Anda di halaman 1dari 56

EKUITAS

Istilah modal sering digunakan pula sebagai padan kata equity walaupun
modal lebih dekat maknanya dengan istilah capital. Karena ekuitas mengandung
unsur pemilikan (ownership), untuk organisasi nonprofit ekuitas disebut sebagai
aset bersih (net assets) untuk menghindari kesan adanya pemilikan.
Karena konsep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen dan
pemilikan, informasi tentang ekuitas pemegang saham menjadi sangat penting
karena hal tersebut menunjukan hubungan antara perusahaan (perseroan) dengan
pemegang saham. Dari sudut pemegang saham, ekuitas pemegang saham
merupakan hak atas kekayaan atau nilai yang tertanam dalam perseroan. Kalau
dipandang dari sudut kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham merupakan
utang perseroan kepada para pemegang saham. Oleh karna itu, ekuitas
pemegang saham dapat juga dipandang sebagai gambaran hubungan yuridis antar
perseroan dan pemegang saham. Dengan kedudukannya yang demikian
persoalannya adalah bagaimana melaporkan atau menyajikan informasi elemen ini
agar hubungan tanggung jawab yuridis dapat dipertahankan.
Ekuitas pemegang saham itu sendiri terdiri atas dua komponen penting
yaitu modal setoran (paid-in atau contributed capital) dan laba ditahan (retained
earnings). Sebagai pasangan modal setoran, laba ditahan dapat disebut sebagai
modal bentukan atau ciptaan (earned capital).
PENGERTIAN
Menurut PSAK (2002) pasal 49, ekuitas adalah hak residual atas aktiva
perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas didefinisi sebagai hak
residual untuk menunjukkan bahwa ekuitas bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas
bukan pengorbanan sumber ekonomik masa datang. Karena didefinisi atas dasar
aset dan kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana aset dan
kewajiban diukur.

Atas dasar konsep kesatuan usaha, kreditor dan pemegang saham samasama mempunyai klaim atau hak untuk dilunasi atas dana yang ditanamkan dalam
perusahaan. Namun kreditor dan pemegang saham memiliki perbedaan sbb:
a. Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim
Klaim kreditor terbatas jumlahnya dan harus diselesaikan pada
tanggal tertentu sementara klaim pemegang saham merupakan jumlah
residual dan tidak harus diselesaikan atau dilunasi pada tanggal tertentu.
b. Hak penggunaan aset dalam operasi
Kreditor pada umumnya tidak mempunyai akses dan kendali dalam
penggunaan aset perusahaan. Mereka juga tidak mempunyai hak dalam
pengambilan keputusan operasi perusahaan secara langsung. Di lain
pihak, pemilik (khusunya dalam perusahaan perseorangan) mempunyai
akses, hak, dan

autoritas

untuk menjalankan

perusahaan

dan

menggunakan atau mengendalikan aset.


c. Substansi ekonomik perjanjian
Kreditor berhak atas pelunasan sedangkan pemegang saham berhak
atas pembagian laba (residual). Jadi, secara substansi ekonomik, kreditor
menanggung risiko lebih besar sehingga berhak atas kembalian (rate of
return) yang bervariasi melalui pembagian laba (participation in profits).
KOMPONEN EKUITAS PEMEGANG SAHAM
Dari segi riwayat terjadinya dan sumbernya, ekuitas pemegang saham
diklasifikasi atas dasar dua komponen penting yaitu modal setoran dan laba
ditahan. Modal setoran dipecah menjadi modal saham (capital stock) sebagai
modal yuridis (legal capital) dan modal setoran tambahan (additional paid-in
capital), dan komponen lain yang merefleksi transaksi pemilik (misalnya saham
treasuri atau modal sumbangan).
TUJUAN PENYAJIAN EKUITAS
Pengungkapan

informasi

ekuitas

pemegang

saham

akan

sangat

dipengaruhi oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen


keuangan. Pada umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham

adalah menyelidiki akan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi


dan kepengurusan (stewardship) manajemen serta menyediakan informasi tentang
riwayat serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainnya. Informasi
tentang kewajiban yuridis perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak
lainnya juga merupakan tujuan penyajian ekuitas pemegang saham ini.
PEMBEDAAN MODAL SETORAN DAN LABA DITAHAN
Ditinjau dari sumbernya, ada beberapa komponen yang membentuk
ekuitas pemegang saham yaitu:
(1) jumlah rupiah yang disetorkan oleh pemegang saham
(2) laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian dividen
(3) jumlah rupiah yang timbul akibat apresiasi/revaluasi aset visis tertentu
(4) jumlah rupiah donasi dari pihak nonpemegang saham
(5) sumber lainnya
Laba ditahan pada dasarnya adalah terbentuk dari akumulasi laba yang
dipindahkan dari akun ikhtisar Laba-Rugi (income summary). Begitu saldo laba
ditutup ke laba ditahan, sebenarnya saldo laba tersebut telah lebur menjadi elemen
modal modal pemegang saham yang sah. Seperti juga modal setoran, laba ditahan
menunjukkan sejumlah hak atas seluruh jumlah rupiah aset bukan hak atas jenis
aset tertentu. Dengan demikian untuk mengukur seluruh hak pemegang saham
atas aset, laba ditahan harus digabungkan (ditambahkan) dengan modal setoran.
Pembedaan antara dua bagian elemen ekuitas pemegang sangat penting.
Dari segi administrasi keuangan, laba ditahan merupakan indikator daya melaba
(earning power) sehingga laba ditahan harus selalu dipisahkan dengan modal
setoran meskipun jumlahnya akhirnya ditotal untuk membentuk ekuitas pemegang
saham. Pembedaan ini juga penting secara yuridis karena modal setoran
merupakan dana dasar (basic fund) yang harus tetap dipertahankan untuk
menunjukkan perlindungan bagi pihak lain. Dana ini hanya dapat ditarik kembali
dalam likuidasi atau dalam keadaan luar biasa lainnya. Sementara itu, laba ditahan
adalah jumlah rupiah yang secara yuridis dapat digunakan untuk pembagian
dividen.

Segala perubahan aset akibat penggunaan aset untuk tujuan produktif (for
productive effect) harus dibedakan dengan perubahan aset dalam rangka
pemerolehan dana (for financial effect.). Untuk selanjutnnya, perubahan yang
pertama disebut perubahan karena transaksi operasi sedangkan yang kedua
transaksi modal. Pembedaan ini menjadi landasan utama penyajian statemen
laba-rugi komprehensif.
MODAL YURIDIS
Modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang mengharuskan bahwa
harus ada sejumlah rupiah yang dipertahankan dalam rangka perlindungan
terhadap pihak lain. Bentuk ketentuan hukum ini adalah bahwa saham harus
mempunyai nilali nominal atau nilai minimum yang dinyatakan untuk
menunjukkan hak yuridis. Modal yuridis merupakan jumlah rupiah minimal
yang harus disetor oleh investor sehingga membentuk modal yuridis (legal
capital).
Ada juga aturan yang menetapkan bahwa saham tidak dapat dijual di
bawah nilai tertentu yang menjadi batas nilai yuridis sehingga tidak dikenal
adanya diakun modal saham. Tujuan penyajian modal yuridis ini adalah untuk
memberi informasi kepada para pemegang ekuitas lainnya tentang batas
perlindungan investasinya. Secara yuridis pemisahan ini dianggap cukup penting
dan harus diungkapkan dalam pelaporan keuangan.
BESARNYA MODAL YURIDIS
Dalam hal saham bernilai nominal (par stock), modal yuridis dapat sama
dengan jumlah yang dikenal dengan nama modal saham (capital stock). Modal
saham menunjuk jumlah rupiah perkalian antara cacah saham beredar dengan
nilai nimonal per saham. Jumlah ini merupakan jumlah rupiah yang secara yuridis
menjadi hak pemegang saham walaupun dalam transaksi pembelian saham jumlah
rupiah yang disetor/dibayarkan melebihi modal yuridis tersebut.
Modal saham ini juga merupakan batas tanggung jawab pemegang saham
dan batas kerugian pribadi yang harus ditanggung pemegang saham. Artinya,
dalam hal terjadi likuidasi pemegang saham tidak dapat menuntut pembagian

kekayaan atas dasar modal yang disetor (kecuali ada sisa untuk itu). Sebaliknya,
dalam hal hasil penjualan aset dalam likuidasi tidak dapat menutup seluruh utang
perseroan, pemegang saham tidak dapat diminta untuk menutup utang lebih dari
modal saham atau modal yang telah disetor kecuali pemegang saham bertindak
sebagai direksi.
MODAL SETORAN LAIN
Nominal saham sering dianggap bukan merupakan harga efektif saham
sehingga secara akuntansi penentuan nilai nominal saham sebenarnya tidak
bermakna ekonomik. Dalam hal tertentu, nilai nominal saham lebih merupakan
alat unuk pemerataan distribusi pemilikan daripada untuk menunjukkan nilai
saham itu sendiri. Karena tidak bermakna ekonomik, saham dapat diterbitkan
tanpa nilai nominal (no par stock). Ada dua alasan penerbitan saham tanpa nilai
nominal yaitu (1) untuk menghindari utang bersyarat dalam hal saham terjual di
bawah harga nominal dan (2) tidak ada hubungan antara nilai nominal dengan
harga pasar saham.
Namun penerbitan saham tanpa nilai nominal ini dapat menimbulkan
persoalan khususnya dalam hal perusahaaan dilikuidasi karena akan sulit untuk
menentukan dasar pembagian kekayaan perusahaan. Selain itu, perlindungan bagi
kreditor menjadi tidak jelas karena seakan-akan tidak ada batas jumlah rupiah
yang dapat dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan
likuidasi modal. Saham tanpa nilai nominal juga dijual dengan harga yang sangat
rendah semata-mata untuk tujuan penggeseran pemilikan atau mempengaruhi
harga saham. Oleh karena itu, beberapa negara memberlakukan ketentuan bahwa
perseroan (dewan direksi) menyatakan nilai saham minimum yang disebut nilai
nyataan (stated value). Saham tidak dapat diterbitkan kalau dijual dengan harga
dibawah nilai nyataan ini. Nilai nyataan akan berfungsi sebagai modal yuridis.
Modal yuridis dapat diubah sewaktu-waktu tanpa harus menerbitkan
saham baru. Modal yuridis juga dapat berubah akibat transfer antar sumber dana
sehingga terkadang sulit untuk menentukan berapakah modal yuridis perusahaan
yang sebenarnya sebagai informasi kepada pihak yang berkepentingan.
Pengungkapan modal yuridis tidak diperlukan kecuali untuk perusahaan yang

baru berdiri. Dalam perusahaan besar yang labanya berkembang, modal yuridis
biasanya merupakan sebagian kecil dari total ekuitas pemegang saham. Dalam
keadaan seperti ini, jumlah rupiah dividen tahun berjalan dan masa mendatang
tidak akan bergantung pada jumlah modal yuridis. Justru seluruh modal pemegang
saham (termasuk laba ditahan) akan berlaku sebagai perlindungan (buffer) bagi
kreditor. Sebenarnya, kreditor akan lebih mendasarkan keputusannya pada total
sumber ekonomik perusahaan, kemampuan memperoleh laba, dan kebijakan
keuangan perusahaan daripada pada modal yuridis.
Selain itu ada yang menyatakan bahwa modal saham dan modal setoran
lain merupakan komponen yang harus dianggap sebagai satu kesatuan dan jumlah
rupiahnya harus ditotal untuk menunjukkan modal setoran total. Akan tetapi,
harus dibedakan dengan tegas antara modal setoran dengan laba ditahan.
Selanjutnya ditegaskan bahwa secara ekonomik bukanlah modal yuridis yang
menjadi batas perlindungan tetapi justru laba ditahanlah yang merupakan
penyangga umum (general purpose buffer) untuk segala kemungkinan rugi dan
hal-hal bersyarat lainnya.
Modal saham yuridis (legal capital) dapat disajikan sebagai suatu rincian
di bawah judul modal setoran total.Oleh karena itu, neraca akan menjadi kurang
informatif kalau komponen-komponen modal setoran dipisahkan tetapi tidak
ditunjukkan totalnya.
Dengan dasar pikiran di atas, transfer dari modal setoran ke laba ditahan
tanpa alasan yang kuat adalah penyimpangan dari penalaran yang valid.Ini berarti
bahwa modal tidak dapat digunakan sebagai sumber laba ditahan. Demikian
juga,tidak sebagianpun dari jumlah rupiah laba ditahan dapat dimasukkan sebagai
modal setoran kecuali jumlah rupiah tersebut telah diubah menjadi modal dengan
proses kapitalisasi yuridis atau telah berubah karena transaksi modal.
PERUBAHAN MODAL SETORAN
Tansaksi, kejadian, atau keadaan dapat menyebabkan perubahan dalam
modal setoran, modal setoran lain, dan laba ditahan baik secara individual maupun
bersamaan. Tujuan utama perekayasaan akuntansi modal setoran ini adalah untuk
membedakan secara tegas antara perubahan akibat transaksi operasi dan

perubahan akibat transaksi operasi. Dalam hal kenaikan modal setoran,


pembedaan ini bermanfaat untuk mencegah memperlakukan kenaikan akibat
transaksi modal sebagai laba sehingga timbul kesan adanya jumlah yang tersedia
untuk pembagian dividen. Berbagai sumber yang dapat mengubah modal setoran
dengan berbagai masalah teoretisnya adalah:
a. Pemesanan saham (stock subscriptions)
b. Obligasi terkonversi atau berhak-tukar (convertible bonds)
c. Saham istimewa terkonversi atau berhak-tukar (convertible stock)
d. Dividen saham (stock dividends)
e. Hak beli saham, opsi, dan waran (stock rights, options, and warrant)
f. Saham treasuri (treasury stocks)
PEMESANAN SAHAM
Pada umumnya, pada saat perseroan didirikan atau pada saat melakukan
penawaran publik perdana (initial public offering atau IPO), perusahaan telah
menetapkan apa yang disebut modal dasar (authorized capital stocks). Dengan
autorisasi tersebut perusahaan akan mencetak sertifikat saham. Bila saham telah
terjual dan pembeli telah membayar penuh kesepakatannya, sertifikat saham
diserahkan kepada pembeli. Atas dasar konsep kesatuan usaha, jumlah rupiah
yang diterima perusahaan (kas atau aset lainnya) akan menimbulkan atau
diimbangi dengan modal setoran.
Pada umumnya, investor yang berminat membeli saham perusahaan harus
memesan (to subscribe) lebih dahulu saham yang akan dibeli dengan harga sesuai
dengan kesepakatan pada saat pemesanan. Secara konseptual, ekuitas pemegang
saham bersifat seperti kewajiban. Oleh karena itu, jumlah rupiah saham pesanan
dapat diakui sebagai modal setoran hanya apabila kedua syarat berikut dipenuhi:
(1). Jumlah rupiah yang disepakati dalam pemesanan merupakan klaim
yuridis bagi perusahaan terhadap pemesan dan tidak dapat dibatalkan.
(2). Harga pemesanan tersebut akan ditagih penerbit dalam perioda yang
cukup pasti dan tidak terlalu lama.
Syarat (1) menuntut bahwa kesepakatan pemesan merupakan kontrak yang
mengikat sehingga menimbulkan piutang pesanan saham (stock sobscription

