Anda di halaman 1dari 13

STUDY KASUS MANUAL PLASENTA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat
derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah
satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium
yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang
akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko
jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah
menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya
untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih
membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.
Angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan yang cukup signifikan
dari tahun 2004 sampai tahun 2007. Di tahun 2007, angka kematian bayi
mencapai 26,9 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu
berkisar 248 per 100 ribu kelahiran. Padahal di tahun 2004, angka
kematian bayi sekitar 30,8 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka
kematian ibu sekitar 270 dari per 100 ribu kelahiran. Depkes menargetkan
pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB
menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup ( Siti Fadilah Supari, 2009).
Hasil Susenas tahun 2005 menunjukkan angka kematian ibu di Provinsi
DIY sebesar 105/100.000 kelahiran hidup, angka ini mengalami penurunan
dibandingkan hasil Susenas sebelumnya, yaitu sebesar 110/100.000
kelahiran hidup (Dinkes DIY, 2005).
Jumlah kematian ibu yang terlaporkan dari pencatatan dan pelaporan
melalui dinas kesehatan tahun 2007 dilaporkan sebesar 34 kasus
kematian dengan perincian kematian pada ibu hamil sebanyak 3 kasus,
kematian ibu bersalin 16 dan kematian ibu nifas sebanyak 15 kasus
(Dinkes DIY, 2008).
Angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup di Provinsi D.I.Yogyakarta
sampai dengan tahun 2007 lebih rendah dari pada target angka nasional.
Hasil pelaporan yang disampaikan melalui Dinas Kesehatan
kabupaten/kota pada tahun 2007 jumlah kematian bayi di propinsi DIY
sebanyak 317 bayi dengan jumlah kematian bayi terbanyak di kabupaten
Kulon Progo (107 kematian bayi) dan terendah di kota yogyakarta (15
kematian bayi) (Dinkes DIY, 2007).
Perdarahan pascapersalinan adalah sebab penting kematian ibu;
kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan
pascapersalinan, placenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik,
abortus, dan ruptura uteri) disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan.
Selain itu, pada keadaan dimana perdarahan pascapersalinan tidak
mengakibatkan kematian, kejadian ini sangat mempengaruhi morbiditas
nifas karena anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh. Perdarahan
pascapersalinan lebih sering terjadi pada ibu-ibu di Indonesia

dibandingkan dengan ibu-ibu di luar negeri. Perdarahan yang disebabkan


karena retensio plasenta dapat terjadi karena plasenta lepas sebagian,
yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas
dari dinding uterus karena Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan
plasenta (plasenta adhesiva), Plasenta melekat erat pada dinding uterus
oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di
bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan
masalah penelitian yaitu bagaimana Asuhan kebidanan pada Ny. T
G1P0A0 hamil 39 minggu dengan Manual Plasenta dan ruftur perinium
derajat I di puskesmas Mergangsang.
B. Ruang lingkup
Ruang lingkup study kasus ini mencakup asuhan kebidanan ibu Bersalin
Ny. T di Puskesmas Mergangsang.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu memahami secara menyeluruh tentang Manual Plasenta dan
ruftur perinium derajat I serta cara pengeluaran manual pasenta dan
penanganan rupture perinium derajat I.
2. Tujuan khusus
1. Mampu memahami yang dimaksud dengan manual plasenta.
2. Mengetahui indikasi manual plasenta
3. Mengetahui langkah-langkah manual plasenta
D. Manfaat
1. Bagi Penulis
Dapat mengaplikasikan teori dan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan
di lapangan praktek dan dapat memberikan asuhan secara komprehensif
pada ibu bersalin dengan dengan ketuban pecah dini dan ruftur perinium
derajat II.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat menjadi kontribusi tambahan
berupa informasi, pengetahuan dan sumbangan pikiran sebagai bahan
referensi guna pengembangan ilmu pengetahuan khususnya kebidanan.
Serta sebagai bahan rujukan
3 Bagi Klinik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsi data pelengkap
guna meningkatkan pelayanan asuhan maternal neonatal essensial dan
komprehensif, dalam rangka usaha penurunan angka kematian ibu dan
angka kematian bayi.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. PERSALINAN

