Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Pneumotorak adalah keadaan terdapat udara atau gas dalam rongga pleura.
Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa
mengembang terhadap rongga udara, pneumotoraks dapat terjadi secara spontan maupun
traumatik. Pneumotoraks spontan dibagi menjadi primer dan sekunder, pneumotorak
traumatik dibagi menjadi itrogenik dan bukan itrogenik. (Barmawy. H, 2000)
Insidens pneumotoraks sedikit diketahui, karena episodenya banyak yang
tidak diketahui. Pria lebih banyak dari pada wanita dengan perbandingan 5:1.
pneumotorak spontan primer (PSP) sering juga dijumpai pada individu sehat, tanpa
riwayat penyakit paru sbelumnya. salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81% kasus
PSP berusia kurang dari 45 tahun. Seaton dkk melaporkan bahwa pasien tuberculosis
aktif mengalami komplikasi pneumotorak sekitar 2,4% dan jika ada kavitas paru
komplikasi pneumotoraks meningkat lebih dari 90%. (Barmawy. H, 2000)
Di Olmsted country, Minnesota, amerika, meiton et al melakukan penelitian
selama 25 tahun pada pasien yang terdiagnosis sebagai pneumotoraks, didapatkan 75
pasien karena trauma, 102 pasien karena itrogenik dan sisanya 141 pasien karena
pneumotoraks spontan. Dari 141 pasien tersebut 77 pasien PSP dan 64 pasien PSS. Pada
pasien pneumotorak spontan didapatkan angka incident sebagai berikut: PSP terjadi pada
7,4 per 100.000 pertahun untuk peria dan 2,0 per 100.000 tahun untuk wanita. (Barmawy.
H, 2000)
Sesuai perkembangan dibidang pulmunologi telah sering dikerjakan
pendekatan
1

baru

berupa

tindakan

torakostomi

disertai

video

(video-assisted

thoracostomi), ternyata memberikan banyak keuntungan pada pasien yang mengalami


pneumotoraks relaps dan lama rawat inap di RS yang lebih sigkat.
2.

Tujuan
a.Tujuan umum
Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah penulis mempu
mengungkapkan pola pikir ilmiah dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan pneumotoraks secara komprehensif dan memperoleh pengalaman secara nyata
tentang pneumotoraks.
b. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan askep ini penulis mampu:
1.

Melakukan pengkajian klien dengan pneumotoraks.

2.

Mengidentifikasi data klien.

3.

Menganalisa data yang diperoleh dari pengkajian.

4.

Merumuskan diagnosa keperawatan.

5.

Menentukan prioritas masalah keperawatan.

6.

Menyusun rencana keperawatan.

7.

Melaksanakan tindakan keperawatan, berdasarkan rencana yang telah disusun


dalam intervensi keperawatan.

8.

Melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan


berdasarkan criteria standar.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Pneumotorak adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura.
Pneumotoraks menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko tinggi untuk
mengalami akumulasi udara pada pleura yang berhubungan dengan cedera. Pada keadaan
normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap
rongga dada. Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapatnya udara pada rongga
potensial diantara pleura visceral dan pleura parietal. (Doengoes, 2000)
Pada keadaan normal rongga pleura di penuhi oleh paru paru yang mengembang
pada saat inspirasi disebabkan karena adanya tegangan permukaaan ( tekanan negatif )
antara kedua permukaan pleura, adanya udara pada rongga potensial di antara pleura
visceral dan pleura parietal menyebabkan paru-paru terdesak sesuai dengan jumlah udara
yang masuk kedalam rongga pleura tersebut, semakin banyak udara yang masuk kedalam
rongga pleura akan menyebabkan paruparu menjadi kolaps karena terdesak akibat udara
yang masuk meningkat tekanan pada intrapleura. Secara otomatis terjadi juga gangguan
pada proses perfusi oksigen kejaringan atau organ, akibat darah yang menuju kedalam
paru yang kolaps tidak mengalami proses ventilasi, sehingga proses oksigenasi tidak
terjadi.
B. Patofisiologi
Rongga dada mempunyai dua struktur yang penting dan digunakan untuk
melakukan proses ventilasi dan oksigenasi, yaitu pertama tulang, tulang tulang yang
menyusun struktur pernapasan seperti tulang klafikula, sternum, scapula. Kemudian yang
kedua adalah otot-otot pernapasan yang sangat berperan pada proses inspirasi dan
ekspirasi. Jika salah satu dari dua struktur tersebut mengalami kerusakan, akan
berpengaruh pada proses ventilasi dan oksigenasi. contoh kasusnya, adanya fraktur pada
tulang iga atau tulang rangka akibat kecelakaan, sehingga bisa terjadi keadaaan flail chest
atau kerusakan pada otot pernapasan akibat trauma tumpul, serta adanya kerusakan pada
organ viseral pernapasan seperti, paru-paru, jantung, pembuluh darah dan organ lainnya
3

di abdominal bagian atas, baik itu disebabkan oleh trauma tumpul, tajam, akibat senapan
atau gunshot.
Tekanan intrapleura adalah negatif, pada proses respirasi, udara tidak akan dapat
masuk kedalam rongga pleura. Jumlah dari keseluruhan tekanan parsial dari udara pada
kapiler pembuluh darah rata-rata (706 mmHg). Pergerakan udara dari kapiler pembuluh
darah ke rongga pleura, memerlukan tekanan pleura lebih rendah dari -54 mmHg (-36
cmH2O) yang sangat sulit terjadi pada keadaan normal. Jadi yang menyebabkan
masuknya udara pada rongga pleura adalah akibat trauma yang mengenai dinding dada
dan merobek pleura parietal atau visceral, atau disebabkan kelainan konginetal adanya
bula pada subpleura yang akan pecah jika terjadi peningkatan tekanan pleura
Secara singkat proses terjadinya pneumothoraks adalahsebagai berikut :
1. Alvioli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara masuk kearah
jaringan pribonkhovaskular. Apabila alveoli itu melebar, tekanan dalam alveoli akan
meningkat.
2. Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan ostruksi endobronkhial adalahfaktor
presifitasi yang memudahkan terjadinya robekan.
3. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan jaringan fibrosis

diperibronksovaskular kea rah hilus, masuk mediastinum, dan menyebabkan


pneumothoraks. (Arif Muttaqin, 2008).

