Anda di halaman 1dari 36

MATERI WORKSHOP LQAS

TINGKAT PROVINSI KABUPATEN/KOTA


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mutu kinerja suatu laboratorium TB tidak hanya dilaksanakan dengan mengacu kepada
pemantapan mutu internal yang dilakukan sendiri oleh laboratorium TB yang bersangkutan, tetapi
juga melalui pelaksanaan pemantapan mutu eksternal melalui uji silang pemeriksaan sediaan BTA
oleh laboratorium rujukan mikroskopik dalam jejaring laboratorium di wilayahnya.
Sistem pemantapan mutu laboratorium tuberkulosis akan meningkatkan mutu hasil pemeriksaan
apabila sistem ini berjalan dengan baik sesuai pedoman yaitu, dilakukan secara berkala dan
mencakup seluruh laboratorium pemeriksa mikroskopik TB, pemeriksaan uji silang secara buta
(blinded rechecking), dianalisis dan hasil analisis diumpan balikkan untuk tindakan perbaikan
yang dapat dilaksanakan pada saat supervisi atau pelatihan penyegaran maupun magang di
laboratorium rujukan terkait.
Unit yang terkait dengan PME mikroskopik TB adalah laboratorium TB diagnostik mikroskopik TB
fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), laboratorium Rujukan Uji Silang (RUS) di kabupaten
/kota (Lab RUS Intermediate/Lab RUS I), laboratorium RUS provinsi/II, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi, Subdit Mikrobiologi & Imunologi (Dit. Bina Pelayanan
Penunjang Medik dan Sarkes) dan Subdit Tuberkulosis (Dit. PPML).
B. Tujuan
Tujuan Umum :
Setelah mempelajari materi ini, peserta mampu melaksanakan uji silang dengan metode LQAS
Tujuan Khusus:
Setelah mempelajari materi ini :
1. Pengelola program TB Provinsi mampu menjelaskan :
-

Pemantapan Mutu Laboratorium mikroskopik TB

Penghitungan jumlah sediaan untuk uji silang

cara pemilihan & pengambilan sediaan

Pengisian formulir TB 05, TB 04 dan TB 12

Penyimpanan sediaan

Prosedur uji silang

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Koordinasi dengan Laboratorium RUS II (BLK Provinsi) untuk menindaklanjuti hasil uji
silang.

2. Pengelola program TB Kab/Kota mampu:


-

Melaksanakan Pemantapan Mutu Laboratorium mikroskopik TB

Melaksanakan penghitungan jumlah sediaan untuk uji silang

Melaksanakan cara pemilihan & pengambilan sediaan

Melaksanakan Pengisian formulir TB 12,

Melaksanakan analisis dan mengirim umpan balik hasil analisis uji silang ke laboratorium
RUS, Dinkes Provinsi dan laboratorium fasyankes

Melaksanakan rekapitulasi hasil uji silang ke Dinas Kesehatan Provinsi

Melaksanakan koordinasi dengan pengelola program provinsi untuk menindaklanjuti hasil


uji silang.

Menjelaskan cara mengisi TB 05 dan TB 04

- Menjelaskan cara menyimpan sediaan


3. Laboratorium Rujukan Uji Silang II/provinsi mampu :
-

Melaksanakan pemeriksaan kelengkapan pengisian TB 12

Melaksanakan pemeriksaan kesesuaian jumlah dan identitas sediaan uji silang dengan TB
12

Melaksanakan pemeriksaan ulang dan penetapan hasil baca sediaan yang tidak
berkesesuaian antara laboratorium RUS I dan Laboratorium mikroskopik fasyankes

Melaksanakan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk menindaklanjuti hasil


uji silang.

Melaksanakan pengelolaan Jejaring Laboratorium TB bersama pengelola program/wasor


TB provinsi di wilayah kerja

4. Laboratorium Rujukan Uji Silang I/intermediate mampu:


-

Melaksanakan pemeriksaan kelengkapan pengisian TB 12

Melaksanakan pemeriksaan kesesuaian jumlah dan identitas sediaan uji silang dengan
TB12

Melaksanakan pemeriksaan uji silang sediaan mikroskopik TB dari laboratorium fasyankes

Melaporkan hasil uji silang ke pengelola program TB/wasor kab/kota

Melaksanakan

koordinasi

dengan

pengelola

program

TB/wasor

kab/kota

untuk

menindaklanjuti hasil uji silang.

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Melaksanakan pengelolaan Jejaring Laboratorium TB bersama pengelola program


TB/wasor kab/kota wilayah kerja

5. Petugas Laboratorium mikroskopik TB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan mampu :

I.

Melaksanakan pengisian register laboratorium TB (TB.04)

Melaksanakan penyimpanan sediaan sesuai dengan urutan nomor register TB 04

Melaksanakan tindak lanjut umpan balik atau saran teknis dari supervisor

KEBIJAKAN PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM DALAM MENDUKUNG PROGRAM


TB

A. Situasi laboratorium TB di Indonesia


Kualitas pemeriksaan sediaan dahak menentukan kualitas program nasional penanggulangan TB.
Untuk membuat sediaan dahak yang berkualitas diperlukan spesimen dahak yang berkualitas
pula. Sering ditemukan spesimen yang diperiksa di laboratorium adalah spesimen yang tidak
memenuhi standar, oleh karena itu petugas laboratorium harus dapat memberikan petunjuk
kepada pasien cara berdahak yang baik dan petugas harus mampu memilih spesimen bagian
dahak yang kental/ purulen untuk pembuatan sediaan apus dahak.
Cakupan uji silang maupun pelaksanaan yang berkala masih belum memadai, hal ini sangat
berkaitan erat dengan indikator pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis. Hasil
supervisi dan monitoring evaluasi diketahui kualitas sediaan dahak di Fasyankes masih di bawah
standar (Laporan kegiatan LQAS, 2009; Rekapitulasi laporan supervisi Pokja Lab TB, 2008/
2009). Partisipasi laboratorium pemeriksa pertama mikroskopik dalam uji silang masih rendah
(52%) dan 71,2% dari laboratorium tersebut memiliki angka kesalahan < 5% (Hasil Analisa TB 12
Nasional, 2009/ 2010).

B. Kebijakan Nasional Laboratorium


Upaya penguatan jejaring laboratorium TB dilaksanakan melalui kerjasama lintas program dan
lintas sektor di pusat dan daerah sesuai tugas pokok dan fungsi institusi dengan melibatkan ahli
laboratorium.
Upaya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petugas teknis laboratorium TB di semua
fasyankes pemerintah maupun swasta melalui pendidikan dan pelatihan, kalakarya, supervisi
dengan melibatkan berbagai institusi di dalam dan luar negeri.

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Pemantapan mutu laboratorium TB dilaksanakan secara berjenjang dan difasilitasi oleh peran
pusat dan daerah serta sektor terkait. Pemantapan mutu eksternal laboratorium mikroskopik
dilaksanakan dengan metode Lot Quality Assurance Sampling (LQAS) yang wajib diikuti oleh
seluruh laboratorium fasyankes TB secara berkala yaitu setiap triwulan.

C. Peran dan fungsi Laboratorium dalam P2TB


Dalam program penanggulangan TB, pemeriksaan mikroskopik dahak merupakan penentu utama
untuk menegakkan diagnosis serta evaluasi dan tindak lanjut pengobatan. Pemeriksaan 3
spesimen (SPS) dahak secara mikroskopik nilainya identik dengan pemeriksaan biakan.
Diagnosis TB melalui pemeriksaan biakan dahak merupakan metode baku emas (gold standard)
namun memerlukan waktu yang cukup lama dan relative mahal. Pemeriksaan dahak mikroskopik
merupakan pemeriksaan yang paling efisien, mudah, murah, bersifat spesifik dan dapat
dilaksanakan di semua unit laboratorium namun kinerjanya harus dipantau melalui sistem
pemantapan mutu laboratorium.

