Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH SILASE

Nama kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Krisantus P.B
Ekarista
Johanie
Klemensia
Olivia Siska
Benedicto
Lewar(148200
7. Yoseph M
8. Dita Ayunita
9. Romanus

Kami(148200 )
E.Burga(14820049)
U.Fellita(14820035)
R.Mide(14820054)
Aman(14820064)
Yosafat
)
Endi(148200 )
F.Renuat(148200 )
Egho(13
)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang silase ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Kami berterima kasih pada Dokter
Hewan Asih Rahayu selaku Dosen mata kuliah Ilmu Pakan Dan Nutrisi Hewan UWKS yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari sampah, dan juga bagaimana
membuat sampah menjadi barang yang berguna. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Surabaya, Oktober 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Ketersediaan

pakan

hijauan

yang

cukup

dengan

nutrisi

yang

baik

dan

berkesinambungan sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan


dan produksi ternak ruminansia merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan
pengembangan ternak ruminansia. Hijauan merupakan pakan utama ternak ruminansia,
tersedia secara melimpah pada musim hujan namun demikian akan menurun produksinya
pada musim kemarau.
Pemenuhan kebutuhan hijauan merupakan hal yang selalu menjadi masalah terutama
di beberapa wilayah Indonesia, hal ini disebabkan karena lahan peternakan yang sudah mulai
sempit serta faktor iklim dimana produksi hijauannya pada musim hujan tinggi dan melimpah
namun akan terjadi penurunan produksi pada musim kemarau sehingga keadaan ini
menyulitkan peternak untuk memenuhi kebutuhan ternak mereka.
Pembuatan silase merupakan salah satu cara yang sangat berguna untuk tetap
menggunakan materi tanaman dengan kualitas nutrisi yang tinggi sebagai pakan ternak di
sepanjang waktu, tidak hanya untuk musim kemarau (Ohmomo et al., 2002).
Pengawetan hijauan sepeti silase diharapkan dapat mengatasi permasalahan
kekurangan hijauan segar terutama pada musim kemarau yang selanjutnya dapat
memperbaiki produktivitas ternak. Produktivitas ternak merupakan fungsi dari ketersediaan
pakan dan kualitasnya. Ketersediaan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya
suhu harian, iklim, dan ketersediaan air tanah. Faktor tersebut sangat mempengaruhi
ketersediaan hijauan pakan ternak yang diharapkan kontinyu sepanjang tahun (Ridwan dan
Widyastuti, 2001).
1.2.

Tujuan
1. Mampu mengatasi masalah kesulitan penyediaan hijauan makanan ternak pada musim
kemarau.
2. Mengetahui pembuatan silase
3. Dapat membedakan silase yang baik dan jelek

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau
bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat kedap
udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi kedap udara tersebut
menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Tempat penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horisontal ataupun vertical. Pada
peternakan skala besar, silo biasanya permanen. Bisa berbahan logam berbentuk silinder
ataupun lubang dalam tanah (kolam beton). Tetapi silo juga bisa dibuat dari drum atau bahkan
dari plastik . Prinsipnya, silo memungkinkan untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan
agar terjadi proses fermentasi.
Bahan untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian bagian lain dari tumbuhan
yang disukai ternak ruminansia, seperti rumput, legume, biji bijian, tongkol jagung, pucuk
tebu, batang nenas dan lain-lain. Kadar air bahan yang optimal untuk dibuat silase adalah 6575% . Kadar air tinggi menyebabkan pembusukan dan kadar air terlalu rendah sering
menyebabkan terbentuknya jamur . Kadar air yang rendah juga meningkatkan suhu silo dan
meningkatkan resiko kebakaran.
Jika dibandingkan dengan pembuatan hay, pembuatan silase memiliki kelebihan yaitu:

Hijauan tidak mudah rusak oleh hujan pada waktu dipanen

Tidak banyak daun yang terbuang

Silase umunya lebih mudah dicerna dibandingkan hay

Karoten dalam hijauan lebih terjaga dengan dibuat silase dibanding hay

Sedangkan kelemahan pembuatan silase adalah perlunya ongkos panen, perlunya mengisi silo
dan biaya pembuatan silo sebagai tempat penyimpanan.

