Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

A. Tujuan
1. Mengetahui reaksi positif yang dihasilkan dari tendon yang terletak di
bisep sebagai akibat dari rangsangan
2. Mengetahui reaksi positif yang dihasilkan dari tendon yang terletak di
trisep sebagai akibat dari rangsangan
3. Mengetahui reaksi positif yang dihasilkan dari tendon yang terletak di
Patella sebagai akibat dari rangsangan
4. Mengetahui reaksi positif yang dihasilkan dari tendon yang terletak di
Achilles sebagai akibat dari rangsangan
5. Memahami dan mengetahui macam-macam gerak refleks.
B. Latar belakang
Tubuh manusia terbentuk atas banyak jaringan dan organ yang masingmasing memiliki tugas dan fungsi khusus. Sel adalah unit atau unsur yang terkecil
tubuh yang dimiliki oleh semua bagian tubuh. Sel disesuaikan oleh tugas dan
fungsinya, atau dengan jaringan tempat sel itu berada. Beberapa sel misalnya yang
berada pada system saraf dan otot, memang sangat khas. Beberapa lainnya, seperti
yang ada dalam jaringan ikat, perkembangannya tidak sesempurna dengan sel yang
ada di saraf dan otot. Pada umumnya semakin khusus tugas suatu sel semakin kecil
daya tahannya menghadapi kerusakan dan paling sukar memperbaiki atau
mengggantinya. System kehidupan dapat didefenisikan dari berbagai sudut
pandang, dari yang paling luas ( memerhatikan seluruh bumi) sampai yang paling
kecil (tingkat atom). Setiap sudut pandang menyediakan informasi tentang
bagaimana atau mengapa sebuah system kehidupan berfungsi.
Tubuh manusia terdiri dari sel, jaringan, organ, dan system organ. Dalam tubuh
manusia disusun oleh rangka, dimana rangka ini diliputi oleh otot-otot yang juga
menyusun tubuh dan melindungi organ lain dalam tubuh mahluk hidup. Untuk
menggerakkan tubuh manusia harus ada perintah ke saraf, disini diketahui bahwa
gerakan itu ada yang disadari dan ada yang tak disadari. Gerakan yang disadari
adalah gerakan yang memang benar-benar perintah dari otak sedangkan gerakan
yang tidak disadari tiba-tiba terjadi yang mungkin disebabkan karena kaget atau
yang lainnya.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukanlah praktikum ini. Dimana pada
praktikum ini kita akan mengamati dan mengenal beberapa gerakan yang tidak

disadari atau gerak refleks. Praktikum ini akan lebih memperjelas pengetahuan kita
tentang gerak refleks.
C. TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip kegiatan system saraf dtampilkan dalam bentuk kegiatan gerak
refleks. Dengan adanya gerak refleks dimungkinkan terjadinya kerja yang baik dan
tepat antara berbagai organ dari individu dan hubungan individu dengan
sekelilingnya. Refleks merupakan reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan
baik di dalam maupun di luar organisme. Secara embriologi perkembangan system
saraf diawali dengan penebalan ectoderm pada garis middorsal. Perubahan ini
disebut neural palate., tubuh membentuk lekukan saraf (neural groove) dan
penonjolan saraf (neural crest), selanjutnya menjadi neural tube. Ujung nostral
neural tube membentuk tiga pembesaran berupa vesikel yang kemudian disebut
prosensefalon atau forebrain, mensesefalon atau midbrain, dan rombensefalon atau
hindbrain. Pada perbatasan telensefalon dan diensefalon terdapat sepasang
evaginasi yang akan membentuk retina dan nervus optikus (Syaifuddin, 2006).
System saraf mempunyai tiga fungsi yang saling tumpang tindih: input
sensoris, integrasi, dan output motoris. Input adalah penghantaran atau konduksi
sinyal dan reseptor sensoris, misalnya sel-sel pendeteksi cahaya di mata, ke pusat
integrasi. Integrasi adalah proses penerjemahan informasi yang berasal dari
stimulus reseptor sensoris oleh lingkungan. Kemudian dihubungkan dengan respon
tubuh yang sesuai. Sebagian besar integrasi dilakukan dalam system saraf pusat
yaitu otak dan sumsum tulang belakang (pada vertebrae). Output motoris adalah
penghantaran sinyal dari pusat integrasi, yaitu SSP, ke sel-sel efektor, sel-sel otot
atau sel kelenjar yang mengaktualisasikan respon tubuh terhadap stimulus tersebut .
system saraf tersusun atas dua jenis sel yang utama : neuron dan sel-sel pendukung
disebut juga glia , yang memberikan struktur dalam system saraf serta melindungi,
menginsulasi, dan secara umum membantu neuron (Campbell, 2004).
Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula pada medulla
oblongata, menjulur kea rah kaudal melalui foramen magnum, dan berakhir diantara
vertebrae lumbalis pertama dan kedua. Disini medulla spinalis meruncing sebagai
konus medularis, dan kemudian sebuah sambungan tipis dari pia mater disebut filum
terminale, yang menembus kantung dura meter, bergerak menuju koksigis. Sumsum
tulang belakang berukuran panjang sekitar 45cm ini, pada bagian depannya dibelah