1 Pengertian Persalinan
Menurut Manuaba (1998), Persalinan adalah proses pengeluaran hasil
konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar
kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan
atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Ujiningtyas,S. 2009. Hal 1).
Persalinan normal adalah proses lahirnya janin dengan tenaga ibu sendiri,
tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang pada
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Ujiningtyas,S. 2009. Hal 1).
Persalinan normal menurut Farer (2001) adalah persalinan yang memiliki
karakteristik berikut ini:
a. Terjadi pada kehamilan aterm, bukan prematur ataupun postterm.
b. Mempunyai inset yang spontan, bukan karena induksi
c. Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat onset, bukan
partus presipitatus ataupun partus lama.
d. Janin tunggal dengan presentasi puncak kepala dan oksiput pada
bagian anterior pelvis.
e. Terlaksana tanpa bantuan artifisial.
f. Tidak terdapat komplikasi.
g. Mencakup kelahiran plasenta yang normal.
B. Plasenta Manual
Menurut buku asuhan persalinan normal revisi 2007:
1. Pengertian
Plasenta manual adalah tindakan untuk melepas plasenta secara manual
(menggunakan tangan) dari tempat implantasi dan kemudian
melahirkannya keluar dari kavum uteri. Pada umumnya ditunggu sampai
30 menit dalam lahirnya plasenta secara spontan atau dgn tekanan ringan
pada fundus uteri yang berkontraksi. Bila setelah 30 mnenit plasenta
belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu
menunggu terjadi perdarahan yang banyak, pasenta sebaiknya
dikeluarkan dengan segera.
2. Penatalaksanaan plasenta manual
a. Persiapan
1) Pasang set dan cairan infus
2) Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan
3) Lakukan anestesi verbal/analgesia per rectal
4) Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi
b. Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri
1) Pastikan kandungan kemih dalam keadaan kosong
2) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva
3) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan
menghadap kebawah) kedalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali
pusat
4) Setelah mencapai bukaan servikk, minta seseorang asisten/penolong
lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar
untuk menahan fundus uteri.
5) Sambil menahan fundus uteri. Masukkan tangan dalam hingga

kekavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.


6) Bentakan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi salam (ibu
jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling merapat).
c. Melepas plasenta dari dinding uterus
1) Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling .
2) Setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus
maka perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke
kanan dan kiri sambil digeserkan ke atas (kranial) hingga semua
perlekatan plasenta terlepas dari dinding uterus.
d. Mengeluarkan plasenta
1) Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi
untuk menilai tidak ada sisa plasenta yang tertingga.
2) Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simpisis (tahan segmen
bawah uterus) kemudian instruksikan asisten/penolong untuk menarik tali
pusat sambil tangan dalam membawa plasenta keluar (hindari terjadinya
percikan darah).
3) Lakukan penakanan (dengan tangan yang menahan suprasimpisis)
uterus ke arah dorsokranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan
plasenta di dalam wadah yang telah disediakan .
e. Pencegahan infeksi pasca tindakan
1) Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lain
yang digunakan
2) Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya di dalam
larutan klorin 0,5 % selama 10 menit
3) Cuci tangan
4) Keringkan tangan dengan handuk bersih
f. Pemantauan pasca tindakan
1) Periksa kembali tanda vital ibu
2) Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan
3) Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan
asuhan lanjutan
4) Beritahu pada ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai
5) Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan sebelum
dipindah ke ruang rawat gabung .
C. Ruftur Perinium
1. Devinisi
Robekan yang terjadi pada perinium sewaktu perslinan baik akibat
episiotomi maupun tidak. Berikut adalah klasifikasi derajat laserasi
perineum :
Tabel 2.3
Derajat laserasi Diskripsi laserasi perineum.
Robekan derajat satu Hanya mengenai kulit.
Robekan derajat dua Mengenai kulit dan otot, bisa kecil atau ekstensif.
Robekan derajat tiga Mengenai kulit, otot, dan melebar ke sfingter ani.
Sultan (2002) membagi lagi menjadi :
3a : Robekan parsial sfingter ani mengenai kurang dari 50% ketebalannya

