Anda di halaman 1dari 54

Manajemen Biaya by Wahyudiono

BIAYA RELEVAN UNTUK


PENGAMBILAN

Informasi akuntansi diferensial merupakan informasi akuntansi yang terkait dengan


pemilihan alternatif. Informasi akuntansi ini merupakan taksiran atas perbedaan aktiva,
pendapatan dan biaya dalam alternatif tindakan tertentu.
Ciri Informasi Akuntansi Diferensial:
1. Informasi masa yang akan datang
2. Adanya unsur yang berbeda diantara alternatif yang tersedia
3. Mengambil keputusan mengenai alternatif tindakan terbaik
Biaya Diferensial:
Pemahaman biaya diferensial seringkali rancu dengan konsep biaya yang dikembangkan
dalam akuntansi biaya seperti: relevant cost, future cost, out of pocket cost, sunk cost,
opportunity cost, incremental cost.
1.Biaya diferensial versus Biaya relevan
Biaya relevan merupakan biaya yang akan terjadi karena sebuah keputusan, sedangkan biaya
diferensial menyangkut informasi yang akan datang dan berbeda diantara alternatif yang
akan dipilih dan bersifat unik.
2.Biaya diferensial versus Biaya masa akan datang
Biaya masa akan datang merupakan biaya yang diharapkan akan terjadi dimasa mendatang
dan jumlahnya harus diestimasikan, pertimbangannya:
Biaya yang dapat dikendalikan oleh manajemen
Biaya ini harus direncanakan (budget cost)
Biaya ini untuk mendukung aktivitas tertentu/diharapkan
3.Biaya diferensial versus Biaya variabel
Biaya variabel merupakan biaya yang berubah secara proporsional dengan tingkat kegiatan,
sedangkan biaya diferensial selalu terkait dengan alternatif yang sedang dipertimbangkan
untuk dipilih.
4.Biaya diferensial versus Biaya tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tidak berubah dengan adanya perubahan
volume aktivitas. Dalam pengambilan keputusan jangka pendek biaya tetap mungkin
merupakan biaya diferensial atau mungkin tidak, hal ini tergantung apakah biaya tersebut
dapat ditelusuri ke obyeknya.
5.Biaya diferensial versus Biaya depresiasi
Depresiasi merupakan alokasi biaya secara periodik atas kos aktiva tetap yang diperoleh
diwaktu yang lampau. Depresiasi muncul karena keputusan investasi modal jangka panjang,
karena itu dalam pengambilan keputusan jangka pendek biaya depresiasi dapat diabaikan.
1

Manajemen Biaya by Wahyudiono

6.Biaya diferensial versus Biaya tambahan


Biaya tambahan suatu alternatif adalah tambahan biaya yang akan terjadi jika suatu
alternatif yang berkaitan dengan perubahan volume aktivitas dipilih.
7.Biaya diferensial versus Biaya kesempatan
Biaya kesempatan adalah pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai
akibat dipilihnya alternatif tertentu.
8.Biaya diferensial versus Biaya tunai
Out of pocket cost adalah jenis biaya yang memerlukan pengeluaran kas saat sekarang atau
dalam jangka pendek sebagai akibat keputusan manajemen.
Kesimpulan:
Biaya diferensial merupakan biaya masa yang akan datang
Dipengaruhi oleh pengambilan suatu keputusan manajemen
Selalu relevan dengan alternatif pilihan keputusan
Memberi manfaat lebih baik
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN JANGKA PENDEK
1.
Komposisi Produk
2.
Membeli atau membuat sendiri suatu produk
3.
Menjual atau Memproses Lebih Lanjut suatu produk

4.
5.
6.
1.

Menghentikan atau Melanjutkan produk/aktivitas tertentu


Menerima atau menolak pesanan khusus
Perencanaan Laba
Komposisi Produk
Perbandingan produk yang sedemikian rupa, untuk diproduksi /dijual, yang mana komposisi
tersebut memberikan total laba yang paling besar sesuai dengan informasi yang tersedia.
1)
ALTERNATIF DUA PRODUK
Keterangan

Produk A

Produk B

Harga Jual Produk


Biaya Variabel

Rp 5.000
Rp 2.500

Rp 4.000
Rp 3.000

Contribution Margin/unit

Rp 2.500

Rp 1.000

Biaya tetap sebesar Rp 250.000.000


Jika informasi yang tersedia hanya menyangkut kontribution margin dari kedua
produk, maka alternatif yang dipilih adalah produk A, karena produk tersebut
memiliki kemampuan untuk menutup biaya tetap sebesar Rp 2.500/unit,
sedangkan produk B hanya sebesar Rp 1.000/unit.
Kesimpulan:
semakin banyak produk A terjual, semakin besar keuntungan yang dapat
disumbangkan pada perusahaan.
2

Manajemen Biaya by Wahyudiono

2)

KAPASITAS MESIN & WAKTU PEMBUATAN PRODUK

Kapasitas Mesin
Produk A membutuhkan waktu
Produk B membutuhkan waktu
Keterangan

: 400.000 jam
: 20 jam/unit
:
4 jam/unit
Produk A

Produk B

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit

20.000
Rp 2.500

100.000
Rp 1.000

Total Contribution Margin

Rp 50.000.000

Rp 100.000.000

Kesimpulan: Produk B yang diterima, total kontibusi labanya lebih besar


3)

DAYA SERAP PASAR

Daya Serap Pasar untuk Produk A : tak terbatas


Daya Serap Pasar untuk Produk B : 80.000 unit
Keterangan

Produk A

Produk B

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit

4.000
Rp 2.500

80.000
Rp 1.000

Total Contribution Margin

10.000.000

80.000.000

Komposisi Produk:
Produk A : 2.000 unit
Produk B : 80.000 unit

Keterangan

Dengan komposisi seperti ini total laba yang


di peroleh sebesar Rp 90.000.000

Produk A

Produk B

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit

6.000
Rp 2.500

70.000
Rp 1.000

Total Contribution Margin

15.000.000

70.000.000

Komposisi Produk:
Produk A : 6.000 unit
Produk B : 70.000 unit

Dengan komposisi seperti ini total laba yang


di peroleh sebesar Rp 85.000.000

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Keterangan

Produk A

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit

8.000
Rp 2.500

60.000
Rp 1.000

Total Contribution Margin

20.000.000

60.000.000

Komposisi Produk:
Produk A : 8.000 unit
Produk B : 60.000 unit

Dengan komposisi seperti ini total laba yang


di peroleh sebesar Rp 80.000.000

Keterangan

2.

Produk B

Produk A

Produk B

Unit yang dapat diproduksi


Contribution margin/unit

10.000
Rp 2.500

50.000
Rp 1.000

Total Contribution Margin

25.000.000

50.000.000

Komposisi Produk:
Produk A : 10.000 unit
Produk B : 50.000 unit

Dengan komposisi seperti ini total laba yang


di peroleh sebesar Rp 75.000.000

Membeli atau Membuat Sendiri suatu Produk


Proses pengambilan keputusan mengenai alternatif membeli atau membuat sendiri suatu
produk, dengan pertimbangan:
Terdapat kapasitas yang masih nganggur
Memiliki kemampuan untuk membuat produk sendiri
Biaya tetap masih belum terserap secara penuh
Ada tawaran produk yang sama di pasar
Contoh:
Perusahaan ingin membuat suku cadang sesuai kebutuhan sebanyak 100.000 unit,
harga yang ditawarkan oleh pasar sebesar Rp 250/unit. Data biaya produksi Sbb:
Keterangan
Komponen Biaya:
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead (tetap) dihindari
Biaya overhead (tetap) bersama
Total Biaya Produksi

Tarif
50
100
30
40
50
270

Total Biaya
5.000.000
10.000.000
3.000.000
4.000.000
5.000.000
27.000.000
4

Manajemen Biaya by Wahyudiono

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan

Tarif

Komponen Biaya:
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead (tetap) dihindari
Total Biaya Produksi
Harga jika membeli produk
Selisih Biaya yang terjadi

Total Biaya

50
100
30
40

5.000.000
10.000.000
3.000.000
4.000.000

220
250
30

22.000.000
25.000.000
3.000.000

Kesimpulan:
Jika membeli produk, maka terdapat biaya overhead tetap bersama yang tidak
dapat dihindarkan, sehingga terdapat selisih biaya sebesar Rp 3.000.000 (100.000
unit x Rp 30) sebagai kerugian (beban lebih tinggi).