receivable) bagi penerbit yang kalau tidak dipenuhi maka penerbit dapat menuntut
secara yuridis untuk dilunasi. Klaim untuk menerima uang yang tidak dapat
dibatalkan dilandasi oleh konsep hak-kewajiban tak bersyarat (unconditional right
of offsset) yang menyatakan bahwa pihak berkontrak pertama tidak mempunyai
kewajiban apapun sebelum pihak kedua memenuhi apa yang menjadi hak pihak
pertama. Dalam hal ini, piutang yang tidak dapat dibatalkan merupakan aset bagi
penerbit sehingga modal setoran sebagai kewajiban dapat diakui.
Syarat (2) diperlukan agar hak-kewajiban tak bersyarat tidak berlaku
sehingga kontrak tidak bersifat eksekutori. Jadi, bila tidak ada kepastian tentang
pelaksanaan transaksi penerbitan maka pemesanan tersebut jelas tidak dapat
diakui sebagai modal setoran.
Dalam pelaporan, piutang pesanan saham dikontrakan terhadap modal
saham pesanan untuk melanjutkan modal setoran yang sesungguhnya. Selisihnya
dengan sendirinya merupakan jumlah rupiah yang benar-benar telah disetor.
OBLIGASI TERKONVERSI
Dalam hal tertentu, perusahaan menerbitkan obligasi dengan karekteristik
bahwa obligasi tersebut dapat ditukarkan dengan saham biasa atas kehendak
pemegang obligasi dalam perioda konversi tertentu. Kalau

hak

tukar

tersebut

digunakan (exercised), yang terjadi adalah perubahan status kewajiban menjadi


modal setoran. Masalah teoretisnya adalah menentukan jumlah rupiah yang dapat
dianggap sebagai modal setoran sehingga modal saham dan kelebihan diatas
modal saham (kalau ada) dapat ditentukan. Dalam hal ini, ada dua nilai yang dapat
digunakan sebagai basis kapitalisasi yaitu:
1. Nilai buku (book value) atau nilai bawaan (carrying value) obligasi pada
saat penukaran.
2. Harga pasar obligasi atau harga pasar saham (mana yang paling obyektif).
Dasar pertama mereklasifikasi nilai buku menjadi modal saham dan
premium atau diskun modal saham tergantung kasusnya. Dengan demikian, tidak
ada untung atau rugi yang diakui pada saat transaksi pertukaran tersebut. Esensi
transaksi tersebut hanyalah mengubah status jumlah rupiah utang menjadi modal

pemegang saham. Pendekatan didasari konsep kesatuan usaha (business entity


concept) karena kreditor dan pemegang saham mempunyai kedudukan yang sama
sebagai investor dengan kepentingan yang sama. Oleh karena itu, pertukaran
tersebut

tidak

mempunyai

substansi

ekonomik

sehingga

tidak

dapat

menimbulakan untung atau rugi.


Alasan yang lain adalah bahwa pada saat obligasi diterbitkan, semua
penerimaan kas diperlakukan sebagai utang. Artinya, tidak dipisahkan jumlah
rupiah yang melekat pada obligasi sebagai obligasi biasa dan pada hak tukar. Hak
tukar dianggap melekat pada obligasi sehingga tidak dapat diukur secara pasti
nilainya. Karena hak tukar tidak dapat diukur dengan pasti, nilai buku obligasi
murni juga tidak dapat diukur dengan pasti, sehingga laba atau rugi tidak dapat
ditentukan kalau harga pasar obligasi dapat ditentukan. Jadi, kepraktisan dan
objektivitas pengukuran tidak menghendaki pengakuan untung dan rugi.
Pendekatan kedua memperlakukan selisih antara harga pasar obligasi atau
saham dengan nilai buku obligasi sebagai untung atau rugi. Cara ini dilandasi oleh
konsep kesatuan pemilik (proprietary concept). Perubahan dalam penilaian
obligasi dianggap mempunyai pengaruh terhadap modal pemegang saham. Akan
tetapi, karena harga pasar obligasi merefleksi pula nilai hak tukar, nilai hak tukar
harus ditaksir dan dikeluarkan dari nilai pasar obligasi. Nilai pasar obligasi murni
ini kemudian ditandingkan dengan nilai buku obligasi untuk menentukan laba atau
rugi yang tepat. Secara konseptual, pengakuan laba atau rugi tidak valid karena
konversi ini merupakan transaksi modal bukan operasi. Secara teoretis, transaksi
modal tidak menimbulkan pendapatan, laba, atau rubi.
SAHAM PRIORITAS TERKONVERSI
Pengukuran jumlah rupiah yang harus diakui sebagai modal setoran dapat
menggunakan cara seperti pada obligasi terkonversi. Dengan pendekatan pertama,
nilai nominal saham prioritas plus porsi premium/diskun ditransfer ke modal
pemegang saham dan premium/diskun modal pemegang saham biasa. Tidak ada
untung atau rugi yang diakui pada saat konversi tersebut. Ini berarti bahwa jumlah
rupiah yang mula-mula diterima pada saat menerbitkan saham prioritas dianggap
sebagai modal setoran mula-mula untuk saham biasa. Perlu dicatat bahwa jumlah

rupiah ini bukan merupakan nilai likuidasi saham prioritas karena nilai likuidasi
saham prioritas adalah sebesar nilai nominalnya. Itulah sebabnya porsi
premium/diskun juga ikut ditransfer. Kalau porsi premium tidak ditransfer dan
semua saham prioritas dikonversi menjadi saham biasa maka akan terjadi
kejanggalan karena akan terdapat premium saham prioritas padahal tidak ada
saham prioritas yang beredar. Konversi ini semata-mata menandai perubahan
status atau hak dua golongan pemegang saham. Perubahan ini sering disertai
penerbitan sertifikat saham biasa baru dan penarikan sertifikat saham prioritas
atau istimewa.
Pendekatan kedua juga dapat diterapkan. Kalau ada selisih antara harga
pasar baik saham biasa maupun saham prioritas, selisih tersebut harus
dikompensasi ke atau dari laba ditahan. Pendekatan ini mengisyaratkan
diterimanya konsep kesatuan usaha karena laba ditahan dianggap sebagai ekuitas
perusahaan yang terpisah atau independen. Ini berarti harga pasar saham biasa
yang diperhitungkan dianggap tidak merefleksi hak yang melekat pada laba
ditahan. Laba ditahan dianggap sebagai penyangga bila ada selisih harga antara
dua sekuritas yang dipertukarkan. Cara ini juga dilandasi oleh pendekatan dua
transaksi (two transaction approach) yaitu konversi dianggap sebagai transaksi
penebusan kembali saham prioritas (sehingga sebagian dari harga penebusan yang
melebihi nilai buku dianggap sebagai distribusi laba ditahan) dan transaksi
penjualan saham biasa baru dengan harga pasar yang berlaku. Karena hak tukar
melekat pada saham prioritas pada waktu diterbikan, perlukuan konversi sebagai
satu transaksi (one transaction approach) seperti pendekatan pertama akan lebih
logis.
DIVIDEN SAHAM
Dividen saham adalah distribusi dividen dalam bentuk saham yang sejenis
dengan saham yang mula-mula diterbitkan. Bila distribusi dividen saham tidak
disertai dengan kapitalisasi laba ditahan, dividen saham akan menyerupai
pemecahan saham (stock split). Pemecahan saham adalah penurunan nominal
(atau nilai nyataan/stated value) per saham dengan cara menukar tiap satu saham
yang beredar dengan dua atau lebih saham baru yang nilai nominal per sahamnya

meruakan pecahan dari nilai nominal saham semula. Bila perusahaan


mendistribusi dividen saham 20% tanpa disertai kapitalisasi, perusahaan
sebenarnya telah menurunkan nominal per saham menjadi 100/120 dari nilai
nominal semula.
Pembagian dividen saham tanpa kapitalisasi laba ditahan sama saja dengan
mempertahankan klasifikasi ekuitas atas dasar sumber. Karena tidak ada
kapitalisasi laba ditahan, masalah penilaian tidak timbul. Dari sudut pandang
perusahaan, yang terjadi adalah saham beredar menjadi lebih ada perubahan
modal setoran dan laba ditahan sehingga nominal per lembar saham akan turun.
Perusahaan

tidak

perlu

melakukan

penjurnalan

apapun

dan

cukup

mengungkapkan informasi dalam penjelasan atas statement keuangan.


Bila reklasifikasi ekuitas yang menjadi tujuan pembagian dividen saham
dan nominal per saham dipertahankan, tambahnya saham yang beredar bukan lagi
merupakan pemecahan nominal saham tetapi benar-benar meruakan dividen
saham. Pembagian dividen saham ini akan menimbulkan masalah penilaian untuk
kapitalisasai laba ditahan dan masalah pengungkapan yang memadai.
KARAKTERISTIK DIVIDEN SAHAM
Bagi pemegang saham, dividen saham bukan merupakan pendapatan atau
laba. Berbagai teori atau argumen diajukan untuk menjelaskan mengapa dividen
saham bukan merupakan laba bagi penerimanya.
Dari sudut pandang kesatuan usaha, dividen saham bukan merupakan
pembagian laba karena tidak ada penurunan aset perusahaan atau kenaikan utang
perusahaan. Hal ini berbeda dengan dividen kas jelas merupakan pendapatan bagi
penerima karena ada transfer kemakmuran (wealth) ke pemegang saham.
Bila dividen saham dipandang sebagai pendapatan in natura karena
menaikkan nilai investasi, pendapatan tersebut belum terrealisasi bila belum dijual
oleh penerimanya.Investasi naik karena dividen saham dapat dijual atau kalau
tidak dijual penerima berhak menerima dividen tunai di masa datang atas saham
tersebut.
Argumen lain didasarkan atas konsep kesatuan usaha.Dengan konsep ini,
laba ditahan dipandang sebagai bagian dari modal pemegang saham. Kalau

perusahaan memperoleh laba maka modal pemegang saham juga akan naik
dengan jumlah yang sama. Ini berarti kemakmuran pemegang saham juga naik.
Oleh karena itu, dividen saham atau dividen kas sebenarnya bukan merupakan
pendapatan atau laba bagi pemegang saham karena pada saat dividen tersebut
dibagikan kemakmuran pemegang saham tidak bertambah lagi. Dividen kas hanya
berfungsi sebagai konfirmasi bahwa kemakmuran pemegang saham benar-benar
telah naik secara objektif sebelum dividen. Kalau laba ditahan dianggap sebagai
ekuitas yang terpisah sehingga ekuitas pemegang saham hanya terdiri atas modal
setoran, dividen saham atau kas merupakan pendapatan atau laba bagi pemegang
saham karena mereka memperoleh sesuatu yang sebelumnya tidak dipunyai.
Dividen saham akan menaikkan modal setoran dengan cara transfer dari ekuitas
perusahaan ke ekuitas pemegang saham.
Dari sudut pandang kesatuan pemilik, dividen saham bukan merupakan
laba bagi penerimanya.Alasannya adalah bahwa laba perseroan juga merupakan
laba pemilik. Oleh karena itu,dividen kas dianggap sebagai pengambilan atau
prive oleh pemilik dari sesuatu yang memang sudah menjadi haknya.sehingga
tidak ada tambahan kemakmuran. Dividen sahan juga bukan merupakan laba
tetapi sekedar reklasifikasi ekuitas.
KAPITALISASI ATAS DASAR NILAI NOMINAL
Kalau tujuan penyajian informasi modal pemegang saham adalah untuk
menunjukkan modal yuridis (legal capital), kapitalisasi dividen saham haruslah
hanya sebesar nilai nominal atau nyataannya. Jumlah ini sebesarnya merupakan
jumlah minimal yang harus dikapitalisasi untuk memenuhi ketentuan yuridis.
Alasan pendukung kapitalisasi hanya sebesar nilai yuridis adalah bahwa
dividen saham bukan merupakan pendapatan dan mengkapitalisasi sebesar harga
pasar memberi kesan bahwa dividen tersebut merupakan pendapatan yang di
reinvestasi kedalam perusahaan. Alasan lain yang dianggap cukup kuat adalah
bahwa harga pasar menggambarkan harga selluruh ekuitas pemegang saham
(modal setoran dan laba ditahan). Jadi sangat tidak logis mentransfer jumlah yang
merefleksi elemen modal setoran dan laba ditahan ke modal setoran itu sendiri.

Bila modal yuridis baru ingin ditunjukkan tanpa melakukan kapitalisasi


resmi, dapat ditempuh apa yang disebut klasifikasi ganda (dual classification).
Modal saham yuridis baru ditunjukkan dalam catatan kaki sementara di neraca
ditunjukkan bagian laba ditahan yang dikapitalisasi.
KAPITALISASI ATAS DASAR HARGA SAHAM
Walaupun dividen saham berbeda dengan dividen kas, sebagai dividen
keduanya dianggap sebagai distribusi ke pemilik. Oleh karena itu, dividen saham
dapat dipandang sebagai pengganti dividen kas karena dividen saham mempunyai
nilai. Paling tidak, pemegang saham dapat menjual saham tersebut kalau dividen
kas yang diharapkan dan investasi semula tidak berubah. Nilai tersebut diukur atas
dasar harga saham. Dengan demikian, harga pasar merupakan dasar yang tepat
untuk menentukan kapitalisasi. Berbagai dasar pikiran mendukung hal ini.
a. Laba ditahan pada dasarnya adalah reinvestasi dari pemegang saham tanpa
tindakan pernyataan resmi. Dividen saham merupakan sarana untuk
menyatakan

kebersediaan

pemegang

saham

secara

resmi

untuk

menanamkan modal (dengan dividen saham sebagai bukti) dalam


perusahaan. Jumlah yang ditanamkan tentunya adalah sebesar harga pasar
saham dimata pemegang saham karena pemegang saham dapat menjual
dividen saham untuk mendapatkan kas.
b. Transaksi dividen saham dapat dianggap terdiri atas dua transaksi yaitu
pembagian dividen kas dan penerbitan saham baru dengan harga sebesar
dividen kas tersebut. Oleh karena itu, dividen saham akan mengurangi laba
ditahan sebesar harga pasar saham dan reinvestasi akan menyebabkan
modal setoran naik dengan jumlah yang sama.
c. Dari kacamata perusahaan, jumlah rupiah dividen saham adalah cost
kesempatan penjualan saham baru ke pasar modal. Artinya besarnya
kapitalisasi adalah sebesar jumlah rupiah seandainya saham baru dijual di
pasar dan tidak dibagikan sebagai dividen saham.
d. Penggunaan harga pasar (bukan hanya nilai nominal) juga mengurangi
kesan keliru para pemegang saham bahwa masih tersedia laba ditahan
yang dapat didistribusi lagi baik dalam bentuk dividen saham atau kas.