sebuah fisura anterior yang dalam, sementara bagian belakang dibelah sebuah
fisura yang sempit. Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, yaitu
penebalan servikal dan penebalan lumbal. Dari penebalan ini, pleksus-pleksus saraf
bergerak guna melayani anggota badan atas dan bawah dan fleksus dari daerah
toraks membentuk saraf-saraf interkostalis (Pearce, 2006).
Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan
terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena
debu, menarik kembali tangan dari benda panas yang menyakitkan yang tersentuh
tanpa sengaja. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadr, misalnya bukan
saja tidak menarik tangan dari benda panas bahkan dengan sengaja menyentuh
permukaan benda panas itu. Saraf-saraf spinal. Tiga puluh satu saraf sumsum
tulang belakang muncul dari segmen-segmen medulla spinalis melalui dua akar,
akar anterior dan akar posterior. Serabut saraf motorik membentuk akar entrior yang
berpadu dengan serabut saraf sensorik pada akar posterior guna bersama
membentuk saraf spinalis gabungan. Penyatuan ini terjadi sebelum serabut saraf itu
melintasi foramen intervertebrali, tetapi segera setelah itu membagi diri lagi menjadi
serabut primer anteriordan serabut primer posterior. Serabut primer posterior
melayani kulit dan oto punggung sedang serabut primer anterior membentuk
berbagai cabang yang menjadi fleksus saraf anggota gerak dan membentuk sarafsaraf interkostalis pada daerah torax ( Pearce, 2009).
Mekanisme gerak refleks merupakan suatu gerakan yang terjadi secara tibatiba diluar kesadaran kita. Refleks fleksor, penarikan kembali tangan secara refleks
dari rangsangan yang berbahaya, merupakan suatu reaksi perlindungan. Refleks
ekstensor (polisinaps), rangsangan dari reseptor perifer yang dimuali dari fleksi pada
anggota badan yang juga berkaitan dengan ekstensi anggota badan. Gerak refleks
merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat
dari gerak sadar. Misalnya, menutup mata pada saat terkena debu. Untuk terjadinya
gerak refleks maka dibutuhkan struktur sebagai berikut : organ sensorik yang
menerima impuls misalnya kulit. Serabut saraf sensorik yang menghantarkan impuls
tersebut menuju sel-sel ganglion radiks posterior dan selanjutnya serabut sel-sel
akan melanjutkan impuls-impuls menuju substansi pada kornu posterior medulla
spinalis. Sumsum tulang belakang menghubungkan antara impuls menuju kornu
anterior medulla spinalis. Sel saraf menerima impuls dan mengahntar impuls-impuls

ini melalui serabut motorik. Organ motorik melaksanakan rangsangan karena


dirangsang oleh impuls saraf motorik (Syaifuddin, 2009).
Refleks spinalis terbentuk oleh serabut-serabut efferent yang membawa
impuls sampai pada cornu posterior, selanjutnya melalui suatu interneuron stimulus
diteruskan kepada cornu anterior, dan melalui serabut-serabut motoris (efferent)
stimulus disamapaikan kepada efektor yang terdapat pada otot, maka otot
digerakkan. Serabut-serabut yang lain membawa stimulus nyeri, raba, suhu,
proprioceptive dan interoceptive menuju ke cornu posterior dan diteruskan ke otak,
ada yang tidak melalui cornu posterior medulla spinalis. Stimulus temperature
berjalan bersama-sama dengan stimulus sakit, dan atimulus tekana berjalan
bersama-sma dengan stimulus raba. Stimulus motoris merupakan serabut-serabut
descendens yang berpangkal pada area motoris cortex cerebri. Sel betz pada gyrus
precentralis

mengirim

axonnya

turun

ke

caudal

dan

membentuk

tractus

corticospinalis berjalan melalui corona radiate, capsula interna, pedunculus cerebri,