Bagaimana jika membuat sendiri produk diperlukan investasi sebesar Rp 25.000.000


dengan taksiran ekonomis 3 tahun serta tingkat pengembalian investasi sebesar 20%
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Penghematan biaya
Discount factor : 20%
Present value

Investasi Fasilitas:
Rp 25.000.000

Tahun 1

Tahun 2

Tahun 3

12.000.000

12.000.000

12.000.000

0,833

0,694

0,579

9.996.000

8.328.000

6.948.000

25.272.000
25.000.000
272.000

Kesimpulan:
Nilai tunai penghematan selama umur ekonomis Rp 25.272.000 lebih besar dibanding
dengan investasinya Rp 25.000.000. Jadi memproduksi sendiri diterima, karean akan
memberi tambahan keuntungan bagi perusahaan melalui penghematan biaya selama
umur proyek tersebut.
5

Manajemen Biaya by Wahyudiono

3.

Menjual atau Memproses lebih lanjut suatu Produk


Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menjual atau memproses lebih lanjut
suatu produk, dengan pertimbangan:

Munculnya pendapatan differensial dan biaya differensial


Memiliki kemampuan untuk memproses lebih lanjut

Ada peluang pasar yang lebih baik atas produk yang dibuat
Contoh: Informasi biaya differensial untuk produk A

Keterangan
Bahan baku
Tenaga kerja (v)
Biaya overhead pabrik (v)
Biaya overhead pabrik (T)
Biaya administrasi & umum (T)
Biaya pemasaran (T)

Tarif
2.000
1.000
1.500
1.300
500
750

Total Biaya
20.000.000
10.000.000
15.000.000
13.000.000
5.000.000
7.500.000

Total Biaya Penuh Produk A

7.050

70.500.000

Data tambahan saat ini:


Unit yang terjual sekarang 10.000 unit, dengan harga Rp 10.000/unit
Total kos yang diperhitungkan Rp 70.500.000
Laba bersih yang diperhitungkan Rp 29.500.000
Diproses menjadi Produk A-1 tidak memerlukan investasi baru, tambahan
biaya Rp 5.000/umit dengan harga jual baru Rp 18.500

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan

Jumlah

Pendapatan Differensial
(Rp 18.500 Rp 10.000) x 10.000 unit

85.000.000

Biaya Differensial
(Rp 5.000 x 10.000 unit)

50.000.000

Laba Differensia ( dari produk A menjadi A-1

35.000.000

Kesimpulan:
6

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Memproses lebih lanjut dari produk A menjadi produk A-1 lebih menguntungkan,
karena mampu menyumbangkan tambahan laba sebesar Rp 35.000.000 yang dipero
leh melalui selisih dari tambahan pendapantan sebesar Rp 85.000.000 dan tambahan
biaya sebesar Rp 50.000.000

Contoh lanjutan:
Untuk memproses lebih lanjut dari produk A menjadi A-1diperlukan tambahan
investasi Rp 100.000.000 dan manfaat ekonomis tiga tahun tingkat return on
invesment 20%.
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Pendapatan Differensial
(Rp 18.500 Rp 10.000) x 10.000 unit
Biaya Differensial
(Rp 5.000 x 10.000 unit)

Jumlah

Laba Differensia ( dari produk A menjadi A-1

35.000.000

85.000.000
50.000.000

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN


Keterangan
Present Value Laba Differensial:
tahun 1 : 0,833 x Rp 35.000.000
tahun 2 : 0,694 x Rp 35.000.000
tahun 3 : 0,579 x Rp 35.000.000
Total nilai tunai laba differensial
Tambahan investasi
Nilai tunai bersih

Jumlah
29.155.000
24.290.000
20.265.000
73.710.000
100.000.000
26.290.000

Kesimpulan:
Memproses lebih lanjut dengan tambahan investasi sebesar Rp 100.000.000 tidak
menguntungkan, lebih baik dijual dalam keadaan saat ini.

4.

Menghentikan atau Melanjutkan Produk Tertentu


Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menghentikan atau melanjutkan produk
atau kegiatan tertentu dapat terjadi, jika perusahaan memiliki lini produk, memiliki divisi
yang berpotensial menyumbangkan kerugian, dengan pertimbangan:
Pendapatan differensial dan biaya differensial yang hilang
Manfaat biaya terhindar yg diperoleh
7

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Jika lini produk harus ditutup, perlu dipertimbangkan berbagai kemungkinan:


Kontribusi pendapatan yang dikorbankan
Manfaat biaya yang dapat dihindarkan
Biaya yang tidak dapat dihindarkan
Total manfaat yang diperoleh
Contoh:
PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-rugi Per Lini Produk
Periode Semester I Tahun 2008
Keterangan

Produk A

Produk B

Produk C

Penjualan
Biaya Variabel

500.000.000
260.000.000

250.000.000
105.000.000

250.000.000
115.000.000

Laba Kontribusi

240.000.000

145.000.000

135.000.000

Biaya tetap terhindarkan


Biaya tetap tak terhindar
Total biaya tetap

120.000.000
30.000.000
150.000.000

80.000.000
30.000.000
110.000.000

110.000.000
30.000.000
140.000.000

90.000.000

35.000.000

- 5.000.000

Laba bersih

Total Laba bersih dari PT. Wiarayuda (A + B + C) adalah Rp 120.000.000

INFORMASI AKUNTANSI UNTUK PRODUK C


Keterangan

Jumlah

Manfaat Biaya:
Biaya variabel
Biaya tetap yang terhindarkan
Total manfaat

115.000.000
110.000.000
225.000.000

Pengorbanan (pendapatan yg hilang)

250.000.000

Manfaat bersih

- 25.000.000

Kesimpulan:
Jika produk C dihentikan, potensi rugi akan bertambah sebesar Rp 25.000.000
karena perusahaan telah kehilangan potensi laba yang disumbangkan oleh produk
C melalui laba kontribusi sebesar Rp 25.000.000.
8

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Alternatif yang disodorkan adalah perlunya mengatur pembebanan biaya tetap ke


masing masing lini produk bukan atas dasar nilai omzet penjualan, tetapi menggu
nakan alokasi atas dasar kemampuan dari masing masing produk yang tercermin
melalui perolehan laba kontribusi yang disumbangkan oleh masing masing lini
produk tersebut, sehingga perhitungan laba-rugi dari semua lini menjadi tidak rugi
dan total laba tetap tidak berubah.

Solusi Alternatif:
PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-rugi Per Lini Produk
Periode Semester I Tahun 2008
Keterangan

Produk A

Produk B

Produk C

Penjualan
Biaya Variabel

500.000.000
260.000.000

250.000.000
105.000.000

250.000.000
115.000.000

Laba Kontribusi

240.000.000

145.000.000

135.000.000

Biaya tetap terhindarkan


Biaya tetap tak terhindar*
Total biaya tetap

120.000.000
41.538.000
161.538.000

80.000.000
25.096.000
105.096.000

110.000.000
23.366.000
133.366.000

78.462.000

39.904.000

1.634.000

Laba bersih

Catatan:
Total Laba bersih tetap sebesar Rp 120.000.000, tidak ada lini produk rugi
Biaya tetap tak terhindar dibebankan atas dasar perbandingan laba kontribusi

5.

Menerima atau Menolak Pesanan Khusus


Proses pengambilan keputusan terhadap alternatif menerima atau menolak pesanan khusus,
atas dasar pertimbangan:
Adanya kapasitas nganggur
Tidak merusak harga pasar
Penggunaan pesanan dapat diawasi
Berfokus pada kegiatan sosial dan keagamaan
Contoh:
PT. Wirayuda memiliki kapasitas produksi sebesar 200.000 unit, kapasitas yang telah
diguna kan baru sebesar 150.000 unit (75%), harga jual produk sebesar Rp 1.250/unit.
Anggaran tahun 2008 untuk 150 unit sebagai berikut:
Biaya Variabel:
9

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Biaya produksi (V)


Biaya komersial (V)

Rp
Rp

400
120

Biaya Tetap:
Biaya overhead (T)
Biaya komersial (T)
Total biaya penuh produk A

Rp 300
Rp 150
Rp 970

Rp
Rp

60.000.000
18.000.000

Rp 45.000.000
Rp 22.500.000
Rp 145.500.000

Jika pesanan khusus sebanyak 30.000 unit dengan harga Rp 750 per unit, apakah di
terima atau ditolak.?
INFORMASI AKUNTANSI UNTUK KEPUTUSAN
Keterangan
Pendapatan Differensial:
30.000 unit x Rp 750
Biaya Differensial:
Biaya produksi (v)
Biaya komersial (v)
Laba Differensial

Jumlah
22.500.000
12.000.000
3.600.000
15.600.000
6.900.000

Kesimpulan:
Pesanan khusus diterima, karena memberi kontribusi margin sebesar Rp 6.900.000
yaitu selisih dari tambahan pendapatan dan tambahan biaya yang muncul karena ke
putusan yang harus diambil