W.O.C Pneumothorak

Trauma tajam

Trauma tumpul

Torak
Pneumotorak

Akumulasi cairan dalam


kavum pleura

Ekspansi Paru
Ketidak efektifan pola
napas

Kerusakan integritas
kulit

Pemasangan WSD

Diskontinuitas

Jaringan

Resiko Infeksi

Merangsang reseptor nyeri


pada pleura viseralis dan
parietalis

Nyeri Akut

Thorakdrains bergeser

Merangsang reseptor nyeri


pada periver kulit

C. Gejala Klinis
Pneumotoraks dapat terjadi tanpa diketahui dengan jelas faktor penyebabnya.
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan pneumotoraks adalah tuberkulosis paru,
asma, penyakit paru obstruktif kronik (penyakit yang disebabkan polusi dan rokok), serta
penyakit bawaan (sejak lahir dinding paru sangat tipis).
Pneumotoraks secara umum dapat diketahui dari gejala-gejala seperti sesak
mendadak, nyeri dada, dan sesak semakin lama kian memberat terutama jenis ventil. Ini
disebabkan udara kian lama makin banyak sehingga udara tersebut mendesak organorgan yang ada di rongga dada seperti jantung dan pembuluh darah
Adanya keluhan-keluhan dan gejala-gejala klinis pneumothoraks amat tergantung
pada besarnya lesi pneumothoraks dan ada tidaknya komplikasi penyakit paru. Beberapa
pasien menunjukkan keadaan asimtomatik dan kelainan hanya dapat ditemukan pada
pemeriksaaan foto dada rutin. Pada beberapa kasus, pneumothoraks terluput dari
pengamatan
Gejala yang utama adalah berupa rasa sakit yang tiba-tiba dan bersifat unilateral
serta diikuti sesak nafas. Kelainan ini ditemukan pada 80-90% kasus. Gejala-gejala ini
lebih mudah ditemukan bila penderita melakukan aktivitas berat. Tetapi pada sebagian
kasus, gejala-gejala masih gampang ditemukan pada aktivitas biasa atau waktu istirahat
Rasa sakit tidak selalu timbul. Rasa sakit ini bisa menghemat atau menetap bila
terjadi perlengketan antara pleura viseralis dan pleura parietalis. Suatu waktu
perlengketan ini bisa sobek pada tekanan kuat dari pneumothoraks, sehingga terjadi
perdarahan intrapleura (hemato-pneumothoraks)

Kadang-kadang

gejala

klinis

dapat

ditemukan

walaupun

kelainan

pneumothoraksnya sedikit, misalnya perkusi yang hipersonor, fremitus yang melemah


sampai menghilang, suara nafas yang melemah sampai menghilang pada sisi yang sakit
Pada lesi yang lebih besar atau pada tension pneumothoraks, trakea dan
mediastinum dapat terdorong kesisi kontralateral. Diafragma tertekam ke bawah, gerakan
pernafasan tertinggal pada sisi yang sakit. Fungsi respirasi menurun, terjadi hipoksemia
arterial dan curah jantung menurun
Kebanyakan pneumothoraks terjadi pada sisi kanan (53%), sedangkan sisi kiri
(45%) dan bilateral hanya 2 %. Hampir 25 % dari pneumothoraks spontan berkembang
menjadi hidropneumothoraks. (Arif Muttaqin, 2008)

D. Klasifikasi dari Pneumotoraks


Beberapa

literatur

yaitu,pneumotoraks

menyebutkan

spontan

dan

klasifikasi

pneumotoraks

pneumothoraks
traumatik.

Ada

menjadi
juga

yang

mengklasifikasikannya berdasarkan etiloginya seperti Spontan pneumotoraks (spontan


pneumotoraks primer dan spontan pneumotoraks sekunder), pneumotoraks traumatik,
iatrogenik pneumotoraks. serta ada juga yang mengklasifikasinya berdasarkan
mekanisme terjadinya yaitu, pneumotoraks terbuka (open pneumotoraks), dan
pneumotoraks terdesak (tension pneumotoraks ). 5 Seperti dikatakan diatas pneumotoraks
dapat diklasifikasikan sesuai dengan dasaretiologinya seperti Spontan pneumotoraks,
dibagi menjadi 2 yaitu, Spontan Pneumotoraks primer (primery spontane pneumothorax)
dan

Spontan

Pneumotoraks

Sekunder

(secondary

spontane

pneumothorax),

pneumotoraks trauma, iatrogenik pneumotoraks. 4,5


1. Pneumotoraks Spontan Primer ( primery spontaneous pneumothorax)
Dari kata primer ini dapat diketahui penyebab dari pneumotoraks belum
diketahui secara pasti, banyak penelitian dan terori telah di kemukakan untuk mencoba
menjelaskan tentang apa sebenarnya penyebab dasar dari tipe pneumotoraks ini. Ada teori
7

