembekuan sehingga rasa sakit hilang.
Anastesia dengan etilklorida cepat terjadi dan cepat pula hilangnya. Induksi dicapai
dalam 0,5 2 menit dan waktu pemulihan 2 3 menit setelah pemberiannya dihentikan.
Etilklorida sudah tidak dianjurkan lagi untuk anastetik umum, tetapi hanya digunakan untuk
induksi dengan memberikan 20 30 tetes pada masker selama 30 detik. Obat ini juga digunakan
sebagai anastetik lokal dengan menyemprotkan pada kulit sampai beku. Kerugiannya, kulit yang
beku sukar dipotong dan mudah terinfeksi karena penurunan resistensi sel dan melambatnya
penyembuhan.
Trikloretilen
Trikloretilen ialah cairan jernih tidak berwarna, mudah menguap, berbau khas seperti
kloroform, tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak.
Induksi dan waktu pemulihannya lama karena sangat larut dalam darah. Efek
analgesiknya cukup kuat tetapi relaksasi otot rangka yang ditimbulkan kurang baik, maka sering
digunakan pada operasi ringan dalam kombinasi dengan N2O. Untuk mendapatkan efek
analgesik digunakan 0,25 0,75% trikloretilen dalam udara. Sedangkan untuk anastesia umum,
kadarnya tidak boleh lebih dari 1% dalam campuran 2 : 1 dengan N2O dan oksigen.
Trikloretilen menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin dan sensitisasi
pernapasan pada stretch receptor. Sifat lainnya yaitu tidak mengiritasi saluran napas.
Fluroksen
Fluroksen merupakan eter berhalogen, sifatnya seperti eter mudah terbakar, tetapi tidak
mudah meledak. Fluroksen menimbulkan analgesi yang baik, tetapi relaksasi otot sangat kurang.

Untuk mencapai analgesi diperlukan fluroksen 1,5 2%, untuk induksi 6 12%, dan
untuk dosis penujang 3 12%. Bila dikombinasikan dengan N 2O dan oksigen , cukup diberikan
dengan kadar 1 2%.

Anestetik Parenteral (Secara IV)


Pemakaian obat anestetik intravena dilakukan untuk induksi anestesia, induksi dan

pemeliharaan anestesia bedah singkat, suplementasi hipnosis pada anesthesia atau analgesia
lokal, dan sedasi pada beberapa tindakan medik.
BARBITURAT
Seperti anestetik inhalasi, barbiturat menghilangkan kesadaran dengan blokade sistem
stimulasi di formasio retikularis. Pada pemberian dosis kecil terjadi penghambatan sistem
penghambat ekstra lemnikus, tetapi bila dosis ditingkatkan sistem perangsang juga dihambat
sehingga respon korteks menurun. Pada penyuntikan tiopental, mula mula timbul hiperalgsi,
diikuti analgesi bila dosis terus ditingkatkan.
Barbiturat menghambat kontraksi otot jantung tetapi tonus vascular meninggi dan
kebutuhan oksigen badan berkurang, dancurah jantung sedikit menurun. Obat ini tidak
menimulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin.
Barbiturat yang digunakan untuk anestesia ialah yang termasuk barbiturat kerja singkat,
yaitu :
Natrium thiopental
Dosis yang dibutuhkan untuk induksi dan mempertahankan anestesia tergantung dari
berat badan, keadaan fisik dan penyakit yang diderita. Untuk induksi pada orang dewasa
diberikan 2 4 ml larutan 2,5% secara intermiten setiap 30 60 detik sampai tercapai efek yang
diinginkan. Untuk anak digunakan larutan pentotal 2% dengan interval 30 detik dengan dosis 1,5
ml untuk berat badan 15 kg, 3 ml untuk berat badan 30 kg, 4 ml untuk berat badan 40 kg dan 5
ml untuk berat badan 50 kg. Untuk mempertahankan anesthesia pada orang dewasa diberikan
pentotal 0,5 2 ml larutan 2,5%, sedangkan pada anak 2 ml larutan 2%. Untuk anestesia basal
pada anak, biasa digunakan pentotal per rektal sebagai suspensi 40% dengan dosis 30 mg/kgBB.

