Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pada saat obat ditelan dan masuk ke dalam saluran pencernaan yaitu lambung, ada
beberapa obat yang dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi
mukosa lambung. Obat-obat ini perlu dilapisi dengan salut enterik untuk melindungi inti
tablet sehingga tidak hancur pada lingkungan asam lambung, mencegah kerusakan bahan
aktif yang tidak stabil pada pH rendah, melindungi lambung dari efek iritasi dari obat
tertentu dan untuk memfasilitasi penghantaran obat yang diabsorpsi di usus (Aulton, 1988).
Tablet lepas uunda (enteric coating bablet) atau tablet salut enterik adalah tablet
konvensional yang disalut dengan polimer tertentu. Tablet ini ditujukan untuk melarut dalam
saluran cerna usus halus dan pelepasan obat yang tertunda. Tantangan dan masalah yang
dihadapi selanjutnya adalah dalam pemilihan pelarut. Tablet ini memberikan keuntungan jika
obat tertentu rusak dalam pH asam. Obat-obat yang tidak stabil dalam asam lambung antara
lain obat-obat azol seperti Omeprazol, dan lain-lain. Tablet ini memiliki karakteristik
tertentu yang mengharuskan tablet tersebut harus di salut. Berbagai syarat bahan yang
dibutuhkan untuk dilakukan penyalutan dan berbagai alasan mengapa suatu tablet harus
dilakukan penyalutan. Ada beberapa macam tablet salut yang akan di bahas dalam makalah
ini. Begitu pula berbagai teknik-teknik penyalutan yang akan dibahas di dalam makalah ini.
Yang akan di bahas pula adalah Tablet Salut Enterik.
I.II Tujuan dari tablet dibuat enteric coating antara lain :
1. Menunda pelepasan obat di tempat aksi yang dituju, umumnya di usus halus.
2. Melindungi lambung dari obat-obat yang bersifat iritan.
3. Melindungi obat-obatan yang tidak stabil dalam saluran cerna.
4. Menghindari bau dan rasa obat yang tidak enak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi Lambung dan Usus Halus
Saluran pencernaan (digestive tract) terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjarkelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terbagi menjadi dua bagian, yaitu saluran
percernaan bagian atas yang terdiri atas mulut, tenggorokan, kerongkongan, dan esophagus.
Sementara saluran pencernaan bagian bawah terdiri atas lambung, usus halus, usus besar,
rektum dan anus. Pada saluran cerna bagian bawah terdapat lambung dan usus halus yang
berkaitan dengan tablet salut enterik, dikarenakan tablet salut enterik merupakan tablet yang
disalut dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur di lambung melainkan di usus halus,
supaya tablet dapat melewati lambung dan hancur serta diabsorpsi di usus (Ansel, 1989).
II.1.1 Lambung
Setelah makanan melewati kerongkongan kemudian
makanan menuju ke lambung. Sebelah dalam lambung
dilapisi oleh epithelium yang mengandung kelenjarkelenjar pencernaan. Kelenjar pencernaan pada lambung ini
akan menghasilkan suatu senyawa yaitu getah lambung. Di
getah lambung ini mempunyai kandungan-kandungan
sebagai berikut:
1. HCl
Kadar HCl dalam getah lambung adalah 0,5 % dari total getah lambung. HCl
berfungsi sebagai desinfektan atau pembunuh kuman dan mengubah pepsinogen
menjadi pepsin. HCl juga dapat merangsang usus, hati dan pankreas untuk
mencerna makanan. Enzim pepsin yang dihasilkan dari pemecah pepsinogen akan
mencerna protein menjadi protein yang lebih sederhana (albuminosa dan pepton).
2. Enzim lipase
Berfungsi untuk mencerna lemak.
3. Hormon Gastrin
Fungsinya untuk mengaktifkan kelenjar-kelenjar pada pencernaan dilambung
melalui proses mekanik dan kimiawi.