mencephalon, pons, medulla oblongata, sampai ke perbatasan medulla oblongata
dan medulla spinalis 2/3 bagian dari serabut- serabut tadi mengadakan persilangan
dengan pihak lainny membentuk decussatio, pyramidium dan melanjutkan diri di
dalam funiculus lateralis medulla spinals sebagai tractus corticospinalis lateralis
(Buranda, 2008).
Pusat syaraf manusia terdiri dari dua bagian: otak dan sumsum tulang
belakang. Masing-masing bagian ini akan menghantarkan impuls dari kelompok
bagian tubuh yang berbeda. Mekanisme gerak. Tubuh kita memiliki bagian tubuh
yang berfungsi sebagai penerima rangsang, yaitu alat indera. Bagian tubuh ini
disebut reseptor. Reseptor ini memiliki syaraf-syaraf khusus yang bisa mendeteksi
rangsangan tertentu. Misalnya:rangsang cahaya pada mata , rangsang sentuhan,
suhu, gesekan, rasa sakit pada kulit ,bau pada hidung, rasa pada lidah , suara pada
telinga. Setelah itu syaraf-syaraf yang disebut neuron reseptor ini akan mengirimkan
sinyal listrik menuju otak. Informasi ini akan diolah sesuai kehendak kita. Kemudian
otak akan mengirim respon menuju organ yang disebut efektor. Efektor meliputi :
otot, kelenjar, dll. Respon yang dikirim otak ini ada yang dikirim secara otomatis, ada
pula yang hanya dikirim bila kita menghendakinya (Abim, 2010).
Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan
melibatkan banyak bagian tubuh.Terdapat banyak komponen komponen tubuh
yang terlibat dalam grak iniBaik itu disadari maupun tidak disadari. Gerak adalah

suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar
tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan
penghantaran impuls oleh saraf.Dan dalam melakukan gerak tubuh kita melakukan
banyak koordinasi dengan perangkat tubuh yang lain.Hal ini menunjukkan suatu
kerja sama yang siergis. Kita dapat bayangkan diri kita berada dalam sebuah lorong
yang gelap Semua indera kita pun akan siap siaga.Telinga pasti akan mendengar
segala sesuatu sehalus apa pun. Kemudian kita menabrak sesuatu. Dalam keadaan
seperti itu diri kita pasti refleks melompat bahkan akan menjerit.Denyut jantung akan
cepat dan secara refeks kita pun berlari. Begitulah salah satu contoh gerak refleks
yang terjadi pada diri kita. Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak
lepas dari peranan system saraf. Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang
di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun system saraf tersusun
dengan sangat kompleks,tetapi sebenarnya hanya tersusun atas 2 jenis sel,yaitu sel
saraf dan sel neuroglia (Pratama, 2008).
D. Teori
Secara umum, refleks dapat diartikan sebagai respon yang terjadi secara
otomatis, tanpa kesadaran. Refleks saraf selalu dimulai dengan adanya stimulus
yang mengaktifkan reseptor sensoris. Kunci dari jaras refleks adalah negative
feedback. Jalur yang terlibat dalam terjadinya refleks dikenal sebagai lengkung
refleks. Tidak seperti gerak biasa yang memiliki banyak variasi respon, respon untuk
gerak refleks dapat diprediksikan karena jalurnya selalu sama. Neural refleks bisa
diklasifikasikansebagai berikut :
1. Berdasarkan divisi efferent sistem saraf yang mengontrol respon
Refleks ini melibatkan somatic motor neuron dan otot skeletal yang
dikenal sebagai refleks somatik. Refleks yang responnya dikontrol saraf otonom
disebut refleks otonom.
2. Berdasarkan lokasi CNS di mana refleks diintegrasikan
Refleks spinal diintegrasikan di spinal kord. Refleks ini bisa dimodulasi
oleh input yang lebih tinggi dari otak, namun bisa juga tanpa input tersebut.
Refleks yang diintegrasikan di otak disebut refleks cranial.
3. Berdasarkan apakah refleks itu dipelajari atau didapat.
Refleks patella merupakan refleks yang didapat. Contoh refleks didapat
adalah Pavlovs dogs salivating saat mendengar sebuah bel. Refleks ini juga

