Anda di halaman 1dari 21

AKUNTANSI PEMERINTAHAN

STRUKTUR DAN KLASIFIKASI ANGGARAN NEGARA

NAMA KELOMPOK V :
1.
2.
3.
4.
5.

NI WAYAN NINA RESNIARI


I WAYAN YUDI WISNAYA NEGARA
NI KADEK NOVIA AYU WIRYANI
NI MADE SANTI MARDIANINGSIH
NOVI AYUK DEWI SARTIKA

(1215644034)
(1215644054)
(1215644070)
(1215644098)
(1215644106)

PROGRAM STUDI D4 AKUNTANSI MANAJERIAL


JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI BALI
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anggaran negara adalah urat nadi bagi suatu negara dalam menjalankan
pemerintahan. Di Indonesia anggaran negara setiap tahun disusun dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN secara filosofi adalah
perwujudan dari kedaulan rakyat sehingga penetapannya dilakukan setiap tahun
dengan Undang-Undang. APBN pada dasarnya sebagai bentuk kepercayaan rakyat
kepada pemerintah untuk mengelola keuangan negara sehingga pengelolaanya
diharapkan dapat memenuhi syarat akuntabilitas, transparan, dan kewajaran.
Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dai pengelolaan
keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang undang dan
dilaksanakan secara terbuka dan tanggung jawab untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Pembuatan anggaran dalam organisasi sektor publik terutama pemerintah
merupakan suatu proses yang cukup rumit dan mengandung muatan politis yang
cukup signifikan berbeda dengan penyusunan anggaran di perusahaan swasta yang
muatan politisnya relatif lebih kecil. Kebijakan penerimaan dan belanja negara
harus mempunyai komitmen utama dalam rangka menciptakan keadilan bagi
masyarakat. Penerimaan dan belanja negara pada dasarnya harus diarahkan pada
peningkatan kualitas kehidupan rakyat bukan orientasi untuk melanggengkan
kekuasaan. Penerimaan dan belanja negara sepantasnya mengakomodir kebutuhan
riil rakyat seperti pemenuhan kebuuhan pokok.
Begitu pentingnya belanja negara untuk kehidupan masyarakat, maka
penyerapan anggaran belanja negaa diharapkan dilaksanakan secara cepat, efektif,
efisien, transparan dan akuntabel. Penyerapan anggaran yang tidak maksimal dan
lambat menyebabkan pelayanan publik pemerintah kepada masyaraka menjadi

terhambat dan fungsi sebagai instrumen kebijakan fiskal terutama untuk stimulus
perekonomian menjadi tidak efektif.
Jangankan sebuah negara, sebuah rumah tanggapun harus menganggarkan
penerimaan dan belanja negara secara efektif dan efisien. Mungkin tidak terlalu
jadi masalah jika pengeluaran lebih sedikit dari pendapatannya. Tetapi akan
menjadi masalah yang cukup besar apabila pengeluaran jauh lebih banyak dari
pendapatannya.

B. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk dapat mengurikan struktur anggaran Negara
2. Untuk mengetahui komponen-komponen dari anggaran Negara di Indonesia
3. Untuk mengetahui klasifikasi anggaran Negara di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Anggaran Negara


Anggaran secara umum dapat diartikan sebagai rencana keuangan yang
mencerminkan pilihan kebijaksanaan untuk suatu periode dimasa yang akan
datang. Dalam pengertian umum ini, tercakup baik anggara Negara maupun
anggaran untuk lembaga-lembaga lainnya. Khusus mengenai anggaran Negara
John F. Due (1975) secara terinci memberikan penertian sebagai berikut :
Anggaran Negara adalah suatu pernyataan tentang perkiraan pengeluaran
dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa depan,
serta data dari pengeluaran dari penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi dimasa
yang lalu.

