Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

OLEH:
AHMAD TAISIR ARMAN NASUTION
1110233001

ASISTEN:
RIZA PUTRI : 1210212088
RITA AFRI YENI : 1210212071

JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telahmelimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikanlaporan akhir praktikum dasar dasar
perlindungan tanaman
Pada Kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak dan Ibu
sebagai dosen serta Riza Putri dan Rita Afri Yeni sebagai asisten dalam melaksanakan praktikum
ini. Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu
penulisdalam menyelesaikan laporan akhir ini.
Penulis menyadari bahwa laporan akhir ini jauh dari kesempurnaan dan masih perlu
banyak perbaikan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
edukatif demi kesempurnaan laporan akhir ini, sehingga bermanfaat dalam pelaksanaan
praktikum selanjutnya.

Padang, Desember 2011


Penu
lis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................


DAFTAR ISI .......................................................................................................................
BAB I . PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................................
B. Tujuan ................................................................................................................
BAB II. Tinjauan Pustaka
2.1. Penyakit Tanaman Jagung............................................................................................
2.2. Penyakit Tanaman Cabai ............................................................................................
2.3. Penyakit Tanaman Kakao ...........................................................................................
2.4. Morfologi Serangga ...................................................................................................
2.5. Ordo Serangga ...........................................................................................................
BAB III. Bahan dan Metode .............................................................................................
BAB IV. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil .................................................................................................................
B. Pembahasan .....................................................................................................
BAB V. Penutup
A. Kesimpulan ......................................................................................................
B. Saran ................................................................................................................
Daftar Pustaka ...................................................................................................................
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perlindungan Tanaman merupakan suatu kegiatan yang melindungi tanaman
dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti serangan hama
penyebab penyakit, gulma yang dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian baik
secara kualitas dan kuantitas serta merugikan nilai ekonomis. Pengertian
perlindungan tanaman menurut Peraturan Pemerintah. Cakupan

perlindungan

tanaman pada era globalisasi, agribisnis dan otonomi daerah. Tujuan Perlindungan
Tanaman
(a) pencegahan, pengendalian dan pemantauan/peramalan OPT,
(b) peningkatan kuantitas dan kualitas hasil-hasil pertanian,
(c) peningkatan daya saing produk pertanian di pasar,
(d) peningkatan penghasilan dan kesejahteraan petani,
(e) peningkatan kualitas dan keseimbangan lingkungan hidup.(Martono,
1996)
Pada penyakit tanaman yang harus diperhatikan tidak per individu, tetapi
dalam populasi. Pada umumnya petani/petugas memeriksakan tanamannya kalau
menunjukkan gejala yang khas. Namun perlu dibiasakan pemeriksaan dilakukan

berdasarkan hasil yang diperoleh, apakah terjadi kehilangan hasil. Dengan


demikian perlu dilakukan observasi yang mendalam, tidak hanya terhadap gejala
pada tanaman, tetapi juga pada cuaca, media tanah dan hara, air dan bahan kimia
yang dipakai, serta cara budidaya. Ilmu-ilmu yang terkait terhadap kegiatan
penerapan perlindungan tanaman antara lain adalah : Ekologi dan epidemiologi,
Fisiologi tumbuhan, patologi anatomi dan morfologi, genetika, taksonomi dan
geografi tumbuhan, bakteriologi, mikologi, virologi, entomologi, fitopatologi,
ilmu gulma, agronomi, ilmu tanah, mikrobiologi, biokimia, kimia, bioteknologi,
fisika, meteorologi, matematik dan statistik untuk peramaln OPT, teknologi
informasi, ekonomi untuk penentuan ambang pengendalian ( Yudiarti, 2007)
Gulma adalah tumbuhan yang keberadaannya dapat menimbulkan gangguan dan
kerusakan bagi tanaman budidaya maupun aktivitas manusia dalam mengelola
usahataninya (Djafarudin, 2001).
Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat
dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat dan terdapat di lingkungan tanaman
yang dapat menyebabkan kerusakan tanaman baik secara kualitas dan kuantitas
sehingga menyebabkan kerugian ekonomis. Hama yang mengganggu tanaman
seperti filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah
Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang
belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain-lain).
Kerugian pada budidaya tanaman sering kali diakibatkan oleh Organisme
pengganggu tanaman (OPT) sehingga perlu diadakannya perlidungan tanaman

dengan tujuan meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh OPT. Gangguan


yang disebabkan oleh OPT merupakan resiko yang harus dihadapi dan
diperhitungkan dalam setiap usaha dibidang budidaya tanaman. Resiko ini
merupakan konsekuensi logis dari setiap perubahan ekosistem yang terjadi akibat
budidaya tanaman.
Dampak yang timbul akibat serangan hama menyebabkan kerugian baik
terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta
petani sebagai pelaku budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya
kwalitas dan kuantitas hasil panen. Pengendalian hama yang tidak sesuai dan
tepat akan memberikan dampak kerugian yang lebih besar dari pada serangan
hama itu sendiri terhadap tanaman.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Dasar Dasar Perlindungan Tanaman ini adalah
untuk mengetahui gejala serangan penyakit, hama dan gulma yang merugikan
bagi tanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG


Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas pertanian subsektor tanaman
pangan. Pada saat proses produksi atau dalam fase budidaya, tanaman jagung juga tidak
luput dari serangan hama penyakit, seperti halnya tanaman pertanian lain. Kerugian
akibat serangan hama penyakit jagung bisa dibilang tidak kecil, bahkan beberapa
diantaranya berpotensi menimbulkan kegagalan panen. Oleh karena itu, penanganan tepat
terhadap serangan hama dan penyakit tanaman jagung akan meningkatkan hasil produksi
petani. Pada artikel ini akan kami uraikan satu per satu hama dan penyakit yang biasa
menyerang tanaman jagung di areal budidaya.

A. Hama Tanaman Jagung


Hama tanaman jagung meliputi hama ulat tanah, ulat grayak, belalang, kumbang bubuk,
lalat bibit, penggerek tongkol, penggerek batang, serta kutu daun. Hama ini berpotensi
menggagalkan panen jika tidak dapat dikendalikan. Sebagai petani, pengamatan maupun
pemahaman mengenai masing-masing hama perlu dipelajari agar selama proses budidaya
jagung dapat mengendalikan serangan hama sehingga hasil produksi jagung meningkat.
1. Ulat Tanah (Agrotis sp.)
Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda di malam hari, sedangkan siang harinya
bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan
cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga sebagai ulat pemotong.
Pengendalian hama ulat pada budidaya jagung dapat dilakukan menggunakan insektisida
biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari
golongan jamur seperti Beauvaria bassiana. Secara kimiawi pengendalian hama ulat bisa
dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos,
sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di
kemasan.
2. Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)
Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaitu Locusta sp., dan Oxya
chinensis. Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat
masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang
pada tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung
dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang.

Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari
belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan
kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulangtulang
daunnya.
Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan
penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin
atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)
Kerusakan biji oleh kumbang bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji
17%. Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk,
merupakan serangga polifag (memiliki banyak tanaman inang).
Selain menyerang jagung, hama kumbang bubuk juga menyerang beras, gandum, kacang
tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa maupun jambu mente. S. Zeamais lebih
dominan menyerang jagung dan beras. S. Zeamais merusak biji jagung saat penyimpanan
dan juga dapat menyerang tongkol jagung di lahan.
Telur diletakkan satu per satu di lubang gerekan di dalam biji, Keperidian imago sekitar
300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25C. Larva
menggerek biji jagung serta hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu
25C, kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji jagung dengan stadia pupa
berkisar 5-8 hari.
Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat
lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu sekitar 3-5 bulan jika
tersedia makanan, sekitar 36 hari jika tanpa makan.
Siklus hidup sekitar 30-45 hari saat kondisi suhu optimum 29C, kadar air biji 14% serta
kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar
airnya di atas 15%.
Pengendalian
a) Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman masih di lahan dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman
yang kekeringan, dengan pemberian pupuk rendah menyebabkan tanaman mudah
terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen tepat
waktu saat jagung mencapai masak fisiologis dapat mencegah Sitophilus zeamais, karena
pemanenan tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji jagung saat
penyimpanan.

b) Varietas Resisten/Tahan
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam
aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, serta penggunaan varietas berpenutup
kelobot yang baik.
c) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah
gudang tersebut kosong. Untuk itu harus dibersihkan semua struktur gudang serta
membakar semua biji yang terkontaminasi. Biji-biji terkontaminasi ini dijauhkan dari
area gudang, lalu dimusnahkan. Selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa
biji jagung juga harus dibuang. Semua struktur gudang diperbaiki, termasuk dinding
retak, dimana serangga dapat bersembunyi di dinding retak. Pada dinding maupun plafon
gudang disemprot menggunakan insektisida.
d) Persiapan Biji Jagung Simpanan
Sebelum penyimpanan, perhatikan kadar air dalam biji jagung. Kadar air biji 12%
dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang
bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
e) Fisik dan Mekanis
Ketika suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 35C perkembangan serangga akan
berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi
dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat
(utuh).
f) Bahan Tanaman
Pengendalian hama kumbang bubuk selama budidaya jagung dapat menggunakan bahan
organik dari tanaman, seperti daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun
Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus
calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., maupun tepung biji dari Annona sp.
dan Melia sp.
g) Hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria
bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai kematian
50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae juga mampu menekan kumbang
bubuk.
h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia dimana senyawa ini dalam suhu serta tekanan
tertentu berbentuk gas. Fumigan dapat membunuh serangga/hama melalui sistem
pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan di tumpukan komoditas jagung kemudian ditutup
rapat menggunakan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan saat penyimpanan

kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, menggunakan kaleng kedap udara atau
pengemasan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian
mulut botol atau jerigen dilapisi parafin untuk penyimpanan skala kecil. Fumigasi
menggunakan phospine (PH3), atau Methyl Bromida (CH3Br).
3. Lalat Bibit (Atherigona sp.)
Lalat bibit yang menyerang tanaman jagung hanya ditemukan di daerah Jawa dan
Sumatera. Lalat bibit dapat merusak pertanaman jagung hingga 80% bahkan lebih (puso).
Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari, serangga betina
hidup dua kali lebih lama daripada serangga jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang
serta sangat tertarik dengan kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan
tanah. Imago kecil berukuran panjang 2,5-4,5 mm.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin
dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina
meletakkan telurnya selama tiga sampai tujuh hari. Telur ini diletakkan secara tunggal,
berwarna putih, memanjang, serta diletakkan di bawah permukaan daun.
Awalnya, larva terdiri dari tiga instar berwarna putih krem, selanjutnya menjadi
kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian
membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman menjadi kuning, akhirnya
mati. Pupa terdapat di pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa
12 hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat, memiliki ukuran
panjang 4,1 mm.
Gejala:
Tanaman muda menguning karena larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian
membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menguning, akhirnya
mati. Jika tanaman mengalami proses pemulihan, maka pertumbuhannya akan kerdil.
Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. memarasit telur, Opius sp. dan Tetrastichus sp. memarasit
larva
- Predator Clubiona japonicola, merupakan predator imago.
b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan saat musim hujan,
secara kultur tenis dapat melakukan pengubahan waktu tanam, pergiliran tanaman, atau
melakukan tanam serempak.
c) Varietas Resisten
8

- Galur jagung QPM putih tahan lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C112, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45,
- Galur jagung QPM kuning adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQK1(S1)-C1-50.
d) Kimiawi
Pengendalian menggunakan insektisida dapat dilakukan saat perlakuan benih
menggunakan thiodikarb (dosis 7,5-15 g b.a./kg benih) atau karbofuran (dosis 6 g b.a./kg
benih). Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman disemprot
menggunakan karbosulfan (dosis 0,2 kg b.a./ha) atau thiodikarb (0,75 kg b.a/ha).
Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.
4. Ulat Grayak (Spodoptera sp.)
Larva kecil merusak daun serta menyerang secara serentak bergerombol dengan
meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan bahkan tinggal tulang daunnya
saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi saat musim
kemarau. Pengendalian secara fisik menggunakan alat perangkap ngengat sex
feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti:
Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, atau
Metarhizium anisopliae. Dapat juga dari golongan bakteri seperti Bacillus thuringensis.
Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan menggunakan Sl-NPV
(Spodoptera litura - Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan
adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, atau
Peribeae sp.
Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif
profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi
sesuai petunjuk di kemasan. Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar
antara 5-50%. Ngengat aktif saat malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau
keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Telur berbentuk hampir bulat
dengan bagian datar melekat di bagian daun (kadang tersusun 2 lapis), warnanya coklat
kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25500 butir) tertutup bulu
seperti beludru.
Larva mempunyai warna bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda,
bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan serta hidup secara bergerombol. Ulat
menyerang tanaman jagung di malam hari, saat siang hari bersembunyi dalam tanah
(tempat lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam
jumlah besar.
Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon)
berwana coklat kemerahan, memiliki panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara
9

3060 hari (lama stadium telur 24 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 2046 hari, pupa
811 hari). Tanaman inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang
tanaman tomat, kubis, cabe, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam,
padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulmaLimnocharis
sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.
5. Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)
Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi
telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan
sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol jagung lalu
memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan
menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol jagung.
Pada lubanglubang bekas gorokan hama ini terdapat kotorankotoran yang berasal dari
hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang bagian tangkai bunga.
Musuh alami sebagai pengendali hayati serta cukup efektif untuk mengendalikan
penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma sp. ( parasit telur) atau Eriborus
argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit larva muda.
Pengendalian kimiawi hama ulat grayak efektif dilakukan setelah terbentuk rambut
jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.
6. Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)
Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung di seluruh fase pertumbuhan.
Kehilangan hasil akibat serangan pnggerek batang dapat mencapai 80%. Ngengat aktif di
malam hari, serta menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa
7-11 hari. Telurberwarna putih, diletakkan berkelompok, satu kelompok telur beragam
antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur
telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung
yang tinggi, telur diletakkan di permukaan bagian bawah daun, utamanya pada daun ke
5-9, umur telur 3-4 hari.
Larva (baru menetas) berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah,
larva muda memakan bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang,
umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat
kemerah-merahan, umur pupa 6-9 hari.
Gejala Serangan
Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik membuat kerusakan di setiap
bagian tanaman jagung yaitu membentuk lubang kecil pada daun, lubang gorokan di
batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, serta
tumpukan tassel yang rusak.