Kritik terhadap argumen ini adalah bahwa keduanya didasarkan pada


keadaan yang memang tidak terjadi. Lebih dari itu, kalau persentasi dividen
saham cukup tinggi, harga saham akan cukup terpengaruh sehingga kapitalisasi
harus dibatasi hanya sejumlah modal yuridis (nominal saham). Masalahnya adalah
seberapa banyak dividen saham dianggap cukup besar. Seperti pedoman umum
penggunaan metoda ekuitas, pembagian dividen saham diatas 20% dianggap
cukup berpengaruh (substantial influence) terhadap harga saham sehingga
kapitalisasi dibatasi hanya sebesar nilai nominal.
Hak beli saham adalah hak yang diberikan bagi pemegang saham lama
untuk membeli sejumlah saham saham (proporsional dengan pemilikan). Hal ini
biasanya dimaksudkan untuk mempertahankan kepemilikan pemegang saham
yang lama. Pada umumnya hak beli saham umurnya tidak lama dan harga beli
saham dan hak beli tersebut biasanya lebih rendah dari harga pasar saham
tersebut. Oleh karena itu, hak beli saham sering dianggap mempunyai harga pasar
sehingga timbul pendapat bahwa hak beli tersebut dikapitalisasi. Harga pasar hak
beli saham ini adalah sebesar selisih harga pasar saham dengan harga yang harus
dibayar pemegang saham yang mempunyai hak beli saham.
Bila deviden saham dapat dikapitalisasi maka hak beli saham juga dapat
dikapitalisasi karena hak beli saham dapat dianggap sebagai deviden saham
dengan nilai sebesar harga pasar hak beli saham. Jumlah ini dikapitalisasi ke
modal setoran lain. Argumen ini dibantah dengan alasan bahwa kapitalisasi hak
beli saham menjadi modal setoran adalah tidak logis karena tidak ada sumber
ekonomik yang disetorkan oleh oemegang saham dan tidak ada saham baru yang
ditrbitkan.
OPSI SAHAM
Opsi merupakan instrumen yang digolongkan sebagai sekuritas turunan
saham atau derivatif saham. Opsi disebut turunan karena harus ada sekuritas yang
melandasi atau menjadi basis. Secara unum opsi dapat diartikan sebagai klaim
untuk membeli atau menjual saham tertentu yang sengaja diciotakan oleh investor
lain. Terdapat dua macam opsi yaitu call dan put. Opsi call memberi hak kepada

pemegang saham untuk membeli sejumlah saham dengan harga tertentu setiap
saat sebelum hak tesebut habis pada tanggal tertentu. Sedangkan opsi put memberi
hak kepada pemegang saham untuk menjual sejumlah saham dengan harga
tertentu setiap saat sebelum hak tersebut habis pada tanggal tertentu. Biasanya
opsi dijual oleh penerbit dengan harga tertentu.
Dalam arti khusus opsi saham adalah semacam kontrak yang memberi hak
kepada karyawan perusahaan untuk membeli saham perusahaan dalam jangka
waktu tertentu dengan harga yang tertentu pula. Pada umumnya harga
pengambilan dibawah harga pasar sham yang bersangkutan atau harga yang
ditawarkan kepada pihak lain. Kebijakan semacam ini sering disebut dengan
program opsi saham karyawan. Opsi saham ini biasanya di gunakan sebagai
sarana untuk menngkatkan loyalitas dan motivasi karyawan dengan menjadikan
mereka pemilik perusahaan dan untuk menambah penghasilan karyawan.
Banyaknya saham yang dapat dibeli dan harga opsi dapat ditentukan pada saat hak
opsi diberikan atau bergantung pada beberapa kejadian di masa mendatang seperti
pertumbuhan perusahaan dan perubahan harga saham.
OPSI SAHAM NON IMBALAN
Ada kalanya program opsisaham dibuat bukan untuk tujuan meningkatkan
kompensasi karyawan tetapi untuk meningkatkan status karyawan sebagai pemilik
peusahaan dan membantu perusahaan menambah dana. Program opsi saham yang
memang tidak dimaksudkan untuk menambah penghasilan karyawan tidak dapat
dikatagorikan sebagai kompensasi tambahan kepada karyawan. Manfaat yang
diperoleh karyawan yang mengambil opsi, atau membeli saham, dengan harga
opsi yang lebih rendah dari harga pasar saham bersangkutan merupakan elemen
kompensasi seandainya elemen tersebut dapat diakui sebagai biaya dalam
menghitung laba baik dalam periose manfaat ersebut telh terealisasi atau
dinikmati karyawan.
Tujuan yang terkandung dalam program opsi saham memang sulit untuk
dijadikan dasar untuk menentukan apakah opsi saham bersifat kompensasi atau
non kompensasi. Opsi saham dapat dikatagorikan sebagai non imbalan kalau
keempat karakteristik program opsi saham berikut dipenuhi :

1. Hampir seluruh karyawan full time yang memenuhi kualifikasi jabatan


terbatas boleh berpartisipasi dalam program opsi saham
2. Karyawan mempuyai hak membeli saham dalam jumlah yang sama atau
atas dasr persentase tertentu dari gaji
3. Jangka waktu opsi tidak terlalu lama
4. Harga saham tidak terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar
sahamatau harga yang ditawarkan kepada pihak lain
Harus diasumsi pula bahwa pemberian hak opsi tersebut tidak mempunyai
konsekuensi bagi karyawan untuk melaksanakan kewajiban atau pekerjaan
tambahan. Pada umumnya kalau opsi saham tersebut non imbalan, harga saham
atau harga pengambilan ditentukan sama dengan harga saham pada saat opsi
diberikan. Dengan demikian pada saat tersebut karyawan dianggap tidak
menerima manfaat atau penghasilan tambahan karena karyawan akam membayar
jumlah yang sama dengan jumlah yang harus dibayar oleh non karyawan untuk
saham bersangkutan di pasar saham.
Kalau ternyata karyawan memperoleh manfaat karena harga saham lebih
rendah dari harga pasar pada saat opsi diambil maka manfaat tersebut dapat
dipandang sebagai untung akibat spekulasi karyawan dan bukan sebagai
penghasilan tambahan untuk jasa yang diberikan karyawan. Pada saat opsi saham
ditawarkan tidak ada tambahan modal setoran. Pada saat opsi saham diambil
modal setoran akan bertambah sebesar harga saham. Pada saat itu seakan-akan
perusahaan menjual dan menerbitkan saham baru.
OPSI SAHAM IMBALAN
Kalau program opsi saham tidak memenuhi kriteria sebagai opsi saham
non imbalan, tentunya opsi saham tersebut merupakan opsi saham imbalan.
Misalnya saja, opsi saham ditawarkan hanya keada para eksekutif tertentu bukan
pada seluruh karyawan. Kalau banyaknya saham dan harga pengambilan sudah
diketahui pada saat opsi ditawarkan maka kompensasi dapat diukur pasa saat itu
atas dasar selisih harga pasar dan harga pengambila. Akan tetapi kalau cacah
saham dan harga pengambilan tergantung pada hal-hal yang akan terjadi di masa
mendatang, kompensasi yang diperhitungkan dan diakui sebagai biaya biasanya
adalah selisih harga pengambilan dan harga pasar pada taggal pengukuran.

Tanggal pengukuran alteratif ini akan ditentukan berdasarkan tanggal yang


informasi berikut diketahui lebih dulu :
1. Banyaknya saha yang dapat dibeli oleh karyawan
2. Harga pengambilan tidak brarti bahwa karyawan harus mengambil opsi
pada tanggal tersebut.
Alasan pengukuran niaya pada saat opsi ditawarkan atau pada tanggal alternatif
adalah :
a) Pada tanggal tersebut kompensasi dapat diukur dengan cukup pasti baik
bagi perusahaan maupun karyawan
b) Harga pada tanggal tersebut dianggap merupakan harga kesepakatan bagi
kedua belah pihak sehingga jumlah rupiahnya objektif
c) Selesih harga pada tanggal penawaran opsi tetap dapat dianggap sebagai
kos untuk mencapai tujuan peerbitan opsi
d) Keputusan untuk mengambil opsi saham ada ditangan karyawan sehingga
perubahan harga saham bukan merupkan cos perusahaan.
Dalam program opsi saham imbalan, begitu opsi diambil perusahaan memnerima
kas atau aset lainnya dan potensi jasa karyawan. Potensi karyawan ini bersifat
seperti gaji dibayar dimuka sehigga merupakan aset perusahaan. Secara umum
jurnal untuk mencatat transaksi opsi saham adalah :
Kas (atau aset lain).Rp XXXX
Potensi jasa karyawan ...Rp XXXXX
Modal sahamRp XXXXXX
Agio modal saham ..Rp XXXXXX
Secara teoritis kos potensi jasa karyawan harus disebar menjadi biaya ke periode
periode yang menikmati jasa tersebut. Secara intuitif kos potensi jasa ini adalah
selisih antara harga saham dan harga pengambilan pada tanggal pengukuran.
WARAN
Perusahaan dapat juga menjual hak beli saham kepada non pemegan
saham dengan menjual kupon pembelan saham atau waran. Waran adalah efek
yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak kepada pemengananya
untuk memesan saham dari perusahaan tersebu pada harga dan jangka waktu
tertentu.

Pemegang waran dapat membeli sejumlah saham dengan mengembalikan


waran tersebut dan membayar sejumlah uamg kas tertentu. Waran berbeda dengan
hak beli saham dan opsi saham dalam beberapa aspek yaitu :
a) Waran diterbitkan oleh perusahaan sedangkan hak beli saham diterbitkan
oleh investor.
b) Jangka waktu opsi waran biasanya lebih lama (dapat Tahunan) dari pada
jangka waktu opsi hak beli saham.
c) Waran dijual atau diterbitkan kepada umum (bukan kepada pemegang
saham atau karyawan perusahaan) dan biasanya hal ini menjadi syarat bagi
pembeli
d) Saham dijual dengan harga tertentu atau tunai
e) Harga pembelian saham total (harga waran plus tambahan kas) pada saat
pengambilan opsi biasanya melebihi harga pasar saham pada saat waran
ditawarkan
f) Bila hak opsi tidak diambil kos waran tidak dapat ditarik kembali opkeh
pemengang waran
g) Waran dapat diterbitkan menyertai penerbitan surat utang
Karena terdapat aliran masuk dana jumlah rupiah yang diterima dari
penjualan kupon saham dapat diakui sebagai modal setoran baik sebagai modal
saham atau modal setoran lain.(agio saham).
Persoalan teoritis timbul bila waran dijual sebagai bonus penjualan surat
berharga lain misalnya obligasi atau saham prioritas. Sebagai contoh setiap
pembelian 10 lembar obligasi atau 1 lot saham prioritas akan mendapat 1 waran.
Persoalannya apakah jumlahuang yang diterima perusahaan dialokasi seluruhnya
ke obligasi atau saham prioritas bersangkutan atau sebagian dialokasikan ke
waran sebagai setoran saham biasa. Keputusan tentang hal ini akan mempengaruhi
klasifikasi model setoran.
Pedukung pemisahan beragumen bahwa sekuritas dan waran mempunyai
nilai terpisah karena terjadinya nilai bersal dari sumber yang berbeda. Nilai pasar
opligasi atau saham prioritas akan terbentuk dari kekuatan pasar yang berkaitan
dengan tingkat bunga. Nilai padar waran terbentuk dari presepsi investor tentang
kemampuan perusahaan menghasilkan laba di masa datang. Sementara itu,
penentang alokasi berdasarkan argumennya pada objektivitas penentuan nilai
karena pada ummnya harga pasar masing masig sekuritas tersebut tidak tersedia

dipasar. Jadi dapat dikataka pula bahwa argumen untuk menolak alokasi adalah
kepraktisan.
Pertimbangan tentang pemisahan kos juga didasarkan pada karakteristik
waran tersebut yaitu apakah bersifat lepas, lekat atau bebas. Waran lepas adalah
waran yang diterbiykan menyertai sekuritas utama dan dapat diperdagangkan
secara terpisah dari sekuritas tersebut. Waran lekat adalah waran yang melekat
pada sekuritas seagai satu kesatuan sehingga tidak dapat di perdagangkan secara
independen. Waran bebas adalah waran yang diterbitkan sendiri bukan sebagai
penyerta atau pemanis sekuritas tertentu.
Kalau sekuritas (obligasi atau saham prioritas) siterbitkan dengan waran
lepas, pemegang waran pada dasranya mempunyai dua macam sekuritas.
Tindakan yang bersangkutan dengan salah satu jenis sekuritas adalah independen
terhadap tindakan yang berkaitan dengan sekuritas yang lain. Oleh karena itu
perlakuan yang masuk akal adaah mengalokasi kos untuk menentukan harga
masing masing sekuritas. Hal yang sama juga berlaku pada penerbit. Kalu
kupon saham bersifat melekat maka obligasi atau saham prioritas akan
mempunyai sifat seperti sekuritas terkonveksi. Berkaitan dengan masalah diatas
maka PSAK No 41 telah menetapkan perlakuan akuntansi untuk berbagai jenis
waran.
PENURUNAN MODAL SETORAN
Berbagai sumber perubahan modal setoran yang dibahas biasanya bersifat
menaikan atau menambah modal setoran daripada menurunkan. Tetapi pada
umumnya lebih banyak tentang menaikan daripada menurunkan, karena bahwa
begitu modal disetor dan tertanam dalam perusahaan maka modal tersebut akan
menjadi investasi permanen dalam perusahaan. Kalaupun pemegang saham mau
melepas investasinya, maka pemegang saham akan menjualnya ke pasar saham
sehingga apa yang dilakukan pemegang saham tidak mempegaruhi operasi
ataupun posisi keuanagn perusahaan.
Modal setoran tidak akan berkurang kecuali adanya pembayaran atau
pembagian deviden yang dapat dikatagorikan sebagai deviden likuidasi atau
penarikan kembali saham yang beredar secara permanen. Perubahan karena

transaksi modal harus dibedakan secara tegas dengan perubahan karea transaksi
operasi. Oleh karena itu semua transaksi yag berkaitan denagn penarikan kembali
saham atau likuidasi modal tidak ada kaitannya dengan untung atau rugi.
Jadi, perlakuan atas saham yang ditarik kembali harus sejalan dengan
sifatnyasebagai ekuitas pemegang saham. Kalau saham bersangkutan dapat
diterbitkan kembali, saham dengan jumlah rupiah sebesar yang dibayarkan untuk
penarikan kembali tersebut harus diperlakukan sebagai kontra modal setoran dan
laba ditahan bukannya sebagai aset. Kalau saham bersangkutan tidak dapat di
terbitka kembali, jumlah rupiah yang dibayarkan harus dibebankan ke modal
saham sampai sejumlah yang mula-mula di kredit, sisanya kemudian dibebankan
ke premium modal saham sampai sejumlah yang tidak melebihi bagian premium
mula- mula yang di kredit, kalau masih terdapat sisakelebiham tersebut harus di
bebankan ke laba ditahan. Kalau terjadi untung dalam penebusan saham maka
untung tersebut harus di kreditkan ke premium modal saham karena jumlah
tersebut pada hakikatnya mempunyai karakteristik seperti kontribusi modal dalam
bentuk donasi atau pembebasan utang
Pembelian kembali saham beredar oleh perseroan sebenarnya bermakna
penarikan aset yang diinvestasikan oleh pemegang saham yang bersangkutan.
Akibatnya struktur modal berubah sesuai dengan jumlah aset yang ditarik kembali
tersebut. Akan tetapi karena perlakuan akhir terhadap saham yang ditebus kembali
tersebut mungkin tidak pasti maka perlu dibuat ketentuan tentang perlakuan
sementara terhadap saham yang ditarik kemabali tersebut.
SAHAM TREASURI
Transaksi yang jelas akan mengurangi modal setoran adalah penarikan
kembali untuk sementara saham menjadi saham treasuri. Beberapa alasan
perusahaan melakuka penarikan kembali saham sebagai saham terasuri adalah :
1. Saham tersebut akan diterbitkan kembali kepada karyawan dalam program
opsi saham. Dengan penggunaan saham treasuri dalam program opsi
saham. Proporsi pemilikan saham yang masih beredar tidak berkurang
dibandingakan kalau digunakan saham baru
2. Saham tersebut akan digunakan untuk membeli perusahaan lain dalam
transaksi penggabungan usaha

Masalah teoritis yang melekat pada transaksi saham treasuri adalah:


1. Penentuan jumlah rupiah yang harus dianggap sebagai pengurangan modal
setoran dan laba ditahan
2. Pengungkapan pengaruhnya terhadap modal yuridis bila saham treasuri
dijual kembalimengenai hal ini ada dua pendekatan yaitu konsep satu
trasaksi atau konsep dua transaksi
KONSEP SATU TRANSAKSI
Konsep ini juga disebut dengan metode kos karena jumlah rupiah total
yang dibayarkan dianggap seakanakan merupakan kos pembelian saham treasuri.
Disebut satu transaksi karena pembelian saham terasuri dan penjualannya kembali
dianggap sebagai satu transaksi. Artinya, pembelia dan penjualan dianggap
sebagai kesatuan transaksi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan
transaksi saham treasuri tersebut.
Kalau sahan treasuri ini dijual kembali dengan harga diatas kos maka
jelaslah bahwa selisihnya akan menambah agio saham atau mengurangi disagio
saham. Denga kata lain selisih dibebankan ke modal setoran lain.
Contoh: seksi ekuitas modal pemengang saham dalam neraca suatu perusahaan
pada 1 januari 2005 menunjukkan modal saham Rp. 1.000.000 dan agio saham
Rp. 200.000. dalam tahun 2005 menunjukkan modal saham mempeoleh kembali
25 % sahamnya sebagai saham treasuri dengan harga Rp. 400.000 dan kemudian
saham tersebut diterbitkan kembali dengan harga Rp.340.000 bagaimana
perlakuan terhadap selisih rugi Rp. 60.000? Apakah sebagai likuidasi modal
setoran atau pembagian deviden?
Alternatif pertama adalah memperlakukan seluruh selisih (60.000) sebagai
pengembalian modal setoran dan karenanya harus didebet ke premium atau diskun
sahan sekelas. Jika dalam hal premium dan diskun sudah habis maka selisih
tersebut akan dibebankan ke laba ditahan. Dasar pemekiran yang medukung
perlakuan ini adalah bahwa substansi lebih penting daripada bentuk. Substansi
transaksi treasuri adalah transfer antara pemegang saham yang satu ke yang lain
denagn peusahaan sebagai agen dan cacah saham yang beredar tidak berubah.
Secara teoritis distribusi modal setoran ke pemegang saham yang tidak mengubah
cacah saham yang beredar tidak selayaknya mempengaruhi laba ditahan.

