Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degeneratif pada kartilago
sendi yang banyak ditemukan. OA genu lebih sering menyebabkan
disabilitas dibandingkan OA pada sendi lain. Penderita OA mengeluh
nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada
sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan
terus menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas penderita (Andre,
2014).
Pada usia lebih dari 65 tahun, baik secara klinik maupun radiologi
didapatkan peningkatan jumlah kasus OA lutut. Menurut The Framingham
Osteoarthritis Study gambaran radiologik OA lutut yang berat (grade III
dan IV menurut kriteria Kellgreen-Lawrence) makin meningkat dengan
bertambahnya umur, yaitu 11,5% pada usia kurang dari 70 tahun, 17,8%
pada umur 70-79 tahun dan 19,4% pada usia lebih dari 80 tahun. Wanita
yang mempunyai gambaran radiologik osteoarthritis berat adalah 10,6%
pada umur kurang dari 70 tahun, 17,6% pada umur 70-79 tahun dan
21,1% pada umur lebih dari 80 tahun; sedangkan pada laki-laki 12,8%
pada umur kurang dari 70 tahun, 18,2% pada umur 70-79 tahun dan
17,9% pada umur lebih dari 80 tahun. Prevalensi radiologik OA akan
meningkat sesuai dengan umur. Pada umur di bawah 45 tahun jarang
didapatkan gambaran radiologik yang berat. Pada usia tua gambaran
radiologik OA genu yang berat mencapai 20% (Andre, 2014).
Ada beberapa faktor predisposisi yang diketahui berhubungan erat
dengan terjadinya osteoarthritis sendi lutut yaitu umur, jenis kelamin,
obesitas, faktor hormonal atau metabolisme, genetik, aktivitas kerja dan
trauma (Andre, 2014).
Sebagian besar manajemen OA genu bertujuan untuk mengurangi
nyeri secara farmakologis. Pemberian latihan juga sudah umum diberikan

pada pasien OA genu, tetapi masih banyak difokuskan hanya pada


impairmen lokal di sekitar sendi yang terkena seperti kelemahan otot,
keterbatasan luas gerak sendi, dan nyeri. Padahal manajemen yang
efektif seharusnya juga memperhatikan keterbatasan fungsional dan
disabilitas sekunder yang timbul karena impairmen lokal pada OA genu
(Andre, 2014).
1.2 Rumusan Masalah
Apa pengertian osteoarthritis genu?
Apa saja penyebab terjadinya osteoarthritis genu?
Bagaimana gejala-gejala osteoarthritis genu?
Bagaimana patofisiologi terjadinya osteoarthritis genu?
Bagaimana criteria diagnose osteoarthritis genu?
Bagaimana terapi osteoarthritis genu?
1.3 Tujuan
Mempersiapkan calon dokter umum untuk dapat melakukan penangan
pada osteoarthritis secara benar, cepat dan tepat.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Osteoartritis Genu
Osteoarthritis genu merupakan penyakit sendi degeneratif pada
kartilago sendi lutut dengan perubahan reaktif pada batas-batas sendi,
seperti pembentukan osteofit, perubahan tulang subkondral, perubahan
sumsum tulang, reaksi fibrous pada sinovium, dan penebalan kapsul sendi
(Andre, 2014).
2.2 Prevalensi
Prevalensi OA bila dikaitkan dengan umur, pada usia dibawah 50
tahun insiden laki-laki lebih banyak dari pada wanita. Pada usia diatas 50
tahun insiden wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Orang kulit berwarna
lebih banyak menderita OA lutut daripada OA panggul, sebaliknya orang
kulit putih lebih banyak menderita OA panggul. Di Indonesia prevalensi OA
lutut yang tampak secara radiologis mencapai 15,5% pada pria dan 12,7%
pada wanita yang berumur antara 40-60 tahun.

2.3 Klasifikasi
Osteoarthritis dapat dibagi atas dua jenis yaitu:
1) Osteoarthritis Primer
OA Primer tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, dapat
mengenai satu atau beberapa sendi. OA jenis ini terutama ditemukan
pada pada wanita kulit putih, usia baya, dan umumnya bersifat poliarticular dengan nyeri akut disertai rasa panas pada bagian distal
interfalang, yang selanjutnya terjadi pembengkakan tulang (nodus
heberden).
2) Osteoartritis Sekunder
OA sekunder dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan
kerusakan pada sinovial sehingga menimbulkan osteoartritis sekunder.
Beberapa keadaan yang dapat menimbulkan osteoartritis sekunder
sebagai berikut:
a) Trauma /instabilitas.
3