D. Jejaring Laboratorium TB
Jejaring laboratorium TB adalah suatu sistem pelayanan laboratorium yang disusun secara
berjenjang dengan mengacu pada fungsi dan kompetensinya dalam pemeriksaan laboratorium
TB. Adanya jejaring laboratorium TB akan memastikan terselenggaranya pemantapan mutu
sehingga pelayanan laboratoium dilaksanakan sesuai standar serta berkualitas. Jejaring
laboratorium TB di Indonesia mencakup seluruh wilayah, mulai dari tingkat kecamatan,
kabupaten/kota sampai dengan tingkat nasional.
Saat ini jejaring pelayanan laboratorium TB telah terbentuk dan berfungsi untuk melaksanakan
pengendalian mutu laboratorium TB namun masih terbatas pada pemeriksaan mikroskopik
dimulai dari laboratorium mikroskopik TB fasyankes, laboratorium rujukan uji silang I ( kab/ kota)
dan laboratorium rujukan uji silang II ( provinsi).
BBLK/BLK dalam pelayanan laboratorium TB, sebagian besar masih berfungsi sebagai
laboratorium rujukan uji silang tingkat I karena belum ada laboratorium intermediate.
Laboratorium rujukan nasional yang merupakan jenjang tertinggi telah ditentukan yaitu:
-

BBLK Surabaya untuk pemeriksaan biakan dan Uji kepekaan M. tuberkulosis terhadap OAT.

BLK Bandung untuk pemeriksaan mikroskopis TB

Lab Departemen Mikrobiologi FK UI untuk penelitian operasional TB, pemeriksaan molekuler,


serologi dan MOTT.

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

E. Pemantapan Mutu laboratorium


Pemantapan mutu laboratorium TB dilaksanakan sebagai upaya untuk menjamin kualitas
pemeriksaan yang secara langsung dapat berdampak pada pencapaian program nasional
pengendalian TB. Tiga komponen utama pemantapan mutu adalah pemantapan mutu internal,
pemantapan mutu eksternal dan upaya peningkatan mutu.
Pemantapan mutu eksternal mikroskopik telah dilakukan melalui kegiatan uji silang, supervisi dan
panel testing. Saat ini uji silang mikroskopik dilakukan oleh BBLK/BLK dan di beberapa provinsi
telah memfungsikan laboratorium Kabupaten/Kota atau setara sebagai laboratorium rujukan uji
silang pertama. Dengan mempertimbangkan keadaan geografis Indonesia, laboratorium rujukan
uji silang seharusnya berada di setiap kabupaten atau beberapa kabupaten membentuk kluster.
Uji silang yang dilaksanakan secara nasional masih menggunakan metoda konvensional yang
menguji ulang 10% sediaan negatif dan seluruh sediaan positif. Metode ini tidak memberikan
kemungkinan seluruh sediaan untuk dipilih. Metode LQAS merupakan sistem sampling yang
direkomendasikan untuk uji silang. Setelah melalui uji coba LQAS di 4 provinsi, metode ini akan
diterapkan bertahap secara nasional.
Indikator keberhasilan uji silang
Indikator dan target keberhasilan kinerja laboratorium mikroskopik TB yang harus dicapai pada
2014 adalah sebagai berikut :
Indikator
Proporsi jumlah laboratorium rujukan uji silang mikroskopik
provinsi berfungsi sesuai pedoman
Proporsi jumlah laboratorium
memiliki petugas terlatih

mikroskopik

fasyankes

Target 2014
100%

yang 80%

Kualitas kinerja laboratorium mikroskopik TB


a. Tingkat kesalahan

Tidak melampaui pedoman

b. Cakupan uji silang

90%

c. Kualitas sediaan untuk uji silang harus baik

90%

d. Rutinitas melakukan uji silang sesuai pedoman


Proporsi BBLK/BLK tersertifikasi untuk pemeriksaan laboratorium
mikroskopik TB

Per triwulan
100%

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Pencatatan dan pelaporan laboratorium TB secara elektronik


terintegrasi dalam program TB
Pemantapan Mutu Pemeriksaan Mikroskopis TB

TB 12 elektronik

Pemantapan Mutu laboratorium adalah suatu sistem yang dirancang untuk meningkatkan dan
menjamin mutu serta efisiensi pemeriksaan laboratorium secara berkesinambungan sehingga
hasilnya dapat dipercaya.
Pemantapan mutu laboratorium mikroskopik tuberkulosis harus dilaksanakan karena perannya
sebagai penentu diagnosis Tuberkulosis.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI)
Pemantapan Mutu Internal adalah suatu proses kegiatan yang terus menerus, sistematik, dan
efektif yang dilakukan oleh laboratorium itu sendiri untuk mendeteksi adanya kesalahan dan
ditindaklanjuti dengan tindakan koreksi.
Pelaksanaannya meliputi seluruh proses pemeriksaan mikroskopik sejak pra analisis, analsis,
pasca analisis.
a. Pra Analisis:
Pelaksanaan kegiatan sesuai prosedur tetap untuk persiapan penderita, pengumpulan dan
penanganan dahak. pemeliharaan mikroskop, pengujian kualitas reagen Ziehl Neelsen.
b. Analisis:
Pelaksanaan kegiatan pembuatan, pewarnaan, pembacaan mikroskopik sediaan dahak
sesuai prosedur tetap.
c. Pasca analisis:
Pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dahak sesuai pedoman
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dengan metode LQAS
PME adalah kegiatan yang dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan untuk
memantau kinerja pemeriksaan mikroskopik dahak.
Kegiatan ini melibatkan 3(tiga) komponen yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi
khusus dan saling terkait yang harus berkoordinasi secara erat
1) Wasor Kabupaten/Kota
a. Menentukan jumlah sediaan uji silang
b. Mengambil/menerima sediaan uji silang
c. Memilih sediaan untuk uji silang
d. Mengisi formulir TB 12 dengan lengkap.

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

- Lembar pertama untuk RUS I/RUS II tanpa menuliskan hasil pembacaan


sebelumnya.
- Lembar kedua untuk analisis dengan menuliskan hasil pembacaan sebelumnya.
e. Mengirimkan sediaan uji silang ke Lab RUS I/II selambat-lambatnya 1 bulan atau
berdasarkan jadual yang disepakati bersama Lab RUS I/II.
f.

Menganalisis hasil uji silang

g. Mengirimkan umpan balik uji silang ke laboratorium mikroskopik TB Fasyankes, RUS I


dan RUS II dilengkapi TB 12
2) Tim laboratorium rujukan uji silang I/II

a. RUS I
a) Memeriksa sediaan uji silang dan melaporkan hasilnya kepada pengelola program
TB/Wasor Kab/Kota selambat-lambatnya 1 bulan setelah sediaan uji silang
diterima.

b) Mencatat hasil pemeriksaan uji silang pada formulir TB 12 (kolom 6,7, 9 sampai
23).

b. RUS II
Memeriksa ulang sediaan yang tidak berkesesuaian / diskordan dan melaporkan
hasilnya kepada Wasor Dinkes Kabupaten/Kota terkait.
3) Petugas laboratorium TB di Fasyankes

a. Menyimpan sediaan sesuai dengan nomor urut buku register laboratorium (TB 04).
b. Atas kesepakatan Dinkes Kab/Kota dan Laboratorium Fasyankes, TB 04 dan sediaan
dapat dibawa

untuk di pilih oleh pengelola program TB/wasor di Dinkes

Kabupaten/Kota.

c. Melakukan tindak lanjut umpan balik uji silang


3. Peningkatan mutu Lab Mikroskopis TB
Peningkatan mutu adalah proses yang terus menerus dilakukan oleh laboratorium sebagai
tindak lanjut PMI dan PME untuk meningkatkan kinerja laboratorium.
Umpan balik hasil PME menjadi acuan untuk tindakan peningkatan mutu laboratorium
fasyankes karena dapat menentukan sasaran supervisi, selanjutnya petugas RUS dapat