10

Manajemen Biaya by Wahyudiono

PERENCANAAN
Faktor yang Mempengaruhi Laba
1. Biaya (biaya variabel & biaya tetap)
2. Volume produk yang terjual
3. Harga jual produk
PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-Rugi (Proyeksi)
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Jumlah

Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi

500.000.000
300.000.000
200.000.000

100
60
40

Biaya tetap

150.000.000

30

50.000.000

10

Laba bersih

Informasi yang dapat Dikembangkan:

1. Impas (break-even)
2.
3.
4.
5.

Margin of safety
Shut-down point
Degree of operating leverage
Laba kontribusi per unit

1. Impas (break-even)
Pendapatan minimum yang harus dicapai dalam periode tahun anggaran tertentu, agar
perusahaan tidak menderita rugi.
11

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Impas sebesar Rp 375.000 (Rp 150.000.000 : 40%


PT. WIRAYUDA
Laporan Break-even
Tahun Anggaran 2008
Keterangan
Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi
Biaya tetap
Laba bersih

Jumlah
375.000.000
225.000.000
150.000.000
150.000.000
0

%
100
60
40
40
0

2. Margin of Safety
Informasi yang menggambarkan batas maksimum penurunan target penjualan boleh terjadi,
semakin besar margin of safety memberi peluang lebih besar dalam meraih laba.
Margin of safety sebesar 25% (500.000.000 375.000.000)
3. Shut-down Point
Informasi yang menggambarkan usaha perusahaan secara ekonomis sudah tidak pantas
dipertahankan, karena beban tunai yang tidak dapat ditutup dari kegiatan operasinya. Biaya
tetap tunai sebesar Rp 100.000.000
Shut-down point Rp 250.000.000 (100.000.000 : 40%)

PT. WIRAYUDA
Laporan Shut-down Point
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Jumlah

Penjualan
Biaya Variabel
Laba Kontribusi

250.000.000
150.000.000
100.000.000

100
60
40

Biaya tetap tunai

100.000.000

40

Laba bersih

4. Degree of Operating Leverage


Informasi ini menunjukkan prosentase perubahan laba bersih sebagai dampak terjadinya
prosentase perubahan penjualan.
Degree of operating leverage: 4 kali (CM : Laba bersih), artinya setiap kenaikan penjualan
sebesar 1%, maka laba bersih akan naik sebesar 4%
12

Manajemen Biaya by Wahyudiono

5. Laba Kontribusi Per Unit


Informasi ini menunjukkan kelebihan pendapatan diatas biaya variabelnya. Informasi ini
menggambarkan jumlah yg tersedia untuk menutup biaya tetap dan membentuk laba.
Perubaha
n:

Perubahan
:
Perubaha
n Laba

Usulan
Kegiatan
Perubahan
:

Perubahan
: Biaya

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba Per Unit
Tahun Anggaran 2008
Keterangan

Volume Penjualan
Penjualan
Biaya variabel
Laba kontribusi

Total

500

300

200

1.000

700.000
300.000
400.000

800.000
500.000
300.000

1.000.000
600.000
400.000

2.500.000
1.400.000
1.100.000

Biaya tetap

800.000

Laba bersih

300.000

Laba kontribusi/unit

800

1.000

2.000

1.100

Kesimpulan : Produk C berpotensi paling tinggi dalam menyumbangkan laba

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba Per Unit Sumber Daya
Tahun Anggaran 2008
Jenis
Produk
A

Konsumsi Sb.
Daya
5 jam

CM
Per unit
800

CM Per
Jam Mesin
160

Pering kat
1
13

Manajemen Biaya by Wahyudiono

B
C

10 jam
25 jam

1.000
2.000

100
80

2
3

Kesimpulan : Produk A yang berpotensi paling tinggi dalam menyumbang laba

Perhitungan Break-even Pendekatan Persamaan


Laba adalah sama total penjualan minus dengan total biaya (biaya variabel dan biaya tetap),
jika dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

y = cx - bx - a
Keterangan:
y : laba
a : biaya tetap
b : biaya veriaber per unit
c : harga jual per unit
x : jumlah unit yang terjual
Jika dikembangkan persamaan tersebut diatas, dapat digunakan untuk menyederhanakan
perhitungan break-even sebagai berikut:
y = cx - bx a, break-even laba yang di peroleh sebesar 0, maka
persamaan dapat diubah:

a = cx bx
a = x (c - b)

x=

a
(c - b)

Contribution margin = Penjualan - Biaya variabel


= cx - bx

14

Manajemen Biaya by Wahyudiono

CMR =

Laba kontribusi
Penjualan

cx - bx
cx

CMR = 1 (bx/cx)

Formula Break-even
1. Dalam Unit

Break-even =

Biaya tetap
Harga jual Biaya variabel

2. Dalam Rupiah

Fixed cost
Break-even =

Contribution margin ratio

PT. WIRAYUDA
Laporan Laba-Rugi (Proyeksi)
Tahun Anggaran 2008
Keterangan
Penjualan

Unit

Tarif

1.000

172.000

Rupiah
-

Total
172.000.000

%
100

15

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Biaya variabel:
Sediaan awal
Biaya produksi (v)
Brg siap dijual
Sedian akhir
Biaya produksi (v)
Non produksi (v)
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya variabel

100
1.100
1.200
200
1.000

25.000
25.000
25.000
25.000
25.000

2.500.000
27.500.000
30.000.000
5.000.000
25.000.000

1.000
1.000
-

8.000
10.000
-

8.000.000
10.000.000
-

Laba kontribusi

Biaya tetap:
Overhead pabrik
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya tetap
Laba bersih

Biaya variabel standar per unit:


Bahan baku
Rp 10.000
Tenaga kerja
Rp 7.000
Biaya overhead
Rp 8.000
Total biaya variabel Rp 25.000
Biaya tetap:
Bahan overhead
Biaya pemasaran
Biaya adm/umum
Total biaya variabel

Rp
Rp
Rp
Rp

37.400.000
15.000.000
25.000.000
77.400.000

37.400.000
15.000.000
25.000.000
-

43.000.000

25

129.000.000

75

77.400.000
51.600.000

45
30

Biaya tetap:
Sediaan awal
Produksi
Penjualan
Sediaan akhir

: 100 unit
: 1.100 unit
: 1.000 unit
: 200 unit

Harga jual/unit

Rp 172.000

77.400.000
Break-even =

= 600 unit
172.000 43.000

Jika laba diinginkan sebesar Rp 90.000.000, maka penjualan yang harus


dicapai
77.400.000 + 90.000.000
Sales =

= 1.297 unit
172.000 43.000

Atau:
77.400.000 + 90.000.000
16

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Sales =

= Rp 223.200.000
1 - 0,25

Pendapatan/biaya
180

Garis Penjualan
Break-even
Total biaya

100
80

Grs tetap

600

1.000

Volume Penjualan

GRAFIK BREAK EVEN-POINT

Pendapatan/biaya
180

Garis Penjualan
Break-even
Total biaya
Profit area

100

17

Manajemen Biaya by Wahyudiono

BT

Loss area
BV

600

1.000

Volume Penjualan

Grafik Impas & Struktur Biaya

Pendapatan/biaya
Titik Impas

volume
STRUKTUR BIAYA, SEBAGIAN BESAR BIAYA TETAP

Pendapatan/biaya

18

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Titik Impas

volume
STRUKTUR BIAYA, SEBAGIAN BESAR BIAYA VARIABEL

Perusahaan yang beroperasi dengan struktur biaya sebagian besar berupa biaya tetap,
break even berada pada tingkat yang tinggi seperti: hotel, jasa telekomunikasi, jasa
hiburan, strategi yang dapat dikembangkan adalah memaksimumkan pendapatan.
Perusahaan yang beroperasi dengan struktur biaya sebagian besar berupa biaya
variabel, break even terjadi pada tingkat yang rendah seperti: perusahaan manufaktur
pada umumnya, strategi yang dikembangkan adalah efesiensi biaya/penurunan biaya.

Lingkungan Manufaktur Maju


Biaya produksi dalam lingkungan manufaktur maju ditandai oleh berkurangnya unsur
tenaga kerja langsung dan semakin bertambah besar proporsi biaya overhead pabrik.
Diversifikasi produk menyebabkan proporsi biaya overhead yang tidak terkait dengan
unit produk semakin besar, dengan konsumsi sumberdaya yang semakin berbeda beda.

Facility-sustaining
activity costs

Product-sustaining activity
costs

Non-unit
realated costs

Batch-related
activity costs

Unit-Level
activity costs

Unit Related
costs

19

Manajemen Biaya by Wahyudiono

UNSUR UNIT-RELATED & NON-UNIT-RELATED COST


DALAM KOS PRODUK

Konsep Biaya Variabel Dalam Perhitungan Impas

Pendekatan konvensional biaya variabel didasarkan pada perilaku biaya dalam


hubungannya dengan perubahan unit level-activities saja.

