Anda di halaman 1dari 14

A.

Pengertian Gangguan Mental


Gangguan mental menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa
yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan
pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial.
Menurut Townsend (1996) gangguan mental adalah respon maladaptive terhadap stressor
dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang
tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan
fisik individu.
B. Penyebab Timbulnya Gangguan Mental
Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan
dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan
semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan
pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor
organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak (Djamaludin, 2001).
Sumber penyebab gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang
terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
Neuroanatomi
Neurofisiologi
Neurokimia
Tingkat kematangan dan perkembangan organik
Faktor-faktor pre dan peri - natal
2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)

Interaksi ibu anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan
kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)
Peranan ayah
Persaingan antara saudara kandung

Inteligensi
Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak menentu
Keterampilan, bakat dan kreativitas
Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
Tingkat perkembangan emosi
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
Kestabilan keluarga
Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan
kesejahteraan yang tidak memadai
Pengaruh rasial dan keagamaan
Nilai-nilai
C. Klasifikasi Gangguan Kejiwaan
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) menyusun klasifikasi gangguan
kejiwaan sebagai berikut:
Urutan hierarki blok diagnosis (berdasarkan luasnya tanda dan gejala, dimana urutan hierarki
lebih tinggi memiliki tanda dan gejala yang semakin luas):
1. F00-09 dan F10-19

2. F20-29
3. F30-39

4. F40-49
5. F50-59
6. F60-69
7. F70-79
8. F80-89
9. F90-98
10. Kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis (kode Z)
F0 Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik
Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan
sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh terhadap otak merupakan
akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar otak.
Gambaran utama:
Gangguan fungsi kongnitif
Gangguan sensorium kesadaran, perhatian
Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi), isi pikir
(waham), mood dan emosi

Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya
F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham
Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik dari pikiran
dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran jernih dan
kemampuan intelektual tetap, walaupun kemunduran kognitif dapat berkembang
kemudian F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])
Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah
depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana perasaan yang
meningkat). Perubahan afek biasanya disertai perubahan keseluruhan tingkat aktivitas
dan kebanyakan gejala lain adalah sekunder terhadap perubahan itu
F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres

F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik
F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa
Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan merupakan ekspresi
pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan dengan diri sendiri maupun
orang lain. Beberapa kondisi dan pola perilaku tersebut berkembang sejak dini dari masa
pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai hasil interaksi faktor-faktor konstitusi
dan pengalaman hidup, sedangkan lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
F7 Retardasi Mental
Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai
oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh
pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan
jiwa atau gangguan fisik lain. Hendaya perilaku adaptif selalu ada.
F8 Gangguan Perkembangan Psikologis Gambaran umum
Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak
Adanya hendaya atau keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat
dengan kematangan biologis susunan saraf pusat
Berlangsung terus-menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan
jiwa

Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruji termasuk bahasa, ketrampilan visuo-spasial,
koordinasi motorik. Yang khas adalah hendayanya berkurang secara progresif dengan
bertambahnya usia
F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan
permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan
gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan.
Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan
tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua
kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi
perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah,
maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia :


1. Cacat Kongenital
Cacat kongenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak,
terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat. Akan tetapi umumnya pengaruh
cacat ini pada timbulnya gangguan jiwa terutama tergantung pada individu itu,
bagaimana ia menilai dan menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat atau
berubah itu. Orang tua dapat mempersulit penyesuaian ini dengan perlindungan yang
berlebihan (proteksi berlebihan). Penolakan atau tuntutan yang sudah diluar kemampuan
anak.
Singkatnya : kromosoma dan genes yang defektif serta banyak faktor
lingkungan sebelum, sewaktu, dan sesudah lahir dapat mengakibatkan gangguan
badaniah. Cacat badaniah biasanya dapat dilihat dengan jelas, tetapi gangguan sistem
biokimiawi lebih halus dan sukar ditentukan. Gangguan badaniah dapat mengganggu
fungsi biologik atau psikologik secara langsung atau dapat mempengaruhi daya tahan
terhadap stress.
2. Neurobiological
Klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki ciri-ciri biologis yang khas terutama pada
susunan dan struktur syaraf pusat, biasanya klien mengalami pembesaran ventrikel ke III
sebelah kirinya. Ciri lainnya terutama adalah pada klien yang mengalami Schizofrenia
memiliki lobus frontalis yang lebih kecil dari rata-rata orang yang normal (Andreasen,
1991).
Menurut Candel, Pada klien yang mengalami gangguan jiwa dengan gejala takut serta
paranoid (curiga) memiliki lesi pada daerah Amigdala sedangkan pada klien Schizofrenia
yang memiliki lesi pada area Wernicks dan area Brocha biasanya disertai dengan
Aphasia serta disorganisasi dalam proses berbicara (Word salad).
Menurut hasil penelitian, neurotransmitter tertentu seperti Norepinephrine pada klien
gangguan jiwa memegang peranan dalam proses learning, Memory reiforcement, Siklus
tidur dan bangun, kecemasan, pengaturan aliran darah dan metabolisme.
Neurotransmitter lain berfungsi sebagai penghambat aktivasi dopamin pada proses
pergerakan yaitu GABA.(Gamma Amino Butiric Acid). Menurut Singgih gangguan
mental dan emosi juga bias disebabkan oleh perkembangan jaringan otak yang tidak
cocok (Aplasia). Kadang-kadang seseorang dilahirkan dengan perkembangan cortex
cerebry yang kurang sekali, atau disebut sebagai otak yang rudimenter (Rudimentary
Brain). Contoh gangguan tersebut terlihat pada Microcephaly yang ditandai oleh kecilnya
tempurung otak. Adanya trauma pada waktu kelahiran, serta perubahanperubahan karena
degenerasi yang mempengaruhi sistem persyarafan pusat.
3. Neurobehavioral
Kerusakan pada bagian-bagian otak tertentu ternyata memegang peranan pada timbulnya
gejalagejala gangguan jiwa, misalnya:
Kerusakan pada lobus frontalis: menyebabkan kesulitan dalam proses pemecahan
masalah dan perilaku yang mengarah pada tujuan, berfikir abstrak, perhatian dengan
manifestasi gangguan psikomotorik.

Kerusakan pada Basal Gangglia dapat menyebabkan distonia dan tremor. Gangguan pada
lobus temporal limbic akan meningkatkan kewaspadaan, distractibility, gangguan
memori (Short time).
4. Faktor-faktor somatik (somatogenik), antara lain:
a. Neroanatomi misal :gangguan pada kromosom no 21 menyebabkan munculnya
gangguan perkembangan Sindrom Down
Setiap pikiran dan tindakan dikendalikan oleh otak - organ yang paling kompleks tubuh.
Otak dibagi menjadi unit-unit fungsional dengan tugas-tugas tertentu, seperti memproses
informasi visual atau menanggapi pengalaman menakutkan. Setiap unit ini terdiri dari
sel-sel otak yang bekerja sama. Sel-sel ini juga membentuk hubungan dengan sel-sel
dalam unit fungsional lainnya, membuat rute komunikasi untuk sinyal otak.
Menggunakan alat-alat baru untuk menandai dan melacak sirkuit otak, ilmuwan yang
bekerja untuk lebih memahami bagaimana otak manusia diatur untuk melakukan banyak
fungsi. Penelitian yang sedang berlangsung pada hewan dan orang-orang membantu para
ilmuwan mengenali berbagai jenis sel-sel otak dan peran yang mereka mainkan. Selain
itu, teknologi pencitraan otak membantu peta wilayah yang bertanggung jawab untuk
fungsi-fungsi dan perilaku tertentu.
b. Nerofisiologi
Atttention Defisit Hyperactivity Disorder merupakan gangguan rentang atensi pendek,
perilaku impulsive (nakal atau merusak) dan kesulitan dalam berkonsentrasi (Jones,
1994).
ADHD merupakan istilah guna menggambarkan rata rata kondisi anak atau rata- rata
intelegensi anak yang mengalami gangguan pada pemusatan perhatian, impulsif, dan
hiperaktif. (Reed, 1991).
ADHD merupakan gangguan perilaku yang disebabkan oleh disfungsi neurobiologi
dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian, interaktif dan impulsive (DSM
IV, American Psychiatric Association, 1994).