disebut conditioned reflex. Begitu juga saat seorang pianis memainkan jarijarinya di atas piano yang merupakan refleks yang dipelajari.
4. Berdasarkan jumlah neuron di jaras reflex
Yang paling sederhana adalah monosynaptic reflex, yang merupakan
refleks dengan sinapsis tunggal di antara dua neuron di jaras: satu afferen, satu
efferen, yang bersinapsis di spinal kord. Sedangkan kebanyakan refleks terdiri
dari tiga atau lebih neuron, disebut polysinaptic reflex.
Jalur divergen memungkinkan stimulus tunggal mempengaruhi banyak
target sedangkan konvergen mengintegrasikan input untuk memodulasi sebuah
respon.
A. Refleks otonom
Refleks ini disebut juga refleks visceral karena sering melibatkan organ
internal tubuh. Beberapa refleks visceral, seperti urinasi dan defekasi, merupakan
refleks spinal yang bisa terjadi tanpa input dari otak. Meskipun begitu, refleks
spinal juga sering dimodulasi oleh excitatory atau inhibitory signal dari otak yang
dibawa oleh jaras descending dari pusat otak yang lebih tinggi. Misal, urinasi
dapat diinisiasi secara sadar dengan kesadaran atau bisa juga dihambat oleh
stress dan emosi, seperti dengan adanya orang lain (sindrom bashful bladder).
Refleks otonom lain diintegrasikan di otak , khususnya di hipotalamus,
thalamus dan batang otak. Daerah ini berisi pusat koordinasi yang dibutuhkan
untuk menjaga homeostatis seperti detak jantung, tekanan darah, nafas, makan,
keseimbangan air dan menjaga temperatur. Di sini juga ada pusat refleks seperti
salivating, muntah, bersin, batuk, menelan, dan tersendak.
Salah satu tipe reflex otonom yang menarik adalah konversi stimulus
emosional ke respon visceral. Sistem Limbic, yang merupakan tempat operasi
primitif seperti sex, takut, marah, agresif dan lapar, disebut sebagai visceral
brain karena pengaruhnya dalam refleks emosional. Contoh lain adalah folikel
rambut yang tertarik saat seseorang merasa takut.
Refleks otonom merupakan polysinaptic dengan sedikitnya satu sinapsis di
CNS di antara neuron sensorik dan preganglion saraf otonom serta sinaps
tambahan di ganglion, antara neuronpreganglionic dan postganglionic.
B. Refleks Otot Skeletal
Eksitasi somatic motor neuron selalu menyebabkan kontraksi di otot rangka.
Tidak ada inhibitory neuron yang bersinapsis di otot skeletal untuk membuatnya
rileks. Relaksasi merupakan akibat dari tidak adanya eksitatory input.

Refleks otot skeletal memiliki komponen sebagai berikut :


1. Reseptor sensorik, dikenal sebagai proprioceptor yang terletak di otot
skeletal, kapsul sendi, dan ligament. Reseptor ini memonitor posisi tungkai,
pergerakan dan upaya yang kita gunakan saat mengangkat benda.
2. Neuron sensorik yang membawa sinyal dari proprioceptor ke CNS
3. CNS, yang menintegrasikan sinyal masuk menggunakan jalur eksitatori dan
inhibitori interneuron. Pada refleks, informasi sensorik diintegrasikan dan
dilakukan secara bawah sadar. Meskipun begitu, informasi sensorik mungkin
diintegrasikan di cerebral korteks dan menjadi persepsi serta beberapa
refleks bisa dimodulasi sebagai sebagai input sadar.
4. Motor neuron somatik yang membawa sinyal output. Motor neuron somatik
yang mempersarafi kontraktil otot disebut alpha motor neuron.
5. Efektor, yang merupakan serat kontraktil otot skeletal, juga dikenal sebagai
muscle fiber ekstrafusal. Potensial aksi di alpha motor neuron akan
menyebabkan serat ekstrafusal berkontraksi.
Ada tiga buah propioceptor ditemukan di tubuh: muscle spindel, organ golgi
tendon, dan reseptor sendi.
I.

Muscle spindel merespon peregangan otot


Muscle spindel merupakan reseptor peregangan yang mengirim informasi ke
spinal kord dan otak mengenai panjang otot dan perubahan panjang otot. Kecuali
pada rahang, semua otot skeletal tubuh memiliki banyak muscle spindel.
Masing-masing musle spindel terdiri dari kapsul jaringan ikat yang
membentuk sekelompok serat saraf kecil yang dikenal sebagai serat intrafusal.
Serat ini dimodifikasi sehingga ujungnya kontraktil, tetapi bagian tengahnya
kekurangan miofibril. Ujung kontraktil ini mendapatkan persarafan sendiri dari
gamma motor neuron. Bagian tengah yang nonkontraktil dibungkus oleh ujung
saraf sensoris langsung dengan alpha motor neuron yang mempersarafi otot di
mana spindel berada.
Saat sebuah otot beristirahat, daerah central dari masing-masing musle
spindel akan cukup tertarik untuk mengaktifkan serat sensoris. Hasilnya, neuron
dari spindel aktif secara tonik, mengirimkan arus stabil potensial aksi ke CNS.
Karena itu, meski dalam posisi istirahat, otot tetap memiliki ketegangan tertentu
yang dikenal sebagai musle tone.
Muscle spindel dilabuhkan secara paralel ke serat otot ekstrafusal.
Pergerakan yang menyebabkan pemanjangan otot juga meregangkan muscle

spindel dan menyebabkan serat sensorisnya fire dengan cepat. Hal ini
menyebabkan refleks kontraksi otot yang akan mencegah otot melakukan over
stretching. Jaras reflex yang mana regangan otot menyebabkan respon kontraksi
dikenal sebagai stretch reflex.
.
II.