B. Struktur Anggaran
Struktur anggaran mencerminkan pengelompokkan komponen-komponen
anggaran berdasarkan suatu kerangka tertentu. Disamping mencerminkan system
penganggaran, pengelompokkan komponen-komponen anggaran berdasarkan
suatu kerangka tertentu ini sangat penting artiya dalam memudahkan proses
pengelolaan anggaran. Berdasarkan strukturnya ini, maka anggaran dapat
dibedakan menjadi : anggaran terpilah (the devided budget), dan anggaran
komprehensif (the comprehensive budget).
1. Anggaran Terpilah

Dalam anggaran terpilah, komponen anggaran dipisahkan secara tajam


menjadi anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Yang dijadikan sebagai
kriteria dalam melakukan pemilahan itu adalah :
a. Jangka waktu pelaksanaan kegiatan.
Barang dan jasa yang diperoleh dan dikonsumsi di dalam satu periode
akuntansi atau satu tahun anggaran, diklasifikasikan sebagai anggaran
rutin.

b. Kemungkinan suatu kegiatan untukmendatangkan penerimaan


Negara.
Dalam hal ini juga diharapkan proyek tersebut dapat dibiayai baik
seluruhnya atau sebagian dari proyek itu sendiri. Kriteria ini sangat
berguna apabila dihubungkan dengan pendanaan suatu kegiatan dengan
pinjaman luar negeri. Walaupun terhadap pinjaman luar negeri ini kita
harus membayar bunga, namun beban tersebut akan lebih murah bila
hasil pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek
yang menghasilkan penerimaan Negara di kemudian hari.
c. Jumlah uang yang digunakan.
Merupakan hal yang wajar untuk memasukkan suatu kegiatan yang
biayanya melampaui suatu jumlah tertentu ke dalam anggaran
pembangunan.

Adapun kelebihan anggaran terpilah diantaranya yaitu :


a. Anggaran terpilah memisahkan antara pengeluaran rutin dengan
pengeluaran investasi, maka proses pertanggungjawaban anggaran
dapat dilakukan dengan mudah. Khususnya untuk Negara berkembang.
b. Untuk Negara yang sedang berkembang, bila dana pembangunan
dibiayai oleh dana pinjaman/luar negeri, maka akan memudahkan
memisahkan menurut sumbernya.
c. Alokasi penggunaan pinjaman pemerintah dapat dimonitor dengan
mudah. Misalnya untuk proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan
Negara, akan membantu proses pembayaran kembali bunga dan pokok
pinjaman tersebut tepat pada waktunya.

Adapun kelemahan anggaran terpilah diantaranya yaitu :


a. Sering terjadi ketidakcocokan antara perencanaan dengan para
penyusun anggaran dalam menentukan pengeluaran yang masuk dalam
katagori anggaran rutin dan anggaran pembangunan.
b. Sulit dalam mengkordinasikan antara pengunaan anggaran rutin dan
pembangunan di lapangan.
c. Pemisahan

antara

anggaran

rutin

dann

pembangunan

sering

menimbukan salah anggapan dimana anggaran investasi dianggap


sebagai anggaran pembangunan, sedangkan anggaran rutin bukan
dianggap anggaran pembangunan. Ini semua tidak terlepas dari adanya
pengistimewaan terhadap anggaran pembangunan dari pada anggaran
rutin.
d. Adanya pemisahaan antara anggaran rutin dan anggaran pembangunan
menimbulkan peluang untuk dilakukan penggeseran dana. Dimana
anggaran investasi dapat ditemukan baik di anggaran rutin maupun
pembangunan.

2. Anggaran Komprehensif
Anggaran komprehensif adalah suatu anggaran tunggal yang mencakup
aktifitas pemerintah secara keseluruhan. Dalam anggaran komprehensif ini,
alokasi sumber dana dapat dilakukan secara lebih rasional yaitu dengan cara
mengevaluasi sumber dana dan penggunaannya secara menyeluruh. Dengan
demikian segala kekurangan anggaran terpilah dapat diatasi dengan baik
melalui anggaran komperhensif.
Adapun kelemahan dari anggaran komprehensif yaitu :

a. Anggaran tambahan dan perubahan yang biasanya digunakan untuk


mendukung pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlihat pada waktu
penyusunan anggaran komprehensif,
b. Menyediakan peluang untuk mengalokasikan sejumlah dana guna
membiayai perubahan-perubahan kebijaksanaan yang belum mendapat
persetujuan dari legislatif.
c. Negara berkembang dengan system federal, transaksi dari pemerintah
daerah sukar sekali dimasukkan ke dalam suatu anggaran nasional.
Sehingga anggaran untuk pemerintah daerah mengalami kesulitan
dalam konsolidasinya ke dalam anggaran nasional.
d. Kemungkinan

terjadinya

anggaran

yang

berulang

(repetitive

budgeting).