Proses mekanik yang terjadi di otot lambung mengerut dan mengembang


dengan gerakan seperti meremas untuk mencampur makanan dengan getah lambung.
Sedangkan proses kimiawi dilakukan oleh getah lambung. Selanjutnya makanan yang
sudah dicerna oleh lambung yang disebut kimus atau bubur halus akan meninggalkan
lambung menuju usus halus.
II.1.2 Usus Halus (Intestinum)
Panjang usus halus orang dewasa mencapai 6,3
meter dengan diameter 2,5 cm. Usus halus terbagi
menjadi 3 bagian yaitu usus dua belas jari(duodenum),
usus kosong(jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
a. Usus 12 jari
Usus 12 jari terletak paling dekat dengan lambung. Disebut 12 jari karena
panjangnya kurang lebih 12 kali ruas jari. Sebelum memasuki usus 12 jari, setelah
makanan dicerna oleh lambung, makanan akan melalui jalan keluar lambung
menuju usus 12 jari yang berbentuk kleb yang disebut pylorik. Pylorik ini
berfungsi untuk mengatur jalan makanan menuju usus 12 jari.
b. Jejenum
Setelah makanan melewati usus 12 jari makanan akan masuk ke dalam saluran
intestinum berikutnya, yaitu jejenum atau disebut juga intestinum bagaian tengah.
c. Ileum
Ileum merupakan bagian akhir dari pada intestinum. Dinding dalam usus halus
dilapisi oleh bermiliar-miliar tonjolan mikroskopis menyerupai jari. Tonjolan ini
disebut villi. Kelenjar usus halus menghasilkan getah cerna yang akan mencerna
makanan yang massuk ke dalam usus halus dan menyaring bagian yang dapat
dilewati villi dan mengandung air. Bagian yang diserap usus melalui villi berupa
sari makanan yang masuk ke dalam pembuluh darah untuk selanjutnya diedarkan
ke seluruh tubuh. Zat sisa pencernaan makanan akan dikeluarkan oleh tubuh
melalui rektum atau usus besar kemudian keluar ke anus menjadi feses. Proses
pencernaan pada usus halus hampir sebagian besar dilakukan secara kimiawi.
Adapun getah usus halus tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Enterokinase
Enzim yang mengubah tripsinogen menjadi tripsin.

2. Erepsin
Enzim yang mengubah pepton menjadi asam amino.
3. Maltase
Enzim yang mengubah maltosa menjadi glukosa.
4. Lipase
Enzim yang mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
5. Sekretin
Merupakan hormon pada usus halus yang akan merangsang sekresi enzimenzim pada usus halus.
II.2 Definisi
Tablet adalah sediaan padat yang dibuat secara kempacetak berbentuk rata atau
cembung rangkap, umumnya bulat mengandung satu jenis zat aktif obat atau lebih dengan
atau tanpa zat tambahan. Tablet salut (coated tablet) adalah bentuk sediaan obat (tablet)
dimana tablet disalut (diselubungi) menggunakan gula maupun polimer. Penyalutan tablet
yang merupakan salah satu proses farmasetik yang tertua dan sampai sekarang masih ada dan
terus berkembang.
Pada awalnya, proses penyalutan dilakukan terhadap pil. Proses penyalutan sering
kali diakui merupakan suatu seni dari pada suatu ilmu, ini menjadi salah satu faktor yang
dapat menimbulkan berbagai masalah. Proses penyalutan menggunakan panci farmasetik
didasarkan pada proses yang digunakan dalam industri permen, yang tekniknya berkembang
pesat, bahkan dalam abad pertengahan. Dewasa ini, kebanyakan panci penyalut dibuat dari
baja tahan karat, sedangkan dulu panci dibuat dari tembaga karena pengeringan dilakukan
dengan sumber panas dari luar panci. Pada penyalutan dengan panci konvensional tablet
yang disalut harus dikeringkan menggunakan suplai udara yang dipanaskan. Semetara itu,
kelembapan dan debu dari sekitar panci dihilangkan dengan cara sistem ekstraksi udara.
II.3 Pembagian Tablet Salut
II.3.1. Tablet salut enterik
Tablet salut enterik adalah tablet kempa konvensional disalut dengan bahan seperti
pengikat atau derivat selulosa yang tidak hancur di lambung tetapi larut di usus.
Penyalut dapat dibuat dari bahan yang pH-nya tergantung, tidak larut dalam medium
asam lambung tetapi larut pada lingkungan sedikit asam atau lingkungan basa usus.

