Anda di halaman 1dari 19

BAB I

KONSEP MEDIS
A. DEFINISI
Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan
penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Suriadi & Yuliana, 2006). Sindrom
Distres Pernapasan adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis, dan histologis yang
terjadi terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit pernapasan yang kecil dan
sulit mengembang dan tidak menyisakan udara diantara usaha napas (Bobak,
Lowdermik, & Jensen, 2005)
Secara klinis bayi dengan RDS menunjukkan takipnea (> 60 x/menit) , pernapasan
cuping hidung, retraksi interkosta dan subkosta, expiratory grunting (merintih) dalam
beberapa jam pertama kehidupan. Tanda-tanda klinis lain, seperti: hipoksemia dan
polisitema. Tanda-tanda lain RDS meliputi hipoksemia, hiperkabia, dan asidosis
respiratory atau asidosis campuran (Bobak, Lowdermik, & Jensen, 2005)
B. ETIOLOGI
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, yang disebabkan kurangnya zat
yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran
nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24
minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Makin muda usia kehamilan, makin
besar pula kemungkinan terjadi RDS. Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi
surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio
sesaria. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk
menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang
paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas. Gejala tersebut biasanya muncul
segera setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.
RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur. Sindrom ini dapat terjadi
karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan
penyebab sindrom ini. Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah
pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH).
C. PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna

kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna.


Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru
menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya
pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi
berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi
yang menyebabkan asidosis respiratorik.
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein ,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli
tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan
berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan
pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang
luas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti
dinding alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II.
Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi
surfaktan ini.
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan
keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan
pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal
dari darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam
setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72
jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur
dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan
chorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).
D. MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin
berat gejala klinis yang ditujukan. Manifestasi dari RDS disebabkan adanya
atelektasis alveoli, edema, dan kerusakan sel dan selanjutnya menyebabkan kebocoran
serum protein ke dalam alveoli sehingga menghambat fungsi surfaktan. Gejala
klinikal yang timbul yaitu : adanya sesak nafas pada bayi prematur segera setelah
lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/minit), pernafasan cuping hidung,
grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala menetap dalam 48-96 jam
pertama setelah lahir. Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium
RDS yaitu:
1. Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara.

2. Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran


airbronchogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi
bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
3. Alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih
opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas
4. Seluruh thorax sangat opaque (white lung) sehingga jantung tak dapat dilihat.
Tabel 1.1 Evaluasi Gawat Napas dengan skor Downes
Pemeriksaan
Frekuensi napas
Retraksi
Sianosis
Air entry
Merintih

Skor
0
< 60 /menit
Tidak ada retraksi
Tidak ada sianosis

1
60-80 /menit
Retraksi ringan
Sianosis
hilang

Udara masuk

dengan 02
Penurunan

Tidak merintih

udara masuk
masuk
Dapat
didengar Dapat

2
> 80/menit
Retraksi berat
Sianosis
menetap

walaupun diberi O2
ringan Tidak ada udara

dengan stetoskop

didengar

tanpa alat bantu

Evaluasi:
< 3 = gawat napas ringan
4-5 = gawat napas sedang
> 6 = gawat napas berat
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress Pernafasan
Pemeriksaan
Kultur darah
Analisis gas darah
Glukosa darah

Kegunaan
Menunjukkan keadaan bakteriemia
Menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam basa
Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat

menyebabkan atau memperberat takipnea


Rontgen toraks
Mengetahui etiologi distress nafas
Darah rutin dan hitung jenis Leukositosis menunjukkan adanya infeksi
Neutropenia menunjukkan infeksi bakteri
Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis
Pulse oximetry
Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen
F. KOMPLIKASI
Menurut Suriadi & Yuliana (2006), komplikasi yang kemungkinan terjadi pada RDS
yaitu:
1. Komplikasi jangka pendek
a. Kebocoran alveoli

Apabila

dicurigai

terjadi

kebocoran

udara

(pneumothorak,

pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial), pada bayi


dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinikal hipotensi, apnea,
b.

atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.


Jangkitan penyakit karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya
perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul kerana
tindakan invasif seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat

respirasi.
c. Perdarahan

intrakranial

dan

leukomalacia

periventrikular:

perdarahan

intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi


2.

terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.