yang menyebutkan, disebabkan oleh factor konginetal, yaitu terdapatnya bula pada
subpleura viseral, yang suatu saat akan pecah akibat tingginya tekanan intra pleura,
sehingga menyebabkan terjadinya pneumotoraks.4 Bula subpleura ini dikatakan paling
sering terdapat pada bagian apeks paru dan juga pada percabangan trakeobronkial.
Pendapat lain mengatakan bahwa PSP ini bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Diduga merokok dapat menyebabkan ketidakseimbangan dari protease, antioksidan ini
menyebabkan degradasi dan lemahnya serat elastis dari paru-paru, serta banyak penyebab
lain yang kiranya dapat membuktikan penyebab dari pneumotoraks spontan primer.
2. Pneumotoraks Spontan Sekunder ( Secondary Spontaneus Pneumothorax)
Pneumotoraks spontan sekunder merupakan suatu pneumotoraks yang penyebabnya
sangat berhubungan dengan penyakit paru-paru, banyak penyakit paru-paru yang
dikatakan sebagai penyebab dasar terjadinya pneumotoraks tipe ini. Chronic Obstructive
Pulmonary Disease (COPD), infeksi yang disebabkan oleh bakteripneumocity carinii,
adanya keadaan immunocompremise yang disebabkan oleh infeksi virus HIV, serta
banyak penyebab lainnya, disebutkan penderita pneumotoraks tipe ini berumur diantara
60-65 tahun .
3. Pneumotoraks Trauma
Pneumotoraks trauma adalah pneumotoraks yang disebabkan oleh trauma yang secara
langsung mengenai dinding dada, bisa disebabkan oleh benda tajam seperti pisau,atau
pedang, dan juga bisa disebabkan oleh benda tumpul. Mekanisme terjadinya
pneumotoraks trauma tumpul, akibat terjadinya peningkatan tekanan pada alveolar secara
mendadak, sehingga menyebabkan alveolar menjadi ruptur akibat kompresi yang
ditimbulkan oleh trauma tumpul tersebut, pecahnya alveolar akan menyebabkan udara
menumpuk pada pleura visceral, menumpuknya udara terus menerus akan menyebabkan
pleura visceral rupture atau robek sehingga menimbulkan pneumotorak. Jika pada
mekanisme terjadinya pneumotoraks pada trauma tajam disebabkan oleh penetrasi benda
tajam tersebut pada dinding dada dan merobek pleura parietal dan udara masuk melalui
luka tersebut ke dalam rongga pleura sehingga terjadi pneumotoraks.

4. Iatrogenik Pneumotoraks
Banyak penyebab yang dilaporkan mendasari terjadinya pneumotoraks iatrogenic,
penyebab paling sering dikatakan pemasangan thransthoracic needle biopsy. Dilaporkan
juga kanalisasi sentral dapat menjadi salah satu penyebabnya.4 Pada dasarnya dikatakan
ada dua hal yang menjadi faktor resiko yang menyebabkan terjadinya pneumotoraks
iatrogenic yaitu pertama adalah dalamnya pemasukan jarum pada saat memasukannya
dan kedua, ukuran jarum yang kecil, menurut sebuah penelitian kedua itu memiliki
korelasi yang kuat terjadinya pneumotoraks.3,4. Berdasarkan mekanisme dari terjadinya
pneumotoraks

dapat

diklasifikasikan

menjadi

pneumotoraks

terdesak

(tension

pneumotoraks), dan pneumutoraks terbuka (open pneumothorax),


5. Pneumotoraks Terdesak (Tension Pneumothorax)
Suatu pneumotoraks yang merupakan salah satu kegawat daruratan pada cedera dada.
Keadaan ini terjadi akibat kerusakan yang menyebabkan udara masuk kedalam rongga
pleura dan udara tersebut tidak dapat keluar, keadaan ini disebut dengan fenomena ventil
( one way-valve). Akibat udara yang terjebak didalam rongga pleura ssehingga
menyebabkan tekanan intrapleura meningkat akibatnya terjadi kolaps pada paru-paru,
hingga menggeser mediastinum ke bagian paru-paru kontralateral, penekanan pada aliran
vena balik sehingga terjadi hipoksia. Banyak literatur masih memperdebatkan efek dari
pneumotoraks dapat menyebabkan terjadinya kolaps pada sistem kardiovaskular.
Dikatakan adanya pergeseran pada mediastinum menyebabkan juga penekanan pada vena
kava anterior dan superior, disebutkan juga hipoksia juga menjadi dasar penyebabnya,
hipoksia yang memburuk menyebabkan terjadinya resitensi terhadap vaskular dari paruparu yang diakibatkan oleh vasokonstriksi. Jika gejala hipoksia tidak ditangani
secepatnya, hipoksia ini akan mengarah pada keadaan asidosis, kemudian disusul dengan
menurunnya cardiac output sampai akhirnya terjadi keadaan henti jantung.
6. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothoraks)
Keadaan pneumotoraks terbuka ini tersering disebabkan oleh adanya penetrasi langsung
dari benda tajam pada dinding dada penderita sehingga meninmbulkan luka atau defek
pada dinding dada. Dengan adanya defek tersebut yang merobek pleura parietal, sehingga
9

udara dapat masuk kedalam rongga pleura. Terjadinya hubungan antara udara pada
rongga pleura dan udara dilingkungan luar, sehingga menyebabkan samanya tekanan
pada rongga pleura dengan udara di diatmosper. Jika ini didiamkan akan sangat
membahayakan pada penderita. Dikatakan pada beberapa literatur jika sebuah defek atau
perlukaan pada dinding dada lebih besar 2/3 dari diameter trakea ini akan menyebabkan
udara akan masuk melalui perlukaan ini, disebabkan tekana yang lebih kecil dari trakea.
Akibat masuknya udara lingkungan luar kedalam rongga pleura ini, berlangsung lama
kolaps paru tak terhindarkan, dan berlanjut gangguan ventilasi dan perfusi oksigen
kejaringan berkurang sehingga menyebabkan sianosis sampai distress respirasi.
( Dorland,2002)

E. Etiologi
Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negative daripada tekanan intrabronkhial,
sehingga paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara dari luar yang
tekanannya (0) akan masuk ke bronchus hingga sampai ke alveoli. Saat ekspirasi, dinding
dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi dari tekanan
dialviolus ataupun tekanan dibronkhus, sehingga udara ditekan keluar melalui bronchus.
Tekanan intrabronkhial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan
intrabronkhial akan lebih meningkat lagi pada waktu batuk, bersin, atau mengejan,
karena pada keadaan ini glottis tertutup Apabila dibagian perifer dari bronchus atau
alveolus ada bagian yang lemah, ronkhus atau alveolus itu akan pecah atau robek.
Pneumothoraks terjadikarena adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara
melalui robekan ataupun pecahan pleura. Robekan ini berhubungn dengan bronchus.
Pelebaran alveoli dan pecahnya septa-septa alveoli kemudian membentuk suatu bula yang
disebut granulomatous fibrosis. Granulomatous fibrosis adalah salah satu penyebab
tersering terjadinya pneumothoraks, karena bula tersebut berhubungan dengan adanya
obstruksi empiema.(Arif Muttaqin, 2008)
pneumothoraks
10

Tanda dan Gejala

Intervensi

Tertutup

Pneumothoraks yang kecil atau terjadi Observasi rawat jalan


lambat tidak menimbulkan gejala
Pneumothoraks yang luas dan cepat Kolaborasi dengan tim medis :
menimbulkan :

Pemberian oksigen

Tindakan

Nyeri tajam saat ekspirasi

Peningkatan frekuensi napas.

dengan aspirasi udara dari

Kecemasan meningkat

rongga pleura.