Alternatif kedua dilandasi oleh tujuan mempertahankan modal saham atau


modal yuridis. Jumlah rupiah selisih dipecah secara proposional atas dasar modal
saham dan agio saham sebelum pearikan saham treasuri. Kemudian jumlah yang
berkaitan dengan agio saham dibebankan ke agio saham tetapi yang berkaitan
dengan agio saham dibebankan ke agio saham tetapi yang berkaitan dengan modal
saham dibebankan di laba ditahan. Dengan demikian modal saham (modal
yuridis) tetap utuh. Contoh pemecahan selisih dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
Komponen
modal setoran
Modal saham
Agio saham

Jumlah rupiah

Pemecahan

selisih Perlakuan

Rp. 1000.000,-

untuk 25%
250.000/300.000*Rp.

dibebankan ke:
Laba ditahan

RP. 200.000,-

60.000 = Rp. 50.000


50.000/300.000*Rp.

Agio saham

60.000 = Rp. 10.000


Alternatif ketiga membebankan seluruh selisih ke laba ditahan karena perlakuan
ini semata mata kepraktisan dan konservatisma alas an teoritisnya karena kalau
pembelian dan penjualan dianggap sebagai suatu transaksi maka esensi selisih
tersebut adalah distribusi asset kepada beberapa pemegangsaham secara selektif.
Alasan lain karena laba ditahan harus dipandang sebagai penyangga umum bila
tujuan tertentu harus dicapai.
Apabila saham terasuri tidak segera dijual maka kos pembelian tersebut
tidak dianggap sebagai asset tetapi akan diklasifikasikan sebagai pengurang
ekuitas pemegang saham secara keseluruhan. Keberatan terhadap penyajian ini
dapat member kesan yang salah tentang besarnya ekuitas pemegang saham
khususnya apabila saham treasuri tersebut akhirnya dianggap likuidasi saham atau
dijual dengan harga yang jauh dibawah kos.
KONSEP DUA TRANSAKSI
Pemerolehan kembali saham sebagai saham treasuri dianggap sebagai
likuidasi ekuitas pemegang saham sedangkan penjualan kembali saham treasuri
dianggap sebagai penerbita saham baru. Konsep ini disebut dengan pendekatan
nilai nominal karena harga penarikan atau penjualan kembali ditandingkan dengan

nilai nominal. Selisihnya dikompensasikan ke modal setoran lain seluruhnya atau


sebatas porsi modal setoran lain mula-mula sehingga selisihnya dikompensasikan
ke laba ditahan. Contoh jurnalnya adalah sebagai berikut :
Pada saat penarikan :
Modal saham 250.000
Agio saham .. 150.000
Kas . 400.000
Pada saat penjualan :
Kas .. 340.000
Modal saham . 250.000
Agio saham 90.000
Jurnal jika dipakai laba ditahan adalah sebagai berikut :
Modal saham 250.000
Agio saham (50.000 mula mula + 10.000).. 60.000
Laba ditahan .. 90.000
Kas . 400.000
Memang dari segi teknis dan konsep sebnarnya tidak ada perbedaan yang
cukup material antara konsep satu-transaksi dan konsep dua-transaksi. Perbedaan
sebenarnya justru terletak pada tujuan pemerolehan kembali saham tersebut.
Kalau tujuannya adalah untuk mnjual kembali saham treasuri kepada karyawan
atau pihak khusus lainnya, konsep satu akan lebih relevan. Akan tetapi, bila tujuan
pemerolehan kembali adalah untuk membeli saham para pemengang saham yang
tidak setuju dengan kebijakan perusahaan atau untuk melikuidasi jenis saham
tertentu maka pendekatan dua akan lebih mengena karena hal ini cenderung
bermakba likuidasi atau memutus hubungan kepemilikan.
Pengaruh bersi dari standar ini adalah diperbolehkannya kapitalisasi laba
ditahan dalam transaksi pembelian dan penjulan saham treasuri khususnya kalau
harga pembelian lebih tinggi dari pada modal setoran mula-mula.
PERUBAHAN LABA DITAHAN
Kalau pemisahan antara transaksi modal dan transaksi operasi harus tetap
dipertahankan, hanya terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi besarnya laba

ditahan yaitu laba atau rugi periodic dan pembagian deviden. Laba yang
dipindahkan dari aku laba rugi adalah laba yang merupakan selesih seluruh
elemen transaksi operasi dalam arti luas yang disebut laba komrehesif. Transaksi
lain yang dapat mempengaruhi laba ditahan adalah transaksi yang tergolong
dalam transaksi modal yang diuraikan dalam pembahasan perubahan modal
setoran. Pengaruh beberapa transaksi diatas langsung dimasukkan dalam laba
ditahan dan tidak melalui statemen laba rugi periode terjadinya transaksi tersebut
karena merupakan transaksi modal. Terdapat beberapa hal yang dapat
menyebabkan laba ditahan pada suatu periode berubah selain karena transaksi
modal tetapi karena transaksi khusus yaitu:
1. Penyesuaian periode yang lalu
2. Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan sebelumnya
3. Pengaruh perubahan akuntansi
4. Kuasi reorganisasi
PENYESUAIAN PERIODE LALU
Penyesuaian ini sering juga disebut dengan penyesuaian susulan.
Penyesuaian periode lalu adalah perlakuan terhadap suatu jumlah rupiah yang
mempengaruhi operasi periode masa lalu bukan sebagai pengurang atau
penambah perhitungan laba tahun sekarang tetapi sebagai penyesuaian tehadap
laba ditahan awal periode sekarang, sebagai contoh perusahaan yang pada periode
lalu dituntut unutk mengganti rugi sejumlah uang tertentu karena dituduh
melanggar hak paten perusahaan lain. Baru pada periode sekarang dapat
dipastikan bahwa perusahaan harus membayar ganti rugi sejumlah tertentu.
Jumlah tersebut harus diperlakukan sebagai rugi bagi perusahaan. Rugi tersebut
diakui sebagai penyesuaian terhadap laba bersih peiode lalu ketika peristiwa yang
menyebabkan rugi tersebut terjadi.
Beberapa pendapat ada yang mendukung dan ada yang menolak perlakuan
rugi tersebut sebagai penyesuaian periode lalu, pihak yang mendukung beragumen
sebagai berikut:
1. Laba akan menjadi lebih berarti kalau rugi yang timbul akibat kejadian masa
lalu dilaporkan sebagai elemen laba rugi periode yang bersangkutan.

Memasukkannya

sebagai

elemen

laba

rugi

periode

sekarang

akan

menimbulkan distorsi pelaporan laba periode sekarang.


2. Pelakuan semacam ini menggambarkan penerapan penandingan pendapatan
dan biaya yang tepat.
Sementara pihak yang menolak mengajukan argumen sebagai berikut:
1. Semua pendapatan untung biaya dan rugi yang berkaitan dengan kegiatan
menghasilkan pendapatan harus dilaporkan dalam statement laba rugi. Kalau
rugi diberlakukan sebagai penyesuaian periode lalu maka jumlah tersebut tidak
akan pernah masuk dalam riwayat laba perusahaan ini berarti daya melaba
jangka panjang tidak dapat digambarkan secara lengkap.
2. Pemakaian laporan kemungkinan besar tidak akan pernah mengetahui bahwa
rugi tertentu pernah dialami oleh perusahaan kalau jumlah tersebut tidak
dimasukkan dalam statement laba rugi.
KOREKSI KESALAHAN
Sistem akuntansi biasanya sudah dirancang dengan cukup cermat sehingga
kesalahan dalam pencatatan akan segera dapat dideteksi sehingga dapat dilakukan
koreksi. Untuk dapat disebut kesalahan suatu jumlah rupiah harus berasal dari
kesalahan hitung, kesalahan aplikasi, atau kekeliruan menggunakan fakta yang
tersedia dalam penyusunan laporan keuangan. Perubahan taksiran muncul dari
adanya informasi atau perkembangan baru yang berarti dari tilikan yang lebih baik
atau pertimbangan yang lebih mantap.
Misalnya saja kesulitan dalam memecah kos menjadi biaya dan bagian
yang ditunda pembebanannya pada akhir periode membuka kemungkinan untuk
melakukan koreksi di kemudian hari terhadap asset dan laba yang sebelumnya
telah dilaporkan. Juga dapat terbukti bahwa setelah beberapa periode ternyata
depresiasi telah dibebankan terlalu besar bila dibandingkan dengan kenyataan
yang sekarang dialami. Hal ini berarti bahwa nilai buku asset telah dilaporkan
terlalu rendah dan perhitungan laba pada masa yang lalu juga menjadi terlalu
rendah ditinjau dari segi fakta yang sekarang diperoleh. Demikian juga, kalau
terbukti bahwa beban depresiasi telah ditentukan terlalu kecil sehingga depresiasi
akumulasian kemungkinan tidak mencapai jumlah rupiah yang dapat menutup kos

asset pada saat diberhentikan maka ini berarti bahwa saldo asset telah dilaporkan
terlalu besar pula. Yang manapun dari situasi di atas, suatu koreksi diperlukan
segera setelah cukup bukti bahwa kesalahan telah terjadi.
Kalau laba suatu periode telah ditentukan atas dasar fakta yang obyektif
pada waktu itu maka tidak berarti bahwa laba tersebut tidak dapat diperbaiki bila
terbukti ada kesalahan. Kenyataan bahwa buku besar biaya dan pendapatan pada
tahun-tahun yang lalu telah ditutup tidaklah menutup kemungkinan untuk
merevisi kembali angka-angka laba yang telah dilaporkan sebelumnya dan untuk
melaporkan koreksi yang ternyata diperlukan dengan adanya fakta baru di
kemudian hari.
KOREKSI SEBAGAI PEYESUAI LABA DITAHAN
Menurut pandangan ini penyesuaian yang diperlukan terhadap laba yang
pernah dilaporkan harus dilakukan langsung terhadap akun laba ditahan untuk
semua kasus kecuali untuk koreksi-koreksi yang jumlahnya tidak terlalu besar
(material) sehingga tidak mengganggu pelaporan laba normal. Ini berarti koreksi
tidak tampak dalam statemen laba rugi.
Laba ditahan awal periode berjalan disesuaikan dengan jumlah rupiah
pengaruh kumulatif kesalahan terhadap perhitungan laba periode-periode
sebelumnya dan kalau statemen komparatif disajikan, pengaruh retroaktif
kesalahan harus ditunjukkan dalam statemen keuangan periode-periode yang
terpengaruh. Perlakuan semacam ini sebenarnya hanya berlaku untuk kesalahan
yang memenuhi ketentuan umum dalam SFAS No. 16 paragraf 1 yang dibahas
sebelumnya.
Metode ini dapat diterima dari sudut pandang neraca saja dan tidak
mengganggu kenormalan atau keutuhan (integrity) beberapa statemen laba rugi
berikutnya. Di lain pihak, prosedur ini tidak layak karena riwayat laba yang
pernah dilaporkan menjadi tidak lengkap dan besar kemungkinan angka laba
dapat menyesatkan.
Pengaruh

koreksi

dapat

ditunjukkan

dalam

statemen

laba

rugi

komprehensif sebagai penambah atau pengurang (modifier) angka laba bersih atau
angka manapun yang akhirnya toh akan ditambahkan ke (atau dikurangkan

terhadap) laba ditahan,. Letak yang tepat penyesuaian koreksi tidaklah merupakan
masalah yang penting asalkan ada pengungkapan yang jelas tentang hal tersebut
dalam statemen laba rugi. Tentu saja tidak dikehendaki untuk memasukkan
pengaruh koreksi dalam klasifikasi pendapatan operasi atau biaya operasi berjalan
(periode sekarang) karena jumlah rupiah koreksi berkaitan dengan perhitungan
laba dalam periode-periode sebelumnya.
Telah ditekankan berkali-kali bahwa daya melaba jangka panjang adalah
informasi yang sangat penting bagi investor. Dengan demikian, akan sangat
membantu dalam hal ini untuk memasukkan dalam statemen laba rugi tahunan
tidak hanya pengukur hasil (laba) periode berjalan yang setepat-tepatnya tetapi
juga pengukur koreksi laba statemen terdahulu setepat-tepatnya. Melaporkan
koreksi atas dasar fakta yang ditemukan kemudian sama sekali tidak berarti tidak
mempercayai atau menghargai perhitungan sebelumnya. Masa datang tidak selalu
dapat diprediksi dengan tepat. Oleh karena itu, sebenarnya tidak perlu diadakan
revisi akun-akun nominal yang telah ditutup dan juga tidak perlu menyusun
kembali lapora keuangan periode-periode yang lalu dengan revisi yang
menyeluruh (retroactive restatement). Hal ini dilandasi oleh argument bahwa
perhitungan laba bersih tahunan bukanlah harga mati dan penyajian statemen laba
rugi secara komprehensif (menyajikan laba normal, dan luarbiasa serta koreksi)
dan secara serial akan menggambarkan riwayat laba sesuai dengan kenyataan.
Perlakuan pengaruh koreksi seperti ini sebenarnya mudah dan logis.
KOREKSI SEBAGAI PENYESUAI MODAL SETORAN LAIN
Koreksi yang berkaitan dengan penggunaan asset (asset utilization) dalam
periode-periode yang lalu dengan alasan apapun hendaknya dipisahkan dengan
premium modal saham. Premium modal saham merupakan komponen modal
setoran dan kalau pemisahan antara modal setoran dan modal operasi (laba) harus
tetap dipertahankan maka tidaklah tepat untuk menggunakan modal setoran untuk
menyerap koreksi atas laba yang pernah dilaporkan kecuali kalau :
(1) Laba bersih tahun berjalan dan laba ditahan telah habis
(2) Penyesuaian yang mempengaruhi modal setoran tersebut mendapat
persetujuan pemegang saham

