Anda di halaman 1dari 5

Permasalahan Agraria Berkaitan dengan Hak Asasi Petani, Kedaulatan Pangan

dan Konstitusi UUD 1945

Oleh :
Fakih Nur Rahman
A41131005

PROGRAM STUDY TEKNOLOGI BENIH


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2015

Permasalahan Agraria Berkaitan dengan Hak Asasi Petani, Kedaulatan Pangan


dan Konstitusi UUD 1945
Saat ini di Indonesia banyak sekali terjadi konflik agraria yang meresahkan petani di
beberapa wilayah di Indonesia. Mayoritas konflik yang muncul dipicu oleh faktor yang berkaitan
dengan konversi lahan , hak asasi petani, komoditi yang ditanam oleh petani dan juga sewa
tanah. Indonesia merupakan Negara hukum, Semua yang menyangkut kesejahteraan umum
sudah diatur dalam undang-undang dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis. Dengan
begitu sebuah kepastian hukum untuk seseorang sejahtera hakikatnya telah terjamin oleh
konstitusi yang ada di Indonesia.
Dan untuk kasus pertanian sendiri sudah dibuatkan undang-undang agraria yang mana
mengatur segala permasalahan agrarian yang terjadi diindonesia. Namun faktanya hukum di
Indonesia tidak bisa berdiri secara netral, pasti ada beberapa kepentingan-kepentingan yang
menyangkut didalamnya seperti kepentingan Negara ataupun kepentingan para petinggi Negara,
dan disini siapa yang menjadi korban dari hal tersebut? Rakyat kecillah jawabanya
Contoh kasus nyata dalam hal ini ialah permasalah agraria yang terjadi antara mantan
pegawai perusahan PT BISI dengan Perusahaan Benih BISI, pak tukirin merupakan mantan
pegawai PT BISI yang telah habis masa kontraknya, pak tukiran dituntut oleh PT BISI
dikarenakan tuduhan Pembenihan illegal. Padahal pak tukirin hanya menanam benih yang
dibelinya dari PT BISI kemudian menanamnya dengan variasi metode tanam , dan hasil panen
yang bagus ditanam kembali dan sisanya dijual kepetani tetangganya dengan disertai cara
tanamnya. Namun karena hal tersebut pak tukirin harus merasakan dinginnya jeruji besi.
Itu membuktikan bahwa telah terjadinya perenggutan hak asasi petani, khususnya hak
atas kebebasan budidaya tanaman. Dan disini terihat jelas bahwa konstitusi yang mengatur
mengenai perlindungan petani tidak lagi berguna bagi petani , dan hanya merupakan pajangan
Negara semata. Dalam UU No 19 th 2013 pasal 1 ayat 1 yang bunyinya Perlindungan Petani
adalah segala upaya untuk membantu Petani dalam menghadapi permasalahan, kesulitan
memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen,
praktik ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.
Negara justru memihak kaum yang memiliki posisi.