3b : Robekan komplet sfingter ani


3c :Sfingter interna juga robek.
Robakan derajat empat Mengenai kulit, otot dan melebar sampai sfingter
ani dan mukosa rektum.
(chapman, 2002, hal 446)
2. Tujuan Penjahitan Perlukaan Perineum/ Episiotomi ialah :
1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa
terjadi. Proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan
tersebut tetap hasil dari pertumbuhan jaringannya.
2. Untuk menghentikan perdarahan.
3. Tekhnik penginjeksian
Lidocaine 1% adalah cairan anastesi yang dianjurkan untuk penjahitan
episiotomi dan laserasi setelah kelahiran. Lidocaine 2% tidak dianjurkan
oleh karena terlalu tinggi konsentrasinya dan bisa menimbulkan nekrosis
jaringan. Lidocaine dengan epinephrin tidak dianjurkan juga karena akan
memperlambat penyerapan lidocaine dan akan memperpanjang efek
kerjanya. Tak satupun dari kedua efek tersebut diperlukan bagi penjahitan
episiotomi atau laserasi.
Ukuran dan panjang jarum serta banyaknya obat anastesi yang diperlukan
akan bergantung pada laserasinya. Sebuah jarum yang berukuran22
dengan panjang3-4 cm sudah cukup untuk menginjeksikan anastesi ke
dalam luka episiotomi, perluasan laserasi akibat episiotomi, atau robekan
vagina. Akan tetapi, jarum yang berukuran lebih kecil hendaknya dipakai
pula untuk laserasi yang lebih kecil di daerah yang lebih peka. Sebagai
contoh, jarum yang berukuran 25, panjang 2-3 cm akan menjadi pilihan
yang lebih baik untuk menganastesi perlukaan klitoris. Bidan hendaknya
menggunakan kebijakan klinis dalam menentukan jarum mana yang harus
dipakai.
Teknik Penginjeksian Anestesi Adalah :
1. Jelaskan kepada ibu apa yang hendak dilakukan dan bantulah ia agar
rileks.
2. Masukkan jarum pada ujung atau pojok laserasi atau luka dan dorong
masuk sepanjang luka mengikuti garis dimana jarum jahitan akan masuk
atau keluar.
3. Aspirasi dan kemudian injeksikan anestesi tersebut sambil menarik
jarum ketitik dimana jarum masuk.
4. Hentikan penginjeksian anestesi dan belokkan kembali jarum sepanjang
garis lain dimana anda merencanakan akan membuat jahitan.
5. Ulangi proses pemasukan jarum, kemudian aspirasi, dan injeksikan
sambil menarik jarum hingga seluruh daerah yang kemungkinan akan
merasa sakit sudah dianastesi ( PUSDIKNAKES-WHO-JHPIEGO, 2003:Hal
178-179).

