Anda di halaman 1dari 2

Patofisiologi Nyeri

A. Defenisi Nyeri
IASP (International Association for the Study of Pain) memberikan definisi Nyeri sebagai
unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or potential damage, or
discribe in terms of such damage. And pain is always subjectif. Each indifidual learns the
application of the word through experience related injury in early life. Definisi ini
menggambarkan nyeri sebagai pengalaman yang kompleks menyangkut multidimensional.
Definisi diatas mengandung dua poin penting, yaitu bahwa secara normal nyeri dianggap sebagai
indikator sedang atau telah terjadinya cedera fisik. Namun tidak berarti bahwa pasti terjadi
cedera fisik dan intensitas yang dirasakan dapat jauh lebih besar dari cedera yang dialami. Yang
kedua bahwa komponen kognitif, emosional dan tingkah laku dari nyeri dipengaruhi oleh proses
belajar dari pengalaman yang lalu tentang nyeri baik yang dialami ataupun yang orang lain
alami.
B. Mekanisme Dasar Nyeri
Mekanisme dasar terjadinya nyeri adalah proses nosisepsi. Nosisepsi adalah proses penyampaian
informasi adanya stimuli noksius, di perifer, ke sistim saraf pusat. Rangsangan noksius adalah
rangsangan yang berpotensi atau merupakan akibat terjadinya cedera jaringan, yang dapat berupa
rangsangan mekanik, suhu dan kimia. Bagaimana informasi ini di terjemahkan sebagai nyeri
melibatkan proses yang kompleks dan masih banyak yang belum dapat dijelaskan.
Deskripsi makasnisme dasar terjadinya nyeri secara klasik dijelaskan dengan empat proses yaitu
transduksi, transmisi, persepsi, dan modulasi. Pengertian transduksi adalah proses konversi
energi dari rangsangan noksius (suhu, mekanik, atau kimia) menjadi energi listrik (impuls saraf)
oleh reseptor sensorik untuk nyeri (nosiseptor). Sedangkan transmisi yaitu proses penyampaian
impuls saraf yang terjadi akibat adanya rangsangan di perifer ke pusat. Persepsi merupakan
proses apresiasi atau pemahaman dari impuls saraf yang sampai ke SSP sebagai nyeri. Modulasi
adalah proses pengaturan impuls yang dihantarkan, dapat terjadi di setiap tingkat, namun
biasanya diartikan sebagai pengaturan yang dilakukan oleh otak terhadap proses di kornu
dorsalis medulla spinalis.
Nociceptor:
Sensor elemen yang dapat mengirim signal ke CNS akan halhal yang berpotensial
membahayakan. Sangat banyak dalam tubuh kita, serabut-serabut afferentnya terdiri dari:
1. A delta fibres, yaitu serabut saraf dengan selaput myelin yang tipis.
2. C fibres, serabut saraf tanpa myelin.
Tidak semua serabut-serabut tadi berfungsi sebagai nosiseptor, ada juga yang bereaksi terhadap
rangsang panas atau stimulasi mekanik. Sebaliknya nosiseptor tidak dijumpai pada serabutserabut sensory besar seperti A Alpha, A Beta atau group I, II. Serabut-serabut sensor besar ini
berfungsi pada propioception dan motor control. Nociceptor sangat peka tehadap rangsang
kimia (chemical stimuli). Pada tubuh kita terdapat algesic chemical substance seperti:
Bradykinine, potassium ion, sorotonin, prostaglandin dan lain-lain. Subtansi P, suatu
neuropeptide yang dilepas dan ujung-ujung saraf tepi nosiseptif tipe C, mengakibatkan
peningkatan mikrosirkulasi local, ekstravasasi plasma. Phenomena ini disebut sebagai

neurogenic inflammation yang pada keadaan lajut menghasilkan noxious/chemical stimuli,


sehingga menimbulkan rasa sakit.
Deregulasi Sistem Motorik yang Menyebabkan Rasa Sakit
Kita ketahui hypertonus otot dapat menyebabkan rasa sakit. Pada umumnya otot-otot yang
terlibat adalah postural system. Nosiseptif stimulus diterima oleh serabut-serabut afferent ke
spinal cord, menghasilkan kontraksi beberapa otot akibat spinal motor reflexes. Nosiseptif
stimuli ini dapat dijumpai di beberapa tempat seperti kulit visceral organ, bahkan otot sendiri.
Reflek ini sendiri sebenarnya bermanfaat bagi tubuh kita, misalnya withdrawal reflex
merupakan mekanisme survival dari organisme.
Disamping berfungsi tersebut, kita juga sadari bahwa kontraksi-kontraksi tadi dapat
meningkatkan rasa sakit, melalui nosiseptor di dalam otot dan tendon. Makin sering dan kuat
nosiseptor tersebut terstimulasi, makin kuat reflek aktifitas terhadap otot-otot tersebut. Hal ini
akan meningkatkan rasa sakit, sehingga menimbulkan keadaan vicious circle, kondisi ini akan
diperburuk lagi dengan adanya ischemia local, sebagai akibat dari kontrksi otot yang kuat dan
terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat sebagai akibat dari disregulasi system
simpatik.
Input serabut afferent dan organ visceral, kulit, sendi, tendons, otot-otot atau impuls dan otak
yang turun ke spinal dapat mempengaruhi rangsangan (exitability) dan alpha dan gamma
motorneurons yang berakibat kontraksi otot (muscle stiffness), misalnya meningkatkan input
nosiseptif dari viscus abdominalis akan meningkatkan tonus otot-otot abdomen. Atau input
nosiseptif dari sendi kapsul dapat meningkatkan reflex excitability dan beberapa otot-otot
antagonis yang bersangkutan dengan pergerakan sendi tersebut sehingga hal ini dapat memblok
sendi tersebut, disebut juga sebagai neurogenic block. Pengaruh yang paling besar berasal dari
otak, stress dan emosi dapat mengakibatkan descending excitatory pathways, sehingga
merangsang peningkatan reflek dari otot-otot postural.
Perasaan nyeri tergantung pada pengaktifan serangkaian sel-sel saraf, yang meliputi reseptor
nyeri afferent primer, sel-sel saraf penghubung (inter neuron) di medulla spinalis dan batang
otak, sel-sel di traktus ascenden, sel-sel saraf di thalamus dan sel-sel saraf di kortek serebri.
Bermacam-macam reseptor nyeri primer ditemukan dan memberikan persarafan di kulit, sendisendi, otot-otot dan alat-alat dalam pengaktifan reseptor nyeri yang berbeda menghasilkan
kuatitas nyeri tertentu. Sel-sel saraf nyeri pada kornu dorsalis medulla spinalis berperan pada
reflek nyeri atau ikut mengatur pengaktifan sel-sel traktus ascenden. Sel-sel saraf dari traktus
spinothalamicus membantu memberi tanda perasaan nyeri, sedangkan traktus lainnya lebih
berperan pada pengaktifan system kontrol desenden atau pada timbulnya mekanisme motivasiafektif.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa thalamus lebih berperan dalam sensasi nyeri
dibandingkan daerah kortek serebri (willis WD, 1995). Meskipun demikian penelitian-penelitian
lain membuktikan peranan yang cukup berarti dan kortek serebri dalam sensasi nyeri. Struktur
diensepalik dan telesepalik seperti thalamus bagian medial, hipotalamus, amygdala dan system
limbic diduga berperan pada berbagai reaksi motivasi dan afektif dari nyeri.