c. Nerokimia
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan
resptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin,
ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk
gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia.
Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan
menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak
pasien, terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral
ventrikel, atrofi korteks bagian depan, dan atrofi otak kecil (cerebellum).
d. Tingkat kematangan dan perkembangan organic
Kematangan adalah kemampuan seseorang untuk berbuat seseuatu dengan cara-cara
tertentu. Singkatnya ia telah memiliki intelegensi. Intelegensi itu ialah faktor total.

Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan,
perhatian, minat dan sebagainya) turut mempengaruhi intelegensi seseorang.
Kematang disebabkan karena perubahan genes yang mentukan perkembangan struktur
fisiologi dalam system saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkuinkan individu
matang menngadakan reaksi-reaksi terhadap Setiap stimulus lingkungan. Kematangan
emosi merupakan aspek yang sangat dekat dengan kepribadian. Bentuk kepribadian
inilah yang akan dibawa individu dalam kehidupan sehari-hari bagi diri dan lingkungan
mereka. Seseorang dapat dikatakan telah matang emosinya apabila telah dapat berpikir
secara objektif. Kematangan emosi merupakan ekspresi emosi yang bersifat kontruktif
dan interaktif. Individu yang telah mencapai kematangan emosi ditandai oleh adanya
kemampuan didalam mengontrol emosi, mampu berpikir realistik, memahami diri sendiri
dan mampu menampakkan emosi disaat dan tempat yang tepat.
Adapun ciri-ciri orang yang memiliki kematangan emosi antara lain adalah
kemampuan untuk merespon secara berbeda-beda dalam kaitannya dengan
kebutuhan dan faktor-faktor diluar dirinya yang terlibat dalam situasi tertentu.
kemampuan menyalurkan tekanan-tekanan impuls dan emosi-emosi dalam bentuk
prilaku yang konstruktif serta dapat mengarahkannya kearah tujuan yang positif.
kemampuan membangun pola hubungan interdepensi dan mampu memelihara
peran-perannya secara fleksibel.
kemampuan memperkaya ketrampilan dan memahami potensi-potensi dan
keterbatasan-keterbatasannya sendiri, serta mencari penyelesaian atas problemproblemnya secara kreatif dan mendapat persetujuan dari orang lain.
kemampuan untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain, juga mampu
memandang dirinya dengan orang lain dengan rasa hormat.
kemampuan mempertimbangkan dan memulai alternatif-alternatif, konsekuensikonsekuensi dari pelakunya.
Dari tingkat kematangan sendiri dapat menentukan perilaku normal dari abnormal.
Dalam hal ini normal dan abnormal dapat berarti sehat dan sakit, tetapi bisa juga
digunakan dalam arti lain. gangguan mental secara tidak langsung menyatakan yang
kesehatan sebelumnya, kelainan yang berkembang atau kelainan yang bermanifestasi
kemudian dalam kehidupan
e. Faktor-faktor pre dan peri natal
Prenatal dan perinatal psikologi adalah interdisipliner study dasar-dasar kesehatan dalam
tubuh, pikiran, emosi dan pola respon abadi untuk hidup. Ini mengeksplorasi psikologis
dan psikofisiologis efek dan implikasi dari pengalaman awal individu, sebelum kelahiran
("prenatal"), serta selama dan segera setelah persalinan ("perinatal") pada kesehatan dan
pembelajaran kemampuan individu dan mereka hubungan . Sebagai bidang yang luas
telah mengembangkan berbagai kuratif dan preventif intervensi untuk janin , pada
persalinan , untuk bayi yang baru lahir, bayi dan orang dewasa yang terpengaruh oleh
disfungsi prenatal dan perinatal awal dan trauma. Beberapa metode ini belum tanpa

kontroversi yang signifikan, misalnya homebirth di Barat dan di hari sebelumnya, LSD
psikoterapi untuk menyelesaikan trauma kelahiran.
5. Sebab Biologik
Keturunan --- Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas
dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut
sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.