Komplikasi jangka panjang
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh keracunan oksigen, tekanan
yang tinggi dalam paru, memberatkan penyakit dan kekurangan oksigen yang
menuju ke otak dan organ lain. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi
yaitu:
a. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada
bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan tingginya
volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi
mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD
meningkat dengan menurunnya masa gestasi.
b. Retinopathy prematur
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang berhubungan
dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya

infeksi.
G. PENATANALSANAAN
Menurut Suriadi & Yuliana (2006), tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan
pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
Penatalaksanaan secara umum :
1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan
bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
2. Pantau selalu tanda vital
3. Jaga kepatenan jalan nafas

4. Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)


5. Jika bayi mengalami apneu
a. Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
b. Lakukan penilaian lanjut
6. Bila terjadi kejang potong kejang
7. Segera periksa kadar gula darah
Gangguan nafas ringan
1. Pemberian nutrisi adekuat Setelah menajemen umum, segera dilakukan
menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat
gangguan nafas. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:
2. Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu
lahir tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea of the Newborn
(TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan
membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada
beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi
sistemik.
Gangguan nafas sedang
1.

Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak

dapat diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup


2. Bayi jangan diberi minum
3. Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi
kemungkinan besar sepsis.
a. Suhu aksiler > 39C
b. Air ketuban bercampur mekonium
c. Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah
dini (> 18 jam) .
4. Bila suhu aksiler 34- 36,5 C atau 37,5-39C tangani untuk masalah suhu
abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:
5. Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan
6. antibiotika untuk terapi kemungkinan besar sepsis
7. Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi
tahapan tersebut diatas.
8. Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
9. Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2
jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
10. Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi O2 secara
bertahap . Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat
menyusu, berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum

11. Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi
kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan
tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan .
Gangguan nafas berat
1. Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
2. Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis
lainnya. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas
sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
3. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan
menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
4. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas.
Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
1. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran
paru
3. Fenobarbital
4. Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
5. Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
6. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan
RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya
manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk
surfaktan buatan .

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a. Data pasien
a) Nama
:
b) Umur
:
c) Jenis kelamin
:
d) Alamat
:
e) Nama orang tua
:
f) Pekerjaan orang tua :
b. Keluhan Utama :
Pasien dengan RDS didapatkan keluhan seperti sesak, mengorok ekspiratori,
pernapasan cuping hidung, lemah, lesu, apneu, tidak responsive, penurunan
bunyi napas.
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada pasien RDS, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih,
dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot menurun, edema
terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/ epigastrik/
intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.
d. Riwayat Penyakit Dahulu :
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan paru-paru
yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfactan, lahir premature
dengan operasi Caesar serta penurunan suplay oksigen saat janin saat

kelahiran pada bayi matur atau premature, atelektasis, diabetes mellitus,


hipoksia, asidosis
e. Riwayat Maternal
Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti
perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal
atau intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang
memiliki riwayat sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta
tidak memperhatikan gizi yang baik bagi janin).
f. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang terkena penyakit
-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran premature / Caesar
sehinnga menimbulakan membrane hyialin disease.
g. Riwayat psikososial
Meliputi perasaan keluarga pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku keluarga pasien terhadap tindakan
yang dilakukan terhadap bayinya.
h. Status Infant saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan.
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia.
Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi
keadaan umum bayi baru lahir.
3) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
2. Pengkajian fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan
mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis
dan pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan
dagu. Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya
pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat
dari penilaian fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian
fungsi respirasi meliputi:
a. Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu
tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi
terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi,
ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik.
Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi,
kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya keadaan
klinik.

b. Mekanika usaha pernafasan


Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi
dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit
alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang
menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.
c. Warna kulit/membran mukosa
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak
(mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.
d. Kardiovaskuler
1) Frekuensi jantung dan tekanan darah
Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas,
nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.
2) Kualitas nadi
Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan
aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu
sisi menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran
darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat
dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis.
e. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:
1) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
2) Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas
dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut
selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan
dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik.
3) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi
dan letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan
kesadaran juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi pupil.
3. ADL (Activity daily life)
a. Nutrisi :
Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau
menghisap
b. Istirahat tidur
Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun kebutulan
nyaman tergangu akibat tindakan medis
c. Eliminasi
Penurunan pengeluaran urine
4. Pemeriksaan penunjang
a. Foto rontgen thorak
1) Pola retikulo granular difus bersama bromkogram udara yang saling
tumpang tindih.
2) Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk.

3) Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkepa (bayi


dari ; ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung kongestif).
4) Bayangan timus yang besar .
5) Bergranul merata pada bronkogram udara, yang menandakan penyakit
berat jika terdapat pada beberapa jam pertama.
b. Pemeriksa darah
1) Asidosis metabolik
PH menurun (N : PH 7,35- 7,45)
Penurunan Bicarbonat (N : 22-26 meg/L)
PaCO2 Normal (N : 35-45 mmHg)
Peningkatan serum K
2) Asidosis respiratorik
PH menurun (N : PH 7,35-7,45)
Peningkatan PaCO2 (N : 35-45 mmHg)
Penurunan PaO2 (N : 80-100 mmHg)
Imatur lecithin / sphingomylin (L/S)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis (defisiensi
surfaktan dan ketidakstabilan alveolar)
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapileralveolar
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
4. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan meningkatnya metabolisme
5. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan ortu tentang
kondisi bayi

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No
1

Diagnose

Tujuan

Intervensi

(NOC)

(NIC)

Keperawatan
Gangguan

NOC:

pertukaran

Respiratory Status :

Gas exchange
Keseimbangan

b.d

gas

perubahan

membran kapileralveoli

Basa, Elektrolit

NIC :

Posisikan pasien untuk


memaksimalkan ventilasi

asam

Pasang mayo bila perlu

Respiratory Status :

ventilation
Vital Sign Status

Setelah

keperawatan
.

