Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Faktor
predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa
jenis makan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan
tonsillitis akut yang tidak adekuat. Gejalanya adalah tampak tonsil membesar dengan permukaan
tidak rata, kriptus melebar dan beberapa terisi detritus. Pasien rmengeluh ada rasa mengganjal di
tenggorokan, kering, napas berbau, dan demam.
Indikasi dari dilakukannya tonsilektomi adalah diantara lain; 1) serangan >3x per tahun 2)
menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial 3) sumbatan
jalan napas 4) rhinitis dan sinusitis kronis, dan lain sebagainya.
Teknik anestesia yang digunakan pada pembedahan jenis ini adalah general anestesi. Teknik
anestesi ini biasa digunakan pada pembedahan THT dan pembedahan lainnya seperti bedah pada
ekstremitas atas, bedah pada pasien anak atau pasien yang menolak dilakukan pembedahan
spinal. Teknik anestesi ini melumpuhkan seluruh tubuh manusia dan menyebabkan hilangnya
kesadaran.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, kami penulis merasa tatalaksana
anestesi pada section caesaria penting untuk dibahas dalam suatu kajian ilmiah dalam bentuk
laporan kasus.

BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. Atika Reza

Umur

: 19 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Link Sambirata 5/3, Kec. Cibeber, Cilegon

Pekerjaan

: BLU

Agama

: Islam

Status

: Kawin

Tanggal Masuk

: 09 November 2015

B. ANAMNESIS
Pasien datang ke RSUD Cilegon dengan keluhan nyeri menelan sejak 2 minggu terakhir.
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 9 November 2015, di
Ruang Bougenville RSUD Cilegon. Pasien merupakan pasien bagian THT dengan diagnosis
tonsillitis kronik.
-

Keluhan utama
Os datang dengan keluhan nyeri menelan sejak 2 minggu terakhir
Riwayat Penyakit Sekarang
Os mengeluh nyeri tenggorokan dan batuk berdahak. Keluhan demam, mual dan muntah
disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Os sering mengalami demam & pilek sejak kecil. Os mengaku memiliki riwayat alergi
makanan laut. Riwayat hipertensi, DM, asma dan TB disangkal.
Riwayat Pengobatan
Sebelumnya os sudah berobat ke RSUD dan diberikan terapi antibiotik, setelah itu os
direncakan untuk dioperasi.

C. PEMERIKSAAN FISIK
2

Dilakukan pemeriksaan Fisik pada tanggal 9 November 2015


1. Keadaan Umum
a. Kesan Sakit : Tampak sakit Sedang
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Berat Badan: 70 Kg
2. Tanda-Tanda Vital
a. Tekanan Darah
: 110/60 mmHg
b. Nadi
: 84 X/mnt
c. Respirasi
: 22 x/mnt
d. Suhu
: 36,5 C
3. Status Generalis
A. Kepala
i. Rambut
: rambut berwarna hitam, distribusi merata
ii. Kepala
normocephali, tidak ada deformitas
iii. Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
iv. Telinga
: tidak hiperemis, tidak oedem, tidka ada nyeri tekan atau
tarik, tidak ada sekret yang keluar dari telinga
v. Hidung
: tampak simetris, tidak tampak deformitas,
vi. Mulut
: bibir tidak sianosis dan tidak kering, tidak ada trismus
vii. Tenggorokan
: mukosa bibir basah, stomatitis (-), tonsil T3-T3, arcus
palatofaringeus dan arcus palatoglossus hiperemis (+),
detritus (-/-), uvula deviasi (-)
vii. gigi
: tidak ada karies, tidak menggunakan gigi palsu, gigi tidak
ada yang goyang
B. Leher
Tidak teraba massa, trakea terletak di tengah
C. Thoraks
i. Pulmo
1. Inspeksi
: bentuk dada simetris, dan gerak hemitoraks kanan kiri simetris dalam
kondisi dinamis dan statis.
2. palpasi
: Vocal fremitus teraba simetris di kedua hemithoraks, pergerakan dinding
dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi
3. perkusi
: sonor diseluruh lapang paru
4. Auskultasi : suara napas vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing.
ii. cor
1. inspeksi
2. palpasi
3. perkusi

: ictus cordis tidak terlihat


: teraba ictus cordis pada sela iga ke 5 pada linea midclavicularis sinistra
: batas atas kiri sela iga ke 2 line parasternalis sinistra, batas atas kanan
jantung sela iga ke 2 pada linea sternalis dextra, batas kiri jantung sela iga
ke 5 linea midclavicularis sinisra.
4. auskultasi : bunyi jantung I dan II reguler, tidak terdengan bunyi jantung tambahan,
gallop (-), murmur(-)
D. Abdomen
3

1. Inspeksi

: Datar, simetris, kelainan kulit (-)

2. Perkusi
3. Auskultasi
4. Palpasi

: Timpani pada lapang abdomen


: Bising usus (+) normal pada lapang abdomen
: Hepar,lien tidak teraba massa, ballotement ginjal (-), VU teraba
lunak

E. Ekstremitas
I. superior
: sianosis(-), edem (-), ikterik (-), tidak ada deformitas, akral teraba hangat
ii. inferior
: sianosis (-), edem (-), ikterik(-), tidak ada deformitas, akral teraba hangat
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lab darah
Jenis Pemeriksaan

Nilai Pasien

Gula darah sewaktu


Hemoglobin
Leukosit

107
15,1 g/dl
6,27/uL

Hematokrit
Trombosit

46,3%
327.000/uL

LED
Masa pembekuan
Masa perdarahan
Golongan darah/rhesus
HbsAg
Anti HIV

5 mm/jam
10 menit
2 menit
B rh+
Non reaktif
Non reaktif

Nilai
normal
<200 mg/dl
12-16 g/dl
500010.000
37-43 %
150-450rb
uL
< 15
5-15 menit
1-6 menit

Keterangan
Normal
Normal
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Normal
Normal

E. KESAN ANESTESI
Pasien seorang perempuan berusia 19 tahun dengan diagnosis kerja tonsillitis kronis.
Dengan ASA I pasien penyakit bedah tanpa disertai dengan penyakit sistemik.

F. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka
diagnosis preoperatif: tonsilitis kronis. Diagnosis anastesi ASA I. Jenis operasi tonsilektomi.
Jenis anaestesia general anesthesia.

BAB III
LAPORAN ANESTESI

A. Preoperatif
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Informed consent mengenai rencana tindakan section caesaria dengan regional anesthesia
Melakukan Rontgen
Pemasangan infus Ringer Laktat 500cc, mengalir lancar
Skin test Cefotaxime dan injeksi Cefotaxime 1gr
Pengambilan sampel darah
Konsultasi dokter spesialis THT
Keadaan umum tampak lemah
Kesadaran Compos Mentis
Tanda Vital
a. TD
: 120/70
b. Nadi : 90x/menit
c. RR
: 24x/menit
d. Suhu : 36,5C

B. Premedikasi Anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan anti-emetik berupa Ondansetron 4mg
secara bolus IV.
C. Tindakan Anestesi
Pasien diposisikan dalam posisi berbaring, setelah itu dilakukan penyuntikan obat
anestesi pada infus, penyuntikan dilakukan menggunakan jarum 5cc berupa fentanyl sebanyak
150 g, propofol 150 mg, dan noveron 20 mg. Fentanyl bekerja sebagai analgesi, propofol untuk
sedasi dan noveron sebagai pelumpuh otot sehingga ketiga obat tersebut melengkapi trias
anestesi.
Setelah menunggu beberapa saat sampai pasien tidak sadar, dilakukan tindakan maneuver
triple jalan napas yang terdiri dari; 1) kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital 2) mandibula
didorong kedepan pada kedua angulus mandibula 3) mulut dibuka. Dengan maneuver ini
diharapkan lidah terangkat dan jalan napas bebas, sehingga gas atau udara lancar masuk trakea
lewat hidung ataupun mulut.
Selanjutnya dilakukan pemasangan face mask dan dialirkan udara O2 2L, N2O 2L dan
Isoflurane 2 vol% sampai saturasi mencapai angka 100. Kemudian dengan menggunakan
nasotracheal tube yang ukurannya telah disesuaikan dan dioleskan xylocain gel, dimasukkan ke
dalam lubang hidung yang paten dengan cuff yang masih kempes secara perlahan, setelah
tubennya melewati nasofaring lihat menggunakan laryngoscope kemudian jepit dengan
menggunakan forceps, terus dimasukkan hingga batas hitam, cek dengan menggunakan
stetoskop, jika pada auskultasi sudah terdengar sama antar paru kanan dan kiri maka isi udara
dalam cuff dengan menggunakan spuit.

Segera setelah itu NTT dihubungkan dengan ventilator untuk mempertahankan respirasi
pasien dan mulai dilakukan bagging 5 detik sekali dengan volume tidal 6-8 ml/kgBB yaitu
sekitar 420 ml (BB=70kg). Bagging dilakukan hingga pasien melakukan pernapasan spontan.
D. Pemantauan selama tindakan anestesi
Pemantauan keadaan pasien terhadap tindakan anestesi dilakukan mulai dari masuknya
pasien ke kamar operasi sampai tindakan operasi selesai. Pemantauan dilakukan terhadap fungsi
kardiovaskuler, fungsi respirasi dan pemberian carain. Pemantauan fungsi kardiovaskuler
dilakukan terhadap tekanan darah dan frekuensi nadi, pemantuan fungsi respirasi dilakukan
terhadap inspeksi pernapasan spontan dan saturasi oksigen, kedua pemantuan itu dilakukan
setiap 5 menit selama tindakan berlangsung.
Lampiran Monitoring tindakan operasi
Jam
12.1
5

12.2
0
12.2
5
12.3
0
12.3
5
12.4
0
12.4
5
12.5
0

Tindakan
Pasien masuk kamar operasi, dibaringkan
di meja operasi, dilakukan pemasangan
manset di lengan kiri atas, dan diberikan
ondansetron 4mg secara bolus pada iv
line
Dilakukan anestesi umum

Tekanan Darah
100/86

Nadi
74

Saturasi
98

90/60

80

99

96/72

75

99

96/70

82

99

100/71

87

99

Diberikan Plasminex 500 mg

99/74

85

99

Diberikan Tramadol 100 mg drip

100/80

93

99

Diberikan Pronalges supp

100/86

91

99

Operasi Dimulai

E. Laporan Anestesi
1. Diagnosis Pra Bedah
Tonsilitis Kronik
2. Diagnosis Pasca Bedah
Post operasi Tonsilectomy
3. Penatalaksanaan Preoperasi
7