10

Pengendalian
1. Kultur teknis
2. Waktu tanam tepat
3. Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
4. Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman)
Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma sp.. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. Furnacalis.
- Predator Euborellia annulata. Predator ini selain memangsa larva juga pupa O.
Furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis,
- Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O.
Furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
Kimiawi
Penggunaan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, atau
karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.
7. Kutu Daun (Mysus persicae)
Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini mengisap
cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga
mengundang semut serta berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan
jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis(menguning),
serta menggulung. Kutu daun Mysus juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik.
Pengendalian hama kutu daun Mysus persicae dapat menggunakan insektisida
berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau
lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

11

B. Peyakit Tanaman Jagung


Seperti halnya hama tanaman jagung, penyakit yang menyerang selama budidaya
jagung juga berpotensi menimbulkan kerugian. Serangan parah penyakit-penyakit ini jika
tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil produksi jagung sehingga juga menurunkan
pendapatan petani. Adapun penyakit tanaman jagun biasanya disebabkan oleh serangan
hawar daun, busuk pelepah, penyakit bulai, busuk tongkol, busuk batang, karat daun,
bercak daun, serta virus.

Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)

Gejala
Awal terinfeksinya hawar daun, menunjukkan gejala berupa bercak kecil,
berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang
menjadi nekrotik (disebut hawar), warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang
hawar 2,5-15 cm, bercak muncul di mulai dari daun terbawah kemudian berkembang
menuju daun atas. Infeksi berat akibat serangan penyakit hawar daun dapat
mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering. Cendawan ini tidak
menginfeksi tongkol atau klobot jagung, cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk
miselium dorman pada daun atau sisa-sisa tanaman di lahan.
Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan hawar daun, seperti : Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan
semar-5.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada
tanaman terinfeksi bercak daun.
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mankozeb atau dithiocarbamate.
Dosis/konentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)

Gejala
Penyakit busuk pelepah pada budidaya jagung umumnya terjadi di pelepah daun,
gejalanya terdapat bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu,
selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium berbentuk tidak
beraturan, berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.
Gejala serangan penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat
dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Penanaman varietas tidak
tahan penyakit ini (rentan), serangan cendawan penyebab busuk pelepah dapat mencapai

12

pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan
sklerotium pada biji jagung, di dalam tanah serta pada sisa-sisa tanaman di lahan.
Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase kurang baik akan merangsang pertumbuhan
miselium dan sklerotia, sehingga kondisi semacam ini merupakan sumber inokulum
utama.

Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani.
Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah
seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27
- Diusahakan agar penanaman jagung tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak
terlalu tinggi
- Lahan memiliki drainase baik
- Pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)

Penyakit bulai merupakan penyakit utama budidaya jagung. Penyakit ini menyerang
tanaman jagung khususnya varietas rentan hama penyakit serta saat umur tanaman
jagung masih muda (antara 1-2 minggu setelah tanam). Kehilangan hasil produksi akibat
penularan penyakit bulai dapat mencapai 100%, terutama varietas rentan.
Gejala:
Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar
tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun sehat. Bagian daun permukaan atas
maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung, sangat jelas di pagi hari. Selanjutnya
pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol buah,
bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung serta terpuntir, bunga jantan
berubah menjadi massa daun yang berlebihan.
Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik dimana gejalanya
meluas ke seluruh bagian tanaman jagung serta menimbulkan gejala lokal (setempat).
Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua
daun akan terinfeksi. Tanaman terinfeksi penyakit bulai saat umur tanaman masih muda
umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi saat tanaman sudah tua masih
dapat terbentuk buah, sekalipun buahnya kecil-kecil karena umumnya pertumbuhan
tanaman mengerdil.

13

Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan
Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora
sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara serta di Batu Malang
Jawa Timur.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan penyakit bulai seperti varietas Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima
14, Bima 15, Lagaligo, atau Gumarang
- Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu
bulan
- Penanaman jagung secara serempak
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada
tanaman terserang penyakit bulai
- Penggunaan fungisida metalaksil saat perlakuan benih dengan dosis 2 gram (0,7 g
bahan aktif) per kg benih

Busuk Tongkol

a. Busuk tongkol Fusarium


Gejala
Gejala penyakit ini ditandai permukaan biji tongkol jagung berwarna merah jambu
sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna
merah jambu. Cendawan berkembang baik pada sisa tanaman maupun di dalam tanah,
cendawan ini dapat terbawa benih, penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium
moniliforme.
b. Busuk tongkol Diplodia
Gejala
Serangan busuk tongkol diplodia ditandai adanya warna coklat pada klobot. Jika infeksi
terjadi setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung menyebabkan biji berubah menjadi
coklat, kisut akhirnya busuk. Miselium cendawan diplodia berwarna putih, piknidia
berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai dari dasar tongkol berkembang ke
bongkol kemudian merambat ke permukaan biji serta menutupi kelobot. Cendawan dapat
bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia berdinding tebal pada sisa tanaman di
lahan.
Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.
c. Busuk tongkol Gibberella