(3) Laba ditahan yang diakumulasi setelah penyesuaian modal tersebut diberi
tanggal. Artinya, laba ditahan yang dilaporkan kemudian diperoleh dari
operasi setelah penyesuaian tersebut (perusahaan dianggap baru mulai atau
fresh start).
Jadi,

sangatlah

tidak

tepat

memperlakukan

koreksi

dengan

cara

menggabungkan semua penyesuaian dalam statemen perubahan laba ditahan dan


terpisah dengan statemen laba rugi. Penyajian seperti itu cenderung mengacaukan
antara koreksi laba yang pernah dilaporkan dengan penyesuaian modal pemegang
saham yang tidak ada sangkut pautnya dengan proses pemanfaatan asset.
KOREKSI SEBAGAI KOMPONEN STATEMEN LABA RUGI
Statemen laba rugi kumulatif (serial Komparatif) yang didasarkan atas
statemen-statemen terdahulu harus menunjukkan laba (atau rugi) komprehensif
sepanjang riwayat perusahaan sampai tanggal sekarang. Dengan demikian, kalau
koreksi langsung dilakukan dalam akun laba ditahan tanpa ada petunjuk atau
penjelasan apapun dalam statemen laba rugi, beberapa statemen laba rugi yang
pernah diterbitkan tidak dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Prinsip penyesuaian langsung
ke laba ditahan membuka kemungkinan untuk menimbulkan prosedur yang
mengaburkan atau menyembunyikan pengaruh rugi atau untung luar biasa dengan
akibat timbulnya salah tafsir pada pihak pemegang saham atau pihak lain yang
berkepentingan. Statemen laba rugi harus menyatakan laba seprti apa adanya
termasuk rugi atau untung akibat koreksi. Masalahnya adalah bagaimana
melaporkan koreksi dalam statemen laba rugi? Hal ini akan dibahas dalam seksi
penyajian laba.
PERUBAHAN AKUNTANSI
Karena alasan tertentu suatu perusahaan mungkin melakukan kebijakan
yang mempunyai pengaruh terhadap konsistensi dalam proses akuntansi dan
pelaporan keuangan yang disebut dengan perubahan akuntansi. Ada tiga macam
perubahan akuntansi yaitu :

(1) Perubahan prinsip atau metode akuntansi (change in accounting principle


or method)
(2) Perubahan taksiran akuntansi (change in accounting estimate)
(3) Perubahan kesatuan pelaporan (change in the reporting entity)
Jumlah rupiah laba dan asset berkaitan yang mula-mula dilaporkan dalam
statemen keuangan periode yang lalu sebelum adanya perubahan tentunya akan
berbeda dengan jumlah rupiah seandainya perubahan tersebut telah dilakukan
dalam periode yang lalu dan bukan dalam periode sekarang atau berjalan. Salah
satu elemen yang terpengaruh adalah laba periode yang lalu.
Masalah perekayasaan yang bersangkutan dengan hal ini adalah untuk
periode mana saja pengaruh kumulatif perubahan harus diakui. Ada tiga alternatif
atau metode yang diusulkan yaitu penyesuaian retroaktif (retroactive adjustment),
penyesuaian sekarang dan prospektif (current and prospective adjustment).
PENYESUAIAN RETROAKTIF
Metode ini mengakui kumulatif perubahan dalam laba periode yang lalu
sebagai penyesuaian periode lalu. Ini berarti saldo awal akun laba ditahan ditahan
periode sekarang disesuaikan dengan pengaruh kumulatif tersebut dan laporanlaporan periode sebelumnya disusun kembali sesuai dengan perubahan tersebut.
Pendukung

penyesuaian

retroaktif

mengajukan

argument

seperti

pendukung penyesuaian periode lalu. Riwayat laba perusahaan yang sebenarnya


selama beberapa periode menjadi tidak menggambarkan laba yang konsisten cara
penghitungannya sehingga analisis statemen keuangan dapat menyesatkan
pengambilan keputusan. Dengan kata lain, prinsip akuntansi harus diterapkan
secara konsisten dalam statemen keuangan komparatif. Menggunakan prinsip
yang berbeda untuk pos yang sama dalam statemen keuangan komparatif dapat
menimbulkan interpretasi yang salah mengenai kecenderungan (trend) atau
analisis lainnya. Prinsip akuntansi harus sama antara periode sekarang dan
beberapa periode sebelumnya. Jadi, kalau terjadi perubahan akuntansi, statemen
keuangan periode yang lalu harus disusun kembali untuk mrefleksi prinsip
akuntansi yang baru.

PENYESUAIAN SEKARANG
Metode ini mengakui seluruh pengaruh perubahan dalam laba periode
yang lalu sebagai komponen dalam menghitung laba periode sekarang (periode
terjadinya perubahan). Perlakuan ini didasari oleh beberapa gagasan. Pertama,
semua pos yang mempengaruhi laba perusahaan harus dilaporkan melalui
statemen laba rugi. Argumen ini sejalan dengan gagasan tentang perlunya
pemisahan yang tegas antara transaksi operasi dan transaksi modal. Kedua, pada
umumnya perubahan akuntansi cukup sering terjadi sehingga tidak praktis untuk
selalu mengadakan revisi statemen keuangan periode-periode sebelumnya. Ketiga,
pengungkapan yang jelas dalam pelaporan laba periode sekarang sudah cukup
memadai untuk mengungkapkan pengaruh perubahan tersebut sehingga
kemungkinan pembaca laporan akan melewatkan informasi perubahan dapat
diatasi. Keempat, penyusunan kembali statemen keuangan periode lalu dapat
menuunkan

keyakinan

publik

terhadap

statemen

keuangan

dan

dapat

membingungkan pemakai. Akhirnya, karena serangkaian statemen masa lalu telah


disusun atas dasar prinsip akuntansi berterima umum, meretia harus dianggap
final kecuali untuk perubahan entitas pelaporan atau untuk koreksi kesalahan.
PENYESUAIAN SEKARANG DAN PROSPEKTIF
Metode ini menyebar pengaruh kumulatif perubahan dalam laba periode
yang lalu ke periode sekarang dan beberapa periode mendatang yang sesuai.
Perlakuan ini dilandasi oleh argumen bahwa perubahan akuntansi merupakan
suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam proses akuntansi yang bersifat
memenuhi kebutuhan yang berkembang. Dalam banyak hal, perubahan akuntansi
tidak menyangkut jumlah yang cukup material untuk mengharuskan revisi
statemen keuangan. Lagipula, manfaat tambahan yang diperoleh dengan revisi
tidak sepadan kos perevisian tersebut. Oleh karena itu, cara terbaik adalah
melakukan perubahan akuntansi dan menerapkan metode tersebut mulai dari
periode perubahan dan seterusnya tanpa perlu mengadakan revisi terhadap apa
yang sudah terjadi walaupun pengungkapan yang memadai tentang perubahan
tetap diperlukan.

PERUBAHAN PRINSIP ATAU METODE AKUNTANSI


Perubahan ini misalnya adalah pergantian metode depresiasi dari
persentase nilai buku ke garis lurus atau sebaliknya. Perubahan dapat disebabkan
oleh terbitnya standar baru yang menetapkan penggunaan metode tertentu atau
menolak sama sekali metode tertentu. Misalnya saja, pelaporan sewaguna yang
harus menggunakan metode kapitalisasi untuk sewaguna yang memenuhi kriteria
kapitalisasi padahal sebelum adanya standar tersebut perusahaan menggunakan
metode sewaguna operasi. Perubahan peraturan pajak dapat memicu perusahaan
untuk mengganti metode akuntansi.
Konsistensi dalam penggunaan metode antarperiode akan meningkatkan
manfaat statemen keuangan. Perusahaan dapat mengganti metode akuntansi kalau
memang metode baru lebih baik dan efektif untuk melaporkan kejadian yang
masih akan tetap berlangsung di masa datang. Tentu saja perusahaan harus
memberi justifikasi yang kuat akan manfaat metode baru. Akan tetapi, metode
lama yang hanya diterapkan untuk suatu kejadian yang khusus atau tidak berulang
tidak selayaknya diganti. Secara teknis, perlakuan tersebut dilaksanakan sebagai
berikut (paragraph 19) :
a. Statemen keuangan beberapa periode sebelum perubahan disertakan dalam
pelaporan seperti apa adanya untuk tujuan perbandingan
b. Pengaruh kumulatif perubahan terhadap laba ditahan awal periode
sekarang dilaporkan dalam statemen laba rugi periode sekarang (terjadinya
perubahan)
c. Pengaruh penggunaan metode baru terhadap laba sebelum pos luar biasa
dan terhadap laba bersih (termasuk EPS) untuk periode pergantian metode
perlu diungkapkan.
d. Laba sebelum pos-pos luar biasa dan laba bersih (termasuk EPS) yang
dihitung secara pro forma atas dasar metode baru harus ditunjukkan dalam
statemen laba rugi untuk periode-periode yang disajikan seakan-akan
prinsip baru telah diterapkan untuk periode-periode tersebut.
PERUBAHAN TAKSIRAN AKUNTANSI

Perubahan ini dapat terjadi sebagai akibat ditemukannya fakta baru atau
informasi baru atau akibat pengalaman tambahan yang diperoleh perusahaan
bersangkutan dengan taksiran tertentu. Contoh klasik adalah perubahan taksiran
umur fasilitas fisis setelah perusahaan menggunakannya dalam beberapa periode
akuntansi. Hal yang perlu dicatat adalah perubahan semecam ini bukan
merupakan kesalahan (error) statemen keuangan periode sebelumnya. Untuk
dapat dikatakan sebagai kesalahan penyebab perubahan tersebut harus memenuhi
pengertian kesalahan seperti yang didefinisi dalam pembahasan kesalahan.
Perubahan taksiran biasanya juga berbeda dengan perubahan akuntansi. Misalnya,
pengurangan umur ekonomik suatu fasilitas fisis merupakan perubahan taksiran
sedangkan pergantian dari metode garis lurus ke metode lain merupakan
perubahan akuntansi walaupun kedua perubahan tersebut mungkin menghasilkan
jumlah rupiah dan pengaruh perubahan yang sama terhadap laba.
Perubahan estimasi diperlakukan sebagai penyesuaian sekarang dan
porspektif yaitu pengaruh perubahan diakui (1) pada periode perubahan kalau
perubahan hanya mempengaruhi periode tersebut atau (2) pada periode perubahan
dan mendatang kalau perubahan mempengaruhi kedua periode tersebut. Juga
ditetapkan bahwa perubahan estimasi hendaknya tidak diperlakukan sebagai
penyesuaian retroaktif atau pelaporan pro forma untuk periode lalu. Alasan
perlakuan tersebut adalah bahwa perubahan estimasi merupakan hal yang sering
terjadi karena memang sifat yang melekat dalam akuntansi yang memungkinkan
digunakannya angka taksiran. Kalau selalu diadakan penyesuaian retroaktif,
kepercayaan masyarakat terhadap statemen keuangan dapat berkurang.
PERUBAHAN KESATUAN/SUBJEK PELAPORAN
Perubahan entitas pelaporan berarti perubahan organisasi atau lingkup
kesatuan usaha yang dilaporkan dalam statemen keuangan. Perubahan entitas
pelaporan dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1.

Penyajian statemen keuangan konsolidasian (consolidated) atau


gabungan (combined) sebagai ganti statemen perusahaan secara individual

2.

Perubahan grup perusahaan anak yang dimasukkan dalam statemen


keuangan konsolidasian

3.

Perubahan grup perusahaan-perusahaan yang membentuk statemen


keuangan
Termasuk pula sebagai perubahan entitas adalah kombinasi bisnis yang

dipertanggungjelaskan dengan metode penyatuan kepentingan (pooling of


interest). Ketentuan perlakuan ini mengikuti penyesuaian retroaktif. Alasannya
adalah perubahan seperti itu jarang terjadi sehingga manfaat penyusunan kembali
statemen keuangan sebelumnya masih dianggap cukup memadai dibandingkan
dengan kerepotannya. Di samping itu, perubahan semacam ini biasanya
menyangkut perubahan yang besar sehingga kesalahan dalam pengambilan
keputusan dapat mempunyai dampak ekonomi yang luas sehingga konsistensi dan
statemen yang cukup teliti perlu disampaikan kepada para pengambil keputusan.
KUASI-REORGANISASI
Kuasi-reorganisasi adalah reorganisasi, tanpa melalui reorganisasi secara
hukum yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan kewajiban
pada nilai wajar dan mengeliminasi saldo defisit.
Selanjutnya ditegaskan bahwa kuasi-reorganisasi merupakan prosedur
akuntansi yang mengatur perusahaan untuk inerestrukturisasi ekuitasnya dengan
menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh asset dan kewajbannya tanpa
melalui reorganisasi secara hukum. Dengan mekanisme ini, diharapkan
perusahaan dapat meneruskan usahanya secara lebih baik seperti baru mulai (fresh
start) dengan modal yuridis baru tanpa dibebani defisit.
Kalau terjadi defisit, tidak perlu segera diserap oleh modal setoran. Defisit
dapat dianggap sebagai kontra jumlah modal setoran dengan harapan operasi
perusahaan di masa mendatang dapat menutup atau menghilangkan defisit
tersebut. Akan tetapi, kalau defisit tersebut berkelanjutan dan perusahaan terus
mendapat rugi, tidak ada jalan lain kecuali mengadakan kuasi-reorganisasi agar
secara yuridis perusahaan dianggap sehat dan dapat membagi dividen. Proses
kuasi-reorganisasi biasanya terdiri atas langkah-langkah berikut :
1. Aset dan kewajiban perusahaan dinilai kembali atas dasar nilai pasar atau
nilai wajar pada saat reorganisasi

2. Modal setoran lain atau agio saham (paid in capital in excess of par) harus
ditentukan jumlahnya sehingga cukup besar untuk menutup defisit. Bila
sudah cukup besar maka defisit dapat langsung dikompensasi dengan agio
modal saham ini. Kalau tidak cukup, nominal saham atau nilai yuridis
saham harus diturunkan atau dimintakan kesediaan dari pemegang saham
untuk menutup defisit dengan mendonasikan sebagian modal sahamnya
(ini berarti sebagian modal saham dilikuidasi tanpa kompensasi apapun
kepada pemegang saham).
3. Saldo debit laba ditahan (defisit) dieliminasi dengan cara mendebit
agio/premium modal saham
Setelah kuasi-reorganisasi, laba ditahan tentunya akan bersaldo nol dan
mungkin masih terdapat sisa agio modal saham. Statemen keuangan untuk tahun
terjadinya kuasi-reorganisasi harus mengungkapkan rincian jumlah yang
membentuk struktur modal yang baru (misalnya hasil penilaian kembali asset dan
kewajiban, agio/premium yang diciptakan, dan besarnya defisit yang diserap).
Laba ditahan sebelum reorganisasi tidak dapat diteruskan lagi dan laba ditahan
dalam neraca setelah reorganisasi harus diberi tanggal. Artinya, harus ditunjukkan
bahwa kalau terjadi laba ditahan maka laba ditahan tersebut terbentuk setelah
tanggal reorganisasi. Pengungkapan ini harus dilakukan sampai informasi tersebut
tidak cukup signifikan untuk diungkapkan. Dewan Standar Akuntansi menegaskan
bahwa kuasi-reorganisasi bukan sekedar cara untuk menyajikan kembali posisi
keuangan yang lebih baik tetapi juga cara untuk menyelamatkan perusahaan yang
terbebani defisit yang material padahal perusahaan tersebut memiliki prospek
yang baik. Kalau prospek memang tidak baik, defisit merupakan kegagalan
perusahaan dan kepailitan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Berdasarkan
PSAK, syarat-syarat perusahaan yang dapat melakukan kuasi-reorganisasi yaitu:
(a) Perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material
(b) Perusahaan harus memiliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek
yang baik pada saat kuasi-reorganisasi dilakukan
(c) Perusahaan tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan
(d) Tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku
(e) Saldo ekuitas sesudah kuasi-reorganisasi harus positif