Infus RL 500 cc
4. Penatalaksanaan Anestesi
a. Jenis pembedahan
: Tonsilectomy
b. Jenis anestesi
: Anestesi Regional
c. Teknik anestesi
: GA
d. Mulai Anestesi
: pukul 12.15 WIB
e. Mulai Operasi
: pukul 12.50 WIB
f. Premedikasi
: Ondansetron 4 mg
g. Medikasi
: Fentanyl 150 g, Propofol 150 mg, Noveron 20 mg
h. Medikasi Tambahan : Plasminex 500 mg, Tramadol 100 mg drip, Pronalges
Supp 100mg
i. Respirasi
: pernapasan spontan dan terpasang O2 3lpm, N2O 2L,
Isoflurane 1 vol%
j. Cairan Durante operasi: RL 500cc
k. Tensi dan HR
: terlampir
l. Selesai Operasi
: pukul 12.50 WIB
F. Post Operatif
1. Pasien masuk ke dalam ruang pemulihan pada pukul .
Keluhan: mual (-), muntah (-), sesak (-), pusing (-), nyeri (-)
2. Keadaan umum
: tampak lemah
3. Kesadaran
: compos mentis
4. Tanda vital
:
1. Tensi
: 100/75
2. Nadi
: 84x/menit
3. RR
: 21x/menit
4. Saturasi oksigen
: 99
5. Pemeriksaan fisik
:
1. Warna kulit kemerahan, jalan napas paten, napas spontan, akral dingin.
2. Penilaian respon motoric pasca anestesi dengan menggunakan skor Aldrette
GERAKAN
Dapat menggerakan ke 4 ekstremitasnya sendiri
atau dengan perintah
Dapat menggerakkan ke 2 ekstremitasnya sendiri atau
dengan perintah
Tidak dapat menggerakkan ekstremitasnya sendiri
atau dengan perintah

SKOR
2

PERNAPASAN
Bernapas dalam dan kuat serta batuk

Bernapas berat atau dispnu

1
0

Apnu atau napas dibantu

TEKANAN DARAH

SKOR

Sama dengan nilai awal + 20%

Berbeda lebih dari 20-50% dari nilai awal

Berbeda lebih dari 50% dari nilai awal

KESADARAN

SKOR

Sadar penuh

Tidak sadar, ada reaksi terhadap rangsangan

Tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan

WARNA KULIT

SKOR

Merah

Pucat , ikterus, dan lain-lain

Sianosis

Pasien sudah memenuhi criteria Aldrette sehingga pasien dipindahkan ke bangsal.

BAB IV
ANALISIS KASUS

Nn. A 19 tahun datang ke kamar operasi pada pukul 12.20 WIB untuk menjalani operasi
tonsilektomi yang direncanakan pada tanggal 9 November 2015 pada pukul 12.30 WIB. Pasien
dilakukan anestesi dengan menggunakan General Anestesi dengan teknik anestesi nafas kendali
dengan menggunakan NTT (nasotracheal tube). Teknik anestesi umum dipilih karena lokasi
9

operasi yang berada di daerah wajah dan rongga mulut yang akan memudahkan operator dalam
menjalankan operasi dan merupakan indikasi dari NTT, sedangkan teknik airway yang dipilih
adalah

dengan menggunakan naso tracheal tube dikarenakan operasi dilakukan di bagian

tenggorokan sehingga tidak dimungkinkan untuk menggunakan teknik lainnya yang melalui
mulut . Pasien datang dengan kondisi sakit ringan, kesadaran compos mentis, Status fisik ASA I.
Pasien tersebut digolongkan kedalam status fisik ASA I karena dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tidak ditemukan hasil yang abnormal.
Pasien dimasukan ke ruang operasi pada pukul 12.20 WIB. Pasien diposisikan dimeja
operasi dalam posisi terlentang, dengan leher diekstensikan di atas meja operasi. Kemudian
pasien dilakukan pemasangan alat-alat anestesi seperti tensimeter, pulse oksimetri, oksigen
(3L/menit) dan pada pasien ini telah dilakukan pemasangan IV line dengan infus cairan Ringer
Laktat. Keadaan umum pasien sebelum operasi, kesadaran compos mentis, dengan tekanan darah
120/70 mmHg, nadi 90 x/menit, saturasi 99% dan mempunyai berat badan 70 kg.
Sebelum Anestesi dimulai dilakukan pemeriksaan mesin anestesi, alat intubasi dan obatobat anestesi. Pasien diberikan premedikasi pada pukul 11.23 WIB dengan menggunakan
ondansetron 4 mg, kemudian pasien mulai dilakukan induksi intravena dengan menggunakan
Fentanyl 150 g, Propofol 150mg dan Noveron 20 mg. Setelah otot pasien lemas, pasien
dilakukan pemasangan NTT.
Obat rumatan inhalasi menggunakan isofluran 2% diinduksi melalui face mask.
Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa anestesi yang ideal akan bekerja secara cepat dan
dapat mengembalikan kesadaran dengan segera setelah pemberian dihentikan serta mempunyai
batas keamanan yang cukup besar dan efek samping minimal. Hal ini tidak dapat dicapai bila
diberikan secara tunggal. Oleh karena itu perlu anestesi dalam bentuk kombinasi. Umumnya obat
anestesi umum diberikan secara intravena dan inhalasi.
Pasien diberikan obat premedikasi yaitu Ondansetron 4 mg secara bolus IV, yang
bertujuan agar pasien tidak mual dan muntah karena obat-obat anestesi dapat merangsang
muntah pada pasien. Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor Serotonin 5
Hydroxytriptamine (5HT3) selektif. 5HT3 merupakan zat yang akan dilepaskan jika terdapat
toksin dalam saluran cerna, berikatan dengan reseptornya dan akan merangsang saraf vagus
10

