Anda di halaman 1dari 40

Contoh: Pemasangan Semboyan 2 Tanda Pembatas

Kecepatan.
(Kereta api berjalan dengan kecepatan tidak melebihi batas
V normal
kecepatan yang ditunjukkan).

V normal

V 60 Km/jam

Bagian jalan yang


dilindungi

Tanda Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan
Panjang rangkaian
KA m
300

2
100 m

600 m
700 m

6
Pembatas Kecepatan lebih dari 40 k/jam,
jaraknya = 100 m.
Pembatas Kecepatan antara 20 km/jam sampai
40 km/jam, jaraknya = 300 m.
Pembatas Kecepatan antara 5 km/jam sampai 20
km/jam, jaraknya = 400 m

Semboyan 2 pada Malam


Hari
Seperti siang hari
memantulkan cahaya

Contoh: Pemasangan Semboyan 2A Isyarat Berjalan Hatihati, di jalan lurus.


(kereta
api berjalan hati-hati dengan kecepatan tidak Vmelebihi
V normal
normal
40 km/jam).
V 40 Km/jam

Tanda
Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan
Panjang rangkaian
KA m
300

Bagian jalan yang


dilindungi

2A

atau

100 m

a.

600 m

b.

Seperti siang hari


memantulkan cahaya

Semboyan 2A pada
Malam Hari

Contoh: Pemasangan Semboyan 2B Isyarat Berjalan


Hati-hati di jalan lurus.
(kereta api berjalan hati-hati dengan kecepatan tidak
melebihi 20 km/jam)
V normal
V normal
V 40 Km/jam

V 20 Km/jam

Tanda
Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan

Bagian jalan yang


dilindungi

Panjang
rangkaian KA

300 m

atau
2
B

100 m

a. b.

atau
2
A
200 m

600 m

a. b. Seperti siang hari


memantulkan cahaya

Semboyan 2A dan 2B
pada Malam Hari

Contoh: Pemasangan Semboyan 2C Isyarat Berjalan Hatihati, di jalan lurus Yang belum diwartakan:
(kereta api berjalan hati-hati dengan kecepatan tidak melebihi 5
km/jam).
V normal

V 5 Km/jam

atau

Tanda
Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan

Bagian jalan yang


dilindungi

1100 m

a.
Semboyan 2C
malam hari
sama dengan
Semboyan 3
pada Malam
Hari

600 m

500 m

300 m

Panjang
rangkaian KA

b.

c.
Seperti siang hari
memantulkan cahaya

Semboyan 3 pada
Malam Hari, Lentera
atau nyala api yang
tidak merah digerakgerakkan cepat ke kanan

Contoh: Pemasangan Semboyan 2 C Isyarat Berjalan Hati-hati di


jalan lurus
V normal
Yang telah diwartakan:
(kereta api berjalan hati-hati dengan kecepatan tidak melebihi 5 km/jam).
V 40 Km/jam

V 20 Km/jam
V 5 Km/jam
Dari sumbu
sepur

Tanda
Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan

V normal

atau
2
C

300 m

a.

100 m 100 m

b.

c.

Semboyan 2C Malam
Hari sama dengan
Semboyan 3

atau

atau
2
B

Bagian jalan yang


dilindungi

Panjang
rangkaian KA

2,35
m

2
A
200 m
1000 m

a. b.

600 m

a. b.

Semboyan 2A dan 2B
pada Malam Hari

Seperti
siang hari
memantulka
n cahaya

2,2 m
Dari
kop
rel

Contoh: Pemasangan Semboyan


Isyarat Berhenti, di jalan lurus.

V normal

(kereta api harus berhenti).


V 0 Km/jam = (KA
berhenti!!!)

atau

atau

Bagian jalan yang


tidak boleh dilalui

600 m

500 m
1100 m

a.

b.

c.
Semboyan 3 pada Malam
Hari,
Seperti siang hari
memantulkan cahaya

Semboyan 3 pada
Semboyan 3
Malam Hari, Lentera
pada Malam atau nyala api yang
Hari
tidak merah digerakgerakkan cepat ke kanan

V normal

Contoh: Pemasangan Semboyan 3 Isyarat


Berhenti, di jalan lurus, apabila Semboyan V
3 yang didahului Semboyan 2B dan 2A.

