Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita

tentu pernah mengalami kekecewaan,

karena barang yang kita miliki rusak karena berkarat. Sepeda, hiasan, mainan,
alat dapur yang awalnya bersih menjadi rusak. Secara ekonomi, sangat besar
biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki atau bahkan menganti
barang-barang yang berkarat. Proses perkaratan pada barang-barang dari
logam tersebut merupakan proses elektrokimia, dimana logam-logam tersebut
berinteraksi dengan zat-zat kimia yang ada di lingkungannya sehingga terjadi
reaksi redoks. Apakah proses elektrokimia selalu merugikan kita? Proses
elektrokimia yang tidak terkendalikan akan banyak merugikan kita. Tetapi
perkembangan ilmu telah berhasil mengendalikan proses elektrokimia. Anda
tentu pernah menggunakan barang-barang hasil proses elektrokimia. Baterai
untuk menyalakan radio, kalkulator, atau jam tangan merupakan barang yang
menggunakan proses elektrokimia. Contoh lain dari proses elektrokimia
adalah pelapisan logam dengan logam lain yang disebut dengan penyepuhan.
Penyepuhan berguna untuk melapisi logam untuk perhiasan, atau juga untuk
pencegahan karat/korosi, seperti pada pipa atau besi, yang dilapisi oleh
campuran besi (Fe) dan Seng (Zn), yang disebut proses galvanisasi.
Seringkali kita temukan logam, terutama perhiasan yang terbuat dari emas,
perak dan sebagainya yang warnanya sudah memudar sehingga kurang
menarik lagi untuk dilihat. Dengan penerapan elektrolisis yaitu penyepuhan,
kita bisa melapisi logam yang mengalami perkaratan tersebut, ataupun
membuat tampilan logam lebih baik dari sebelumnya. Sebenarnya, proses
penyepuhan ini tidak terlalu sulit. Maka dari itu, dalam laporan ini kami
membahas alat, bahan, cara kerja dan hasil yang
penyepuhan logam Fe ( Paku).

diperoleh dari proses

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian elektroisis atau penyepuhan
2. Untuk mengetahui perbedaan sel elektroisis dengan sel galvani
3. Untuk mengetahui reaksi yang yang terjadi pada katodda dan anoda pada
proses penyepuhan
4. Untuk mengetahui aliran elektron pada proses penyepuhan
5. Untuk mengetahui contoh- contoh penyepuhan lain dalam kehidupan
sehari-hari

II.

LANDASAN TEORI

Elektrolisis yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera
mengikuti dan dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah. Bahkan
hingga kini elektrolisis digunakan untuk menghasilkan berbagai logam.
Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk produksi logam dengan ionisasi tinggi
(misalnya alumunium). Produksi alumunium diindustri dengan elektrolisis dicapai
tahun 1886 secara independen oleh penemu Amerika Charles Martin Hall (18631914) dan penemu Prancis Louis Toussaint Heroult (1963-1914) pada waktu yang

sama. Elektrolisis ini terbilang sukses karena berhasil pada uji penggunaan lelehan
Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (alumunium,oksida; Alumina Al2O3).
Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis adalah ion harus dapat bermigrasi ke
elektroda. Salah satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai mobilitas adalah
dengan menggunakan larutan dalam air. Namun, dalam kasus elektrolisis
Alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat sebab air lebih mudah direduksi
daripada ion alumunium sabagaimana di tunjukkan:
Al3+ + 3e Al