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

berkoordinasi dengan wasor kab/kota/provinsi untuk menyusun jadual dan melaksanakan


supervisi teknis, manajerial atau keduanya.
II. JEJARING LABORATORIUM TUBERKULOSIS
A. Pengertian Jejaring Laboratorium TB
Jejaring laboratorium TB adalah suatu jaringan laboratorium yang melaksanakan pelayanan
kepada pasien TB sesuai jenjangnya mulai dari pemeriksaan mikroskopis sampai dengan yang
canggih serta mampu melaksanakan penelitian untuk menunjang P2TB.
Pelayanan laboratorium TB pada umumnya merupakan bagian dari pelayanan laboratorium
atau terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing. Selain terintegrasi dengan
fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium pemeriksaan TB juga dapat berdiri sendiri,
misalnya BBKPM/ BKPM atau RS Paru. Disamping itu terdapat laboratorium mandiri di tingkat
provinsi yaitu BBLK/ BLK.
Jejaring laboratorium yang melakukan pemeriksaan TB di Indonesia mencakup seluruh
wilayah, mulai Puskesmas Satelit sampai ke rujukan nasional.Sesuai fungsinya, jejaring
laboratorium TB terdiri dari fasilitas pelayanan kesehatan/ laboratorium sebagai FASYANKES,
mikroskopis, laboratorium rujukan uji silang, laboratorium rujukan provinsi, laboratorium rujukan
regional dan laboratorium rujukan nasional.
Kepemilikan atau pengelolaan pelayanan laboratoriumlaboratorium ini bervariasi, sebagian
merupakan UPT pemerintah pusat dan sebagian lagi merupakan UPTD pemerintah daerah
(pemda provinsi ataupun kabupaten/kota).
Jejaring laboratorium TB dimulai dari laboratorium dengan kemampuan membuat sediaan
apusan dahak, pemeriksaan mikroskopis, biakan, uji kepekaan sampai dengan pemeriksaan
biomolekuler.
Adanya suatu jejaring laboratorium TB akan memastikan bahwa pelayanan laboratorium
dilaksanakan sesuai standar.
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan berfungsi merumuskan kebijakan, penyusunan
standar, pedoman dan petunjuk teknis pemeriksaan laboratorium TB. Melakukan koordinasi
pembinaan dan pengembangan laboratorium TB.

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Jejaring laboratorium TB sebagai tertera dibawah ini :

LAB. RUJUKAN TB NASIONAL

LAB. RUJUKAN REGIONAL

LAB. RUJUKAN PROVINSI/


LAB. RUJUKAN UJI SILANG II

LAB. RUJUKAN UJI SILANG I

FASYANKES/ PUSAT
MIKROSKOPIS TB

Puskesmas (PRM, PPM)


Rumah Sakit
Laboratorium Swasta

FASYANKES SATELIT/
PUSAT FIKSASI

: Pembinaan & pengawasan mutu


: Mekanisme rujukan

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Peran dan Fungsi laboratorium dalam jejaring sebagai berikut :


a. Laboratorium Rujukan Nasional.
Laboratorium Rujukan Nasional berada di bawah Kementerian Kesehatan cq Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Laboratorium rujukan nasional berfungsi:

Memberikan pelayanan rujukan tersier (spesimen dan pelatihan teknis laboratorium)


untuk pemeriksaan biakan, uji kepekaan M. tuberculosis, NTM/ MOTT dan pemeriksaan
non mikroskospik TB.

Membantu pelaksanaan pemantapan mutu laboratorium TB.

Melakukan penelitian-penelitian operasional laboratorium untuk mendukung program


penanggulangan TB.

Mengikuti pemantapan mutu eksternal di tingkat internasional

b. Laboratorium Rujukan Regional.


Laboratorium Rujukan Regional berada di bawah Kementerian Kesehatan cq Direktorat
Jenderal

Bina Upaya Kesehatan. Laboratorium rujukan tingkat regional adalah

laboratorium yang menjadi rujukan dari beberapa provinsi, dengan kemampuan melakukan
pemeriksaan biakan, identifikasi dan uji kepekaan M.tuberculosis & MOTT dari dahak dan
bahan lain. Laboratorium rujukan regional secara rutin menyelenggarakan PME kepada
laboratorium rujukan provinsi.
c. Laboratorium Rujukan Provinsi
Laboratorium Rujukan Provinsi ditentukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi atas rekomendasi
Kementerian Kesehatan cq Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Laboratorium Rujukan Provinsi berfungsi:

Melakukan pemeriksaan biakan M. tuberculosis dan uji kepekaan OAT.

Melakukan pemeriksaan biakan dan identifikasi parsial NTM.

Melakukan pembinaan laboratorium yang melakukan pemeriksaan biakan TB di


wilayahnya.

10

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Melakukan uji silang ke-2 jika terdapat kesenjangan antara hasil pemeriksaan
mikroskopis Laboratorium Fasyankes dan laboratorium rujukan uji silang pertama.

Melakukan pemantapan mutu pemeriksaan laboratorium TB di wilayah kerjanya (uji


mutu reagensia dan kinerja pemeriksaan).

d. Laboratorium Rujukan Uji Silang Mikroskopis Pertama (RUS-1)/ Laboratorium


Intermediate
Laboratorium RUS-1 ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas
rekomendasi Laboratorium Rujukan Provinsi.
Laboratorium RUS-1 berada di tingkat Kabupaten/Kota dengan wilayah kerja yang ditetapkan
oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota terkait atau lintas kabupaten/kota atas kesepakatan
antara Kepala Dinas Kabupaten /Kota.
Laboratorium RUS-1 berfungsi:
Melaksanakan pelayanan pemeriksaan mikroskopis BTA.
Melaksanakan uji silang sediaan BTA dari Laboratorium Fasyankes di wilayah kerjanya.
Melakukan pembinaan teknis laboratorium di wilayah kerjanya.
Melakukan koordinasi dengan Wasor Kabupaten/Kota untuk pengelolaan jejaring
laboratorium TB di wilayahnya.

e. Laboratorium mikroskopis TB Fasyankes


Laboratorium mikroskopis TB Fasyankes terdiri dari:

Puskesmas Rujukan Mikroskopis TB (PRM), adalah laboratorium

yang mampu

membuat sediaan, pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopis dahak, menerima rujukan


dan melakukan pembinaan teknis kepada Puskesmas Satelit (PS).
PRM harus mengikuti pemantapan mutu eksternal melalui uji silang berkala dengan
laboratorium RUS-1 di wilayahnya atau lintas kabupaten/ kota.

Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM), adalah laboratorium yang memiliki laboratorium


mikroskopis TB yang berfungsi melakukan pelayanan mikroskopis TB.

11

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

PPM harus mengikuti pemantapan mutu eksternal melalui uji silang berkala dengan
laboratorium RUS-1 di wilayahnya atau lintas kabupaten/kota.

Puskesmas Satelit (PS),adalah laboratorium yang melayani pengumpulan dahak,


pembuatan sediaan, fiksasi yang kemudian di rujuk ke PRM.

Dalam jejaring laboratorium TB semua fasiltas laboratorium kesehatan termasuk


laboratorium Rumah Sakit dan laboratorium swasta yang melakukan pemeriksaan
laboratorium mikroskopis TB dapat mengambil peran sebagaimana laboratorium PRM,
PPM dan PS.