Gangguan

pertukaran pasien teratasi


dengan kriteria hasi:

Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi

catat adanya suara tambahan

Berikan bronkodilator ;

Barikan pelembab udara

Atur intake untuk cairan


mengoptimalkan

Memelihara
kebersihan paru paru
dan bebas dari tanda
tanda

Catat

pergerakan
kesimetrisan,

retraksi otot supraclavicular

Mendemonstrasikan
yang

bersih,

dan intercostal

(mampu

Monitor

suara

nafas,

seperti dengkur

tidak ada sianosis dan

Monitor pola nafas :

mengeluarkan sputum,

bradipena,

takipenia,

mampu

kussmaul,

hiperventilasi,

bernafas

cheyne stokes, biot

dengan mudah, tidak

ada pursed lips)

dan

penggunaan otot tambahan,

batuk efektif dan suara

respirasi

dada,amati

distress

dyspneu

Monitor
status O2

pernafasan

nafas

Auskultasi suara nafas,

keseimbangan.

adekuat

Keluarkan sekret dengan


batuk atau suction

dan oksigenasi yang

Lakukan fisioterapi dada


jika perlu

dilakukan

tindakan
selama

Tanda

tanda

Auskultasi suara nafas,


catat area penurunan / tidak

vital

dalam rentang normal

adanya ventilasi dan suara

AGD

tambahan

dalam

batas

normal

Monitor

TTV,

AGD,

elektrolit dan ststus mental

Status neurologis
dalam batas normal

Observasi
khususnya

sianosis
membran

mukosa

Jelaskan pada pasien dan


keluarga tentang persiapan
tindakan

dan

tujuan

penggunaan alat tambahan


(O2, Suction, Inhalasi)

Auskultasi bunyi jantung,


jumlah, irama dan denyut
jantung

Pola nafas tidak NOC:


efektif

b.d

imaturitas

Posisikan

memaksimalkan ventilasi
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada

jika perlu
Keluarkan sekret dengan

batuk atau suction


Auskultasi suara

nafas,

selama

catat

suara

..pasien

tambahan
Berikan bronkodilator :
Berikan pelembab udara

Kassa basah NaCl Lembab


Atur intake untuk cairan

Respiratory status :
Ventilation

(defisiensi
surfaktan

NIC:

dan

ketidak-stabilan

Respiratory status :
Airway patency

alveolar).

Vital sign Status


Setelah

dilakukan

tindakan keperawatan

menunjukkan
keefektifan
nafas,

pola
dibuktikan

dengan kriteria hasil:

suara
bersih,

nafas

yang

tidak

ada

sianosis dan dyspneu

keseimbangan.
Monitor respirasi dan status

O2
Bersihkan mulut, hidung

dan secret trakea


Pertahankan jalan

nafas

yang paten
Observasi adanya

tanda

(mampu
mengeluarkan
sputum,

mampu

adanya

untuk

mengoptimalkan

Mendemonstrasika
n batuk efektif dan

pasien

tanda hipoventilasi

bernafas dg mudah,

Monitor adanya kecemasan

pasien terhadap oksigenasi


Monitor vital sign
Informasikan pada pasien

tidakada pursed lips)

Menunjukkan jalan
nafas

yang

paten

dan keluarga tentang tehnik

(klien tidak merasa

relaksasi

tercekik, irama nafas,


frekuensi pernafasan
dalam
normal,

untuk

memperbaiki pola nafas.


Monitor pola nafas

rentang
tidak

ada

suara nafas abnormal)

Tanda Tanda vital


dalam rentang normal
(tekanan darah, nadi,
pernafasan)

3.

Nutrisi
dari

kurang NOC:
kebutuhan

berhubungan
dengan
yang
adekuat

intake
tidak

NOC

Nutritional status:
Adequacy of nutrient
Nutritional Status :

food and Fluid Intake


Weight Control

Kaji

adanya

alergi

makanan

Kolaborasi dengan ahli


gizi

untuk

menentukan

Setelah dilakukan

jumlah kalori dan nutrisi

tindakan keperawatan

yang dibutuhkan pasien

selama.nutrisi kurang

Yakinkan

teratasi dengan

dimakan

indikator:

tinggi

Albumin serum

Pre albumin serum

Hematokrit

Hemoglobin

Total iron binding


capacity

diet

yang

mengandung
serat

untuk

mencegah konstipasi

Ajarkan

pasien

bagaimana

membuat

catatan makanan harian.