2.2. Prinsip Pembuatan Silase


Prinsip dasar pembuatan silase memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam dalam
waktu singkat. Ada 3 hal paling penting agar diperoleh kondisi tersebut yaitu menghilangkan
udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah
masuknya oksigen kedalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan.
Fermentasi silase dimulai saat oksigen telah habis digunakan oleh sel tanaman.
Bakteri menggunakan karbohidrat mudah larut untuk menghasilkan asam laktat dalam
menurunkan pH silase. Tanaman di lapangan mempunyai pH yang bervariasi antara 5 dan 6,
setelah difermenatsi turun menjadi 3.6- 4.5. Penurunan pH yang cepat membatasi pemecahan
protein dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme anaerob merugikan seperti
enterobacteria dan clostridia. Produksi asam laktat yang berlanjut akan menurunkan pH yang
dapat menghambat pertumbuhan semua bakteri.

Menghilangkan Oksigen Dari Bahan Silase


Proses ensilase terjadi dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob), bakteri yang bekerja

dalam memproduksi asam laktat adalah bakteri anaerob. Oksigen yang terdapat pada bahan
silase dan silo dapat mempengaruhi proses dan hasil yang diperoleh. Proses respirasi tanaman
akan tetap berlangsung selama masih tersedia oksigen. Respirasi dapat meningkatkan
kehilangan bahan kering, mengganggu proses ensilase, menurunkan nilai nutrisi dan
kestabilan silase.
Respirasi Sel Tanaman. Aktivitas sel tanaman tidak segera terhenti setelah dipanen,
sel meneruskan respirasi selama masih cukup tersedia hidrat dan oksigen. Oksigen
dibutuhkan untuk proses respirasi yang menghasilkan energi untuk fungsi sel. Karbohidrat
dioksidasi oleh sel tanaman dengan adanya oksigen menjadi karbondioksida (CO2), air
(H2O) dan panas.
Gula + oksigen Karbondioksida + air + panas
Panas yang dihasilkan selama proses respirasi tidak dapat segera hilang, sehingga
temperatur silase dapat meningkat. Peningkatan temperatur dapat mempengaruhi kecepatan
reaksi dan merusak enzim. Enzim merupakan protein yang akan mengalami denaturasi pada
temperatur tinggi. Peningkatan tempetarur juga dapat mempengaruhi struktur silase misalnya
perubahan warna silase menjadi gelap.