Pendekatan Activity based costing biaya variabel tidak hanya dihubungkan dengan unitlevel-activities saja, tetapi juga harus mengacu pada batct-related-activities, product-sustaining
activities & facility-sustaining activities.

k = a + b1x1 + b2x2 + b3x3


TOTAL BIAYA BERDASARKAN
ACTIVITY-BASED COSTING

Keterangan:
k
: total biaya
a
: facility sustaining activity costs
b1
: biaya variabel per satuan unit-level activity
b2
: biaya variabel per satuan batch-level activity
b3
: biaya variabel per satuan product-sustaining activity
x1
: unit-level activity
x2
: batch-level activity
x3
: product-sustaining activity

y = cx1 - a - b1x1 - b2x2 - b3x3


Persamaan Laba Berdasarkan
Activity-Based Costing

20

Manajemen Biaya by Wahyudiono

x =

a + b2x2 + b3x3
c - b1

Rumus Impas Berdasarkan


Activity-Based Costing

Keterangan:
x
: volume penjualan pada kondisi impas
c
: harga jual produk
a
: facility sustaining activity costs
b1
: biaya variabel per satuan unit-level activity
b2
: biaya variabel per satuan batch-level activity
b3
: biaya variabel per satuan product-sustaining activity
x1
: unit-level activity
x2
: batch-level activity
x3
: product-sustaining activity
Struktur Biaya Produksi:
Biaya variabel
PENDEKATAN ACTIVITY
Harga jual produk
Biayaactivity
tetap per
tahun
Unit-level
cost:

Rp 12.000/unit
BASED COSTING
Rp 20.000/unit
Rp 100.000.000

Biaya bahan baku


Rp 6.000
100.000.000
Biaya tenaga kerja langsung
Rp 5.000
Impas
=
Biaya overhead pabrik (v)
Rp
500
Biaya Pemasaran (v) 20.000 12.000
Rp
500
=
12.500
unit
(
Rp
250.000.000)
Total biaya per unit
Rp 12.000
Batch-related act cost : 20 jam setup
Product-sustaining ac : 1.000 jam rekayasa
Facility-sustaining ac :

Rp 1.000.000
Rp
30.000
Rp 50.000.000

Biaya tetap yang diperhitungkan:


Batch-related activity cost
Product-sustaining activity cost
Facility-sustaining activity cost
Total biaya tetap

Rp 20.000.000
Rp 30.000.000
Rp 50.000.000
Rp 100.000.000

100.000.000
Impas =
20.000 12.000
= 12.500 unit ( Rp 250.000.000)

21

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Jika dilakukan perekayasaan:


Biaya tenaga kerja langsung per unit turun
Rp
2.000
Biaya batch-related activity cost (setup) naik
Rp 600.000
Aktivitas rekayasa (product-sustaining activities) naik 50%
1. Impas Konvensional
100.000.000
Impas =
20.000 10.000
= 10.000 unit ( Rp 200.000.000)
2. Impas Activity Based Costing
127.000.000
Impas =
20.000 10.000
= 12.700 unit ( Rp 254.000.000)

22

Manajemen Biaya by Wahyudiono

PERHITUNGAN LABA-RUGI PER UNIT


PERHITUNGAN LABA-RUGI PER UNIT
(dalam ribuan Rupiah)
(dalam ribuan Rupiah)

Keterangan

1.000

Biaya variabel/unit
Biaya tetap/unit

800

600

400

200

43,00
77,40

43,00
96,75

43,00
129.00

43,00
193,50

43,00
387,00

Total biaya/unit

120,40

139,75

172,00

236,50

430,00

Harga jual/unit

172,00

172,00

172,00

172,00

172,00

51,6

32,25

- 64,50

- 258,00

Laba (rugi) per unit

Catatan:
Analisa laba per satuan sangat membantu pihak manajemen dalam mengelola kebijakan
harga jual produk, karena pada tingkat laba per unit nol, berarti memberi petunjuk kepada
pimpinan atas terbentuknya laba bagi perusahaan bagi setiap produk yang terjual, karena
itu pihak manajemen dapat membantu dalam menyusun kebijakan harga.

450

A
Total biaya per unit

Loss area

23

Manajemen Biaya by Wahyudiono

C
.

Harga Jual
Profit area
D

Break even

200

400

600

800

1.000

Shut-Down Point
Struktur Biaya Tetap:
Biaya tetap (total)
Biaya tetap (sunk cost)
Biaya tetap (tunai)

Rp 77.400.000
Rp 12.900.000
Rp 64.500.000

64.500.000
Shut-Down Point =
172.000 43.000
= 500 unit ( Rp 86.000.000)
Shut-Down Point lebih rendah dari titik impas, karena hanya mempertimbangkan
unsur biaya yang bersifat tunai saja, sedangkan biaya tetap untuk sementara dapat
diabaikan dalam jangka pendek, karena biaya tetap lebih banyak terkait dengan
masa yang lalu seperti: biaya depresiasi, biaya dibayar dimuka

24

Manajemen Biaya by Wahyudiono

180
172

Break-even
43

77,4

64,5

Shut-Down Point

200

400

500

600

800

1.000

Break-even & Shut-Down Point

Perencanaan Laba & Pajak Penghasilan


Dalam perencanaan laba harus diperhitungkan komponen Pajak Penghasilan, karena
pajak penghasilan akan mengurangi besarnya laba yang dapat dinikmati oleh perusahaan
Tarif Pajak Penghasilan:
Tarif Tunggal (berlaku untuk semua tingkat laba)
Tarif proporsional (berlaku secara berjenjang)
Di Indonesia pajak penghasilan dikenakan berdasarkan tarif proporsional yaitu:

1
2
3

Lapisan Penghasilan

Tarif

1 - 50.000.000
50.000.001 100.000.000
Diatas - 100.000.000

10 %
15 %
30 %
25

Manajemen Biaya by Wahyudiono

TINGKAT PENGHASILAN BADAN

Data perusahaan yang terkait dengan perencanaan laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan Rp 70.000.000
Tarif pajak tunggal sebesar
30%

Fixed costs +(EAT/1-tax)


Sales =
CMR
77.400.000 + (70.000.000/0,7)
Sales =
0,75
= Rp 236.533.333 (1.375,2 unit)

Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin

Jumlah
236.533.333
59.133.333
177.400.000

Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan (30%)
Laba setelah pajak

77.400.000
100.000.000
30.000.000
70.000.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian denagn


mempertimbangkan unsur pajak penghasilan, dengan cara membagi EAT
dengan (1-Tax) sehingga ditemukan besarnya laba sebelum pajak.
Rumus diatas hanya dilakukan penyesuaian, agar kembali pada format
laba sebelum pajak
Contoh berikut:
Perusahaan memiliki data yang terkait dgn perencanaan laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
26

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Harga jual produk


Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan
Rp 36.000.000
Tarif pajak menggunakan tarif proporsional

Fixed costs +(EAT/1-tax)


Sales =
CMR
77.400.000 + (36.000.000/0,9)
Sales =
0,75
= Rp 156.533.333 (910,1 unit)
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin

Jumlah
156.533.333
39.133.333
117.400.000

Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan (10%)
Laba setelah pajak

77.400.000
40.000.000
4.000.000
36.000.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dgn tarif pajak lapis
pertama yaitu sebesar 10%, karena lapis pertama menggunakan batas
maksimum Rp 50.000.000

EBT
50.000.000
50.000.000
60.000.000

tarif
10%
15%
30%

tax
5.000.000
7.500.000
18.000.000

EAT
45.000.000
42.500.000
32.000.000

Cum EAT
45.000.000
87.500.000
119.500.000

Data perusahaan yang terkait dengan perencanaan laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan
Rp 79.000.000
27

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Tarif pajak menggunakan tarif proporsional


Fixed costs +(EAT/1-tax)
Sales =
CMR

77.400.000 + (90.000.000)
Sales =
0,75
= Rp 223.200.000 (1.297,7 unit)
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin

Jumlah
223.200.000
55.800.000
167.400.000

Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan:
50.000.000 x 10% : 5.000.000
40.000.000 x 15% : 6.000.000

77.400.000
90.000.000

Laba setelah pajak

79.000.000

11.000.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dengan tarif pajak lapis
pertama yaitu sebesar (45.000.000/0,9), tarif pajak lapis kedua yaitu sebesar
(36.000.000/0,85).
Jadi laba setelah pajak sebesar Rp 79.000.000 equivalen dengan laba sebelum pajak
sebesar Rp 90.000.000