PENGARUH DEFISIT TERHADAP KREDITOR


Setiap defisit akan mengurangi batas perlindungan (margin of protection)
yang sebelumnya dinikmati oleh kreditor perseroan dan tingkat pengurangan ini
akan menjadi makin berpengaruh kalau defisit semakin besar. Kalau laba ditahan
jumlahnya cukup untuk menyerap rugi tertentu maka tidak akan timbul defisit
ditinjau dari segi neraca meskipun posisi kreditor menjadi kurang terjamin
dibandingkan dengan posisi sebelum terjadinya rugi. Kalau rugi melebihi laba
ditahan jaminan kreditor mula-mula yang berupa ekuitas pemegang saham
menjadi berkurang. Kalau sebagian ekuitas pemegang saham telah disisihkan
sebagai agio saham cukup untuk menyerap sisa rugi, maka jaminan penyangga
bagi kreitor akan terpengaruh juga. Kalau modal saham yuridis harus dikurangi
untuk membnetuk agio yang cukup untuk menyerap defisit maka jelaslah ada
pengerutan elemen jaminan penyangga total mula-mula (original margin) yang
menjadi dasar utama kepercayaan kreditor dalam menanamkan dananya.
Proses pengurangan modal saham yuridis untuk menyerap defisit akan
mendekatkan posisi perusahaan pada garis batas yang menandai timbulnya hak
kredotor yaitu hak yang berkaitan dengan kesulitan keuangan (insolvency)
debitor. Arti pentingnya proses kuasi-reorganisasi akan sangat berpengaruh
terhadap kreditor bilamana ada petunjuk bahwa defisit secara berangsur-angsur
menjadikan jaminan penyangga bagi kreditor habis. Itulah sebabnya Dewan
Standar Akuntansi menetapkan bahwa hanya perusahaan yang prospeknya baik
dapat melakukan kuasi-reorganisasi.
Yang jelas kuasi-reorganisasi tidak akan dilakukan kalau laba ditahan
masih dapat menyerap defisit. Bila kuasi-reorganisasi dilakukan padahal masih
terdapat laba ditahan, kuasi-reorganisasi semacam ini dapat menimbulkan
distribusi asset sebagai dividen padahal sebenarnya asset tersebut merupakan
jaminan bagi kreditor untuk pinjaman yang ditanamkan. Dengan kata lain,
perusahaan mengumumkan deviden dengan membebankannya terhadap modal
pemegang saham yang menjadi batas perlindungan kreditor.
Kuasi-reorganisasi yang memenuhi syarat tidak dengan sendirinya
merugikan kreditor. Seperti juga pemegang saham, kreditor akan lebih dirugikan

oleh adanya rugi daripada oleh fleksibilitas penyesuaian modal. Akan tetapi,
dengan cara pengungkapan yang bagaimanapun, membiarkan laba ditahan tetap
utuh sementara rugi diserap dengan modal setoran merupakan perlakuan yang
menyesatkan bagi semua pihak yang berkepentingan.
PENYAJIAN MODAL PEMEGANG SAHAM
Urutan penyajian kewajiban dan modal pemegang saham dalam neraca
sebenarnya menggambarkan urutan perlindungan dalam kondisi perusahaan
mengalami defisit dan dalam kondisi perusahaan dilikuidasi. Dalam terjadi defisit,
urutan penyajian menggambarkan urutan penyerapan rugi (sequence of charges)
sedangkan dalam kondisi likuidasi urutan penyajian menggambarkan urutan
perlindungan yuridis (legal sequence of protection) bagi para penyedia dana
dalam hal terjadi likuidasi. Jadi, berbagai hak atas asset disajikan atas dasar urutan
siapa dahulu yang memikul rugi dalam hal terjadi defisit dan siapa dahulu
menerima distribusi asset dalam hal terjadi likuidasi.
URUTAN PENYERAPAN RUGI
Secara umum yang telah dikorbankan (expired) menjadi biaya akan
diserap melalui aliran pendapatan kotor. Hal ini berkaitan paa umumnya dengan
pengakuan biaya atas dasar konsumsi manfaat (consumption of benefit) dalam
kondisi operasi normal. Dalam hal terjadi pengorbanan kos akibat hilangnya
manfaat menjadi rugi, rugi tersebut akan diserap dahulu melalui laba bersih dan
hanya dalam keadaan yang sangat khusus maka kos tersebut dapat diserapkan oleh
kelompok modal pemegang saham. Jadi, urutan penyerapan biaya, rugi, dan rugi
luar biasa (sequence of charges) dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Pendapatan kotor. Pos ini menyerap semua biaya dan rugi dan
debit/beban (charges) yang berasal dari transaksi pemilik.
2. Laba bersih. Hal ini akan terjadi pendapatan kotor tidak cukup untuk
menutup semua kos terhabiskan (expired cost) baik yang berasal dari
konsumsi manfaat maupun hilangnya manfaat (misalnya rugi luar
biasa). Bila digunakan pendekatan laba komprehensif, laba bersih akan
menjadi laba komprehensif.

3. Laba ditahan. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila laba bersih
periode berjalan tidak cukup untuk menyerap suatu rugi tertentu atau
rugi luar biasa.
4. Premium modal saham. Bagian modal ini baru dapat menyerap rugi
kalau laba ditahan dan laba ditahan telah habis untuk menyangga suatu
rugi. Dengan kata lain, modal saham harus tetap dijaga keutuhannya
sampai premium modal saham benar-benar telah habis.
5. Modal saham. Bila keutuhan modal yuridis telah terpengaruh secara
substansial, kebijakan untuk melakukan kuasi-reorganisasi atau bahkan
likuidasi perusahaan mungkin diperlukan.
Urutan penyerapan rugi seperti diatas sebenarnya merupakan asumsi atau
tradisi semata-mata walaupun hal tersebut dapat dikuatkan dalam bentuk standar
akuntansi. Hal ini didasarkan pada pikiran bahwa berbagai dana yang ditanamkan
menjadi aset perusahaan akan lebur menjadi begitu lumatnya menjadi satu
kesatuan aset. Jika demikian, rugi timbul akibat keseluruhan kegiatan yang
didanai dari berbagai sumber. Oleh karena itu, sebenarnya tidak mungkin lagi
menyatakan bahwa rugi berkaitan dengan sumber dana tertentu (laba bersih, laba
ditahan, atau modal).
Walaupun demikian, atas dasar sifat pendanaan (financing dan operasi
perusahaan serta penekanan konsep kontinuitas, cukup valid untuk menganggap
bahwa dalam kelompok modal pemegang saham, modal saham atau yuridis adalah
bagian terakhir (residual) dalam kaitannya dengan penyerapan rugi.
Penempatan laba bersih di atas laba ditahan untuk menyerap rugi dilandasi
oleh alasan untuk mencegah kecenderungan manajemen untuk melaporkan rugi
secara terpisah dari statemen laba-rugi dan langsung membebankan ke kelompok
modal pemegang saham. Alasan tersebut juga menjadi argumen untuk
memunculkan konsep laba komprehensif. Dengan konsep ini, semua rugi dalam
bentuk dan jenis apapun dimasukkan dalam statemen laba-rugi tahun terjadinya
atau tahun dapat diakuinya rugi tersebut.
Urutan penyerapan rugi seperti diatas juga dapat diapndang sebagai urutan
menikmati untung. Dengan demikian, semua untung luar biasa (selain yang timbul
akibat transaksi saham perusahaan) harus dimasukkan sebagai unsur dalam

mengukur laba bersih sebelum dipindahkan ke laba ditahan. Kalau laba luar biasa
langsung ditambahkan ke laba ditahan dikhawatirkan bahwa pengaruhnya
terhadap laba akan terlewatkan. Oleh karena itu, tidak selayaknyalah kalau untung
langsung ditambahkan ke laba ditahan atau premium modal saham tanpa melalui
statemen laba-rugi.
URUTAN MENERIMA DISTRIBUSI ASET
Urutan perlindungan menunjukkan siapa yang harus didahulukan dalam
menerima distribusi aset atau siapa yang menanggung segala akibat dalam kasus
perusahaan dilikuidasi. Urutan ini menjadi basis penyajian untuk kewajiban dan
ekuitas pemegang saham. Ditinjau dari segi ini, urutan perlindungan dapat
dikemukakan sebagai berikut :
1. Karyawan dan pemerintah. Pihak ini dapat dipandang sebagai
kreditor yang diprioritaskan yaitu karyawan dengan hak atas gaji dan
pemerintah dengan hak atas pajak terutang.
2. Kreditor berjaminan. (guaranteed creditors). Pihak ini adalah
pemegang obligasi atau kreditor lain yang haknya dijamin dengan hak
sita (liens) atas aset tertentu.
3. Kreditor takberjaminan (unguaranteed creditors). Pihak ini terdiri
atas para kreditor yang tidak dijamin yang terrefleksi dalam utang
usaha atas utang wesel baik jangka pendek maupun jangka panjang.
4. Pemegang saham prioritas. Pihak ini dilindungi oleh laba ditahan
sebagai penyangga modal saham atau yuridis.
5. Pemegang saham biasa. Pihak ini merupakan pemegang hak atas sisa
kekayaan (residual interest) yang berarti bahwa pemegang saham biasa
harus menanggung lebih dahulu rugi atau defisit.
Dengan urutan perlindungan seperti diatas, pemegang modal saham biasa
adalah yang paling akhir dilindungi alias tidak ada perlindungan sama sekali.
Modal saham biasa ini merupakan hak atas kekayaan yang terbuka terhadap risiko
dan paling terpengaruh terhadap hasil kegiatan perusahaan, baik hasil yang
menguntungkan maupun yang merugikan. Meskipun demikian, dalam perusahaan
yang besar yang pemegang saham biasanya berkedudukan seperti kreditor yaitu

menyediakan dana tanpa mengurus langsung penggunaan dana tersebut, tentu saja
cukup beralasan untuk menganggap bahwa ada semacam perlindungan ini
tentunya akan sedikit yang bersedia menjadi pemegang saham biasa.
Perlindungan di atas secara umum juga menjadi basis penyajian kewajiban
dan ekuitas dalam neraca. Jadi, cukup beralasanlah kalau kewajiban disajikan
lebih dahulu baru kemudian ekuitas pemegang saham. Hubungan antara urutan
penyerapan rugi dan urutan perlindungan yang terefleksi dalam penyajian di
neraca dilukiskan dalam Gambar 11.1 di bawah ini.
Gambar 11.1
Penyajian Secara Umum Kewajiban dan Ekuitas dalam Neraca
Dan Hubungannya Dengan Urutan Perlindungan
Kewajiban
Modal saham istimewa
Agio saham istimewa
Urutan Penyerapan Rugi
Perlindungan

Urutan
Modal saham biasa
Agio saham biasa
Laba ditahan

PERINCIAN LABA DITAHAN


Bila komponen-komponen tertentu yang berasal dari transaksi operasi
dilaporkan langsung ke laba ditahan, laba ditahan dapat disajikan dan dirinci atas
dasar sumber. Terdapat pula kebiasaan bahwa laba ditahan disajikan dengan
memerincinya atas dasar tujuan (by purposes) dengan cara yang disebut apropriasi
(appropriation) dan pembatasan (restriction).
PERINCIAN ATAS DASAR SUMBER
Dengan dasar ini, laba ditahan dapat dirinci menjadi laba ditahan yang
berasal dari operasi normal atau rutin dan yang berasal dari laba luar biasa. Dapat
saja pembedaan antara kedua sumber laba ditahan tersebut dipertajam. Namun,

sebenarnya tidak cukup beralasan untuk memecah kembali jumlah rupiah bersih
laba periodic atas dasar klasifikasi sumber bilamana statemen laba-rugi telah
memuat semua faktor yang menentukan laba bersih (pendekatan laba
komprehensif) dan laba komprehensif ini telah ditransfer ke laba ditahan menjadi
bagian dari ekuitas pemegang saham. Jadi, bila perubahan akibat transaksi operasi
dipisahkan secara tegas dengan transaksi modal, statemen laba-rugi telah
merefleksi sumber laba ditahan sehingga perincian laba ditahan akan percuma.
PERINCIAN ATAS DASAR TUJUAN PENGGUNAAN
Dalam praktik, perincian ini ditunjukkan dengan adanya pos cadangan
jaminan sosial, laba ditahan terbatas (restricted retained earnings), dan cadangan
umum. Perincian semacam itu sebenarnya sama saja dengan mengaitkan laba
ditahan dengan aset tertentu (asset imputation). Artinya, dalam aset apa saja laba
ditahan sebagaimana ditunjukkan oleh komponen aset yang terkait.
Dalam hal tertentu mungkin ada petunjuk untuk mengatakan bahwa laba
ditahan terikat dalam aset lancar. Misalnya saja, dalam satu periode telah terjadi
kenaikan modal kerja neto dan tidak terjadi transaksi lain kecuali transaksi operasi
yang menimbulkan laba dalam periode tersebut. Dalam hal ini, terdapat cukup
alasan untuk mengatakan bahwa laba ditahan pada saat itu tertanam dalam
tambahan modal kerja. Dalam kasus lain mungkin dapat dbuktikan bahwa jumlah
rupiah laba ditahan terikat dalam kas atau pos aset lancar lain. Sejalan dengan
pikiran tersebut, kalau terjadi tambahan fasilitas fisis tanpa diimbangi dengan
terjadinya pinjaman baru, modal baru, atau berkurangnya modal kerja, terdapat
pula cukup alasan untuk menyatakan bahwa laba ditahan telah tertanam dalam
aset tetap.
Perincian semacam itu sebenarnya tidak perlu dan tidak mempunyai
manfaat informasional karena statemen aliran kas telah mengandung informasi
tersebut. Jadi, penyertaan statemen laporan aliran kas lebih memenuhi tujuan
pelaporan daripada perincian resmi dalam laba ditahan dengan sebutan misalnya
cadangan ekspansi.
Ada kalanya, dalam rangka kebijakan dividen, perusahaan yang
mempunyai rencana membagi dividen menyisihkan laba ditahan menjadi