14

Gejala
Serangan dini pada tongkol jagung dapat menyebabkan tongkol jagung menjadi busuk,
kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, serta buahnya berwarna biru hitam di
permukaan kelobot maupun bongkol.
Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.
Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lahan, jika musim hujan bagian
batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas.
- Pergiliran tanaman mengunakan tanaman bukan termasuk padi-padian, karena patogen
ini mempunyai banyak tanaman inang.

Busuk Batang

Gejala
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga
65%. Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya.
Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan.
Pangkal batang terserang berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam
batang busuk, sehingga mudah rebah, serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang
teriserang akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan
seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium
moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium
maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan, penyebab penyakit
busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan
Macrophomina sp.
Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada
permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun
serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa
tanaman terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada
kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia
atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh lalu menginfeksi
melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk
sejenis apresoria, serta mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa
angin dapat menginfeksi ke tongkol jagung. Akibat lebih kanjut, biji terinfeksi jika
ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
Pengendalian
15

- Menanam varietas tahan serangan penyakit busuk batang seperti BISI-1, BISI-4, BISI5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10,
Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, atau J1-C3.
- Melakukan pergiliran tanaman.
- Melakukan pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
- Drainase baik.
- Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan
cendawan antagonis Trichoderma sp.

Karat Daun (Puccinia polysora)

Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat di


permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia menghasilkan uredospora
berbentuk bulat atau oval serta berperan penting sebagai sumber inokulum dalam
menginfeksi Tanaman jagung lainnya, sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat
terjadi di dataran rendah sampai tinggi, infeksinya berkembang baik pada musim
penghujan atau musim kemarau.
Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora
Pengendalian
- Menanam varietas tahankarat daun, seperti Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 atau
Semar-10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada
tanaman terinfeksi karat daun maupun gulma
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif benomil. Dosis/konsentrasi sesuai
petunjuk di kemasan.

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)

Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya
yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan berukuran 0,6 x (1,2-1,9)
cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2)x(0,6-2,7) cm. Ras T
berbentuk kumparan, bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi
coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O.
Serangan pada bibit tanaman menyebabkan tanaman menjadi layu atau mati dalam waktu
3-4 minggu setelah tanam.
Tongkol terserang/terinfeksi dini menyebabkan bijinya akan rusak lalu busuk, bahkan
tongkol jagung dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat di seluruh bagian tanaman (baik
daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, maupun tongkol jagung). Permukaan biji
terinfeksi tertutup miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan

16

hasil produksi secara signifikan. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat
bertahan hidup dalam sisa tanaman di lahan atau pada biji jagung di penyimpanan.
Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama
pada tanaman jagung.
Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua
ras yaitu ras O dan ras T.
Pengendalian
- Menanam varietas tahan serangan bercak daun, seperti Bima-1, Srikandi Kuning-1,
Sukmaraga atau Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) pada
tanaman terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Virus Mosaik

Gejala
Gejala penyakit virus mozaik pada budidaya jagung ditandai tanaman jagung menjadi
kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, jika dilihat
secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip gejala bulai namun
permukaan daun bagian bawah maupun atas apabila dipegang tidak terasa adanya serbuk
spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus
percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara nonpersisten. Tanaman jagung terinfeksi
virus ini umumnya menjadikan penurunan hasil secara signifikan.
Pengendalian
- Mencabut tanaman jagung terinfeksi virus seawal mungkin agar tidak menjadi sumber
infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman musim mendatang.
- Melakukan pergiliran tanaman, tidak menanam tanaman jagung secara terus menerus di
lahan yang sama.
- Penyemprotan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
Dosis/konsentrasi tidak melebihi anjuran dalam kemasan.
- Tidak menanam benih jagung dari tanaman terinfeksi virus.

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

BAB III
BAHAN DAN METODA

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Dasar-Dasar Pelindungan Tanaman ini dilaksanakan pada hari
selasa pukul 13.20 pada bulan September sampai dengan bulan November dan
dilakukan di Laboratorium Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman yang
terserang penyakit belalang kembara.Sementara itu, alat yang digunakan adalah buku
gambar, pensil, pisau cutter, pensil warna, penggaris, slide-slide ordo hama
dan proyektor serta laptop.

3.3. Pelaksanaan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum telah disiapkan sebelum
praktikum dimulai kemudian setiap kelompok yang telah dibagi menjadi 4 kelompok
dalam kelas Ilmu Tanah menerangkan tentang objek yang akan dipraktikumkan
dengan tampilan slide-slide pedukung serta penjelasan tambahan dari asisten. Setelah
itu, praktikan akan menggambar bahan yang dibawa saat praktikum juga bisa juga
melalui slide-slide yang di tampilkan oleh asisten apabila pada objek yang
dipraktikumkan tidak membawa bahan.

