Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
Nama

: Tn. A

Usia

: 41 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Kp. Cikundul 02/09 Kec. Kopo

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan Terakhir

: SMA

Status perkawinan

: Menikah

No. RM

: 517929

Tanggal Pemeriksaan

: 1 Agustus 2015

II. Anamnesa
Dilakukan anamnesis kepada pasien pada hari Sabtu, 1 Agustus 2015 pukul 10.00 di Poli
RSUD Soreang.
Keluhan Utama :
Buah zakar sebelah kanan yang membesar

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Bagian Poli Bedah RSUD Soreang dengan keluhan buah zakar sebelah
kanan membesar sejak kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pada benjolan
tidak terlihat adanya perubahan warna kulit dan benjolan tidak hilang timbul. Pasien
mengeluh ada nyeri pada daerah buah zakar kanannya namun tidak memerah. Sebelumnya
tidak dirasakan demam. BAK dalam batas normal.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Pasien belum pernah mengalami benjolan sebelumnya.
Riwayat Keluarga :
Di keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami hal serupa sebelumnya
III. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis. GCS 15

Tanda vital

: TD = 130/80 mmHg
RR = 20 x/menit
N = 88 x/menit
S = 36,0 0C

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher

: Kelenjar Getah Bening tidak teraba

Thorax Depan

Inspeksi

: Bentuk dan gerakan simetris, tidak adanya sikatrik, pelebaran


sela iga dan pelebaran pembuluh darah.

Palpasi

: Trakea tidak deviasi, Vesicular breathing sound kanan = kiri,


Fremitus taktil dan fremitus vocal kanan = kiri.

Perkusi

: Sonor kiri kanan, batas paru hepar ICS V linea midclavicularis


dextra,

Auskultasi

: Vesicular breathing sound kanan = kiri, Vocal Resonance


kiri= kanan, Ronkhi -/- wheezing -/-

Cor
Inspeksi

: iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra

Perkusi

: pekak, batas jantug kesan normal

Auskultasi

: Bunyi jantung S1-S2 murni, regular, murmur (-) gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Datar

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: nyeri tekan epigastrium (+). Hepar dan lien tidak teraba


pembesaran

Perkusi
Ekstremitas

: timpani pada seluruh kuadran


: Akral hangat, capillary refill time < 2 s

Status Lokalis
Inspeksi

: tampak massa et regio skrotum dextra, tidak ada perubahan


warna kulit, dengan ukuran diameter 2x2x2 cm

Auskultasi

: Bising usus (-)

Palpasi

: teraba massa dengan konsistensi kenyal, mobile, permukaan


licin, batas tegas, nyeri tekan (+)

Perkusi

: tidak dilakukan

IV. Resume
Pasien datang ke Bagian Poli Bedah RSUD Soreang dengan keluhan buah zakar sebelah
kanan membesar dan nyeri sejak kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pada
benjolan tidak terlihat adanya perubahan warna kulit dan benjolan tidak hilang timbul. Pada
pasien juga tidak ditemukan keluhan demam. Tidak terdapat keluhan pada BAK. Dilakukan
pemeriksaan penunjang transiluminasi hasilnya terd Disarankan untuk melakukan
pemeriksaan urin rutin, USG testis, dan biopsi.
V. Diagnosis Banding

VI.

Seminoma Testis et regio testis dextra


Orchitis et regio testis dextra
Torsio testis et regio testis dextra
Hidrokel et regio testis dextra
Varikokel et regio testis dextra
Hernia skrotalis et regio testis dextra

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Transiluminasi : cahaya terhalang massa (-)


Darah rutin
Urin rutin
USG
VII.

Diagnosa Kerja
Susp. seminoma testis et regio skrotum dextra

VII.

Terapi

Cravox 2x1
Nutriflam 2x1
Sanmol 3x1
Rencana orchiektomi

IX. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

BAB II
5

TINJAUAN PUSTAKA
I.

Anatomi Testis

Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di scrotum. Ukuran testis pada orang
dewasa adalah 4x3x2,5 cm, dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid. Kedua buah testis
terbungkus oleh jaringan Tunika albuginea yang melekat pada testis. Diluar Tunika albuginea
terdapat Tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis, serta Tunika dartos.
Otot kremaster yang berada di sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakkan
mendekati rongga abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.
Testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari Tubulus seminiferus, sel-sel
Sertoli dan sel-sel Leydig. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi pada T. seminiferus.
Sel-sel Leydig mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis terdapat duktus
melingkar yang disebut epididimis, bagian kepalanya berhubungan dengan duktus
seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut ke vas
deferens. Vas deferens adalah duktus ekskretorius testis yang membentang hingga ke duktus
vesikula seminalis, kemudian membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius
selanjutnya bergabung dengan urethra yang merupakan saluran keluar bersama baik untuk
sperma maupun kemih.

Secara histologis , testis terdiri atas 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri atas Tubuli
seminiferi. Didalam Tubulus seminiferus terdapat sel-sel Spermatogonia dan sel Sertoli,
sedang diantara Tubuli seminiferi terdapat sel-sel Leydig. Sel-sel sperma togonium pada
proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel sertoli berfungsi memberi makan
pada bakal sperma, sedangkan sel-sel Leydig atau disebut sel-sel interstisial testis berfungsi
dalam menghasilkan hormon testosteron.
Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di Tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami
pematangan/maturasi di epididimis. Setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersamasama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas
deferens. Sel-sel itu setelah bercampur dengan cairan-cairan dari epididimis, vas deferens,
vesikula seminalis, serta cairan prostat membentuk cairan semen atau mani.
Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :
1. Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta.
2. Arteri deferensialis cabang dari A. vesikalis inferior
3. Arteri kremasterika yang merupakan cabang A. Epigastrika
Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus Pampiniformis
di funikulus spermatikus. Pleksus ini di anulus inguinalis interna akan membentuk vena
spermatika. Vena spermatika kanan akan masuk ke dalam vena cava inferior sedangkan vena
spermatika kiri akan masuk ke dalam vena renalis kiri.

II.

Fisiologi Testis

Testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin untuk
mensekresi hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual.
Pusat pengendalian hormonal dari sistem reproduksi adalah sumbu hipotalamus-hipofisis.
Hipotalamus memproduksi Gonadotropin Hormone Releasing Hormone (GnRH). Hormonhormon ini adalah Follicle Stimulating Hormone Releasing Hormone (FSHRH) dan
Luteinizing Hormone Releasing Hormone (LHRH). Hormone-hormon ini dibawa ke hipofisis

anterior untuk merangsang sekresi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing
Hormone (LH), yang pada pria lebih umum dikenal sebagai Interstitial Cell Stimulating
Hormone (ICSH).
Proses pematangan sel-sel Leydig janin dikendalikan oleh kromosom Y dan dirangsang
oleh ICSH. Sel-sel Leydig ini akan menghasilkan testosteron yang menyebabkan proses
diferensiasidari vasa deferens dan vesikula seminalis. Metabolit testosteron yaitu
Dihirotestosteron (DHT), menyebabkan proses diferensiasi dari prostat dan genitalia
eksterna.
Produksi testosteron oleh sel-sel interstitial Leydig pada pria akan sangat meningkat pada
permulaan pubertas. ICSH akan merangsang sel-sel Leydig untuk menghasilkan testosteron,
DHT dan estradiol, FSH akan merangsang sel sertoli untuk mempengaruhi pembentukan
sperma. FSH dalam kadar yang rendah juga akan memperkuat efek perangsangan ICSH.
Testosteron harus dihasilkan dalam kadar yang cukup supaya proses spermatogenesis dapat
berlangsung dengan sempurna. Dengan demikian, baik FSH maupun ICSH harus dilepaskan
oleh hipofisis anterior agar spermatogenesis dapat berlangsung. Selanjutnya, testosteron,
DHT, estradiol dan zat yang disekresi oleh tubular-inhibin akan menghambat sekresi ICSH
dan FSH oleh hipofisis anterior, sehingga terjadi sistem umpan balik yang mengatur kadar
testosteron dalam sirkulasi darah.

III.

Definisi Seminoma

Seminoma testis adalah salah satu jenis karsinoma testis yang berasal dari sel
germinativum turunan gonadal dengan gambaran histopatologis yang ditandai oleh bentukan
sel besar dengan batas yang jelas, sitoplasma jernih kaya akan glikogen dan nukleus bulat
dengan nukleolus jelas (Guyton, 2007; Anderson, 2005; Chabner, 2007).

IV.