OA sekunder terutama terjadi akibat fraktur pada daerah sendi, setelah


menisektomi,

tungkai

bawah

yang

tidak

sama

panjang,

adanya

hipermobilitas, instabilitas sendi, ketidaksejajaran dan ketidakserasian


permukaan sendi.
b) Faktor Genetik/Perkembangan
Adanya kelainan genetik dan kelainan perkembangan tubuh (displasia
epifisial, displasia asetabular, penyakit Legg-Calve-Perthes, dislokasi
sendi panggul bawaan, tergelincirnya epifisis) dapat menyebabkan OA.
c) Penyakit Metabolik/Endokrin
OA sekunder dapat pula disebabkan oleh penyakit metabolik/sendi
(penyakit okronosis, akromegali, mukopolisakarida, deposisi kristal, atau
setelah inflamasi pada sendi. (misalnya, OA atau artropati karena
inflamasi).
Menurut Kellgren dan Lawrence, secara radiologis Osteoartritis di
klafikasikan menjadi:
1) Grade 0 :Normal
2) Grade 1 :Meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat
osteofit minim
3) Grade 2 :Minimal, osteofit sedikit pada tibia dan patella dan
permukaan sendi menyempit asimetris.
4) Grade 3 :Moderate, adanya osteofit moderate pada beberapa tempat,
permukaan sendi menyepit, dan tampak sklerosis subkondral.
5) Grade 4 :Berat, adanya osteofit yang besar, permukaan sendi
menyempit secara komplit, sklerosis subkondral berat, dan kerusakan
permukaan sendi.

2.4 Anatomi Genu


Berikut adalah anatomi lutut (Moore, 2002):
a. Sendi
Sendi lutut terdiri dari hubungan antara : Os Femur dan Os Tibia
(Tibio Femorale Joint), Os Femur dan Os Patella (Patello Femorale Joint)
dan Os Tibia dan Os Fibula (Tibia Fibulare Proximalis Joint). Sendi lutut
(Knee Joint) merupakan sendi yang paling unik dibandingkan sendi-sendi
4

yang lain dalam tubuh manusia, karena tulang-tulang yang membentuk


sendi ini masing-masing tidak ada kesesuaian bentuk seperti pada
persendian yang lain. Sebagai kompensasi ketidaksesuaian bentuk
persendian ini terdapat meniscus, kapsul sendi, bursa dan diskus yang
memungkinkan gerakan sendi ini menjadi luas, sendi ini juga diperkuat
oleh otot-otot besar dan berbagai ligamentum sehingga sendi menjadi
kuat dan stabil

Gambar 2.1 Pembentuk Sendi lutut

b. Otot
Otot disekitar lutut mempunyai fungsi sebagai stabilitas aktif sekaligus
sebagai penggerak dalam aktifitas sendi lutut, otot tersebut antara lain:
M.Quadriceps Femoris (Vastus Medialis, Vastus Intermedius, Vastus
Lateralis, Rectus Femoris). Keempat otot tersebut bergabung sebagai
grup ekstensor sedangkan grup fleksor terdiri dari: M.Gracilis, M.Sartorius
Dan M.Semi Tendinosus. Untuk gerak rotasi pada sendi lutut dipelihara
oleh otot-otot grup fleksor baik grup medial/ endorotasi (M.Semi
Tendinosus, Semi Membranosus, Sartorius, Gracilis, Popliteus) dan grup
lateral eksorotasi (M.Biceps Femoris, M.Tensor Fascialata).

Gambar 2.2 Otot pada Lutut

c. Ligamen
Untuk memperkuat stabilitas pergerakan yang terjadi pada sendi
lutut maka di dalam sendi lutut terdapat beberapa ligamen, yaitu ligamen
Cruciatum Anterior dan Posterior yang berfungsi untuk menahan
hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan (eksorotasi).
Ligamen cruciatum posterior berfungsi untuk menahan bergesernya tibia
ke arah belakang. Pada gerakan endorotasi kedua ligamen cruciatum
menyatu, yang

mengakibatkan

kedua

permukaan

sendi

tertekan,

sehingga saling mendekat dan kemampuan bergerak antara tibia dan


femur berkurang. Pada gerakan eksorotasi, kedua ligamen cruciatum
saling sejajar, sehingga pada posisi ini sendi kurang stabil. Di sebelah
medial dan lateral sendi lutut terdapat ligamen collateral medial dan
lateral. Ligamen collateral medial menahan gerakan valgus serta
eksorotasi, sedangkan ligamen collateral lateral hanya menahan gerakan
ke arah varus. Kedua ligamen ini menahan bergesernya tibia ke depan
dari posisi fleksi lutut 900.
Sedangkan dalam hubungan yang simetris antara condylus femoris
dan condylus tibia dilapisi oleh meniscus dengan struktur fibrocartilago
yang melekat pada kapsul sendi. Meniscus medialis berbentuk seperti
cincin terbuka C dan meniscus lateralis berbentuk cincin O. Meniscus
ini akan membantu mengurangi tekanan femur atas tibia dengan cara
menyebarkan tekanan pada cartilago articularis dan menurunkan distribusi

tekanan antara kedua condylus, mengurangi friksi selama gerakan


berlangsung, membantu kapsul sendi dan ligamentum dalam mencegah
hiperekstensi lutut dan mencegah capsul sendi terdorong melipat masuk
ke dalam sendi.
Sendi lutut juga memiliki capsul sendi artikularis yang melekat pada
cartilago artikularis, di dalam sendi, synovial membran melewati bagian
anterior dari perlekatan ligamen cruciatum sehingga ligamen cruciatum
dikatakan intraartikuler tetapi extracapsuler.