menyampaikan rengsangan ke CTZ (Chemoreseptor Trigger Zone) dan pusat muntah dan
kemudian terjadi mual muntah.
Fentanyl bekerja sebagai analgesi. Dosis induksinya 2 g/kgbb. Dosis induksinya
menyebabkan pasien hipotensi dan depresi pernapasan dengan durasi 30 menit.
Profopol bekerja sebagai sedasi atau hipnotik. Dosis induksi menyebabkan pasien tidak
sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disertai efek
analgesik. Pada pemberian dosis induksi (2 mg/kgBB) pemulihan berlangsung cepat.
Selama anestesi berlangsung pasien diberikan Plasminex 500 mg yang berisi asam
tranexamat untuk menghentikan perdarahan selama oprasi. Tramadol 100 mg juga diberikan
secara drip IV. Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol
mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghentikan
sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Di samping itu juga menghambat pelepasan
neurotransmiter dari saraf aferen yang bersifat sensitif terhadap rangsang, akibat impuls nyeri
terhambat.
Pronalges sup merupakan salah satu dari kelas asam propionate non steroid- anti
inflamasi drugs (NSAID) dengan efek analgesic dan antipiretik. Bertindak dengan menghambat
produksi prostaglandin tubuh. Efek samping berupa gangguan saluran pencernaan, sakit kepala,
mengantuk, pusing, vertigo, dan edema.

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA

PEMBAHASAN
ANESTESI UMUM

11

Definisi

Anestesi umum adalah suatu keadaan meniadakan nyeri secara sentral yang dihasilkan ketika
pasien diberikan obat-obatan untuk amnesia, analgesia, kelumpuhan otot, dan sedasi. Pada pasien
yang dilakukan anestesi dapat dianggap berada dalam keadaan ketidaksadaran yang terkontrol
dan reversibel. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentolerir tindakan pembedahan yang
dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan, yang berpotensi menyebabkan perubahan
fisiologis tubuh yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.
Komponen anestesi yang ideal terdiri dari: 1. Hipnotik, 2. Analgetik, 3. Relaksasi otot
Anestesi umum menggunakan cara melalui intravena dan secara inhalasi untuk
memungkinkan akses bedah yang memadai ke tempat dimana akan dilakukan operasi. Satu hal
yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik,
tergantung pada presentasi klinis pasien, anestesi lokal atau regional mungkin lebih tepat.
Metode pemberian anestesi umum dapat dulihat dari cara pemberian obat, terdapat 3 cara
pemberian obat pada anestesi umum:
1. Parenteral
Anestesi umum yang diberikan secara parentral baik intravena maupun intramuskuler
biasanya digunakan untuk tindakan operasi yang singkat atau untuk induksi anestesi.
Obat anestesi yang sering digunakan adalah:

Pentothal
Dipergunakan dalam larutan 2,5% atau 5% dengan dosis permulaan 4-6 mg/kg BB
danselanjutnya dapat ditambah sampai 1 gram.
Penggunaan:
-

Untuk induksi, selanjutnya diteruskan dengan inhalasi.

Operasi-operasi yang singkat seperti: curettage, reposisi, insisi abses.

Cara Pemberian:

12

Larutan 2,5% dimasukkan IV pelan-pelan 4-8 CC sampai penderita tidur,


pernapasan lambat dan dalam. Apabila penderita dicubit tidak bereaksi, operasi dapat
dimulai. Selanjutnya suntikan dapat ditambah secukupnya apabila perlu sampai 1 gram.
Kontra Indikasi:
1.Anak-anak di bawah 4 tahun
2.Shock , anemia, uremia dan penderita-penderita yang lemah
3.Gangguan pernafasan: asthma, sesak nafas, infeksi mulut dan saluran nafas
4.Penyakit jantung
5.Penyakit hati
6.Penderita yang terlalu gemuk sehingga sukar untuk menemukan vena yang baik.

Ketalar (Ketamine)
Diberikan IV atau IM berbentuk larutan 10 mg/cc dan 50 mg/cc.Dosis: IV 1-3
mg/kgBB,IM 8-13 mg/kgBB1-3 menit setelah penyuntikan operasi dapat dimulai.
Penggunaan:
1. Operasi-operasi yang singkat
2. Untuk indikasi penderita tekanan darah rendah
Kontra Indikasi:
Penyakit jantung, kelainan pembuluh darah otak dan hypertensi.
Oleh karena komplikasi utama dari anestesi secara parenteral adalah menekan
pusat pernafasan, maka kita harus siap dengan peralatan dan tindakan pernafasan buatan
terutama bila ada sianosis.

2. Perektal

13

Obat anestesi diserap lewat mukosa rectum kedalam darah dan selanjutnya sampai
ke otak. Dipergunakan untuk tindakan diagnostic (katerisasi jantung, roentgen foto,
pemeriksaanmata, telinga, oesophagoscopi, penyinaran dsb) terutama pada bayi-bayi dan
anak kecil. Juga dipakai sebagai induksi narkose dengan inhalasi pada bayi dan anakanak. Syaratnya adalah:
1.Rectum betul-betul kosong
2.Tak ada infeksi di dalam rectum. Lama narkose 20-30 menit.
Obat-obat yang digunakan:
- Pentothal 10% dosis 40 mg/kgBB
- Tribromentothal (avertin) 80 mg/kgBB
3. Perinhalasi
Obat anesthesia dihirup bersama udara pernafasan ke dalam paru-paru, masuk ke darah
dan sampai di jaringan otak mengakibatkan narkose.
Obat-obat yang dipakai:
1. Induksi halotan
Induksi halotan memerlukan gas pendorong O 2 atau campuran N2O dan O2.
Induksidimulai dengan aliran O2 > 4 ltr/mnt atau campuran N2O:O2 = 3:1. Aliran > 4
ltr/mnt.Kalau pasien batuk konsentrasi halotan diturunkan, untuk kemudian kalau
sudah tenang dinaikan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.

