Anda di halaman 1dari 6

Keuntungan mengguakan obat kumur:

Memberikan rasa segar setelah pemakaian.


Menghilangkan halitosis.
Obat kumur kosmetik dapat membantu menyingkirkan oral debris sebelum atau
sesudah menggosok gigi dan secara bertahan menekan bau mulut, serta mengurangi
bakteri di dalam mulut dan menyegarkan kembali mulut dan nafas dengan rasa yang
menyenangkan. Perasaan bersih dan menyenangkan ini dihasilkan oleh minyak
esensial, bahan pemberi rasa dan alkohol yang terkandung di dalam obat kumur.
Selain itu minyak kayu manis yang ditambahkan ke dalam obat kumur juga dapat
berfungsi sebagai bahan pengaharum untuk meningkatkan kesegaran berbagai jenis
obat kumur. Bahan antibakterial seperti setilpiridin klorida, klorheksidin, minyak
esensial, senyawa amonium kuarterner, hidrogen peroksida dan sebagainya telah
dipertimbangkan dengan pendekatan mekanik untuk mengurangi halitosis. Obat
kumur yang mengandung 0,1% larutan heksetidin terbukti dapat mengurangi bau
mulut untuk beberapa jam lamanya karena dapat memperpanjang efek antibakteri
yang disebabkan oleh adanya ikatan dengan protein mukosa yang akan menghambat
metabolisme mikroorganisme yang berada di permukaan mukosa mulut. Obat kumur
yang mengandung fenol seperti listerine juga banyak dipakai untuk penyegar nafas
atau penghilang bau mulut.4

Memberikan kesembuhan akibat infeksi bila digunakan sesuai indikasi dan aturan.
Obat kumur yang menggunakan klorheksidin tidak berwarna, mudah larut dalam air

hingga tidak perlu digunakan alkohol dan tidak merangsang.1


Sebagai desinfektan mulut, obat ini mencegah terbentuknya plak gigi dan dapat
melarutkan sebagian plak yang sudah ada.1

Pemakaian obat kumur juga berguna untuk mengontrol plak bakteri dan gingivitis.
Efek penekanan pertumbuhan plak oleh obat kumur didapat melalui efek sitotoksik
terhadap sel bakteri, sehingga terjadi penurunan jumlah bakteri dan penghambatan
pertumbuhan plak.2 bahan kima dalam obat kumur juga berfungsi untuk mencegah
perlekatan bakteri, menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan menyingkirkan

plak bakteri.
Obat kumur listerine yang mengandung antiseptik kombinasi fenol-minyak esensial
terbukti dapat mengurangi plak dan gingivitis, bila dipakai dua kali sehari setelah
menyikat gigi. Untuk pemakaian jangka panjang, listerine terbukti efektif dalam
menekan pertumbuhan plak gigi, namun efektifitasnya kurang jika dibandingkan

dengan klorheksidin.
Klorheksidin adalah bahan antiseptik yang umumnya digunakan sebagai kemoterapi
kontrol plak. Klorheksidin dapat menghambat pembentukan plak karena memiliki
kemampuan untuk mengadakan ikatan dengan kelompok asam anionik glikoprotein
saliva sehingga pembentukan pelikel akuid yang diperlukan untuk kolonisasi bakteri
plak terhambat. Kemudian klorheksidin juga dapat mengadakan ikatan dengan lapisan
polisakarida yang menyelubungi bakteri sehingga absorbsi bakteri ke permukaan gigi
atau

pelikel akuid terhambat, dan terakhir klorheksidin mampu mengendapkan

faktor-faktor aglutinasi asam yang ada dalam saliva dan menggantikan kalsium yang
diperlukan sebagai perekat bakteri membentuk massa plak. Selain menghambat
pertumbuhan bakteri plak, klorheksidin memiliki efek bakterisidal karena
berikatannya molekul kationiknya dengan anionik bakteri dan selanjutnya

mengganggu keseimbangan osmotik sel.2


Klorheksidin merupakan derivaat bisguanida yang ternyata sangat efektif untuk

mengurangi terjadinya gingivitis dan akumulasi plak.


Heksetidin yang merupakan antibakteri berspektrum luas pada konsentrasi yang
rendah, bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mulut. Pemakaian teratur dua kali
sehari selama 14 hari dapat menurunkan derajat gingivitis.

Obat kumur berguna sebagai bahan profilaksis sesudah tindakan bedah. Penggunaan
obat kumur klorheksidin dilaporkan sangat efektif dalam mengontrol plak selama
penyembuhan dan disamping itu kumr-kumur dengan 15 ml klorheksidin 0,12% dua
kali sehari selama satu bulan dimulai dua hari setelah pencabutan gigi ternyata disertai
perbaikan kondisi periodontal yang signifikan pada sisi yang berbatasan dengan soket
bekas pencabutan. Obat kumur campuran fenol-minyak esensial juga efektif

memperbaiki penyembuhan pada tujuh hari pasca bedah flep.3


Dapat digunakan untuk perawatan kandidiasis atau infeksi rongga mulut yang
disebabkan oleh Candida albicans karena klorheksidin dengan konsentrasi
bakterisidal minimum memberi efek menghambat spesies Candida albicans dan

bakteri lain seperti S. Aureus, E. Faecalis.