B. Pengelolaan Jejaring Laboratorium TB


Agar fungsi jejaring laboratorium TB dapat berjalan baik maka perlu dilakukan pengelolaan
yang sesuai dengan peran pada masing-masing jenjang.
Jejaring laboratorium TB dikelola oleh pimpinan laboratorium TB yang bertanggung jawab
untuk pembinaan seluruh laboratorium di wilayah kerjanya.
a. Jejaring Pemeriksaan Mikroskopis TB
Rujukan tertinggi untuk pemeriksaan mikroskopis adalah laboratorium TB provinsi.
Tugas laboratorium mikroskopis TB provinsi adalah:
1) Mendata semua laboratorium TB yg ada di wilayahnya.
2) Melakukan analisis data laboratorium TB untuk menilai kinerja laboratorium TB

di

wilayahnya
3) Melakukan stratifikasi laboratorium-laboratorium TB dan menetapkannya pada setiap
jenjang yang sesuai.
4) Merekomendasikan penunjukan RUS I oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
5) Menetapkan tata hubungan kerja diantara laboratorium dalam jejaring.
6) Melakukan pemantauan dan evaluasi dari aktifitas jejaring terutama pelaksanaan
pemantapan mutu eksternal.
7) Melaksanakan pelatihan teknis laboratorium TB di wilayahnya.
8) Menjamin mutu reagensia pemeriksaan mikroskopis TB yang beredar di wilayahnya.

12

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Tugas laboratorium RUS Pertama adalah:


1) Mendata semua laboratorium TB yg ada diwilayahnya.
2) Melakukan analisis data laboratorium TB untuk menilai kinerja laboratorium TB

di

wilayahnya
3) Melakukan stratifikasi laboratorium-laboratorium TB dan menetapkannya pada setiap
jenjang yangsesuai.
4) Bila diperlukan adanya laboratorium RUS 1 di tingkat kab/ kota (laboratorium
intermediate) maka laboratorium TB tingkat provinsi melakukan assessment calon
RUS-1

dan

hasilnya

direkomendasikan

kepada

Kepala

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota. Dalam hal ini laboratorium TB tingkat provinsi berubah fungsi menjadi
laboratorium RUS 2
5) Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan tata hubungan kerja diantara
laboratorium dalam jejaring.
6) Melakukan pemantauan dan evaluasi dari aktifitas jejaring terutama pelaksanaan
pemantapan mutu eksternal.
7) Melakukan koordinasi dengan Program P2TB Dinkes Kabupaten/Kota untuk informasi
indikator pencapaian program.

b. Jejaring Pemeriksaan Non Mikroskopis


Rujukan tertinggi untuk pemeriksaan non mikroskopis adalah Laboratorium Nasional
dibantu oleh laboratorium regional yang tugasnya sebagai berikut:
1) Mendata semua laboratorium TB yang ada di wilayahnya.
2) Melakukan analisis data laboratorium TB untuk menilai kinerja laboratorium TB

di

wilayahnya
3) Menetapkan tata hubungan kerja diantara laboratorium dalam jejaring.
4) Melakukan pemantauan dan evaluasi dari aktifitas jejaring terutama pelaksanaan
pemantapan mutu eksternal.
5) Melakukan pembinaan teknis
6) Memvalidasi metode diagnostik baru yang berpotensi digunakan dalam program P2TB.

13

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Prinsip pengelolaan Jejaring laboratorium TB


Agar jejaring laboratorium TB dapat dilaksanakan dengan maksimal maka perlu adanya suatu
sistem pengelolaan jejaring. Dalam kegiatan pengelolaan jejaring laboratorium TB prinsipprinsip manajemen yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a. Perencanaan :
1) Mendata semua laboratorium TB yang ada di wilayahnya.
2) Melakukan analisis data yang didapat untuk menetapkan strata laboratorium TB &
pemetaan diwilayahnya
3) Menempatkan laboratorium-laboratorium TB disetiap jenjang sesuai dengan strata yang
bersangkutan dalam struktur jejaring laboratorium TB.
4) Menetapkan tata hubungan kerja diantara laboratorium dalam jejaring.

b. Pelaksanaan jejaring laboratoriumTB:


1) Memastikan pemantapan mutu dilaksanakan di setiap laboratorium.
2) Memastikan crosscheck dilaksanakan sesuai SOP/Protap.
3) Melaksanakan pembinaan teknis sesuai SOP/ Protap.
4) Melaksanakan tes panel bila diperlukan.
5) Melaksanakan pelatihan dan kursus penyegaran bagi petugas laboratorium TB yang
kinerjanya dibawah standar.
6) Menyediakan dan melaksanakan komunikasi cepat antar laboratorium TB dalam
jejaring dan institusi/ organisasi terkait.

c. Pengendalian jejaring laboratorium TB:


1) Memastikan kegiatan laboratorium TB dalam jejaring dilakukan secara lengkap, akurat,
dicatat dan dilaporkan tepat waktu.
2) Memberikan umpan balik kegiatan laboratorium TB dalam jejaring dengan lengkap,
akurat dan tepat waktu.
3) Mengidentifikasi kinerja laboratorium TB dalam jejaring bersama penanggung jawab
P2TB di wilayah kerjanya secara berkala.

14

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

4) Menyelenggarakan pertemuan tribulanan laboratorium TB dan menghadiri pertemuan


monitoring dan evaluasi P2TB tingkat provinsi.

d. Pembinaan
1) Pembinaan dilaksanakan berdasar hasil uji silang/ tes panel.
2) Pembinaan dilaksanakan secara berjenjang sekali dalam 3 bulan kepada setiap
laboratorium TB dalam jejaring sesuai wilayah tanggung jawabnya.
3) Memastikan adanya insentif melalui APBD/ APBN/ BLN.
4) Memberikan penghargaan kepada laboratorium TB yang menunjukkan kinerja terbaik
berdasar:
Angka kesalahan
6 kriteria penilaian sediaan: kualitas sediaan, ketebalan, ukuran, bentuk, kerataan
dan kualitas pewarnaan.
Kelengkapan dan akurasi data.

e. Evaluasi:
1) Menilai pelaksanaan kegiatan jejaring laboratorium TB.
2) Membandingkan hasil pelaksanaan dengan perencanaan paling sedikit sekali dalam 6
bulan
3) Menganalisis hubungan sebab akibat bila terjadi kesenjangan antara perencanaan dan
pelaksanaan, untuk menetapkan tindak lanjut perbaikan paling sedikit sekali dalam 6
bulan.
IV. PEMANTAPAN MUTU LABORATORIUM TB

Pemantapan Mutu laboratorium adalah suatu sistem yang dirancang untuk meningkatkan
dan menjamin mutu serta efisiensi pemeriksaan laboratorium secara berkesinambungan
sehingga hasilnya dapat dipercaya.
Tujuan/ manfaat pemantapan mutu laboratorium mikroskopis TB adalah :

Menjamin bahwa hasil pemeriksaan laboratorium mikroskopis yang dilaporkan


memang akurat.
15

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Mengidentifikasi berbagai tindakan yang berpotensi menimbulkan kesalahan.

Menjamin bahwa tindakan-tindakan perbaikan yang tepat telah dilakukan.

Setiap komponen di dalam pemantapan mutu tidak berdiri sendiri tetapi merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dan saling bergantung satu sama lain. Laboratorium yang
akan melakukan pemantapan mutu eksternal tanpa melakukan pemantapan mutu internal
dengan baik yaitu mendeteksi terjadinya kesalahan secara dini, maka usaha tersebut
akan sia-sia. Demikian pula bila kedua komponen tersebut dilakukan tanpa disertai
pelaksanaan komponen peningkatan mutu sebagai upaya mencarikan penyelesaian
masalah.
Pemantapan mutu laboratorium TB meliputi semua kegiatan yang dilaksanakan
laboratorium yang bersangkutan dalam pemeriksaan kuman TB sehingga meliputi
pemantapan mutu untuk pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung serta
pemeriksaan biakan, identifikasi kuman dan uji kepekaan.

A. Pemantapan Mutu Laboratorium Mikroskopis TB


Pemantapan mutu laboratorium mikroskopis Tuberkulosis sangat diperlukan agar
diagnosis penyakit tuberkulosis melalui pemeriksaan mikroskopis langsung Basil Tahan
Asam (BTA) dapat dipertanggungjawabkan mutunya.
Komponen Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis
Pemantapan mutu laboratorium Tuberkulosis terdiri atas 3 komponen utama, yaitu :
1.