C. Struktur dan Komponen APBN-RI


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana
keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat
rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1
Januari - 31 Desember). Perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap
tahun ditetapkan dengan Undang-Undang.
Struktur APBN-RI dengan mudah dapat dikelompokkan sebagai struktur
anggaran terpilah. Komponen APBN terbagi atas anggaran rutin dan anggaran
pembangunan, baik pada sisi penerimaan, maupun pada sisi pengeluaran.
1. Anggaran Penerimaan
Besaran pendapatan negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
indikator ekonomi makro yang tercermin pada asumsi dasar makro ekonomi,

kebijakan

pendapatan

Negara,

kebijakan

pembangunan

ekonomi,

perkembangan pemungutan pendapatan negara secara umum, kondisi dan


kebijakan lainnya.
Contohnya, target penerimaan negara dari SDA migas turut dipengaruhi
oleh besaran asumsi lifting minyak bumi, lifting gas, ICP, dan asumsi nilai
tukar. Target penerimaan perpajakan ditentukan oleh target inflasi serta
kebijakan pemerintah terkait perpajakan seperti perubahan besaran pendapatan
tidak kena pajak (PTKP), upaya ekstensifikasi peningkatan jumlah wajib pajak
dan lainnya.
Dalam garis besarnya unsur-unsur penerimaan Negara dapat dikelompokkan
atas dua kelompok besar sebagai berikut :
a. Penerimaan Dalam Negeri
Penerimaan dalam negeri dapat berupa penerimaan bumi dan gas
alam (migas) dan penerimaan diluar minyak bumi dan gas alam
(nonmigas). Penerimaan minyak bumi dan gas alam adalah penerimaan
Negara yang berasal dari penghasilan pajak bagi hasil perusahaanperusahaan pertambangan minyak bumi dan gas alam, serta dari pajak
ekspor minyak bumi dan gas alam yang bersangkutan.
Sedangkan penerimaan diluar minyak bumi dan gas alam terdiri
dari dua unsur :
1) Penerimaan-penerimaan yang berasal dari hasil pemungutan pajak
selain pajak migas.
a) Penerimaan pajak dalam negeri, dapat berupa

Pendapatan pajak penghasilan (PPh)

Pendapatan pajak pertambahan nilai dan jasa dan pajak


penjualan atas barang mewah

Pendapatan pajak bumi dan bangunan

Pendapatan cukai

Pendapatan pajak lainnya

b) Pendapatan Pajak Internasional

Pendapatan bea masuk

Pendapatan bea keluar

2) Penerimaan-penerimaan bukan pajak dan laba bersih minyak. Bila


peerimaan pajak terdiri dari tujuh unsure sebagai berikut :
a) Penerimaan rutin luar negeri, yaitu penerimaan yang berasal
dari perwakilan-perwakilan RI di luar negeri
b) Penerimaan pendidikan, yaitu penerimaan yang dipungut oleh
satuan organisasi dalam lingkungan departemen pendidikan
dan kebudayaan.
c) Penerimaan jasa, yaitu penerimaan penerimaan yang antara
lain berasal dari hasil penyewaan benda-benda tak bergerak
serta penerimaan rumah sakit.
d) Pendapatan bunga
e) Penerimaan kejaksaan dan pengadilan.

f) Penerimaan penjualan, yaitu penerimaan yang antara lain


berasal dari hasil penjualan kendaraan dan rumah.
g) Penerimaan kembali dan penerimaan lain, yaitu penerimaan
yang berasal dari penagihan kembali kerugian Negara,
gratifikasi, uang sitaan hasil korupsi dan penerimaan
penggantian dokumen hilang.
h) Pendapatan iuran dan denda.
i) Penerimaan khusus, yaitu penerimaan yang berasal dari laba
BUMN dan lembaga-lembaga keuangan milik Negara.
j) pendapatan BLU (Badan Layanan Umum), yaitu pendapatan
jasa layanan umum, pendapatan hibah badan layanan umum,
pendapatan hasil kerja sama BLU, pendapatan BLU lainnya
b. Penerimaan Luar Negeri.
Penerimaan luar negeri dapat berupa bantuan program dan
bantuan proyek. Yang disebut bantuan program adalah penerimaan
Negara dalam bentuk pinjman atau utang luar negeri yang diterima
berupa uang. Sedangkan yang dimaksud dengan bantuan proyek adalah
penerimaan Negara dalam bentuk pinjaman atau utang luar negeri yang
diterima berupa barang dan jasa.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
anggaran penerimaan pada dasarnya dapat dirinci kedalam lima unsur
penerimaan utama sebagai berikut :
1) Penerimaan minyak bumi dan gas alam
2) Penerimaan pajak

10

3) Penerimaan bukan pajak


4) Bantuan program
5) Bantuan proyek

2. Anggaran Pengeluaran
Anggaran pengeluaran dalam garis besarnya juga juga dikelompokkan
kedalam dua kelompok utama yaitu:
a. Pengeluaran Rutin
Yang dimaksud dengan pengeluaran rutin adalah pengeluaran
yang ditujukan untuk membiayai kegiatan sehari-hari pemerintah.
Pengeluaran rutin dapat dipilah menjadi pengeluaran operasi dan
pengeluaran konsumsi, yang bersifat mutlak.
Pengeluaran rutin secara terinci dapat dikelompokkan kedalam
unsur pengeluaran sebagai berikut :
1) Belanja pegawai

: adalah

pengeluaran

yang

merupakan

kompensasi terhadap pegawai baik dalam bentuk uang atau


barang, yang harus dibayarkan kepada pegawai, pemerintah
dalam maupun luar Negeri baik kepada pejabat Negara, pegawai
negeri sipil dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang
belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksanakan,

kecuali

pekerjaan

yang

berkaitan

dengan

pembentukan modal.
2) Belanja barang : adalah pengeluaran untuk menampung
pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi

11

barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan


serta pengadaan barang yang dimaksudkkan untuk diserahkan
atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. Belanja ini
terdiri dari belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan, dan
belanja perjalanan dinas.
3) Subsidi daerah otonom : pengeluaran atau alokasi anggaran yang
diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk
memproduksi, menjual, mengekspor atau mengimpor barang dan
jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak yang harga
jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.
4) Bunga / cicilan utang : pengeluaran pemerintah untuk
pembayaran bunga yang dilakukan atas kewajiban penggunaan
pokok utang baik utang dalam negeri maupun luar negeri yang
dihitung berdasarkan posisi pinjaman jangka pendek atau jangka
panjang. Jenis belaja ini khusus digunakan dalam kegiatan dari
bagian anggaran pembiayaan dan perhitungan.
5) Pengeluaran rutin lainnya
Bila dibandingkan dengan jumlah penerimaan dalam negeri, maka
pemerintah selalu mengusahakan agar penerimaan dalam negeri lebih
besar jumlahnya daripada pengeluaran rutin.selisish lebih penerimaan
dalam negeri terhadap pengeluaran itulah kemudian dikenal sebagai
gabungan pemerintah (saving)
b. Pengeluaran pembangunan
Pengeluarn pembangunan adalah pengeluaran pemerintah yang
bersifat investasi, dan ditujukan untuk melaksanakan tugas pemerintah
sebagai salah satu pelaku pembangunan. Bentuk dri pengeluaranpengeluaran ini dapat berbentuk proyek-proyek fisik seperti :

12

1) Pembangunan jalan
2) Pembangunan jembatan
3) Pembangunan gedung-gedung
Sedangkan proyek-proyek non fisik dapat berupa :
1) Pendidikan
2) Penataran
3) Loka karya
4) Seminar
Pengeluaran pembangunan secara terinci meliputi pembiayaan rupiah
dan bantuan proyek. Bila jumlah batuan proyek pada sisi penerimaaan
selalu sama dengan sisi pengeluaran, maka pembiayaan rupiah adalah
hasil penjumlahan antara tabungan pemerintah dengan bantuan
program.