cadangan pembagian dividen sebelum mengumumkan dividen. Meskipun


demikian, perlu dicatat bahwa dividen tersebut harus dibayar dengan kas.
Penyisihan tersebut sebenarnya tidak menjamin bahwa kas tersedia untuk
keperluan tersebut. Selanjutnya dinyatakan bahwa penyisihan hanya akan
bermakna bila di sisi aset disisihkan benar-benar sejumlah rupiah untuk tujuan
penyisihan tersebut. Misalnya, disisihkannya laba ditahan untuk jaminan sosial
mungkin akan bermanfaat kalau sejumlah kas disisihkan untuk keperluan tersebut.
Akan tetapi, penyisihan kas itu sendiri sebenarnya sudah cukup untuk
menunjukkan bahwa aset tidak dapat digunakan untuk keperluan selain yang telah
ditetapkan sehingga laba ditahan tidak perlu disisihkan. Penyisihan laba ditahan
akan berlebihan secara informasional.
Penyisihan laba ditahan sebagai cadangan khusus akan cenderung
memberi gambaran yang menyesatkan kepada para pembaca statemen keuangan.
Istilah cadangan memberi kesan sebagai dana kas atau semacamnya yang
disihkan (dihimpun) untuk tujuan khusus. Pada kenyataannya, biasanya tidak ada
dana (kas dan aset lainnya) yang benar-benar dipisahkan yang jumlahnya sama
dengan jumlah cadangan laba ditahan yang dibentuk bahkan kadang-kadang
tidak pernah atau akan terjadi investasi atau pengeluaran dana seperti yang disebut
dengan nama cadangan laba ditahan tersebut. Jadi, pencadangan semacam itu
akan percuma saja.
Laba ditahan pada dasarnya tidak lebih daripada sebagai bagian hak
pemegang saham atas dana yang tertanam dalam seluruh aset sebagai kesatuan
sehingga tidak diperlukan perincian laba ditahan. Jumlah rupiah laba ditahan tidak
dapat diidentifikasi atas dasar ke jenis aset apa jumlah rupiah tersebut terikat.
Seperti juga modal setoran, laba ditahan terikat dalam aset sebagai satu kesatuan.
Ini berarti bahwa setiap bentuk klasifikasi laba ditahan atas dasar untuk apa
jumlah rupiah laba ditahan digunakan dalam perusahaan adalah bersifat hipotesis
belaka dan sama sekali tidak bermakna.
Bentuk lain penyisihan adalah untuk tujuan penyerapan kemungkinan rugi
atau ketidakpastian lainnya (contingencies). Penyisihan ini juga tidak bermakna
karena pada dasarnya total jumlah rupiah laba ditahan dapat dipandang sebagai
penyangga atau cadangan umum (general purpose buffer). Kalau memang

terdapat suatu tuntutan ganti rugi atau klaim yang suatu saat memang harus
dipenuhi maka jumlah rupiahnya (bila perlu ditaksir) harus ditunjukkan sebagai
kewajiban. Kalau ketidakpastian tersebut tidak lebih dari sekedar kemungkinan
dan khususnya apabila jumlah rupiah kerugiannya tidak dapat ditentukan maka
suatu catatan kaki akan cenderung lebih informative daripada penyisihan laba
ditahan.
Proses penyisihan laba ditahan hendaknya tidak dikacaukan dengan proses
akuntansi untuk pengukuran laba. Dengan demikian masalah cadangan laba
ditahan harus dibedakan secara tegas dengan masalah teoritis yang berkaitan
dengan akun-akun cadangan utang (misalnya diskun utang obligasi),
cadangan aset (misalnya depresiasi akumulasian), cadangan kerugian piutang,
dan akun-akun cadangan lainnya sebagai kontra-akun asset atau kewajiban.
LABA KOMPREHENSIF
Perubahan akibat transaksi operasi atau transaksi nonpemilik harus
dibedakan dan dipisahkan secara tegas dengan perubahan akibat transaksi pemilik,
semua perubahan akibat transaksi operasi harus dilaporkan melalui statemen labarugi. Pos-pos operasi dalam arti luas sebagai lawan pos-pos transaksi nonpemilik
meliputi pos-pos operasi utama, pos-pos tambahan, dan pos-pos yang sifatnya
khusus atau luar biasa tetapi berasal dari transaksi nonpemilik. Masalah tecretis
dalam hal ini adalah pos-pos mana saja yang disajikan melalui statemen laba-rugi
dan pos-pos mana saja yang dilaporkan melalui statemen laba ditahan. Dalam hal
ini, ada dua pendekatan yang dapat dianut yaitu kinerja sekarang atau normal
(current atau normal performance approach) dan semua termasuk atau surplus
bersih (all-inclusive atau clean surplus approach).
LABA KINERJA SEKARANG
Pendekatan ini hanya memasukkan ke dalam statemen laba-rugi pos-pos
operasi yang dianggap bertalian dengan tahun berjalan dan penggunaan asset
(sumber ekonomik) untuk mencapai tujuan utama. Pendukung pendekatan ini
mengajukan beberapa argumen sbb:

1. laba harus mengukur efisiensi penggunaan sumber ekonomik untuk


perioda berjalan sehingga laba harus bebas dari hal-hal yang mengaburkan
efisiensi. Efisiensi, yang diukur atas dasar kembalian atas aset (return on
assets), merupakan angka penting untuk memprediksi kemampuan laba
masa datang.
2. laba merupakan pengukur kinerja manajemen. Oleh karenanya, laba
haruslah angka yang benar-benar merupakan hasil penggunaan sumber
ekonomik yang ada dalam batas-batas pengendalian manajemen. Faktorfaktor yang terjadi di luar kendali manajemen harus dikeluarkan dari
perhitungan laba. Ini berarti, laba yang harus disajikan dalam statemen
laba-rugi adalah laba yang berasal dari operasi normal.
3. laba harus dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antarperioda
dan antarperusahaan secara bermakna. Hal ini hanya dapat dilakukan kalau
angka laba hanya berisi pos-pos yang bersifat operasi dan rutin.
4. karena fiksasi fungsional (functional fixation) pembaca statemen laba-rugi
yang hanya melihat angka akhir, pemasukan pos-pos luar biasa dalam
statemen laba-rugi dapat menyesatkan pemakai.
LABA SEMUA-TERMASUK
Pendekatan ini menekankan pemisahan secara tegas transaksi operasi
dalam arti luas dan transaksi modal. Dengan kata lain, yang diperhitungkan
sebagai laba dan disajikan melalui statemen laba-rugi adalah semua pos akibat
transaksi nonpemilik. Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar kontinuitas
usaha yang memandang statemen laba-rugi merupakan penggalan aliran operasi
(pendapatan dan biaya) dalam jangka panjang. Untuk dapat memprediksi
kemampuan melaba jangka panjang, statemen laba-rugi tidak dapat berdiri sendiri
tetapi harus disajikan sebagai serangkaian statemen laba-rugi sepanjang umur
perusahaan. Dengan demikian, laporan laba-rugi periodik (tahunan) harus memuat
pos-pos yang tidak normal (regular) atau luar biasa. Tidak ada pos selain yang
berasal dari transaksi pemilik langsung masuk atau menerobos ke statemen laba
ditahan.

ALASAN MENDASAR
Dari segi pemanfaatan, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aset
keuangan dan aset tetap sehingga keduanya mempunyai pengaruh yang sama
terhadap laba. Lawan dari konsep pemanfaatan aset adalah konsep aset kapital
(capital asset). Konsep ini membedakan aset kapital (yang terdiri atas aset tetap
fisis) dan aset lainnya sehingga pengaruh transaksi aset kapital (terutama yang
luar biasa) terhadap laba harus berbeda dengan transaksi aset lainnya. Berikut ini
dibahas argumen Patton dan Littleton mengenai pemanfaatan aset.
KONSEP PEMANFAATAN ASET
Statemen laba-rugi harus menyajikan secara efektif semua akibat dari
pemanfaatan aset yang diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. Pemisahan
laba menjadi normal dan tidak normal dalam dua statemen akan cenderung
mengalihkan pusat perhatian pemakai secara tidak semestinya ke laba normal dan
dengan demikian secara tidak sadar mengurangi perhatian pembaca akan
keefektifan manajemen secara keseluruhan. Misalnya saja, kalau laba normal yang
dilaporkan melalui statemen laba-rugi sudah memuaskan, kemungkinan pembaca
akan melalaikan sama sekali arti pentingnya suatu penghapusan fasilitas fisis yang
sudah ketinggalan zaman sebelum wqaktunya dihentikan yang langsung
dibebankan ke laba ditahan. Pembaca mungkin kelewatan untuk menanyakan
apakah laba yang dilaporkan pada tahun-tahun sebelumnya memang sudah benar
kalau manajemen cukup jeli dalam mengantisipasi perubahan teknologi.
Manajemen mengelola aset yang dipercayakan kepadanya. Memang ada
berbagai cara untuk memanfaatkan aset. Penggunaan aset yang utama adalah
untuk menghasilkan barang atau jasa untuk mendatangkan laba. Dalam hal ini,
aset atau sumber ekonomik akan berkurang dengan terjadinya kos produksi, biaya,
dan rugi, serta akan bertambah dengan terjadinya pendapatan, laba, dan untung
luar biasa. Penggunaan aset yang kedua adalah untuk dijadikan jaminan kontrak
utang atau pendanaan dan untuk alat pelunasan kontrak tersebut. Dalam hal ini,
aset akan berkurang dengan dibayarnya utang dan dikembalikannya modal dan
akan bertambah dengan adanya pinjaman atau modal baru. Karena perbedaan
mendasar ini, perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan yang berbeda ini

harus dipisahkan dengan tegas dan jelas tetapi harus tetap dalam kategori
perubahan akibat transaksi operasi (nonpemilik). Dengan kata lain, perubahan
tersebut harus dilaporkan melalui statemen laba-rugi.
Membatasi statemen laba-rugi hanya menyajikan laba normal sama saja
dengan mengeluarkan sebagian perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan
produktif. Pemisahaan tersebut mempunyai akibat pembebanan langsung ke laba
ditahan perubahan aset yang sebenarnya merupakan transaksi operasi yaitu
transaksi pemanfaatan aset untuk tujuan produktif. Pemisahaan tersebut
mengurangi manfaat pelaporan yang menunjukkan keefektifan manajemen dalam
memanfaatkan aset dan berkuranglah fungsi statemen laba-rugi yang sebenarnya.
Bukan berarti bahwa informasi tentang laba normal tidak penting. Yang
menjadi masalah adalah usaha untuk mengungkapkan hal tersebut tidak harus
menggunakan cara yang malahan dapat menimbulkan salah interpretasi akibat
tersembunyinya pos-pos yang mempunyai pengaruh operasi perusahaan dalam
jangka panjang. Di samping itu, perlakuan akuntansi terhadap rugi dan untung
luar biasa hendaknya tidak didasarkan atas kehendak atau selera manajemen tetapi
lebih didasarkan atas pertanyaan tentang apakah perubahan aset berkaitan dengan
transaksi operasi dalam menyelenggarakan perusahaan ataukah berkaitan dengan
transaksi modal.
Memang ada perbedaan antara biaya dan rugi (expenses and losses), dan
antara laba dan untung luar biasa (income and special gains) tetapi juga ada
kesamaannya (similarities) yang mendasar yaitu semuanya merupakan perubahan
akibat pemanfaatan aset untuk tujuan produktif. Bagi para pemakai statemen
keuangan,

justru

kesamaan

mendasarlah

yang

lebih

penting

daripada

perbedaannya. Kemungkinan kesalahan interpretasi akan lebih besar dalam


pelaporan terpisah daripada dalam pelaporan komprehensif.
Kekhawatiran bahwa pemakai akan salah interpretasi kalau laba normal
tidak ditonjolkan tidak beralasan lagi. Bukan zamannya lagi bahwa statemen
keuangan harus disusun untuk orang awam yang hanya membaca sambil lalu
angka pada baris terakhir statemen laba-rugi dan tidak lebih dari itu. Yang
diperlukan sekarang adalah statemen keuangan yang memungkinkan untuk
ditelaah dan dianalis oleh ahli yang mempunyai pengetahuan tentang kegiatan

bisnis dan ekonomik serta bersedia untuk belajar dengan cukup tekun (willing to
study the information with reasonable diligence). Dalam kenyataannya, para
investor lebih bergantung pada hasil analisis para ahli atau analis profesional
daripada pada hasil keputusannya sendiri yang didasarkan atas interpretasi yang
naif terhadap statemen keuangan perseroan.
KONSEP ASET KAPITAL
Sebagai lawan konsep pemanfaatan aset, konsep ini membedakan fungsi
aset lancar dan aset tetap. Dengan demikian, perubahan aset tetap karena
penjualan atau penghentian berbeda dengan perubahan karena pemanfaatan aset
untuk menciptakan laba (melalui depresiasi) sehingga laba atau rugi
pemberhentian aset harus dilaporkan terpisah sebagai penyesuai laba ditahan.
Laba atau rugi ini dipandang sebagai transaksi modal karena dianggap modal
pemegang saham tertanam dalam aset tetap. Ini berarti jenis aset fisis tertentu
sebagai potensi jasa dianggap berbeda dengan aset lainnya sehingga rugi atau laba
yang melekat pada jenis aset tertentu dapat dilaporkan terpisah dari perubahan
aset yang berkaitan langsung dengan biaya dan pendapatan.
Namun beberapa ahli menyangkal konsep di atas. Secara konseptual, laba
atau rugi yang berkaitan dengan dengan pemanfaatan aset tetap tidak berbeda
dengan laba atau rugi yang berkaitan dengan pengelolaan aset lancar. Lagipula,
tidak ada alasan kuat untuk mengaitkan aset tetap fisis dengan kontribusi modal
oleh investor karena jenis aset tertentu secara umum tidak dapat ditelusuri dengan
pasti asal sumber dananya. Dengan kata lain, jumlah rupiah dana melekat dan
campur jadi satu (commingled) dalam aset secara keseluruhan. Dengan dasar
pikiran ini, tidaklah dapat dibenarkan untuk menggolongkan laba atau rugi
tertentu sebagai rugi kapital (capital loss) yang sebenarnya tidak lebih daripada
laba atau rugi biasa lantaran pemanfaatan aset.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa atas dasar konsep kontinuitas usaha,
fluktuasi periodik dalam pendapatan, biaya, dan laba bersih tidak dapat
dihilangkan atau diratakan atas dasar kehendak manajemen walaupun sampai
tingkat tertentu fluktuasi tersebut dapat diantisipasi oleh manajemen yang tajam
dalam melihat masa depan. Apapun jadinya, manajemen hanya dapat

mengharapkan untuk berbuat lebih baik di masa mendatang. Namun, kenyataan


yang merefleksi kebijakan pada masa yang lalu harus tetap ditunjukkan dengan
jelas seperti apa adanya kepada pemakai yang menggantungkan diri pada
statemen keuangan. Oleh karena itu, pemakai harus diyakinkan bahwa
serangkaian statemen laba-rugi beberapa perioda yang lalu dapat mengungkapkan
seluruh kemampuan manajemen dalam memanfaatkan (the administration or
utilization of assets) yang dipercayakan kepadanya. Jadi, kebijakan masa yang
lalu yang ternyata keliru setelah adanya fakta yang baru dan relevan akan diakui
secara jujur dan pengaruhnya akan dilaporkan dengan jelas di statemen laba-rugi
dan bukannya disembunyikan sebagai penyesuai laba ditahan.
Uraian di atas melandasi pendekatan laba semua-termasuk yaitu bahwa
semua faktor penentu dalam pengukuran laba periodik dalam arti luas termasuk
faktor luar biasa dan tidak rutin harus dilaporkan dalam statemen laba-rugi
sebelum hasil bersihnya dipindahkan ke kelompok modal pemegang saham di
neraca.
PENYAJIAN LABA KOMPREHENSIF
Laba komprehensif merupakan salah satu elemen statemen keuangan.
Laba komprehensif didefinisi sebagai perubahan ekuitas selama perioda yang
berasal dari sumber-sumber nonpemilik. Dengan dianutnya pendekatan laba
semua-termasuk atau laba komprehensif, masalahnya adalah bagaimana
menyajikan komponen-komponen pembentuk laba komprehensif dan bagaimana
penyajian dalam statmen laba-rugi. Berikut ini memuat komponen-komponen
pembentuk statmen laba-rugi.
Komponen-Komponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi
1. Seksi operasi utama (major operating activities section) :
a. Penjualan atau pendapatan (sales or revenues)
b. Kos barang terjual (cost of goods sold)
c. Biaya penjualan (selling expenses)
d. Biaya administrative atau umum (administrative or general
expenses)

2. Seksi operasi tambahan (secondary or auxiliary activities section) :


a. Pendapatan lainnya dan untung (other revenues and gains)
b. Biaya lainnya dan rugi (other expenses and losses)
3. Pajak penghasilan (income taxes)
4. Operasi hentian / taklanjutkanan (discontinued operations)
5. Pos-pos luar biasa / ekstraordiner (extraordinary items)
6. Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi (cumulative effects of
changes in accounting principles)
7. Pengaruh kumulatif perubahan estimate / taksiran (cumulative effects of
changes in accounting estimates)
8. Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equity)
termasuk pos-pos penerobos
Pada nomor 6 dan 7 dalam Komponen-Komponen Pembentuk Statemen
Laba-Rugi juag dikategori sebagai komponen perubahan ekuitas nonpemilik dan
keduanya disebut pengaruh kumulatif perubahan akuntansi atau penyesuaian
kumulatif akuntansi (cumulative accounting adjustments) sehingga pos-pos
selain yang masuk dalam kategori ini disebut dengan perubahan ekuitas
nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equity). Karena pada nomor 1
sampai 8 semuanya masuk dalam statemen laba-rugi, angka bersih yang diperoleh
disebut

dengan

laba

komprehensif

(comprehensive

income).