Natrium tiamilal
Dosis untuk induksi pada orang dewasa ialah 2 4 ml larutan 2,5% diberikan IV secara
intermiten setiap 30 60 detik sampai efek yang diinginkan tercapai. Dosis penujang 0,5 2 ml
larutan 2,5% atau digunakan larutan 0,3% yang diberikan secara terus- menerus (drip).
Natrium metoheksital
Dosis induksi pada orang dewasa ialah 5 12 ml larutan 1% diberikan secara IV dengan
kecepatan 1 ml/5 detik. Dosis penunjang 2 4 ml larutan 1% atau bila diberikan secara terusmenerus digunakan larutan 0,2%.
KETAMIN
Ketamin ialah larutan tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif aman (batas
keamanan lebar). Ketamin memiliki sifat analgesik, anestetik, dan kataleptik dengan kerja
singkat. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan terkadang tonusnya sedikit meninggi.
Ketamin menyebabkan refleks faring dan laring tetap normal atau sedikit meninggi pada
dosis anestesia merangsang, sedamgkan pada dosis berlebih akan menekan pernapasan. Ketamin
juga sering menimbulkan halusinasi terutama pada orang dewasa.
Untuk induksi diberikan secara IV dengan dosis 2 mg/kgBB (1 4,5 mg/kgBB) dalam
waktu 60 detik dan stadium operasi dicapai dalam 5 10 menit. Untuk mempertahankan anestesi
dapat diberikan dosis ulangan setengah dari semula. Ketamin IM untuk induksi diberikan 10
mg/kgBB (6,5 13 mg/kgBB), stadium operasi terjadi dalam 12 25 menit.

DROPERIDOL DAN FENTANIL


Droperidol dan fentanil tersedia dalam kombinasi tetap dan digunakan untuk
menimbulkan analgesia neuroleptik dan anestesia neuroleptik. Pada anestesia neuroleptik kedua
obat ini digunakan bersama dengan N2O. Induksi dengan dosis 1 mg/9 15 kgBB diberikan
perlahan- lahan secara IV (1 ml tiap 1 2 menit), diikuti pemberian N 2O atau O2 bila sudah
timbul kantuk. Sebagai dosis penunjang digunakan N 2O atau fentanil saja (0,05 0,1 mg tiap 30

60 menit) bila anestesia kurang dalam. Pada analgesia neuroleptik tidak digunakan N 2O dan
kesadaran penderita tetap baik. Kesadaran ini sering digunakan pada tindakn bronkoskopi,
sitoskopi, keteterisasi jantung dan penggantian pembalut pada luka bakar.
Droperidol merupakan obat dengan masa kerja lama dan mula kerja lambat (10 15
menit), sedangkan fentanil masa kerjanya pendek tetapi mula kerjanya cepat (2 menit). Maka,
dapat dilakukan pemberian secara terpisah yaitu induksi dimulai dengan dosis tunggal droperidol
(0,15 mg/kgBB) dan 6 8 menit kemudian fentanil (0,002 0,003 mg/kgBB) yang dapat
diulangi tiap 6 8 menit.
DIAZEPAM
Obat ini menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus dan bicara
lambat, tetapi tidak berefek analgesik.

Juga tidak menimbulkan potensiasi terhadap efek

penghambat neuromuskular dan efek analgesik obat narkotik.

Diazepam digunakan untuk

menimbulkan sedasi basal pada anestesia regional, endoskopi dan prosedur dental, juga untuk
anestesia terutama pada penderita dengan penyakit kardiovaskular. Diazepam juda digunaka
untuk medikasi preanestetik (sebagai neurolep analgesia) dan untuk mengatasi konvulsi yang
disebabkan anestesi lokal.
Pemberian diazepam IV untuk mendapatkan sedasi, tidur dan amnesia anterograd tidak
menurunkan tekanan arteri atau curah jantung, hanya dapat terjadi takikardi sedang dan depresi
napas ringan. Pernah terjadi kegagalan sirkulasi dan henti napas pada orang dewasa sehat yang
mendapat suntikan 20 mg diazepam IV secara cepat. Flebitis dan trombosis sering terjadi pada
penyuntikan IV, sedangkan pemberian intra-arteri dapat menimbulkan nerkosis jaringan.
Suntikan diazepam IV sebaiknya tidak dicampur dengan larutan obat lain. Dosis untuk
induksi ialah 0,1 0,5 mg/kgBB. Pada orang sehat dosisnya 0,2 mg/kgBB untuk medikasi
preanestetik yang diberikan bersama narkotik analgesic sudah menyebabkan tidur. Pada
penderita dengan risiko tinggi dibutuhkan 0,1 0,2 mg/kgBB. Untuk sedasi basal, penambahan
2,5 mg diazepam tiap 30 detik diberikan sampai penderita tidur ringan atau terjadi nistagmus,
ptosis atau gangguan bicara. Umumnya diperlukan 5 30 mg untuk sedasi ini.
ETOMIDAT