potensial elektroda normal = 1,662 V

2H2O + 2e H2 + 2OH-

potensial elektroda normal = 0.828 V

Metode lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Masalahnya Al2O3


meleleh pada suhu sangat tinggi 20500C, dan elektrolisis pada suhu setinggi ini
jelas tidak realistik. Namun, titik lelehan campuran Al 2O3 dan Na3AlF6 adalah
sekitar 10000C dan suhu ini mudah dicapai. Prosedur detailnya adalah: bijih
alumunium, bauksit, mengandung berbagai oksida logam sebagai pengotor. Bijih
ini diolah dengan alkali, dan hanya oksida alumunium yang amfoter yang larut.
Bahan yang tak larut disaring, dan karbon dioksida dialirkan ke filtratnya untuk
menghasilkan hidrolisis garamnya (Chang, 2004).
Reaksi kimia dapat ditimbulkan oleh arus listrik, sebaliknya reaksi kimia dapat
dipakai untuk menghasilkan arus listrik. Elektrolisis merupakan proses dimana
reaksi redoks tidak berlangsung secara spontan. Untuk lebih memahami apakah
sebenarnya elektrolisis itu dapat dilihat pada proses pengisian aki. Dalam proses
pengisian aki tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila ke dalam suatu larutan
elektrolit dialiri arus listrik searah maka akan terjadi reaksi kimia, yakni
penguraian atas elektrolit tadi. Peristiwa penguraian (reaksi kimia) oleh arus
searah itulah yang disebut elektrolisis. Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang
dapat mengahantarkan listrik yang disebut elektrolit, dan dua buah elektroda yang
berfungsi sebagai katoda dan anoda.
Sel elektrolisis tidak memerlukan jembatan garam. Komponen utamanya adalah
sebuah wadah, elektrode, elektrolit, dan sumber arus searah. Elektron (listrik)

memasuki larutan melalui kutub negatif (katode). Spesi tertentu dalam larutan
menyerap elektron dari katode dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi ion
melepas elektron di anode dan mengalami oksidasi. Jadi, sama seperti pada sel
volta, reaksi di katode adalah reduksi, sedangkan reaksi di anode adalah oksidasi.
Akan tetapi, muatan elektrodenya berbeda. Pada sel volta, katode bermuatan
positif, sedangkan anode bermuatan negatif. Pada sel elektrolisis, katode
bermuatan negatif, sedangkan anode bermuatan positif.
Apabila listrik dialirkan melalui lelehan senyawa ion maka senyawa ion itu akan
diuraikan. Kation direduksi di katode, sedangkan anion dioksidasi di anode.
Reaksi elektrolisis dalam larutan elektrolit berlangsung lebih kompleks. Spesi
yang bereaksi belum tentu kation atau anionnya, tetapi mungkin saja air atau
elektrodenya. Hal itu bergantung pada potensial spesi-spesi yang terdapat dalam
larutan. Untuk menuliskan reaksi elektrolisis larutan elektrolit, beberapa faktor
yang perlu dipertimbangkan adalah:
1.

Reaksi-reaksi yang berkompetisi pada tiap-tiap elektrode.


a. Spesi yang mengalami reduksi di katode adalah yang mempunyai
potensial elektrode lebih positif.

b.

Spesi yang mengalami oksidasi di anode adalah yang mempunyai


potensial elektrode lebih negatif.

2.

Jenis elektrode, apakah inert atau aktif


Elektrode inert adalah elektrode yang tidak terlibat dalam reaksi. Elektrode
inert yang sering digunakan, yaitu platina dan grafit.

3. Overpotensial
Overpotensial adalah potensial tambahan yang diperlukan sehingga suatu
reaksi elektrolisis dapat berlangsung.
Contoh :
Elektrolisis larutan CuSO4 dengan katode dan anode Cu. Pada elektrolisis
larutan CuSO4 dengan elektrode Cu, terbentuk endapan Cu di katode dan
anodenya (Cu) larut. Hasil-hasil itu dapat dijelaskan sebagai berikut: Dalam
larutan CuSO4 terdapat ion Cu2+, ion SO42-, molekul air serta logam tembaga
(elektrode). Berbeda dengan elektrode grafit yang inert (sukar bereaksi),
tembaga dapat mengalami oksidasi di anode. Kemungkinan reaksi yang terjadi
di katode adalah reduksi ion Cu2+ atau reduksi air. Oleh karena potensial
reduksi Cu2+ lebih besar maka reduksi ion Cu2+ lebih mudah berlangsung.
Sementara itu, kemungkinan reaksi yang terjadi di anode adalah oksidasi ion
SO42-, oksidasi air atau oksidasi Cu.
2SO42- S2O82- + 2e

E = -2.71 V

2H2O 4H+ + O2 + 4e

E = -1.23 V

Cu

Cu2+ + 2e

E = -0.34 V

Oleh karena potensial oksidasi Cu paling besar, maka oksidasi tembaga lebih
mudah berlangsung. Jadi, elektrolisis larutan CuSO4 dengan Cu menghasilkan
endapan Cu di katode dan melarutkan Cu di anode.
CuSO4 Cu2+ + SO42Katode :

Cu2+ + 2e Cu

Anode :

Cu Cu2+ + 2e
Cu

Cu

(anode)

(katode)

Berdasarkan daftar potensial elektrode standar dapat dibuat suatu ramalan


tentang reaksi katode dan reaksi anode pada suatu elektrolisis. Ramalan
mungkin akan meleset jika spesi yang terlibat mempunyai overpotensial yang
signifikan (Keenan, 1984).
Dalam elektrolisis, sumber aliran listrik digunakan untuk mendesak elektron agar
mengalir dalam arah yang berlawanan dengan aliran spontan. Hubungan antara
jumlah energi listrik yang dikonsumsi dan perubahan kimia yang dihasilkan dalam
elektrolisis merupakan salah satu persoalan penting yang dicarikan jawabannya
oleh Michael Faraday (1791-1867). Hukum faraday pertama tentang tentang
elektrolisis menyatakan bahwa Jumlah perubahan kimia yang dihasilkan
sebanding dengan besarnya muatan listrik yang melewati suatu elektrolisis.
Hukum kedua tentang elektrolisis menyatakan bahwa Sejumlah tertentu arus
listrik menghasilkan jumlah ekuivalen yang sama dari benda apa saja dalam suatu
elektrolisis (Petrucci, 1985).
Untuk menginduksi arus agar mengalir melewati sel elektrokimia, dan
menghasilkan reaksi sel non-spontan, selisih potensial yang diberikan harus
melebihi potensial arus-nol sekurang-kurangnya sebesar potensial lebih sel, yaitu
jumlah potensial ubin pada kedua elektroda dan penurunan ohm (I x R) yang
disebabkan oleh arus yang melewati elektrolit. Potensial tambahan yang
diperlukan untuk mencapai laju reaksi yang dapat terdeteksi, mungkin harus besar,
jika rapatan arus pertukaran pada elektrodanya kecil. Dengan alasan yang sama,
sel galvani menghasilkan potensial lebih kecil ketimbang pada kondisi arus nol
(Atkins, 1990).
Reaksi tembaga dengan larutan ion perak dalam air berlangsung spontan dan tak
reversibel. Dengan demikian G<0, walaupun pada titik ini magnitudonya tidak
diketahui. Karena tidak ada kerja yang dihasilkan, hukum pertama termodinamika
menyebutkan bahwa seluruh perubahan energi muncul sebagai perubahan kalor.