Pemantapan Mutu Internal (PMI) atau Internal Quality Control


Pemantapan mutu internal adalah suatu proses pemantauan yang terencana,
sistematik, dan efektif yang dilakukan oleh laboratorium itu sendiri untuk mendeteksi
adanya kesalahan dan menganalisis kesalahan yang terjadi.
Pemantapan mutu internal pada pemeriksaan mikroskopis dahak untuk tuberkulosis
dapat dilaksanakan mulai dari persiapan penderita, pengambilan dan penanganan
dahak, pembuatan dan pewarnaan sediaan, pemeliharaan mikroskop, pengujian
16

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

kualitas reagen Ziehl Neelsen, penyusunan protap sampai dengan pencatatan dan
pelaporan hasil pemeriksaan dahak.
2.

Pemantapan Mutu External (PME) atau External Quality Assessment


(EQA)
Pemantapan Mutu External (PME) atau External Quality Assessment (EQA) adalah
suatu proses yang terencana dan berkesinambungan yang dilakukan oleh
laboratorium pembanding untuk menilai mutu hasil pemeriksaan mikroskopis dahak
BTA.
Tiga metode yang dipakai untuk melaksanakan pemantapan mutu eksternal :

Uji silang (uji silang) yaitu pengiriman sediaan dari tingkat yang lebih rendah ke
tingkat yang lebih tinggi untuk dibaca ulang .

Supervisi / on site evaluation / pembinaan

yaitu pemantauan

mutu dan

bimbingan teknis kegiatan laboratorium TB pada waktu kunjungan lapangan.

Tes panel

(panel testing/ proficiency testing) yaitu pengiriman sediaan dari

tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah untuk dibaca ulang
3.

Peningkatan mutu (Quality Improvement)


Peningkatan mutu atau quality improvement merupakan proses yang terus menerus
dilakukan oleh laboratorium dengan cara menganalisis setiap aspek dalam
pemeriksaan laboratorium, mulai dari persiapan penderita sampai dengan pencatatan
dan pelaporan hasil.
Komponen kunci dalam proses ini meliputi pengumpulan data, analisis data dan
penyelesaian masalah secara kreatif dengan cara pemantauan yang terus menerus,
identifikasi masalah yang terjadi yang ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan untuk
mencegah dan menghindari terulangnya kembali masalah yang sama.

B. Uji Silang Menggunakan Metode LQAS


1. Prinsip uji silang :

17

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Pemeriksaan ulang sediaan mikroskopik oleh laboratorium rujukan tanpa mengetahui


hasil pemeriksaan mikroskopik oleh laboratorium sebelumnya. Hasil pembacaan kedua
laboratorium

ini

kemudian

dibandingkan,

dengan

asumsi

pembacaan

oleh

laboratorium RUS sebagai hasil rujukan .


Unsur penilaian meliputi:
Hasil pembacaan
Penilaian hasil pembacaan dilakukan dengan membandingkan hasil pembacaan
laboratorium fasyankes dan hasil pembacaan laboratorium RUS menggunakan tabel
korelasi.
Tabel Korelasi uji silang
Hasil Lab
fasyankes

1-9BTA
Neg

1+

2+

3+

Jumlah

/100LP

Hasil
Lab RUS

Neg

Benar

1-9BTA/100LP

NPR

1+
2+
3+

NPT
NPT
NPT

PPR
Benar

PPT

PPT

Benar

KH

PPT
KH

Benar

Benar

Benar

KH

KH

Benar

Benar

Benar

KH

KH

Benar

Benar

Jumlah

- Benar
- PPR
- KH
- NPT
- NPR
- PPT
Keterangan

: Tidak ada kesalahan


: Positif Palsu Rendah/kesalahan kecil
: Kesalahan hitung/kesalahan kecil
: Negatif Palsu Tinggi/kesalahan besar
: Negatif Palsu Rendah/Kesalahan kecil
: Positif Palsu Tinggi/kesalahan besar

18

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Hasil yang dituliskan pada koordinat diagonal bergaris tepi tebal menyatakan kesesuaian
pembacaan antara petugas mikroskopik fasyankes dan petugas lab RUS.
Hasil yang berada diluar batas tebal menunjukan ketidaksesuaian antara pembacaan
keduanya. Hasil yang tidak berkesesuaian/discordan diklasifikasikan sebagai Negatif Palsu
(NP), Positif Palsu (PP), atau Kesalahan Hitung (KH).
NP dan PP terdiri dari kesalahan tinggi (PPT, NPT) dan kesalahan rendah (PPR,NPR)
Negatif Palsu:
Pembacaan sediaan yang negatif oleh petugas laboratorium fasyankes dianggap salah,
karena dibaca positif oleh petugas laboratorium RUS.
Persentase Negatif palsu :
Jumlah negatif palsu
--------------------------------------------------- x 100%
Seluruh sediaan negatif yang diperiksa petugas RUS

Positif Palsu:
Pembacaan positif oleh petugas mikroskopik laboratorium fasyankes dianggap salah,
karena dibaca negatif oleh petugas laboratorium RUS.
Persentasi sediaan Positif palsu:
Jumlah positif palsu
--------------------------------------------------- x 100%
Seluruh sediaan positif yang diperiksa petugas RUS

2. Pelaksanaan Uji silang Metode LQAS


Langkah 1.
Sebelum uji silang metode LQAS dilaksanakan, harus tersedia data yang akan digunakan
untuk penghitungan jumlah sediaan uji silang
-

Data nama Fasyankes mikroskopik TB di kabupaten/kota

Jumlah seluruh sediaan, sediaan positif, sediaan negatif di laboratorium mikroskopik TB


yang diperiksa pada tahun yang lalu.

Contoh :
Lab FASYANKES

Sediaan
1 tahun yang lalu

sediaan positif
1 tahun yang lalu

sediaan negatif
1 tahun yang lalu

19

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J

1500
2550
1990
2085
900
1158
1250
885
2569
500

200
351
156
151
85
100
125
101
335
55

1300
2199
1834
1934
815
1058
1125
784
2234
445

Langkah 2.
Penghitungan Slide Positivity Rate (SPR)
SPR : proporsi sediaan positif diantara seluruh sediaan di laboratorium mikroskopik Fasyankes .

SPR = Jumlah sediaan positif di lab mikroskopik Fasyankes 1 tahun yang lalu

x 100 %

Jumlah seluruh sediaan dalam 1 tahun yang lalu di lab mikroskopik Fasyankes

Lab
FASYANKES
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J

Sediaan
1 tahun yang lalu
1500
2550
1990
2085
900
1158
1250
885
2569
500

sediaan positif
1 tahun yang lalu
200
351
156
151
85
100
125
101
335
55

SPR
13,3 %
14,0 %
7,8 %
7,0 %
9,4 %
9,0 %
10,0 %
11,4 %
13,0 %
11,0 %

Langkah 3.
Penentuan sensitifitas, spesifisitas dan jumlah kesalahan yang dapat diterima (acceptance
number/d)
Program P2TB menetapkan sensitifitas 80%, spesifisitas 100% dan jumlah kesalahan yang dapat
diterima = 0
Sensitivitas :
1.

Kemampuan yang diharapkan untuk mendeteksi sediaan positif dan scanty oleh
laboratorium mikroskopik fasyankes dibandingkan dengan hasil baca laboratorium uji silang.

2.

Sensitivitas telah ditentukan oleh Program P2TB sebesar 80%. Makin besar sensitivitas
yang ditentukan makin besar jumlah sediaan yang diuji silang.

20

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Tingkat kesalahan yang dapat diterima (acceptance number)/d


1.

d adalah jumlah kesalahan yang dapat diterima sebelum adanya tindakan


perbaikan.

2.

Program menentukan d=0 artinya tidak ada toleransi untuk terjadinya kesalahan baca.