Produksi keringat berlebihan

Penurunan tekana darah

Takikardi.

Inspeksi dan palpasi:penurunan


sampai

hilangnya

kontraventil

Pemasangan

sistem

drainase (WSD)

pergerakan

dada pada sisi yang sakit.

Perkusi: hiperresionan pada sisi


sakit.

Auskultasi: Penurunan sampai


hilangnya suara napas pada sisi
yang sakit

Spontan

Apabila penatalaksanaan dengan


Napas pendek dan timbul secara tiba- pemasangan
WSD
gagal,
tiba tanpa ada trauma dari luar paru.
dipertimbangkan untuk dilakukan
reseksi paru.

Tension

Inspeksi dan sesak napas berat,


penurunan

sampai

hilngnya

pergerakan dada pada sisi yang


sakit.

11

Palpasi,pendorongan

trachea

Tindakan kontraventil.

Penutupan

luka

terbuka.

Pemasangan WSD.

yang

dari garis tengah menjauhi sisi


yang sakit dan distensi vena
jugularis.

Perkusi: hiperresonan padasisi


sakit.

Auskultasi: penurunan sampai


hilangnya suara napas pada sisi

Terbuka

yang sakit.

Inspeksi

sesak

napas

berat,

Tindakan Kontraventil .

Penutupan
terbuka.

terlihat adanya luka terbuka dan


suara mengisap ditempat luka

luka

Pemasangan WSD.

pada saat ekspirasi.

Palpasi, pendorongan trakhea


dari garis tengah menjauhi sisi
yang sakit.

Perkusi, hiperresonan pada sisi


sakit.

Auskultasi, penurunan sampai


hilang suara napas pada sisi
yang sakit.

F. Asuhan Keperawatan Pneumothoraks


Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses trapeutik yang melibatkan
hubungan kerjasama dengan klien,keluarga atau masyarakat untukmencapai tingkat
kesehatan yang optimal (Canpernito, 2000:2).Perawat memerlukan metode ilmiah dalam
12

yang

melakukan proses treapeutik tersebut yaitu proses keperawatan. Proses keperawatan


digunakan untuk membantu perawat dalam melakukan praktek keperawatan secara
sistematis dalam mengatasi masalah keperawatan yang ada, dimana keempat komponen
saling mempengaruhi satu sama lain yaitu: Pengkajian, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi yang membentuk suatu mata rantai (Budianna Keliat, 1994 : 2)

1.
a.

Pengkajian
Anamnesis
Identitas klien yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat
rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai , status pendidikan,
dan pekerjaan klien atau asuransi kesehatan.
1. Riwayat penyakit saat ini
Keluhan sesak napas sering kali dating mendadak dan semakin lama semakin berat. Nyeri
dada dirasakan pada sis yang sakit, rasa berat, tertekan, dan tersas lebih nyeri pada gerakan
pernapasan. Selanjutnya dikaji apakah ada riwayat trauma yang mengenai rongga dada
seperti peluru yang menembus dada dan paru, ledakan yang menyebabkan peningkatan
tekanan udara dan terjadi tekanan didada yang mendadak menyebabkan tekanan dalam
paru meningkat.
2. Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit seperti TB paru dimana sering
terjadi pada pneumothoraks spontan.
3. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang
mungkin menyebabkan pneumothoraks seperti kanker paru, asa, TB paru dan lain-lain.
13

4. Pengkajian psikososial
Pengkajian psikososial meliputi perasaan klien terhadap penyakit, bagaimana cara
mengatasinya,serta bagaimana prilaku klien pada tindakan yang dilakukan terhadap
dirinya.
b. Pemeriksaan Fisik
1. B1 (Breathing)
a. Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu
pernapasan . Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris (perherakan dada
tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris (cembung pada
sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum purulen. Trakhea
dan jantung terdorong kesisi yang sehat.
b. Palpasi
Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit. Di sampingitu, pada palpasi juga
ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit . Pada sisi
yang sakit ruang antar iga bias jadi normal atau melebar.
c. Perkusi
Suara ketok pada sisi sakit, hiporsonor sampai timpani dan tidak bergetar. Batas
jantung terdorong kearah thoraks yang sehat, apabila tekanan intrapleura tinggi.
d. Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit. Pada sisi yang sakit.
Pada posisi duduk , semakin keatas letak cairan maka akan semakin tipis , sehingga
suara napas terdengar amforis, bila ada fistel bronkhopleura yang cukup besar pada
pneumothoraks terbuka.
14

2. B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskular yang
meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan pengisian kapiler
darah (capillary refill time-CRT).
3. B3 (Brain)
Pada inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Selain itu , diperlukan juga pemeriksaan
GCS. Apakah compos mentis, somnolen, atau koma.
4. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan . Oleh karena itu,
perawat perlu memonitor adanya oiguria. Oliguria merupakan tanda awal dari syok.
5. B5 (Bowel)
Akibat sesak napas, klien biasanya mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu
makan, dan penurunan berat badan .
6. B6 (Bone)
Pada traumadirusuk dada, sering didapatkan adanya kerusakan otot dan jaringan lunak
dada sehingga meningkatkan risiko infeksi Klien sering dijumpai mengalami gangguan
dalam memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-hari disebabkan adanya sesak napas,
kelemahan, dan keletihan fisik secara umum.