Namun faktanya pada kasus pak tukirin

Kasus Tukirin dengan jelas menggambarkan bagaimana dominasi dan tekanan


perusahaan transnasional maupun multinasional dalam mempengaruhi kebijakan sebuah negara.
Ini adalah bentuk penjajahan baru terhadap keberlanjutan petani dan pangan, dan negara hanya
menjadi alat bagi kepentingan pemodal. Ini membuktikan kebenaran teori Adam Smith bahwa
perdagangan harus bebas dari peranan negara dan diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar.
Ironinya ditengah terjadinya penjajahan secara halus dalam kubu petani justru Negara
menuntut petani untuk dapat memenuhi kedaulatan pangan Negara secara mandiri. Mengingat
belum terpenuhinya hak asasi petani tersebut mungkinkah kedaulatan pangan negeri ini dapat
terpenuhi?. Jawabannya jelas tidak, karena untuk dapat mencapai kedaulatan pangan secara
mandiri , peran pemerintah sangat diperlukan guna memenuhi hak asai petani , baik hak dalam
kebebasan budidaya hingga hak akan kebebasan menentukan harga dan produksi pasar pertanian.
Dengan terpenuhinya hak asasi petani maka petani akan bebas dalam menentukan
komoditas yang akan ditanam, teknik budidaya, dan kebebasan menentukan harga dipasaran
maka produksi akan tinggi serta petani akan dapat makmur karena petani tidak lagi tertindas.
Kasus Tukirin menjadi bukti bagaimana petani-petani kecil di negara ini harus
menghadapi penjajahan baru dalam pertanian. Revolusi Hijau yang disebut Orde Baru sebagai
modernisasi pertanian mengubah sistem pertanian Indonesia dari multikultur ke monokultur dan
memperbesar biaya produksi. Kecuali tenaga mereka sendiri, bibit, pupuk, dan pestisida harus
dibeli petani dari toko pertanian yang merupakan agen penjual dari perusahaan transnasional.
Kehadiran perusahaan produsen benih seperti PT BISI, justru menambah masalah
pertanian. Melalui kerja sama semu dengan petani di Karesidenan Kediri, PT BISI menjual benih
di pasaran seharga Rp 30.000 hingga Rp 45.000 dan bersedia membeli hasil panen yang diambil
langsung ke sawah seharga Rp 1.200 per kilogram. Apabila dalam proses penangkaran dan
pembuatan benih petani tidak melakukan pemotongan benang sari, maka petani akan dikenai
potongan harga sebesar Rp 500 per kilogram sehingga menjadi Rp 700 per kilogram.
Melalui kerja sama semu ini PT BISI hanya menyediakan benih, mengemas atau memberi label
hasil produksi petani, untuk kemudian menjualnya lagi ke petani dengan keuntungan berlipat.
Apa yang dilakukan PT BISI adalah memipil jagung, mengeringkan dengan oven, memberikan

fungisida, mengemas, dan menjual pada petani dengan harga 2543 kali lipat. Jagung dibeli
dari petani seharga Rp 1.200 dan dijual kembali ke petani dengan harga minimal Rp 30.000.
Artinya, biaya pengemasan dan pemberian label adalah Rp 28.800, yang sekaligus menjadi
keuntungan perusahaan benih.
Sementara, biaya yang harus dikeluarkan seorang petani di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur
untuk memproduksi jagung di lahan seluas 85 ru (1 ru = 3,5 m x 3,5 m) atau sekitar 1.200 meter
persegi, adalah Rp 712.500. Ini meliputi biaya tanam, perawatan, pemupukan, dan panen. Jika
harga jual jagung Rp 1.200 per kilogram, berarti petani memperoleh Rp 1.200.000 jika bisa
mendapat satu ton panen.
Hasil panen jagung Rp 1.200.000 dikurangi biaya produksi Rp 712.000 adalah Rp
487.500. Jumlah ini belum dipotong biaya buruh tanam, rawat, dan panen. Bisa dibilang, petani
tidak mendapat keuntungan sama sekali. Ini diperparah dengan adanya persekongkolan
perusahaan produsen benih dengan pemerintah untuk menjerat petani.

KESIMPULAN
Masalah agraria yang dialami oleh para petani di Indonesia masih sangat kompleks dan
berlaku hingga saat ini. Dari salah satu contoh konflik yang terjadi ini membuktikan bahwa
konstitusi yang ada di Indonesia belum dapat difungsikan dengan baik dan hanya sebagai
pajangan Negara saja sejauh ini.Selain belum difungsikannya konstitusi dengan baik bagi para
petani, pemenuhan hak asasi atas petani juga masih sangat kurang. Ini terbukti seringkali
pemerintah lebih memberikan jalur akses yang lebih mudah bagi para pemilik posisi
dibandingkan para petani. Sehingga tujuan Negara untuk memenuhi kedaulatan pangan
diindonesia masih sangatlah sulit.