Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perhatian perawat paling mendasar, mulai dari sisi tempat tidur hingga di rumah sampai
komunitas, adalah pencegahan kecelakaan dan cedera. Penyebab utama cedera yang
tidak disengaja dan kematian adalah kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, tenggelam,
kebakaran, luka bakar, keracunan, menghirup dan menelan benda asing, serta senjata api.
Perawat harus mengkaji setiap faktor ini saat mereka menyusun Rencana Asuhan
keperawatan atau memberi penyuluhan kepada klien mengenai dirinya sendiri.
Kemampuan individu untuk melindungi dirinya sendiri dari cedera dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu diantaranya usia dan perkembangan, gaya hidup, faktor
lingkungan, perubahan sensori dan persepsi, kesadaran kognitif, status emosi,
kemampuan komunikasi, kesadaran terhadap keamanan, mobilitas dan status kesehatan.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tujuan
Dapat mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keamanan.
Dapat mengetahui tentang manajemen keperawatan keselamatan dan keamanan.
Dapat mengetahui tentang instrumen pengkajian resiko.
Dapat mengetahui pengkajian dalam rumah.
Dapat membuat diagnosa untuk masalah keamanan.
Dapat mengetahui jenis jenis restrain.
Dapat memasang restrain.
Dapat mengetahui pedoman praktek restrain.
Dapat mengetahui prosedur pemasangan restrain.

BAB II
KESELAMATAN DAN KEAMANAN

A. PENDAHULUAN
Perhatian perawat paling mendasar, mulai dari sisi tempat tidur hingga di rumah
sampai komunitas, adalah pencegahan kecelakaan dan cedera. Penyebab utama cedera
yang tidak disengaja dan kematian adalah kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh,
tenggelam, kebakaran, luka bakar, keracunan, menghirup dan menelan benda asing, serta
senjata api.
Perawat harus waspada terhadap faktor yang mendukung lingkungan yang aman bagi
individu tertentu atau bagi sekelompok orang di tatanan rumah dan komunitas. Kecelakaan
sering terjadi akibat kecerobohan manusia dan dapat dicegah.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAMANAN
Perawat harus mengkaji setiap faktor ini saat mereka menyusun Rencana Asuhan
keperawatan atau memberi penyuluhan kepada klien mengenai dirinya sendiri.
Kemampuan individu untuk melindungi dirinya sendiri dari cedera dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu :
1. Usia dan perkembangan
Individu belajar melindungi diri mereka sendiri dari berbagai cedera melalui
pengetahuan dan pengkajian yang akurat terhadap lingkungan. Anak-anak yang
berjalan kaki ke sekolah belajar untuk berhenti untuk menyebrang jalan dan menunggu
kendaraan yang akan melintas. Mereka juga belajar untuk tidak menyentuh kompor
yang panas. Bagi individu yang sangat muda, sangat penting untuk belajar mengenal
lingkungan di sekitar mereka. Anak-anak hanya dapat belajar mengenai hal-hal dalam
lingkungan yang mungkin berbahaya bagi mereka lewat pengetahuan dan pengalaman.
Individu lanjut usia mungkin mengalami Hambatan pergerakan dan mengalami
penurunan ketajaman sensori sehingga beresiko terhadap cedera. Kemungkinan bahaya
tertentu yang dapat terjadi pada kelompok usia tertentu. Rangkuman bahaya tertentu
pada setiap kelompok usia teretera dalam tabel 1.

Tabel 1
Bahaya Khusus Terhadap Keamanan Pada Setiap Kelompok Usia
Janin yang sedang berkembang: terpajan Prasekolah: cedera akibat kecelakaan
dengan rokok ibu, konsumsi alkohol,

lalu lintas, mainan di taman bermain,

dan penyalahgunaan obat pada ibu,

dan benda lain, tercekik, sufokasi, dan

sinar x (pada trimester I), serta

sumbatan jalan nafas atau saluran

beberapa peptisida.
Bayi baru lahir dan bayi: jatuh, sufokasi
2

telinga oleh benda asing, keracunan,


tenggelam, kebakaran dan luka bakar,

di tempat tidur, tercekik akibat susu

bahaya dari individu lain atau binatang.


Remaja: kecelakaan kendaraan

yang teraspirasi atau benda yang

(bermotor, sepeda) kecelakaan rekreasi,

ditelan, luka bakar akibat air panas


atau terkena tumpahan cairan panas
lain, kecelakaan kendaraan bermotor,
cedera di boks (tempat tidur bayi atau
tempat bermain anak-anak), syok

senjat api, penyalahgunaan zat.