Langkah 4.
Pembacaan tabel pengambilan sediaan untuk metode LQAS
Hitung jumlah sediaan yang akan diambil dengan menggunakan tabel sebagai berikut :
Contoh Lab Fasyankes E :
Untuk menentukan jumlah sediaan yang akan diuji silang per tahun didapat dengan melihat
perpotongan antara SPR dan jumlah sediaan negatif
SPR = 85/900 X100% = 9,44 % dibulatkan ke bawah menjadi 7,5 %
Jumlah sediaan negatif = 815

dibulatkan ke atas menjadi 1000

Jumlah sediaan uji silang per tahun : 128

21

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Tabel Pengambilan sample untuk metode Lot Sampling (Sensitifitas 80%, spesifisitas 100% dan d = 0)
Jumlah
sediaan
negatif yang
diperiksa
dalam 1
tahun

Slide Positivity Rate


2.5% 5.0% 7.5% 10.0% 13.0% 15.0% 18.0% 20.0% 23.0% 25.0% 28.0% 30.0% 33.0%

35.0%

Jumlah sampel yang dibutuhkan

100

84

72

63

54

48

45

39

36

34

32

29

27

25

23

200

143

107

86

72

61

54

46

43

38

36

32

30

27

26

300

185

129

101

80

67

59

50

45

40

37

33

31

28

26

400

217

143

108

86

70

61

51

46

40

37

33

31

28

26

500

243

154

114

89

71

62

52

48

42

39

35

31

28

26

700

281

167

121

92

75

65

54

49

42

39

35

31

28

26

1000

318

180

128

96

76

66

55

49

43

40

35

33

28

28

2000

376

197

135

100

79

68

56

50

43

40

35

33

30

28

5000

423

208

141

103

80

69

57

50

44

40

36

33

30

28

10000

441

213

142

104

80

69

57

51

44

40

36

33

30

28

20000

450

215

143

104

82

69

57

51

44

40

36

33

30

28

50000

456

216

144

104

82

69

57

51

44

40

36

33

30

28

22

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Langkah 5 .
Menghitung Jumlah sediaan uji silang
1. Jumlah sediaan negatif 1 tahun yang lalu : 1000
2. SPR : 7,5 %
3. Jumlah sediaan uji silang per tahun : 128
Langkah 6.
Menghitung Jumlah sediaan per triwulan
Jumlah sediaan uji silang per triwulan = jumlah sediaan uji silang per tahun di bagi 4
128
4

= 32 sediaan per triwulan

Bila pada triwulan tersebut jumlah sediaan kurang dari 32, maka seluruh sediaan diuji
silang.
Langkah 7
Penghitungan interval pengambilan sediaan
Tentukan interval pengambilan sediaan dengan cara membagi jumlah sediaan yang
tercatat di TB 04 pada triwulan terkait, dengan jumlah sediaan yang akan diambil
untuk diuji silang.
Misalnya pada triwulan tersebut jumlah sediaan yang tercatat di TB 04 : 325, jumlah
sediaan yang diuji silang 32, maka interval pengambilan :
325
32

= 10,15

interval 11.

Pembulatan ke atas, memungkinkan semua sediaan memiliki peluang yang sama


untuk diuji silang.
Langkah 8
Penentuan pengambilan sediaan pertama (lot)
Setelah diketahui jumlah sediaan yang akan diuji silang dan intervalnya, untuk
memulai mengambil sediaan harus ditentukan sediaan yang akan diambil pertama
kali. Penentuannya dilakukan dengan cara LOT/undi dengan menggunakan dadu,
kalender, nomor seri uang dan sebagainya.
Penentuan sediaan yang diambil pertama harus lebih kecil atau sama dengan
angka interval.
misal : interval 11, maka sediaan yang pertama dipilih adalah salah satu sediaan
diantara nomor 1 sampai dengan nomor 11

23

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

.
Contoh : Jumlah sediaan 325 dan angka yang keluar dari undian adalah
angka 6, maka no sediaan 6 adalah sediaan pertama yang diambil
dan tambahkan intervalnya (11), sediaan yang diambil adalah
sediaan no 6, 17, 28, 39, 50, 61, 72 , 83, 94, dst.
Langkah 9
Pengambilan sediaan berdasarkan interval dan sesuai urutan formulir TB.04
Jika terdapat sediaan yang hilang/pecah, ambil sediaan sesuai dengan nomor
interval berikutnya sesuai dengan urutan pada formulir TB 04.
Misal : nomor 17 hilang maka sediaan yang diambil berikutnya nomor 28, 39, dst.

3. Pengisian Formulir Uji Silang


a) Formulir TB 12
Formulir TB 12 terdiri dari 2 lembar : lembar I untuk Lab. RUS dan lembar II untuk
Pengelola Program TB di Kab./Kota.
1. Lembar untuk Lab RUS
Sediaan uji silang dengan melampirkan Formulir TB-12, dengan mengisi data pada
kolom 1-4, tanpa mengisi data pada kolom 5.
2. Lembar untuk Pengelola Program Kab./Kota
Formulir TB-12, dengan mengisi data pada kolom 1-5.
Formulir ini dipakai untuk uji silang sediaan dahak dari laboratorium fasyankes untuk
dikirim ke laboratorium RUS untuk menjaga mutu hasil pemeriksaan.
Formulir ini diisi oleh 2 petugas, yaitu:
1. Petugas yang mengambil sediaan (petugas kabupaten / kota) mengisi bagian kiri
formulir, yaitu :
a. Nama Lab. pemeriksa pertama
b. Nama petugas Lab. pemeriksa pertama
c. Tanggal sediaan diambil
d. Jumlah sediaan yang diperiksa per triwulan (positif, negatif, scanty)
e. Kolom 1, 2, 3, 4, dan 5.
(kolom 4 dan 5 hanya diisi pada lembar ke 2, lembar ke 1 untuk dikirim ke
laboratorium rujukan tidak boleh diisi kolom 4 dan 5).

24

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

f.

Kolom 8 Klasifikasi Penilaian diisi kesimpulan dari perbandingan kolom 5 & 7


sesuai tabel berikut :

Hasil
Hasil pemeriksaan lab rujukan
pemeriksaan lab.
Peserta
Negatif
Scanty
1+
Negatif
Betul
NPR
NPT
Scanty
PPR
Betul
Betul
1+
PPT
Betul
Betul
2+
PPT
KH
Betul
3+
PPT
KH
KH

2+
NPT
KH
Betul
Betul
Betul

3+
NPT
KH
KH
Betul
Betul

Keterangan :
Betul

: Tidak ada kesalahan

KH

: Kesalahan Hitung

NPR

: Negatif Palsu Rendah

PPR

: Positif Palsu Rendah

NPT

: Negatif Palsu Tinggi

PPT

: Positif Palsu Tinggi

2. Petugas pelaksana uji silang (petugas laboratorium rujukan), setelah melakukan


pemeriksaan uji silang, mengisi bagian kanan formulir, yaitu kolom 6 s/d 23
a. Kolom 6 untuk menulis tanggal pemeriksaan uji silang,
b. Kolom 7 untuk menulis hasil bacaan sediaan.
c. Kolom 9 dan 10 disediakan untuk menilai kualitas spesimen. Pengisiannya dengan
cara memberi tanda pada kolom yang sesuai, yaitu Baik atau Jelek.
d. Kolom 11, 12 dan 13 disediakan untuk menilai kualitas pewarnaan. Cara
pengisiannya sama seperti untuk kolom 9 dan 10, yaitu dengan memberi tanda
pada kolom yang sesuai. Untuk kriteria Jelek terbagi dua menjadi merah jika
sediaan terlalu merah, pucat jika sediaan terlalu pucat/kurang merah
e. Kolom 14 dan 15 disediakan untuk menilai kebersihan sediaan. Pengisiannya
dengan cara memberi tanda pada kolom yang sesuai, yaitu Baik-bersih atau
Jelek-kotor.
f.

Kolom 16, 17 dan 18 disediakan untuk menilai kualitas sediaan. Pengisiannya


dengan cara memberi tanda

pada kolom yang sesuai. Untuk kriteria Jelek

terbagi dua tebal untuk sediaan yang apusan dahaknya terlalu tebal, tipis untuk
sediaan yang apusan dahaknya terlalu tipis.

25

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

g. Kolom 19, 20 dan 21 disediakan untuk menilai kualitas pewarnaan. Cara pengisian
dengan memberi tanda pada kolom yang sesuai. Baik jika ukuran 2x3 cm,
besar jika ukuran lebih besar dari 2x3 cm, kecil jika ukuran lebih kecil dari 2x3
cm
h. Kolom 22 dan 23 disediakan untuk menilai kerataan sediaan. Pengisiannya dengan
cara memberi tanda pada kolom yang sesuai, yaitu Baik-rata jika apusan dahak
pada sediaan merata atau jelek-tidak rata jika apusan dahak tidak merata.
i.

Total dalam absolut dan total dalam persen merupakan analisa Kualitas Sediaan,
dinilai pada baris terakhir

j.

Komentar : Wasor Kab/Kota menuliskan komentar berupa rekap jumlah PPT, NPT,
PPR, NPR, KH di masing-masing UPK

k. Rekomendasi : Wasor Kab/kota menuliskan rekomendasi berdasarkan analisa


performa pemeriksaan laboratorium tersebut.
Setelah mengisi hasil uji silang, petugas laboratorium rujukan harus mengirim kembali
formulir tersebut ke petugas Dinas Kesehatan kabupaten / kota untuk dianalisis hasilnya.
Setelah petugas Dinas Kesehatan kabupaten/kota menerima hasil pemeriksaan uji silang
dari petugas laboratorium rujukan, petugas kabupaten/kota melakukan analisis kualitas
sediaan dan analisis mikroskopik dengan menghitung Jumlah kesalahan hitung, Negatif
palsu rendah, positif palsu rendah, negatif palsu tinggi, positif palsu tinggi, dan tanpa
kesalahan (betul).

Komentar : Wasor Kab/Kota menuliskan komentar berupa rekap jumlah PPT, NPT,
PPR, NPR, KH di masing-masing UPK

Rekomendasi : Wasor Kab/kota menuliskan rekomendasi berdasarkan analisa


performa pemeriksaan laboratorium tersebut.

b) Formulir TB.04 (Register Laboratorium TB)


Buku ini untuk mencatat setiap melakukan pemeriksaan dahak dari seorang penderita
(baik untuk penderita suspek maupun untuk follow-up pengobatan).
Buku ini diisi oleh petugas laboratorium yang melakukan pewarnaan dan pembacaan
sediaan dahak di UPK.
Nomor Reg. Lab

Tulis nomor register Lab. dengan 3 digit, mulai


dengan 001 pada setiap permulaan tahun anggaran
dan
tulis
berurutan
berdasarkan
tanggal
pemeriksaan.

Nomor Identitas Sediaan

Tulis sesuai dengan nomor yang ada pada kaca


sediaan yang diperiksa

26

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Tanggal sediaan diterima

Tulis tanggal sediaan tersebut diterima

Tanggal Pemeriksaan

Tulis tanggal pemeriksaan sediaan dahak tersebut.

Nama Lengkap Pasien

Tulis nama lengkap.

Umur L / P

Tulis umur dalam tahun pada kolom jenis kelamin


yang sesuai.

Alamat

Tulis alamat lengkap.

Nama Unit Pelayanan


Kesehatan

Tulis nama unit pengobatan yang meminta


dilakukannya pemeriksaan laboratorium ini.

Alasan Pemeriksaan

Tulis kode huruf sesuai identitas slide/ waktu


pengambilan dahak di kolom diagnosis atau follow
up

Hasil Pemeriksaan

Tulis hasil pemeriksaan dengan lengkap sesuai


dengan tingkat positifnya yaitu 1+, 2+, atau 3+ atau
Neg pada kolom yang sesuai. Kolom S untuk dahak
sewaktu pertama, Kolom P untuk dahak pagi, dan
kolom S untuk dahak sewaktu kedua.

Tanda tangan

Bubuhi tanda tangan dari petugas yang melakukan


pemeriksaan.

Keterangan

Disediakan untuk hal-hal lain yang diperlukan.

(3 kolom: S, P, dan S)

c) Formulir TB.05
(Formulir Permohonan Laboratorium TB Untuk Pemeriksaan Dahak)
Pengisian formulir TB.05:
a. Bagian atas oleh petugas yang meminta pemeriksaan dahak
b. Bagian bawah oleh petugas yang membaca sediaan dahak.
Satu penderita menggunakan satu formulir. Satu formulir digunakan untuk 3 spesimen
(untuk diagnosis) atau untuk 2 spesimen (untuk follow-up pengobatan).
Cara mengisi bagian atas:
Nama Unit Yankes
Nama suspek/pasien
Umur
Jenis kelamin
Alamat lengkap
Kabupaten/Kota
Klasifikasi Penyakit
Alasan pemeriksaan
No. Reg Kab/Kota
Nomor identitas sediaan

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tulis nama unit pengirim.


Tulis nama lengkap dari suspek/pasien
Tulis umur dalam tahun.
Beri tanda pada kotak yang sesuai.
Tulis alamat pasien secara lengkap.
Tulis nama kabupaten / kota.
Beri tanda pada kotak yang sesuai.
Beri tanda pada kotak yang sesuai
Tulis no register Kab/Kota (pasien)
Tulis sesuai dengan nomor yang ada pada kaca
sediaan

27

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Tanggal pengambilan dahak :


terakhir

Tulis tanggal pengambilan dahak terakhir.

Tanggal pengiriman sediaan


Tanda tangan pengambil
sediaan
Secara visual dahak
tampak

Tulis tanggal sediaan tsb dikirim ke Lab.


Bubuhi tanda tangan dari pengambil/pembuat
sediaan.
Beri tanda pada kotak yang sesuai.

:
:
:

Cara mengisi bagian bawah: (diisi oleh petugas lab yang membaca sediaan).
No. Register Lab.
:
Tulis nomor yang sesuai dengan di buku register lab
(TB.04).
Tanggal pemeriksaan
:
Tulis tanggal sediaan tsb diperiksa.
Spesimen dahak
:
Tulis kode huruf sesuai waktu pengambilan dahak
yang dikirim :
Penegakan diagnosis :
Sewaktu (A), Pagi (B), Sewaktu (C)
Follow up Akhir fase intensif :
Sesuai waktu dan urutan specimen (D) & (E)
Follow up bila 1 bulan sebelum AP :
Sesuai waktu dan urutan specimen (F) & (G)
Follow up AP :
Sesuai waktu dan urutan specimen (H) & (I)
Setelah sisipan :
Sesuai waktu dan urutan specimen (J) & (K)
Hasil
:
Beri tanda rumput ( ) pada kotak yang sesuai untuk
tiap sediaan yang diperiksa. Untuk kolom 1-9 bta,
tulis jumlah kuman yang ditemukan dalam 100 lp
Diperiksa oleh

Bubuhi tanda tangan dan tulis nama lengkap


petugas pemeriksa.

Pemeriksaan kesesuaian jumlah dan identitas sediaan di Laboratorium RUS


Sediaan dahak yang akan diuji silang diserahkan ke Laboratorium RUS. Petugas RUS
harus memeriksa kesesuaian jumlah dan identitas sediaan dengan yang tertera pada
formulir TB.12.

Pewarnaan ulang
Pewarnaan ulang pada sediaan yang telah memudar dan sediaan dengan hasil
pembacaan yang berbeda antara laboratorium mikroskopis dan lab RUS tidak
diperbolehkan. Setiap sediaan diperiksa ulang pembacaan dan penilaian 6 kriteria

28

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

sediaan oleh laboratorium RUS sesuai dengan kondisi awal saat diterima oleh
laboratorium RUS

4. Penyimpanan Sediaan
Cara menyimpan sediaan
1) Sediaan disimpan secara berurutan sesuai dengan urutan nomor register
laboratorium ( TB 04).
2) Sediaan diagnosis (SPS)
Setelah sediaan sewaktu pertama (S) sisakan 2 buah tempat untuk sediaan pagi
(P) dan sediaan sewaktu kedua (S).
3) Sediaan follow up (PS)
Setelah sediaan pagi (P) sisakan 1 buah tempat untuk sediaan sewaktu (S).
Tidak dilakukan pemisahan antara hasil sediaan negatif dan positif. Laboratorium
mikroskopik dapat memusnahkan sediaan yang tidak diambil untuk uji silang sesuai
dengan prosedur tetap pengelolaan limbah infeksius . Sisa sediaan yang telah
diambil untuk diuji silang dapat dimusnahkan setelah umpan balik diterima oleh
laboratorium mikroskopik dan RUS I. Sediaan yang telah diuji silang di laboratorium
RUS I dapat dimusnahkan setelah tidak ada pertanyaan dari laboratorium
mikroskopis terkait umpan balik uji silang.
Sediaan yang tidak berkesesuaian/ discordan dikirimkan ke RUS 2 untuk dibaca
ulang dan ditentukan hasilnya.
Bila tidak ada RUS 2, sediaan diskordan dibaca bersama oleh teknisi pemeriksa uji
silang di lab RUS 1/ laboratorium rujukan uji silang tingkat provinsi dan penyelianya.
Lab RUS wajib membentuk tim uji silang yang terdiri dari:
a. Penanggung jawab: Kepala BLK/ Kepala Lab Intermediate/ Lab RUS
b. Penyelia/supervisor
c. Pelaksana uji silang

5. Analisis dan Interpretasi Hasil Uji Silang


a. Analisis Kemungkinan Penyebab Kesalahan.

29

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Jenis

Kemungkinan penyebab

Saran Tindakan

Kes
alah
an
Positif Palsu
Tinggi
(PPT)

1. Masalah pada reagen ZN


2. Tidak mengenal BTA
3. Kesalahan penulisan hasil
4. BTA terbawa dari minyak imersi dari
sediaan positif sebelumnya atau BTA
lingkungan (air)
5. Hasil pewarnaan yang memudar

1.Uji kualitas reagen :


sediaanBTA 1+ dan negatif
Prosedur pewarnaan
(dekolorisasi)
2. Uji kompetensi petugas
mikroskopis
3.Periksa kemungkinan
adanya kesalahan
penulisan hasil pada TB 04
4.Bersihkan lensa objektif 100
x setiap selesai membaca
sediaan
5.Dilakukan pewarnaan ulang

Negatif Palsu
Tinggi
(NPT)

1. Pembacaan tidak mencapai 100LP


2. Reagen kadaluarsa

1. Pelaksanaan pembacaan
sesuai SOP
2. Cek kualitas reagen
(kadaluarsa ? )
3. Periksa kemungkinan
adanya kesalahan
penulisan hasil pada TB 04

3. Kesalahan penulisan hasil

b.

Positif Palsu
Rendah
(PPR)

1. Kesalahan hitung
2. Kesalahan penulisan hasil

1. Pelaksanaan pembacaan
sesuai SOP

Negatif Palsu
Rendah
(NPR)

1. Pembacaan tidak mencapai 100 LP


2. Tehnisi tidak mengerti sistem
pelaporan sesuai standart IUATLD

1. Pelaksanaan pembacaan
sesuai SOP

Interpretasi kesalahan
1) Bila semua hasil pembacaan oleh petugas laboratorium fasyankes dan petugas
RUS sesuai :
Berarti tidak ada kesalahan pemeriksaan laboratorium.
Hal ini merupakan target optimal kinerja laboratorium
2) Kesalahan Rendah (NPR/PPR)
Bila terdapat ketidaksesuaian hasil baca dengan kesenjangan yang rendah,
misalnya antara Scanty dengan 1+ atau antara Scanty dengan Negatif
Secara umum 3 kesalahan rendah bernilai sama dengan 1 kesalahan besar.
Perhatian :

30

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Bila terdapat trend/kecenderungan peningkatan kesalahan rendah dibanding hasil


triwulan sebelumnya atau kesalahannya lebih tinggi dari rata-rata semua
fasyankes atau bila kesalahan rendah terjadi beberapa kali maka perlu
ditindaklanjuti dengan supervisi oleh lab RUS, pelatihan penyegaran atau
magang di RUS.
3) Kesalahan Tinggi
Bila terdapat kesalahan baca : BTA negatif dilaporkan positif atau sebaliknya.
Suatu

Kesalahan Tinggi (PPT/NPT) menunjukkan kinerja yang tidak dapat

diterima dan merupakan indikasi bahwa perlu tindak lanjut dengan tindakan
perbaikan.
Kinerja setiap laboratorium harus terus dipantau sampai ditemukan penyebab
kesalahan.

Setiap fasyankes

harus dapat menilai

dirinya

sendiri dengan

menindaklanjuti umpan balik uji silang.

6. Tindak Lanjut Uji Silang


Umpan balik yang dibuat oleh Wasor kabupaten/kota harus didistribusikan ke lab
RUS, fasyankes dan Dinkes Provinsi untuk menjadi acuan tindakan perbaikan
kinerja laboratorium mikroskopik fasyankes.
Tindakan perbaikan kinerja laboratorium mikroskopik fasyankes dapat berupa
pembinaan administrasi, bimbingan teknis saat supervisi, pelatihan penyegaran atau
magang petugas mikroskopik fasyankes di laboratorium RUS.
Koordinasi kegiatan supervisi dilaksanakan oleh Wasor Provinsi dan Kab/Kota, PPO
dan teknisi laboratorium RUS.
Pengelolaan Pelaksanaan Uji SIlang
Uji silang hanya akan terlaksana dengan baik apabila ada suatu pengelolaan jejaring
laboratorium yang aktif dan terkendali, dengan. ketiga komponen uji silang yaitu
Wasor Kab/Kota, lab RUS dan fasyankes di wilayah kerja tersebut harus memahami
dan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik, dan ada pengaturan
waktu yang disepakati bersama oleh ketiga komponen diatas.
Jadual pelaksanaan uji silang ditetapkan berdasarkan kesepakatan :
1). Pengambilan/pengiriman sediaan untuk dipilih di kabupaten (setiap tanggal 15
dalam bulan pertama triwulan berikutnya; misalnya sediaan uji silang triwulan I
diambil selambat-lambatnya pada tanggal 15 April)

31

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

2). Lamanya waktu pemeriksaan uji silang di lab rujukan ditentukan berdasarkan
perkiraan beban kerja di lab RUS . Sebagai kontrol adalah formulir TB. 12 : lihat
tanggal sediaan uji silang diterima di laboratorium RUS dan hasil uji silang dikirim
oleh laboratorium RUS
3). Lama waktu analisis hasil uji silang oleh wasor kabupaten/kota 1 bulan sejak hasil
uji silang diterima dari laboratorium RUS dan segera diumpanbalikkan ke
Laboratorium Fasyankes,RUS dan Dinkes Provinsi.
Agar kegiatan ini dapat terlaksana sesuai jadwal diperlukan pengembangan laboratorium
RUS I/intermediate di setiap kab/kota dan pemenuhan kebutuhan SDM
Prioritas supervisi
Bila dalam satu siklus uji silang ditemukan adanya satu kesalahan besar atau tiga
kesalahan kecil maka pengelola jejaring laboratorium rujukan harus memprioritaskan
supervisi ke laboratorium mikroskopis tersebut.

32

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

33

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

34

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

Rekomendasi : ..
.

35

Materi Workshop LQAS Provinsi/Kab/kota

36