Area
Tekanan intrapleural inspirasi
Tekanan intrapleural ekspirasi
Tekanan intrabronkhial inspirasi
Tekanan Intrabronkhial ekspirasi
Tekanan Intrabronkhial saat bicara
Tekanan Intrabronkhial saat batuk
15

Tekanan
11
-12 cm H2O
4
-9 cm H2O
1,5
-7 cm H2O
1,5
-4 cm H2O
+30 cm H2O
+90 cm H2O

c.

Aktifitas / Istirahat
Gejala

d.

: Dispnea dengan aktivitas maupun istirahat.

Sirkulasi
Tanda

: Takikardi
Frekuensi tidak teratur / dtsritmia
Nadi apikal ( PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal (dengan
tegangan pneumotorak).
Tanda Homman (bunyi renyah sehubungan dengan denyutan jantung ,
menunjukan udarra dalam mediastinum).
TD: Hipertensi/Hipotensi

e.

Integritas ego
Tanda

f.

: Ketakutan, gelisah

Makanan / Cairan
Tanda

g.

:Adanya pemasanga IV vena sentral /infuse tekanan

Nyeri/Kenyamanan
Gejala

: Nyeri dada unilateral, meningkat karna pernapasan, batuk


Timbul tiba-tiba gejala sementara batuk atau regangan (pneumotorak
spontan).

16

Tajam dan nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam,


kemungkinanmenyebar ke leher, bahu, abdomen(effuse pleura)
Tanda

: Berhati-hati pada ara yang sakit


Perilaku distraksi
Mengkerutkan kening

h.

Pernafasan
Gejala

: Kesulitan bernafas, lapatr napas


Batuk (mungkin gejala yang adda)
Riwayat bedah dada/tarauma: penyakit paru kronis, inflamasi/infeksi
paru(empisema/effuse),

penyakit

interstisial

menyebar(sarkoidosis),

keganasan( mis. Obstruksi tumor)


Pneumothoraks spontan sebelumnya : ruptur empisemtous bula spontan,
bleb subpleural(PPOM)
Tanda

: Pernapasan : Peningkatan frekuensi/ takipnea


Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada,
leher: rekraksi interkostal, ekspirasi abdominal kua
Bunyi napas menurun atau tak ada
Fremtus menurun (sisi yang terlibat)
Perkusi dada : Hiperresonan di atas area dada terisi udara (pnumothoraks),
bunyi pekak diatas area dada yang terisi cairan(hematoraks)

17

Observasi dan palpasi dada: gerakan dada tidak sama(paradoksis) bila


trauma atau kempes, penurunan pengembanan toraks(area yang sakit)
Kulit: sianisis, berkeringat, kreatipikasi subkutan(udara pada jaringan
dengan palpasi)
Mental : ansietas, gelisah, bingung, pingsan.
Penggunaan vebtilasi mekanik tekanan positif/terapi PEET
i.

Keamanan
Gejala

: Adanya trauma dada


Radiasi / kemoterapi untuk keganasan

j.

Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala

: Riwayat factor resiko keluarga : Tuberkulosis, Kanker.


Adanya bedah intratorakal atau biopsy paru.

k.

Pemeriksaan Diagnostik
Sinar X dada : Menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleura : dapat menunjukan
penyimpangan struktur medias tinal (jantung)
GDA : Variabel tergantung dari drajat fungsi paru yang dipengaruhi , gangguan mekanik
pernapasan dan kemampuan mengkompensasi.
Torasintesis : Menyatakan darah atau cairan serosanguinosa (Hemotorak).
Hb: mungkin menurun menunjukan kehilangan darah. (Doenges, 2000)

2.

Diagnosa Keperawatan
18

a. Ketidk efektifan pola nafas b.d ekpansi paru yzng tidak maksimal karena akumulasi

udara/cairan
b. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
c. Hambatan mobolitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan kesehatan

untuk ambulasi dengan alat eksternal


d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bollow

drainage
e. Resiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap
trauma
f. Resiko tinggi penghentian nafas berhubungan dengan:
-

Pengumpulan darah dan udara

Peningkatan tekanan intratoraks

Penurunan kapasitas paru

Distress pernafasan

Paru-paru kolaps

g. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan nyeri dada


h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi.

3.

N
o

Rencana Keperawatan

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

19

TUJUAN DAN KRITERIA


HASIL

INTERVENSI

1 KETIDAKEFEKTIFAN POLA
.

NAFAS Definisi : inspirasi dan/

NOC
1.

atau ekspirasi yang tidak memberi


2.

ventilasi
Batas karakteristik :
1.

Perubahan kedalaman

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

pernapasan
Perubahan ekskursi dada
Mengambil posisi tiga titik
Bradipneu
Penurunan tekanan ekspirasi
Penurunan ventilasi semenit
Penurunan kapasitas vital
Dipneu
Peningkatan diameter anterior

10.
11.
12.
13.
14.
15.

posterior
Pernapasan cubing hidung
Ortopneu
Fase ekspirasi memenjang
Pernapasan bibir
Tekipneu
Penggunaan otot akseeorius
untuk bernapas
Faktor yang berhubungan :
1. Ansietas
2. Posisi tubuh
3. Deformitas tulang
4. Deformitas dinding dada
5. Keletihan
6. Hiperventilasi
7. Sindrom hipoventilasi
8. Gangguan
9.
10.
11.
12.
13.
14.

muskuloskeletal
Kerusakan neurilogis
Imaturitas neurologis
Disfungsi neuromuskular
Obesitas
Nyeri
Keletihan otot pernapasan
cedera medula spinalis

3.

Respiratori status :
ventilation
Respiratory status : air
way patency
Vital sign status
Kriteria hasil :
1. Mendemostrasi
batuk efektif dan
suara napas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
( mampu
mengeluarkan
sputum, mampu
bernapas dengan
mudah, tidak ada
pursed lips )
2. Menunjukan jalan
nafas yang paten
( klien tidak merasa
tercekik, irama nafas,
frekuensi pernapasan
dalam rentang
normal, tidak ada
suara nafas
abnormal )
3. Tanda-tanda vital
dalam rentang normal
( tekanan darah, nadi,
pernafasan )

NIC

1.

2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

20.
21.
22.
23.
24.