13

D. Klasifikasi Anggaran
Klasifikasi anggaran terutama ditujukan untuk keperluan-keperluan sebagai
berikut :
1. Untuk memudahkan proses perumusan sasaran program-program yang
hendak dilakukan.
2. Untuk memudahkan proses formulasi penerimaan dan pengeluaran secara
kuantitatif.
3. Untuk memudahkan pelaksanaan anggaran.
4. Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan program-program yang
dibiayai dengan anggaran.
5. Untuk memudahkan pelaksanaan analisa ekonomi.
6. Untuk memudahkan pemeriksaan terhadap realisasi anggaran.
7. Untuk memudahkan pelaksanaan evaluasi terhadap pencapaian sasaransasaran yang telah digariskan.

Sedangkan bentuk pengklasifikasiannya dalam garis besarnya dapat


dibedakan berdasarkan beberapa pendekatan sebagai berikut :
1. Klasifikasi Organik dan Objek
Klasifikasi organik dan objek sebenarnya merupakan dua bentuk
pengklasifikasian anggaran yang berbeda. Dalam klasifikasi organik, anggaran
dikelompok-kelompokkan berdasarkan departemen atau lembaga Negara.
Kemudian sebagai kelanjutan dari klasifikasi organik, setiap pengguna uang

14

mengklasifikasikan pengeluarannya sesuai dengan objek atau jenis pengeluaran


seperti: gaji, biaya perjalanan, pembelian alat dan bahan, dll.
Tujuan utama dari klasifikasi berdasarkan jenis pengeluaran adalah untuk
menyeragamkan standar pengawasan dan pertanggungjawaban pada berbagai
tingkat manajemen.

15

Beberapa kelemahan jika klasifikasi ini digunakan tanpa disertai dengan


metode klasifikasi lainnya :
a. Klasifikasi jenis ini hanya menekankan perhatiannya pada pengeluaran
secara individual, tapi mengabaikan pelaksanaan program secara
keseluruhan.
b. Seringkali sangat sulit membuat klasifikasi yang benar-benar tepat bagi
semua unit organisasi. Sebagai misaal, pembelian bahan dan alat-alat
oleh departemen Kesehatan mungkin dimasukkan ke dalam catatan
yang

berbeda

dengan

departemen

pekerjaan

umum,

sehingga

perbandingan jenis pengeluaran tertentu antar unit organisasi tidak


dapat dilakukan karena perbedaan persepsi mengenai jenis pengeluaran
yang bersangkutan.

2. Klasifikasi Fungsional
Klasifikasi fungsional biasanya digunakan untuk menunjukkan tujuan
umum yang hendak dicapai oleh pengeluaran pemerintah. Dengan klasifikasi
fungsional ini, maka cakrawala pengalokasian dan pengkajian keputusan yang
berkaitan dengan anggaran diharapkan dapat diperluas.
Kelemahan dari sistem ini adalah : walaupun sebagian besar pengeluaran
pemerintah dapat dibagi ke dalam berbagai kegiatan fungsional, akan tetapi
kadang-kadang diperlukan pertimbangan khusus dalam mengevaluasi berbagai
kegiatan fungsional tersebut.
Contoh

untuk

pengeluaran

sekolah

tinggi

pertanian,

biasanya

diklasifikasikan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan, bukan pertanian,


sedangkan akademi militer diklasifikasikan sebagai bagian dari kegiatan
pertahanan keamanan, bukan pendidikan.
16

3. Klasifikasi Ekonomi
Dalam klasifikasi ekonomi ini, anggaran diklasifikasikan sedemikian rupa
sehingga menyajikan informasi yang berguna bagi proses pengambilan
keputusan ekonomi. Hal-hal yang perlu diketahui oleh pemerintah dalam
mengelola perekonomian misalnya adalah: perbandingan alokasi anggaran
untuk belanja konsumsi dan untuk pengadaan sarana yang bersifat
meningkatkan produksi, dampak anggaran terhadap pendapatan, dampak
anggaran terhadap penyediaan lapangan kerja, dan lain sebagainya.
Kelemahan dari sistem ini adalah : terletak pada keterbatasan data
pendukung, khususnya di Negara-negara berkembang. Oleh karena itu pada
tahun 1955, PBB pernah mengusulkan agar penggunaan klasifikasi ini dibatasi
pada hal-hal pokok yang berkaitan dengan proses pengambilan kebijaksanaan,
dan disesuaikan dengan keterbatasan yang ada.