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin
Tanggal masuk : 10 juni 2011
Tanggal/ Jam pengkajian : 10 juni 2011/ 03.00 wib
Pengkaji : Eka Riana
Tempat : Puskesmas Mergangsan
1. PENGUMPULAN DATA
A. Data subyektif (S)
1. Identitas Klien Suami
Nama : Ny. Tri Kristianingsih Tn. Winarto
Umur :30 tahun 33 Tahun
Agama :Islam Islam
Suku/bangsa :Jawa Jawa
Pekerjaan :wiraswasta Swasta (sopir)
Alamat rumah : Mrican UH VII/366 Rt 25 Rw 09 Yogyakarta
1. Data Subjektif
a. Alasan Periksa
Ibu datang karena keluhan mules-mules sejak tanggal 10 Juni 2011 pukul
01.00 wib, ada pengeluaran darah lendir sejak pukul 02.00 wib, ada
pengeluaran air merembes sejak jam 02.00 wib.
b. Riwayat Kehamilan Sekarang
Ibu merasa hamil 9 bulan, HPHT 4 September 2010, TP : 11 Juni 2011 usia
kehamilan 39 minggu 6 hari. Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas
Mergangsang dan Dokter Kandungan. Selama hamil ibu mengkonsumsi
tablet Fe, B1 dan B6. Ibu merasakan pergerakan janin pertama kali pada
usia kehamilan 16 minggu sampai saat ini. Tidak ada penyulit kehamilan
ini.
c. Riwayat psikososial
Ibu tenang
d. Riwayat Nutrisi
Pola terakhir makan pukul 20.00 wib dengan porsi satu piring sedang,
jenis nasi, sayur dan lauk pauk.
e. Riwayat Eliminasi
BAK : Frekuens 8x/ hari, warna kuning, bau khas, tidak ada keluhan.
BAB : Frekuensi 1x/hari, terakhir pukul 23.00 wib, tidak ada keluhan.
f. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu:
No. Tanggal
Persalinan Tempat
Persalinan Usia
Kehamilan Jenis
Persalinan Penolong Penyulit/masalah Anak Ket
Hamil Bersalin Nifas JK BB TB
1 2001 Klinik aterm normal Bidan - - - Laki-laki 3000g 49 cm sehat

2 Yang ini
II. Data Objektif
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Composmentis
3. Tanda-tanda Vital : TD : 110/80 mmHg
Nadi : 82x/m
Respirasi : 22x/m
Suhu : 36,2 C
4. BB sebelum hamil : 47 kg, BB sekarang : 59 kg, TB : 164cm.
5. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Rambut : Warna hitam, kulit kepala bersih, tidak ada benjolan, tidak ada
lesi.
Muka : Tidak ada oedem, tidak ada kloasma gravidarum.
Mata : Konjungtiva tidak pucat dan sclera tidak ikterik.
Hidung : Tidak ada polip, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pengeluaran.
Telinga : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pengeluaran,
bersih, fungsi pendengaran baik.
Mulut : Bibir lembab, warna kemerahan, tidak ada stomatis, tidak ada gigi
karies, tidak ada gigi palsu.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran vena
jugularis, tidak ada pembesaran tyroid, refleks menelan baik.
2. Dada
Paru-paru : pergerakan nafas simetris, bunyi pernafasan vesikuler.
Jantung : Bunyi jantung normal, irama teratur
Payudara : bentuk dan ukuran simetris dan puting susu kurang menonjol,
kolostrum ada, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan.
3. Abdomen
Tidak ada luka operasi, linie nigra ada, ada strie, tidak ada lesi, tidak ada
benjolan, tidak ada nyeri tekan.
Palpasi :
Leopold I : TFU :3 jari di bawah px( 33 cm)
Fundus teraba bokong
Leopold II : Kiri teraba bagian-bagian kecil janin
kanan teraba punggung
Leopold III : Bagian terendah teraba kepala
Leopold IV : 4/5 bagian sudah masuk PAP
Denyut jantung janin (+) 138 x/menit, teratur
TBBJ : 3255 gram
His 3-4 x/10 menit, lamanya 25-30 detik, kuat.
4). Anogenitalia
a. Vulva : show ada, tidak ada lesi, tidak ada varises, tidak ada oedem.
b. Anus : tidak ada haemoroid, tidak ada varises.
c. Pemeriksaan dalam pukul 03.00 wib:
Dinding vagina licin Portio lunak,tipis 2 cm, ketuban (-), presentasi

kepala, kepala Hodge II.