Jasmaniah---beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan


dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk / endoform
cenderung menderita psikosa manik defresif, sedang yang kurus/ ectoform
cenderung menjadi skizofrenia
Teperamen---Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah
kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan
jiwa.
Penyakit dan cedera tubuh---Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit
jantung, kanker dan sebagainya, mungkin menyebabkan merasa murung dan
sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah
diri.
Irama sirkardian tubuh

6. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :


Interaksi ibu anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal
berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya
dan kebimbangan)
Peranan ayah
Persaingan antara saudara kandung
Inteligensi
hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak menentu
Keterampilan, bakat dan kreativitas
Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
Tingkat perkembangan emosi
7. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
Kestabilan keluarga
Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Perumahan : perkotaan lawan pedesaan

Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan,


pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
Pengaruh rasial dan keagamaan
Nilai-nilai

PSIKOPATOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan


resptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin,
ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk
gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia.
Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan
menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien,
terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi
korteks bagian depan, dan atrofi otak kecil (cerebellum).

DAFTAR PUSTAKA
Sumber :Buku saku DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA, rujukan ringkas PPDGJ- III oleh Dr
Rusdi Maslim SpKJ ; Jakarta 2001

JENIS-JENIS PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan tidak langsung (indirect examination)
Autoanamesis
Aloanamnesis
2. Pemeriksaan langsung (direct examination)
Pemeriksaan Fisik (status internus dan neurologis)
Pemeriksaan Khusus Psikik
- penampilan umum
- bidang emosi, afek

- bidang pikiran
- bidang motorik
3. Pemeriksaan tambahan atau penunjang

Pemeriksaan Penunjang pada Gangguan Jiwa (golongan Organik)

Sinar X
CT Scan atau MRI kepala
SPECT (single photon emission computed tomography)
Fungsi Lumbal
PET (positron emission (computed) tomography)

Pemeriksaan Fisik Gangguan Jiwa


Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi :

Neurologik dan Vaskuler


o Sakit kepala, pusing, kepala terasa enteng
o Nggliyer (dizziness), seperti mau pingsan
o Vertigo (pusing berputar)
o Tangan gemetaran
o Pandangan kabur
o Baal dan kesemutan
Kardiovaskuler
o Palpitasi (berdebar-debar/deg degan : Jawa)
o Nyeri dada, dada terasa panas
Respirasi
o Nafas pendek
o Dispnoe (sesak nafas)
o Hiperventilasi (frekuensi nafas sering)
Gastrointestinal
o Mulut kering
o Tenggorokan seperti tercekik; tenggorokan kering
o Perasaan tidak enak di lambung
o Nausea dan vomitus (mual dan muntah)
o Diare

Genitourinarius
o Sering berkemih
o Nyeri saat berkemih
o Ejakulasi premature
o Impotensia
Sistim Muskuloskeletal
o Nyeri otot kepala terutama otot leher
o Sakit dan nyeri otot
Kulit
o Keringat berlebihan
o Telapak tangan dan kaki basah dan terasa dingin

