Anda di halaman 1dari 17

INFEKSI PARU

PASCA OPERASI
Teresa Nadia / 07120110050

Infeksi terjadi ketika mikroorganisme dalam jumlah yang cukup


dan virulensinya dimana kapasitas bawaan untuk menyebabkan
penyakit baik oleh invasi atau produksi toksin, melanggar
hambatan pertahanan tubuh dan memulai respon inflamasi.
Infeksi di bagian bedah Kebanyakan adalah karena bakteri dan,
lebih jarang, infeksi jamur. Virus, seperti virus human
immunodeficiency (HIV) dan hepatitis B.
Bakteri yg bisa menyebabkan terjadinya infeksi tergantung pada
virulensi bakteri tersebut, misalnya -hemolitik Streptococcus
atau Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus,
Streptococcus pyogenes, Escherichia coli dan Bacteroides

Penyebaran infeksi:
langsung ke jaringan yang berdekatan
melalui saluran limfatik, atau
melalui aliran darah, menyebabkan bakteremia (adanya bakteri
dalam darah) atau septikemia (kehadiran menyebarkan
organisme dalam darah).

Lama Operasi seefektif mungkin


Asepsis dan antisepsis
Penyaringan udara dalam ruang operasi
Penggunaan masker dan Baju operasi
Pemberian antibiotik profilaksis(Broad spectrum)

Pencegahan

Pireksia
Infeksi luka
Infeksi intra-abdomen
Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran kemih
Infeksi pasca operasi adalah yang paling sering terlihat pada
luka bedah, rongga perut, dada, saluran kemih.
Gejala lokal dan tanda-tanda rasa sakit, nyeri, bengkak dan
panas. Tanda-tanda sistemik adalah demam, menggigil, dan
malaise. Infeksi yang tidak terkontrol dapat menyebar ke aliran
darah, memproduksi septikemia dan syok septik.

Infeksi pasca operasi

Infeksi paru adalah umum setelah operasi.


Faktor-faktor yang mempengaruhi :
Penyakit saluran napas obstruktif kronis.
Anestesi: melumpuhkan aktivitas silia epitel pernapasan.
Nyeri pasca operasi: membuat pernapasan dan batuk
yang sulit dan merupakan predisposisi atelektasis.

Infeksi saluran pernapasan


pasca operasi

fisioterapi pra operasi (spirometri insentif),


Penghentian merokok
Penundaan operasi saat terjadi infeksi akut.
Pemberian antibiotik

Pencegahan

Infeksi nosokomial menurut WHO adalah adanya infeksi


yang tampak pada pasien ketika berada didalam rumah
sakit atau fasilitas kesehatan lainnya
Pembagian infeksi nosokomial : ISK, ILO, Pneumonia
nosokomial, Bakterimia nosokomial, nosokomial lainnya
Faktor yang mempengaruhi : eksogen, endogen

Infeksi Nosokomial

Pneumonia nosokomial (HAP) adalah pneumonia yang terjadi


setelah pasien 48 jam dirawat di rumah sakit dan disingkirkan
semua infeksi yang terjadi sebelum masuk rumah sakit.
Pneumonia nosokomial dapat disebabkan oleh kuman misalnya
S.pneumoniae, H. Influenzae, Methicillin Sensitive
Staphylococcus aureus (MSSA) dan kuman MDR misalnya
Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae, Acinetobacter spp dan Gram positif seperti
Methicillin Resistance Staphylococcus aureus (MRSA).
Bahan pemeriksaan untuk menentukan bakteri penyebab dapat
diambil dari dahak, darah, cara invasif misalnya bilasan bronkus,
sikatan bronkus, biopsi aspirasi transtorakal dan biopsi aspirasi
transtrakea.

Pneumonia nosokomial

Skema patogenesis pneumonia nosokomial

Endogen
Penyakit kronik, perawatan di rumah sakit yang lama, koma, perokok,
intubasi endotrakeal, malnutrisi, umur lanjut, pengobatan steroid, cidera
paru akut (acute lung injury) serta bronkiektasis

eksogen
Pembedahan Besar risiko kejadian pneumonia nosokomial tergantung
pada jenis pembedahan, yaitu torakotomi (40%), operasi abdomen atas
(17%) dan operasi abdomen bawah (5%).
Penggunaan antibiotik
Peralatan terapi pernapasan
Pemasangan NGT
Lingkungan RS

FAKTOR PREDISPOSISI ATAU FAKTOR


RISIKO PNEUMONIA NOSOKOMIAL

1 Onset pneumonia yang terjadi 48 jam setelah dirawat di


.
rumah sakit dan menyingkirkan semua infeksi yang
inkubasinya terjadi pada waktu masuk rumah sakit
2
. Diagnosis pneumonia nosokomial ditegakkan atas dasar :
Foto toraks : terdapat infiltrat baru atau progresif
Ditambah 2 diantara kriteria berikut:
- suhu tubuh > 38oC
- sekret purulen
- leukositosis
kriteria dari The Centers for Disease Control (CDC-Atlanta)

Diagnosis

Pewarnaan Gram dan kultur dahak yang dibatukkan, induksi


sputum atau aspirasi sekret dari selang endotrakeal atau
trakeostomi
Analisis gas darah untuk membantu menentukan berat penyakit
Jika keadaan memburuk atau tidak ada respons terhadap
pengobatan maka dilakukan pemeriksaan secara invasif. Bahan
kultur dapat diambil melalui tindakan bronkoskopi dengan cara
bilasan, sikatan bronkus dengan kateter ganda terlindung dan
bronchoalveolar lavage (BAL). Tindakan lain adalah aspirasi
transtorakal.

Pemeriksaan penunjang

Ringkasan penatalaksanaan

Antibiotik
Sefalosporin
antipseudomonal
Patogen
potensial

Dosis

Antibiotik yang
direkomendasikan
Betalaktam
Sefepim
1-2 gr setiap+8 12 jam
Streptocoocus
pneumoniae
antibetalaktamase
Seftasidim
2 gr setiap 8 jam
Haemophilus
influenzae
Sefpirom
1 grklavulanat)
setiap 8 jam
(Amoksisilin
Pasien
yang
mendapat
antibiotik
empirik
yang
tepat,
Metisilin-sensitif
atau
Karbapenem
optimal
dan adekuat,
penyebabnyaSefalosporin
bukan
P.aeruginosa
Staphylocoocus
aureus
G38 jam
Meropenem
1 gr setiap
Antibiotik
sensitif
basilpasien
Gram baik
dan respons
klinis
terjadi
resolusi
nonpseudomonal
Imipenem
500serta
mg
setiap
6 jam
/ 1 gr setiap 8 jam
negatif
enterik
gambaran klinisdari
infeksinya(Seftriakson,
pengobatan
maka lama sefotaksim)
laktam / penghambat
laktamase
- Escherichia coli
atau
adalah
7 hari pneumoniae
atau 3 hari bebas panas. Bila
penyebabnya
- Piperasilin
Klebsiella
Kuinolon
respirasi
- tasobaktam
4,5 gr
setiap 6 jam
adalah
P.aeruginosa
dan Enterobacteriaceae
maka lama
- Enterobacter
spp
(Levofloksasin,
Aminoglikosida
- Proteus spp
terapi 14 21 hari.
Moksifloksasin)
Gentamisin
7 mg/kg BB/hr
- Serratia marcescens
Tobramisin
Amikasin

7 mg/kg BB/hr
20 mg/kg BB/hr

Kuinolon antipseudomonal
Levofloksasin
Siprofloksasin
Vankomisin
Linesolid
Teikoplanin

Terapi antibiotik

750 mg setiap hari


400 mg setiap 8 jam
15 mg/kg BB/12 jam
600 mg setiap 12 jam
400 mg / hari

Prognosis akan lebih buruk jika dijumpai salah satu dari kriteria di bawah ini, yaitu

Umur > 60 tahun


Syok
Pemakaian alat bantu napas yang lama
Pada foto toraks terlihat gambaran abnormal bilateral
Kreatinin serum > 1,5 mg/dl
Penyakit yang mendasarinya berat
Pengobatan awal yang tidak tepat
Infeksi yang disebabkan bakteri yang resisten (P.aeruginosa, S.malthophilia, Acinetobacter
spp. atau MRSA)
Infeksi onset lanjut dengan risiko kuman yang sangat virulen
Gagal multiorgan

Prognosis

TERIMA KASIH