Reaksi yang sama ini dapat dilakukan dengan amat berbeda tanpa pernah
membawa kedua reaktan kontak langsung satu dengan lainnya jika sebuah sel
galvani (sebuah aki) dibuat oleh mereka. Sebuah lembaran tembaga dimasukan
sebagian kedalam larutan Cu(NO3)2 dan sebuah lembaran perak dalam sebuah
larutan AgNO3, seperti dimasukan sebagian dalam gambar. Kedua larutan
dihubungkan oleh sebuah jembatan garam, yang merupakan tabung berbentuk U
terbalik yang berisi larutan garam seperti NaNO3. Ujung jembatan ditutup dengan
penyumbat berpori yang menghindarkan kedua larutan bercampur tetapi
memungkinkan ion lewat. Kedua lembaran logam dihubungkan ke amperemeter,
sebuah alat yang mengukur arah dan magnitude arus listrik yang melaluinya.
Jika tembaga dioksida disisi kiri, ion Cu2+ masuk ke larutan. Elektron yang
dilepaskan pada reaksi melewati rangkaian luar dari kiri ke kanan, seperti
digambarkan oleh perubahan jarum amperemeter. Elektron masuk ke lembaran
perak dan pada antar muka logam larutan elektron diikat oleh ion Ag +, sebagai
atom yang melapisi pada permukaan perak. Proses ini akan menyebabkan
kenaikan muatan positif dalam gelas piala sebelah kiri dan menurunkan muatan di
gelas piala sebelah kanan, tetapi tidak untuk jembatan garam. Jembatan
memungkinkan aliran netto ion positif ke gelas piala sebelah kanan dan ion
negatif ke gelas piala sebelah kiri, yang menjaga netralitas muatan disetiap sisi.
Reaksi oksidasi reduksi ini terdiri dari dua setengah reaksi yang terpisah.
Setengah reaksi oksidasi di gelas piala sebelah kiri adalah :
Cu (s) Cu2+ (aq) + 2eDan setengah reaksi reduksi di gelas piala sebelah kanan adalah:
Ag+ (aq) + 2e- Ag (s)
(Oxtoby, 2001).
Penggunaan penting dari elektrolisis adalah dalam pemurnian logam. Proses
pemurnian logam biasanya menghasilkan logam tembaga yang kurang murni
untuk penggunaan secara lazim. Misalnya, adanya arsenik dapat menurunkan
konduktivitas listrik dari tembaga, sehingga hasilnya kurang cocok untuk dibuat

kawat dan konduktor listrik yang lain. Sebongkah besar tembaga yang tidak murni
sebagai anode dan sebuah lempeng dari tembaga murni sebagai katode. Selama
elektrolisis, tembaga dipindah secara terus-menerus melalui larutan (sebagai
CO2+) dari anode ke katode. Emas dan perak biasanya ditemukan sebagai
pengoksidator

dalam

tembaga.

Logam-logam

ini

kurang

aktf

dibandingtembaga, yaitu agak sukar teroksidasi. Logam-logam tersebut tidak


masuk ke dalam reaksi anoda, tapi mengendap pada dasar tangki elektrolisis
dalam suatu lumpur yang dinamakan lumpur anode. Nilai ekonomis dari lumpur
anode kerap cukup untuk menutup biaya pemurnian tembaga secara elektrolisis.
Diantara benda-benda secara umum yang dipakai produksi hampir seluruhnya
dengan proses elektrolisis adalah alkali, magnesium, alumunium, klor, flour,
hydrogen peroksida dan natrium hidroksida. Tidaklah berlebihan jika dikatakan
bahwa industri modern pada umumnya tidak dapat berfungsi tanpa tersedianya
reaksi-reaksi elektrolisis (Petrucci, 1985).
Logam tembaga semakin hari makin banyak dibutuhkan untuk berbagai
keperluan. Biasanya logam ini dikotori sekitar 1% oleh logam lain seperti besi,
zink, perak, emas, dan platina (Syukri, 1999).

III.

METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah catu daya, gelas
kimia, labu ukur, amplas, kabel katoda anoda, elektroda Cu, Kaca arloji,
neraca digital dan penjepit.
Sedangkan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah paku, dan
larutan CuSO4.5H2O
III.2 Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan pada praktikum ini adalah
1. Mengamplas paku hingga karatnya menghilang
2. Menimbang paku menggunakan neraca digital
3. Menghubungkan paku dengan katoda (-) dan elektroda Cu dengan anoda
(+)
4. Memasukkan larutan CuSO4.5H2O 0,1 M kedalam gelas kimia 100 ml
5. Memasukkan paku dan elektroda Cu kedalam larutan CuSO4.5H2O dan
menghidupkan catu daya
6. Mengamati perubahan pada paku dan elektroda Cu tersebut
7. Menimbang kembali paku hasil elektrolisis dan menimbang selisih
beratnya

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan


Adapun hasil yang didapat setelah percobaan yang dilakukan, yaitu:
No.
1.
2.
3.