Peningkatan temperatur silase dapat dibatasi dengan pemanenan tanaman dengan


kadar air yang tepat dan dengan meningkatan kepadatan silase. Beberapa jenis bahan secara
alami memperangkap lebih banyak udara dalam silase. Dengan pengelolaan yang baik,
oksigen dapat hilang dari silase dalam 4 sampai 6 jam. Pembatasan respirasi dapat dilakukan
dengan pemotongan langsung, pemadatan padat dan pelayuan. Untuk menjamin proses
fermenatsi berjalan dengan baik, bahan harus mengandung kadar air sekitar 60-70%.
Oksidasi gula tanaman melalui proses respirasi mempunyai pengaruhi negatif
terhadap karakterisitik fermentasi. Gula tanaman berperan sebagai substrat utama bagi bakteri
penghasil asam laktat yang dominan dalam fermentasi silase. Produksi asam laktat oleh BAL
menurunkan pH (menurunkan keasaman) silase dan menjadi kunci stablitas dan pengawetan
silase. Respirasi yang berlebihan atau dalam waktu lama dapat mengurangi ketersediaan
substrat dalam produksi asam laktat, sehingga dapat menurunkan potensi proses fermentasi
yang baik.
Pengaruh Terhadap Nilai Nutrisi. Respirasi yang berlebihan dapat mempengaruhi nilai
nutrisi silase. Oksidasi gula tanaman menurunkan energi dan secara tidak langsung
meningkatkan komponen serat hijauan. Temperatur silase yang berlebihan menyebabkan
pembentukan produk reaksi Maillard, dimana senyawa yang mengandung protein yang tidak
tercerna di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Kondisi anaerob yang lambat
tercapai memungkinkan berkembangan bakteri aerob yang dapat mendegradasi protein
menjadi amonia.
Pengaruh Terhadap Kestabilan Silase. Silase yang difermentasi dengan baik akan
menghasilkan pH yang lebih rendah. Kondisi ini dapat dimaksimalkan jika gula difermentasi
menjadi asam laktat. Silase akan tetap stabil untuk waktu yang tak terbatas selama udara
tidak dapat masuk ke dalam silo. Jika udara (oksigen) dapat masuk, populasi yeast dan jamur
akan meningkat dan menyebabkan panas dalam silase karena proses respirasi. Akibat lain
adalah kehilangan bahan kering dan mengurangi nilai nutrisi silase.Beberapa spesies jamur
pada kondisi tersebut dapat menghasilkan mikotoksin dan substansi lain yang mengganggu
kesehatan ternak.

Kadar air
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses fermentasi adalah kadar air hijauan.

Secara umum, kadar air optimum untuk dalam pembuatan silase sekitar 65%. Tingkat kadar

ini dapat memudahkan proses fermentasi dan biasanya membantu menghilangkan oksigen
selama proses pemgemasan
Proses ensilase pada kadar air lebih dari 70% tidak dianjurkan. Hijauan dengan kadar
air tinggi pada proses ensilase menyebabkan silase menjadikan silase yang dihasilkan tidak
disukai. Silase ini kurang masam dan mempunyai konsentrasi asam butirat dan N-amonia
yang tinggi. Hijauan yang diensilase dengan kadar air yang rendah (dibawah 50%) akan
berakibat fermentasi yang terbatas, sehingga menghasilkan silase yang kurang stabil dengan
konsentrasi asam laktat rendah dan pH lebih tinggi. Hijauan dengan kadar air rendah lebih
sulit untuk menghilangkan oksigen dari bahan silase sewaktu pemasukan dan pengemasan.

Faktor Tanaman
Silase dapat dibuat dari berbagai jenis tanaman seperti rumput, legum, sereal dan hasil

ikutan tananam lainnya. Bahan yang baik dijadikan silase harus mempunyai substrat mudah
terfermentasi dalam bentuk WSC yang cukup, buffering capacity yang relatif rendah dan
kandungan bahan kering di atas 200 g kg-1. WSC tanaman umumnya dipengaruhi oleh
spesies, fase pertumbuhan, budidaya dan iklim.
Rumput yang dipupuk dengan nitrogen dalam level yang tinggi umumnya tidak
menghasilkan silase yang lebih baik dibandingkan dengan hijauan yang dipupuk dengan level
yang biasa. Rumput yang dipupuk dengan nitrogen mempu-nyai kandungan protein kasar
lebih tinggi dengan kandungan gula lebih rendah. Tanaman merubah energi dari matahari
menjadi gula sehingga konsentrasi gula secara umum lebih tinggi pada sore atau malam hari.
Konsentrasi gula menurun pada malam hari melalui proses respirasi dalam tanaman dan lebih
rendah lagi pada pagi hari. Fase pertumbuhan tanaman juga mempengaruhi ratio batang dan
daun, yang akan mempengaruhi kandungan gula tanaman.