Penyalutan ini digunakan jika obat mengiritasi lambung, kerja obat ditujukan pada
usus seperti pada obat cacing (anthelmentika) dan obat dinonaktifkan oleh getah
lambung.
II.3.2. Tablet salut gula
Tablet salut gula adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapisan tipis
berturut-turut dengan larutan sukrosa dengan atau tanpa pewarna. Penyalut ini
berguna karena dapat melindungi bahan obat dengan berperan sebagai barrier
terhadap kelembaban dan udara, menutupi bahan obat yang rasa dan baunya tidak
enak dan memperbaiki penampilan tablet. Salut dapat bervariasi dalam ketebalan dan
warna dari tambahan bahan-bahan celupan ke salut gula.
II.3.3. Tablet salut film
Tablet salut film adalah tablet kempa yang disalut dengan lapisan tipis berwarna tidak
larut air atau tidak berwarna dari larutan bahan polimer yang hancur dengan cepat
dalam saluran pencernaan. Penyalut film memiliki fungsi yang sama dengan salut
gula dengan tambahan keuntungan yang kurang lebih lebih tahan lama. Dimana tablet
yang disalut dengan lapisan yang dimuat dengan cara pengendapan zat penyalut dari
pelarut yang cocok. Lapisan selaput umumnya tidak lebih dari 10% berat tablet. Salut
film sekarang ini adalah metode yang lebih disukai untuk membuat tablet salut. Lebih
ekonomis dan tidak memakan waktu, tenaga, biaya yang minimum dan mendapatkan
tablet tahan panas dan pelarut.
II.3.4. Contoh-Contoh Tablet Salut
Tablet salut gula tablet multivitamin, misalnya Caviplex, Enervon C, Livron bplek, tablet salut selaput/film Cholespar, Ponstan, FCT tablet salut enterik Dulcolax
tablet, Voltaren tablet.
II.4. Tujuan Penyalutan
1.

Untuk menutupi rasa, bau, atau warna obat.

2.

Untuk memberikan perlindungan fisik dan kimia pada obat.

3.

Untuk mengendalikan pelepasan obat dari tablet.

4.

Untuk melindungi obat dari suasana asam lambung, dengan menyalutnya dengan
salut enterik tahan asam.

5. Untuk menggabungkan obat lain atau membantu formula dalam penyalutan


untuk menghindari tidak tercampurnya obat secara kimia atau untuk menjamin
terselenggaranya penglepasan obat secara berurutan.
6.

Untuk memperbaiki penampilan obat dengan menggunakan warna khusus dan


pencetakan kontras.

II.5 Bahan-Bahan yang Harus Disalut


Tablet memiliki banyak bahan-bahan penambah (excipients) yang digunakan dalam
memformulasikannya. Namun, beberapa bahan memiliki karakteristik-karakteristik tertentu
yang mengharuskan tablet dengn bahan tersebut harus dilapisi dengan bahan penyalut.
Adapun bahan-bahan yang harus disalut adalah:
a. Bahan-bahan yang pahit.
Apabila bahan ini disalut maka akan menutupi rasa pahit dari bahan tadi. Sehingga
akan lebih mudah dikonsumsi.
b. Bahan yang rapuh.
Penyalutan akan menutupi bahan yang membuat tablet rapuh. Sehingga akan
menghindarkan tablet dari penampilan yang kurang baik seperti Mottling.
c. Bahan yang dapat mengiritasi lambung.
Dengan penyalut, maka bahan ini tidak akan dipecah di lambung, tetapi akan
dipecah di usus. Sehingga tidak akan mengiritasi lambung lagi.
d. Bahan-bahan yang di inaktifkan oleh asam lambung.
Dengan penyalutan, bahan ini akan dilindungi dari asam lambung yang akan
merusak bahan tersebut. Jadi, jika tablet mengandung bahan-bahan yang ada di
atas, maka seharusnya tablet tersebut harus di berikan penyalutan sehingga akan
memaksimalkan kerja tablet di dalam tubuh.
II.6 Keuntungan dan Kerugian Tablet Salut
Keuntungan tablet salut:
1. Menghindari penguraian obat di lambung,
2. Efek lebih cepat daripada obat yang ditelan,
3. First pass efek metabolism dapat dihindari
4. Menghidari rasa mual akibat menelan obat
5. Lebih stabil

Kekurangan dari tablet salut yaitu:


1. Ukuran dan bobot dari tablet salut jadi mengakibatkan peningkatan biaya pengemasan
dan pengiriman
2. Kerapuhan dari penyalut dapat mengakibatkan rentannya tablet terhadap kerusakan yang
mungkin terjadi jika salah ditangani
3. Penyampaian mutu ekstrik yang tinggi seringkali membutuhkan jasa operator penyalut
yang dengan keterampilan menyalut yang tinggi
4. Pengkilapan akhir yang dicapai dengan suatu tahap pemolesan dapat membuat
pencetakan menjafi sulit
5. Kerumitan prosedur, formulasi, dan proses membuat otomisasi lebih sulit.
II.7 Metode Penyalutan
Proses penyalutan gula yang khas meliputi tujuh tahap utama, yaitu:
1. Penyegelan (sealing)
Kebanyakan formulasi salut yang digunakan dalam proses salut gula adalah akuosa,
sedangkan inti tablet yang berpori dan merupakan absorben kuat diformulasikan untuk
berdisintegrasi dengan cepat jika berkontak dengan air. Salut segel diterapkan langsung
pada inti tablet untuk memisahkan ingredien tablet (terutama zat aktif) dari air (yang
merupakan konstituen utama dari formulasi penyalut) untuk memastikan stabilitas
produk yang baik. Fungsi penyegelan tablet yang kedua adalah memperkuat inti tablet.
Kuantitas bahan yang diterapkan sebagai suatu salut segel akan bergantung terutama
pada tablet dan ukuran bets. Jika permukaan inti tidak dilindungi dengan baik, stabilitas
produk jadi (fisika dan kimia) dapat rusak. Maksud penyegelan adalah memberikan
perlindungan awal dan mencegah ingredien tablet inti bermigrasi ke dalam penyalut, dan
akhirnya merusak penampilan produk jadi. Ada beberapa polimer yang dapat digunakan
sebagai penyalut segel, misalnya selak, zein, hidroksipropilmetil selulosa (HPMC),
polivinil asetat ftalat (PVAP), dan selulosa ftalat asetat (CAP). Polimer tersebut
dilarutkan pada konsentrasi 15-30 % b/b dalam suatu pelarut organic yang sesuai.
Apabila menggunakan polimer yang tidak larut air sebagai dasar untuk formulasi
penyalut segel, gunakan penyalut yang diperlukan dalam jumlah minimal guna memberi
perlindungan yang sesuai. Kalau tidak, karakteristik pelepasan zat aktif dapat
berpengaruh.

2. Penyalut Dasar (Subcoating)


Penyalutan dasar adalah tahap inti pertama dari proses salut gula yang membulatkan
pinggiran tablet dan menambah bobot inti. Salut dasar juga membuat pondasi untuk
proses salut gula yang masih akan dilakukan. Setiap kelemahan dalam salut gula akhir
sering disebabkan oleh kelemahan dalam salut dasar. Untuk mempermudah
pembangunan ini, formulasi salut dasar hampir selalu mengandung pengisi dalam
konsentrasi tinggi, seperti talk, kalsium karbonat, kalsium sulfat, kaolin, dan titanium
dioksida. Selain itu, pembentuk film pembantu seperti akasia, gelatin atau salah satu
turunan selulosa, juga dapat dimasukkan guna menyempurnakan keutuhan struktur salut.
Untuk mencapai hasil yang bermutu, selama penyalutan dasar bahan penyalut harus
menutup sudut tablet dan pinggir tablet secara efektif. Oleh karena itu, seleksi bentuk
tablet yang sesuai harus dilakukan. Bentuk tablet dengan sudut minimal, seperti tablet
yang dikempa pada pons yang sangat cembung atau pons radius dwi rangkap, jelas dapat
membantu penutupan yang efektif. Selain itu, ketebalan pinggiran tablet perlu
diminimalkan. Jika tidak, tablet akan lebih sering menempel dan kemungkinan besar
dapat terjadi penutupan pinggiran yang tidak sempurna oleh subsalut.
3. Pembesaran Dan Pelicinan (grossing dan smoothing)
Untuk membuat suatu produk salut gula yang bermutu, permukaan yang disalut harus
licin dan bebas dari ketidakberaturan sebelum penerapan salut warna. Karna persyaratan
pelicinan dapat dicapai selama penerapan salut dasar (subcoat), proses pelicinan lanjut
(sebelum salut warna) biasanya tidak dilakukan lagi. Salut pelican sederhana terdiri atas
sirop sukrosa 70% dan sering mengandung titanium dioksida (1-5 %) sebagai suatu
bahan pemburam (opacifier) atau zat pemutih dan mungkin juga diwarnai dengan
pewarnaan lain guna memberikan suatu dasar yang baik untuk penerapan salut
berikutnya. Jika diperlukan pelicinan dalam jumlah besar, sebagaimana halnya pada
tablet salut dasar yang mempunyai permukaan berlubang-lubang, zat tambahan lain
(seperti talk, kalsium karbonat dan pati jagung) dapat digunakan dalam konsentrasi
rendah untuk mempercepat proses pelicinan.
4. Penyalutan warna (color coating)