Etomidat ialah anestetik non barbiturat yang terutama digunakan untuk induksi anestesia.
Obat ini tidak berefek analgesik tetapi dapat digunakan untuk anestesia dengan teknik infus
terus-menerus bersama fentanil atau secara intermiten.
Efek samping obat ini yaitu menyebabkan rasa nyeri di tempat suntik yang dapat diatasi
dengan menyuntikkan cepat pada vena besar atau diberikan bersama medikasi preanestetik
seperti meperidin. Efek lainnya yaitu terjadinya gerakan otot spontan selama induksi tanpa
medikasi preanestetik dan apnea ringan selama 15 20 detik terutama pada orang tua. Dosis
induksi etomidat ialah 0,3 mg/kgBB dan dalam waktu satu menit penderita tidak sadar.
PROPOFOL
Propofol secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik IV lain. Zat ini berupa
minyak pda suhu kamar dan disediakan sebagai emulsi 1%. Efek anestetik umum pada
pemberian IV (2 mg/kg) menginduksi anestesia secara cepat seperti thiopental. Rasa nyeri
terkadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan flebitis atau trombosis.
Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung. Sesudah pemberian
propofol IV terjadi depresi pernapasan sampai apnea selama 30 detik. Obat ini tidak merusak
fungsi hati dan ginjal. Keuntungan propofol karena bekerja lebih cepat daripada tiopental dan
konfusi pasca operasi yang minimal. Terjadi enek, muntah dan sakit kepala mirip tiopental.

Pembagian Obat Anestetik Umum berdasarkan Cara Pemberiannya

Cara Inhalasi
Obat-obat ini diberikan sebagai uap melalui saluran pernapasan. Keuntungannya ialah

resorpsi yang cepat melalui paru-paru, seperti juga ekskresinya melalui gelembung paru (alveoli)
dan biasanya dalam keadaan utuh. Obat ini terutama digunakan untuk memelihara anestesi. Cara
pemberian anestetik inhalasi dibagi menjadi empat, yaitu:

Open drop method


Cara ini dapat digunakan untuk anestetik yang menguap, peralatan sangat sederhana dan
tidak mahal. Zat anestetik diteteskan pada kapas yang diletakkan di depan hidung penderita
sehingga kadar zat anestetik yang dihisap tidak diketahui dan pemakaiannya boros karena
menguap ke udara terbuka.
Semiopen drop method
Cara ini hampir sama dengan open drop, hanya untuk mengurangi terbuangnya zat
anestetik digunakan masker. Karbondioksida yang keluar sering terhisap kembali sehingga dapat
terjadi hipoksia. Untuk menghindarinya dialirkan oksigen melalui pipa yang ditempatkan di
bawah masker.
Semiclosed method
Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni yang dapat ditentukan kadarnya,
lalu dilewatkan pada vaporizer sehingga kadar zat anestetik dapat ditentukan. Setelah dihisap
penderita, udara napas yang dikeluarkan akan dibuang ke udara luar. Keuntungan cara ini yaitu
dalamnya anestesia dapat diatur memberikan kadar tertentu dari zat anestetik, dan hipoksia dapat
dihindari dengan pemberian oksigen.
Closed method
Cara ini hampir sama dengan cara semiclosed, hanya udara ekspirasi dialirkan melalui
NaOH yang dapat mengikat CO2, sehingga udara yang mengandung anestetik dapat digunakan
lagi. Cara ini lebih hemat, aman dan lebih mudah, tetapi harga alat nya cukup mahal.
Obat-obat yang diberikan secara inhalasi antara lain Nitrogen monoksida, halotan,
enfluran, isofluran, dan sevofluran.
Cara intravena
Obat-obat ini juga diberikan dalam sediaan suppositoria secara rectal, tetapi resorpsinya
kurang teratur. Obat-obat ini terutama digunakan untuk mendahului (induksi) anestesi total,atua

memeliharanya, juga sebagai anestesi pada pembedahan singkat. Obat-obat yang diberikan
secara intravena antara lain thiopental, diazepam, dan midazolam, ketamin, dan propofol.

PEMILIHAN SEDIAAN
Pemilihan anestetik umumkan didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu keadaan
penderita, sifat anestetik umum, jenis operasi yang dilakukan dan peralatan serta obat yang
tersedia. Agar anestesia umum berjalan sebaik mungkin, pertimbangan utama adalah memilih
anestetik ideal dengan sifat antara lain mudah didapat, murah, cepat melampaui stadium II, tidak
menimbulkan efek samping terhadap alat vital seperti hipersekresi saluran napas atau
menyebabkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin, tidak mudah terbakar, stabil, cepat
dieliminasi, sifat analgesic cukup baik, kesadaran cepat kembali, tanpa efek yang diingini.
Namun, tidak ada satu obat pun yang memenuhi sifat di atas.
Penggunaan anestetik umum sangat tergantung dari sarana setempat, yaitu ada tidaknya
tenaga anestetik, alat dan obat. Eter dan opiental ialah anestetik umum yang mudah didapat,
sehingga digunakan untuk berbagai operasi terutama di daerah.