Aditif Silase
Aditif silase dapat dibagi menjadi 3 kategori umum yaitu
a. stimulan fermentasi, seperti inokulan bakteri dan enzim;
b. inhibitor fermentasi seperti asam propionat, asam format dan asam sulfat; dan
c. substrat sepertii molases, urea dan amonia

Inokulan Bakteri Hijauan secara alami mengandung beberapa tipe bakteri baik.
Karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh inokulan bakteri antara lain dapat beradaptasi
pada bahan dengan kadar air tinggi, dapat beradaptasi dengan temperatur lingkungan,
toleransi terhadap keasaman, menghasilkan bakteriosin toleransi terhadap PHAGE, dan
berperan sebagai probiotik.
2.3. Proses pembuatan silase
1. Penyiapan Silo
Silo adalah nama sebuah wadah yang bisa di tutup dan kedap udara, artinya udara
tidak bisa masuk maupun keluar dar dan ke dalam wadah tersebut. Wadah tersebut juga harus
kedap rembesan cairan.
Untuk memenuhi kriteria ini maka bahan plastik merupakan jawaban yang terbaik dan
termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Walaupun bahan dari metal, semen dll tetap
baik untuk di gunakan.
Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan, mulai kantong keresek plastik ukuran satu
kilogram, sampai silo silindris dengan garis tengah 100 meter dan ketinggian 30 meter.
Pilihlah ukuran, bahan serta konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda.
Gentong plastik (biasanya berwarna biru) yang mempunyai tutup yang bisa di kunci
dengan rapat, merupakan salah satu pilihan yang terbaik. Karena di samping ukurannya yang
sedang sehingga mudah untuk di angkat manusia, kemudian dengan penambahan jumlah bisa
memenuhi kebutuhan yang lebih banyak.
Jika ingin membuat dalam jumlah yang banyak sekaligus, maka cara yang termurah
adalah dengan menggali tanah. Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian
menggunakan kantung plastik yang di jual meteran, sehingga penutupannya bisa dilakukan
dengan sangat rapat.
Prinsip yang harus di perhatikan adalah, saat membuka dan memberikan silase pada
ternak, maka silo tersebut akan kemasukan udara/oksigen yang bisa dan akan merusak silase
yang telah jadi karena terjadinya proses aerobic, lihat dip hase-6.
Inilah sebabnya kenapa pembuatan dalam jumlah kecil dengan menggunakan silo
yang banyak serta portable (seperti gentong plastik biru, atau kantong plastik), jauh lebih

berdaya guna di banding dengan pembuatan dalam jumlah sangat besar dalam satu
wadah/silo.
Untuk itu ketahuilah jumlah kebutuhan ternak anda, lalu sesuaikan pembuatan silo,
sehingga penggunaannya bisa sekali buka silo , isinya langsung habis di konsumsi sehingga
tidak adalagi sisa yang harus di simpan.
Penyimpanan sisa silase ini , di samping sangat merepotkan juga sangat riskan
terhadap terjadinya proses pembusukan karena terjadi nya eksposur tehadap oksigen yang
akan mengaktive kan bakteri aerob,

2. Penyiapan bahan baku silase serta penempatan pada silo:


Bahan baku sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung di
dapat dari pemanenan, jangan yang telah tersimpan lama mengapa lihat pada Prinsip
Dasar Fermentasi Silase.Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan silase: Mesin
pemotong rumput (chopper), Mesin pengaduk (mixer), Mesin pengepres, Pompa vakum,
Silo/kantong

plastik

dan

karet

pengikat,

Rumput/hijauan

lain,

Inokulum,

Dedak/konsentrat/tetes.
a. Pemotongan atau Pencacahan Bahan Baku
Ukuran pemotongan sebaiknya sekitar 5 centimeter, Pemotongan dan
pencacahan perlu di lakukan agar mudah di masukan dalam silo dan
mengurangi terperangkapnya ruang udara di dalam silo serta memudahkan
pemadatan. Jika hendak menggunakan bahan tambahan, maka taburkan bahan
tambahan tersebut kemudian di aduk secara merata, sebelum di masukan
dalam silo
b. Masukan cacahan tersebut kedalam silo secara bertahap, lapis demi lapis.
c. Saat memasukan bahan baku kedalam silo secara bertahap, lakukan penekanan
atau pengepresan untuk setiap lapisan agar padat. Kenapa harus di padatkan,
karena oksigen harus sebanyak mungkin di kurangi atau di hilangkan sama
sekali dari ruang silo Lihat Prinsip Dasar Fermentasi Silase.
d. Lakukan penutupan dengan serapat mungkin sehingga tidak ada udara yang
bisa masuk kedalam silo -- Lihat Prinsip Dasar Fermentasi Silase.
e. Biarkan silo tertutup rapat serta di letakan pada ruang yang tidak terkena
matahari atau kena hujan secara langsung, selama tiga minggu.