2. Induksi sevofluran
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk walaupun
langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol %. Seperti dengan
halotankonsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan.

14

3. Induksi dengan enfluran (ethran), isofluran ( foran, aeran ) atau desfluran jarang
dilakukan karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama.
Apabila obat anestesi inhalasi, dihirup bersama-sama udara inspirasi masuk ke dalam
saluran pernafasan, di dalam alveoli paru akan berdifusi masuk ke dalam sirkulasi darah.
Demikian pula yang disuntikkan secara intramuskuler, obat tersebut akan diabsorbsi masuk ke
dalam sirkulasi darah. Setelah masuk ke dalam sirkulasi darah obat tersebut akan menyebar
kedalam jaringan. Dengan sendirinya jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak atau organ
vital akan menerima obat lebih banyak dibandingkan jaringan yang pembuluh darahnya sedikit
seperti tulang atau jaringan lemak. Tergantung obatnya, di dalam jaringan sebagian akan
mengalami metabolisme, ada yang terjadi di hepar, ginjal atau jaringan lain.
Ekskresi bisa melalui ginjal, hepar, kulit atau paruparu. Ekskresi bisa dalam bentuk asli
atau hasil metabolismenya. N2O diekskresi dalam bentuk asli lewat paru. Faktor yang
mempengaruhi anestesi antara lain:
- Faktor respirasi (untuk obat inhalasi).
- Faktor sirkulasi
- Faktor jaringan.
- Faktor obat anestesi.
Faktor respirasi
Sesudah obat anestesi inhalasi sampai di alveoli, maka akan mencapai tekanan parsiel
tertentu, makin tinggi konsentrasi zat yang dihirup tekanan parsielnya makin tinggi. Perbedaan
tekanan parsiel zat anestesi dalam alveoli dan di dalam darah menyebabkan terjadinya difusi.
Bila tekanan di dalam alveoli lebih tinggi maka difusi terjadi dari alveoli ke dalam sirkulasi dan
sebaliknya difusi terjadi dari sirkulasi ke dalam alveoli bila tekanan parsiel di dalam alveoli lebih
rendah (keadaan ini terjadi bila pemberian obat anestesi dihentikan.
Makin tinggi perbedaan tekanan parsiel makin cepat terjadinya difusi. Proses difusi akan
terganggu bila terdapat penghalang antara alveoli dan sirkulasi darah misalnya pada udem paru

15

dan fibrosis paru. Pada keadaan ventilasi alveoler meningkat atau keadaan ventilasi yang
menurun misalnya pada depresi respirasi atau obstruksi respirasi.
Faktor sirkulasi
Aliran darah paru menentukan pengangkutan gas anestesi dari paru ke jaringan dan
sebaliknya. Pada gangguan pembuluh darah paru makin sedikit obat yang dapat diangkut
demikian juga pada keadaan cardiac output yang menurun.
Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam darah dan dalam
gas bila keduanya dalam keadaan keseimbangan. Bila kelarutan zat anestesi dalam darah
tinggi/BG koefisien tinggi maka obat yang berdifusi cepat larut di dalam darah, sebaliknya obat
dengan BG koefisien rendah, maka cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi darah,
akibatnya penderita mudah tertidur waktu induksi dan mudah bangun waktu anestesi diakhiri.
Faktor jaringan
Yang menentukan antara lain:
- Perbedaan tekanan parsiel obat anestesi di dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan.
- Kecepatan metabolisme obat.
- Aliran darah dalam jaringan.
- Tissue/blood partition coefisien
.Faktor zat anestesi
Tiap-tiap zat anestesi mempunyai potensi yang berbeda. Untuk mengukur potensi obat
anestesi inhalasi dikenal adanya MAC (minimal alveolar concentration). Menurut Merkel dan
Eger (1963), MAC adalah konsentrasi obat anestesi inhalasi minimal pada tekanan udara 1 atm
yang dapat mencegah gerakan otot skelet sebagai respon rangsang sakit supramaksimal pada
50% pasien. Makin rendah MAC makin tinggi potensi obat anestesi tersebut.

Persiapan Anestesia Umum:


Praktek anesesi yang aman dan efisien memerlukan personil bersertifikat, obat-obatan

dan peralatan yang tepat, serta keadaan pasien yang optimal.