Wawancara Psikiatrik
Secara garis besar, sasaran pengkajian klinis dari wawancara psikiatrik adalah :
1. M e m b i n a h u b u n g a n s a l i n g p e r c a y a dalam situasi terapeutik.
2. M e n g u m p u l k a n d a t a d a s a r y a n g v a l i d .
3. M e n g e m b a n g k a n k e t e r l i b a t a n & pengertian yang empatik tentang
pasien.
4. Mengembangkan pengkajian yang dapatmenghasilkan perumusan diagnosistentatif.
5. Mengembangkan rencana pengobatanyang sesuai.
6. Mempengaruhi penurunan derajatansietas pasien.
Teknik wawancara Psikiatrik adalah :
1. B a n g u n l a h r a p p o r t ( h u b u n g a n d o k t e r p e m e r i k s a pasien yang baik)
sedini mungkin.
2. T e n t u k a n l a h k e l u h a n u t a m a p a s i e n .
3. M a n f a a t k a n l a h k e l u h a n u t a m a u n t u k m e n e g a k k a n diagnosis
banding sementara.
4. A j u k a n p e r t a n y a a n y a n g t e r a r a h u n t u k m e n y i n g k i r k a n atau
memasukkan berbagai kemungkinan diagnosis.
5. T e l u s u r i d e n g a n t e k u n s e t i a p j a w a b a n p a s i e n y a n g masih samarsamar atau tak jelas sampai diperoleh jawaban yang akurat.
6. Ciptakanlah suasana yang membuat pasien dapat berbicara dengan cukup bebas untuk mengobservasi
bagaimana koherensi (adanya hubungan yang baik) dari ide satu terhadap ideyang laindalam pikiran pasien.

7. Gunakanlah teknik wawancara terbuka dan / atau tertutup dengan mempertimbangkan kondisi
&respon pasien.
8. Beranikan diri untuk mendiskusikan topik-topik yang sulit atau memalukan, baik menurut anda
ataupun pasien.
9. T a n y a k a n l a h t e n t a n g k e m u n g k i n a n a d a n y a pikiran bunuh diri.
10. Pada akhir wawancara, berikan kesempatan kepada pasien untuk mengajukan
pertanyaanatau komentar tentang isi & proseswawancara.
11. Sebelum berpisah dengan pasien,sampaikanlah kesimpulan sementara dariwawancara
awal yang telah berlangsung dengan menyatakan rasa keperayaan &harapan.

Mental Hygiene
Mencegah gangguan jiwa dg penyuluhan kesehatan jiwa masyakat.
Diarahkan ke penyesuaian emosional: menolong individu untuk mengubah kebiasaan buruk,
penyesuaian thp tantangan kehidupan.
Peduli pada kenakalan anak & remaja, perilaku amoral serta tindak kekerasan/asusila lainnya.
Bantuan konseling di pengadilan anak, bimbingan anak, bimbingan siswa di sekolah-2.
Membentuk pekerja sosial psikiatrik yang profesional.
Tim terapi psikiatrik: psikiater, psikolog dan pekerja sosial.
Fokus pada: menjaga kesehatan jiwa masyarakat.

PsikiatriPreventifadalahmengurangimasalahgangguanjiwadanperilakudengan
A)Mengidentifikasirisikodanfaktor-faktoryang dapatmencegahnya, dan
B)Menerapkanintervensi-2 yang berdasarkanfakta.

Bentuk tindakan Preventif


Mengurangi gangguan spesifik

Penyalahgunaan zat, depresi, PTSD


Mengurangi perilaku yg berrisiko
Penggunaan zat, hub. Sexsual yg tak aman
Mengurangi akibat negatif
Bunuh diri, remaja hamil, putus sekolah, kenakalan
Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan jiwa

Hasil Positif tindakan Preventif


Menurunkan insiden dan prevalens
Menunda onset
Meminimalkan akibat yang tak diinginkan terhadap keluarga, teman sebaya/ kelompok dan
masyarakat
Menunjukkan efisiensi pembiayaan

1. Sadock BJ, Sadock VA. Pocket Handbook of Clinical Psichiatry. 4th Edition. USA:
Lippincott Williams & Wilkins, 2005. 21-34.
2. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press, 2005.
91-4.
Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman penggolongan dan
diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993.

1. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya;
2001