5) Extremitas
Ekstremitas atas : tidak ada oedem, tidak ada kepucatan pada kuku,
turgor baik, reflek baik
Ekstremitas bawah : tidak ada oedem, tidak ada kepucatan pada kuku,
turgor baik, tidak ada varises, refleks baik.
III. Assessment
Ibu G2P1A0M0 hamil 39 minggu janin tunggal hidup presentasi kepala,
berada dalam proses persalinan kala I fase laten. Keadaan ibu dan anak
baik.
IV. Planning
1. Menjelaskan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan dan bahwa janin
dalam keadaan baik. Ibu dan keluarga mengerti dan merasa senang.
2. Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda akan melahirkan, seperti
ada dorongan untuk meneran.
3. Mengajarkan ibu teknik relaksasi pernafasan pada saat mules, menarik
nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut: ibu mengerti dan
dapat mengikuti yang telah diajarkan.
4. Menganjurkan ibu untuk tidur miring kekiri.
5. Membantu ibu mengurangi rasa nyeri : mengusap punggung ibu
dengan lembut.
6. Memberikan ibu makan dan minum pada saat mulesnya berkurang : ibu
minum teh manis, air putih dan makan nasi porsi sedang, sayur,lauk pauk
dan buah.
7. Menganjurkan ibu untuk buang air kecil dan tidak menahan jika ingin
kencing: ibu mengikuti yang dianjurkan
8. Menganjurkan pada keluarga untuk menyiapkan perlengkapan ibu dan
bayi: keluarga menyiapkan perlengkapan ibu dan bayi.
9. Mempersiapkan peralatan dan obat-obatan esensial yang diperlukan
selama proses persalinan : peralatan dan obat-obatan siap pakai.
10. Memonitor TD dan suhu tiap 4 jam sekali : hasil pada partograf
11. Memonitor DJJ, nadi, kontraksi tiap 30 menit pada kala I fase aktif :
hasil pada partograf
12. Mengobservasi perubahan serviks dan penurunan kepala janin 4 jam
sekali : hasil pada partograf.
13. Memonitor cairan yang masuk
14. Mencatat hasil temuan pada partograf.
CATATAN PERKEMBANGAN
Tgl/Jam Catatan Perkembangan
10/6/2011
07.00 wib

10/6/2011
07.50 wib
KALA II
I. Data subjektif
- Ibu mengatakan mulesnya semakin sering
- Ibu mengatakan ada rasa ingin meneran
- Ibu ingin BAB
II. Data Objektif
1. Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional
stabil.
2. Anogenitalia : Vulva dan spingter ani membuka
3. Pemeriksaan dalam : portio tidak teraba, lengkap(10 cm), ketuban(-),
presentasi kepala, tidak ada molage, tidak teraba bagian-bagian kecilkecil janin, kepala H III.
III. Assessment
Ibu G2P1 berada dalam proses persalinan kala II. Keadaan ibu dan anak
baik.
IV. Planning
1. Memastikan tanda gejala kala II
2. Memeriksa DJJ dan memastikan janin dalam keadaan baik : DJJ 142x/m
3. Memberitahukan ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap
dan keadaan janin baik : ibu mengerti dan merasa senang.
4. Memeriksa kelengkapan alat dan obat-obatan untuk menolong
persalinan.
5. Memakai alat perlindungan diri.
6. Membantu ibu mencari posisi yang nyaman saat meneran: ibu memilih
posisi setengah duduk.
7. Menganjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan dan
semangat pada ibu : keluarga memberikan semangat pada ibu.
8. Mengajarkan dan membimbing ibu untuk meneran saat ibu merasa ada
keinginan untuk meneran: ibu dapat melakukannya dengan baik dan ibu
meneran saat kontraksi.
9. Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
10. Menganjurkan ibu untuk istirahat jika kontraksinya berkurang.
11. Memberi ibu minum disaat ibu istirahat : ibu minum teh manis.
12. Menilai DJJ setiap 5 menit.
13. Saat kepala bayi 5-6 cm di vulva, meletakkan handuk bersih diatas
perut ibu.
14. Meletakkan underpad dibawah bokong ibu.
15. Memdekatkan set partus dan membukanya.
16. Memakai sarung tangan steril
17. Menahan perinium dengan tangan kanan dan tangan kiri menahan

kepala agar tidak terjadi defleksi terlalu kuat.


18. Memeriksa ada tidaknya belitan tali pusat: tidak ada belitan tali pusat.
19. Menjepit tali pusatdengan klem dari arah pusat bayi, mengurut tali
pusat kearah ibu dan memasang klem 2cm dari klem yang pertama.
20. Memotong tali pusat diantara dua klem dan tangan kiri melindungi
perut bayi dari guntingan.
Bayi lahir spontan tanggal 10 Juni 2011 pukul 07.50 wib, Anak laki-laki
hidup, A/S: 9/10, BB: 3400gr, PB: 49, LK: 33 cm, LD: 32 cm, kelainan (-).