Golgi tendon berespon pada ketegangan otot


Reseptor ini ditemukan di persimpangan tendon dan serat otot. Organ golgi
tendon, berespon secara primer ke tension otot yang berkembang selama
kontraksi isometrik dan menyebabkan reflek relaksasi. Respon ini berlawanan
dengan reflek kontraksi yang disebabkan muscle spindel.
Organ golgi tendon disusun oleh tiga ujung saraf bebas yang membelit serat
kolagen di dalam kapsul jaringan ikat.Saat sebuah otot berkontraksi, tendonnya
akan menjadi sebuah komponen elastis fase isometrik kontraksi. Kontraksi akan
menarik serat didalam tendon golgi dengan kuat, menjepit ujung sensoris saraf
afferen dan menyebabkan mereka fire.
Input

afferent

dari

aktivasi

organ

golgi

tendon

mengeksitasi inhibitory interneurons di spinal kord. Interneuron menghambat


alpha motor neuron yang mempersarafi otot, dan kontraksi otot akan turun.
Dalam kebanyakan keadaan, reflek ini memperpelan kontraksi otot saat kekuatan
otot meningkat. Dengan kata lain, organ golgi tendon akan mencegah kontraksi
berlebihan yang mungkin melukai otot.
III.

Stretch refleks dan Inhibisi resiprok mengontol pergerakan di sekeliling


sendi
Pergerakan di sekeliling sendi paling flexible dikontrol oleh sekelompok otot
sinergis dan antagonis yang terkoordinasi. Kumpulan pathway yang mengontrol
suatu sendi dikenal sebagai unit myotatic.
Refleks paling sederhana pada unit myotatic adalah monosynaptic stretch
reflex, yang hanya melibatkan dua neuron, neuron sensorik dari muscle spindle
dan neuron somatic motor neuron ke otot. Reflek hentakan lutut adalah contoh
monosynaptic stretch reflex.
Saat tendon pattelar di bawah tempurung lutut di ketuk dengan palu kecil,
ketukan akan meregangkan otot quadriceps. Ini akan mengaktifkan muscle
spindles dan mengirim potensial aksi melalui serat sensoris ke spinal kord.
Neuron sensoris bersinaps secara langsung ke motor neuron yang mengontrol

kontraksi otot quadriceps. Eksitasi dari motor neuron menyebabkan unit motorik
di quadriceps berkontraksi dan kaki bagian bawah akan maju ke depan.
Refleks sangat penting untuk pemeriksaan keadaan fisis secara umum, fungsi
nervus dan koordinasi tubuh. Dari refleks atau respon yang diberikan oleh
anggota tubuh ketika sesuatu mengenainya dapat diketahui normal tidaknya
fungsi dalam tubuh. Oleh karena itu, pelaksanaan praktikum ini sangat penting
agar diketahui bagaimana cara memeriksa refleks fisiologis yang ada pada
manusia.
Pemeriksaan Refleks
Biasanya refleks yang dapat diuji mencakup refleks biseps, brakhioradialis,
triceps, patela, dan pergelangan kaki (Archilles). Temuan yang diperoleh
bergantung pada beberapa faktor yaitu menggunakan palu refleks yang tepat,
posisi ekstremitas yang tepat, dan keadaan rileks pasien.
Derajat refleks, hilangnya refleks adalah sangat berarti, walaupun sentakan
pergelangan kaki (refleks Achilles) yang tidak ada, terutama pada lansia.
Respons refleks sering dikelaskan dengan nilai 0 samapai 4+.
a) 4+ : hiperaktif dengan klonus terus menerus
b) 3+ : hiperaktif
c) 2+ : normal
d) 1+ : hipoaktif
e) 0 : tidak ada reflex
Jenis-jenis pemeriksaan refleks adalah sebagai berikut :

(8 : 2094)