20

Airway Management
Buka jalan nafas , gunakan
teknik chin lift atau jaw
thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya
pemesangan alat jalan nafas
buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada
jika perlu
Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
Auskultasi suara nafas,cata
adanya suara tambahan
Lakukan suctio pada mayo
Berikan bronkodilator bila
perlu
Berikan pelembab udara
kassa basah NaCL lembab
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan
Monitor respirasi dan status
O2 Oxygen therapy
Bersihkan mulut,hidung dan
secret trakea
Pertahankan jalan nafas
yang paten
Atur peralatan oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Onservasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi
vital sign monitoring
Monitor TD ,nadi,suhu,dan
RR
Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
Monitor VS saat pasien
berbaring,duduk atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
Monitor TD
,nadi,RR,sebelum,selama,da
n setelah aktivitas

25. Monitor kualitas dari nadi


26. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
27. Monitor suara paru
28. Monitor pola pernapasan
abnormal
29. Monitor suhu,warna,dan
kelembaban kulit
30. Monitor sianosis perifer
31. Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
meleabar,bradikardi,pening
katan sistolik)
32. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
NYERI AKUT

2
.

NOC

Definisi : pengalaman sensori dan


emosional

yang

menyenangkan

yang

tidak

1.
2.
3.

Pain level,
Pain control,
Comport level

muncul

akibat kerusakan jaringan yang


aktual

atau

potensial

atau

digambarkan dalam hal kerusakan


sedemikian rupa ( international
Association for the of pain )
awitan yang tiba-tiba atau lambat
dari intensitas ringan hingga berat
dengan

akhir

yang

dapat

diantisipasi atau diprediksi dan


berlangsung<6 bulan.
Batas karakteristik:
1.
2.
3.

Perubahan selera makan


Perubahan tekanan darah
Perubahan frekwensi

4.

jantung
Perubahan frekwensi

5.
6.
7.

pernapasan]
Laporan isyarat
Diaforesis
Perilaku distraksi ( mis,
berjalan mondar-mandir
mencari orang lain dan

21

Kriteria hasil :
1. Mampu mengontrol
nyeri ( tahu penyebab
nyeri,
mampu
manggunakan tehnik
nonfarmakologi
untuk
mengurangi
nyeri,
mencarai
bantuan )
2. Melaporkan bahwa
nyeri
berkurang
dengan menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu
mengenali
nyeri
(
skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri )
4. Menyatakan
rasa
nyaman setalah nyeri
berkurang

NIC
Pain management
Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif
termasuk lokasi,
karakteristik,durasi
frekuensi, kualitas dan
faktorpresipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal
dari ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi
terapeutik untuk
mengetahui pengalaman
nyeri pasien
4. Kaji kultur yang
mempengaruhi respo nyeri
5. Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
6. Evaluasi bersama pasien
dan tim keshatan lain
tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
7. Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari da
menemukan dukungan
8. Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
9. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
10. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
1.

atau aktivitas lain,


8.

aktivitas yang berulang )


Mengekpresikan perilaku
( gelisah, merengek,

9.

menangis )
Masker wajah ( mis, mata
kurang bercahaya,
tampak kacau, gerakan
mata berpencar atau tetap
pada satu fokus

meringis )
10. Sikap melindungi area
nyeri
11. Fokus menyempit ( mis,
gangguan persepsi nyeri,

11.

12.
13.
14.
15.
16.

17.

( farmakologi, non
farmakologi dan
interpesonal )
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

hambatan proses berpikir,


penurunan interaksi
dengan organ dan
lingkungan )
12. Indikasi kasi nyeri yang
dapat diamati
13. Perubahan posisi untuk
perubahan nyeri
14. Sikap tubuh melindungi
15. Dilatasi pupil
16. Melaporkan nyeri secara
verbal
17. Gangguan tidur
Faktor yang
berhubungan :
1. Agen cedera ( mis,
biologis, zat kimia,
fisik, psikologis )

22

Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan derajar nyeri
sebelum pemberian
obat
2. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosisi,dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesikketika
pemberian lebih dari
satu
5. Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian,dan dosisi
optimal
6. Pilih rute pemberian
secara IV, IM utuk
mengobati nyeri secara
teratur
7. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
8. Berikan anlgesiktepat

9.

3 Hambatan mobilitas fisik


.

Definisi

NOC

keterbatasan

pada

pergerakan fisik tubuh atau satu


atau

lebih

ekstermitas

secara

mndiri dan terarah.


Batas kerakteristik :
1.
2.

Penurunan waktu reaksi


Kesulitan membolak

3.

-balik posisi
Melakukan aktivitas lain
sebagai penganti
pergerakan (mis,
meningkatkan perhatian
pada aktivitas orang lain,
mengendalikan perilaku,
fokus pada ketundayaan /

4.

aktivitas sebelum sakit )


Dispnea setelah

5.
6.
7.

beraktivitas
Perubahan cara berjalan
Gerakan bergetar
Keterbatas kemampuan
melakukan keterampilan

8.

motorik halus
Keterbatasan kemampuan
melakukan keterampilan

9.

motorik kasar
Keterbatasan rentang

10.
11.
12.
13.

pergerakan sendi
Tremor akibat pergerakan
Ketidakstabilan postur
Pergerakan lambat
Pergerakan tidak
terkoordinasi

23

1.
2.
3.
4.

Joint movement;active
Mobility level
Self care:ADLs
Transfer performance

Kriteria hasil
1. Klien meningkat dalam
aktivitas fisik
2. Mengerti
tujuan
dari
peningkatan mobilitas
3. Memvarberbalisasikan
perasaan
dalam
meningkatkan
kekuatan
dan kemampuan berpindah
4. Memperagakan
penggunaan alat bantu
untuk mobilisasi(walker)

waktu terutama saat


nyerihebat
Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala
NIC

1.

2.

3.

4.

5.
6.

7.

8.
9.