Penggunaan obat kumur klorheksidin dilaporkan efektif untuk mengontrol plak
bakteri pasca bedah periodontal dan kemungkinan terjadinya nyeri sakit pasca beda

tanpa pemasangan pembalut periodontal.1,6


Obat kumur yang mengandung povidon iodin seperti betadine dan isodine memiliki
sifat bakteriostatik dan toksisitasnya rendah pada jaringan dan banyak digunakan
untuk profilaksis pasca bedah. Keuntungan dari povidon iodin adalah tidak
menimbulkan pewarnaan dan kurang menimbulkan iritasi dibanding dengan sediaan

elemen yodium.
Dapat berguna untuk pengobatan recurerent aphtous stomatitis atau lesi aftosa, yaitu
dengan mengurangi jumlah bakteri yang terdapat di dalam rongga mulut. Contoh obat
kumurnya: yang mengandung antibiotik seperti klortetrasiklin, penisilin atau

metronidazol, serta klorheksidin glukonat.


Pemakaian obat kumur secara teratur dapat mengurangi denture stomatitis pada

pemakai gigi tiruan.


Dapat menghilangkan rasa sakit atau ketidaknyamanan akibat peradangan di dalam
mulut.

Efek samping menggunakan obat kumur:

Timbulnya warna coklat pada gigi dan mempengaruhi pengecapan rasa.1


Obat kumur yang mengandung alkohol apabila terlalu sering dipakai bisa
mengakibatkan mulut kering.2
Obat kumur yang mengandung alkohol tinggi bila semakin lama berkontak dengan
mukosa mulur, maka semakin besar kemungkinannya untuk menimbulkan lesi atau
kelainan.4

Obat kumur yang mengandung klorheksidin dapat mengakibatkan bakteri menjadi


resisten.2
Obat kumur yang digunakan terus-menerus dalam jangka waktu panjang dapat
mengganggu keseimbangan jumlah flora normal, akibatnya jamur dapat tumbuh di

dalam rongga mulut.3


Pembentukan bercak atau staining kuning kecoklat-coklatan pada sepertiga gingiva
dan interproksimal gigi dan lidah. Obat kumur yang mengandung senyawa fenolminyak esensial juga bisa menimbulkan efek samping staining meskipun signifikan

lebih ringan dibandingkan dengan yang diakibatkan oleh klorheksidin.


Pada pemeriksaan hitologis dapat terlihat hiperkeratosis, akantosis, fibrosis, fibrin,
dan koagulasi protein. Kelainan ini biasanya terjadi pada daerah mukosa bukal,

bagian anterolateral lidah, dasar mulut, dan palatum lunak.4


Pengendapan obat kumur pada permukaan mukosa dapat menyebabkan mukositis
setempat ringan akibat efek sitotoksiknya. Efek sitotoksik yang terjadi menghasilkan
perubahan permeabilitas sel, kerusakan dinding sel serta presipitasi dan koagulasi
protein sitoplasma sel. Protein ini berfungsi untuk mempertahankan hubungan antar
sel. Sehingga didapat keutuhan lapisan mukosa. Kerusakan sel lapisan permukaan
mukosa akan mempengaruhi desmosom atau hemidesmosom terhadap membran
basalis. Hal ini menyebabkan terjadinya deskuamasi, erosi dan ulserasi pada mukosa.
Koagulasi protein sel akibat efek sitotoksik ini akan bermanifestasi sebagai lesi putih

menyebar pada mukosa.5


Obat kumur yang mengandung kayu manis dapat menyebabkan hipersensitivitas
kontak pada membran mukosa mulut. Selain eukaliptol, reaksi hipersensitivitas

berupa erythema multiforme akibat pemakaian obat kumur yang mengandung yodium.
Penggunaan obat kumur yang mengandung antibiotika selain dapat menimbulkan
reaksi hipersensitivitas, juga dapat menyebabkan bakteri resisten dan juga infeksi oleh
jamur Candidas albicans. Oleh karena itu obat kumur ini tidak dipakai untuk

pemakaian rutin dan jarang diresepkan.4


Keluhan lesi aftosa dan lidah terasa terbakar muncul pada pasien sesudah
menggunakan obat kumur dengan latar belakang reaksi hipersensitivitas.
Pemakaian zat antiseptik dalam obat kumur yaitu hidrogen peroksida untuk jangka
waktu yang lama dapat menimbulkan black hairy tongue yaitu keadaan
memanjangnya papilla filiformis pada dorsum lidah, tanpa adanya deskuamasi yang
membentuk lapisan coklat atau hitam yang padat.

Penggunaan obat kumur berbahan etanol dalam durasi yang lama sehingga bahan ini
berkontak lebih lama dengan mukosa mulut menjadi faktor pendukung terjadinya
hiperkeratosis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Tjay, Hoan Tan dan Rahardja, Kirana. 2007. Obat-obat penting: khasiat,
penggunaan dan efek-efek sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal
246.
2. Ramadhan, Gilang Ardyan. 2010. Serba Serbi Kesehatan Gigi & Mulut. Jakarta:
Agromedia Pustaka. Hal: 176-177.
3. NS, Sallika. Serba serbi kesehatan perempuan: Apa yang kamu perlu tahu tentang
tubuhmu. Jakarta: Bukune. Hal: 135.
4. Amtha, R. Kelainan mukosa mulut akibat penggunaan obat kumur. M J
Kedokteran Gigi FKG Usakti. 1997; 35: 71-7.
5. Sudiono J. Pengaru pemakaian obat kumur senyawa fenol terhadap gambaran
SEM epitel mukosa bukal mulut tikus. M I Kedokt Gigi FKG Usakti. 1999; 38;
70-5.
6. Dalimunthe SH. Obat kumur dan kesehatan periodonsium. Majalah Kedokteran

Gigi USU. 1998; 80:432-9.