40 Km/jam

(Kereta api harus berhenti)


V 20 Km/jam
V 0 Km/jam = (KA
berhenti!!!)

atau
atau

atau
2
B

Bagian jalan yang


tidak boleh dilalui

100 m

200 m

atau
2
A
200 m

600 m

1100 m

a.

b.

c.

a. b.

a. b.

Seperti siang hari


Sepert
memantulkan
i siang
cahaya
hari
mema
n
tulkan
cahay
Semboyan 3 pada a
Semboyan 2A dan 2B pada Malam Hari

Semboyan 3
Malam Hari, Lentera
pada Malam atau nyala api yang
Hari
tidak merah digerak-

gerakkan cepat ke kanan

h
m pa
as nd
in a
is n g
an

D
ae
ra

Pohon

Bagian jalan yang


dilindungi

2B

100 m

2A

Pohon
is
n
i
as
m
m n
0
g ho
60
n
o
da g p
n
pa lan
k
a rha
r
Ja Te

2C
m
100

20

0m

00
0
1
m

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada Jalan


lengkung.
Semboyan 2 A tidak dapat dilihat Masinis
pada jarak pandang 300 m, karena terhalang

D
ae
ra
h
m pa
as nd
in a
is n g
a

Bagian jalan yang


dilindungi

2B

100 m

2A

Pohon

2C
m
100

20

0m

Pohon

0
60

ra
Ja

an
d
n
pa

i
in
s
a
m

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada Jalan


lengkung.
Semboyan 2 A digeser maju ke depan dan
ditempatkan di sebelah kiri jalan sehingga
sehingga Masinis dapat melihat dari jarak

a
h
m pa
as nd
in a
is ng

D
ae
ra

Bagian jalan yang


dilindungi

2B

2A

2C
100 m
m
100

Pohon
20

0m

Pohon

0
60

ak
r
Ja

an
d
an

is
n
i
as
m

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada Jalan


lengkung
Setelah semboyan 2 A digeser maju ke
depan dan diperlihatkan di sebelah kiri jalan
ternyata tidak dapat dilihat oleh Masinis

a
h
m pa
as nd
in a
is ng

D
ae
ra

Bagian jalan yang


dilindungi

Poho
n

2B

2C
100 m
m
0
10

2A Poho

0m
20

0
60

ak ng
r
Ja da s
n ini
a
p as
m

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada


Jalan lengkung.
Semboyan 2 A digeser ke muka sehingga
dapat dilihat oleh masinis dari jarak
padang 600 m.

V normal

V normal

Pemasangan
Semboyan 2C pada
siang hari menurut
V 40 Km/jam
R3:
V 20 Km/jam
V 5 Km/jam

Tanda Akhiran

atau
Bagian jalan yang
2
dilindungi

2
B

100 m 100 m
Panjang
rangkaian KA

atau
2
A
200 m

300 m

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada jalan turun 10


atau lebih
(Jarak pemasangan semboyan harus ditambah 25 %).

Tanda n
abisa
Pengh san
ata
Pemb
atan
Kecep

ng2 C
lan ya
ja
n
ia
Bag
ngi
dilindu

300
anjang
Pm

atau
2
A

atau
2
B

750 m

250 m

125 m
125 m

ian KA
rangka

Tanda
Penghabisan
Pembatasan
Kecepatan

2C

Bagian jalan
yang dilindungi

300
m
Panjang

atau
2
B

100 m100 m

atau
2
A
200 m

600 m

rangkaian KA

Contoh: Pemasangan semboyan 2 C pada jalan datar dan


lurus.

Beban Gandar (Axle Load) (PD 10, Pasal 2, ayat b)


Beban Gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari suatu
gandar.
Untuk semua kelas jalan rel, beban gandar maksimum adalah 18
ton.
Sebagai contoh, kita mempunyai lok diesel elektrik seri CC 202
dengan Berat Siap = 108 ton. Lok CC 202 merupakan lok terberat
saat ini yang dimiliki PT. Kereta Api.
Jika dihitung berapa beban gandarnya:
Diketahui Berat Siap Lok CC 202 = 108 ton;
Jumlah Gandar : 6 buah;
Maka Beban Gandar = Berat Siap/Jumlah Gandar
= 108 ton/6 Gandar
= 18 ton.

Standar Jalan Rel (PD 10, Pasal 4)


a. Klasifikasi:
Daya angkut lintas, kecepatan maksimum, beban gandar
dan ketentuan-ketentuan lain untuk setiap kelas jalan,

Kel
as
jala
n

Daya angkut
lintas
(ton/tahun)

> 20.106

II

10.106
20.106

III

5.106
10.106

IV

2,5.106
5.106

Jenis
penamb
at

Teba
l
bala
s
atas
(cm)

Bah
u
bala
s
(cm)

Beton
600

EG

30

50

R. 54/R. 50

Beton/Kayu
600

EG

30

50

18

R. 54/R. 50/R.
42

Beton/Kayu/B
aja
600

EG

30

40

18

R. 54/R. 50/R.
42

Beton/Kayu/B
aja
600

EG / ET

25

40

V maks
(km/jam
)

P
maks
gand
ar
(ton)

120
110

Tipe rel

Jenis
bantalan
Jarak (as)

18

R. 60/R. 54

18

100

90

6
V Tabel<1,1
2,5.10
Kelas 80
jalan

Kayu/Baja

18 ET = R.
42
ET
25
35
rel.
Elastis
Tunggal;
600 EG = Elastis Ganda

Jenis Rel Menurut Panjangnya:


Menurut panjangnya dibedakan tiga jenis rel, yaitu:
1) Rel Standar adalah rel yang panjangnya 25 meter;
2) Rel Pendek adalah rel yang panjangnya maksimal 100
meter;
3) Rel Panjang adalah rel yang panjangnya tercantum
minimumnya pada tabel 3.4.

Jenis
Bantalan

Tipe rel
R. 42

R. 50

R. 54

R. 60

Bantalan
325 m 375 m 400 m 450 m
Kayu
200 m 225 m 250 m 275 m
Bantalan
Beton
Tabel 3.4. Panjang minimum rel panjang.
1).

Rel Standar;

Dalam peraturan terdahulu panjang rel standar adalah 17 meter.


Untuk mengurangi biaya pemasangan dan perawatan serta
meningkatkan kenyamanan penumpang, PJKA merubah
panjang rel standar menjadi 25 meter, sehingga jumlah
sambungan dapat dikurangi. Pada sepur panjang 1 km yang
semula memerlukan 59 x 4 pelat penyambung, dengan
perubahan ini menjadi panjang 1 km hanya memerlukan 40 x
4 pelat penyambung, yang berarti penghematan sebesar 32
%. Selain itu pengurangan jumlah sambungan ini juga akan
meningkatkan kenyamanan perjalanan. Karena Vibrasi kereta
biasanya meningkat pada saat roda melewati sambungan rel.

2).

Rel Pendek;
Rel Pendek dibuat dari beberapa rel standar yang
dihubungkan dengan las dan dikerjakan di balai yasa/depot.
Pengelasan dilakukan dengan proses Flash Welding.
Batasan panjang untuk pengelasan di balai yasa/depot
adalah kemudahan pengangkutan ke lapangan.
Di negara lain rel pendek ini dinamakan welded rails.

3).

Rel Panjang;
Rel Panjang dibuat dari beberapa rel pendek yang
dihubungkan dengan las dilapangan. Pengelasan ini di
lakukan dengan proses alumino-thermic welding.

b. Daya Angkut Lintas.


Daya angkut lintas adalah jumlah angkutan anggapan yang
melewati suatu lintas dalam jangka waktu satu tahun.
Daya angkut lintas mencerminkan jenis serta jumlah beban total
dan kecepatan kereta api yang lewat di lintas yang bersangkutan.
Daya angkut disebut daya angkut T dengan satuan ton/tahun.

Ruang Bebas dan Ruang Bangun (PD 10, pasal 5)


Ruang bebas adalah ruang di atas sepur yang senantiasa harus bebas dari
segala rintangan dan benda penghalang; ruang ini disediakan untuk lalu
lintas rangkaian kereta api.
Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik pada bagian
lintas yang lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan
nonelektrifikasi, adalah seperti yang tertera pada gambar 1.1, gambar 1.2,
gambar 1.3 dan gambar 1.4.
Ukuran-ukuran tersebut telah memperhatikan dipergunakannya gerbong
kontener/peti kemas ISO (Iso Container Size) tipe Standard Height.
Ruang bangun adalah ruang disisi sepur yang senantiasa harus bebas dari
segala bangunan tetap seperti antara lain tiang semboyan, tiang listrik dan
pagar.
Batas ruang bangun diukur dari sumbu sepur pada tinggi 1 meter sampai 3,55
meter.
Jarak ruang bangun tersebut ditetapkan sebagai berikut:
a. Pada lintas bebas :
b. Pada emplasemen:
c. Pada jembatan
:

2.35 m sampai 2,53 m di kiri kanan sumbu sepur.