f. Setelah tiga minggu maka silase sudah siap di sajikan sebagai pakan ternak.
Sedangkan untuk menilai kualitas hasil pembuatan silase ini bisa di lihat di
Kriteria Silase yang baik, jika penilaian anda mendapatkan hasil 100 atau
mendekati 100, maka cara and membuat silase sudah sangat baik, lakukan cara
tersebut untuk pembuatan silase berikutnya.
g. Silo yang tidak di buka dapat terus di simpan sampai jangka waktu yang
sangat lama asalkan tidak kemasukan udara.
h. Pemberian pada ternak yang belum terbiasa makan silase, harus di berikan
sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Jika sudah
terbiasa secara bertahap dapat seluruhnya diberi silase sesuai dengan

kebutuhan.
3. Kriteria Silase yang baik :
Kewangian
1) Wangi seperti buah-buahan dan sedikit asam.
2) Bau asam, dan apabila diisap oleh hidung,rasa/wangi baunya semakin kuat
atau sama sekali tidak ada bau
Rasa
1. Apabila dicoba digigit, manis dan terasa asam seperti youghurt/yakult. 6.
Rasanya sedikit asam
2. Rasa yang sedap, ada dorongan untuk mencobanya.
Warna
1. Hijau kekuning- kuningan
2. Jika warna hitam kecoklat-coklatan silase jelek
Sentuhan
1. Kering, tetapi apabila dipegang terasa lembut dan empuk. Apabila menempel
ditangan karena baunya yang wangi tidak dicucipun tidak apa-apa.
2. Kandungan airnya banyak, terasa basah sedikit (becek) bau yang menempel
ditangan, itu artinya silase jelek.

Ciri-Ciri lainnya
a. Tekstur lembut
b. Tidak berjamur
c. pH sekitar 3.6 - 4.2
d. Disukai ternak
e. Suhu pada waktu dibuka tidak panas (kurang dari 30oc)

2.4. Penggunaan Silase

Silase bisa digunakan sebagai salah satu atau satu satunya pakan kasar dalam ransum
sapi potong . Pemberian pada sapi perah sebaiknya dibatasi tidak lebih 2/3 dari jumlah pakan
kasar. Silase juga merupakan pakan yang bagus bagi domba tetapi tidak bagus untuk kuda
maupun babi. Silase merupakan pakan yang disukai ternak terutama bila cuaca panas.
Apabila ternak kita belum terbiasa mengkonsumsi silase, maka pemberiannya sedikit demi
sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan.
Pada waktu pemberian kepada ternak jangan sering dibuka-tutup, dalam 1 hari cuma
boleh dibuka 1 kali (untuk makan ternak pagi dan sore dikeluarkan sekaligus) sebab kalau
sering dibuka tutup kualitas silase akan cepat rusak. Apabila ternak belum terbiasa makan
silase, silase diberikan sedikit demi sedikit dengan cara dicampur dengan hijauan yang biasa
dimakan. Jika sudah terbiasa dapat seluruhnya diberikan silase sesuai dengan kebutuhan.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau bijian
berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat kedap udara
selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi kedap udara tersebut
menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Prinsip dasar pembuatan silase memacu terjadinya kondisi anaerob dan asam dalam
waktu singkat. Ada 3 hal paling penting agar diperoleh kondisi tersebut yaitu menghilangkan
udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah
masuknya oksigen kedalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan.