Anda di halaman 1dari 12

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

IV.

PEMBOBOTAN

PARAMETER

DAN

PENENTUAN KEPUTUSAN
I. PEMBOBOTAN PARAMETER
Tujuan pembobotan parameter adalah untuk mengekspresikan
seberapa besar pengaruh suatu parameter terhadap parameter
lainnya. Ada banyak metode untuk pembobotan ini, beberapa
yang
lazim
digunakan
dalam
SIG
adalah
pembobotan
berdasarkan:
1)
Metode ranking
2)
Metode rating
3)
Metode perbandingan pasangan
4)
Metode analisis trade off
Pengambilan keputusan spasial yang seringkali menggunakan
banyak parameter pasti dihadapkan pada masalah penentuan
tingkat pengaruh satu parameter terhadap parameter lain
yang menyusun fungsi keputusan.
Pengambil keputusan
biasanya harus melakukan pembobotan untuk setiap parameter
berdasarkan tingkat pengaruh atau nilai penting parameter
yang bersangkutan.
Nilai penting suatu parameter, dapat
dilihat dari seberapa besar bobot yang diberikan untuknya
dalam proses penentuan keputusan.
Normalisasi pembobotan biasanya dilakukan dengan cara
menjumlahkan bobot keseluruhan parameter sehingga diperoleh
total nilai sebesar 1.
Untuk sejumlah n parameter,
himpunan bobot dapat didefinisikan sebagai berikut:
w
= ( w1, w2, w3, wj,... wn )
wj = 1
Pembahasan berikut akan menjelaskan bagaimana
memperoleh nilai untuk w1, w2, w3, wj,... wn.

caranya

1) METODE RANKING
Metode ranking adalah metode yang paling sederhana untuk
pemberian nilai bobot.
Intinya setiap parameter akan
disusun berdasarkan ranking.
Penentuan ranking bersifat
subjektif, dan sangat dipengaruhi oleh persepsi pengambil
keputusan.

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

38

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Penentuan ranking dapat dilakukan secara langsung, misalnya


parameter paling penting diberi nilai 1, parameter penting
diberi nilai 2 dan parameter kurang penting diberi nilai 3,
atau dapat juga dengan pendekatan kebalikan misalnya
parameter kurang penting diberi nilai 1, penting diberi
nilai 2 dan paling penting bernilai 3. Bilamana ranking
telah ditetapkan, maka ada 3 cara untuk penentuan bobot
setiap parameter, yaitu dengan pendekatan jumlah ranking,
ketergantungan ranking, dan eksponen ranking.
A)
Jumlah ranking
Pembobotan dengan cara ini dihitung menurut rumus:
wj = (n - rj + 1)/ (n - rp + 1).....(pers. 1)
wj adalah bobot normal untuk parameter ke j (j=1,2...n),
n adalah banyaknya parameter yang sedang dikaji, p adalah
parameter (p=1,2...n) dan rj posisi ranking suatu parameter.
Setiap parameter diberi bobot senilai (n kemudian dinormalisasi dengan (n - rp + 1).

rj

1)dan

CONTOH
Misalkan ada p (p=1,2,3) parameter yang diperlukan untuk
pengambilan keputusan pada suatu masalah.
Misalkan pula
untuk setiap parameter diberikan ranking seperti yang
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Ranking Parameter
NO
PARAMETER
RANKING
1.
Aksesibilitas
2
2.
Harga Tanah
3
3.
Keamanan
1
Perhitungan untuk penentuan bobot masing-masing parameter
dapat dilakukan sebagai berikut:
Penentuan bobot untuk parameter ke 1,
dari tabel 1 diketahui n = 3, r1 = 2,
tinjau persamaan 1 ....
wj = (n - rj + 1)/ (n - rp + 1)
w1 = (3 - 2 + 1)/ {(3 - 3 + 1)+ (3 - 2 + 1)+ (3 - 1 + 1)}
w1 = 2/ (1 + 2 + 3)

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

39

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

w1 = 2/6 0.33
jadi bobot untuk parameter 1 0.33
dengan cara yang sama diperoleh:
w2 = 1/6 0.17
w3 = 3/6 0.50
Susun kembali Tabel 1 menjadi seperti Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Dengan Jumlah Ranking
No
1.
2.
3.

PARAMETER
Aksesibilitas
Harga Tanah
Keamanan

RANKING
2
3
1

BOBOT
(n - rj + 1)
2
1
3

BOBOT NORMAL
(wj)
0.33
0.17
0.50

B)
Ketergantungan ranking
Nilai bobot diperoleh dari normalisasi ranking setiap
parameter.
Rumus yang digunakan adalah seperti yang
ditunjukkan oleh persamaan 2.
wj = (1/rj)/ (1/rk) .....(pers. 2)
Lihat kembali Tabel 1, untuk parameter ke 1 dapat dihitung
bobotnya menjadi:
wj = (1/rj)/ (1/rk)
w1 = (1/2)/ (1/2 + 1/3 + 1)
w1 = 3/11 0.27
dengan cara yang sama diperoleh
w1 = 2/11 0.18
w1 = 6/11 0.55

B)
Eksponen ranking
Bobot parameter ditentukan dengan rumus berikut:
wj = (n - rj + 1)e/ (n - rp + 1)e.....(pers. 1)
Nilai e ditentukan secara iteratif, dengan terlebih dahulu
memberikan bobot secara apriori untuk parameter terpenting.
Apabila nilai e dapat ditentukan atau dianggap given,maka
bobot untuk parameter lain dapat ditentukan dengan mudah.

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

40

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Perhatikan, apabila e = 0 maka bobot untuk setiap parameter


akan memiliki nilai yang sama dan apabila e = 1, maka
perhitungan bobotnya akan sama dengan rumus pada persamaan
1 (lihat bagian A).
2)
METODE PERBANDINGAN PASANGAN
Metode ini pada awalnya dikembangkan oleh Saaty (1980)
untuk keperluan proses analitik hirarki (Analytic Hierarchy
process/AHP).
Bobot parameter ditentukan dengan cara
normalisasi vektor eigen, yang diasosiasikan dengan nilai
eigen maksimum pada suatu matriks rasio.
Contoh kasus
berikut akan memperjelas tahapan yang harus dilakukan.
CONTOH
Misalkan permasalahannya adalah penentuan kesesuaian lokasi
perumahan baru PT CALTEX di Aceh Utara dan ada 3 parameter
yang dievaluasi yaitu: keamanan (k), akses (s) dan harga
tanah (h).
Untuk satu pasangan parameter, kita harus
menentukan parameter mana yang lebih penting, untuk itu
setiap parameter akan dipasangkan satu dengan lainnya dan
kemudian dibandingkan seberapa penting parameter yang satu
terhadap parameter yang menjadi pasangannya saat itu (lihat
Tabel 4).
Sebelum membandingkan, kita harus memiliki skala nilai
penting antar parameter, dalam hal ini digunakan Tabel 3.
Metode yang diajukan Saaty (1980), menggunakan skala 1-9
untuk menetapkan nilai penting tersebut.
Tabel 3. Skala untuk perbandingan pasangan (Saaty, 1980)
NILAI
DEFINISI
1
Sama penting
2
sama hingga cukup penting
3
Cukup penting
4
Cukup penting hingga tinggi kepentingannya
5
Tinggi kepentingannya
6
Tinggi kepentingannya hingga sangat tinggi
7
Sangat tinggi kepentingannya
8
Kepentingannya sangat tinggi hingga amat sangat
tinggi
9
Kepentingannya amat sangat tinggi

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

41

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Tabel 4. Menentukan Nilai Penting Parameter Pasangan


PARAMETER 1
PARAMETER 2
NILAI PENTING
Keamanan
Akses
4
Keamanan
Harga tanah
7
Akses
Harga tanah
4
Perhatikan Tabel 4, pada baris pertama, pasangan yang
dibandingkan adalah parameter keamanan dengan akses .
Untuk menentukan kesesuaian lokasi, mana yang lebih dahulu
anda pertimbangkan keamanan atau akses-nya?
Pada Tabel 4 tersebut diperlihatkan bahwa dibandingkan
akses, maka keamanan
adalah cukup penting sampai tinggi
kepentingannya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
menentukan kesesuaian lokasi.

TAHAP 1:Membuat Matriks Perbandingan Pasangan


Tabel 4 yang telah disusun, dapat ditransformasi ke dalam
bentuk
matriks,
yang
lazim
disebut
sebagai
matriks
perbandingan pasangan (Tabel 5).

Tabel 5.
PARAMETER

Perbandingan Pasangan Parameter


KEAMANAN
AKSES
HARGA
(k)
(s)
TANAH
(h)
KEAMANAN (k)
1
4
7
AKSES (s)
1/4
1
4
HARGA TANAH (h)
1/7
1/4
1

TAHAP 2:Menghitung bobot parameter


Tahapan ini meliputi langkah-langkah operasi:
i)
penjumlahan nilai untuk setiap kolom pada matriks
perbandingan parameter
ii) pembagian nilai setiap sel dengan nilai total pada
kolom yang bersangkutan.
Matriks hasilnya dinamakan
sebagai matriks perbandingan pasangan ternormalisasi
iii) menghitung
nilai
rata
di
setiap
baris
matriks
ternormalisasi
untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Dari
tabel tersebut dapat diketahui bahwa parameter keamanan
merupakan yang paling penting, diikuti parameter akses dan
kemudian harga tanah.

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

42

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Tabel 6.
PARAMETER
Keamanan (k)
Akses (s)
Harga tanah(h)

Penentuan Bobot Relatif Parameter


LANGKAH i
LANGKAH ii
k
s
h
k
s
h
1
1/4
1/7
1.3929

4
1
1/4
5.2500

7
4
1
12.000

0.7179
0.1795
0.1026
1.0000

0.7619
0.1905
0.0476
1.0000

0.5833
0.3333
0.0834
1.0000

LANGKAH iii
BOBOT
Keamanan (k)
Akses (s)
Harga tanah(h)

(0.7179 + 0.7619 + 0.5833 ) / 3 =


(0.1795 + 0.1905 + 0.3333 ) / 3 =
(0.1026 + 0.0476 + 0.0834 ) / 3 =

0.6877
0.2344
0.0779
1.0000

TAHAP 3:Estimasi rasio konsistensi


Harus ada mekanisme untuk menentukan apakah perbandingan
pasangan seperti yang telah dilakukan pada Tahap 1 benarbenar konsisten. Untuk itu, pada tahap 3 akan dilakukan
langkah operasi berikut:
i)
penentuan vektor jumlah bobot dengan cara mengalikan
bobot parameter pertama (keamanan ) dengan kolom
pertama pada matriks perbandingan yang awal (Tabel 5),
kemudian mengalikan bobot parameter kedua akses)dengan
kolom kedua, seterusnya bobot parameter ketiga (harga
tanah) dengan kolom ketiga, dan akhirnya dilakukan
penjumlahan pada setiap baris
ii) Menentukan vektor konsistensi dengan cara membagi
vektor jumlah bobot dengan bobot parameter (Tabel 6).
Hasil operasi lengkap dapat dilihat pada Tabel 7.

PAR
k
s
h

Tabel 7. Menentukan Rasio Konsistensi


LANGKAH I
LANGKAH ii
0.6877*1
+0.2344*4
+0.0779*7=2.1706
0.6877*(1/4)+0.2344*1
+0.0779*4=0.7179
0.6877*(1/7)+0.2344*(1/4)+0.0779*1=0.2347

2.1706/0.6877=3.1563
0.7179/0.2344=3.0628
0.2347/0.0779=3.0128

Setelah menghitung nilai vektor konsistensi, kita harus


menghitung pula nilai untuk rata-rata konsistensi ()dan
indeks konsistensi (CI). Nilai dapat dihitung sebagai
berikut:
= (3.1563 + 3.0628 + 3.0128)/3 = 3.0773

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

43

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Nilai CI juga dapat dihitung:


CI = ( - n) / (n 1)
CI = 3.0773 - 3 / 3 1
CI = 0.0387
Nilai CI menyatakan seberapa jauh jarak dari konsisten,
dari sini kita juga dapat menghitung RI yaitu indeks acak,
yang merupakan indeks konsistensi untuk setiap matriks
perbandingan pasangan secara acak.
Nilai RI bergantung
pada seberapa banyak parameter yang sedang dibandingkan
(lihat Tabel 8)dan digunakan untuk menghitung rasio
konsistensi atau CR.
CR = CI/RI
CR = 0.0387/0.58
CR = 0.0666
Nilai Rasio CR didesain sedemikian rupa untuk mengikuti
sifat berikut:
;
jika CR < 0.10, menunjukkan tingkat konsistensi yang
cukup rasional dalam perbandingan pasangan
;
jika CR 0.10, berarti telah terjadi penilaian yang
tidak konsisten
untuk kondisi kedua, maka perlu dilakukan perhitungan
kembali terutama dalam menentukan tingkat kepentingan dari
dua parameter yang sedang dibandingkan. Dengan kata lain,
nilai-nilai pada tabel awal (Tabel 5) perlu disusun ulang.
Tabel 8.
n
1
2
3
4
5

Indeks Inkonsistensi Acak (RI) untuk n=1,2..15


RI
n
RI
n
RI
0.00
6
1.24
11
1.51
0.00
7
1.32
12
1.48
0.58
8
1.41
13
1.56
0.90
9
1.45
14
1.57
1.12
10
1.49
15
1.59

TAHAP 4: Kesimpulan
Dari perhitungan rasio konsistensi diketahui bahwa proses
perbandingan pasangan cukup konsisten (CR=0.0666 < 0.10),
sehingga nilai bobot untuk masing-masing parameter dapat
ditetapkan sebagai berikut:
;
Bobot untuk parameter keamanan = 0.6877
;
Bobot untuk parameter akses = 0.2344
;
Bobot untuk parameter harga tanah = 0.0779

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

44

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

II. PENENTUAN KEPUTUSAN


Penentuan keputusan dalam SIG adalah suatu mekanisme untuk
menentukan alternatif spasial mana yang terbaik yang harus
dipilih dari serangkaian alternatif untuk pemecahan masalah
spasial.
Mekanisme ini secara integral akan melibatkan data dan
informasi seluruh alternatif pemecahan masalah yang mungkin
muncul dan juga kerangka pemikiran para pengambil keputusan
dalam menilai keseluruhan alternatif pemecahanan masalah
tersebut.
Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk
keperluan ini, diantaranya adalah:
1)
Metode pembobotan aditif sederhana
2)
Metode pendekatan fungsi/nilai
3)
Metode proses analitik hirarki (AHP)
4)
Metode titik ideal
5)
Metode konkordansi
6)
Metode Operasi Aggregasi Fuzzy
7)
Metode pemrograman linier
8)
Metode pemrograman interaktif
9)
Metode pemrograman kompromi
10) Metode analisis perkembangan data
Modul ini hanya akan membahas satu metode, yaitu proses
analitik hirarki (AHP).
PROSES ANALITIK HIRARKI/AHP (Saaty, 1980)
Metode proses analitik hirarki (AHP), didasarkan pada 3
prinsip: dekomposisi prioritas, penilaian komparatif dan
sintesis prioritas.
;
prinsip dekomposisi: permasalahan didekomposisi ke
dalam bentuk hirarki sedemikian rupa sehingga mencakup
unsur-unsur terpenting dari permasalahan (lihat Gambar
1).
;
prinsip penilaian komparatif: penilaian dilakukan
dengan cara membandingkan pasangan parameter di setiap
level
hirarki
yang
sederajat
dengan
tetap
mempertimbangkan hirarki di atasnya.
;
prinsip
sintesis
prioritas:
prioritas
penilaian
ditentukan dalam skala rasio untuk setiap level. Pada
level hirarki terendah disusun himpunan semesta
prioritas
sehingga
diperoleh
sejumlah
alternatif
terbaik.

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

45

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Dengan berpegang pada tiga prinsip di atas, AHP dilakukan


melalui tiga tahapan, yaitu:
1)
membangun hirarki AHP
2)
membandingkan unsur keputusan berdasarkan pasangannya
3)
menyusun rating alternatif pemecahan masalah secara
keseluruhan
IMPROVE THE FOREST LAND

MAXIMIZE
FOREST
PRODUCTIVITY

SOIL

MINIMIZE
FLUCTUATIONS
IN RIVER
DISCHARGE

MINIMIZE
FLOOD
HAZARD

ELEVATION

GEOLOGY

SLOPE

Gambar 1. Contoh
1999)

Struktur

Hirarki

MAXIMIZE
SOIL
CONSERVATION

RAVINE
DENSITY

dalam

AHP

MAXIMIZE
RECREATION
OPPORTUNITIES

RECREATIONAL
FEATURES

(Malczewski,

TAHAP 1: Membangun hirarki AHP


Pembentukan hirarki dimulai dengan menempatkan tujuan
global yang akan dicapai pada level tertinggi (misalnya
tujuan globalnya adalah memilih tempat terbaik untuk
dijadikan Marine Protected Area).
Tujuan global ini
kemudian
dirinci
menjadi
tujuan-tujuan
khusus
yang
menempati level lebih rendah, demikian seterusnya hingga
diperoleh level terendah yaitu atribut. Di level atribut
inilah kita akan melakukan evaluasi seluruh alternatif
keputusan.
Setiap level yang disusun harus saling terkait dengan level
di atasnya.
Dengan demikian struktur hirarki yang
terbentuk akan terdiri atas empat level:
1)
level tujuan global
2)
level tujuan khusus
3)
level atribut
4)
level alternatif pemecahan masalah

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

46

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Semua alternatif pemecahan masalah yang dihasilkan dari


proses ini haruslah terakomodasi di dalam basisdata SIG.
Contoh pembangunan hirarki ini dapat dilihat pada Gambar 2.
TAHAP
2:
pasangannya