1. Refleks Biseps.
Refleks biseps didapat melalui peregangan tendon biseps pada saat
siku dalam keadaan fleksi. Orang yang menguji menyokong lengan bawah
dengan

satu

tangan

sambil

menempatkan

jari

telunjuk

dengan

menggunakan palu refleks. Respons normal dalam fleksi pada siku dan
kontraksi biseps.
2. Refleks Triseps.
Untuk menimbulkan refleks triseps, lengan pasien difleksikan pada
siku dan diposisikan di depan dada. Pemeriksaan menyokong lengan
pasien dan mengidentifikasi tendon triseps dengan mempalpasi 2,5

sampai 5 cm di atas siku. Pemukulan langsung pada tendon normalnya


menyebabkan kontraksi otot triseps dan ekstensi siku.
3. Refleks Brakhioradialis.
Pada saat pengkajian refleks brakhioradialis, penguji meletakkan
tangan pasien di atas meja laboratorium atau disilangkan di atas perut.
Ketukan palu dengan lembut 2,5 sampai 5 cm di atas siku. Pengkajian ini
dilakukan dengan lengan dalam keadaan fleksi dan supinasi.
4. Refleks Patella.
Refleks patella ditimbulkan dengan cara mengetok tendon patella
tepat di bawah patella. Pasien dalam keadaan duduk atau tidur terlentang.
Jika pasien terlentang, pengkajian menyokong kaki untuk memudahkan
relaksasi otot. Kontraksi quadriseps dan ekstensi lutut adalah respons
normal.
5. Refleks Ankle.
Buat pergelangan kaki dalam keadaan rileks, kaki dalam keadaan
dorsi fleksi pada pergelangan kaki dan palu diketok pada bagian tendon
Achilles. Respon yang terjadi adalah fleksi plantar.
6. Refleks Kontraksi Abdominal.
Refleks superfisial yang ada ditimbulkan oleh goresan pada kulit
dinding abdomen atau pada sisi paha untuk pria. Hasil yang didapat
adalah kontraksi yang tidak disadari otot abdomen, dan selanjutnya
menyebabkan skrotum tertarik.
7. Respons Babinski.
Refleks yang diketahui jelas, sebagai indikasi adanya penyakit SSP
yang mempengaruhi traktus kortikospinal, disebut respons Babinski. Bila
bagian lateral telapak kaki seseorang dengan SSP utuh digores maka
terjadi kontraksi jari kaki dan menarik bersamaan.
Refleks Patologis dan Fisiologis pada Tubuh Manusia
Refleks Patologis adalah sebagai berikut :
1. Reflek Hoffman Tromer, Jari tengah klien diekstensikan, ujungnya
digores, positif bila ada gerakan fleksi pada ari lainnya.
2. Reflek Jaw, Kerusakan kortikospinalis bilateral, eferen dan aferennya
nervous trigeminus, denganmengertuk dagu klien pada posisi mulut
terbuka, hasil positif bila mulut terkatup.
3. Reflek regresi, Kerusakan traktus pirimidalis bilateral / otak bilateral.
4. Reflek Glabella, Mengetuk dahi diantara kedua mata, hasilnya positif bila
membuat kedua mata klien tertutup.

5. Reflek Snout, Mengutuk pertengahan bibir atas, positif bila mulutnya


tercucur saliva.
6. Reflek Sucking, Menaruh jari pada bibir klien, positif bila klien menghisap
jari tersebut.
7. Reflek Grasp, Taruh jari pada tangan klien, positif bila klien memegangnya.
8. Reflek Palmomental, Gores telapak tangan didaerah distal, positif bila otot
dagu kontraksi.
9. Reflek Rosolimo, Ketuk telapak kaki depan, positif bila jari kaki ventrofleksi.
10. Reflek Mendel Bechterew, Mengetuk daerah dorsal kaki2 sebelah depan,
positif bila jari kaki ventrofleksi.
Sedangkan refleks fisiologis adalah sebagai berikut :
1. Reflek Kornea, Dengan cara menyentuhkan kapas pada limbus, hasil
positif bila mengedip (N IV & VII )
2. Reflek Faring , Faring digores dengan spatel, reaksi positif bila ada reaksi
muntahan ( N IX & X )
3. Reflek Abdominal, Menggoreskan dinidng perut dari lateral ke umbilicus,
hasil negative pada orang tua, wanita multi para, obesitas, hasil positif bila
terdapat reaksi otot.
4. Reflek Kremaster, Menggoreskan paha bagian dalam bawah, positif bila
skrotum sisi yang sama naik / kontriksi ( L 1-2 )
5. Reflek Anal, Menggores kulit anal, positif bila ada kontraksi spincter ani ( S
3-4-5 )
6. Reflek Bulbo Cavernosus, Tekan gland penis tiba-tiba jari yang lain
masukkan kedalam anus, positif bila kontraksi spincter ani (S3-4 / saraf
spinal )
7. Reflek Bisep ( C 5-6 )
8. Reflek Trisep ( C 6,7,8 )
9. Reflek Brachioradialis ( C 5-6 )
10. Reflek Patela ( L 2-3-4 )
11. Reflek Tendon Achiles ( L5-S2)
12. Reflek Moro, Reflek memeluk pada bayi saat dikejutkan dengan tangan