Pewarna yang sesuai dilarutkan dalam sirop penyalut untuk mendapatkan warna yang
diinginkan. Ada dua pendekatan dasar untuk mewarnai sirop salut gula, masing-masing
dengan teknik penyalutan yang berbeda. Kedua pendekatan ini meliputi penggunaan zat
pewarna larut air atau pigmen tidak larut air. Akan tetapi, penambahan pigmen kedalam
larutan sirop tidak semudah seperti zat pewarna larut air. Perlu dipastikan agar pigmen
dibasahi sempurna dan terdispersi secara seragam .jadi, penggunaan warna pigmen
konsentrat (pekat) yang tersedia secara komersial biasanya lebih menguntungkan.
5. Pemolesan (polishing)
Permukaan tablet yang baru saja disalut warna biasanya masih pudar. Oleh karna itu,
tablet perlu dipoles dengan menggunakan beberapa cara untuk mendapatkan permukaan
tablet salut yang halus. Pemolesan dapat dilakukan menggunakan berbagai tipe peralatan
(misalnya kanvas atau panic yang dilapis malam), termasuk peralatan yang digunakan
untuk penerapan salut gula itu sendiri (yang lebih khas dalam proses yang
diotomatiskan).
6. Pencetakan cap (printing)
Jika tablet yang disalut gula selanjutnya diberi identitas dengan suatu nama produk,
kekuatan dosis atau logo perusahaan, hal ini harus dilakukan dengan suatu proses
penstempelan. Secara khas, penstempelan demikian meliputi penerapan tinta bercak
farmasetik pada permukaan tablet yang disalut dengan suatu proses penstempelan yang
dikenal sebagai offset rotogravure. Tablet salut gula dapat distempel sebelum atau
sesudah pemolesan. Penstempelan sebelum pemolesan memungkinkan tinta melekat
lebih kuat pada permukaan tablet, tetapi tulisan dapat hilang karna gesekan atau
sentuhan pelarut organik selam proses pemolesan. Penstempelan setelah pemolesan
dapat menghindari masalah penggosokan cap srlam pemolesan, tetapi tinta tidak selalu
melekat dengan baik pada permukaan tablet yang dilapisi malam.
Proses penyalutan selaput salut selaput merupakan proses yang sangat rumit dengan
teknologi yang mendekati teknologi untuk kimia polimer, industry perekat, cat dan
rekayasa kimia. Proses salut selaput secara sederhana dapat dijelaskan sebagai proses yang
melibatkan penerapan salut selaput berbasis polimer (dalam rentang 20-200 m), pada

suatu substrat yang sesuai (tablet, pellet, granul, kaplet, serbuk obat dan hablur zat aktif
obat), jika dibawah kondisi yang memungkinkan.
II.8 Faktor yang mempengaruhi mutu tablet salut enterik
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pembuatan tablet salut enterik dan
kualitas bentuk tablet salut enterik, yaitu:
1. Kecepatan penguapan pelarut
Kecepatan penguapan pelarut mempengaruhi langsung kualitas tablet salut enterik
dan waktu yang diperlukan untuk membuat tablet salut enterik. Oleh karena
pentingnya proses penyalutan dalam waktu yang minimum, meningkatnya kecepatan
penguapan pelarut menurunkan waktu yang tersedia untuk polimer-polimer
berinteraksi. Oleh karena itu, jika kecepatan penguapan terlalu cepat, alat-alat
mekanis film akan dirusak karena langsung merusak pada interaksi polimer. Tekanan
uap pelarut dan suhu mempengaruhi kecepatan penguapan pelarut, sehingga suhu
yang rendah biasa digunakan untuk larutan salut.
2. Perubahan volume udara
Perubahan volume udara akan langsung mempengaruhi kecepatan mengalirnya
larutan salut dan juga merubah pola tanpa ruang penyalutan.
3. Kelembaban khusus
Hal ini penting untuk mengontrol kelembaban tertentu dalam menghangatkan udara
dan karenanya di dalam ruang salut untuk memastikan bahwa kualitas penyalutan
tablet dioptimalkan. Jika kelembaban relatif di ruang penyalutan tinggi, pendinginan
evaporatif oleh pelarut mungkin terjadi. Ini pada gilirannya akan menurunkan suhu
udara di bawah titik embun, sehingga kondensasi air pada permukaan tablet. Ini akan
mengganggu proses penyalutan, mengakibatkan adhesi kekurangan lapisan
hidrofobik ke permukaan tablet dan ketidaksempurnaan visual dalam lapisan
terbentuk. Oleh karena itu, kontrol dari kelembaban relatif dalam proses pelapisan
diperlukan. Kehadiran kelembaban dalam ruang penyalutan mungkin berguna dalam
menghilangkan listrik statis yang mungkin terjadi setelah proses penyalutan telah
selesai.
4. Lama dan kecepatan semprotan salut
Kecepatan semprotan dikontrol dalam proses penyalutan dan dipilih sesuai dengan
kelarutan lapisan pelarut dalam volume udara dan viskositas. Selain itu, penting untuk

memastikan integritas tetesan (yaitu meminimalkan tetesan agregasi) selama proses


tersebut. Perlu dicatat bahwa tingkat semprotan yang berlebihan akan menghasilkan
lapisan yang menunjukkan kurangnya adhesi pada permukaan tablet. Biasanya proses
penyalutan akan melibatkan bahan-bahan pelapisan. Oleh karena itu salah satu
metode ketebalan lapisan pada tablet dapat dimodifikasi adalah untuk meningkatkan
waktu yang dihabiskan dalam ruang penyalutan. Atau, konsentrasi bahan pelapis
dapat ditingkatkan dalam lapisan solusi. Viskositas larutan harus diperhatikan untuk
memastikan bahwa viskositas meningkat tidak membahayakan atomisasi proses, dan
secara khusus ukuran tetesan.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Proses Bahan Obat di Lambung dan Usus Halus
Lapisan enterik yang digunakan berisi polimer yang sensitif pH, yang berarti bahwa
obat tersebut tetap utuh dalam lingkungan asam lambung (pH 1,5-3,5) dan melindungi isi
tablet. Setelah melewati perut lapisan kemudian hancur dalam usus kecil (duodenum) yang
memiliki lingkungan alkali (pH 6,5-7,6).
Ketika menelan 'normal' berkualitas baik tablet, kapsul, atau mengambil suplemen cair
inilah yang terjadi:
1. Bahan aktif yang dirilis di perut.
2. Asam lambung bagian bawah dan istirahat mereka menjadi partikel yang lebih
kecil (warna kuning ilustrasi di bawah ini)

Gambar 1
3. Tergantung pada bahan aktif, beberapa atau bahkan sebagian besar mungkin akan
hancur oleh asam lambung,

karena

tidak semua bahan yang rusak oleh asam

lambung.
4. Sementara beberapa bahan obat dalam proses merusaknya oleh asam lambung,
ini dapat mengakibatkan rasa ketidaknyamanan.

5. Sisa bahan obat yang tidak hancur dilanjutkan ke usus kecil melalui proses
penyerapan melalui dinding usus atas (merah di ilustrasi).
6. Kurangnya kualitas bahan aktif dengan bahan pengikat yang dapat melewati
perut dan usus dari tubuh dengan hampir tidak ada penyerapan.
Tablet yang dilepaskan di usus halus ditunjukkan pada warna merah pada gambar 2.

Gambar 2
III.2 Bahan Enterik
Beberapa alasan penting untuk bahan penyalut enterik adalah sebagai berikut :
1. Untuk melindungi obat-obat yang tidak tahan asam terhadap cairan lambung, misalnya
enzim-enzim dan beberapa antibiotik tertentu.
2. Untuk mencegah nyeri pada lambung atau mual karena iritasi dari suatu bahan obat,
misalnya Natrium salisilat.
3. Untuk melepaskan obat agar didapat efek lokal di dalam usus, seperti antiseptik usus
dapat melepaskan bentuk obatnya hanya di usus dan menghindari penyerapan sistemik
dalam lambung.
4. Untuk melepaskan obat-obat yang diserap secara optimal di dalam usus halus sebagai
penyerapan utamanya.