Membandingkan

unsur

keputusan

berdasarkan

Perbandingan pasangan (lihat Bagian I.2) adalah alat ukur


yang digunakan dalam penentuan keputusan dengan metode AHP.
Prosedur ini dapat mereduksi kompleksnya konsep pengambilan
keputusan, oleh karena kita hanya dihadapkan pada dua
alternatif dalam sekali waktu.
Prosedur ini, sebagaimana
telah disinggung sebelumnya, dapat ditempuh dengan tiga
tahapan.
Untuk keperluan penentuan keputusan, akan
dilakukan perbandingan pasangan alternatif pada setiap
level hirarki.
Jika kita dapat berasumsi bahwa hirarki
yang terbentuk terdiri dari tujuan global, tujuan khusus,
atribut dan alternatif, maka prosedur perbandingan pasangan
akan dipakai pada level tujuan khusus, atribut dan level
alternatif.
TAHAP 3:Menyusun rating alternatif pemecahan masalah secara
keseluruhan
Tahapan terakhir adalah agregasi bobot relatif yang
dihasilkan dari tahapan ke-2 untuk menghasilkan bobot
komposit.
Caranya
adalah
dengan
melakukan
perkalian
sekuensial antar matriks bobot untuk setiap level hirarki.
Matriks bobot di level kedua dikalikan dengan matriks bobot
di level ketiga, hasilnya kemudian dikali lagi ke level
selanjutnya yang lebih rendah, demikian seterusnya. Bobot
komposit akan diperoleh pda struktur hirarki terakhir.
Bobot ini, kita sebut saja sebagai skor alternatif
keputusan, akan menjadi dasar untuk pengambilan keputusan
spasial. Total skor dapat dinyatakan sebagai Ri,
Ri =

k wj rik

wk adalah vektor prioritas yang diasosiasikan dengan


parameter ke-k pada struktur hirarki, wk=1, dan rik adalah
vektor prioritas yang diperoleh dari perbandingan relatif
setiap parameter. Dengan demikian alternatif terbaik dapat
dipilih dari nilai maksimum pada himpunan Ri (i = 1,2,...m).

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

47

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

Struktur keputusan dapat dilihat pada Gambar 2.


Prosedur
rating berbasis SIG diperlihatkan secara detail pada Gambar
3.
LEVEL
TUJUAN GLOBAL

TUJUAN
GLOBAL
1.000

LEVEL
TUJUAN KHUSUS

TUJUAN
KHUSUS 1
0.6877

LEVEL
ATRIBUT

KEAMANAN
0.6877

LEVEL
ATRIBUT LAYER

TUJUAN
KHUSUS 2
0.3123

AKSES
0.2344

2
3

0.49
RATING ALTERNATIF

HARGA TANAH
0.0779

5000

25000

30000

0.32

0.20

II

RANKING ALTERNATIF

III
KETERANGAN:
I = SANGAT SESUAI
II = SESUAI
III= TIDAK SESUAI

Gambar 2.

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Struktur AHP untuk Penentuan Keputusan

Last printed 07/15/02 8:05 AM

48

MODUL PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


JURUSAN ILMU KELAUTAN-FIKP-UH

KEAMANAN

PETA
PARAMETER

AKSES

2
3

0.50

0.33

Standarisasi

1.00

0.69

0.34

0.23

1.00

0.67

0.23

0.20

0.17

0.23

0.16

1.00
PETA RATING

1.00

* 0.2344

* 0.6877

PETA PARAMETER
DI STANDARISASI
DAN TERBOBOTI

25000

30000

Standarisasi

Standarisasi
1.00

5000

PETA PARAMETER
DI STANDARISASI

HARGA TANAH

* 0.0779

0.08

0.08

0.01

0.65

0.40
Standarisasi

0.49 0.32
0.20

Gambar 3. Prosedur Rating dalam Pekerjaan SIG

TUGAS UNTUK PRAKTIKAN SIG


BACALAH TEORI DI ATAS DENGAN BAIK, KEMUDIAN TERAPKANLAH
PADA CONTOH KASUS YANG TELAH PRAKTEKKAN (LIHAT KEMBALI
MODUL II).
ANDA DAPAT MEMECAH CONTOH KASUS TERSEBUT MENJADI DUA KASUS,
YAITU KASUS UNTUK PT CALTEX DAN MOBIL OIL.
PILIH SALAH SATU YANG AKAN ANDA SELESAIKAN.
HASIL AKHIRNYA ADALAH LOKASI YANG PALING SESUAI UNTUK
PERUMAHAN (THE ONE ONLY).
HASIL INI AKAN DIJADIKAN BAHAN UNTUK LAYOUT PETA PADA
PRAKTIKUM TERAKHIR.
-SELAMAT BEKERJA-

Muhammad Banda Selamat


mbandas@yahoo.com

Last printed 07/15/02 8:05 AM

49