Lansia: jatuh, luka bakar, dan kecelakaan
pejalan kaki serta kecelakaan kendaraan
bermotor.

listrik, keracunan.
Toddler: trauma fisik akibat jatuh,
menabrak benda, atau terpotong oleh
benda tajam, kecelakaan kendaraan
bermotor, luka bakar, keracunan,
tenggelam dan syok listrik.
2. Gaya Hidup
Faktor gaya hidup yang membuat individu beresiko terhadap cedera adalah lingkungan
kerja yang tidak aman; tinggal di lingkungan rawan kejahatan; kemudahan memiliki
senjata dan amunisi; pendapatan yang kurang memadai untuk membeli perlengkapan
keselamatan atau melakukan perbaikan alat tertentu; dan kemudahan untuk
mendapatkan obat terlarang, yang juga dapa terkontaminasi oleh zat adiktif yang
berbahaya. Perilaku beresiko merupakan salah satu faktor dalam beberapa kecelakaan.
3. Mobilitas Dan Status Kesehatan
Individu yang mengalami Hambatan mobilitas akibat paralisis, kelemahan otot, dan
keseimbangan atau koordinasi yang buruk sangat rentan terhadap cedera. Klien yang
mengalami cedera corda spinal dan paralisis pada kedua kakinya, mungkin tidak
mampu bergerak kendati merasa tidak nyaman. Klien hemiplegi atau klien yang
terpapsang gips pada tungkai sering kali memiliki keseimbangan yang buruk dan
mudah jatuh. Klien yang lemah akibat penyakit atau pembedahan tidak selalu sadar
penuh terhadap Kondisi mereka.
4. Perubahan Sensori Dan Persepsi
Persepsi sensori yang akurat terhadap stimulus lingkungan sangat penting terhadap
keamanan. Individu yang mengalami gangguan Persepsi peraba, pendengar, perasa,
pencium, dan penglihat sangat rentan terhadap cedera. Individu yang tidak melihat
dengan baik akan terpeleset mainan atau tidak melihat kabel listrik. Individu yang tuli
mungkin tidak mendengar klakson di jalan. Dan individu yang mengalami gangguan

indra Penciuman mungkin tidak mencium bau masakan yang gosong atau aroma
belerang dari kebocoran gas.
5. Kesadaran Kognitif
Kesadaran merupakan kemampuan untuk merasakan stimulus lingkungan dan reaksi
tubuh serta untuk berespon secara tepat lewat proses pikir dan tindakan. Klien yang
mengalami gangguan kesadaran meliputi
a. Individu yang kurang tidur
b. Individu tidak sadar atau semi tak sadar
c. Individu yang disorientasi (individu yang tidak tahu dimana mereka berada atau apa
yang mereka harus lakukan untuk menolong diri sendiri)
d. Individu yang merasakan stimulus yang tidak ada
e. Individu yang mengalami hambatan penilaian akibat proses penyakit atau
pengobatan seperti narkotik, obat penenang, hipnotik, dan sedatif
Klien yang sedikit bingung mungkin sementara lupa dimana mereka berada,
mempertanyakan dimana letak kamar mereka, salah mengenali barangbarang milik
pribadi dan lain-lain.
6. Status Emosi
Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan untuk merasakna bahaya
yang terdapat dalam lingkungan. Situasi yang penuh tekanan dapat menurunkan tingkat
konsentrasi individu, menyebabkan kesalahan penilaian, dan penurunan kesadaran
terhadap stimulus eksternal. Individu yang mengalami depresi dapat berpikir dan
bereaksi terhadap stimulus lingkungan lebih lambat dari biasanya.
7. Kemampuan Komunikasi
Individu yang mengalami hambatan kemampuan untuk menerima dan menyampaikan
informasi termasuk klien afasia, individu dengan hambatan bahasa, dan mereka yang
tidak dapat membaca juga beresiko terhadap cedera. Sebagai contoh individu yang
tidak dapat menerjemahkan tanda dilarang merokok, oksigen sedang digunakan dapat
menyebabkan ledakan dan kebakaran.
8. Kesadaran terhadap Keamanan
Informasi sangat penting terhadap keamanan klien yang berada di lingkungan asing
sering kali membutuhkan informasi keamanan yang spesifik. Kurna gpengetahuan
mengenai peralatan asing, seperti tabung oksigen, selang intravena, dan bantal panas,
dapat menimbulkan bahaya. Klien yang sehat harus mendapat pengetahuan mengenai
keamanan air, keamanan dalam mobil, pencegahan kebakaran, cara Mencegah ingesti
zat yang berbahaya, dan beberapa tindakan pencegahan yang berhubungan dengan
bahaya pad ausia tertentu.
9. Faktor lingkungan