16

Persyaratan minimum untuk anestesi umum


Kebutuhan infrastruktur minimum untuk anestesi umum termasuk ruang yang cukup
terang dengan ukuran yang memadai, sebuah sumber oksigen bertekanan (paling sering di
pipa); perangkat hisap yang efektif; monitor yang sesuai dengan standar ASA (American
Society of Anesthesiologist) , termasuk denyut jantung, tekanan darah, EKG, denyut nadi
oksimetri, kapnografi, suhu, dan konsentrasi oksigen terinspirasi dan dihembuskan dan zat
anestesi yang diaplikasikan.
Selain ini, beberapa peralatan dibutuhkan untuk memasukkan zat anestesi. Alat yang
sederhana seperti jarum dan jarum suntik, jika obat harus diberikan sepenuhnya intravena.
Dalam sebagian besar keadaan, ini berarti membutuhkan tersedianya sebuah mesin yang
memungkinkan untuk mengetahui pemasukkan gas dan memelihara anestesi tetap berjalan
Menyiapkan pasien
Kondisi pasien harus cukup dipersiapkan. Metode yang paling efisien adalah pasien
ditinjau oleh orang yang bertanggung jawab untuk memberikan anestesi dengan baik
sebelum tanggal operasi.
Evaluasi praoperasi memungkinkan pemantauan laboratorium yang tepat, perhatian
terhadap kondisi medis pasien yang terbaru atau yang sedang berlangsung, diskusi dari setiap
reaksi sebelumnya yang merugikan pribadi atau keluarga untuk anestesi umum, penilaian
status fungsional jantung dan paru, dan rencana anestesi yang efektif dan aman. Hal ini juga
berfungsi untuk meredakan kecemasan dari pembedahan yang tidak diketahui oleh pasien
dan keluarga mereka. Secara keseluruhan, proses ini memungkinkan untuk optimasi pasien
pada waktu perioperatif.
Pemeriksaan fisik yang terkait dengan evaluasi praoperasi memungkinkan pelaksana
anestesi untuk fokus secara khusus pada kondisi saluran napas yang diharapkan, termasuk
membuka mulut, gigi longgar atau bermasalah, keterbatasan dalam rentang gerak leher,
anatomi leher, dan presentasi Mallampati (lihat di bawah). Dengan menggabungkan semua
faktor, rencana yang sesuai untuk intubasi dapat diuraikan dan langkah tambahan, jika perlu,
dapat diambil untuk mempersiapkan bronkoskopi serat optik, laringoskopi video, atau
berbagai intervensi sulit terhadap saluran napas lainnya.
Manajemen jalan napas
Kesulitan yang mungkin dihadaapi dalam manajemen jalan napas, meliputi kondisi
dibawah ini:
Rahang yang kecil atau mundur
Gigi rahang atas yang menonjol
Leher yang pendek
17

Ekstensi leher terbatas


Pertumbuhan gigi yang buruk
Tumor di wajah, mulut, leher, atau tenggorokan
Trauma pada wajah
Fiksasi antar-gigi
Penggunaan cervical collar yang keras
Berbagai sistem penilaian telah dibuat menggunakan pengukuran orofacial untuk
memprediksi intubasi sulit. Yang paling banyak digunakan adalah skor Mallampati, yang
mengidentifikasi pasien dengan faring yang kurang jelas divisualisasikan melalui mulut
terbuka.
Penilaian Mallampati idealnya dilakukan saat pasien duduk dengan mulut terbuka dan
lidah yang menonjol tanpa phonating. Pada banyak pasien yang diintubasi karena indikasi
emergensi, jenis penilaian seperti ini tidak mungkin. Sebuah penilaian sederhana dapat
dilakukan pada pasien dalam posisi terlentang untuk mendapatkan gambaran dari ukuran
bukaan mulut dan perkiraan lidah dan orofaring sebagai faktor dalam keberhasilan intubasi
(lihat gambar di bawah)

Skor Mallampati yang tinggi telah terbukti menjadi prediksi intubasi sulit. Namun, tidak
ada sistem penilaian yang sensitive 100% atau spesifik 100% . Akibatnya, praktisi
mengandalkan beberapa kriteria dan pengalaman mereka untuk menilai jalan napas.
Pelaksana anestesi bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi
kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai kondisi pasien. Beberapa
pertimbangan dalam melakukan anestesi umum meliputi:

Keuntungan
-

Menurunkan kesadaran dan ingatan pasien selama operasi


18

Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama

Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi

Dapat digunakan dalam kasus-kasus yang sensitif terhadap zat anestesi local

Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang

Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur operasi dengan durasi waktu yang
tak dapat diprediksi atau pada keadaan penambahan waktu operasi

Dapat diberikan dengan cepat dan reversibel

Kekurangan
-

Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya yang terkait

Membutuhkan persiapan pasien praoperasi

Dapat menyebabkan fluktuasi perubahan fisiologis yang memerlukan intervensi


aktif

Terkait dengan komplikasi kurang serius seperti mual atau muntah, sakit
tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan dibutuhkan waktu dalam pengembalian
fungsi mental yang normal

Terkait dengan kondisi hipertermia yang gawat, sebuah kondisi yang jarang, terkait
dengan kondisi otot yang terkena paparan beberapa (tidak semua) zat anestesi
umum yang dapat menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan,
hiperkarbia, asidosis metabolik, dan hyperkalemia.

Cara memberikan anestesi


Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga
penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang waktunya pendek
mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi yang lama, kedalaman anestesi
perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu, hal ini
disebut maintenance atau pemeliharaan.
19

Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. Pada operasioperasi yang memerlukan relaksasi otot, bila relaksasinya kurang maka ahli bedah akan
mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik, untuk operasi yang membuka abdomen
maka usus akan bergerak dan menyembul keluar, operasi yang memerlukan penarikan
otot juga sukar dilakukan. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam,
sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah
dengan mendalamkan anestesi, yaitu dengan cara menambah dosis obat.
Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi yang
diberikan sedemikian tinggi, sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital. Dengan
demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita, lebih-lebih pada penderita yang
sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital sebelumnya. Untuk mengatasi
hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan,
yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik, analgesinya menggunakan analgetik
kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut
balance anestesi.
Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant, maka otot
mengalami relaksasi, jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan, termasuk
otot respirasi, jadi penderita tidak dapat bernafas. Karena itu harus dilakukan nafas
buatan (dipompa), tanpa dilakukan nafas buatan, penderita akan mengalami kematian,
karena hipoksia. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari pengendalian pelaksana
anestesi, karena itu balance anestesi juga disebut dengan tehnik respirasi kendali atau
control respiration.
Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi.
Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain:
- Dosis obatnya minimal, sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi. Polusi
kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi. Selesai operasi
penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh penderita
yang tidak sadar.