Data Perusahaan yang terkait dengan perencanaan laba tahun mendatang sbb:
Biaya tetap
Rp 77.400.000
Biaya variabel
Rp 43.000.000
Harga jual produk
Rp 172.000/unit
Laba (EAT) yang diharapkan
Rp 143.500.000
Tarif pajak menggunakan tarif proporsional
Fixed costs +(EAT/1-tax)
28

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Sales =
CMR
77.400.000 + (180.000.000)
Sales =
0,75
= Rp 343.200.000 (1.995,4 unit)

Keterangan
Penjualan
Biaya variabel (25%)
Contribution margin

Jumlah
343.200.000
85.800.000
257.400.000

Biaya tetap
Laba sebelum pajak
Pajak Penghasilan:
50.000.000 x 10% : 5.000.000
50.000.000 x 15% : 7.500.000
80.000.000 x 30% : 24.000.000

77.400.000
180.000.000

Laba setelah pajak

143.500.000

36.500.000

Laba setelah pajak (EAT) harus dilakukan penyesuaian dengan tarif pajak lapis
pertama yaitu sebesar (45.000.000/0,9), tarif pajak lapis kedua yaitu sebesar
(42.500.000/0,85), tarif pajak lapis ketiga yaitu sebesar (56.000.000/0,7).
Jadi laba setelah pajak sebesar Rp 143.500.000 equivalen dengan laba sebelum
pajak sebesar Rp 180.000.000

Analisa Sensitivitas
Analisa yang dilakukan terhadap faktor yang mempengaruhi terhadap perencanaan laba yang
meliputi:

1.
Harga jual

2.
Volume penjualan

3.
Komposisi produk yang dijual

4.
Biaya variabel per unit
29

Manajemen Biaya by Wahyudiono

5.
Total biaya tetap
A. Harga jual naik 25%,volume penjualan turun 30%
B. Harga jual turun 10% dan volume penjualan naik 30%
Keterangan

Awal

Penjualan
Biaya variabel
Contribution margin
Biaya tetap
Laba bersih
Impas (rupiah)
Impas (unit)

172.000.000
43.000.000
129.000.000
77.400.000
51.600.000
103.200.000
600 unit

150.500.000
30.100.000
120.400.000
77.400.000
43.000.000
96.750.000
450 unit

B
201.240.000
55.900.000
145.340.000
77.400.000
67.940.000
107.276.400
693 unit

70

0
50

100

150

200

70

Komposisi Produk
Keterangan

30

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Harga jual
Biaya variabel per unit
Laba kontribusi per unit

Rp 25
Rp 15
Rp 10

Rp 30
Rp 12
Rp 18

II

Rp 50
Rp 15
Rp 35

Total biaya Tetap Rp 500.000


Keterangan
Komposisi:
Produk A
Produk B
Produk C
Penjualan
Biaya Variabel
Laba kontribusi
Biaya tetap
Laba bersih
Impas

III

20.000
10.000
5.000

10.000
15.000
10.000

5.000
7.000
15.000

1.050.000
495.000
555.000
500.000
55.000
945.946

1.200.000
480.000
720.000
500.000
220.000
833.333

1.085.000
384.000
701.000
500.000
201.000
773.895

KOMPOSISI I
Produk
A
B
C

Penjualan
Variabel
500.000
300.000
300.000
120.000
250.000
75.000
1.050.000
495.000
Total biaya tetap
Laba bersih

CM
200.000
180.000
175.000
555.000
500.000
55.000

BVR
60%
40%
30%
47%

CMR
40%
60%
70%
53%

BVR
60%
40%
30%
40%

CMR
40%
60%
70%
60%

Impas = (500.000/0,53) = Rp 945.946

KOMPOSISI II
Produk
A
B
C

Penjualan
Variabel
250.000
150.000
450.000
180.000
500.000
150.000
1.200.000
480.000
Total biaya tetap
Laba bersih

CM
100.000
270.000
350.000
720.000
500.000
220.000

Impas = (500.000/0,6) = Rp 833.333


31

Manajemen Biaya by Wahyudiono

KOMPOSISI III
Produk
A
B
C

Penjualan
Variabel
125.000
75.000
210.000
84.000
750.000
225.000
1.085.000
384.000
Total biaya tetap
Laba bersih

CM
50.000
126.000
525.000
701.000
500.000
201.000

BVR
60%
40%
30%
36%

CMR
40%
60%
70%
64%

Impas = (500.000/0,64) = Rp 773.895


Kesimpulan:
Komposisi produk mempengaruhi total laba dan titik impas
Produk yang memiliki CMR tertinggi, berpotensi untuk menutup biaya tetap yang lebih
baik, dibanding produk yang memiliki CMR lebih rendah
Semakin banyak produk terjual dengan CMR tertinggi, tentu menjadikan perusahaan
pada posisi yang lebih aman, karena titik impas tercapai pada penjualan yang lebih
rendah

PENENTUAN HARGA
TRANSFER

LATAR BELAKANG HARGA TRANSFER


Masalah penentuan harga transfer akan dijumpai jika suatu organisasi perusahaan disusun
menurut pusat laba dan antar pusat laba terjadi transfer barang atau jasa.
Munculnya masalah harga transfer dapat dihubungkan dengan suatu proses diferensiasi,
diversifikasi bisnis dan integrasi dalam organisasi yang telah melakukan proses tersebut.

DIVISI BENGKEL

DIVISI PEMASARAN

PENGHASIL JASA

PENERIMA JASA

BIAYA

BEBAN
32

Manajemen Biaya by Wahyudiono

HARGA
HARGA
TRANSFER
TRANSFER

Jika pihak yang satu menghasilkan jasa dan pihak lain menerima jasa, maka biaya yang
terjadi harus dialihkan menjadi beban pihak yang menikmati jasa, proses ini disebut
HARGA TRANSFER.
PROSES PENENTUAN HARGA TRANSFER

1. DEFERENSIASI
Adalah proses membedakan dan membagi tugas pekerjaan menurut bidangnya untuk
menjadikan efektif dan efisien dalam mencapai sasaran organisasi. Diferensiasi vertikal
ditandai dengan jumlah jenjang yang berada diantara direksi dan karyawan operasional,
sedangkan diferensiasi harisontal ditandai oleh banyaknya bagian yang dibentuk dalam
organisasi.

2. DIVERSIFIKASI
Adalah upaya melakukan aneka ragam bisnis yang jenis usahanya berbeda antara satu
dengan yang lain, baik yang berdiri sendiri atau yang masih saling terkait.
Adapun pertimbangan diversifikasi adalah:

Semakin

konfliknya masalah yang harus ditangani oleh pihak yang menguasai


bidangnya, sehingga perlu mendelegasikan wewenang kepada pihak pengambil
keputusan yang lebih berkompeten
Memberi otonomi pada manajer tingkat bawah

Diversifikasi dilakukan melalui proses divisionalisasi (divisi sebagai pusat laba)


3. INTEGRASI
Adalah proses melakukan koordinasi atau penyatuan bisnis melalui mekanisme agar
aktivitas bisnisnya dapat dikontrol secara efektif dan efisien.
Adapun mekanisme integrasi adalah:
Peraturan, standarisasi, sistem dan prosedur
Hirarkhi organisasi
Perencanaan
Kontak langsung
Pembentukan komite khusus
Organisasi matrik

33

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Diversifikasi menuntut adanya kemandiri divisi pusat laba, agar


dapat menghasilkan
kinerja yang tinggi.
4. DESENTRALISASI & SENTRALISASI
Adalah pendelegasian kebebasan untuk mengambil keputusan yang lebih berperan pada
manajer tingkat bawahan, sebaliknya organisasi yang memberi peran lebih besar
kepada manajer puncak dalam mengambil keputusan disebut sentralisasi.