Exercise
thetrapy : ambulation
Monitoring vital sign
sebelum/ sesudah latihan
dan lihat respon pasien saat
latihan
Konsultasi dengan terapi
fisik tentang rencana
ambulasi sesuai dengan
kebutuhan
Bantu klien untuk
menggunakan tongkat saat
berjalan dan cegah terhadap
cedera
Ajarkan pasien atau tenaga
kesehatan lain tentang
teknik ambulasi
Kaji kemampuan pasien
dalam mobilisasi
Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
Dampingi dan bantu pasien
saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan ADLs ps.
Berikan alat bantu jika klien
memerlukan
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan

Faktor

yang

berhubungan:
1.intoleransi aktivitas
2.perubahan

metabolisme

selular
3.ansietas
4.indeks masa tubuh diatas
perentil ke-75 sesuai usia
5.gangguan koknitif
6.kostraktur
7.kepercayaan usia tentang
aktivitas sesuai usia.
8.fisik tidak bugar
9.penurunan ketahan tubuh
10.penurunan kandafi otot
11.penurunan massa otot
12.malnutrisi
13.gangguan muskuloskeletal
14.gangguan
neuromskular,nyeri
15.agens obat
16.penurunan kekutan otot

24

17.kurang

pengetahuan

tentang aktivitas fisik


18.keadaan mood defresif
19.keterlambatan
perkembangan
20.ketidaknyamanan
21.disuse,kaku sendi
22.kurang
lingkungan

dukungan
(mis,fisik

atau

sosial)
23.keterbatasan

ketahanan

kardiofaskuler
24.kerusakan

integritas

struktur tulang
25.program

pembatasan

gerak
26.keengganan

memulai

pergerakan
27.gayahidup monoton
28.gangguan
perseptual.

25

sensori

KERUSAKAN

4
.

NOC

NIC

INTEGRITAS KULIT
Definisi : perubahan / gangguan
epidermis dan / atau dermis
Batasan karakteristik :
1.

Kerusakan lapisan kulit

2.

( dermis )
Gangguan permukaan

kulit ( epidermis )
3. Invasi struktur tubuh
Faktor yangberhubungan :
1. Ekternal :
a. Zat kimia,
b.

radiasi
Usia yang

c.
d.

ektrim
Kelembapan
Hipertemia,

e.

hipotermia
Faktor mekanik
( mis, gaya
gunting[shearing

2.

forces]
f. Medikasi
g. Lembab
h. Imibolitas fisik
Internal :
a. Perubahan status
b.

cairan
Perubahan

c.

pigmentasi
Perubahan

d.

turgor
Faktor

e.

perkembangan
Kondisi ketidak
seimbangan
nutrisi ( mis,
obesitas,

f.

emasiasi )
Penurunan
imunologi

26

Pressure management
1.
2.

Tissue integrity : skin and


mucous membranes
Hemodyalis akses
Kriteria hasil :
1. Integritas kulit yang
baik bisa
dipertahankan
( sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi,
pigmentasi )
2. Tidak ada luka / lesi
pada kulit
3. Perfusi jaringan baik
4. Menunujukan
pemahaman dalam
proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya sedera
berulang
5. Mampu melindungi
kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

1.

2.
3.
4.

5.
6.

7.
8.
9.

1.

2.
3.
4.

5.
6.

Anjurkan pasien untuk


menggunakan pakian yang
longgar
Hindari kerutan pada tempat
tidur
Jaga kebersihan kulit agar
tetap bersih dan kering
Mobilisasi pasien ( ubah
posisi pasien ) setiap dua
jam sekali
Monitor kulit akan adanya
kemerahan
Oleskan lotion atau minyak/
baby iol pada daerah yang
tertekan
Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien
Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat

Insision site care


Membersihkan, memantau
dan meningkatkan proses
penyenbuhan pada luka
yang ditutp dengan jahitan,
klip atau straples
Monitor proses kesembuhan
area insisi
Monitor tanda dan gejala
infeksi pada area insisi
Bersihkan area sekitar
jahitan atau straples,
menggunakan lidi kapas
steril
Gunakan preperat
antiseptic. Sesuai program
Ganti balutan pada interval
waktu yang sesuai atau
biarkan luka tetap terbuka
( tidak dibalut ) sesuai
program

g.

Penurunan

h.

sirkulasi
Kondisi

DialysisAcces
Maintenance

gangguan
metabolik
Gangguan

j.

sensasi
Tonjolan tulang

RESIKO INFEKSI

5
.

i.

NOC

NIC

Definisi :
mengalami peningkatan resiko
terserang organisme patogenik

1.
2.
3.

immune status
knowledge : infection
control
risk control

Faktor-faktor resiko :
1.

2.

3.

Pengetahuan yang tidak


cukup untuk menghindari
pemanjanan patogen
Pertahankan tubuh primer
yang tidak adekuat
a. Gangguan peritalis
b. Kerusakan integritas
kulit ( pemasangan
kateter intravena,
proses invasif )
c. Perubahan sekresi
pH
d. Penurunan kerja
siliaris
e. Pecah ketuban dini
f. Pecah ketuban lama
g. Merokok
h. Stasis cairan tubuh
i. Trauma jaringan
( mis, trauma
destruktsi jaringan )
Ketidak adekuatan
pertahanan sekunder
a. Penurunan
hemoglobin
b. Imunosupresin( mis,
imunitas didapat
tidak adekuat, agen
farmaseutikal
termasuk
imonosupresan,
steroid, antibodi

27

kriteria hasil :
1. klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
2. mendeskripsikan proses
penularan penyakit, faktor
yang mempengaruhi
penularan sertan
penatalaksanaannya
3. menunjukan kemampuan
untuk mencegah
timbulnya infeksi
4. jumlah leukosit dalam
batas normal
5. menunjukan perilaku
hidup sehat

1.
2.
3.
4.

5.
6.

7.
8.

9.

10.

11.

12.
13.
14.

Infection control ( kontrol


infeksi )
bersihkan lingkungan
setelah dipakai pasein lain
pertahankan teknik isolasi
batasi pengunjung bila perlu
intruksikan pada
pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan
dan setelah berkunjung
meninggalkan pasien
gunakan sabun antimikrobia
untuk cuci tangan
cuci tngan setiap sebelum
dan sesudah tindakan
keperawatan
gunakan baju, sarungtangan
sebagai alat pelindug
pertahankan lingkungan
aseptik selama
pemesangasan alat
ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing tingkatkan
intake nutrisi
berikan terapi antibiotik bila
perlu infection protection
( proteksi terhadap infeksi )
monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
monitor hitung
granulosit,WBC
monitor kerentanan
terhadap infeksi

4.
5.