4. Klasifikasi Berdasarkan Program


Dibandingkan dengan klasifikasi yang lain, klasifikasi berdasarkan program
ini lebih memusatkan perhatiannya terhadap barang dan jasa yang dihasilkan.
Yang dimaksud dengan program dalam hal ini adalah serangkaian kegiatan
yang dimulai sejak penyiapan barang dan jasa secara intern, sampai dengan
penyerahannya kepada pihak ekstern.

5. Klasifikasi Terpadu
Dalam perkembangnnya, klasifikasi anggaran Indonesia secara berangsurangsur dilengkapi dengan klasifikasi berdasarkan fungsi dan berdasarkan

17

karakteristik ekonomi. Sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini Indonesia


menganut klasifikasi terpadu.
Klasifikasi atas sistem ini merupakan perpaduan dari beberapa system
klasifikasi

yang

dianggap

memadai.

Bila

ditelusuri

perkembangan

pengklasifikasian anggaran di Indonesia maka dapat dikatakan bahwa kegiatan


ini baru secara resmi dimulai sejak tahun 1960, yaitu ketika anggaran dapat
dikelompokkan ke dalam empat kategori dengan klasifikasi anggaran Indonesia
secara berangsur-angsur dilengkapi dengan klasifikasi berdasarkan fungsi dan
ekonomi. Sehingga Indonesia menganut system klasifikasi terpadu.

18

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Anggaran Negara adalah suatu pernyataan tentang perkiraan pengeluaran
dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di masa depan,
serta data dari pengeluaran dari penerimaan yang sungguh-sungguh terjadi dimasa
yang lalu
Berdasarkan strukturnya, maka anggaran dapat dibedakan menjadi :
anggaran terpilah (the devided budget), dan anggaran komprehensif (the
comprehensive budget).
Struktur APBN-RI dengan mudah dapat dikelompokkan sebagai struktur
anggaran terpilah. Komponen APBN terbagi atas anggaran rutin dan anggaran
pembangunan, baik pada sisi penerimaan, maupun pada sisi pengeluaran.
Klasifikasi anggaran terutama ditujukan untuk keperluan-keperluan sebagai
berikut Untuk memudahkan proses perumusan sasaran program-program yang
hendak dilakukan, Untuk memudahkan proses formulasi penerimaan dan
pengeluaran secara kuantitatif, Untuk memudahkan pelaksanaan anggaran, Untuk
meningkatkan efektivitas pelaksanaan program-program yang dibiayai dengan
anggaran, Untuk memudahkan pelaksanaan analisa ekonomi, Untuk memudahkan
pemeriksaan terhadap realisasi anggaran, Untuk memudahkan pelaksanaan
evaluasi terhadap pencapaian sasaran-sasaran yang telah digariskan.
Sedangkan bentuk pengklasifikasiannya dalam garis besarnya dapat
dibedakan berdasarkan beberapa pendekatan yaitu Klasifikasi Organik dan Objek,
Klasifikasi Fungsional, Klasifikasi Ekonomi, Klasifikasi Berdasarkan Program,
Klasifikasi Terpadu.

19

DAFTAR PUSTAKA
Hapsoro, Dody. 2001. Akuntansi Pemerintahan. Penerbit Gunadharma :
Yogyakarta
http://dolphinbluelaffers.blogspot.co.id/2011/05/struktur-klasifikasi-anggaran.html
http://mugnisulaeman.blogspot.co.id/2013/01/makalah-anggaran-pendapatan-danbelanja.html
http://id.wikipedia.org/
Purnastuti, Losina, 2003. Ekonomi untuk kelas XI SMA/MA. Jakarta : Idah
Mustikawati

20

Anda mungkin juga menyukai