Sentralisasi

Wewenang Pengambilan
Keputusan Terpusat Pada

Model Wewenang Dalam


Model Wewenang
Dalam
Pengambilan
Keputusan
Pengambilan Keputusan

Desentralisasi

Wewenang Pengambilan
Keputusan Didelegasikan

TIGA BENTUK DESENTRALISASI


1. Desentralisasi berdasar fungsi (functional decentralization)
2. Desentralisasi berdasar daerah (geographical decentralization)
3. Desentralisasi berdasar laba (frofit decentralization)
Direksi

Departemen
Produksi

Departemen
Pemasaran

Departemen
Keuangan

DESENTRALISASI BERDASAR FUNGSI

Direksi
34

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Divisi
Produksi

Divisi
Pemasaran

Divisi
Keuangan

Daerah
Jabar

Daerah
Jateg

Daerah
Jatim

DESENTRALISASI BERDASAR DAERAH PEMASARAN

DIREKSI

DIVISI
OTOMOTIF

BAGIAN
PRODUKS

BAGIAN
PEMASARA

DIVISI
PERBANKAN

BAGIAN
KEUANGA

BAGIAN
PEMASARA

BAGIAN
KEUANGA

DESENTRALISASI BERDASAR PUSAT LABA

MANFAAT DESENTRALISASI
1. Manajer tingkat bawah lebih memahami bidanygnya
2. Memberi kesempatan manajer tingkat bawah untuk mempersiapkan diri pada jabatan
yang lebih tinggi
3. Memberi kebebasan manajer tingkat bawah dalam pengambilan keputusan, sehingga
dapat menjadi sarana motivasi baginya
KELEMAHAN DESENTRALISASI
1. Menjadi lebih ego pada divisi yang menjadi tanggungjawabnya
2. Para manajer cenderung ingin memiliki unit organisasi sendiri, dalam rangka mengem
bangkan lebih baik bagi divisinya
3. Biaya yang digunakan untuk memperoleh/mengumpulkan informasi menjadi lebih mahal
KONSEP HARGA TRANSFER
Dalam arti luas harga transfer meliputi harga produk atau jasa yang ditransfer antar pusat
pertanggungjawaban dalam perusahaan. Harga transfer meliputi semua bentuk alokasi
biaya dari departemen pembantu dan departemen produksi, harga jual produk atau jasa
yang ditransfer antar pusat laba
35

Manajemen Biaya by Wahyudiono

KARAKTERISTIK HARGA TRANSFER


Keputusan yang harus dibuat oleh antar Pusat Laba:
1. Keputusan pemilihan sumber, penentuan dimana produk harus diproduksi (diproduksi
sendiri atau dipasok)
2. Keputusan penentuan harga transfer, berapa nilai harga transfer yg harus dibebankan
dari divisi penjual ke divisi pembeli (transfer pricing decision)
Karakteristik Harga Transfer:
1. Divisi yg terkait diukur kinerjanya berdasarkan pusat laba yang diperolehnya & harga
transfer merupakan unsur yg signifikan dalam membentuk biaya penuh produk yang
diproduksi oleh divisi pembeli.
2. Harga transfer selalu mengandung unsur laba didalamnya
3. Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasi dan sekaligus menginte
grasikan divisi yang dibentuk
Perundingan antara Divisi Penjual dan Pembeli:
1. Dasar yang digunakan sebagai landasan penentuan harga transfer
2. Laba yang diperhitungkan dalam harga transfer
Divisi penjual dan Divisi pembeli merupakan dua bagian yang saling terkait satu sama yang lain
namun masing masing memiliki kepentingan yang berbeda, oleh karena perlu diatur secara jelas
melalui suatu perundingan mengenai dasar yang akan dipergunakan sebagai landasan penentuan
harga transfer yang saling memberikan manfaat keduanya. Divisi penghasil jasa tidak akan
kehilangan tingkat profit yang menjadi haknya, demikian sebaliknya divisi penerima jasa akan
memperoleh manfaat dengan biaya yang lebih murah, sehingga kedua divisi yang berada dalam
satu organisasi mampu membangun keunggulan kompetitif, khususnya keunggulan dalam hal
biaya dan akses bahan baku.

DASAR PENENTUAN
HARGA TRANSFER

BERDASARKAN
BIAYA

BERDASARKAN
HARGA PASAR

BIAYA PENUH
ACTUAL

FULL
COSTIN

VARIABL
E

BIAYA PENUH
STANDAR

ABC
COSTIN

FULL
COSTIN

VARIABL
E

ABC
COSTIN

36

Manajemen Biaya by Wahyudiono

DASAR PENENTUAN HARGA TRANSFER

PENENTUAN LABA SEBAGAI DASAR HARGA TRANSFER:


1. Prosentase tertentu dari biaya penuh
2. Aktiva penuh yang digunakan untuk memproduksi produk
Jenis aktiva yang diperhitungkan sebagai dasar
Cara penilaian aktiva yang digunakan sebagai dasar
Cara penilaian aktiva tetap
Cara penilaian aktiva lancar
Nilai bersih aktiva lancar yang dapat direalisasi awal tahun
Nilai bersih aktiva lancar yang dapat direalisasi rata rata dalam tahun berlakunya
harga transfer

Jika biaya dipergunakan sebagai dasar penentuan harga transfer, manajemen harus memper
timbangkan:
1. Mendorong divisi penjual untuk melakukan perbaikan dan produktivitasnya
2. Memisahkan tanggung jawab masing masing divisi terkait
3. Diperlukan atauran yang baik & bersifat adil
Contoh:
PT. Pratama memiliki dua divisi yaitu divisi A dan Divisi B, dimana produk divisi A
sebanyak 10% dijual dipasar bebas, sedangkan sisanya 90% akan digunakan oleh divisi B.
Anggaran biaya divisi A pada kapasitas normal 1.000 uni sebagai berikut:

Biaya produksi
Biaya administrasi & umu
Biaya pemasaran
Total biaya penuh divisi A
Total aktiva awal tahun diperkirakan
Rate of return on invesment

200.000.000
50.000.000
20.000.000
270.000.000
1.000.000.000
20%

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH + LABA

37

Manajemen Biaya by Wahyudiono

BIAYA PRODUKSI:

y% x Aktiva penuh

Bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik

AKTIVA PENUH:

BIAYA NON PRODUKSI:

Aktiva tetap
Aktiva lancar

Biaya adm & umum


Biaya pemasaran

PERHITUNGAN MARKUP:
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Laba (20% x Rp 1.000.000.000)
Total
BIAYA PRODUKSI
PROSENTASE MARKUP (270/200) juta

50.000.000
20.000.000
200.000.000
270.000.000
200.000.000
135 %

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:


Biaya produksi
Markup: (135% x Rp 200.000.000)
Total harga transfer
Unit yang diproduksi
Harga transfer per unit

200.000.000
270.000.000
470.000.000
1.000 unit
Rp 4.700

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH +


LABA

BIAYA VARIABEL:
Bahan baku
Biaya tenaga
kerja
Biaya overhead
pabrik
Biaya adm &
umum
Biaya
pemasaran

y% x Aktiva

AKTIVA
PENUH:
Aktiva tetap

38

Manajemen Biaya by Wahyudiono

PENENTUAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA DGN


PENDEKATAN VARIABLE COSTING

Informasi sama dengan PT.Pratama:


BIAYA VARIABEL:
Biaya produksi
Biaya administrasi & umu
Biaya pemasaran
Total biaya variabel
BIAYA TETAP:
Biaya overhead
Biaya adm & umum
Biaya pemasaran
Total biaya tetap
Total biaya penuh
Total aktiva awal tahun diperkirakan
Rate of return on invesment

150.000.000
10.000.000
5.000.000
165.000.000
50.000.000
40.000.000
15.000.000
95.000.000
270.000.000
1.000.000.000
20%

PERHITUNGAN MARKUP:
Biaya tetap
Laba (20% x Rp 1.000.000.000)
Total
BIAYA VARIABEL
PROSENTASE MARKUP (295/165) juta

95.000.000
200.000.000
295.000.000
165.000.000
178,79 %

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:


Biaya variabel
Markup: (178,79% x Rp 165.000.000)
Total harga transfer
Unit yang diproduksi
Harga transfer per unit

165.000.000
295.000.000
470.000.000
1.000 unit
Rp 4.700

39

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Jika realisasi produksi sesuai dgn perencanaan, maka pendekatan full costing dan
pendekatan variable costing akan terjadi harga transfer yg sama besar.

HARGA TRANSFER = BIAYA PENUH +


LABA

y% x Aktiva
Unit level activity costs
Batchrelated
activity costs
Product sustaining activity
AKTIVA PENUH:
Aktiva tetap
Aktiva lancar
PENENTUAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA DGN
PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING

Keterangan
Unit level activity costs
Biaya standar per unit
Batchrelated activity costs
Biaya standar per unit
Product sustaining activity costs
Biaya per unit
Facility sustaining activity costs
Biaya per tahun

Spare part-A

Spare part-B

1.500

2.000

200.000

150.000

500

300

200.000.000

400.000.000

Divisi X menghasilkan spare part-A sebanyak 1.000.000 unit dan spare B


sebanyak 2.000.000. Pada bulan Jan 2007 direncanakan ada permintaan spare part
dari Divisi Y sebanyak 100.000 unit unit yang di proses dalam dua production run
(batch). Total aktiva Divisi X awal tahun Rp 1.000.000.000 & rate of return on
invesment ditetapkan 22%.
40

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Bagaimana menentukan besarnya harga transfer..?