5. Untuk memberikan suatu komponen yang pelepasannya ditunda sebagai aksi ulang dari
tablet (Saifullah, 2007).

Suatu bahan penyalut enterik yang baik harus memilki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Tahan terhadap cairan lambung
2. Rentan terhadap cairan usus dan permeable terhadap cairan usus
3. Dapat bercampur dengan sebagian besar komponen larutan penyalut dan bahan dasar obat
4. Stabil dalam bentuk tunggalnya atau di dalam larutan penyalut. Lapisan tipis ini tidak mudah
berubah dalam penyimpanan
5. Membentuk lapisan tipis (terus-menerus)
6. Tidak toksik
7. Biayanya murah
8. Mudah dipakai tanpa harus menggunakan alat khusus
9. Dapat dengan mudah dicetak, atau lapisan tipis dapat digunakan pada tablet yang tidak ditatah
(Saifullah, 2007).
III.3 Contoh obat:
Nama Paten : Dulcolax
Bahan Aktif : Bisacodyl
* Indikasi:
Digunakan untuk pasien yang menderita konstipasi. Untuk persipan prosedur diagnostik, terapi
sebelum dan sesudah operasi dalam kondisi untuk mempercepat defeksi
* Kontra Indikasi:
Pada pasien ileus, abstruksi usus, yang baru mengalami pembedahan dibagian perut seperti usus
buntu, penyakit radang usus akut dan hehidrasi parah, dan juga pada pasien yang diketahui
hipersensitif terhadap bisacodyl atau komponen lain dalam produk.
* Komposisi:
1 tablet salut enterik mengandung 5 g:
4,4'-diacetoxy-diphenyl-(pyridyl-2)-methane (=bisacodil)
* Zat tambahan:

laktosa, pti jagung, gliserol, magnesium stearat, sukrosa, talk, akasia, titanium dioksida, eudragit
L100 dan S100, dibutilftalat, polietilen glikol, Fe-oksida kuning, beeswax white, carnauba wax,
shellac.
* Cara Kerja Obat:
Bisacodyl adalah laksatif yang bekerja lokal dari kelompok turunan difenil metan. Sebagai
laksatif perangsang (hidragogue antiresorptive laxative), DULCOLAX merangsang gerakan
peristaltis usus besar setelah hidrolisis dalam usus besar, dan meningkatkan akumulasi air dan
alektrolit dalam lumen usus besar.
* Dosis dan Cara Pemberian:
Kecuali ditentukan lain oleh dokter dosis yang dianjurkan adalah:
1.

Untuk Konstipasi Tablet Salut Enterik

Dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun: 2 - 3 tablet (10 - 15 mg) sekali sehari.
Anak-anak 6 - 12 tahun: 1 tablet (5 mg) sekali sehari. Anak-anak di bawah 6 tahun: konsultasi
dengan dokter atau dianjurkan memakai supositoria anak. Tablet salut enterik sebaiknya
diminum pada malam hari untuk mendapatkan hasil evakuasi pada esok paginya. Tablet
mempunyai lapisan khusus, oleh karena itu tidak boleh diminum bersama-sama dengan susu atau
antasida. Tablet harus ditelan dalam keadaan utuh dengan air secukupnya.
2.

Untuk Persiapan Prosedur Diagnostik dan Sebelum Operasi

Bila DULCOLAK digunakan pada pasien untuk persiapan pemeriksaan radiografik abdomen
atau persiapan sebelum operasi, maka penggunaan tablet DULCOLAX harus dikombinasi dengan
supositoria, agar didapat evakuasi yang sempurna dari usus. Dosis yang dianjurkan untuk orang
dewasa adalah 2 - 4 tablet pada malam sebelumnya dan 1 sipositoria pada esok paginya.
* Peringatan dan Perhatian:
Sebagaimana halnya laktasit lainnya, DULCOLAX tidak boleh diberikan setiap hari dalam waktu
yang sama. Jika pasien setiap hari membutuhkan laktasif, harus diketahui penyebab terjadinya
konstipasi. Penggunaan berlebihan dalam waktu lama dapat menyebabkanketidakseimbangan
cairan dan elektrolit dan hipokalemia, dan dapat mengendapkan onset konstipasi balik. Pusing
dan/atau syncope telah dilaporkan pada pasien yang menggunakan DULCOLAX. Detail yang ada
menunjukkan bahwa kejadian tersebut akan terus berlanjut dengan berkurangnya kekuatan untuk
defekasi (defecation syncope), atau dengan respon vasovagal terhadap sakit perut yang dapat
berhubungan dengan konstipasi yang mendesak pasien tersebut terpaksa menggunakan laktasif
dan tidak perlu menggunakan DULCOLAX. Penggunaan supositoria dapat menyebabkan sensasi