13. Reflek Babinski, Goreskan ujung reflak hammer pada lateral telapak kaki
mengarah ke jari, hasil positif pada bayi normal sedangkan pada orang
dewasa abnormal ( jari kaki meregang / aduksi ektensi )
14. Sucking Reflek, Reflek menghisap pada bayi
15. Grasping Reflek, Reflek memegang pada bayi
16. Rooting reflek Bayi menoleh saat tangan ditempelkan ke sisi pipi
Alat dan Bahan
1. Reflek hammer
2. Probandus
Cara Kerja
1. Refleks Biseps
a. Membuka lengan baju sampai di atas saku
b. Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi fleksi 90 o
c. Mencari tendon bisep dengan cara meraba bagian distal otot biseps. Jika
antebranchi fleksi maksimal maka tendon teraba bergerak
d. Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut
e. Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan fleksi
pada antebranchi maka dikatakan refleks biseps positif (+)
2. Refleks Triseps
a. Membuka lengan baju sampai di atas siku
b. Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi adduksi
c. Mencari tendon otot branchii triseps dengan cara meraba bagian distal otot
branchii triseps. Jika antebranchii adduksi maksimal maka tendon teraba
bergerak
d. Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut
e. Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan
adduksi pada antebranchii maka refleks triseps dikatakan positif (+)
3. Refleks Patellar
a. OP duduk dengan posisi kaki menggantung
b. Meraba bagian distal lutut untuk mencari tendon patella
c. Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut

d. Bila terdapat gerakan esistensi cruris maka dikatakan refleks patella positif
(+)
4. Refleks Achilles
a. OP duduk dengan posisi kaki sejajar dengan lantai
b. Melakukan dorso fleksi pada plantar pledis. Meraba tendon Achilles
c. Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut
d. Bila terdapat gerakan dorso fleksi maka dikatakan refleks achilles positif (+)
HASIL
No.

Nama OP

Refleks
Bisep

Refleks
Trisep

Reflek
s
Patella

Refleks
Archille
s

1.

Soraya

2.

Adam

3.

Fennisa

4.

Ranny

5.

Zidni

6.

Dea

7.

Wahyu

8.

Della

Pembahasan
A. Refleks Bisep dan Trisep
Refleks adalah suatu respons involunter terhadap sebuah stimulus. Secara
sederhana, lengkung refleks terdiri dari organ reseptor, neuron aferen, neuron
efektor, dan organ efektor. Lengkapnya, impuls melalui jalan pendek atau jalan
pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang kemudian diteruskan oleh
saraf sensorik ke pusat saraf lalu diterima oleh sel saraf penghubung (asosiasi)
tanpa diolah dalam otak namun langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk
disampaikan ke efektor (otot atau kelenjar). Jalan pintas inilah yang dapat
menjelaskan apa itu lengkung refleks (Syaifuddin, 2009).
Pada hasil pengamatan, seluruh OP positif mengalami refleks pada otot bisep
dan otot trisep ketika diberi rangsangan dengan reflex hammer. Refleks bisep