Epidemiologi Seminoma

Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara 15-35 tahun dan
merupakan 1-2% dari semua neoplasma pada pria. Akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia
8

harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu,
karena sarana diagnosis lebih baik, ditemukan petanda tumor, ditemukan regimen kemoterapi
dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50%
(1970) menjadi 5% (1977).
Dari semua tumor maligna pada laki-laki 1-2% terlokalisasi di dalam testis. Kira-kira
90% dari semua tumor testis primer terdiri atas tumor sel embrional, selanjutnya dapat
dijumpai tumor sel Sertoli-Leydig dan limfoma maligna. Insidensi tumor sel embrional
maligna di Belanda adalah kira-kira 4 per 100.000 laki-laki tiap tahun. Tiap tahun kira-kira
300 penderita baru didiagnosis dengan kelainan maligna ini. Tumor-tumor sel embrional
maligna testis merupakan tumor maligna yang paling sering terdapat pada laki-laki usia 20-40
tahun meskipun pada penderita kurang dari 5 tahun dan lebih dari 70 tahun juga dapat
dijumpai tumor testis.

V.

Etiologi

Penyebab tumor testis belum diketahui dengan pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang
erat kaitannya dengan peningkatan kejadian tumor testis, antara lain maldesensus testis,
trauma testis, atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormon.
Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus mempunyai resiko lebih tinggi
terjadinya tumor testis ganas. Walaupun pembedahan kriptorkismus pada usia muda
mengurangi insidens tumor sedikit, resiko terjadinya tumor tetap tinggi. Kriptorkismus
merupakan suatu ekspresi disgenesia gonad yang berhubungan dengan transformasi ganas.
Penggunaan hormon dietilstilbestrol yang terkenal sebagai DES oleh ibu pada kehamilan dini
meningkatkan resiko tumor maligna pada alat kelamin bayi pada usia dewasa muda.

VI.

Klasifikasi dan Patofisiologi Tumor Testis

Sebagian besar ( 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal, sedangkan isinya
berasal dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma.
Seminoma berbeda sifatnya dengan non-seminoma, antara lain sifat keganasannya, respon
terhadap radioterapi dan prognosis tumor.
9

Tumor-tumor sel embrional testis merupakan satu golongan tumor yang heterogen. Dari
berbagai klasifikasi tumor testis ganas, klasifikasi organisasi kesehatan dunia (WHO) paling
sering dipakai. Disamping seminoma yang memang berasal dari sel germinal terdapat
karsinoma embrional, teratoma dan koriokarsinoma yang digolongkan non seminoma, yang
dianggap berasal dari sel germinal pada tahap perkembangan lain histogenesis. Seminoma
meliputi sekitar 40% dari tumor ganas testis. Koriokarsinoma jarang sekali ditemukan (1%).
Metastasis tumor testis kadang berbeda sekali dari tumor induk, yang berarti tumor primer
terdiri dari berbagai jenis jaringan embrional dengan daya invasi yang berbeda.
Klasifikasi patologik tumor testis menurut WHO:
I. Tumor sel bening:
A. Tumor dengan satu pola histologik:
1. Seminoma
2. Khoriokarsinoma
3. Karsinoma embrional
4. Yolk sac tumor (Karsinoma embrional tipe infantile)
5. Teratoma:
a. Matur
b. Imatur
c. Dengan transformasi maligna
B. Tumor dengan lebih dari satu pola histologik:
1. Karsinoma embrional plus teratoma (teratokarsinoma)
2. Kariokarsinoma dan tipe lain apapun (perinci tipe-tipenya)
3. Kombinasi lain (perinci)
10

II. Tumor stromal-Tali kelamin:


A.
a.
b.
c.
B.
C.

Bentuk berdiferensiasi baik:


Tumor sel leydig
Tumor sel sertoli
Tumor sel granulose
Bentuk campuran (perinci)
Bentuk berdiferensiasi tidak lengkap