43

BAB IV
Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil
4.1.1. Penyakit Pada Tanaman Jagung
Penyakit busuk pelepah pada budidaya jagung umumnya terjadi di pelepah
daun, gejalanya terdapat bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah
menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan
sklerotium berbentuk tidak beraturan, berwarna putih kemudian berubah menjadi
cokelat.
Gejala serangan penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat
dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Penanaman varietas
tidak tahan penyakit ini (rentan), serangan cendawan penyebab busuk pelepah dapat
mencapai pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium
dan sklerotium pada biji jagung, di dalam tanah serta pada sisa-sisa tanaman di lahan.
Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase kurang baik akan merangsang
pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga kondisi semacam ini merupakan
sumber inokulum utama.
Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar
tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun sehat. Bagian daun permukaan
atas maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung, sangat jelas di pagi hari.
Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan
tongkol buah, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung serta terpuntir,
bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.
Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik dimana
gejalanya meluas ke seluruh bagian tanaman jagung serta menimbulkan gejala lokal
(setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh
sehingga semua daun akan terinfeksi. Tanaman terinfeksi penyakit bulai saat umur
tanaman masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi saat
44

tanaman sudah tua masih dapat terbentuk buah, sekalipun buahnya kecil-kecil karena
umumnya pertumbuhan tanaman mengerdil.
Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat di
permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia menghasilkan
uredospora berbentuk bulat atau oval serta berperan penting sebagai sumber
inokulum dalam menginfeksi Tanaman jagung lainnya, sebarannya melalui angin.
Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi, infeksinya berkembang
baik pada musim penghujan atau musim kemarau.
4.2.2. Penyakit Pada Tanaman Cabai
Nama Lokal

: Busuk Buah

Nama Umum

: Patek atau Antraknosa

Penyebab Penyakit

: Cendawan Colletotrichum capsici dan


Colletotrichum gloeosporioides

Deskripsi

Buah cabai terdapat bintik-bintik hitam, dan ujungnya mengkeriput, jika disentuh
agak sedikit lembut
Deskripsi Teoritis

Serangan penyakit ini dicirikan dengan cara menginokulasi pada tengah buah
cabai dan biasanya menyerang cabai yang sudah tua. Colletotrichum capsici
mempunyai banyak aservulus, tersebar di bawah kutikula atau pada permukaan,
berwarna hitam dengan banyak seta. Seta berwarna coklat tua, bersekat, halus dan
meruncing ke atas. Antraknosa Gloeosporium penyakit ini dicirikan dari jenis
serangannya pada ujung cabai dan bisa menyerang pada cabai yang muda maupun
yang sudah tua.

45

4.2.3. Penyakit Pada Tanaman Kakao

Nama Lokal

: Busuk Buah

Nama Umum

: Busuk Buah Kakao

Penyebab Penyakit

: Infeksi cendawan Phythoptora palmivora pada buah

Deskripsi

: Bagian kulit luar buah yang menghitam dan terlihat

seperti gosong, jika disentuh permukaan kulit buah agak sedikit lembut.
Deskripsi Teoritis

Gejala serangan awal berupa bercak coklat pada permukaan buah, umumnya
pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah. Selanjutnya bercak membesar
hingga menutupi semua bagian kulit buah. Saat kondisi cuaca lembab, pada
permukaan bercaktersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna putih.
Miselium dan spora inilah yang akan menjadi alat reproduksi P. palmivora untuk
melakukan penyebaran dan penularan penyakit busuk buah ke buah-buah kakao yang
masih sehat.
4.2.4. Morfologi Serangga
Berdasarkan hasil praktikum yang telah diperoleh, kita dapat mengetahui
morfologi dari serangga (Belalang), bagian-bagian dari tubuhnya, dan fungsi di
bagian-bagian tersebut. Bagian-bagian dari serangga yang diamati terdiri dari:
- Kepala
- Thoraks (dada)
- Abdomen (perut)
- Sayap
- Antena
- Mata mejemuk
- Mata tunggal
- Mulut
- Tungkai
46

Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh, kita dapat mengetahui jenis-jenis


perkembangbiakan pada insecta, yaitu:
a. Ametabola (tanpa metamorfosis)
Imago memiliki bentuk luar yang serupa dengan serangga pra-dewasa
(gaead), kecuali ukuran dan kematangan alat kelamin. Urutan perkembangbiakan
adalah: Telur gaead imago. Contoh: kutu buku (Lepisma saccharina ordo
Thysanura). Ordo ini merupakan serangga primitif berukuran 30 mm, ada sekitar
700 spesies, hidup dibangunan, buku, kertas, berantene panjang, tanpa sayap dan
badan bersisik. Perut bersegmen dengan 2 atatu 3 cercus bersendi pada ujungnya,
serangga ini akan berlari menghindari sinar. Serangga ini tidak begitu penting bagi
usaha pertanian.
b. Hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna)
Serangga pra-dewasa (naiad) dan imago memperlihatkan perbendaan yang
nyata dalam bentuk secara bertahap. Nimfa dan imago memiliki tempat hidup dan
makanan yang sama. Urutan perkembangbiakannya adalah: Telur nimfs
imago. Contoh: Capung (Ordo Odonata).
c. Paurometabola (Metamorfosis tidak sempurna)
Bentuk umum serangga pra-dewasa (nimfa) dengan imago serupa, hanya
terjadi perubahan bentuk secara bertahap. Nimfa dan imago memiliki tempat
hidup dan makanan yang sama. Urutan perkembangbiakannya adalah: Telur
nimfa imago. Contoh: Belalang Ordo Orthoptera.
d. Holometabola (Metamorfosis sempurna)
Disebut juga dengan metamorfosis sempurna dimana serangga pra-dewasa
(larva dan pupa) memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan imago. Larva
merupakan fase aktif untuk makan, sedangkan pupa merupakan bentuk peralihan
yang dicirikan dengan terjadinya perombakan atau penyusunan kembali alat-alat
tubuh bagian luar dan dalam serangga. Fase pupa merupakan fase instirahat bagi
serangga. Habitat dan makanan serangga fase larva, pupa dan imago sangat berbeda.
Urutan perkembang biakannya adalah: Telur larva pupa/kepompong imago.

47

Metamorfosis ini merupakan ciri khas serangga: Ordo Lepidoptera, Coleoptera, dan
ordo Diptera
4.2.5. Tipe Mulut Serangga
a. Tipe alat mulut menggigit mengunyah
Jenis alat mulut ini terdiri atas sepasang bibir, organ penggiling untuk
menyobek dan menghancur serta organ tipis sebagai penyobek. Makanan disobek
kemudian dikunyah lalu ditelan. Secara struktural alat makan jenis ini terdiri dari:
(1). Labrum, berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut.
(2). Epifaring, berfungsi sebagai pengecap.
(3). Mandibel, berfungsi untuk mengunyah, memotong, atau melunakkan makanan.
(4). Maksila, merupakan alat bantu untuk mengambil makanan. Maxila memiliki
empat cabang, yaitu kardo, palpus, laksinia, dan galea.
(5). Hipofaring, serupa dengan lidah dan tumbuh dari dasar rongga mulut.
(6). Labium, sebagai bibir bawah bersama bibir atas berfungsi untuk menutup atau
membuka mulut. Labium terbagi menjadi tiga bagian, yaitu mentum, submentum, dan
ligula. Ligula terdiri dari sepasang glosa dan sepasang paraglosa. Identifikasi
berdasarkan gejala serangannya yakni dengan memperhatikan tipe alat mulut
menggigit dan mengunyah maka akan ditemukan bagian tanaman yang hilang,
apakah dimakan, digerek atau digorok.
Contoh serangga dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah yaitu ordo
Coleoptera, Orthoptera, Isoptera, dan Lepidoptera.
b. Tipe alat mulut meraut dan menghisap

Tipe alat mulut ini diwakili oleh tipe alat mulut lebah madu Apis cerana

(Hymenoptera, Apidae) merupakan tipe kombinasi yang struktur labrum dan


mandibelnya serupa dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah, tapi maksila dan
labiumnya memanjang dan menyatu. Glosa merupakan bagian dari labium yang
berbentuk memanjang sedangkan ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut
flabelum yang dapat bergerak menyusup dan menarik untuk mencapai cairan nektar
yang ada di dalam bunga.

48

Hama ini meraut jaringan hingga keluar cairan , cairan ini kemudian dihisap paruh
konikal. Jaringan yang terserang cenderung berwarna putih atau belang yang
kemudian tampak mengerut.
c. Tipe alat mulut menjilat mengisap (Sponge)
Tipe alat mulut ini misalnya pada alat mulut lalat (Diptera). Pada bagian
bawah kepala terdapat labium yang bentuknya berubah menjadi tabung yang
bercelah. Ruas pangkal tabung disebut rostrum dan ruas bawahnya disebut haustelum.
Ujung dari labium ini berbentuk khusus yang berfungsi sebagai pengisap, disebut
labellum.
Bahan pangan padat menjadi lembek dan busuk akibat ludah yang dikeluarkan hama
ini untuk melunakkan makanan, kemudian baru dihisapnya.
d. Tipe Alat Mulut Mengisap
Tipe alat mulut ini biasanya terdapat pada ngengat dan kupu-kupu dewasa
(Lepidoptera) dan merupakan tipe yang khusus, yaitu labrum yang sangat kecil, dan
maksila palpusnya berkembang tidak sempurna. Labium mempunyai palpus labial
yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen. Bagian alat mulut ini yang dianggap
penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan
galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung.
Biasanya dimiliki oleh imago dari ordo lepidoptera. Serangga dewasa
umumnya bukan merupakan hama yang bertindak sebagai hama adalah serangga
yang mempunyai alat mulut mengunyah pada stadia larva.
e. Tipe Alat Mulut Menusuk Mengisap
Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya Scotinophara
(Heteroptera). Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi
menjadi selongsong stilet. Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi
sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman. Keempat stilet berasal dari
sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut
serangga pengunyah.