1-6-2011
07.50 wib

10/6/2011
08.05 wib

10/6/2011
08.20 wib KALA III
I. Data Subjektif
- ibu merasa senang karena bayinya telah lahir dengan selamat.
- Ibu merasa lelah setelah melahirkan.
- Ibu mengatakan perutnya masih teras mules.
II. Data Objektif
Keadaan umum : baik

TFU : 1 jari di bawah pusat


Kontraksi uterus : Baik
Kandung Kemih : Tidak Penuh
Perdarahan : 50 cc
III. Assesment
Ibu P2 A0M0 berada dalam proses persalinan kala III. Keadaan ibu dan
anak baik
IV. Planning
1. Memastikan lagi bahwa tidak ada janin ke dua: Tidak ada janin ke dua.
2. Melakukan manajement aktif kala III :
a. Memberikan injeksi oksitosi 10 iu pada 1/3 paha bagian luar.
b. Melakukan penegangan tali pusat terkendali : Plasenta belum lahir
(08.05)
c. Injeksi aksotosin ke 2 (10 IU) IM
d. Melakukan penegangan tali pusan terkendali sambil masase fundus
uteri oleh dokter kandungan.
e. Melakukan manual plasenta:
Plasenta lahir lengkap, pukul 08.20 wib
f. Melakukan masase fundus uteri 15 kali selama 15 detik setelah plasenta
lahir : kontraksi uterus baik.
g. Dilakukan pemasangan IUD Post Plasenta
h. Melakukan injeksi methergin 0,2 mg (IM).
3. Memeriksa kelegkapan plasenta :
a. plasenta lengkap dan segar.
b. Panjang : 20 cm
c. Lebar : 18 cm
d. Tebal : 2 cm
e. Berat : 400 gr
f. Insersi tali pusan : marginalis
g. Panjang tali pusat: 50 cm
4. memeriksa laserasi jalan lahir : perinium rufture derajad I.
5. mengobservasi perdarahan, TFU, kontraksi uterus, dan kandung kemih
selama 2 jam setelah melahirkan.
23-12-09
KALA IV
I. Data Subjektif
ibu mengatakan perutnya masih terasa mules
II. Data Objektif
a. Keadaan umum : Baik
b. Kontraksi uterus : Baik
c. Tinggi Fundus Uteri : 2 jari di bawah pusat.
d. Perdarahan : 50 cc
e. Kandung kemih : tidak penuh
III. Assesment
Ibu P2A0M0 berada dalam proses persalinan kala IV.

IV. Planning
a. menyiapkan peralatan heating : alat sudah siap
b. Melakukan penjahitan perineum satu-satu.
c. Membereskan peralatan bekas pakai dan merendamnya ke dalam
larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
d. Membersihkan ibu dan membantu ibu memakai pakaian bersih dan
pembalut : ibu sudah memakai baju, kain, pembalut dan celana dalam.
e. Mengajarkan ibu masase fundus uteri. : ibu mengerti dan dapat
melakukannya.
f. Menganjurkan ibu untuk istirahat : ibu istirahat.
g. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini : ibu baring miring kekiri.
h. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum seperti biasa: ibu mengerti.
i. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya: ibu
bersedia.
j. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri dan bayinya.
k. Menjelaskan kepada ibu tentang perawatan perineum/ daerah bekas
jahitan. : ibu mengerti.
l. Menjelaskan kepada ibu tentang tanda bahaya masa nifas : ibu mengerti
m. Mengobservasi, TFU, Kontraksi uterus, perdarahan, dan kandung kemih
selama 2 jam.
n. Melengkapi partograf.
o. Terapi : Amoxilin : 3x 500 g, Asam mefenamat 3x 500 g, sf 1x1 tab,
betadhin dan kassa untuk perawatan perinium.