Seminoma merupakan tumor maligna testis yang tersering, diikuti dengan Karsinoma
embrional, teratoma dan khoriokarsinoma. Sekresi Gonadotropin khorionik berhubungan
dengan hiperplasia sel Leydig. Tumor testis sel benigna jarang terjadi.
Seminoma dapat dianggap sebagai tumor pendahulu sel embrional (gonosit) yang arah
diferensiasinya berlanjut ke arah sel embrional (germ cell). Tumor-tumor non seminoma
dapat dianggap sebagai tumor sel embrional pluripoten. Tumor yang paling tidak
terdiferensiasi dalam golongan ini adalah karsinoma sel embrional yang didalamnya tidak
tampak arah diferensiasi spesifik. Koriokarsinoma berupa produk kehamilan, teratoma
merupakan campuran jaringan-jaringan somatik, seperti berbagai tipe epitel, tulang rawan,
jaringan otot dan saraf dan berasal dari berbagai lapisan embrional (ektoderm, mesoderm,
endoderm). Jika jaringan-jaringan ini menunjukkan struktur normal (hampir normal) maka ini
disebut teratoma matur, jika arah diferensiasi jaringan dapat dikenal dengan baik, dan jika
diferensiasinya tidak seluruhnya dewasa/matang, maka ini disebut teratoma imatur. Tipe nonseminoma merupakan manifestasi berbagai arah diferensiasi sel-sel embrional pluripoten,
maka suatu non seminoma hampir selalu tersusun atas bermacam-macam komponen.
Tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe. Kelenjar limfe terletak paraaortal kiri
setinggi L2 tepat dibawah hilus ginjal dan di sebelah kanan antara aorta dan vena kava
setinggi L3 dan prakava setinggi L2. Metastasis di kelenjar inguinal hanya terjadi setelah
penyusupan tumor ke dalam kulit skrotum atau setelah dilakukan pembedahan pada funikulus
spermatikus. Penyebaran hematogen luas pada tahap dini merupakan tanda koriokarsinoma.

VII.

Pertumbuhan dan Penyebaran


Penentuan stadium klinis yang sederhana dikemukakan oleh Boden dan Gibb :

11

Stadium A atau I : tumor terbatas pada testis, tidak ada bukti penyebaran baik secara
klinis maupun radiologis.
Stadium B atau II : tumor telah mengadakan penyebaran ke kelenjar regional (para aorta)
atau nodus limfatikus iliaka. Stadium II A untuk pembesaran limfonodi para aorta yang belum
teraba, stadium II B untuk pembesaran limfonodi yang telah teraba (>10 cm).
Stadium C atau III : tumor telah menyebar keluar dari kelenjar retroperitoneum atau telah
mengadakan metastasis supradiafragma.

12

Untuk klasifikasi tingkat penyebaran, digunakan sistem TNM Karsinoma Testis

Tumor primer

T0

Tidak ditemukan tumor primer

Tis

Pra invasif (intratubular sel embrional)

T1

Terbatas pada Testis dan Epididimis atau invasi ke


T. albuginea
Di luar T.albuginea sampai ke T. vaginalis

T2
Funikulus spermatikus
T3
Skrotum
T4
Kelenjar limfe
N
Tidak ditemukan keganasan
N0
Tunggal < 2 cm
N1
Tunggal 2-5 cm ; multiple < 5 cm
N2
Tunggal atau multiple > 5 cm
N3
Metastasis jauh
M
Tidak dapat ditemukan
M0
Terdapat metastasis jauh
M1

VIII.

Manifestasi Klinis

13

Pasien biasanya mengeluh adanya pembesaran testis yang seringkali tidak nyeri, namun
30% mengeluh nyeri dan terasa berat pada kantung skrotum, sedang 10% mengeluh nyeri
akut pada skrotum. Tidak jarang pasien mengeluh karena merasa ada massa di perut sebelah
atas (10%) karena pembesaran kelenjar para aorta, benjolan pada kelenjar leher dan 5%
pasien mengeluh adanya ginekomastia. Ginekomastia adalah manifestasi dari beredarnya
kadar HCG didalam sirkulasi sistemik yang banyak terdapat pada koriokarsinoma.
Pada pemeriksaan lokalis testis terdapat benjolan padat keras, tidak nyeri pada palpasi
dan tidak menunjukkan tanda transiluminasi. Diperhatikan adanya infiltrasi tumor pada
funikulus atau epididimis. Perlu dicari kemungkinan adanya massa di abdomen, benjolan
kelenjar supraklavikuler, ataupun ginekomasti.
Simtomatologi dari tumor primer :

Permulaan akut ( gambaran seperti orkitis, epididimitis, torsio testis).

Permulaan yang diskret seperti pembengkakan tanpa nyeri testikal atau pengerasan
lokal atau deformasi testikel.

