Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS

FISIKOKIMIA II
Identifikasi Senyawa-Senyawa Golongan Alkohol, Fenol, dan Asam
Karboksilat

Disusun Oleh :
Prasetyo Dwi A.P.
260110130135

LABORATORIUM ANALISIS FISIKOKIMIA II


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

I.

TUJUAN
1. Mengetahui cara identifikasi senyawa-senyawa golongan alkohol, fenol dan
asam karboksilat

II.

PRINSIP
1. Reaksi identifikasi golongan alkohol
Terbentuk ester jika ditambahkan asam karboksilat yang dapat diamati dari
aromanya

2. Reaksi identifikasi golongan fenol


-

Ditambahkan larutan FeCl3 terbentuk kompleks berwarna

Pengkopelan dengan reagensia diazotasi

Ditambahkan Marquis tebentuk kompleks berwarna

3. Reaksi identifikasi golongan asam karboksilat

III.

Asam dapat memerahkan kertas lakmus biru

Senyawa asam dapat tersublimasi jika dipanaskan

Asam dapat teresterifikasi dengan alkohol

REAKSI
1. Golongan Alkohol
a) Etanol
Asam benzoat

(Vogel, 1989).
Iodoform

(Mardjuki, 1990).

K2Cr2O7

(Hart, 2003).
b) Gliserin

(Petrucci, 1992).
c) Mentol

(Brady, 1999).
3.2 Golongan Fenol
a. Fenol
Fenol + KCrO

Fenol + FeCl

(Kelly,2009)
b. Nipagin
Nipagin + FeCl3

(Hart, 2003).

Nipagin + HNO

(Brady, 1999).

c. Hidrokinon
Hidrokinon + FeCl

(Funabika et al,1998)
Hidrokinon + NaOH

d. Resorsinol
Resorsinol + FeCl

(Svehla, 1986)

3.3 Golongan Asam karboksilat


a. Asam Tartat
Asam tartat

(Mardjuki,1990)

b. Asam benzoate
(Svehla,1986)

IV.

TEORI DASAR
Gugus fungsi adalah suatu atom atau kumpulan atom yang terikat
bersama dengan suatu cara tertentu pada suatu molekul dan kemudian
mempengaruhi sifat fisik dan kimia dari olekul secara keseluruhan
(Puspawati, 2012).
Alkohol dan fenol yang disebut sebagai alkohol aromatik
mempunyai rumus struktur R-OH. Dimana pada alkohol (alkohol alifatik)
R nya adalah gugus alkil. Sedagkan perbedaannya dengan fenol adalah
gugus R-nya adalah gugus aril. Alkohol adalah suatu senyawa organik yang
tersusun dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Sifat lain dari alkohol
dapat ditentukan dari letak gugus hidroksil pada atom C yang dikenal
sebagai alkohol primer, dimana gugus hidroksida terikat oleh atom
sekunder, alkohol tersier dimana gugus hidroksida terikat oleh atom karbon
tersier ( Ika Mariska, 2003).
Fenol mempunyai rumus struktur yang serupa dengan alkohol tetapi
gugus fungsinya melekat langsung pada cincin aromatik, dan dengan Ar(sebagai aril) maka rumus umum fenol dituliskan sebagai Ar-OH. Fenol
lebih asam dari alkohol karena anion yang dihasilkan dan distabilkan oleh

resonansi, dengan muatan negatifnya disebar (delokalisasi) oleh cincin


aromatik (Ika Mariska, 2003).
Beberapa perbedaan antara fenol dan alkohol adalah :
-

Alkohol memiliki rantai karbon terbuka, fenol memiiki rantai karbon


tertutup (melingkar)

Alkohol dan fenol bersifat asam lemah. Namun, sifat asam pada fenol
lebih kuat daripada alkohol. Alkohol adalah asam yang sangat lemah,
bahkan hampit netral