49

50

4.2.6. Ordo Serangga


Berdasarkan

hasil

pengamatan

pada

morfologi

belalang

(Valanga

nigricornis)adanya ciri morfologi yaitu memiliki kepala, sepasang mata, antena,


sayap, kaki, thoraks. Tubuh belalang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada
(thorax) dan perut (abdomen). Belalang juga memiliki 6 enam kaki bersendi, 2
pasang sayap, dan 2 antena. Belalang kayu merupakan filum arthropoda yang
mempunyai type mulut penggigit pengunyah. Alat mulut tipe menggigit dan
mengunyah ini akan merusak tanaman atau membuat terowongan ke dalam bagian
tanaman (Hasagewa, 2006).
Berdasarkan hasil pengamatan pada gejala serangan belalang (Valanga
nigricornis) pada daun jagung (Zea mays) diperoleh bahwa daun yang terserang akan
mengalami kerusakan dari bagian samping, dan berlubang-lubang. Keterangan :
Daun tampak bercak - bercak coklat Memiliki tipe mulut nimfa dan imagonya
mengigit, mengunyah, dan menggerek.Contohnya pada helaian daun jagung terdapat
bekas gigitan, yang menyebabkan daun berlubang yang terdapat pada tengah dan
ujung daun (Hasagewa, 2006).
Berdasarkan hasil pengamatan pada morfologi morfologi kepik hijau (Nezera
viridula) dapat dilihat adanya ciri morfologi yaitu memiliki kepala, sepasang mata,
thoraks, antena dan abdomen. Kepik hijau memiliki sayap dua pasang (beberapa
spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal)
dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap
belakang membranus dan sedikit lebih pendek dari pada sayap depan. Pada bagian
kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli (Pracaya, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan pada gejala serangan kepik hijau (Nezera
viridula) pada tanaman kacang hijau (Phaseolus radiates akan terlihat biji bewarna
hitam, busuk dan bercak bercak coklat. Gejala serangan hama kepik hijau menyerang
Polong dan biji menjadi mengempis, polong gugur, biji menjadi busuk, hingga
berwarna hitam. Kulit biji menjadi keriput dan adanya bercak coklat pada kulit biji.

51

Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai dengan cara mengisap cairan biji
(Pracaya, 2007).

52

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan yaitu melalui identifikasi
terhadap morfologi, gejala serangan dikaitkan dengan tipe mulut pada lima spesimen,
menunjukkan bahwa Valanga nigricornis, Sithopilus oryzae, Tribolium castaneum,
Spodoptera litura dan Erionta thrax memiliki tipe mulut menggigit mengunyah.
Gejala serangan yang ditimbulkan adalah terdapat bekas gigitan, lubang dan bagian
tanaman yang hilang karena sudah dimakan oleh hama.
Identifikasi semacam ini sebenarnya digunakan sebagai pemahaman untuk
memahami karakteristik hama secara menyeluruh dengan harapan dapat melakukan
upaya pengendalian yang tepat.

5.2. Saran
Disarankan kepada seluruh mahasiswa praktikan Dasar-Dasar
perlindungan tanaman dapat mengikuti praktikum dengan baik agar memahami
semua materi yang telah diberikan oleh asisten.

53

DAFTAR PUSTAKA
Agus, Nurariaty. 2008. Identifikasi Hama Tanaman. Jurusan hama dan penyakit
tanaman Fakultas Pertanian-Universitas Hasanuddin. Makassar
Anonymousa, 2012. Pengertian Hama, gejala , Kerusakan dan Tanda.
http://laporanpraktikumpertanian.blogspot.com/ diunduh tanggal 26 Maret
2012
Anonymousb, 2012. Tipe mulut serangga.
http://majalahserangga.wordpress.com/2011/08/05/mengenal-alat-mulutserangga/ diunduh 26 Maret 2012
Anonymousc, 2012. Gambar serangga hama dan inang. http://google.image.com/
Diunduh 26 Maret 2012
Gendroyono, Heru. 2006. Perlindungan Tanaman. Balai Proteksi Tanaman Pangan
dan Hortikultura. Kalimantan Timur
Raharjo, B. T. 2012. Ilmu Hama Tanaman. Kuliah Ilmu Hama Tanaman. FP-UB.
Malang

54