Perlakuan
Mengampelas paku
Menimbang paku
Memasukkan paku dan elektroda

Hasil Pengamatan
Paku menjadi bersih dari karat
Berat paku sebesar 9,8972 gram
Timbul gelembung pada katoda,

Cu ke dalam larutan CuSO4.5H2O

warna paku menjadi kuning dan

yang sudah dihubungkan catu daya

terdapat endapan Cu berwarna

4.

Menimbang paku setelah

hitam
Berat paku setelah penyepuhan

penyepuhan

sebesar 9,9980 gram

IV.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan mengenai proses
penyepuhan logam Fe pada paku menggunakan elektoda Cu. Adapun prosedur
yang kami lakukan yaitu pertama mengampelas paku hingga karatnya
menghilang dan menimbangnya menggunakan neraca digital. Kemudian,
memasukkan larutan CuSO4.5H2O 0,1 M ke dalam gelas kimia 100ml.
Namun, pada percobaan ini seharusnya menggunakan tabung U. Setelah itu,
memasukkan elektroda Cu (anoda) ke dalam gelas kimia dan menghidupkan
catu daya 12 Volt. Lalu, memasukkan logam Fe (katoda) ke dalam gelas kimia
dan menunggu 10 menit. Terakhir, menimbang kembali paku tersebut.
Pada awal penimbangan, berat paku 9,8972 gr dan setelah proses penyepuhan
selesai menjadi 9,980 gr. Dari hasil pengamatan, terlihat pada katoda muncul
gelembung-gelembung gas dan terbentuk endapan Cu. Sedangkan pada anoda
warna elektoda logam Cu menjadi lebih pucat. Konsentrasi ion Cu2+ dalam
larutan CuSO4.5H2O tidak berubah.

Proses penyepuhan adalah proses elektrolisis, yaitu proses perubahan Energi


listrik menjadi Energi kimia. Proses ini melibatkan Elektroda (logam-logam
yang dihubungkan dengan sumber listrik) dan Elektrolit (cairan tempat logamlogam tadi dicelupkan). Penyepuhan berguna untuk melapisi logam untuk
perhiasan, atau juga untuk pencegahan karat/korosi, seperti pada pipa atau
besi, yang dilapisi oleh campuran besi (Fe) dan Seng (Zn), yang disebut proses
galvanisasi. Pada penyepuhan, logam yang disepuh (paku) dijadikan katode
sedangkan logam penyepuhnya (tembaga) dijadikan anode. Kedua elektrode
itu dicelupkan dalam larutan CuSO4.5H2O dari logam penyepuh (tembaga).
Pada katode, akan terjadi pengendapan tembaga, sedangkan pada anode,
tembaga

10

terus-menerus

larut.

Konsentrasi

ion

Cu2+

dalam

larutan

CuSO4.5H2O tidak berubah. Dalam reaksi tersebut terlihat bahwa pada katoda
terjadi proses reduksi yang menghasilkan endapan tembaga (Cu (s) ), sehingga
terlihat jelas bahwa paku yang pada awalnya berwarna abu-abu berubah
menjadi kuning dan menjadi paku berlapis tembaga. Pada anode (tembaga
penyepuh), yang berkadar lebih tinggi melepas elektron yang nantinya
bergerak atau berpindah ke katode sehingga lapisan tembaga akan melapisi
paku yang disepuh. Berdasarkan pengamatan, yang menjadi penyebab
berpindahnya lapisan tembaga menuju paku adalah akibat dari larutan
CuSO4.5H2O yang menjadi larutan elektrolit. Waktu yang digunakan saat
merendam paku di larutan CuSO4.5H2O (penyepuhan) adalah 10 menit. Jika
terlalu lama, maka tembaga akan terus melapisi paku. Hal inilah yang
menyebabkan penyepuh tidak mencelupkan tembaga murni pada larutan
terlalu lama. Dari kegiatan ini, dapat ditentukan bahwa :