1,95 m sampai 2,35 m di kiri kanan sumbu sepur.
2,15 m di kiri kanan sumbu sepur.

Batas I
Batas II

Untuk jembatan dengan kecepatan sampai 60 km/jam


Untuk viaduk dan terowongan dengan kecepatan sampai 60
km/jam dan untuk jembatan tanpa pembatasan kecepatan.
Batas III
Untuk viaduk baru dan bangunan lama kecuali terowongan
dan jembatan.
Batas IV
Untuk lintas kereta listrik ( hubungannya dengan Panthograp
KRL )
Gambar 1.1. Ruang Bebas pada bagian
lurus

Gambar 1.2. Ruang Bebas pada


lengkungan

Gambar 1.3. Ruang Bebas pada jalur lurus


untuk jalur ganda

Gambar 1.4. Ruang Bebas pada lengkungan


untuk jalur ganda

MATERI PELATIHAN
TEKNIKAL NON FOR TEKNIKAL
TENTANG OPERASI KERETA API
SINYAL ADALAH SUATU SEMBOYAN TETAP YANG
BERUPA ALAT ATAU PERANGKAT YANG DIGUNAKAN
UNTUK
MENYAMPAIKAN
PERINTAH
MENGENAI
PENGATURAN
PERJALANAN
KERETA
API
DAN
LANGSIRAN DENGAN BENTUK DAN ATAU WARNANYA.
Definisi Semboyan:
Semboyan adalah suatu benda atau suara yang
mempunyai arti atau maksud menurut bunyi, wujud
dan warnanya, tetapi tidak menurut tulisan atau
angka yang dapat terbaca pada benda itu.
Macam macam Persinyalan:
1. Mekanik (Semaphore) kadang disebut sinyal
lengan;
2. Listrik ( Sinyal NX = eNtrance eXit);
3. Elektrik: SSI, VPI, WESTRACE, ANSALDO GENESIS,
dsb.

Macam-macam sistem pengucilan (Interlocking) pada


persinyalan:
1. Interlocking Mekanik;
2. Interlocking Relay;
3. Interlocking Elektronik (Micro Processor).
Sistem Blok Otomatik pada sistem persinyalan
elektrik terdiri dari:
4. Sistem Blok Otomatik Tertutup;
Ciri-cirinya:
Sinyal Masuk, Sinyal Keluar dan Sinyal Blok Antara
normal aspeknya MERAH;
(Perubahan Aspek dari ketiga sinyal diatas dari
Merah ke Hijau atau Kuning, tergantung terhadap
pembentukan rute yang dilakukan Ppka).
2. Sistem Blok Otomatik Terbuka:
Ciri-cirinya:
Sinyal Masuk, Sinyal Keluar dan
Sinyal Blok
Otomatik normal aspeknya HIJAU
(Perubahan Aspek dari Hijau ke Merah sangat
dipengaruhi oleh pergerakan Kereta Api artinya; Jika
sinyal yang semula beraspek hijau telah dilewati Ka
maka akan berubah aspek secara otomatik menjadi

Sistem pendeteksi indikator keberadaan kereta api (bakal


pelanting) terdiri dari:
1. AXLE COUNTER
(PENGHITUNG GANDAR), yang pada
umumnya digunakan pada sistem persinyalan listrik dengan
sistem blok otomatik Tertutup;
Cara Kerja axle counter:
Axle Counter

Arah
KA
B
Axle Counter

Menggunakan alat sensor penghitung dengan menggunakan


medan magnit, sehingga setiap roda atau gandar Ka yang
lewat akan memotong lintasan medan magnit dan mulai
menghitung berapa jumlah gandar yang masuk?!
Misalnya: Rangkaian Ka terdiri dari Lok CC 203+8 Kereta
K1+1 Kereta BP+1 Kereta Makan . Jumlah Gandarnya= 6 + (8
x 4) + 4 + 4 = + 46 Gandar yang masuk. Terbaca di Axle
Counter A. Selanjutnya Jumlah Gandar 46 yang keluar dari
Axle Counter B akan terbaca - 46 artinnya: Petak Jalan A-B
dinyatakan CLEAR
atau AMAN atau PETAK JALAN
KOSONG (AMAN) bila (+ 46 46 = 0 ), sebaliknya bila (+
46 42 = +4) artinya Petak Jalan A-B NOT CLEAR atau