Tujuan

dimasukkannya nomor 8 dalam statemen laba-rugi adalah untuk mencegah


penyembunyian atau penghilangan (omissions) secara diskresioner pos-pos laba
atau rugi tertentu dari statemen laba-rugi. Dengan kata lain, tujuannya adalah
mencegah penyalahgunaan (abuse).
Nomor 6 dan 7 dikeluarkan dari laba bersih dan dilaporkan sebagai
perubahan ekuitas nonpemilik dan angka bersih yang diperoleh dari nomor 1
sampai 5 disebut dengan laba perioda (earnings) dan laba perioda setelah nomor
6 dan 7 disebut laba perioda bersih (net earnings) atau tetap laba bersih. Bila
terjadi rugi, laba komprehensif menjadi rugi komprehensif. Laba komprehensif
dapat disebut pula perubahan ekuitas nonpemilik total (total nonowner changes
in equity).

Terdapat

dua

pendekatan

penyusunan

statemen

laba-rugi

untuk

menyajikan nomor 1 sampai 8. Pendekatan satu-statemen (one-statement


approuch) menyajikan kedelapan komponen tersebut dalam satu statemen yang
diberi judul statemen laba-rugi dan laba-rugi komprehensif (statement of income
and comprehensive income). Pendekatan dua-statemen memisahkan pelaporan
komponen 1 sampai 7 dalam statemen laba-rugi (statement of income) dan
menyajikan pengaruh komponen 8 terhadap laba perioda bersih dalam statemen
laba-rugi komprehensif (statement of comprehensive income).
Biaya bunga (interest expenses) dimasukkan dalam komponen biaya
lainnya dan rugi. Angka bersih setelah biaya lainnya dan rugi serta pajak
penghasilan disebut laba dari operasi berlanjut (income from continuing
operatios). Jadi, komponen 1 sampai 3 disebut komponen operasi (dalam arti
luas) dan membentuk laba dari operasi berlanjut. Hal ini berarti bahwa pos-pos
dalam komponen pendapatan lainnya dan untung atau biaya lainnya dan rugi tidak
dipandang sebagai pos-pos nonoperasi. Oleh karena itu, pos-pos dalam komponen
4 sampai 8 sering disebut pos-pos takregular atau takteratur (irregular items).
Pengertian takregular menjadi masalah bila dikaitkan dengan makna takumum
atau takbiasa (unusual) dan luar biasa atau ekstraordiner (extraordinary).
Persoalannya adalah kapan suatu pos harus dikategori sebagai komponen 2, 5,
atau lainnya. Bila masuk komponen 5, apakah pos tersebut takbiasa atau luar
biasa. Kriteria unutk mengklasifikasi suatu kejadian atau transaksi yang
membentuk pos-pos luar biasa yaitu :
a. ketakbiasaan (unusual nature)
b. ketakseringan keterjadian (infrequency of occurence)
c. materialitas (materiality)
Untuk mengkategori suatu kejadian atau transaksi ke dalam pos luar biasa,
ketiga karakteristik tersebut harus dipenuhi. Ketakbiasaan berarti bahawa kejadian
atau transaksi yang melandasi suatu pos mempunyai tingkat keabnormalan yang
tinggi dan harus jelas-jelas merupakan jenis yang sama sekali tidak berkaitan atau
hanya berkaitan secara insidental dengan kegiatan perusahaan dalam konteks
lingkungan beroperasinya perusahaan. Ketakseringan keterjadian / terjadinya
berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos merupakan jenis

yang bukan harapan umum atau yang tidak diantisipasi akan terjadi di masa
datang dalam konteks lingkungan beroperasinya perusahaan.
Materialitas berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu
pos harus diklasifikasi secara terpisah sebagai pos luar biasa hanya kalau iumlah
yang terlibat material dalam kaitannya dengan atau relatif terhadap angka laba
sebelum pos luar biasa, kecenderungan (trend) laba perioda sebelum pos luar
biasa, atau ukuran materialitas yang lain. Bila suatu pos material teapi hanya
memenuhi kriteria a atau b, tidak dapat diklasifikasi sebagai pos luar biasa.
Contoh pos-pos yang dapat dimasukkan dalam kategori ini misalnya
adalah penghapusan piutang, sediaan, serta kos riset dan pengembangan; untung
atau rugi penjabaran valuta asing termasuk akibat devaluasi atau revaluasi; untung
atau rugi pelepasan segmen bisnis; untung atau rugi penjualan aset fisis; efek
pemogokan; dan penyesuaian akrual atas kontrak jangka panjang. Intinya, pos-pos
material yang tak biasa atau taksering, tetapi tidak keduanya, masuk dalam
kategori ini. Mereka dilaporkan dalam seksi / komponen terpisah di atas pos
ekstraordiner. Dapat juga dilaporkan dalam seksi operasi tambahan kalau
jumlahnya tidak material.
Berikut

ini

adalah

contoh

Penyajian

Statemen

Laba-Rugi

Komprehensif Pendekatan Dua Statemen:


PT ABC
Statemen Laba-Rugi
Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X
(dalam rupiah)
Pendapatan / Penjualan

51.680.000

Kos barang terjual

(28.430.000)

Laba kotor penjualan

23.250.000

Biaya penjualan dan administratif

(12.500.000)

Laba dari operasi utama


Pendapatan lainnya dan untung
Biaya lainnya dan rugi

10.750.000
1.630.000
(795.000)

Laba dari operasi berlanjut, sebelum pajak

835.000
9.915.000

Pajak penghasilan

(2.225.000)

Laba dari operasi berlanjut

7.690.000

(income from continuing operations)


Operasi hentian, setelah pajak

(290.000)

Laba sebelum pos ekstraordiner dan pengaruh

7.400.000

kumulatif perubahan akuntansi


Pos-pos ekstraordiner, setelah pajak

150.000

Laba perioda (earnings)

7.550.000

Pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, setelah pajak

365.000

Laba perioda bersih (net earnings) / laba bersih

7.915.000

PT ABC
Statemen Laba-Rugi Komprehensif
Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X
(dalam rupiah)
Laba perioda bersih

7.915.000

Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya:


Penyesuaian penjabaran mata uang asing
Untung belum terealisasi atas sekuritas
Laba komprehensif

314.500
56.500

371.000
8.286.000

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pos-pos takregular dilaporkan


seperti pada contoh di atas. Pos-pos material yang tidak memenuhi kriteria
ekstraordiner dilaporkan terpisah antara seksi operasi hentian dan seksi pos
ekstraordiner. Di bawah ini melukiskan kaidah keputusan untuk menyajikan
semua pos atau komponen pembentuk statemen laba-rugi komprehensif.
Pedoman Penyajian Pos-Pos Pembentuk Statemen Laba-Rugi

pos

utama

(1) seksi operasi utama

ya
Regular
?

Utama
atau
tambahan
tambahan ?

(2) seksi operasi tambahan

tidak

Selain
Komponen (5)
Jenis?

(4) operasi hentian


(6) perubahan prinsip akuntansi
(7) perubahan estimasi akuntansi
(8) perubahan ekuitas
nonpemilik lainnya

Komponen (5)
tidak
Materia
l?
ya
Takbiasa atau tak sering
Takbiasa
&
tak
sering?

Takbiasa & taksering

Dilaporkan terpisah sebelum


pos-pos luar biasa

(5) pos-pos luar biasa

Statemen laba-rugi harus disajikan sedemikian sehingga mengungkapkan


berbagai unsur kinerja keuangan yang bermanfaat bagi pemakainya. Oleh karena
itu, statemen laba-rugi minimal harus menyajikan dan menonjolkan hal-hal
berikut :
a. pendapatan
b. laba atau rugi usaha
c. biaya pinjaman
d. bagian dari laba atau rugi perusahaan terafiliasi dan terasosiasi yang
diperlakukan dengan metode ekuitas

e. pajak penghasilan
f. laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
g. pos luar biasa
h. hak minoritas
i. laba atau rugi bersih perioda berjalan
Ketentuan tersebut bersifat umum dan berlaku untuk perusahaan jasa,
perdagangan, maupun pemanufakturan. Butir b sebenarnya adalah laba antara
setelah pendapatan atau butir a dikurangi dengan biaya-biaya usaha. IAI sendiri
tidak secara eksplisit menentukan apa saja yang harus masuk dalam statemen
laba-rugi. Yang jelas, versi laba komprehensif memasukkan ke dalam statemen
laba-rugi semua komponen perubahan ekuitas nonpemilik. Dalam KomponenKomponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi di atas, komponen 1 sampai 7 pada
dasarnya merupakan komponen perubahan ekuitas nonpemilik sedangkan
komponen 8 merupakan komponen perubahan ekuitas nonpemilik selain 1 sampai
7 sehingga disebut other nonowner changes in equity. Termasuk dalam komponen
8 adalah pos-pos penerobos yang masuk pula dalam statemen laba-rugi
komprehensif. Telah disinggung alasan pemasukan pos-pos ini adalah untuk
mengantisipasi

perkembangan

masa

datang

dan

untuk

menghindari

penyalahgunaan dalam bentuk manajemen laba. Namun demikian, faktor atau


perubahan ini dapat menimbulkan masalah penyajian. FASB menyatakan hal ini
sebagai berikut :
Those factors sometimes may conflict or appear to conflict. For example,
an all inclusive income statement is intended, among other things, to avoid
discretionary omissions of losses (or gains) from an income statement, thereby
avoiding presentation of more (or less) favorable report of performance or
stewardship than is justified. However, because income statements also are used
as a basis for estimating future performance and assessing future cash flow
prospects, arguments have been advanced urging exclusion of unusual or
nonrecurring gains and losses that might reduce the usefulness of an income
statement for any one year for predictive purposes.
Dalam PSAK no.25, IAI mengenalkan konsep laba atau rugi dari
aktivitas normal yang dalam PSAK no.1 disebut sebagai laba atau rugi usaha.

Konsep ini sama dengan konsep FASB yang disebut laba dari operasi berlanjut.
PSAK no.25 juga mengenalkan konsep laba atau rugi untuk perioda berjalan
yang merupakan angka bersih dari komponen berikut:
a. laba atau rugi dari aktivitas normal, dan
b. pos luar biasa
Dari uraian dalam PSAK no.25 dapat dikatakan bahwa laba atau rugi
untuk perioda berjalan setara dengan konsep laba perioda (earnings) yang
dikemukakan FASB. Dapat dikatakan demikian karena komponen operasi hentian
(operasi yang tidak dilanjutkan) dalam PSAK no.25 dapat diperlakukan sebagai
pos aktivitas normal atau pos luar biasa bergantung pada kondisi yang
melingkupi.
Konsep aktivitas normal yang digunakan IAI tampaknya digunakan untuk
menunjuk apa yang oleh FASB disebut komponen regular sehingga yang tidak
masuk dalam komponen aktivitas normal dapat disebut sebagai komponen
takregular. Walaupun demikian, pengertian pos luar biasa menurut PSAK no.25
tampaknya lebih luas daripada pengertian menurut FASB. Hal ini terlihat dari
ketentuan bahwa komponen operasi hentian dan perubahan estimasi akuntansi
dimungkinkan untuk dilaporkan sebagai pos luar biasa (pasal 20 dan 28).
Karena ada pos-pos penerobos, IAI tidak menerapkan konsep penyusunan
statemen laba-rugi semua-termasuk secara penuh. Dengan kata lain, laba bersih
(angka akhir) dalam statemen laba-rugi versi IAI tidak dapat dikatakan sebagai
laba komprehensif penuh. Dalam PSAK no.25 tidak dibahas atau dikenal yang
disebut efek kumulatif perubahan akuntansi yang harus dilaporkan dalam
statemen laba-rugi berjalan (currently) sebagai alternatif perlakuan. Pendekatan
semacam ini disebut dengan current atau catch-up method sebagaimana
dicontohkan dalam Penyajian Statemen Laba-Rugi Komprehensif Pendekatan
Dua Statemen di atas. Walaupun demikian, PSAK no.25 memperlakukan
perubahan estimasi akuntansi sebagai komponen statemen laba-rugi.
Berikut ini merupakan ringkasan perlakuan terhadap komponen-komponen
takregular dalam PSAK no.25 dan cara penyajiannya.
Komponen-Komponen Takregular dalam PSAK no.25 dan Penyajiannya

Komponen
Pos luar biasa

Perlakuan dan Penyajian


Komponen laba-rugi. Disajikan setelah
laba yang berasal dari kegiatan normal
perusahaan ditambah pengungkapan dalam
catatan

kaki

mengenai

hakikat

dan

pertimbangan keputusan
Operasi hentian

Komponen

laba-rugi.

Ditambah

pengungkapan
(yang tidak dilanjutkan)

dalam catatan kaki mengenai hakikat dan


pertimbangan keputusan.
Tidak memenuhi kriteria luar biasa :
disajikan

sebagai

pos

dalam

kegiatan

normal.
Memenuhi kriteria luar biasa : disajikan
sebagai pos luar biasa.
Ada unsur ketidakpastian : disajikan sebagai
pos kebergantungan (contingencies)
Perubahan estimasi akuntansi

Komponen laba-rugi. Disajikan dalam


perioda terjadinya dan perioda akan datang
atau

prospektif

(bila

perlu)

ditambah

pengungkapan dalam catatan kaki mengenai


hakikat

perubahan.

klasifikasi

yang

Disajikan

sama

dengan

dalam
yang

digunakan sebelumnya untuk estimasi yang


bersangkutan.
Kesalahan mendasar

Penyesuai laba ditahan dengan kewajiban


penyesuaian retrospektif bila dipandang
praktis

ditambah

pengungkapan

dalam

catatan kaki tentang hakikat dan informasi


lain yang berpaut.

Komponen laba-rugi bila kesalahan tidak


mendasar.
Perubahan kebijakan akuntansi

Penyesuai laba ditahan secara retrospektif


atau prospektif ditambah pengungkapan
tentang alasan perubahan dan informasi lain
yang berpaut.

Mariska Rosita

(11206010) : halaman 513 527

Natalia Linggariani (11206069) : halaman 528 - 542


Esterina Sinulingga (11206066) : halaman 543 - 557
Natalia Indriyani

(11206015) : halaman 558 - 573

Anda mungkin juga menyukai