Tembaga (Anode)

: Cu(s) Cu2+(aq) + 2e-

(Oksidasi)

Paku (Katode)

: Cu2+(aq) + 2e- Cu(s)

(Reduksi)

Anoda : logam penyepuh (Tembaga)


Katoda : Logam yang akan disepuh (paku)
Elektrolit ion anode : Larutan penyepuh (larutan tembaga sulfat)
IV.2.1 Pengertian Penyepuhan (Elektroplating)
Penyepuhan (elektroplating) adalah pelapisan logam menggunakan sel
elektrolisis untuk memperindah penampilan dan mencegah korosi.
Benda yang akan disepuh dijadikan katoda, dan logam penyepuh
sebagai anoda. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan
elektrolit dari logam penyepuh. Ketebalan lapisan logam sekitar 0,030,05 mm.
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian elektrolit oleh arus listrik.
Komponen utama sel elektrolisis adalah wadah, elektrode, elektrolit,
dan sumber arus searah. Reaksi redoks terjadi di elektrode-

11

elektrodenya. Elektrode pada sel elektrolisis terdiri atas anoda dan


katoda. Pada anoda berlangsung reaksi oksidasi, sedangkan pada
katoda berlangsung reaksi reduksi. Anoda bernuatan positif dan katoda
bermuatan negatif (Anonim, 2012).
IV.2.2 Perbedaan Sel Elektrolisis dengan Sel Volta (Sel Galvani)
Tabel Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis
No

Sel Volta / Galvani

Sel Elektrolisis

.
1.
2.
3.
4.

Reaksi spontan
Anode kutub negatif
Katode adalah kutub positif
Energi kimia diubah menjadi

Reaksi tidak spontan


Anode kutub positif
Katode adalah kutub negatif
Energi listrik diubah

energi listrik
(Anonim, 2013)

menjadi energi kimia

2.2.3

Reaksi yang Terjadi di Katoda dan Anoda


Adapun reaksi yang terjadi sebagai berikut.
Anoda : Cu(s)
Cu2+(aq) + 2eKatoda : Cu2+(aq) + 2e- Cu(s)

2.2.4

Arah Aliran Elektron


Kation pada anoda ini akan bergerak ke katoda menggantikan kation
Cu2+ yang di reduksi di katode. Kation Cu 2+ di katode direduksi
membentuk endapan logam tembaga yang melapisi logam besi pada
paku.

2.2.5

Contoh Penyepuhan dalam Kehidupan


Adapun contoh lain dari proses penyepuhan dalam kehidupan yaitu
untuk melapisi sendok garpu yang terbuat dari baja dengan perak,
maka garpu dipasang sebagai katoda dan logam perak dipasang
sebagai anoda, dengan elektrolit larutan AgNO3.

Gambar 2. Pelapisan sendok dengan logam perak.


12

Logam perak pada anoda teroksidasi menjadi Ag+ kemudian


direduksi menjadi Ag pada katoda atau garpu. Dengan demikian
garpu terlapisi. oleh logam perak.
Anoda

Ag(s)

Ag+(aq)+ e-

Katoda

Ag+(aq) + e-

Ag (s)

Selain itu, pelapisan kromium pada mesin kendaraan bermotor


sehingga terlihat mengkilat.
Contoh lain dari penyepuhan yaitu penyepuhan cincin perak. Pada
penyepuhan, logam yang disepuh (cincin) dijadikan katode
sedangkan logam penyepuhnya (emas) dijadikan anode. Kedua
elektrode itu dicelupkan dalam larutan pottasium dari logam
penyepuh (AuCl3). Pada katode, akan terjadi pengendapan emas,
sedangkan pada anode, emas terus-menerus larut. Konsentrasi ion
Au3+ dalam larutan AuCl3 tidak berubah.