Hidrokel simtomatik (sesudah pungsi palpasi testis).

Nyeri lokal, sering menyebar di sisi yang sama ke krista iliaka.

Kadang-kadang sama sekali tanpa keluhan atau kelainan ; metastasis merupakan


manifestasi pertama penyakitnya.
Simtomatologi mengenai metastasis :

Nyeri punggung yang samar akibat metastasis kelenjar retroperitoneal.

Kolik ginjal sebagai akibat bendungan atau penutupan ureter oleh metastasis kelenjar
retroperitoneal.

Nyeri yang menyebar ke tungkai.

Tumor yang palpabel di perut sebagai akibat metastasis kelenjar limfe.

14

Pembengkakan subklavikular, terutama kiri.

Dispnoe, hemoptoe, iritasi pleura oleh metastasis paru.

Malaise umum dengan anemia dan laju endap darah yang tinggi.
Gejala dan tanda lain seperti nyeri pinggang, kembung, dispnoe atau batuk dan
ginekomasti menunjukkan pada metastasis yang luas. Metastasis paraaorta sering luas dan
besar sekali menyebabkan perut menjadi kembung. Metastasis di paru kadang tertabur luas
dan cepat menjadi besar, sehingga sesak nafas. Gonadotropin yang mungkin disekresi oleh
sel tumor dapat menyebabkan ginekomasti. Kadang keadaan umum merosot cepat dengan
penurunan berat badan.

IX.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik:


Pemeriksaan Fisik pada skrotum dimulai dengan inspeksi. Kedua sisi diperiksa untuk
melihat adanya perbedaan ukuran yang nyata, derajat bengkak, eritema, perbedaan ketebalan
kulit dan posisi testis. Terdapatnya bengkak yang unilateral tanpa diikuti perbedaan warna
kulit menandakan adanya hernia atau hidrokel. Bila kulit skrotum terlihat mengkilat,
gambaran blue dot sign dari tetis ataupun appendiks epididimis yang infark akan terlihat.
Selanjutnya palpasi dimulai dari daerah inguinal untuk menyingkirkan diagnosis hernia
inguinalis inkarserata. Kemudian dilanjutkan ke daerah funikulus spermatikus. Jika pada
daerah tersebut terasa menebal dan teraba lembut mendukung torsio testis, sedangkan bila
teraba lembut saja bisa terjadi epididimitis.
Pemeriksaan transiluminasi harus dilakukan pada massa atau pembengkakan di testis.
Cahaya tidak akan melewati tumor primer, sedangkan pada hidrokel muncul warna
kemerahan.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
1. USG skrotum
15

USG adalah sarana diagnostik yang reliabel dan efektif untuk membedakan abnormalitas
testicular dan paratestikular. USG transkrotal adalah pilihan pertama untuk mengevaluasi
lebih lanjut pasien dengan massa dan atau nyeri di testis. Testis yang normal memiliki
ekotekstur yang normal, sementara kanker testis biasanya muncul sebagai lesi hipoekoik
soliter. Dalam kasus dimana terdapat perdarahan atau nekrosis intratumor akan didapatkan
gambaran ekogenik yang lebih heterogen.
2. Penanda Tumor
Marker serum, terutama human chorionic gonadotropin (hCG), alpha-fetoprotein (AFP),
dan lactate dehydrogenase (LDH), memiliki diagnostik unik dan signifikansi prognostik pada
germinal sel tumor. Penanda tumor yang paling sering diperiksa pada tumor testis adalah
(Anderson, 2003; Guyton, 2007; Chabner, 2007) :
a. alpha-fetoprotein (AFP) adalah suatu glikoprotein yang diproduksi oleh karsinoma
embrional, teratokarsinoma, atau tumor yolk sac, tetapi tidak diproduksi oleh koriokarsinoma
murni dan seminoma murni. Penanda tumor ini memiliki masa paruh 5-7 hari. Tumor yang
secara histologis memperlihatkan diagnosis seminoma namun diikuti dengan peningkatan
AFP harus diperlakukan sebagai non seminoma.
b. human chorionic gonadotropin (hCG) adalah suatu glikoprotein yang pada keadaan normal
diproduksi oleh jaringan trofoblas. Penanda tumor ini meningkat pada semua pasien
koriokarsinoma, pada 40-60% pasien karsinoma embrional, dan 5-10% pasien seminoma
murni. HCG mempunyai waktu paruh 24-36 jam.
3. Rontgen dada (untuk mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru)
4. CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker ke organ perut)
5. Biopsi jaringan
Sebagai salah satu jenis dari Germinal Cell Tumor (GCT), dikatakan seminoma bila
memiliki dua kriteria: (1) tumor sel germinal yang terdiri secara eksklusif gambaran
histopatologis seminoma, dan (2) AFP serum yang normal.

