Anda di halaman 1dari 3

Nama :Rosnayanti

NPM :14300143
MK

: Hukum Adat

12. SEJAUH MANA TERJADINYA PERGESERAN HUKUM ADAT BAGI


MASYARAKAT ADAT DI PERANTAUAN ?

Pergeseran perspektif dan budaya pada perkawinan adat Batak zaman sekarang
khususnya di kota-kota besar
Tradisi perkawinan adat Batak Toba
Sejak dahulu kala etnis Batak Toba sangat setia melaksanakan upacara adat dalam berbagai
kegiatan. Adat sebagai bahagian dari kebudayaan elemen untuk mempertinggi kualitas
kehidupan manusia dan merupakan identitas budaya dalam khasanah kebhinekaan di
Indonesia. Pada dasarnya adat di dalam implementasinya berfungsi menciptakan dan
memelihara keteraturan, ketentuan-ketentuan adat dalam jaringan hubungan sosial diadakan
untuk menciptakan keteraturan, sehingga tercapai harmonisasi hubungan secara horizontal
sesama warga dan hubungan vertikal kepada Tuhan. Dengan demikian adat adalah aturan
hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakan keteraturan,
ketentraman dan keharmonisan.
Perkawinan adat Batak Toba selalu menyangkut aspek ekonomi dengan segala macam
kepentingan di dalamnya, termasuk dalam hal perencanaan pesta perkawinan yang akan
dilaksanakan. Peranan dasar aspek ekonomi ini, misalnya, tampak jelas dalam menetapkan
jumlah uang, pembayaran, pengembalian pembayaran: harga pengantin (sinamot),
pembayaran para pelayanan pengantin selama upacara perkawinan berlangsung, dan
seterusnya.Konsep pembayaran dalam perkawinan adat Batak Toba mencakup
pembayaran oleh pihak pengantin laki-laki atau kerabatnya kepada ayah atau pemelihara
pengantin wanita. Pembayaran ini bahkan merupakan bagian utama dari pengesahan
perkawinan menurut adat Batak Toba. Bila pertukaran ini sudah sudah terpenuhi, maka
perkawinan itu menjadi sah dan keluarga yang baru itu sudah mandiri, artinya pengesahan
suatu perkawinan mencakup seluruh rangkaian prestasi : suatu tindakan membayar apa
yang dituntut adat / tuntutan adat untuk membayar sesuatu yang berasal dari usaha atau
kemampuan seseorang. Pertimbangannya adalah jika keluarga, desa, atau suku tertentu
kehilangan anggota-anggotanya yang produktif (laki-laki atau perempuan yang akan
menikah), sedikitnya haruslah memperoleh imbalan dari pihak yang mendapatkan
mereka. Dalam upacara perkawinan adat Batak Toba, hal ini dijelaskan dalam tindakan

simbolik pembagian makanan, pakaian, perhiasan, dan diatas semuanya itu banyak tata cara
yang mencakup uang tebusan.
Perbandingan antara pelaksanaan upacara adat Batak Toba dulu dan sekarang, khususnya di
kota-kota besar di Indonesia dan peran media masa merespon hal tersebut.
Pelaksanaan upacara adat Batak Toba di kota-kota yang masih berkembang belum begitu
terdapat perbedaan yang signifikan dengan pelaksanaannya berpuluh tahun silam.
Pembedanya yang paling konkret adalah variasi alat musik pengiring tari-tarian dan lagu
pengantar pelaminan dan gedung tempat perhelatan upacaranya sudah berada di ruangan
tertutup dan besar, terlebih cenderung menggunakan gedung luas dan memiliki panggung
sebagai tempat pelaminan pengantin. Dalam hal penyajian makanan pun masih begitu khas
dan menjaga kekuatan adat Batak meskipun berbaur dengan lingkungan suku-suku lainnya.
Di daerah Rumbai, Pekanbaru misalnya. Meskipun daerah ini sangat kaya dan kental dengan
budaya melayu-nya, pelaksanaan perhelatan perkawinan adat Bataknya masih orisinil
terutama dalam hal penyajian makanan untuk rekan dan kerabat yang berasal dari suku dan
ras di luar Batak, artinya tidak adanya pengaruh penyajian masakan dari daerah lain bahkan
negara lain. Selain itu dekorasi pada pelaminan pengantin masih menggunakan atap rumah
Bolon dan corak-corak Batak seperti yang ada di bangunan-bangunan di pinggir danau Toba
dan sekitarnya. Hal ini dapat diteliti melalui hasil pemikiran yakni sejarah pemikiran dan
kebudayaan yang dibangun di atas prinsip-prinsip modernitas selanjutnya merasuk ke
berbagai bidang kehidupan.
Beberapa ciri khas dari perhelatan upacara adat Batak Toba di daerah tersebut justru saat ini
semakin menunjukkan ketidak asliannya di beberapa tempat di kota-kota besar khususnya
DKI Jakarta. Seperti contoh upacara adat perkawinan Batak Toba di Gedung Mulya beberapa
hari yang Dekorasi pelaminan yang sudah tidak lagi menggunakan corak Batak Toba,
melainkan pola dekorasi yang kebarat-baratan. Kemudian penyajian masakan untuk para
tamu dari suku dan ras lain yang justru mengikuti ciri khas makanan dari suku-suku para
tamu. Misalnya menyajikan Bakso Malang dan Siomay Bandung, bahkan zuppa soup yang
adalah makanan khas dari Italia. Selain itu penyewaan mobil mewah untuk transportasi
pengantin yang cenderung meniru pola pernikahan kebarat-baratan atau westernisme. Gedung
Mulya sendiri telah menjadi penanda taraf sosial dan ekonomi keluarga dari kedua belah
pihak. Ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah,
referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi semuanya lebur menjadi satu
dalam silang-sengkarut tanda .Media massa khususnya Koran-koran Batak seperti Horas
sebaiknya memberikan beberapa halaman untuk mengangkat kembali citra dan budaya Batak
yang asli di kalangan para pembaca Koran tersebut. Selain itu sebaiknya tidak hanya
mempublikasikan adanya perhelatan upacara adat yang besar dan mewah untuk memperbaiki
perspektif masyarakat suku Batak atas kesakralan dan tujuan utama dari upacara perkawinan
adat Batak itu sendiri.
Yang menjadi faktor terjadinya pergeseran budaya pada perhelatan upacara perkawinan adat
Batak antara lain:
1.Faktor perbedaan agama antara kedua belah pihak

2.Kemajemukan asal dan etnis dalam suatu daerah,


3.Terjadinya defusi adat yaitu percampuran adat antar etnis misalnya perkawinan berlainan
suku,
4.Pengaruh era globalisasi
5.Terjadinya proses postmodern di kalangan suku bangsa Batak
6.Prestise dan penentu taraf sosial dan ekonomi kedua keluarga.