20

- Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan
hiperventilasi, untuk menurunkan kadar CO2 dalam darah sampai pada titik tertentu
misalnya pada operasi otak. Dengan hiperventilasi kita juga dapat menurunkan tekanan
darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi kendali.
- Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah tindakan operasi
pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh gerakan pernafasan. Kita juga
dapat mengembangkan dan mengempiskan paru dengan sekehendak kita tergantung
keperluan. Dengan demikian berdasar respirasinya, anestesi umum dibedakan dalam 3
macam yaitu:
- Respirasi spontan yaitu penderita bernafas sendiri secara spontan.
- Respirasi kendali/respirasi terkontrol /balance

anestesi: pernafasanpenderita

sepenuhnya tergantung bantuan kita.


- Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan sedikit
bantuan.
Berdasar sistim aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi, anestesi
dibedakan menjadi 4 sistem, yaitu : Open, semi open, closed, dan semi closed.
1. Sistem open adalah sistem yang paling sederhana. Di sini tidak ada hubungan
fisik secara langsung antara jalan napas penderita dengan alat anestesi. Karena itu
tidak menimbulkan peningkatan tahanan respirasi. Di sini udara ekspirasi babas
keluar menuju udara bebas. Kekurangan sistem ini adalah boros obat anestesi,
menimbulkan polusi obat anestesi di kamar operasi, bila memakai obat yang
mudah terbakar maka akan meningkatkan resiko terjadinya kebakaran di kamar
operasi, hilangnya kelembaban respirasi, kedalaman anestesi tidak stabil dan tidak
dapat dilakukan respirasi kendali.
2. Dalam system semi open alat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag selain
reservoir bag, ada pula yang masih ditambah dengan klep 1 arah, yang
mengarahkan udara ekspirasi keluar, klep ini disebut non rebreating valve. Dalam

21

sistem ini tingkat keborosan dan polusi kamar operasi lebih rendah dibanding
system open.
3. Dalam sistem semi closed, udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan
oksigen lebih sedikit dibanding udara inspirasi, tetapi mengandung CO2 yang
lebih tinggi, dialirkan menuju tabung yang berisi sodalime, disini CO 2 akan diikat
oleh sodalime. Selanjutnya udara ini digabungkan dengan campuran gas anestesi
dan oksigen dari sumber gas ( FGF /Fresh Gas Flow) untuk diinspirasi kembali.
Kelebihan aliran gas dikeluarkan melalui klep over flow. Karena udara ekspirasi
diinspirasi lagi, maka pemakaian obat anestesi dan oksigen dapat dihemat dan
kurang menimbulkan polusi kamar operasi.
4. Dalam system closed prinsip sama dengan semi closed, tetapi disini tidak ada
udara yang keluar dari sistem anestesi menuju udara bebas. Penambahan oksigen
dan gas anestesi harus diperhitungkan, agar tidak kurang sehingga menimbulkan
hipoksia dan anestesi kurang adekuat, tetapi juga tidak berlebihan, karena
pemberian yang berlebihan bisa berakibat tekanan makin meninggi sehingga.
menimbulkan pecahnya alveoli paru. Sistem ini adalah sistem yang paling hemat
obat anestesi dan tidak menimbulkan polusi. Pada system closed dan semiclosed
juga disebut system rebreathing, karena udara ekspirasi diinspirasi kembali,
sistem ini juga perlu sodalime untuk membersihkan CO2. Pada system open dan
semi open juga disebut system nonrebreathing karena tidak ada udara ekspirasi
yang diinspirasi kembali, system ini tidak perlu sodalime. Untuk menjaga agar
pada system semi open tidak terjadi rebreathing, aliran campuran gas anestesi dan
oksigen harus cepat, biasanya diberikan antara 2 3 kali menit volume respirasi
penderita.
System

Rebreathin

Reservoir bag

Sodalime

Tingkat

polusi Tingkat

kamar operasi

keborosan obat

Open

++++

+++

Semi open

+++

++

Semi closed

++

+
22

Closed

Bila obat anestesi seluruhnya menggunakan obat intravena, maka disebut anestesi
intravena total (total intravenous anesthesia/TIVA). Bila induksi dan maintenance anestesi
menggunakan obat inhalasi maka disebut VIMA (Volatile Inhalation and Maintenance
Anesthesia)
Pemulihan anestesi
Pada akhir operasi atau setelah operasi selesai, maka anestesi diakhiri dengan
menghentikan pemberian obat anestesi. Pada anestesi inhalasi bersamaan dengan penghentian
obat anestesi aliran oksigen dinaikkan, hal ini disebut oksigenisasi. Dengan oksigenisasi maka
oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi inhalasi diaveoli
yang berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi.
Dengan demikian tekanan parsiel obat anestesi di alveoli juga berangsur-angsur turun,
sehingga lebih rendah dibandingkan dengan tekanan parsiel obat anestesi inhalasi didalamdarah.
Maka terjadilah difusi obat anestesi inhalasi dari dalam darah menuju ke alveoli. Semakin tinggi
perbedaan tekanan parsiel tersebut kecepatan difusi makin meningkat. Sementara itu oksigen dari
alveoli akan berdifusi ke dalam darah.
Semakin tinggi tekanan parsiel oksigen di alveoli (akibat oksigenisasi) difusi kedalam
darah semakin cepat, sehingga kadar oksigen di dalam darah meningkat, menggantikan posisi
obat anestesi yang berdifusi menuju ke alveoli. Akibat terjadinya difusi obat anestesi inhalasi
dari dalam darah menuju ke alveoli, maka kadarnya di dalam darah makin menurun.
Turunnya kadar obat anestesi inhalasi tertentu di dalam darah, selain akibat difusi di
alveoli juga akibat sebagian mengalami metabolisme dan ekskresi lewat hati, ginjal, dan
keringat. Kesadaran penderita juga berangsur-angsur pulih sesuai dengan turunnya kadar
obatanestesi di dalam darah. Bagi penderita yang mendapat anestesi intravena, maka
kesadarannya, berangsur-angsur pulih dengan turunnya kadar obat anestesi akibat metabolisme
atau ekskresi setelah pemberinya dihentikan.
Selanjutnya pada penderita yang dianestesi dengan respirasi spontan tanpa menggunakan
pipa endotrakheal maka tinggal menunggu sadarnya penderita, sedangkan bagi penderita yang
menggunakan pipa endotrakheal maka perlu dilakukan ekstubasi(melepas pipa ET). Ekstubasi
bisa dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam dan dapat juga dilakukan setelah
penderita sadar. Ekstubasi pada keadaan setengah sadar membahayakan penderita, karena dapat
23