PERHITUNGAN MARKUP:
Laba (22% x Rp 1.000.000.000)
Unit Level Activity Cost:
Sparepart A (1.000.000 x Rp 1.500)
Sparepart B (2.000.000 x Rp 2.000)
Total
PROSENTASE MARKUP (220/5.500) juta

PERHITUNGAN HARGA TRANSFER:


Unit level activity costs
100.000 unit x Rp 1.500
Batchrelated activity costs
2 batch x Rp 200.000
Product sustaining activity costs
100.000 unit x Rp 500
Facility sustaining activity costs
100.000 unit x Rp 200 *)
Biaya penuh sparepart A
Markup (4% x Rp 150.000.000)
Harga transfer sparepart A 100.000 unit

220.000.000
1.500.000.000
4.000.000.000
5.500.000.000
4,00 %

150.000.000
400.000
50.000.000
20.000.000
220.400.000
6.000.000
226.400.000

Catatan: *)
Facility sustaining activity cost Spare part Aper tahun: Rp 200.000.000. Unit sparepart A
sebanyak 1.000.000 unit

Tarif per unit = (Rp 200.000.000/1.000.000 unit)= Rp 200/unit

KELEMAHAN HARGA TRASFER ATAS DASAR BIAYA


1. Harus dicapai kesepakatan lebih dahulu antara divisi penjual dan divisi pembeli
mengenai jenis biaya yang dipergunakan sebagai dasar harga transfer
2. Sangat sulit untuk menentukan tingkat return on invesment yang wajar bagi divisi
penjual khususnya jika produk divisi penjual sebagian besar dijual keluar
41

Manajemen Biaya by Wahyudiono

3. Divisi penjual telah dijamin memperoleh return on invesment sesuai yang telah
disepakati berdua, padahal justru ini yang dipergunakan sebagai tolok ukur pengukuran
kinerja.

HARGA TRANSFER ATAS DASAR HARGA PASAR


Harga transfer atas dasar harga pasar seringkali terdapat komponen biaya yg dapat
dikompensasikan, sehingga harga transfer atas dasar harga pasar ddapat diadjusted
menjadi harga pasar minus (market price minus)

MARKET PRICE MINUS


1. Kuantitas produk yg ditransfer kedivisi pembeli biasanya cukup besar, sehingga seringkali
diberikan pengurangan harga
2. Divisi penjual tidak perlu mengeluarkan biaya ilkan, promosi penjualan, komisi penjualan
dan biaya penagihan, sehingga dapat dikurangkan pada harga transfer
3. Transfer yang dilakukan secara langsung dari divisi penjual, biaya pergudangannya dapat
dikompensasi untuk mengurangi harga transfer

Harga pasar merupakan biaya kesempatan, baik bagi divisi penjual maupun
divisi pembeli, sehingga harga transfer yg didasarkan pada harga pasar
merupakan tolok ukur yang baik bagi kinerja divisi yang terkait

Keterangan
Harga Pasar
Pengurangan Biaya:
Potongan volume
Biaya penjualan
Komisi penjualan
Biaya penagihan
Biaya Penggudangan
Jumlah pengurangan biaya
Adjusted-market price (%)

%
100,0
1,5
11,5
2,0
0,5
5,5
21,0
79,0

ADJUSTED MARKET-PRICE METHOD

42

Manajemen Biaya by Wahyudiono

DIVISI PENJUAL SEBAGAI PUSAT BIAYA


Divisi penjual yang mentransfer semua produknya ke divisi lain dalam perusahaan
yang sama, hakekatnya merupakan pseudo profit center. Manajer divisi penjual tidak
memiliki wewenang yg menyangkut pemasaran produknya, sehingga kinerja
divisinya sangat tergantung pada divisi lain. Harga transfer alternatif dapat dipilih
dengan cara: beban tetap bulanan, profit sharing dan dua macam harga
1. BEBAN TETAP BULANAN
Dengan menggunakan beban tetap bulanan, divisi penjual sebagap captive supplier
tetap diperlakukan sebagai pusat laba yang kinerjanya tidak dipengaruhi oleh divisi
lain dalam satu organisasi. Harga transfer produk divisi penjual ditentukan dgn cara
berikut:

Produk yang ditransfer dibebani sebesar biaya varibel yang terjadi di divisi
penjual
Setiap bulan divisi pembeli dibebani:
Biaya tetap yang dikeluarkan divisi penjual
Return on invesment yg dibebankan oleh divisi penjual

Divisi A menghasilkan produk yang seluruhnya ditransfer ke divisi B


adapun data divisi B adalah Sbb:
Biaya variabel per unit
Biaya tetap per tahun
Investasi modal & fasilitas produksi
Rate of return on invesment

HARGA TRANSFER PRODUK A


Biaya variabel per unit
Biaya tetap per bulan (600 juta/12)
Laba per bulan (10% x 2.400 juta)/12

800.000
600.000.000
2.400.000.000
10 %

800.000
50.000.000
20.000.000

Jika bulan Juni 2007 Divisi A mentransfer produk ke divisi B sebanyak


2.000 unit, maka harga transfer yang dapat di tentukan Sbb:
HARGA TRANSFER PRODUK A
Biaya variabel (10.000 x Rp 800.000)
Biaya tetap bulan Juni 2007
Laba bulan Juni 2007
Harga transfer bulan Juni 2007

1.600.000.000
50.000.000
20.000.000
1.670.000.000
43

Manajemen Biaya by Wahyudiono

2. PROFIT SHARING
Divisi pembeli akan dibebani sebesar biaya variabel standar untuk setiap unit produk
yg ditransfer oleh divisi penjual. Biaya variabel divisi penjual dan divisi pembeli akan
diper gunakan secara akumulatif untuk mengitung biaya produk yang dijual di pasar
luar. Selanjutnya laba kontribusi yang diperoleh akan dibagi secara adil kepada divisi
penjual dan divisi pembeli berdasarkan perbandingan biaya variabel masing masing
divisi.
Keterangan
Biaya variabel per unit
Harga jual

Divisi A
8.000
0

Divisi B
5.000
20.000

Jika Bulan Juni 2007 Divisi A mentransfer produknya ke divisi B sebanyak


1.000 unit, maka perhitungan Laba sbb:
PENJUALAN PRODUK DIVISI B

20.000.000

Biaya variabel A (1.000 x Rp 8.000)


Biaya variabel B (1.000 x Rp 5.000)
Biaya variabel kumulatif
Laba kontribusi

8.000.000
5.000.000
13.000.000
7.000.000

PROFIT SHARING:
Laba hak Divisi A (8/13) x Rp 7.000.000
Laba hak Divisi B (5/13) x Rp 7.000.000

4.307.692
2.692.308

3. TWO SETS OF PRICE


Divisi penjual maupun divisi pembeli akan menggunakan harga masing masing,
sehingga diperlukan adjustment atas laba kontribusi divisi penjual terhadap divisi
pembeli.

Keterangan
Biaya variabel per unit
Harga jual produk diluar
Keterangan
Penjualan
Biaya variabel

Divisi A
8.000
11.000
Divisi A

Divisi B

11.000.000
8.000.000

18.000.000
13.000.000

Divisi B
5.000
18.000
Firm
29.000.000
21.000.000
44

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Laba kontribusi

3.000.000

5.000.000

8.000.000

3.000.000
5.000.000

Adjusment
CM after adjusted

Adjuement sebesar Rp 3.000.000 merupakan eliminasi atas laba yang


diperoleh divisi A

PENENTUAN
HARGA JUAL
MANFAAT INFORMASI BIAYA PENUH
1. Mengurangi ketidakpastian yg dihadapi decision maker
2. Dasar yang memberi perlindungan bagi perusahaan dari kemungkinan kerugian
3. Memungkinkan manajer penentu harga jual menengoh struktur biaya perusahaan pesaing
4. Dasar untuk pengambilan keputusan memasuki pasar
METODE PENENTUAAN HARGA JUAL
1. Harga Jual Normal (normal pricing)
45

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Harga Jual

Taksiran Biaya

Laba yang

Unsur Harga Jual:


1. Taksiran biaya penuh
2. Laba yang diharapkan

2. Cost-Plus Pricing

Harga Jual

Taksiran Biaya

Laba yang

1. Taksiran biaya penuh


2. Laba yang diharapkan
Cost of capital
Risk of business
Capital employed rate

Biaya produksi
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Total biaya penuh
Total aktiva
Rate of return on invesment

3.000.000.000
200.000.000
300.000.000
3.500.000.000
4.000.000.000
25%

Biaya administrasi & umum


Biaya pemasaran
Laba diharapkan: 25% x 4.000.000.000
Total biaya penuh
Biaya produksi
Prosentase markup (1.500/3.000) juta