16

Seminoma adalah tipe dari GCT, terhitung setidaknya mendekati 50% kasus, dan
terhitung kebanyakan kasus GCT didiagnosa pada laki-laki diatas 50 tahun. Dua jenis
subkelas seminoma telah diidentifikasi: yaitu seminoma klasik dan spermatositik seminoma.
Seminoma klasik lebih sering, dan lebih berhubungan dengan kriptokismus. Hal ini
cenderung bilateral. Secara histologis, tumor ini didefinisikan sebagai proliferasi monoton sel
yang besar, dan bentuknya bulat, oleh karenanya disebut "fried egg" appearance yang
tersusun dalam barisan dengan nuclei dan nucleolus yang bwsar dan berada di sentral. Tumor
ini sering terlihat dengan adanya infiltrate limfositik. Pada literature lainnya disebutkan
bahwa gambaran histopatologis seminoma adalah sel besar dengan batas jelas, sitoplasma
jernih kaya akan glikogen dan nucleus bulat dengan nucleolus yang jelas. Sel sering tersusun
dalam lobulus-lobulus kecil dengan sekat fibrosa diantaranya. Biasanya juga terdapat
sebukan sel limfositik yang menutupi sel neoplastik .

secara makroskopis seminoma

biasanya ditandai dengan tumor besar, lunak, berbatas tegas, biasanya homogen dan berwarna
putih abu-abu yang menonjol (Anderson, 2003; Guyton, 2007; Chabner, 2007).

Gambar 2. Gambaran Histopatologis Seminoma Klasik

Gambar 3. Gambaran Histopatologis Seminoma Spermatositik


17

Spermatositik seminoma adalah variasi seminoma yang lebih jarang, terhitung


setidaknya 10% dari semua kasus seminoma. Kanker ini biasanya terjadi pada laki-laki diatas
50 tahun dan bilateral pada 10% kasus. Secara histopatologis, tumor ini mengandung
campuran sel yang berukuran sedang, sel tumor besar berinti satu atau banyak dan sel kecil
dengan nucleus bulat yang mirip dengan spermatosit sekunder. Tumor ini cenderung untuk
tumbuh secara sangat lambat dan menunjukkan kecenderungannya untuk bermetastase
rendah. Mereka memiliki prognosis yang sangat baik dan jarang membutuhkan terapi apa apa
selain reseksi (Anderson, 2003; Guyton, 2007; Chabner, 2007).

X.

Penatalaksanaan

Manajemen untuk tumor Primer


Orchiectomy adalah pilhan standar yang dapat dilakukan dan partial orchiectomy
mungkin dilakukan pada kondisi yang spesifik. Pembedahan pada langkah primer harus
dilakukan sebelum terapi lainnya, kecuali terdapat metastase yang mngancam jiwa dan telah
tegak diagnosis germinal sel tumor melalui adanya peningkatan tumor marker yang
membutuhkan kemoterapi sesegera mungkin. Pemeriksaan tumor marker harus dilakukan
sebelum pembedahan dan bila meningkat, 7 hari setelah pembedahan untuk membedakan
kinetika waktu paruh tumor tersebut. Tumor marker harus dimonitor sampai normal dan tetap
dipantau setelahnya.
Radikal Orkiektomi
Radikal orkiektomi dilakukan melalui insisi inguinal. Berbagai biopsi transkrotal
kontraindikasi untuk dilakukan. Tumor yang berada di testis direseksi beserta dengan
funikulus spermatikusnya sampai pada level cincin inguinal. Dilakukan pula biopsi frozen
section pada kasus yang meragukan sebelum pembedahan definitif.
Partial Orkiektomi

18

Partial orkiektomi harus dilakukan pada pembedahan untuk menyelamatkan suatu organ,
hanya dilakukan di center-center dengan pengalaman yang tinggi. Dan beberapa, pada kasus
tumor testis bilateral yang sinkron, tumor testis yang soliter dan atrofi testis kontralateral
dengan fungsi endokrin yang baik. Setelah reseksi lokal, daerah sekitar lokasi reseksi
biasanya mengandung TIN, namun bisa dihancurkan oleh radioterapi adjuvant.
Tumor seminoma
(1) Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening abdomen
(2) Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan kemoterapi
dengan sisplastin
(3) Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi kombinasi.
Seminoma merupakan tumor yang sangat sensitif terhadap sinar. Karena itu sesudah
orkidektomi pada seminoma kebanyakan dilakukan radioterapi pada stasiun-stasiun kelenjar
limfe regional, juga jika tidak dapat ditunjukkan adanya metastasis kelenjar limfe dibaeah
diafragma. Lapangan penyinaran juga harus meliputi sikatriks di daerah inguinal dan
terapinya terdiri atas paling sedikit 30 Gy dalam 3-4 minggu.
Penderita dengan stadium I, IIA, dan IIB, setelah orkidektomi diradiasi pada regio
paraaorta dan regio panggul ipsilateral. Karena kurang lebih separuh penderita dengan
stadium IIC mendapat kekambuhan dengan terapi penyinaran, pada penderita ini dilakukan
kemoterapi. Kepada penderita stadium III diberikan skema kemoterapi yang berlaku untuk
penderita non seminoma. Bila penanganan bedah sempurna serta kemoterapi dan penyinaran
lengkap prognosis baik sekali.
Tumor non-seminoma:
(1) Stadium I diobati dengan orkiektomi dan kemungkinan dilakukan limfadenektomi
abdomen
(2) Stadium II diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti
dengan kemoterapi.
(3) Stadium III diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi.
XI.

Diagnosis Banding
Orchitis
19

Inflamasi akut pada testis (Black, 1997) sering disebabkan oleh virus.
Torsio testis
Terpeluntirnya funikulus spermatikus yang dapat berakibat gangguan

vaskularisasi pada testis


Hidrokel
Penimbunan cairan yang berlebih pada Tunica vaginalis. Biasanya

XII.

kelainan anatomi pada bayi baru lahir.


Varikokel
Dilatasi abnormal pleksus pampiniformis
Hernia skrotalis
Hernia yang masuk ke kanalis inguinalis sampai ke skrotum

Prognosis
Prognosis umumnya memuaskan, kecuali pada penderita dengan metastasis di paru
atau bila terdapat kekambuhan dengan kadar petanda tumor yang tinggi. Prognosis tumor
testis bukan hanya bergantung kepada sifat histologiknya, melainkan terutama pada
stadium tumor. Ketahanan hidup 5 tahun adalah sebagai berikut 4,7 :
o Seminoma, stadium I dan II : 95%
o Seminoma, stadium III-IV : 70-90%
o Non-seminoma, stadium I : 99%
o Non-seminoma, tumor sedikit : 70-90%
o Non-seminoma, tumor banyak : 40-70%
Pada tumor testis follow up harus dijalankan sebagai berikut : tahun ke-1 tiap 1 bulan ;

tahun ke-2 tiap 2 bulan ; tahun ke-3 tiap 3 bulan ; tahun ke-4 dan 5 tiap 6 bulan ; tahun ke-6
hingga 10 tiap tahun. Pada waktu kontrol harus diperhatikan khusus zat-zat penanda tumor,
pemeriksaan abdomen (CT scan retroperitoneum), dan testis sisi lainnya, deteksi limfoma
supraklavikuler, pemeriksaan paru (foto thorak dan CT) dan keadaan umum penderita

20

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, A. C., Hall, J. E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Edisi 11). Alih Bahasa oleh
Irawati et al. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Anderson, MD. 2005. Mannual of Medical Oncology. Texas : Mc. Graw hill.
Chabner, B.A., et all., 2007. Harrisons Mannual of Oncology. London : Mc. Graw Hill.
Jong, W.D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta : EGC.
Price, S. A. & Wilson, L. M. 2006. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit)
(Edisi Keenam). Alih Bahasa oleh Brahm U. Pendit et al. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Frontiers in Bioscience, 2002, Teratoma of the Testis,www.bioscience.org.
Sjamsjulhidayat R., Jong W.D., Buku Ajar Ilmu Bedah, Tumor Ganas Testis, Edisi Revisi,
EGC, Jakarta, 1997, Hlm 1070-1073.

21