Alkohol tidak bereaksi dengan basa (karena sifatnya yang lemah),


sedangkan fenol bereaksi dengan basa

Alkohol bereaksi dengan Na atau Px3, sedangkan fenol tidak bereaksi

Alkohol bereaksi dengan asam karboksilat, sedangkan fenol tidak


(Petrucci, 1987)
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang
mengandung gugus karbonil (-COOH). Gugus karbonil mengandung
gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil, untuk asam karboksilat
asam asetat (CH3COOH) sejauh ini merupakan asam karboksilat yang
ppaling sering digunakan di laboratorium. Bentuk murinya disebut asam
asetat glukal, bentuknya tidak berwarna, sifatnya mudah terbakar serta
memiliki bau khas yang pedas mengigit ( Fessenden, 1997 ).

V.

ALAT DAN BAHAN


1.

Alat
-

Kaca objektif

Pelat tetes

Pembakar bunsen

Penjepit kayu

Tabung reaksi

2.

VI.

Bahan
-

Asam benzoat

Asam sitrat

Asam tartrat

Etanol

Fenol

Gliserin

Hidrokinon

Mentol

Nipagin

Resorsinol

TABEL DATA PENGAMATAN


1. Golongan Alkohol
Etanol

No.
1

Perlakuan

Hasil

1 ml etanol dimasukkan ke dalam

tabung

reaksi.

