Anda di halaman 1dari 30

KTI bayi baru lahir normal bab I,

bab II
Sabtu, 01 Maret 2014

KTI bayi baru lahiir normal Bab I Bab II


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masa neonatal masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah
kelahiran. Bayi adalah anak yang belum lama lahir. Bayi baru lahir adalah bayi yang
lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2.500-4000
gram. Bayi adalah individu baru yang lahir di dunia. Dalam keadaannya yang terbatas,
maka individu baru ini sangatlah membutuhkan perawatan dari orang lain.
Bayi Baru Lahir adalah janin yang lahir melalui proses persalinan dan telah
mampu hidup di luar kandungan.
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 28 hari. Kehidupan pada masa
neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di
luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka
kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah
umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke
ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali.
Bayi Baru Lahir memerlukan asuhan yang segera yang cepat, tepat, aman dan
bersih. Hal tersebut merupakan bagian esensial bayi baru lahir. Sebagian besar proses
persalinan terfokus pada ibu, tetapi sehubungan dengan proses pengeluaran hasil
kehamilan (bayi) maka penatalaksanaan persalinan baru dikatakan berhasil jikalau ibu
dan bayinya dalam kondisi yang optimal, sehingga selain ibunya bayi yang dilahirkan
juga harus dalam keadaan sehat
Bayi Baru Lahir kecil atau yang mempunyai masalah berat yang mengancam
kehidupannya (dalam keadaan emergency) memerlukan diagnosa dan pengelolaan

segera. Terlambat dalam pengenalan masalah atau managemen yang tidak tepat akan
mengakibatkan kematian.
Masalah pada neonatus biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi
pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga
kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan
kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak
bersih, kurangnya perawatan bayi baru lahir. Kalau ibu meninggal pada waktu
melahirkan, si bayi akan mempunyai kesempatan hidup yang kecil.
Setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada bulan pertama
kehidupannya, 2/3nya meninggal pada minggu pertama. Penyebab utama kematian
pada minggu pertama adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti : asfiksia,
sepsis neonatorum, dan komplikasi BBLR.
Kurang lebih 98% kematian ini terjadi di negara berkembang dan sebagian besar
kematian dapat dicegah dengan pengenalan dini dan pengobatan yang tepat.
Sebenarnya penggunaan peralatan canggih tidak diperlukan untuk menolong sebagian
besar bayi ini, melainkan pelayanan dan penanganan yang cepat, tepat, dan aman..
Bayi baru Lahir dalam hari-hari pertamanya merupakan masa kehidupan yang
rentan dan berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi atau gangguan kesehatan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu diketahui berbagai perubahan/adaptasi BBL
terhadap kehidupan di luar uterus, rawat gabung dan pencegahan infeksi pada BBL.
Untuk mampu mewujudkan koordinasi dan standar pelayanan yang berkualitas
maka petugas kesehatan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk dapat
melaksanakan pelayanan essensial neonatal
B. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Ruang lingkup pembahasan karya tulis ilmiah ini adalah penerapan Asuhan Kebidanan
bayi baru lahir normal
C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan umum
Agar mampu menerapkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan Asuhan Kebidanan
pada Bayi Baru lahir normal

2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi data dasar pada bayi bayi baru lahir normal
b. Mengidentifikasi diagnosa/ masalah aktual pada bayi baru lahir normal
c. Mengantisipasi diagnosa/ masalah potensial pada bayi baru lahir normal
d. Melakukan tindakan segera dan kolaborasi pada bayi baru lahir normal
e. Menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal
f. Mengimplementasikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal
g. Mengevaluasi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal
h. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan pada bayi baru lahir normal
D. MANFAAT PENULISAN
1. Manfaat Institusi Pendidikan
Dapat menjadi acuan bagi institusi pendidikan pada masa yang akan datang sebagai
bahan masukan bagi pihak lain yang ingin menulis tentang manajemen asuhan
kebidanan bayi baru lahir normal
2. Manfaat Bagi Rumah Sakit
Dapat menjadi masukan kepada RSUD. dalam meningkatkan pelayanan
khususnya pada bayi baru lahir normal
3. Manfaat Bagi Penulis
a) Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma Tiga (DIII)
kebidanan dan memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan di Akademi Kebidanan
Makassar.
b) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam asuhan kebidanan pada bayi bayi
baru lahir normal

E. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini secara sistematis
meliputi:
1. Studi Kepustakaan
Dengan membaca dan mempelajari berbagai buku dan literature, dan data dari internet
yang berhubungan dengan bayi baru lahir normal.

2. Studi Kasus
Dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah dalam asuhan kebidanan
yang meliputi: identifikasi data dasar, identifikasi diagnosa/ masalah aktual, antisipasi
diagnosa/ masalah potensial, tindakan segera/ kolaborasi, rencana asuhan kebidanan,
implementasi asuhan kebidanan, evaluasi asuhan kebidanan, dan pendokumentasian
asuhan kebidanan dengan menggunakan metode:
a) Wawancara
Penulis melakukan wawancara dengan keluarga pasien dan bidan
b) Observasi
Penulis memperoleh data dengan melihat dan melakukan pemantauan secara langsung
pada pasien.
c) Pemeriksaan fisik
Penulis melakukan pemeriksaan fisik pada pasien melalui inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi secara sistematis dari kepala sampai kaki.
4. Studi Dokumentasi
Dengan membaca dan mempelajari status serta menginterpretasikan data yang
berhubungan dengan pasien baik yang bersumber dari catatan dokter, bidan maupun
sumber lain yang menunjang.
5. Diskusi
Diskusi dengan tenaga kesehatan yakni dokter, bidan maupun dengan pembimbing
karya tulis ilmiah serta sumber lain yang menunjang.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ilmiah ini maka penulis
menyusun dengan sistematis sebagai berikut :
BAB I

: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penulisan
E. Metode Penulisan

F. Sistimatika Penulisan
BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori


Bayi baru lahir normal
a. Pengertian bayi baru lahir normal
b. Patofisiologi bayi baru lahir normal
c. Ciri- cirri bayi baru lahir normal
d. Komplikasi bayi baru lahir normal
e. Pemeriksaan diagnostic bayi baru lahir normal
f. Penanganan segera bayi baru lahir normal
B. Tinjauan Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Kebidanan
2. Tahap Manajemen Asuhan Kebidanan
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
BAB III : TINJAUAN KASUS
BAB IV : PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang kesenjangan antara
teori dengan hasil pengkajian yang ada, dibahas secara
sistematis mulai tanggal ..
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR TEORI
1.

1.

Pengertian bayi baru lahir normal


Pengertian bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37

minggu sampai 42 minggu, memiliki berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram
Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan
umur kehamilan 37-42 minggu,lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara
spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan
antara 2500-4000 gram serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan
intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 4000 gram, cukup bulan,
lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat
Bayi baru lahir adalah bayi segera setelah lahir sampai dua puluh delapan hari.
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan, melalui
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil.
Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan
harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri ke kehidupan ekstra uterin
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000
gram.
Pengertian bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37
minggu sampai dengan 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gr sampai dengan 4000
gr
2. Patofisiologi bayi baru lahir normal
Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat
tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh
bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu)yang hangat
dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar
kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain
untuk memenuhinya.

Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi
pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan
kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.
Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode Transisi.
Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa
sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem
pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil
serta menggunakan glukosa.
Perubahan Sistem Pernafasan.
Dua faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi :
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama
persalinan yang merangsang masuknya udara kedalam paru-paru secara mekanis.
Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat
menimbulkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1) Mengeluarkan cairan dalam paru-paru.
2) Mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali.
Perubahan Dalam Sistem Peredaran Darah.
Setelah lahir darah bayi harus melewati paru untuk mengambil O2 dan
mengantarkannya ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung
kehidupan luar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
1) Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2) Penutupan ductus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.
Oksigen menyebabkan sistem pembuluh darah mengubah tekanan dengan cara
mengurangi dan meningkatkan resistensinya hingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam sistem pembuluh darah :
1) Pada saat tali pusat dipotong.
Tekanan atrium kanan menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan. Hal
ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan. Kedua hal ini

membantu darah dengan kandungan O2 sedikit mengalir ke paru-paru untuk oksigenasi


ulang.
2) Pernafasan

pertama

menurunkan

resistensi

pembuluh

darah

paru-paru

dan

meningkatkan tekanan atrium kanan. O2 pada pernafasan pertama menimbulkan


relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh darah paru-paru.
Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah
dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium kanan dan
penurunan tekanan atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan menutup.
Dengan pernafasan, kadar O2 dalam darah akan meningkat, mengakibatkan
ductus arteriosus berkontriksi dan menutup. Vena umbilikus, ductus venosus dan arteri
hipogastrika dari tali pusat menutup dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali
pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Sistem pengaturan Suhu, Metabolisme Glukosa, gastrointestinal dan Kekebalan Tubuh.
1) Pengaturan Suhu
Suhu dingin lingkungan luar menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit
sehingga mendinginkan darah bayi. Pembentukan suhu tanpa menggigil merupakan
usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas
tubuhnya melalui penggunaan lemak coklat untuk produksi panas.
Lemak coklat tidak diproduksi ulang oleh bayi dan akan habis dalam waktu singkat
dengan adanya stress dingin.
2) Metabolisme glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada
BBL, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam). BBL yang tidak dapat
mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen
dalam hal ini terjadi bila bayi mempunyai persediaan glikogen cukup yang disimpan
dalam hati.
3) Perubahan Sistem Gastrointestinal
Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk pada saat lahir.
Sedangkan sebelum lahir bayi sudah mulai menghisap dan menelan. Kemampuan
menelan dan mencerna makanan (selain susu) terbatas pada bayi.

Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang
berakibat gumoh. Kapasitas lambung juga terbatas, kurang dari 30 cc dan bertambah
secara lambat sesuai pertumbuhan janin.
4) Perubahan Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem imunitas BBL belum matang sehingga rentan terhadap infeksi. Kekebalan
alami yang dimiliki bayi diantaranya.
a) Perlindungan oleh kulit membran mukosa.
b) Fungsi jaringan saluran nafas.
c) Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus.
d) Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu
membunuh organisme asing. ( Reni handayani, 2013)
3. Ciri-ciri bayi baru lahir normal
Seorang bayi baru lahir dikatakan normal apabila memiliki ciri-ciri berikut:
a) Bayi baru lahir normal memiliki berat badan 2,5 4 Kg
b) Panjang badan 48 52 cm
c) Lingkar dada 30 38 cm
d) Lingkar kepala 33 35 cm
e) Frekuensi jantung 120 160 kali/menit
f) Pernafasan 60 40 kali/menit
g) Kulit bayi baru lahir terlihat kemerahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup
h) Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
i)

Kuku agak panjang dan lemas

j) Genitalia; untuk perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora dan untuk lakilaki testis sudah turun, skrotum sudah ada
k) Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l)

Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik

m) Reflek graps atau menggenggam sudah baik


n) memiliki eliminasi yang baik, mekonium untuk bayi baru lahir akan keluar dalam 24 jam
pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan (Ria puspita, 2011)
4. Komplikasi bayi baru lahir normal
Proses rujukan bayi baru lahir dengan komplikasi

1. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit berat,
yaitu:
a) Penyakit sangat berat

Infeksi berat / Sepsis

Kejang

Gangguan Nafas Berat

Hipotermiberat

b) Bayi Kuning

Ikterus Patologis

Asfiksia atau Asfiksia tidak teratasi

BB lahir < 2000 g ATAU BB lahir < 2500 g dengan komplikasi

Bayi baru lahir dengan kelainan congenital

Diare / Dehidrasi

DehidrasiBerat

2. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit
sedang, yaitu:
a) Hipotermia Ringan
b) Berat badan tidak naik, masalah menetek
c) BBLR dengan BB lahir > 2000 gram tanpa komplikasi
3. Kasus yang termasuk ke dalam kelompok bayi baru lahir dengan komplikasi sakit
ringan, yaitu:
a) Infeksi bakteri local
b) Ompalitis Ringan
c) Konjungtivitis Ringan
d) Infeksi Kulit Ringan

4. Alur Pelayanan Bayi Baru Lahir dengan Komplikasi:

5. Detail Pelayanan Bayi Baru Lahir dengan Komplikasi:


Jika pada kunjungan pertama, bayi mengalami KEJANG atau HENTI NAPAS atau SIANOSIS,
lakukan Tindakan sebelum melakukan Penilaian dan RUJUK SEGERA ( kebijakan kesehatan Indonesia,
2014)
5. Pemeriksaan diagnostic bayi baru lahir normal
A. Pemeriksaan Fisik pada saat Bayi Lahir
Pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir harus dilakukan di kamar bersalin. Perlu mengetahui
riwayat keluarga, riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya dan riwayat persalinan. Pemeriksaan
dilakukan bayi dalam keadaan telanjang dan dibawah lampu yang terang. Tangan serta alat yang
digunakan harus bersih dan hangat.

Tujuan pemeriksaan ini adalah :


a) Menilai gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus
yang memerlukan resusitasi.
b) Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.
c) Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau
tempat perawatan khusus.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
1) Menilai APGAR (Wikimedia, 2014)
Nilai APGAR merupakan suatu metode penilaian cepat untuk menilai keadaan
klinis bayi baru lahir pada usia 1 menit dan 5 menit. Pada tahun 1952 dr.Virginia Apgar
mendesain sebuah metode penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis bayi baru lahir.
Nilai Apgar dapat digunakan untuk mengetahui keadaan bayi baru lahir dan respon
terhadap resusitasi. Perlu kita ketahui nilai Apgar suatu ekspresi keadaan fisiologis bayi
baru lahir dan dibatasi oleh waktu. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai Apgar,
antara lain pengaruh obat-obatan, trauma lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia,
hipovolemia dan kelahiran prematur. Nilai Apgar dapat juga digunakan untuk menilai
respon resusitasi.
Cara menentukan nilai apgar skor
Lima kriteria Skor apgar:

Nilai 0

biru

Denyut jantung

Warna

warna

Respons refleks

kaki

tidak ada
tidak

ada

respons

Akronim

kulit

lemah/tidak
ada

tidak ada

dan

tubuh,
kaki

kebiruan normal merah muda,

(akrosianosis)

tidak ada sianosis

<100 kali/menit

>100 kali/menit

Appearance

Pulse

meringis/menangis meringis/bersin/batuk
lemah

terhadap
stimulasi

Pernapasan

Nilai 2

seluruhnya tetapi tangan dan tangan,

Warna kulit

Tonus otot

Nilai 1

ketika saat stimulasi saluran Grimace

distimulasi

napas

sedikit gerakan

bergerak aktif

lemah atau tidak


teratur

menangis

Activity

kuat,

pernapasan baik dan Respiration


teratur

Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran, dan dapat diulangi jika
skor masih rendah.

Jumlah sko
r

Interpretasi

7-10

Bayi normal

4-6

Agak rendah

Catatan[3]

Memerlukan

tindakan

medis

segera

seperti

penyedo

menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen untuk mem

0-3

Sangat renda
h

Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif

Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang
baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut[4] tetapi belum tentu
mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat
peningkatan skor pada tes menit kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes
berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka ada risiko bahwa anak tersebut dapat
mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi signifikan akan
kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah untuk menentukan dengan
cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera;
dan tidak didisain untuk memberikan prediksi jangka panjang akan kesehatan bayi
tersebut.
2) Mencari Kelainan Kongenital
Pemeriksaan di kamar bersalin juga menentukan adanya kelainan kongenital pada
bayi terutama yang memerlukan penanganan segera pada anamnesis perlu ditanyakan
apakah ibu menggunakan obat-obat teratogenik, terkena radiasi atau infeksi virus pada
trimester pertama. Juga ditanyakan adakah kelainan bawaan keluarga disamping itu
perlu diketahui apakah ibu menderita penyakit yang dapat menggangu pertumbuhan
janin seperti diabetes mellitus, asma broinkial dan sebagainya.
3) Memeriksa cairan amnion
Pada pemeriksaan cairan amnion perlu diukur volume. Hidramnion ( volume > 2000
ml ) sering dihubungkan dengan obstruksi traktus intestinal bagian atas, ibu dengan
diabetes atau eklamsi. Sedangkan oligohidramnion (volume < 500 ml) dihubungkan
dengan agenesis ginjal bilateral. Selain itu perlu diperhatikan adanya konsekuensi
oligohidramnion seperti kontraktur sendi dan hipoplasi paru.
4) Memeriksa tali pusat
Pada pemeriksaan tali pusat perlu diperhatikan kesegaranya, ada tidaknya simpul
dan apakah terdapat dua arteri dan satu vena. Kurang lebih 1 % dari bayi baru lahir
hanya mempunyai satu arteri umbilikalis dan 15 % dari pada mempunyai satu atau lebih
kelainan konginetal terutama pada sistem pencernaan, urogenital, respiratorik atau
kardiovaskuler.

5) Memeriksa plasenta
Pada pemeriksaan plasenta, plasenta perlu ditimbang dan perhatikan apakah ada
perkapuran, nekrosis dan sebagainya. Pada bayi kembar harus diteliti apakah terdapat
satu atau dua korion (untuk menentukan kembar identik atau tidak). Juga perlu
diperhatikan adanya anastomosis vascular antara kedua amnion, bila ada perlu
dipikirkan kemungkinan terjadi tranfusi feto-fetal.
6) Pemeriksaaan bayi secara cepat dan menyeluruh.
7) Menimbang berat badan dan membandingkan dengan masa gestasi.
Kejadian kelainan congenital pada bayi kurang bulan 2 kali lebih banyak dibanding
bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi kecil untuk masa kehamilan kejadian tersebut
sampai 10 kali lebih besar.
8) Pemeriksaan mulut
Pada pemeriksaan mulut perhatikan apakah terdapat labio-palatoskisis harus
diperhatikan juga apakah terdapat hipersalivasi yang mungkin disebabkan oleh adanya
atresia esofagus. Pemeriksaan patensi esophagus dilakukan dengan cara memasukkan
kateter ke dalam lambung, setelah kateter di dalam lambung, masukkan 5 - 10 ml udara
dan dengan stetoskop akan terdengar bunyi udara masuk ke dalam lambung. Dengan
demikian akan tersingkir atresia esophagus, kemudian cairan amnion di dalam lambung
diaspirasi. Bila terdapat cairan melebihi 30 ml pikirkan kemungkinan atresia usus
bagian atas. Pemeriksaan patensi esophagus dianjurkan pada setiap bayi yang kecil
untuk

masa

kehamilan,

ateri

umbulikalis

hanya

satu,

polihidramnion

atau

hipersalivasi.
Pada pemeriksaan mulut perhatikan juga terdapatnya hipoplasia otot depresor aguli
oris. Pada keadaan ini terlihat asimetri wajah apabila bayi menangis, sudut mulut dan
mandibula akan tertarik ke bawah dan garis nasolabialis akan kurang tampak pada
daerah yang sehat (sebaliknya pada paresis N.fasiali). Pada 20 % keadaan seperti ini
dapat ditemukan kelainan congenital berupa kelainan kardiovaskular dan dislokasi
panggul kongenital.
9) Pemeriksaan anus
Perhatikan adanya adanya anus imperforatus dengan memasukkan thermometer ke
dalam anus. Walaupun seringkali atresia yang tinggi tidak dapat dideteksi dengan cara
ini. Bila ada atresia perhatikan apakah ada fistula rekto-vaginal.

10) Pemeriksaan garis tengah tubuh


Perlu dicari kelainan pada garis tengah berupa spina bidifa, meningomielokel dan lainlain.
11) Pemeriksaan jenis kelamin
Biasanya orang tua ingin segera mengetahui jenis kelamin anaknya. Bila terdapat
keraguan misalnya pembesaran klitoris pada bayi perempuan atau terdapat hipospadia
atau epispadia pada bayi lelaki, sebaiknya pemberitahuan jenis kelamin ditunda
sampai dilakukan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan kromosom.
B. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam 24 jam dan dilakukan setelah bayi berada di
ruang perawatan. Tujuan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin
terabaikan pada pemeriksaan di kamar bersalin.
Pemeriksaan ini meliputi :
1.

Aktifitas fisik
Inspeksi
Ekstremitas dalam keadaan fleksi, dengan gerakan tungkai serta lengan aktif
dan simetris.

2. Pemeriksaan suhu
Suhu diukur di aksila dengan nilai normal 36,5 0C 37 0C.
3.

Kulit
Inspeksi
Warna tubuh kemerahan dan tidak ikterus.
Palpasi
Lembab, hangat dan tidak ada pengelupasan.

4. Kepala
Inspeksi
Distribusi rambut di puncak kepala.
Palpasi
Tidak ada massa atau area lunak di tulang tengkorak.
Fontanel anterior dengan ukuran 5 x 4 cm sepanjang sutura korona dan sutura segital.
Fortanel posterior dengan ukuran 1 x 1 cm sepanjang sutura lambdoidalis dan sagitalis.

5. Wajah
Inspeksi
Mata segaris dengan telinga, hidung di garis tengah, mulut garis tengah wajah dan
simetris.
6. Mata
Inspeksi
Kelompak mata tanpa petosis atau udem.
Skelera tidak ikterik, cunjungtiva tidak merah muda, iris berwarna merata dan bilateral.
Pupil beraksi bila ada cahaya, reflek mengedip ada.
7.

Telinga
Inspeksi
Posisi telinga berada garis lurus dengan mata, kulit tidak kendur, pembentukkan
tulang rawan yaitu pinna terbentuk dengan baik kokoh.

8.

Hidung
Inspeksi
Posisi di garis tengah, nares utuh dan bilateral, bernafas melalui hidung.

9. Mulut
Inspeksi
Bentuk dan ukuran proporsional dengan wajah, bibir berbentuk penuh berwarna
merah muda dan lembab, membran mekosa lembab dan berwarna merah muda,
palatom utuh, lidah dan uvula di garis tengah, reflek gag dan reflek menghisap serta
reflek rooting ada.
10. Leher
Inspeksi
Rentang pergerakan sendi bebas, bentuk simestris dan pendek.
Palpasi
Triorid di garis tengah, nodus limfe dan massa tidak ada.
11. Dada
Inspeksi
Bentuk seperti tong, gerakan dinding dada semetris.
Frekuensi nafas 40 60 x permenit, pola nafas normal.
Palpasi

Nadi di apeks teraba di ruang interkosa keempat atau kelima tanpa kardiomegali.
Auskultasi
Suara nafas jernih sama kedua sisi.
frekuensi jantung 100- 160 x permenit teratur tanpa mumur.
Perkusi
Tidak ada peningkatan timpani pada lapang paru.
12. Payudara
Inspeksi
Jarak antar puting pada garis sejajar tanpa ada puting tambahan.
13. Abdomen
Inspeksi
Abdomen bundar dan simetris pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena
berwarna putih kebiruan.
Palpasi
Abdomen Lunak tidak nyeri tekan dan tanpa massa hati teraba 2 - 3 cm, di
bawah arkus kosta kanan limfa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri. Ginjal dapat di
raba dengan posisi bayi terlentang dan tungkai bayi terlipat teraba sekitar 2 - 3 cm,
setinggi umbilicus di antara garis tengah dan tepi perut.
Perkusi
Timpanni kecuali redup pada hati, limfa dan ginjal.
Auskultasi
Bising usus ada.
14. Genitalia eksterna
Inspeksi (wanita)
Labia minora ada dan mengikuti labia minora, klitoris ada, meatus uretra ada di depan
orivisium vagina.
Inspeksi (laki-laki)
Penis lurus, meatus urinarius di tengah di ujung glans tetis dan skrotum penuh.
15. Anus
Inspeksi
Posisi di tengah dan paten (uji dengan menginsersi jari kelingking) pengeluaran
mekonium terjadi dalam 24 jam.

16. Tulang belakang


Bayi di letakkan dalam posisi terkurap, tangan pemeriksa sepanjang tulang belakang
untuk mencari terdapat skoliosis meningokel atau spina bifilda.
Inspeksi
Kolumna spinalis lurus tidak ada defek atau penyimpang yang terlihat.
Palpasi
Tulang belakang ada tanpa pembesaran atau nyeri.
17. Ekstremitas
Ekstremitas atas
Inspeksi
Rentang pergerakan sendi bahu, klavikula, siku normal pada tangan reflek genggam
ada, kuat bilateral, terdapat sepuluh jari dan tanpa berselaput, jarak antar jari sama
karpal dan metacarpal ada dan sama di kedua sisi dan kuku panjang melebihi bantalan
kuku.
Palpasi
Humerus radius dan ulna ada, klavikula tanpa fraktur tanpa nyeri simetris bantalan kuku
merah muda sama kedua sisi.
Ekstremitas bawah
Panjang sama kedua sisi dan sepuluh jari kaki tanpa selaput, jarak antar jari sama
bantalan kuku merah muda, panjang kuku melewati bantalan kuku rentang pergerakan
sendi penuh : tungkai, lutut, pergelangan, kaki, tumit dan jari kaki tarsal dan metatarsal
ada dan sama kedua sisi reflek plantar ada dan sismetris.
18 Pemeriksaan reflek
a) Berkedip
cara

: sorotkan cahaya ke mata bayi.

normal : dijumpai pada tahun pertama.


b) Tonic neck
cara : menolehkan kepala bayi dengan cepat ke satu sisi. normal :

bayi melakukan

perubahan posisi jika kepala di tolehkan ke satu sisi, lengan dan tungkai ekstensi
kearah sisi putaran kepala dan fleksi pada sisi berlawanan, normalnya reflex ini tidak
terjadi setiap kali kepala di tolehkan tampak kirakira pada usia
menghilangkan pada usia 6 bulan.

2 bulan dan

c) Moro
cara : ubah posisi dengan tiba-tiba atau pukul meja /tempat tidur.
normal : lengan ekstensi, jariari mengembang, kepala mendongak ke belakang,
tungkai sedikit ekstensi lengan kembali ke tengah dengan tangan mengenggam tulang
belakang dan ekstremitas bawah eksteremitas bawah ekstensi lebih kuat selama 2
bulan dan menghilang pada usia 3 - 4 bulan.
d) Mengenggam
cara : letakan jari di telapak tangan bayi dari sisi ulnar, jika reflek lemah atau tidak ada
beri bayi botol atau dot karena menghisap akan menstimulasi reflek.
normal : jarijari bayi melengkung melingkari jari yang di letakkan di telapak tangan bayi
dari sisi ulnar reflek ini menghilangkan pada usia 3 - 4 bulan.
e) Rooting
cara : gores sudut mulut bayi melewati garis tengah bibir. normal : bayi memutar
kearah pipi yang diusap, reflek ini menghilangkan pada usia 3 - 4 bulan tetapi bisa
menetap sampai usia 12 bulan terutama selama tidur
f) Menghisap
cara : beri bayi botol dan dot.
normal :

bayi menghisap dengan kuat dalam berepons terhadap stimulasi reflek ini

menetap selama masa bayi dan mungkin terjadi selama tidur tanpa stimulasi.
g) Menari / melangkah
cara : pegang bayi sehingga kakinya sedikit menyentuh permukaan yang keras.
normal :

kaki akan bergerak ke atas dan ke bawah jika sedikit di sentuh ke

permukaan keras di jumpai pada 4 - 8 minggu pertama.


19

Pengukuran atropometrik

a) Penimbang berat badan


Alat timbangan yang telah diterakan serta di beri alas kain di atasnya, tangan bidan
menjaga di atas bayi sebagai tindakan keselamatan .
BBL 2500 - 4000gram.
b) Panjang badan
Letakkan bayi datar dengan posisi lurus se bisa mungkin. Pegang kepala agar tetap
pada ujung atas kita ukur dan dengan lembut renggangkan kaki ke bawah menuju
bawah kita.

PB : 48/52cm.
c) Lingkar kepala
Letakakan pita melewati bagian oksiput yang paling menonjol dan

tarik

pita

mengelilingi bagian atas alis LK : 32 - 37 cm.


d) Lingkar dada
Letakan pita ukur pada tepi terrendah scapula dan tarik pita mengelilingi kearah depan
dan garis putih.
LD : 32 35 cm.
C. Pemeriksaan Fisik pada Bayi waktu Pulang
Pada waktu memulangkan dilakukan lagi pemeriksaan untuk menyakinkan bahwa
tidak ada kelainan kongenital atau kelainan akibat trauma yang terlewati perlu di
perhatikan :
a) Susunan saraf pusat : aktifitas bayi, ketegangan, ubun-ubun.
b) Kulit : adanya ikterus, piodermia.
c) Jantung : adanya bising yang baru timbul kemudian.
d) Abdomen : adanya tumor yang tidak terdektesi sebelumnya.
e) Tali pusat : adanya infeksi.
di samping itu perlu di perhatikan apakah bayi sudah pandai menyusu dan ibu sudah
mengerti cara pemberian ASI yang benar. (dr jony, 2012)
6. penanganan bayi baru lahir normal
Menurut JNPK-KR/POGI, APN, (di akses reddit, 2010) asuhan segera, aman dan
bersih untuk bayi baru lahir ialah :
1. Pencegahan Infeksi
a) Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
c) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,
penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau
steril.
d) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah
dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer,
stetoskop.

2. Melakukan penilaian
a) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan
b) Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap megap atau lemah maka segera
lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
3. Pencegahan Kehilangan Panas

Mekanisme kehilangan panas

a) Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri
karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b) Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan
yang dingin, co/ meja, tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari
tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda benda
tersebut
c) Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, co/
ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui
ventilasi, atau pendingin ruangan.
d) Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda benda yang
mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda benda
tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara
langsung)

Mencegah kehilangan panas


Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :

a) Keringkan bayi dengan seksama


Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil
untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat

Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain
yang baru (hanngat, bersih, dan kering)
c) Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan
cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah
kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1) jam
pertama kelahiran
e) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum
melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih
dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat
berpakaian/diselimuti

dikurangi

dengan

berat

pakaian/selimut.

Bayi

sebaiknya

dimandikan sedikitnya enam (^) jam setelah lahir.

Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :

1) Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi
mengalami asfiksia atau hipotermi)
2) Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,5
C 37 C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 C, selimuti kembali tubuh bayi
secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur
atau lakukan persentuhan kuli ibu bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan
bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu (1) jam.
3) Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
4) Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan
angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan
beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi
setelah dimandikan.
5) Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
6) Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering

7) Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh
bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik
8) Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik
9) Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
g) Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk
menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI
4. Membebaskan Jalan Nafas nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera setelah
lahir, apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan
nafas dengan cara sebagai berikut :
a) Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
b) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan
kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
c) Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan yang
dibungkus kassa steril.
d) Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain
kering dan kasar.
e) Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung
oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat
f) Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
g) Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)
h) Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
5. Merawat tali pusat
a) Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem
plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
b) Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klonin 0,5
% untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
c) Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
d) Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan
kering.

e) Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang
disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau steril).
Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap klem tali pusat tertentu.
f) Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat dan
dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang
berlawanan.
g) Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klonin 0,5%
h) Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi
tertutup dengan baik..(Dep. Kes. RI, 2002, di akses raddit, 2010)
6.

Mempertahankan suhu tubuh bayi


Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan
membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir
harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan
tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat
(Prawiroharjo, di akses raddit 2010).
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan
dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang
mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau
meninggal, jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin akan
mengalami hipoterdak, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi
prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.

Pencegah terjadinya kehilangan panas yaitu dengan :

a) Keringkan bayi secara seksama


b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
c) Tutup bagian kepala bayi
d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya
e) Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian
f)

Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. (Dep. Kes. RI, di akses raddit 2010)

7. Pencegahan infeksi
a) Memberikan vitamin K

Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir
normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan
bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 1 mg IM.
b) Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu
diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata
eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam
setelah bayi lahir.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah
bayi selesai dengan perawatan tali pusat
Yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan
pada mata bayi segera setelah lahir
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, pastikan untuk melakukan
tindakan pencegahan infeksi berikut ini :
a) Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
b) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
c) Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah
didinfeksi tingkat tinggi atau steril, jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang
bersih dan baru.
d) Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi
telah dalam keadaan bersih.
e) Pastikan bahwa timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda
lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan
cuci setiap setelah digunakan). (Dep.kes.RI, di akses raddit 2010)
8. Identifikasi bayi
a) Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu di pasang segera pasca
persalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir
dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
b) Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien,
di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
c) Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah
melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas

d) Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya), tanggal lahir,
nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu
e) Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir,
nomor identifikasi. (Saifudin,, di akses raddit, 2010)