6.
7.

monoklonal,
imonomudulator )
c. Supresi respon
inflamasi
Vaksinasi tidak adekuat
Pemajanan terhadap
patogen lingkungan
maningkat
a. Wabah
Prosedur invasif
malnutrisi

15. batasi pengunjung


16. sering pengunjung terhadap
penyakit menular
17. pertahankan teknik apsesis
pada pasien yang beresiko
18. pertahankan teknik isolasi
k/p
19. berikan perawatan kulit
pada areaepidema
20. infeksi kulit dan membran
mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
21. infeksikondisi luka / insisi
bedah
22. dorong masukan nutrisi
yang cukup
23. dorong masukan cairan
24. dorong istirahat
25. intruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
26. ajarkan pasein dan keluarga
tanda dan gejala ingeksi
27. ajarkan cara menghindari
infeksi
28. laporkan kecurigaan infeksi
29. laporkan kultur positif

f. Resiko tinggi penghentian nafas berhubungan dengan Pengumpulan darah dan udara,
Peningkatan tekanan intratoraks, Penurunan kapasitas paru, Distress pernafasan, Paru-paru
kolaps.
Tujuan : Resiko tinggi penghentian nafas tidak terjadi dengan tidak terdapatnya
tanda-tanda penghentian nafas.
intervensi

28

rasional

Kaji fungsi unit drainase dada

informasi tentang bagaimana sistem bekerja


memberikan

keyakinan,

menurunkan

ansietas klien.
Pasangkan kateter torak ke dinding dada
dan berikan panjang selang ekstra sebelum
memindahkan

atau

mengubah

posisi

pasien.

mencegah terlepasnya kateter dada atau


selang

terlipat

dan

menurunkan

nyeri/ketidaknyamanan sehubungan dengan


penarikan atau menggerakkan selang.

Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat


kondisi kulit, adanya/karakteristik drainase

memberikan

pengenalan

dini

dan

mengobati adanya erosi/infeksi kulit.

dari sekitar kateter. Ganti/pasang ulang


terasa penutup steril sesuai kebutuhan.
Identifikasi perubahan/situasi yang harus intervensi tepat waktu dapat mencegah
dilaporkan

pada

perawat.

Contoh komplikasi serius.

perubahan bunyi gelembung, lepas udara


tiba-tiba dan nyeri dada, lepaskan alat.
g. . Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan nyeri dada
Tujuan :Gangguan nyaman nyeri teratasi
Intervensi
Rasional
Tentukan karakteristik nyeri, misalnya nyeri trauma ada dalam beberapa derajat.
tajam, konstan, ditusuk
perubahan frekuensi jantung atau TD
Pantau tanda vital

menunjukkan bahwa pasien mengalami


nyeri.
dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan

Berikan

tindakan

relaksasi, latihan nafas


29

nyaman

misalnya:

memperbesar efek terapi analgesik.

Berikan analgesik dan antitusif sesuai digunakan untuk menekan batuk non
indikasi

produktif, meningkatkan rasa nyaman.

h. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan pengobatan


berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi.
Hasil yang diharapkan pasien akan : Menyatakan pemahaman penyebab masalah, dapat
mengidentifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi meedik, mengikuti
program pengobatan dan menunjukan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah
terulangnya masalah.
Intervensi
Kaji patologi masalah individu

Informasi

Rasional
menurunkan

takut

karena

ketidaktahuan. Memberikan pengetahuan


dasar untuk pemahaman kondisi dinamik
dan pentingnya intervensi treapeutik.
Identifikasi kemungkinan kambuh atau

Penyakit paru yang ada seperti PPOM berat


dan keganasan dapat meningkatkan insiden

komplikasi jangka panjang.

kambuh. Selain itu pasien sehat yang


menderita pneumotorak spontan. Insiden
kambuh 10% - 50%. Orang yang memiliki
episode spontan kedua berisiko tinggi untuk
insiden ketiga (60%).
Kaji

ulang

tanda

atau

gejala

yang

memerlukan evaluasi medic cepat, contoh


nyeri dada tiba-tiba, dispnea, distress

Berulangnya

pneumotorak

memerlukan

intervensi medic untuk mencegah atau


menurunkan potensial komplikasi.

pernapasan lanjut.
Kaji ulang praktik kesehatan yang baik,
contoh nutrisi baik, istirahat, latihan

Mempertahankan

kesehatan

meningkatkan penyembuhan dan dapat


mencegah kekambuhan.

30

umum

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Dalam keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa
mengembang terhadap rongga thoraks. Diagnosis pneumothoraks tergantung kepada garis
yang dibentuk pleura pada tepi paru-paru yang memisahkan dengan dinding dada,
mediastinum atau diafragma oleh udara, dan juga tidak adanya bayangan diluar garis ini.
Pneumotoraks dapat terjadi karena trauma tajam dan trauma tumpul. Trauma tajam
biasanya karena luka tusuk. Trauma tumpul yang menyebabkan pneumotoraks biasanya
dengan energi tinggi dan disertai fraktur iga, yang menyebabkan robeknya pleura viseral.
Tension pneumotoraks adalah suatu pneumotoraks yang progresif dan cepat sehingga
membahayakan jiwa penderita. Perlu tindakan segera untuk membebaskan paru dan
mediastinum dari desakan.

b. Saran
1. Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca dapat mengambil inti sarinya.
2. Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca bisa mengaplikasikan ilmunya
pada kehidupan sehari-hari.
31

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn, dkk, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa
dan Ni Made S, EGC, Jakarta.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan pernafasan. Jakarta:
Salemba Medika
Moorhead, sue.2004.Nursing Outcomes Classfication (NOC). United States of American :
Mosby elesevie.

32

Anda mungkin juga menyukai