Gambar 2.3 Ligament pada Lutut


2.5 Patogenesis
OA dapat terjadi berdasarkan 2 mekanisme berikut, yaitu (1) Beban
yang berlebihan pada komponen material kartilago sendi dan tulang
subkondral yang normal, sehingga terjadi kerusakan/kegagalan jaringan,
dan (2) kualitas komponen material kartilago yang jelek sehingga dengan
beban yang normal pun tetap terjadi kerusakan.
Perubahan yang terjadi pada OA adalah ketidakrataan tulang
rawan sendi disusul ulserasi dan hilangnya rawan sendi sehingga terjadi
kontak tulang dengan tulang dalam sendi disusul dengan terbentuknya
kista subkondral, osteofit pada tepi tulang, dan reaksi radang pada
membrane sinovial. Pembengkakan sendi, penebalan membran sinovial

dan

kapsul

sendi,

serta

teregangnya

ligament

menyebabkan

ketidakstabilan dan deformitas.


Otot di sekitar sendi menjadi lemah karena efusi sinovial dan
disuse atrophy pada satu sisi dan spasme otot pada sisi lain. Perubahan
biomekanik ini disertai dengan perubahan biokimia dimana terjadi
gangguan metabolisme kondrosit, gangguan biokimia matrik akibat
terbentuknya enzim metalloproteinase yang memecah proteoglikan dan
kolagen.

2.6 Faktor Resiko


Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
osteoartrits lutut, antara lain (Isbagio, 2006 ) :
1. Usia
Usia merupakan faktor risiko paling penting pada osteoartritis.
Prevalensi

osteoartritis

lutut

akan

meningkat

seiring

dengan

bertambahnya usia. Peningkatan osteoartritis lutut ini terjadi pada usia


lebih dari 65 tahun dengan rata-rata usia pada laki-laki 59,7 tahun dan
rata-rata usia pada perempuan 65,3 tahun.
2. Jenis kelamin
Osteoartritis lutut umumnya terjadi dua kali lipat pada wanita
dibanding pria. Wanita dengan umur diatas 50 tahun dapat meningkatkan
risiko terjadinya osteoartritis lutut. Pada wanita kulit hitam lebih tinggi
untuk terjadinya osteroartritis lutut disbanding pada wanita kulit putih,
sedangkan pada pria kulit hitam memiliki risiko yang sama dengan pada
kulit putih untuk terjadinya osteoartritis lutut.
3. Ras/warna kulit
Osteoartritis lutut diduga disebabkan oleh faktor ras. Osteoartritis
lebih banyak ditemukan pada ras kulit berwarna dibandingkan kulit putih.
4. Aktivitas Fisik
Aktivitas dan latihan yang normal tidak menyebabkan osteoartritis,
tetapi bila aktivitas tersebut dilakukan sangat berat, berulang atau
pekerjaan yang menuntut fisik seseorang dapat meningkatkan risiko
8

osteoartritis.Pekerjaan dan olahraga yang berat dapat meningkatkan risiko


osteoartritis lutut. Penelitian HANES I menyebutkan bahwa pekerja yang
sering membebani sendi lutut mempunyai risiko lebih besar dibanding
dengan pekerja yang jarang membebani sendi lutut.
5. Trauma
Trauma dapat mengakibatkan rusaknya rawan sendi, baik yang
bersifat trauma akut maupun trauma berulang yang melebihi kekuatan otot
dan

tendon

periartikular

untuk

menahan

beban

mekanik

dan

menyalurkannya ke rawan sendi, sendi menjadi rusak hingga dapat


menimbulkan osteoarthritis.
6. Faktor Genetik
Faktor genetik berperan utama dalam timbulnya osteoartritis lutut.
Jika orang dengan salah satu anggota keluarga memiliki osteoartritis lutut,
maka orang tersebut mempunyai kesempatan besar untuk terjadinya
osteoartritis lutut.
7. Nutrisi
Penelitian menunjukkan faktor nutrisi mempengaruhi perjalanan
penyakit osteoartritis. Asupan makanan yang mengandung banyak
mikronutrien, seperti vitamin E, vitamin C, dan buah-buahan yang
mengandung karoten dapat mencegah timbulnya osteoartritis. Beberapa
penelitian lain menunjukkan bahwa ada dampak sebagai antioksidan dari
vitamin C dan vitamin E. Vitamin C dibutuhkan pada metabolisme kolagen
dan vitamin E mempunyai dampak pada inflamasi ringan atau sinovitis
yang terjadi pada osteoartritis.Sedangkan, delta dan gamma, yang
ditemukan dalam kedelai, sawit dan minyak lainnya, ditemukan dua kali
lipat

mengalami

osteoartritis

lutut.

Kekurangan

vitamin

juga

berhubungan dengan peningkat an risiko penyempitan ruang sendi dan


progresivitas penyakit osteoarthritis.
8. Penyakit Sendi Lainnya
Osteoartritis kadang kala merupakan akibat kerusakan dari
berbagai penyakit sendi yang jarang terjadi, seperti gout atau asam urat
yang terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya.

9. Obesitas
Jelas sekali bahwa kelebihan berat badan atau obesitas bisa
menjadi faktor resiko terjadinya Osteoarthritis lutut. Berat badan yang
berlebih akan menambah kompresi atau tekanan atau beban pada sendi
lutut. Semakin besar beban yang ditumpu oleh sendi lutut, semakin besar
pula resiko terjadinya kerusakan pada tulang.

2.7 Gambaran Klinis


Beberapa gambaran klinisnya antara lain :
a. Nyeri Sendi
Nyeri sendi merupakan keluhan utama yang sering dirasakan
penderita ketika berkunjung ke dokter, meskipun sebelumnya pernah
mengalami kaku sendi dan deformitas. Nyeri ini akan bertambah berat
saat melakukan gerakan dan akan berkurang bila penderita istirahat.
b. Kaku Sendi
Kaku sendi pada osteoartritis dapat terjadi setelah imobilitas,
seperti duduk dalam waktu cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur
dan berlangsung kurang dari 30 menit.
c. Hambatan Gerak Sendi
Biasanya keterbatasan gerak mula - mula terlihat pada gerak fleksi
kemudian

dalam

keadaan

lanjut

terjadi

keterbatasan

kearah

ekstensi.Keterbatasan ini akibat dari (a) perubahan permukaan sendi, (b)


spasme dan kontraktur otot, (c) kontraktur kapsul kapsul sendi, (d)
hambatan mekaniik oleh osteofit atau jaringan - jaringan yang terlepas
(Nasution, 1994).Keterbatasan gerak ini disebabkan oleh timbulnya
osteofit dan penebalan kapsuler, muscle spasme serta nyeri yang
membuat pasien tidak mau melakukan gerakan secara maksimal sampai
batas

normal,

sehingga

dalam

waktu

tertentu

mengakibatkan

keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut. Keterbatasan gerak


biasannya

bersifat

pola

kapsuler

10

akibat

kontraktur

kapsul

sendi.Keterbatasan pola kapsuler yang terjadi yaitu gerak fleksi lebih


terbatas dari gerak ekstensi.
d. Krepitasi
Gejala ini lebih berarti untuk pemeriksaan klinis OA lutut. Pada
awalnya hanya berupa perasaan akan adanya seuatu yang patah atau
remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Dengan bertambah
beratnya penyakit, krepitasi dapat terdengar sampai jarak tertentu. Gejala
ini mungkin timbul gerakan kedua permukaan tulang sendi pada saat
sendi digerakkan atau secara pasif di manipulasi.
e. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi dapat terjadi karena efusi pada sendi yang
biasanya tak banyak (< 100 cc).Deformitas dapat terlihat pada sendi yang
terkena yang disebabkan terbentuknya osteofit. Tanda-tanda adanya
peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang
merata dan warna kemerahan) mungkin dijumpai pada osteoartritis karena
adanya sinovitis.
f. Perubahan Gaya Berjalan
Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain
merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian penderita usia lanjut.
Keadaan ini hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi
tumpuan berat badan. Terutama dijumpai pada OA lutut, sendi paha dan
OA tulang belakang dengan stenosis spinal. Pada sendi-sendi lain, seperti
tangan bahu, siku dan pergelangan tangan, osteoartitis juga menimbulkan
gangguan fungsi.
g. Tanda inflamasi akut sendi : peningkatan suhu, nyeri tekan, gangguan
gerak dan kemerahan.
2.8 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik lokalis pada sendi lutut kanan didapatkan :
1. Inspeksi

Asimetris

lutut,

Pembesaran

sendi

menghilangnya cekungan di sekitar patella.


2. Palpasi

: Nyeri tekan dan hangat pada sendi lutut

11

dengan

3. Auskultasi : Krepitasi
4. Gerak Sendi : Keterbatasan gerak flexi lutut sebesar 60 derajat dan
tidak dapat melakukan ekstensi lutut
2.9 Diagnosa Banding
Kelainan artritis lutut di luar asteoartritis yang umumnya banyak
dijadikan diagnosa banding dengan osteoartritis adalah:
a. Rheumatoid Arthritis
Pada Rheumatoid Arthtitis, pembengkakan jaringan lunak dan gejala
inflamasi setempat jelas, prediksi sendi yang terkena adalah sendi-sendi
kecil, bersifat poliartikuler, simetris dan disertai gejala sistematik.
b. Gout Arthritis
Adalah sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus yaitu Arthritis
akut. Gejala Arthritis akut disebabkan oleh inflamasi jaringan terhadap
pembentukan

kristal

monosodium urat

monohidrat akibat adanya

gangguan metabolisme purin dalam tubuh. Sering terjadi pada sendi


metatarsophalangeal

dan

pada

sendi

lutut.

Pada

pemeriksaan

laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah serta
diketahui adanya jumlah leukosit dan laju endap darah yang meningkat.
2.9 Pemeriksaan Penunjang
a. Gambaran radiologi sendi
Pada sebagian besar kasus, radiografi pada sendi yang terkena
osteoartritis sudah cukup memberikan gambaran diagnostik. Gambaran
radiografi sendi yang menyokong diagnosa OA ialah :

Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat


pada bagian yang menanggung beban)

Peningkatan densitas ( sklerosis ) tulang subkondral.

Kista tulang

Osteofit pada pinggir sendi

Perubahan struktur anatomi sendi

12

b. Pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan : tanda-tanda peradangan.


Tidak ditemukan abnormalitas pada pemeriksaan imunologi. Hasil
pemeriksaan lab pada OA genu umumnya menunjukkan hasil yang normal
begitu pula hasil pada pemeriksaan imunologinya.

Gambar 2.4 Persendian lutut


Lutut OA
1.

Tulang

rawan

yang

tererosi

jika

terkikis

sepenuhnya,

akan

menyebabkan rasa nyeri karena tulang akan bergesekan satu sama lain
2. Konsentrasi rendah hyaluronat di dalam cairan synovial mengurangi
kemampuan untuk melindungi sendi
3. Osteofit (penonjolan tulang)

2.10 Kriteria Diagnosa


1) Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik :
Nyeri sendi lutut dan paling sedikit 3 dari gejala berikut :

Umur >50 tahun

Kaku sendi < 30 menit

13

Krepitasi pada gerakan aktif

Pembesaran tulang sendi lutut

Nyeri tekan tepi tulang

Tidak teraba hangat pada sinovium sendi lutut

2) Berdasarkan criteria klinis dan radiologis


Nyeri sendi lutut dan adanya osteofit serta 1 gejala berikut :

Umur > 50 tahun

Kaku sendi < 30 menit

Krepitasi pada gerakan sendi aktif

3) Berdasarkan criteria klinis dan laboratoris


Nyeri sendi lutut dan 5 gejala berikut :

Umur > 50 tahun

Kaku sendi < 30 menit

Krepitasi pada gerakan aktif

Pembesaran tulang

Nyeri tulang

Tidak teraba hangat pada sinovium sendi yang terkena

LED < 40 mm/jam

Analisis cairan sinovium menunjukan OA

Rheumatoid factor < 1:40

2.11 Penatalaksanaan
2.11.1 Terapi Non-Farmakologis
a. Edukasi pasien.
b. Program penatalaksanaan mandiri (self-management programs):
modifikasi gaya hidup.
c. Bila berat badan berlebih (BMI > 25), program penurunan berat
badan, minimal penurunan 5% dari berat badan, dengan target BMI
18,5-25
14

d. Program latihan aerobik (low impact aerobic fitness exercises).