2. TRACK CIRCUIT pada umumnya digunakan pada lintas


dengan sistem persinyalan listrik dengan sistem blok otomatik
Terbuka;
Cara kerjanya:
Terdapat arus listrik yang mengalir disepanjang rel kiri dan
kanan.
Bila kedua rel tersebut terhubung singkat oleh injakan
roda/gandar kereta api, maka indikator keberadaan kereta
api (bakal pelanting) akan terlihat merah pada meja
pelayanan Ppka dan bila Ka telah melewati Sinyal Utama
yang semula aspek sinyalnya Hijau akan berubah menjadi
Merah.
Sesuai dengan R19/I, bahwa Perjalanan Kereta Api dibagi
menjadi:
I.
II.

Perjalanan Kereta api NORMAL;


Perjalanan Kereta api TIDAK NORMAL.

Ciri-ciri Perjalanan Kereta api NORMAL:


. Perjalanan Ka sesuai dengan Grafik Perjalanan Kereta api;
. Perjalanan Ka datang dan berangkat tepat waktu;
. Sistem Persinyalan Normal;
. Indikator Blok Normal;
. Tidak terjadi Gangguan baik Sarana dan atau Prasarana;

Ciri-ciri Perjalanan Kereta api TIDAK NORMAL:


Perjalanan Ka menyimpang dari GAPEKA;
Perjalanan Ka yang datang maupun berangkat mengalami
kelambatan;
(Ingat: Kelambatan Ka lebih dari 10 menit termasuk dalam
Peristiwa Luar Biasa (PL) menurut R. 23).
Terjadi gangguan pada sistem blok antar setasiun;
Indikator Blok Tidak Normal
Terjadi gangguan baik Sarana dan atau Prasarana;
Terdapat Rintang Jalan (RINJA)
Dalam sistem persinyalan listrik blok otomatik
jabotabek, jenis Hubungan Blok dibagi menjadi:
Hubungan Blok Normal;
Hubungan Blok Pengganti;
Hubungan Blok Sementara.

di

wilayah

Penggunaan Hubngan Blok diatas sangat dipengaruhi oleh situasi


dan kondisi perjalanan Ka pada saat itu:
Misal: Ketika Ppka akan memberangkatkan Ka di lintas sepur
tunggal, tiba-tiba sinyal keluar mengalami gangguan antara
lain tidak dapat menunjukan indikasi AMAN, dan sinyal
daruratnyapun tidak dapat menunjukan indikasi AMAN
atau BOLEH JALAN.

Maka langkah berikutnya:


Ppka harus mencari dan mengetahui apa penyebab terjadinya
gangguan! Misalnya: Terjadi gangguan pada Sistem Hubungan Blok,
ditandai Indikator Blok tidak Normal. Bila tidak dapat diatasi maka
langkah-langkah berikut:
Ppka Lapor ke PK/OC, Koordinasi dengan Setasiun Sebelah;
menginformasikan bahwa Hubungan Blok TERGANGGU, dan
bersepakat untuk merubah Hubungan Blok Normal dengan
Hubungan Blok Pengganti;
Bila telah ditetapkan Hubungan Blok Pengganti maka:
Pemberitahuan kepada para penumpang;
Koordinasi dan informasi dengan KP (Kondektur Pemimpin) dan
Masinis;
Melaksanakan Sistem Telekomunikasi Tanya dan Jawab Tentang
Keamanan Perjalanan Ka yakni Warta Ka sesuai dengan
Peraturan R 19/I.
Dengan diberlakukannya Warta KA secara otomatis Petak Blok
tidak berlaku dan berubah menjadi Petak Jalan.
Langkah Pelayanan Meja dengan Sisitem Manual yakni:
Arahkan Wesel-wesel ke arah yang benar sesuai arah KA, dengan
tombol TKW dan selannjutnya Wesel di Kancing dengan tombol
TKGW.
Setelah itu Ka diberangkatkan dengan Semboyan Tangan Penggati,
setelah mendapat Warta AMAN terlebih dahulu dari setasiun
sebelahnya.