adalah suatu tes yang dilakukan dengan cara mengetuk tendon otot bisep
menggunakan reflex hammer untuk menguji kerja dari kontraksi otot bisep pada OP.
Sedangkan, refleks trisep adalah suatu tes yang dilakukan dengan cara mengetuk
tendon otot trisep menggunakan reflex hammer. Adanya kontraksi otot bisep
tersebut ditandai dengan kedutan pada lengan bawah ke arah dalam tubuh,
sedangkan pada otot trisep ke arah luar tubuh (fleksi). Refleks bisep dan trisep
tersebut gerakannya menjauh dan monosinaps. Monosinaps adalah gerak refleks
yang hanya menghasilkan satu gerakan. Hasil positif serentak sama yang didapat
oleh para OP juga dapat dipengaruhi oleh sumber stimulus yang sama yaitu
hentakkan dari reflex hammer pada bagian muskulus tendon brakii di masingmasing otot bisep dan trisep, sehingga respon yang diberikan oleh para OP pun
sama semua (Pearce, 2006). Selain itu, apabila terdapat perbedaan dari setiap
individu dapat disebabkan oleh gerak refleks yang dapat dihambat oleh kemauan
sadar dan stimulus yang diberikan dapat diubah menjadi bentuk aksi-aksi yang
berbeda oleh reseptor, reseptor tersebut yang menimbulkan gerakan atau aksi-aksi
yang berbeda dari setiap individu (Blumenthal, 2007).
B. Refleks Patella
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kepada OP didapatkan
hasil bahwa semua OP memiliki respon refleks positif. Refleks ini disebut juga
refleks peregangan. Reflek pereganggan merupakan reflek yang paling
simple. Disebut juga dengan lengkung refleks ipsilateral monosinaptik, atau
dua neuron. Monosinaptik berarti hanya ada satu sinaps yang terjadi antara
neuron sensorik dan neuron motorik. Istilah ipsilateral berarti bahwa kedua
neuron berterminasi di sisi yang sama pada tubuh.
Refleks patellar, atau knee-jerk, merupakan salah satu contoh reflex
peregangan yang dipakai dalam pemeriksaan neurologis. Jika tendon patellar
diketuk, spindle otot (reseptor sensorik) pada otot kuadriseps tungkai akan
mengirim impuls melalui badan sel neuron sensorik (terletak dalam radiks
dorsal ganglia) menuju substansi abu-abu medulla spinalis. Neuron sensorik
bersinapsis dengan neuron motorik, yang mentransmisi impuls ke kuadrisep
tungkai, mengakibatkan kontraksi otot dan ekstensi tungkai pada lutut.
Refleks peregangan, disebut juga refleks miotatik, tendon, atau reflex
proprioseptif, penting untuk mempertahankan postur tubuh.

Gerak refleks dapat terjadi ketika reseptor berespon terhadap suatu


stimulus yang membentuk suatu potensial aksi yang kemudian diintegrasikan
oleh medulla spinalis melalui jalur aferen ke efektor melalui jalur eferen, di
mana jalur antara reseptor dan efektor adalah sama. Ketika impuls memasuki
medulla spinalis, neuron aferen yang membawa impuls akan menyebar dan
bersinaps dengan antarneuron yang berbeda beda yakni antarneuron
eksitatorik, antarneuron inhibitorik, dan antarneuron lain yang membawa
sinyal dari medulla spinalis ke otak melalui jalur asendens (Sherwood, 2001).
Uji gerak refleks ini dilakukan dengan melakukan pemukulan secara
pelan pada tendon patella, dimana pemukulan tersebut merupakan sinyal
yang dijalarkan melalui serabut saraf tipe Ib ke area lokal medulla, setelah
bersinaps di dalam kornu dorsalis medulla. Sinyal medulla lokal merangsang
suatu interneuron penghambat yang menghambat neuron motorik anterior
sehingga

mencegah

tegangan

pada otot tidak terlalu

besar tanpa

mempengaruhi otot otot di dekatnya (Guyton, 2007). Tendon yang


merupakan

jaringan

yang

menghubungkan

otot dengan

tulang

dan

diselubungi oleh reseptor reseptor sensorik sehingga ketika ada suatu


rangsang otot akan berkontraksi kemudian menarik tulang tempatnya melekat
dan bagian tubuh dekat area tendon yang mendapat rangsang akan
bergerak.
C. Refleks Achilles
Kesimpulan
1. Refleks bisep dan trisep mengalami refleks monosinaps
2. Faktor utama yang mempengaruhi hasil positif dari refleks bisep dan trisep
adalah sumber stimulus kepada OP yang sama
3. Masing-masing respon yang ditimbulkan oleh otot bisep dan trisep saling
berlawanan yaitu otot bisep ke arah dalam dan trisep ke arah luar
4. Semua OP memiliki respon refleks positif
5. Refleks yang paling simpel adalah lengkung refleks ipsilateral
monosinaptik, atau dua neuron, disebut juga refleks peregangan
6. Refleks patellar, atau knee-jerk, merupakan salah satu contoh reflex
peregangan yang dipakai dalam pemeriksaan neurologis
7. Respon positif apabila tendon patella diketuk yaitu akan mengalami
kontraksi otot dan ekstensi tungkai pada lutut
8. Refleks peregangan penting untuk mempertahankan postur tubuh.
Daftar Pustaka

Bauman, Robert. 2001.Human Anatomy and Physiology Laboratory Text


Book.
Blumenthal, Louise. 2007. Atlas Anatomi. Jakarta: Djambatan.
Silverthorn. 2010. Human Physiology : Homeostatis and Control. 5th Ed. San
Fransisco: Pearson.
Sherwood L. 2010. Human Physiology : The Central Nervous System. 7th ed.
Canada: Brooks/Cole Cengange Learning.
Syaifuddin

2009.

Fisiologi

Tubuh

Manusia

Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Untuk

Mahasiswa