200.000.000
300.000.000
1.000.000.000
1.500.000.000
3.000.000.000
50%

Biaya produksi

3.000.000.000
46

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Markup (50% x Rp 3.000.000.000)


Total harga yg dibebankan
Jumlah unit yang diproduksi (volume)
Harga jual per satuan

1.500.000.000
4.500.000.000
1.000.000
Rp 4.500/unit

HARGA JUAL

Biaya yg
dipengaru

BIAYA PRODUKSI:
Bahan Baku
Tenaga Kerja
Biaya Overhead

Prosentase markup
(% x Biaya non

PROSENTASE
MARKUP:
y% + biaya non
produksi

PENENTUAN HARGA JUAL BERDASARKAN


PENDEKATAN FULL COSTING

Laba yg
diharapkan:

Biaya Non
produksi:
Biaya Adm &

Prosentase Markup:
Y% + Biaya non
produksi

Biaya Produksi:
Bahan Baku
Tenaga Kerja
L

47

Manajemen Biaya by Wahyudiono

PENENTUAN PROSENTASE MARKUP

Harga Jual

Biaya yg
dipengar

BIAYA VARIABEL:
Bahan Baku
Tenaga Kerja,
BOP

Prosentase markup
(% x Biaya non

PROSENTASE
MARKUP:
y% + biaya tetap

PENENTUAN HARGA JUAL BERDASARKAN


PENDEKATAN VARIABLE COSTING

Laba yg
diharapkan:
y% x Aktiva

Biaya tetap:
Biaya Adm &
umum
Biaya

Prosentase Markup:
Y% + Biaya tetap
Biaya variabel
Biaya variabel:
Bahan Baku
Tenaga Kerja L
Biaya Overhead
Adm & umum

48

Manajemen Biaya by Wahyudiono

PENENTUAN PROSENTASE MARKUP

BIAYA VARIABEL:
Biaya produksi
Biaya administrasi & Umum
Biaya pemasaran
Total biaya variabel

2.000.000.000
50.000.000
50.000.000
2.100.000.000

BIAYA TETAP:
Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Total total biaya tetap

1.000.000.000
150.000.000
250.000.000
1.400.000.000

Total total penuh

3.500.000.000

Perhitungan Prosentase Markup:


Biaya tetap
Laba diharapkan:25% x 4.000.000.000
Sub total
Biaya variabel
Prosentase markup (2.400/2.100) juta

1.400.000.000
1.000.000.000
2.400.000.000
2.100.000.000
114,29%

Perhitungan Harga Jual:


Biaya variabel
Markup (114,29% x Rp 2.100.000.000)
Total harga yg dibebankan
Jumlah unit yang diproduksi (volume)
Harga jual per satuan

2.100.000.000
2.400.000.000
4.500.000.000
1.000.000
Rp 4.500/unit

3. Penentuan Harga Jual Waktu


Perusahaan yang menjual tenaga kerja dalam rangka memberi pelayanan pada
pelanggan seperti: perusahaan bengkel, usaha reparasi dan jasa lainnya
49

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Harga Jual Waktu = Biaya TKL +


Markup

BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG:


Upah TKL (21.000 jam x Rp 1.500/jam)
Biaya kesehatan (10x12x Rp 50.000)
Biaya kesejahteraan (10x12x Rp 25.000)
Total biaya tenaga kerja langsung
Jam TKL (10 orang x 300 hr x 7 jam)
Biaya tenaga kerja per jam

31.500.000
6.000.000
3.000.000
40.500.000
21.000 jam
Rp 1.928,57

BIAYA TIDAK LANGSUNG BENGKEL:


Gaji pengawas
Biaya depresiasi
Biaya asuransi
Biaya listrik
Biaya air
Biaya pemeliharaan
Biaya umum
Total biaya tak langsung bengkel

11.600.000
2.200.000
650.000
800.000
400.000
350.000
500.000
16.500.000

Perhitungan Prosentase Markup:


Biaya tak langsung bengkel
Laba diharapkan: (25% x 60.000.000)
Sub total
Biaya tenaga kerja langsung
Prosentase markup (31,5/40,5) juta

16.500.000
15.000.000
31.500.000
40.500.000
77,78 %

Perhitungan Harga Jual:


Biaya tenaga kerja langsung
Markup (77,78% x Rp 160.000)
Total harga yg dibebankan

160.000
124.448
184.448

4. Harga Jual Suku Cadang


Perusahaan menjual suku cadang untuk melengkapi layanan jasa yang diberikan pada
pelanggan.
Harga Jual Bahan = Harga Bahan +
50

Manajemen Biaya by Wahyudiono

BIAYA TAK LANGSUNG TOKO:


Gaji tenaga toko
Biaya listrik
Biaya kantor
Total biaya tak langsung toko
Laba yg diharap (25% x Rp 28.000.000)
Total biaya

9.000.000
700.000
300.000
10.000.000
7.000.000
17.000.000

TAKSIRAN SUKU CADANG YG DIBELI


PROSENTASE MARKUP (17/23,8) juta

23.800.000
71,43 %

Perhitungan Harga Jual:


Biaya suku cadang
Markaup: (71,43% x 500.000)
Harga jual suku cadang

500.000
357.150
857.150

5. Harga Jual Cost-Type Contract


Penentuan harga jual berdasarkan biaya yang dikeluarkan oleh produsen plus
tingkat keuntungan yg disepakati dgn pembeli atau berdasarkan perjanjian.

HARGA JUAL = BIAYA PENUH + Y%

Biaya langsung proyek


Biaya tdk langsung proyek
Total biaya proyek
Laba yg diharap (10%xRp 600.000.000)

450.000.000
150.000.000
600.000.000
60.000.000

Harga jual proyek yang dibebankan

660.000.000

HARGA JUAL PROYEK

51

Manajemen Biaya by Wahyudiono

6. Harga Jual Khusus (special order pricing)


Penentuan harga jual diluar harga jual reguler yang biasa ditetapkan oleh
perusahaan. Umumnya harga ini lebih rendah dari harga jual normal, adapun
pertimbangannya:
Biaya tetap telah ditutup melalui penjualan reguler
Harga jual khusus harus diatas biaya variabelnya
Harga jual khusus (200 x Rp 5.000)
Biaya variabel (200 x Rp 3.000)
Laba kontribusi

1.000.000
600.000
400.000

6. Harga Jual yang Diatur Pemerintah

Harga Jual = Biaya Produksi +


Markup
PERHITUNGAN MARKUP:
Estimasi biaya administrasi & umum
Estimasi biaya pemasaran
Laba (25% x Rp 3.200.000.000)
Total
TAKSIRAN BIAYA PRODUKSI
PROSENTASE MARKUP (3/15) milyar

Perhitungan Harga Jual Per Kwh:


Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya overhead (V+T)
Sub total
Markup (20% x Rp 15.000.000.000)
Total harga yang dibebankan
Volume Kwh
Harga Per Kwh

700.000.000
1.500.000.000
800.000.000
3.000.000.000
15.000.000.000
20 %

4.000.000.000
3.000.000.000
8.000.000.000
15.000.000.000
3.000.000.000
18.000.000.000
100.000.000
Rp 180

Kajian terhadap Penentuan Harga Jual Air:


Perusahaan PDAM Kodya Surabaya memiliki rencana produksi di tahun 2008
digunakan untuk menetapkan harga jual baru:
Nilai Investasi bersih (aktiva tetap) 31.12.07
800.000.000.000
52

Manajemen Biaya by Wahyudiono

Biaya Variabel:
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Sub total biaya variabel

80.000.000.000
20.000.000.000
25.000.000.000
10.000.000.000
15.000.000.000
150.000.000.000

Biaya Tetap:
Biaya overhead
Biaya administrasi & umum
Biaya pemasaran
Sub total biaya tetap

60.000.000.000
5.000.000.000
10.000.000.000
75.000.000.000

Jumlah Pelanggan:
Pelanggan industri
Pelanggan rumah tangga
Pelanggan sosial
Jumlah pelanggan
Air yang terjual/diproduksi untuk Pelanggan:
Pelanggan industri (M3)
Pelanggan rumah tangga (M3)
Pelanggan sosial (M3)
Jumlah air yang dijual
Return on invesment ditetapkan

5.000
25.000
1.000
31.000
100.000.000
250.000.000
500.000
350.500.000
10%/th

Kebijakan harga tidak diperkenankan untuk memberi subsidi pada pelanggan,


minimum setiap kelompok pelanggan harus memberikan kontribusi laba pada
perusahaan. Tugas Saudara mengkaji harga jual per M 3 air pada masing masing
kelompok pelanggan.?

53

Manajemen Biaya by Wahyudiono

54