Monitor

adanya

penurunan BB dan gula


darah

Jumlah limfosit

Monitor

lingkungan

selama makan

Jadwalkan

pengobatan

dan tindakan tidak selama


jam makan

Monitor turgor kulit

Monitor
rambut

kekeringan,
kusam,

total

protein, Hb dan kadar Ht

Monitor

mual

dan

muntah

Monitor

pucat,

kemerahan, dan kekeringan


jaringan konjungtiva

Monitor intake nuntrisi

Informasikan pada klien


dan

keluarga

tentang

manfaat nutrisi

Kolaborasi

dengan

dokter tentang kebutuhan


suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga intake
cairan yang adekuat dapat
dipertahankan.

Atur posisi semi fowler


atau fowler tinggi selama
makan

Kelola

pemberan

anti

emetik:.....

Anjurkan banyak minum

Pertahankan
line

terapi

IV

Catat adanya edema,


hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas ova

4,

Resiko
kekurangan
cairan
berhubungan
dengan

NIC :
NOC:

catatan

intake dan output yang

Fluid balance

akurat

Hydration

Nutritional Status :

meningkatnya
metabolisme

Pertahankan

hidrasi

membran

nadi

adekuat,

tekanan darah ortostatik ),


jika diperlukan

dilakukan

tindakan

status

kelembaban

mukosa,

Food and Fluid Intake


Setelah

Monitor

Monitor hasil lab yang


sesuai dengan retensi cairan

keperawatan selama.
defisit

volume

(BUN , Hmt , osmolalitas


urin,

cairan

teratasi

Mempertahankan
dengan usia dan BB,
BJ urine normal,

Tekanan
nadi,

suhu

Monitor vital sign setiap


15menit 1 jam

urine output sesuai

total

protein )

dengan kriteria hasil:

albumin,

Kolaborasi

pemberian

cairan IV

Monitor status nutrisi

Berikan cairan oral

Berikan

penggantian

darah,

nasogatrik sesuai output (50

tubuh

100cc/jam)

dalam batas normal

Dorong keluarga untuk


membantu pasien makan

Tidak
tanda

ada

tanda

dehidrasi,

Elastisitas turgor kulit

Kolaborasi dokter jika


tanda

cairan

berlebih

muncul meburuk
baik,

membran

mukosa lembab, tidak


ada rasa haus yang
berlebihan

Atur

kemungkinan

tranfusi

Persiapan untuk tranfusi

Pasang kateter jika perlu

Monitor intake dan urin

Orientasi terhadap

waktu

dan

tempat

output setiap 8 ja

baik
Jumlah dan irama

pernapasan

dalam

batas normal
Elektrolit, Hb, Hmt

dalam batas normal


pH

urin

dalam

batas normal
Intake

oral

dan

intravena adekuat

5.

Kecemasan orang NOC :

NIC :

tua berhubungan

Kontrol kecemasan

Anxiety Reduction (penurunan

dengan

Koping

kecemasan)

kurang
pengetahuan ortu

Setelah

dilakukan

tentang

asuhan

selama

kondisi

bayi

Gunakan pendekatan yang


menenangkan

klien

Nyatakan

dengan

jelas

kecemasan teratasi dgn

harapan terhadap pelaku

kriteria hasil:

pasien

Klien

mampu

mengidentifikasi

dan apa yang dirasakan

dan

selama prosedur

mengungkapkan gejala
cemas

Jelaskan semua prosedur

Temani

pasien

untuk

memberikan

Mengidentifikasi,
mengungkapkan
menunjukkan
untuk

dan mengurangi takut

dan
tehnik

mengontol

Vital sign dalam

Postur tubuh,

aktivitas menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

Libatkan keluarga untuk


mendampingi klien

Instruksikan pada pasien


untuk

ekspresi wajah, bahasa


tubuh dan tingkat

diagnosis,

tindakan prognosis

batas normal

Berikan informasi faktual


mengenai

cemas

keamanan

menggunakan

tehnik relaksasi

Dengarkan dengan penuh


perhatian

Identifikasi

tingkat

kecemasan

Bantu pasien mengenal


situasi yang menimbulkan
kecemasan

Dorong

pasien

untuk

mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi

Kelola pemberian obat


anti cemas:

Laporan Pendahuluan
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)

Oleh:
NI PUTU PRAYONI ROSHITA
C121 11 256

PRECEPTOR INSTITUSI

PRECEPTOR LAHAN

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015