rasa sakit dan iritasi lokal, kuhusnya pada fisura anus dan proktitis ulserativa. Anak-anak tidak
boleh menggunakan DULCOLAX tanpa petunjuk dokter.
* Masa Hamil dan Menyusui
Pengalaman menunjukkan tidak ada bukti efek samping yang berbahaya selama kehamilan.
Namun demikian, seperti halnya obat lain, penggunaan DULCOLAX selama kehamilan harus
dengan petunjuk medis. Belum diketahui apakah bisacodiyl menembus air susu ibu atau tidak.
Oleh karena itu, penggunaan DULCOLAX selama menyusui tidak dianjurkan.
* Efek Samping:
Sewaktu menggunakan DULCOLAX, dapat terjadi rasa tidak enak pada perut termasuk kram,
sakit perut, dan diare. Reaksi alergi, termasuk kasus-kasus angiooedema dan reaksi anafilaktoid
juga dilaporkan terjadi sehubungan dengan pemberian DULCOLAX.
* Interaksi:
Penggunaan bersamaan dengan diuretik atau adreno-kortikoid dapat meningkatkan risiko
ketidakseimbangan elektrolit jika DULCOLAX diberikan dalam dosis berlebihan.
Ketidaseimbangan elektrolit dapat mengakibatkan peningkatan sensitivitas glikosida jantung.

Overdosis:

* Gejala
Bila dosis DULCOLAX terlalu tinggi, maka dapat terjadi diare, kram perut dan berkurangnya
kadar kalium serta elektrolit lainnya secara nyata.
Overdosis kronis DULCOLAX dapat menyebabkan diare kronis, sakit perut, hipokalemia,
hiperaldosteronisme dan batu ginjal. Kerusakan tubulus ginjal, alkalosis metabolik dan kelelahan
otot akibat hipokalemia juga terjadi pada penyalahgunaan laktasif kronis.
* Terapi
Dalam waktu yang singkat setelah minum DULCOLAX, penyerapan DULCOLAX dapat
dikurangi atau dicegah dengan memaksa untuk muntah atau kuras lambung. Dalam hal ini
mungkin diperlukan penggantian cairan dan perbaikan keseimbangan elektrolit. Ini sangat
diperlukan pada pasien usia lanjut dan muda. Pemberian antipasmodik mungkin ada manfaatnya.
* Penyimpanan:
Simpan pada suhu 25 - 30 derajat C dan lindungi dari cahaya. Simpan di tempat yang maan,
jauhkan dari jangkauan anak-anak

BAB IV
KESIMPULAN
1.

Tablet salut merupakan tablet yang dibuat dengan cara berturut-turut melapisi masingmasing lapisan tipis sukrosa atau bahan lain yang sesuai. Tablet salut terbagi tiga, yaitu tablet
salut enterik, tablet salut gula dan tablet salut film.

2.

Tablet salut enterik merupakan tablet yang disalut dengan lapisan yang tidakmelarut atau
hancur di lambung melainkan di usus, supaya tablet dapat melewati lambung dan hancur
serta diabsorpsi di usus

3.

Obat yang diberikan dalam bentuk salut enterik diformulasikan bahwa tablet pindah
melewati lambung dan hancur serta diabsorpsi di usus. Tekhnik ini digunakan dalam hal
bahan obat dirusak oleh asam lambung, mengiritasi mukosa lambung atau bila melintasi
lambung menambah absorpsi obat di usus halus sampai jumlah yang berarti.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Siregar, Charles. 2008. Tekhnologi Farmasi Sediaan Tablet. Jakarta: EGC


-Martindale, (1989),The Extra Pharmacopeia, 29th Edition, The Pharmaceutical
Press, London. 3.

King, R. E., (1984),Dispending Of Medication, Ninth Edition,

Mack Publishing Company, Philadelphia. Copy the BEST Traders and Make
Money :http://bit.ly/fxzulu..
2. http://anandafeltonworld.blogspot.co.id/2013/02/tablet-salut_26.html
3. http://www.xtend-life.com/information/key-information/enteric_coating
4.https://www.google.co.id/search?
q=contoh+obat+salut+enteric&espv=2&biw=1366&bih=667&site=webhp&source=lnms
&tbm=isch&sa=X&ved=0CAYQ_AUoAWoVChMIKGFvbKZyQIVTnOOCh2_EAsb#imgrc=2xwgLq0VXwEIJM%3A.
5. Basri, 2009