B. Tinjauan Manajemen Asuhan Kebidanan


1. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah Teori yang ilmiah, penemuan-penemuan,
keterampilan dalam rangkaian proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan tahapan untuk
mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (puji lestari, 2011)
Manajemen Kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah
kesehatan ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan di dalam memberikan
asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Manajemen kebidanan bagi bidan dapat juga diartikan sebagai alat yang
digunakan seorang bidan untuk memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak.
( alfihusna, 2012)
2. Tahap Manajemen Asuhan Kebidanan
Tahapan manajemen asuhan kebidanan terdiri dari 7 langkah yaitu rangkaian
pada waktu tertentu dapat diperbaharui. Hal ini dimulai dengan mengumpulkan data
dasar dan akhiri dengan evaluasi. Ketujuh step terdiri keseluruhan kerangka kerja yang
dapat dipakai dalam segala hal situasi. Setiap langkah dapat diubah untuk sebagai
batas tugas dan kewajiban dan ini sangat bervariasi sesuai dengan bagaimana kondisi
klien saat itu.
Rangkaian 7 langkah itu adalah sebagai berikut :
1. Langkah I. Pengumpulan Data Dasar
Identifikasi dan analisa data adalah pengumpulan data untuk menilai kondisi klien.
Yang termasuk data dasar yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta catatan

tentang kesehatan lalu dan sekarang serta hasil pemeriksaan laboratorium. Data yang
dapatkan harus saling berhubungan dan menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
2. Langkah II. Identifikasi Diagnosa / Masalah Aktual
Mengindentifikasi data kedalam suatu rumusan diagnosa kebidanan dan masalah.
Kata diagnosa dan masalah digunakan kedua-duanya karena mempunyai pengertian
yang

berbeda.

Masalah

lebih

sering

berhubungan

dengan

bagaimana

klien

menceritakan keadaan yang dialaminya, sedangkan diagnosa lebih sering diindetifikasi


oleh bidan yang difokuskan pada apa yang dialami oleh klien.
3. Langkah III. Identifikasi Adanya Diagnosa / Masalah Potensial
Dari masalah dan diagnosa, identifikasi faktor-faktor potensial yang memerlukan
antisipasi segera, pencegahan kemungkinan sambil mempersiapkan pelayanan untuk
masalah yang mungkin terjadi.
4. Langkah IV. Perlunya Tindakan Segera/ Kolaborasi
Proses manajemen dilakukan secara terus menerus kepada klien dalam perawatan
bidan. Proses terus menerus ini menghasilkan data baru untuk segera dinilai. Data
yang muncul dapat menggambarkan suatu keadaan darurat dimana bidan harus segera
bertindak untuk menyelamatkan klien.
5. Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan
Dikembangkan berdasarkan intervensi saat sekarang dan antisipasi diagnosa dan
problema serta meliputi data-data tambahan setelah data dasar. Rencana tindakan
harus disetujui oleh klien, karena harus didiskusikan dengan klien. Semua tindakan
yang diambil harus berdasarkan rasional dan diakui kebenarannya serta harus dianalisa
secara teoritis.
6. Langkah VI. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Melaksanakan rencana tindakan serta efisien dan menjamin rasa aman klien.
Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan
tim kesehatan lain. Bidan harus melakukan implementasi yang efisien dan akan
mengurangi waktu perawatan dan biaya serta meningkatkan kualitas pelayanan
kebidanan klien.
7. Langkah VII. Evaluasi Tindakan Asuhan Kebidanan

Mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan. Selain


terhadap permasalahan klien, bidan juga harus mengenal apakah rencana yang telah
ditetapkan dapat dilakukan dengan baik atau mungkin timbul masalah baru.

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)


Menurut Helen Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi tujuh
langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui
proses berpikir sistematis, maka dilakukan pendokumentasian dalam bentuk SOAP
yaitu:
a. Subjektif (S)
Apa yang dikatakan, disampaikan, dikeluarkan oleh klien.
b. Objektif (O)
Apa yang dilihat dan diraba, dirasakan oleh bidan pada saat melakukan pemeriksaan
dan dari hasil pemeriksaan laboratorium.
c. Assessment (A)
Kesimpulan apa yang dibuat berdasarkan data subjektif dan objektif sebagai hasil
pengambilan keputusan klinik terhadap klien tersebut.
d. Planning (P)
Apa yang dilakukan berdasarkan hasil kesimpulan dan evaluasi terhadap keputusan
klinis yang diambil dalam rangka mengatasi masalah klien / memenuhi kebutuhan klien