e. Terapi fisik meliputi latihan perbaikan lingkup gerak sendi,
penguatan otot- otot (quadrisep/pangkal paha) dan alat bantu gerak
sendi (assistive devices for ambulation): pakai tongkat pada sisi
yang sehat
f. Terapi okupasi meliputi proteksi sendi dan konservasi energi,
menggunakan splint dan alat bantu gerak sendi untuk aktivitas fisik
sehari-hari
Latihan Fleksibilitas (ROM)
Mobilitas sendi sangat penting untuk memaksimalkan ruang gerak
sendi, meningkatkan kinerja otot, mengurangi risiko cedera, dan
memperbaiki nutrisi kartilago. Latihan fleksibilitas, yang dilakukan pada
latihan fisik tahap pertama, dapat meningkatkan panjang dan elastisitas
otot dan jaringan sekitar sendi. Untuk pasien osteoartritis, latihan
fleksibilitas ditujukan untuk mengurangi kekakuan, meningkatkan mobilitas
sendi, dan mencegah kontraktur jaringan lunak. Latihan fleksibilitas sering
dilakukan selama periode pemanasan atau tergabung dalam latihan
ketahanan atau aktivitas aerobik (Lee dkk, 2005). Teknik peregangan
dilakukan untuk memperbaiki ruang gerak sendi. Latihan peregangan ini
dilakukan dengan menggerakkan otot-otot, sendi-sendi, dan jaringan
sekitar sendi. Semua gerakan sebaiknya menjangkau ruang gerak sendi
yang tidak menimbulkan rasa nyeri. Aplikasi terapi panas sebelum
peregangan dapat mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan gerakan.
Latihan fleksibilitas dapat dimulai dari latihan peregangan tiap kelompok
otot, setidaknya tiga kali seminggu. Apabila sudah terbiasa, latihan
ditingkatkan repetisinya per kelompok otot secara bertahap. Latihan harus
melibatkan kelompok otot dan tendon utama pada ekstremitas atas dan
bawah (American Geriatrics, 2001)

15

Gambar 2.5 Stretching Otot Hamstrings dan Quadriceps

Gambar 2.6 Latihan ROM Lutut


Latihan Kekuatan
Latihan kekuatan mempunyai efek yang sama dengan latihan aerobik
dalam memperbaiki disabilitas, nyeri, dan kinerja. Latihan kekuatan ada 3
macam, yaitu:
Latihan isometrik, latihan isotonik, dan isokinetik
Latihan kekuatan otot secara isometrik, isotonik, maupun isokinetik dapat
mengurangi nyeri dan disabilitas serta memperbaiki kecepatan berjalan
pada pasien osteoartritis. Latihan isotonik memberikan perbaikan lebih
besar dalam menghilangkannyeri. Latihan ini dianjurkan untuk latihan
kekuatan awal pada pasien osteoartritis dengan nyeri lutut saat latihan.
Latihan isokinetik menghasilkan peningkatan kecepatan berjalan paling
besar dan pengurangan disabilitas sesudah terapi dan saat evaluasi,
sehingga latihan ini disarankan untuk memperbaiki stabilitas sendi atau
ketahanan berjalan (Lee dkk, 2005)

16

Latihan

isometrik

diindikasikan

apa

bila

sendi

mengalami

peradangan akut atau sendi tidak stabil. Kontraksi isometrik memberikan


tekanan ringan pada sendi dan ditoleransi baik oleh penderita osteoartritis
dengan pembengkakan dan nyeri sendi.Latihan ini dapat memperbaiki
kekuatan otot dan ketahanan statis (static endurance) dengan cara
menyiapkan sendi untuk gerakan yang lebih dinamis dan merupakan titik
awal program penguatan. Peningkatan kekuatan terjadi saat kontraksi
isometric dikenakan pada otot saat panjang otot sama dengan kondisi
istirahat.
Perbaikan kekuatan terutama pada sudut otot yang dilatih. Apabila
instabilitas sendi dan nyeri berkurang, program latihan secara bertahap
diubah ke latihan yang dinamis (isotonik). Latihan kekuatan isometrik
harus memperhatikan tipe latihan, intensitas, volume,dan frekuensi.
Latihan sebaiknya melibatkan kelompok otot utama. Kontraksi isometric
dimulai pada intensitas rendah. Untuk menetapkan intensitas latihan,
diberitahukan pada pasien untuk memaksimalkan kontraksi otot yang
menjadi target penguatan. Intensitas latihan dimulai sekitar 30% usaha
maksimal (maximal effort). Jika bisa ditoleransi olehpasien, intensitas
ditingkatkan secara bertahap sampai 75% kontraksi maksimal. Kontraksi
dipertahankan tidak lebih dari enam detik. Pada awalnya satu kontraksi
untuk tiap kelompok otot, kemudian jumlah pengulangan ditingkatkan
menjadi 8-10, sesuai toleransi pasien. Pasien diinstruksikan untuk
bernafas

selama

masing-masing

kontraksi.

Jarak

antarkontraksi

dianjurkan 20 detik. Latihan dilakukan dua kali sehari pada periode


peradangan akut.
Selanjutnya jumlah latihan secara bertahap ditingkatkan menjadi 510 kali per hari, disesuaikan dengan kondisi pasien. Hal yang harus
diperhatikan adalah adanya risiko peningkatan tekanan darah bila
kontraksi dilakukan lebih dari 10 detik. Kontraksi isotonik digunakan untuk
aktivitas sehari-hari. Latihan kekuatan isotonik memperlihatkan efek positif
pada metabolisme energi, kerja insulin, kepadatan tulang, dan status
fungsional pada orang sehat. Jika tidak terdapat peradangan akut maupun

17

instabilitas sendi, bentuk latihan ini ditoleransi baik oleh pasien


osteoartritis (American Geriatrics, 2001).

Gambar 2.7 Latihan kekuatan otot-otot penyokong sendi lutut


Latihan aerobik
Latihan aerobik (berjalan, bersepeda, berenang, senam aerobik,
dan latihan aerobik di kolam renang) dapat meningkatkan kapasitas
aerobik, memperkuat otot, meningkatkan ketahanan, mengurangi berat
badan, dan mengurangi konsumsi obat pada pasien osteoartritis. Suatu
systemtic

review

memperlihatkan

bahwa

latihan

aerobik

efektif

menghilangkan nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Pemilihan aktivitas


aerobik tergantung pada beberapa faktor, yaitu status penyakit, stabilitas
sendi, sumber daya dan minat pasien. Latihan aerobik di kolam air hangat
dapat mengurangi nyeri otot dan sendi, mengurangi beban sendi,
meningkatkan gerakan yang tidak menimbulkan nyeri, dan memperkuat
otot-otot di sekitar sendi yangsakit.
c. Teknologi intervensi fisioterapi
Pada kasus ini teknologi intervensi fisioterapi yang digunakan
adalah :
a.

Mikro Wave Diathermy (MWD)

18

Micro Wave Diathermy (EEM 2450 Mhz) merupakan suatu pengobatan


dengan menggunakan stressor fisis berupa energi elektromagnetik yang
dihasilkan oleh arus listrik bolak-balik frekuensi 2450 MHz dengan
panjang gelombang 12,25 km.
Efek fisiologis nya yaitu :
1. Perubahan panas (temperatur)
2. Jaringan ikat
3. Jaringan otot
4. Jaringan saraf
Efek terapeutik yaitu :
1. Penyembuhan luka dapat meningkat proses respirasi jaringan
secara fisiologis.
2. Nyeri, hipertropi, gangguan vaskularisasi, dapat menurunkan, nyeri,
normalisasi tonus otot lewat efek sedatif, perbankan sistem
metabolisme.
3. Kontraktur jaringan lemah, dengan peningkatan elastisitas jaringan
lemak maka dapat mengurangi proses kontraktur jaringan.
4. Gangguan konduktifitas dan trashold jaringan saraf, apabila
elastisitas dan trashold jaringan saraf semakin pula, prosesnya
lewat efek fisiologik. Efek-efek yang lain, Efek umum misalnya
merasa lemah badan, pusing mengantuk.
Indikasinya ialah :
2. Kelainan-kelainan patah tulang, sendi dan otot misalnya rhematoid
artritis, post traumatik, low back pain.
3. Kelainan-kelainan pada syaraf perifer seperti neuropati dan
neuralgia.
Kontra indikasi yaitu :
1. Logam dalam tubuh,

19

2. Alat elektronis misalnya: jam tangan, alat audiovisual yang sedang


dipakai,
3. Gangguan peredaran darah,
4. Memakai nilon dan bahan lain yang tidak menyerap keringat,
5. Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan, misalnya:
pada mata atau luka basah, eksim basah yang dapat menimbulkan
kebakaran di jaringan,
6. Gangguan sensabilitas,
7. Infeksi akut dan demam dapat memperluas infeksi bakteri melalui
aliran darah,
8. Setelah menjalani terapi rontgen,
9. Menstruasi dan Kehamilan,
10. Apabila daerah yang diterapi bagian punggung dan perut.
b.

TENS (Transcutaneus Elekstrical Nerve Stimulation)


TENS digunakan pada pasien dengan OA untuk menstimulasi saraf

daerah lutut untuk menghilangkan nyeri dan untuk memberkan efek


relaksasi pada pasien.
c.

Static Bicycle
Pemberian static bicycle adalah untuk menjaga meningkatkan

kekuatan otot- otot disekitar paha, lutut dan betis. Pemberian static bicycle
ini sangat baik untuk penderita OA karena dapat melenturkan sendi dan
menjaga stabilitas sendi. Dosis nya bisa disesuaikan dengan kemampuan
pasien. Setiap pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan
latihan ini dengan teknik dan arahan yang benar.
2.11.2 Terapi Farmakologis

20

Terapi farmakologis bertujuan untuk penurunan rasa nyeri yang


timbul,

mengoreksi

gangguan

yang

timbul,

dan

mengidentifikasi

manifestasi-manifestasi dari ketidakstabilan sendi (Felson, 2009). Terapi


farmakologis Sama seperti terapi non farmakologis, terapi ini juga

bertujuan untuk menurunkan nyeri, meningkatkan fungsi sendi dan


meningkatkan kualitas hidup penderita osteoartritis. Ada beberapa cara
yang dilakukan pada terapi ini yaitu :
a. American College of Rheumatology (2000) merekomendasikan
penggunaan parasetamol pada nyeri osteoartritis ringan hingga sedang,
karena aman penggunaanya dan baik digunakan pada pasien berumur
tua. Selain itu penggunaan acetaminophen, ibuprofen, juga telah terbukti
efektif pada penanganan nyeri osteoartritis (ACR, 2000). Pada nyeri
sedang dan berat diberikan NSAID dan COX-2 (Cyclo-oxygenase 2)
b. Glukosiamin dan Kondroitin sulfat, walaupun masih diperdebatkan
tetapi pada penelitian mampu mengurangi nyeri dan pada pemakaian
jangka panjang mampu melindungi kerusakan rawan sendi secara efektif
c. Injeksi Intraartikuler, yang bertujuan mengganti komponen caira
sinovial, yang mampu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi.
Beberapa injeksi yang dipakai pada penanganan osteoartritis adalah
injeksi Intraartikuler kortikosteroid dan Hyaluronic acid.
d. Pengobatan topikal, sering digunakan untuk mengurangi nyeri ringan
sampai sedang pada osteoartritis. Pengobatan topikal yang sering
digunakan antara lain obat topikal NSAID dan Capsaici.
Pembedahan
Penatalaksanaan osteoartritis juga bisa melalui pembedahan , yaitu
dengan penggantian total sendi lutut dan pembedahan ini dilakukan jika
pasien mengalami nyeri yang tidak tertahankan serta kehilangan fungsi.
2.12 Prognosis
Mengingat bahwa osteoartritis adalah penyakit degeneratif, maka dapat
dimengerti bahwa penyakit ini progresif sesuai dengan usia, namun

21

apabila diketahui secara dini dan belum menimbulkan deformitas (valgus


atau varus) maka penjalanan penyakit dapat dihambat dengan cara
membuat atau berusaha untuk memperbaiki stabilitas sendi.

2.13 Komplikasi
Penderita OA lutut, apabila tidak diberikan pertolongan yang cepat maka
pada sendi tersebut dapat terjadi gangguan antara lain :

Gangguan pada waktu berjalan karena adanya pembengkakan


akibat peradangan,

Terjadi kekakuan pada sendi lutut karena peradangan yang


berlangsung lama sehingga struktur sendi akan mengalami
perlengketan,

Terjadi atrofi otot karena adanya nyeri, maka penderita enggan


melakukan gerak pada sendi lutut, sehingga apabila sendi lutut
lama tidak digerakkan dapat menyebabkan otot-otot pada sendi
lutut atrofi atau disuse atrofi. Otot dapat mengalami atrofi sampai
30 % dalam seminggu, sedangkan otot dalam keadaan istirahat
akan kehilangan fungsi sebanyak 3 % per hari,

Menurunnya fungsi otot akan mengurangi stabilitas sendi terutama


sendi penumpu berat badan, sehingga dapat memperburuk
keadaan penyakit dan menimbulkan deformitas. Penurunan fungsi
otot selanjutnya dapat menurunkan kemampuan aerobik serta
kapasitas fungsional

22

DAFTAR PUSTAKA
American geriatrics society. 2001. Exercise Prescription For Older Adults With
Osteoarthritis Pain: Consensus Practice Recommendation.
Isbagio, Harry. 1995. Pendekatan Diagnostik Penyakit Reumatik. Cermin
Dunia Kedokteran No.78. Jakarta.
Husada, Parsetyo.(1996). Tematologi. Surakarta: Akademi Fisioterapi Depkes
RI. Surakarta.
Kennedy et al., 2010. Pharmacological treatment of osteoarthritis of the hip
and

knee.

Diakses

dari

http://www.bcmj.org/article/pharmacological-

treatment-osteoarthritis-hip-and-knee
Lee, A., Wong, W., & Wong, S. 2005. Clinical guidelines for managing lowerlimb osteoarthritis in Hongkong primary care setting.
McCool. 2001. Pharmacological therapies for the treatment of osteoarthritis.
http://www.mja.com.au/public/rheumatology/mccoll/mccoll.html
Moore, Keith L. Agur,Anne M.R. 2002.

Anatomi

Klinis

Dasar .Laksman,H.

editors. Jakarta: Hipokrates


Smeltzer, S.C., Bare, B.G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth. 8th Ed. Jakarta: EGC.
Soeroso J, Dans LF, Amarillo ML, Santoso GH, Kalim H. :Risk faktors of
symptomatic Osteoartritis of the knee at a hospital in Indonesia; APLAR
23

Pearson, D., Miller, C.G. 2008. Clinical Trial in Rheumatoid Arthritis and
Osteoarthritis. Newtown: Springer.
Yatim, F. 2008. Penyakit Tulang dan Persendian (Arthritis atau Arthralgia).
Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Tanto, Chris. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapsius

24

Anda mungkin juga menyukai