Emas (Anode) : Au(s) Au3+(aq) + 3e-

(Oksidasi)

Cincin (Katode) : Au3+(aq) + 3e- Au(s) (Reduksi)


Dalam reaksi tersebut terlihat bahwa pada katoda terjadi proses
reduksi yang menghasilkan endapan emas (Au(s)), sehingga terlihat
jelas bahwa cincin perak yang pada awalnya berwarna putih berubah
menjadi kuning keemasan dan menjadi cincin berlapis emas.
Pada anode (emas penyepuh), yang berkadar lebih tinggi melepas
elektron yang nantinya bergerak atau berpindah ke katode sehingga
lapisan emas akan melapisi cincin perak yang disepuh. Menurut
narassumber dan pengamatan saya, yang menjadi penyebab
berpindahnya lapisan emas menuju cincin perak adalah akibat dari
larutan pottasium yang menjadi larutan elektrolit. Waktu yang
digunakan saat merendam cincin perak di larutan pottasium
(penyepuhan) adalah 5 menit. Jika terlalu lama, maka emas akan

13

terus melapisi cincin perak. Hal inilah yang menyebabkan penyepuh


tidak mencelupkan emas murni pada larutan terlalu lama. Dari
kegiatan ini, dapat ditentukan bahwa :
Anoda : logam penyepuh (emas)
Katoda : Logam yang akan disepuh (cincin perak)
Elektrolit ion anode : Larutan penyepuh (larutan pottasium)
(Tinosiahaan, 2012)

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada percobaan ini, maka dapat
diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada katoda muncul gelembung-gelembung gas dan terbentuk endapan
Cu. Sedangkan pada anoda warna elektoda logam Cu menjadi lebih pucat.
2. Pada awal penimbangan, berat paku 9,8972 gr dan setelah proses
penyepuhan selesai menjadi 9,980 gr.
3. Penyepuhan (elektroplating) adalah pelapisan logam menggunakan sel
elektrolisis untuk memperindah penampilan dan mencegah korosi.
4. Adapun reaksi yang terjadi sebagai berikut.
Anoda : Cu(s)
Cu2+(aq) + 2e2+
Katoda : Cu (aq) + 2e Cu(s)
5. Arah aliran electron yaitu dari kation pada anoda akan bergerak ke katoda
menggantikan kation Cu2+ yang di reduksi di katode.
6. Contoh lain dari proses penyepuhan dalam kehidupan yaitu untuk melapisi
sendok garpu yang terbuat dari baja dengan perak dan pelapisan kromium
pada mesin kendaraan bermotor sehingga terlihat mengkilat.

14

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P. W. 1990. Kimia Fisika Jilid II. Jakarta : Erlangga


Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti Jilid II. Jakarta :
Erlangga
Keenan, Charles W. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga
Oxtoby, David W. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga
Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Jilid III : Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta :
Erlangga
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid II. Bandung : ITB
Anonim. 2012. Sel Elektrolisis. Diunduh di :
http://luluinajjma.blog.com/2012/12/17/6/ tanggal 10 april 2014 pukul 13:03 WIB

Anonim. 2013. Pengertian Sel Eletrolisis. Diunduh di :


http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/07/pengertian-sel-volta-dan-selelektrolisis-galvani.html tanggal 10 April 2015 pukul 13:42 WIB
Tinosiahaan. 2012. Manfaat Reaksi Redoks dan Sel. Diunduh di :
http://tinosiahaan.blogspot.com/2012/09/manfaat-reaksi-redoks-dan-sel.html
tanggal 10 April 2015 pukul 14.09 WIB

15

LAMPIRAN

16

Larutan CuSO4 0,1 M

Pengamplasan paku

17

Catu daya

penimbangan paku sebelum penyepuhan

Proses penyepuhan

Penimbangan paku setelah elektrolisis

18

Hasil penyepuhan

larutan CuSO4 setelah elektrolisis