terjadi spasme jalan napas, batuk, muntah, gangguan kardiovaskuler, naiknya tekanan intra okuli
dan naiknya tekanan intra cranial.
Ekstubasi pada waktu penderita masih teranestesi dalam mempunyai resiko tidak
terjaganya jalan nafas, dalam kurun waktu antara tidak sadar sampai sadar. Tetapi ada operasi
tertentu ekstubasi dilakukan pada waktu penderita masih teranestesi dalam. Pada penderita yang
mendapat balance anestesi maka ekstubasi dilakukan setelah napas penderita adekuat. Untuk
mempercepat pulihnya penderita dari pengaruh muscle relaxant maka dilakukan reverse, yaitu
memberikan obat antikolinesterase.
Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse walaupun napas sudah adekuat bagi
penderita yang sebelumnya mendapat muscle relaxant. Sebagian ahli anestesi melakukan
ekstubasi setelah penderita sadar, bisa diperintah menarik napas dalam, batuk, menggelengkan
kepala dan menggerakkan ekstremitas. Penilaian yang lebih obyektif tentang seberapa besar
pengaruh muscle relaxant adalah dengan menggunakan alat nerve stimulator.
Adapun setelah prosedur diatas selesai, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan terus
diobservasi dengan cara menilai Aldrettes score nya, nilai 8-10 bisa dipindahkan ke ruang
perawatan, 5-8 observasi secara ketat, kurang dari 5 pindahkan ke ICU, penilaian meliputi:

Hal yang dinilai

Nilai

1. Kesadaran:
Sadar penuh
Bangun bila dipanggil
Tidak ada respon

2
1
0

2. Respirasi:
Dapat melakukan nafas dalam, bebas, dan dapat batuk
Sesak nafas, nafas dangkal atau ada hambatan
Apnoe

2
1
0

3. Sirkulasi: perbedaan dengan tekanan preanestesi


Perbedaan +- 20
Perbedaan +- 50
Perbedaan lebih dari 50

2
1
0

4. Aktivitas: dapat menggerakkan ekstremitas atas perintah:


4 ekstremitas
2 ekstremitas
Tidak dapat

2
1
0

5. Warna kulit
24

Normal
Pucat, gelap, kuning atau berbintik-bintik
Cyanotic

2
1
0

BAB VI
KESIMPULAN

Pasien adalah seorang perempuan berusia 19 tahun dengan riwayat tonsillitis kronik.
Pasien datang pada hari Senin 9 November 2015 pukul 12.20 WIB. Dari anamnesis diperoleh
informasi bahwa pasien datang dengan keluhan nyeri menelan 2 minggu terakhir. Pasien
menyangkal memiliki riwayat Hipertensi, Diabetes Melitus, Asma Bronkiale, namun pasien
mengaku memiliki alergi seafood.. Pasien juga menyangkal pemakaian gigi palsu. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/70 mmHg. Berdasarkan American Socieety of
Anesthesiology pasien digolongkan dalam ASA I.
Evaluasi pre operatif pada pasien didapatkan dalam batas normal. Tidak didapatkan
keadaan yang menjadi kontraindikasi anestesi umum. Pasien diberikan premedikasi berupa
Ondansetron 4mg. Setelah itu dilakukan general anestesi dengan menggunakan Fentanyl,
Propofol dan Noveron. Selama operasi berlangsung pasien mendapatkan Oksigen dengan
volume 3 liter/menit, N2O 2 liter/menit, isoflurane 1vol%. Pasien diberikan plasminex 500 mg
dan Tramadol 100 mg drip. Sesaat sebelum operasi selesai pasien diberikan Pronalges supp.
Selama operasi, tidak terjadi komplikasi dan kondisi pasien relative stabil selama operasi.
Operasi berakhir pada pukul 12.50 WIB
Evaluasi post operatif dilakukan dengan pemantauan kondisi pasien di ruang pemulihan,
tidak didapatkan keluhan dan tanda syok pada pasien. Kondisi post operatif pasien relative stabil,
dengan skor Aldrette >8 dan dapat dikembalikan ke ruang perawatan.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Soenarto RF, Chandra S. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta 2014: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta 2014.
2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Anastesiologi. Jakarta: Bagian Anastesiologi Terapi
Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta:2001.p.103-22 .
3. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhails Clinical Anastesiology. 5 th Ed.
McGraw-Hill Education. 2013.p.937-65.

26