Selanjutnya

ditambahkan asam salisilat, kemudian


secara

perlahan

tabung
Selanjutnya

melalui

ditambahkan
tutup

mulut

dinding
H2SO4.
tabung

dengan sumbat kapas dan dipanaskan

Keterangan
Tercium aroma balsam

dia tas penangas air, aroma pada


penutup kapas diamati.
2

Larutan jenuh K2Cr2O7 ditambahkan

Ketika

ditambahkan

ke dalam sampel pada tabung reaksi,

K2Cr2O7 larutan berubah

kemudian ditambhakan lagi H2SO4

warna menjadi kuning,

50%

setelah

ditambahka

H2SO4 larutan berubah


warna

menjadi

hijau

kebiruan

Gliserin
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

Larutan gliserin dicampurkan dengan

Ketika

CuSO4 terbentuk 2 fase,

tetes

CuSO4

dan

dibasakan dengan NaOH

kemudian

ditambahkan

larutan masih berwarna


bening.
Ketika

ditambahkan

NaOH larutan berubah


warna menjadi biru tua

Sampel dikisatkan di atas penangas air

Sampel menjadi larut,


tetapi

masih

tetap

terbentuk 2 fase

Mentol
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

Mentol diletakkan di atas pelat

Tercium aroma pedas

tetes untuk diamati aromanya

dan kuat

Menggunakan pelat tetes, H2SO4

Ketika

dan

H2SO4 larutan berubah

vanilin

dalam mentol

ditambahkan

ke

ditambahkan

warna menjadi oranye,


ketika

ditambahkan

vanilin larutan berubah


warna menjadi ungu
gelap

2. Golongan Fenol
Fenol
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

FeCl3 ditambahkan ke dalam

Larutan berubah warna

larutan sampel di atas pelat tetes

menjadi

biru

tua

keunguan

Larutan zat dibuat dalam air

Larutan berubah warna

kemudian diteteskan di atas pelat

menjadi merah muda

tetes, ditambahkan p-DAB

Dilakukan uji kalium dikromat

Tidak

terjadi

metode I

perubahan warna

Nipagin
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

Dibuat larutan zat dalam tabung

Ketika

dipanaskan,

reaksi

nipagin

larut

untuk

kemudian

dipanaskan, lalu ditambahkan

terbentuk

FeCl3

gelombang
berubah

dan

banyak
serta
warna

menjadi merah muda

Sampel diletakkan di atas pelat

Larutan

berubah

tetes, ditambahkan HNO3

warna

menjadi

kuning

Hidrokinon
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

Zat dilarutkan dalam air di dalam

Larutan berubah warna

tabung reaksi, kemudian ditambahkan

menjadi abu pekat

larutan perak nitrat amoniakal

Sampel ditambahkan FeCl3

Larutan berubah warna


menjadi jingga

Sampel ditambahkan larutan timbal

Tidak terjadi perubahan

asetat dan NH4OH

warna

Sampel ditambahkan larutan NaOH

Larutan berubah warna


menjadi coklat tua

Resorsinol
No.
1

Perlakuan

Hasil

Keterangan

Zat dilarutkan dalam air, kemudian

Larutan berubah warna

ditambahkan p-DAB

menjadi merah muda

Sampel ditambahkan larutan FeCl3

Larutan berubah warna


menjadi

abu-abu

kehitaman

Zat dilarutkan dengan air di dalam

Larutan berubah warna

tabung

menjadi

reaksi,

kemudian

ditambahkan larutan perak nitrat


amoniakal

kecoklatan

hitam

3.

Golongan asam karboksilat


Asam Tartrat

No.
1

Perlakuan
Larutan

Hasil

senyawa

tartrat

Larutan

direaksikan dengan tembaga (II)


sulfat,

kemudian

Keterangan
berubah

warna menjadi biru

dibasakan

dengan natrium hidroksida

Asetosal
No.
1

Perlakuan
Dilakukan

reaksi

terhadap sampel

Hasil
Marquis

Keterangan
Ketika

dipanaskan,

nipagin

larut

terbentuk
gelombang
berubah

dan

banyak
serta
warna

menjadi merah muda

Sampel ditambahkan FeCl3

Larutan

berubah

warna

menjadi

kuning

200 mg sampel dididihkan

Tercium

aroma

dengan 4 mL larutan natrium

minyak,

ketika

hidroksida selama 3 menit, lalu

dikocok

akan

ditambahkan 5 ml asam sulfat

terbentuk

encer, kemudian dipanaskan

kental

kristal

dengan metanol dan 2 mL asam


sulfat peka

Asam benzoat
No.
1

Perlakuan
Sampel dipanaskan bersama asam
sulfat dalam tabung reaksi

Hasil

Keterangan
Terbentuk endapan putih

Larutan benzoat direaksikan dengan

Larutan berubah warna

larutan besi (III) klorida

menjadi

jingga

kemudian

terbentuk

endapan putih

VII.

muda,

PEMBAHASAN
1. Golongan Alkohol
Pada uji identifikasi senyawa alkohol ini, gugus fungsi pertama yang
dianalisis merupakan gugus fungsi etanol seperti yang banyak diketahui,
etanol ini memiliki banyak kegunaan yaitu sebagai zat tambahan pada
pembuatan sediaan farmasi, campuran bahan bakar spirtus bahkan
antiseptik. Untuk mengidentifikasi senyawa etanol dapat dilakukan dengan
cara esterifikasi, iodoform dan kalium dikromat. Pada prosedur esterifikasi
ini, senyawa pereaksi yang digunakan dapat berupa asam salisilat ataupun
asam benzoat. Reaksi yang terjadi pada esterifikasi dengan menggunakan
asam salisilat atau asam benzoate ini dapat terjadi karena gugus OH pada
senyawa tersebut akan terlepas dan berikatan dengan gugus H yang
dilepaskan oleh etanol akibat adanya katalis yaitu asam sulfat. Seharusnya
ketika esterifikasi menggunakan asam benzoat, maka ester yang dihasilkan
akan meghasilkan warna biru tua dan memiliki aroma buah-buahan, hal itu
disebabkan karena gugus benzene yang tersubstitusi pada etanol merupakan
gugus aromatik. Saat pengujian digunakan asam salisilat, sehingga ester
yang dihasilkan akan menyebabkan larutan yang dihasilkan berwarna
bening dan menghasilkan aroma seperti balsam.
Reaksi selanjutnya yaitu etanol direaksikan dengan larutan jenuh
kalium dikromat jenuh dalam asam sulfat 50%. Kalium dikromat ini
merupakan oksidator yang kuat, maka dari itu, ketika direaksikan dengan

etanol yang meruapakan alcohol primer maka etanol akan teroksidasi


menjadi aldehid dan lalu teroksidasi lagi menjadi asam karboksilat. Maka
dari itu, unutk membuat reaksi berhenti pada terbentuknya aldehid,
kekuatan oksidasi dari kalium dikromat harus dilemahkan dengan
menggunakan asam sulfat sebagai pelarutnya, perubahan warna yang terjadi
pada larutan ini dikarenakan oleh perubahan bilangan oksidasi krom.
Reaksi identifikasi gugus alkohol selanjutnya adalah gliserin. Dalam
reaksi ini pertama-tama gliserin diteteskan dengan menggunakan CuSO4
yang akan menghasilkan warna larutan berwarna bening, kemudian ketika
dibasakan dengan menggunakan NaOH, larutan akan berwarna biru tua, hal
tersebut terjadi karena terbentuknya kompleks Cu. Uji identifikasi ini
merukan reaksi yang dilakukan untuk membedakan senyawa monovalent
atau polivalen. Uji tes ini akan menghasilkan positif jika direaksikan dengan
senyawa yang memiliki gugus hidroksil lebih dari satu. Sehingga, pada saat
direaksikan dengan gliserin menghasilkan hasil yang positif karena apabila
dilihat dari strukturnya, gliserin memiliki tiga gugus hidroksi (polivalen).
CuSO4 bertindak sebagai oksidator yang mengalami reduksi pada suasa
basa, pemberi suasana basanya sendiri adalah NaOH.
2. Golongan Fenol
Senyawa golongan fenol yang digunakan untuk dipelajari
identifikasinya adalah fenol, nipagin, hidrokuinon, dan resorsinol. Senyawa
fenol merupakan senyawa aromatik yang memiliki satu gugus hidroksi.
Pada saat fenol direaksikan dengan FeCl3 pada pelat tetes terjadi perubahan
yaitu terbentuk larutan berwarna biru tua-ungu. Selain itu, identifikasi fenol
pun dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi p-DAB (paradimetilaminobenzaldehida), larutan akan berubah warna menjadi merah
muda. Senyawa golongan fenol selanjutnya yang telah dipelajari untuk
identifikasi adalah nipagin. Prosedur pertama dalam identifikasi nipagin
dilakukan dengan merekasikannya dengan FeCl3 yang menghasilkan
larutan warna merah muda dalam pelat tetes. Selain itu, nipagin pun dapat

diidentifikasi dengan menggunakan HNO3 pada pelat tetes yang diambil di


ruang asam menghasilkan larutan berwarna kuning. Senyawa golongan
fenol selanjutnya yang diidentifikasi adalah hidrokinon. Hidrokuinon
merupakan senyawa fenol polivalen. Identifikasi hidrokuinon dapat
dilakukan dengan penambahan larutan perak nitrat amoniakal yang akan
menghasilkan warna abu pekat, hidrokunon pun dapat dilakukan dengan
menggunakan pereaksi FeCl3 sehingga menghasilkan larutan jingga.
Hidrokuinon juga dapat diidentifikasi dengan penambahan larutan timbal
asetat dan NH4OH. Reagen selanjutnya yang dapat digunakan untuk
identifikasi senyawa hidrokinon adalah NaOH yang menghasilkan larutan
berwarna coklat tua.
Senyawa golongan fenol terakhir yang diidentifikasi

dalam

praktikum kali ini adalah resorsinol. Resorsinol dapat diidentifikasi dengan


menggunakan pereaksi p-DAB HCl, larutan perak amoniakal dan pereaksi
FeCl3. Resorsinol termasuk dalam fenol polivalen yang saat direaksikan
dengan pereaksi FeCl3 akan menghasilkan larutan berwarna abu-abu
kehitaman. Hal ini dikarenakan gugus hidroksi yang dimiliki oleh resorsinol
terpecah dan bereaksi dengan Fe3+. Selain itu, identifikasi resorsinol dapat
dilakukan dengan menggunakan pereaksi p-DAB HCl menghasilkan larutan
berwarna kuning bening. Ketika direaksikan dengan p-DAB resorsinol akan
berubah warna menjadi merah muda, selanjutnya ketika direaksikan dengan
larutan perak amoniakal resorsinol akan berubah warna menjadi hitam
kecoklatan.

3. Golongan Asam Karboksilat


Senyawa asam karboksilat adalah senyawa yang memiliki gugus
karboksilat pada rantai alifatik atau aromatik. Senyawa yang digunakan
dalam identifikasi senyawa golongan asam karboksilat adalah asam tartrat,
asetosal, dan asam karboksilat. Identifikasi senyawa asam karboksilat
pertama yg dilakukan adalah asam tartrat. Asam tartrat direaksikan dengan

larutan CuSO4 kemudian dibasakan dengan NaOH terjadi perubahan warna


biru tua jernih.
Identifikasi senyawa asam karboksilat selanjutnya adalah senyawa
asetosal dengan merekasikan senyawa tersebut dengan larutan marquis,
dimana tidak terjadi reaksi ataupun perubahan warna pada larutan.
Identifikasi selanjutnya dilakukan dengan merekasikan asetosal dengan
FeCl3 perubahan warna yang dihasilkan oleh reaksi ini menghasilkan warna
ungu hal tersebut terjadi karena adanya gugus dalam asetosal yang
tersubstitusi oleh Fe3+. Identifikasi lain dapat dilakukan dengan direaksikan
dengan NaOH dan H2SO4 yang menghasilkan aroma minyak, dan ketika
dikocok akan terbentuk kristal kental.
Identifikasi lain golongan asam karboksilat adalah asam benzoat.
Ketika asam benzoat direaksikan dengan asam sulfat dalam keadaan
dipanaskan, makan akan terbentuk endapan putih. Selain itu ketika asam
benzoat direaksikan dengan FeCl3 maka larutan akan berubah warna
menjadi jingga muda dan terbentuk endapan putih.

VIII.

SIMPULAN
1. Dapat melakukan identifikasi senyawa-senyawa golongan alkohol seperti
senyawa etanol dengan menggunakan pereaksi esterifikasi asam sulfat/asam
benzoat, dan K2Cr2O7. Senyawa gliserin dengan penambahan CuSO4 +
NaOH dan pengkisatan.
2. Dapat melakukan identifikasi senyawa-senyawa golongan fenol seperti
senyawa fenol dengan menggunakan pereaksi FeCl3 dan p-DAB HCl.
Senyawa nipagin menggunakan FeCl3 dan HNO3. Senyawa hidrokinon
menggunakan Ag(NH3)NO3 , FeCl3, dan NaOH. Senyawa resorsinol
menggunakan p-DAB HCl, Ag(NH3)NO3 , dan FeCl3
3. Dapat melakukan identifikasi senyawa-senyawa golongan asam karboksilat
seperti senyawa asam tartrat dengan menggunakan pereaksi CuSO4 +
NaOH. Senyawa asam salisilat menggunakan marquis dan FeCl3. Senyawa
asam benzoat menggunakan FeCl3.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, james. 1999. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga


Fessenden, Ralph J. 1997. Organic Chemistry. USA: Willard Grant Press
Publisher.
Funabika, et al. 1998. Oxygenases and Model Systems (Catalysis by Metal
Complexes). England : Springe
Hart, Harold. 2003. Kimia Organik. Ed. II. Jakarta: Erlangga
Ika Mastika. 2003. Pemanfaatan Kultur In Vitro Untuk Meningkatkan Keragaman
Genetik Tanaman Nilam. Jurnal Litbang pertanian, Vol. 22, No. 2
Kelly. 2009. The Curriculum: Theory and Practice. Elsevier.
Mardjuki. 1990. Kimia Organik. Yogyakarta: UGM
Petrucci, R. H. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat
Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Puspawati, I.N. 2012. Isolasi Gelatin Dari Kulit Ayam Broiler Dan Karakterisasi
Gugus Fungsinya Dengan Spektrofotometri Fhr. Journal of Chemistry, Vol.
6, No. 1
Svehla. 1985. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta: Kalman Media Pustak