Rumah yang aman adalah rumah yang memiliki lantai dan karpet yang terpasang
dengan baik, permukaan bath tub dan shower tidak licin, alarm asap yang berfungsi dan
terletak strategis, serta pengetahuan mengenai rute penyelamatan diri ketika terjadi
kebakaran. Keamanan area luar rumah seperti kolam renang harus terjaga dan
terpelihara. Pencahayaan yang adekuat baik di dalam maupun di luar meminimalkan
kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Di tempat kerja, mesin, sabuk keselamatan kerja dan katrol, serta zat kimia dapat
menimbulkan bahaya. Kelemahan pekerja, polusi udara dan dan udara atau bekerja di
ketinggian atau di bawah tanah juga dapat menimbulkan bahaya okupasional
lingkungan kerja perawat juga tidak aman. Personel layanan kesehatan perlu
mempertahankan kesadaran akan resiko yang mungkin terjadi.
Cahaya lampu jalan yang adekuat, air yang aman dan pengaturan pembuangan sampah
serta pengaturan sanitasi dalam pembelian obat dan pengolahan makanan
mempengaruhi komunitas yang sehat dan bebas dari cahaya. Komunitas yang aman dan
terlindungi, harus berjuang untuk terbebas dari kebisingan, kejahatan, kemacetan lalu
lintas, rumah yang bobrok atau anak sungai atau timbunan tanah yang tidak terlindungi.

C. MANAJEMEN KEPERAWATAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN


1. Pengkajian
Pengkajian terhadap pasien yang beresiko terhadap kecelakaan dan cedera meliputi :
a. Menentukan indikator penting dalam riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik.
b. Menggunakan instrument pengkajian risiko yang dikembangkan secara khusus
c. Mengevaluasi rumah klien
Riwayat Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik
Riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik dapat mengungkap data penting mengenai
praktik keamanan klien dan risiko klien terhadap cedera. Data yang perlu dikaji
meliputi
a.
b.
c.
d.

Usia dan tingkat perkembangan,


Status kesehatan umum,
Status mobilitas
Ada tidaknya gangguan fisiologis atau defisit Persepsi seperti pencium,

penglihatan, taktil, perasa, atau gangguan sensori lainnya


e. Gangguan proses pikir atau gangguan sensori lainnya
f. Gangguan kecakapan emosi
5

g. Penyalahgunaan zat
h. Semua indikasi penganiayaan atau pengabaian
i. Riwayat kecelakaan dan cedera
Riwayat mengenai keamanan juga harus meliputi :
a. Meliputi kesadaran klien terhadap bahaya
b. Pengetahuan mengenai tindakan kewaspadaan keamanan dirumah dan ditempat
kerja
c. Semua Persepsi Ancaman terhadap keamanan
Gambar
Instrumen Pengkajian Risiko
Instrument pengkajian resiko juga tersedia untuk menentukan klien yang beresiko
terhadap beberapa cedera tertentu seperti jatuh, untuk pengkajian umum yang penting
untuk menjaga klien tetap aman di rumah mereka dan ditatanan layanan kesehatan.
Pada umumnya instrument pengkajian ini dapat mengarahkan perawat untuk mengkaji
faktor yang mempengaruhi keamanan yang telah didiskusikan sebelumnya. Instrument
pengkajian tersebut merangkum data khusus yang terdapat pada riwayat keperawatan
dan pemeriksaan fisik klien.
Pengkajian Bahaya Dalam Rumah
Bahaya dalam rumah merupakan penyebab utama jatuh, kebakaran, keracunan,
sufokasi, dan kecelakaan lain. Misal akibat Penggunaan peralatan dan perlengkapan
rumah tangga serta alat masak yang tidak tepat, dll.
2. Diagnosis
NANDA membuat judul diagnosis yang luas untuk masalah keamanan :
a. Resiko cedera : keadaan ketika individu berisiko mengalami cedera akibat Kondisi
lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber-sumber
pertahanan individu.
Judul yang luas ini terdiri atas tujuh subkategori yang dapat dipilih saat perwat
mendiskripsikan cedera lebih spesifik, dan atau memilih intervensi yang sesuai
(Wilkinson, 2000):
a. Risiko keracunan : risiko terpajan secara tidak sengaja, dengan atau menelan, obatobatan atau zat berbahaya lainnya dalam dosis yang cukup untuk menyebabkan
keracunan.
b. Risiko sufokasi: risiko sufokasi secara tidak sengaja (udara yang tersedia untuk
inhalasi tidak tersedia)
c. Risiko trauma: risiko cedera jaringan secara tidak sengaja (misal, luka bakar, luka,
atau Fraktur)
d. Respon alergi terhadap lateks: respon alergi terhadap produk lateks alami.
6

e. Resiko respons alergi terhadap lateks: beresiko mengalami respon alergi terhadap
produk lateks alami.
f. Risiko aspirasi: risiko masuknya sekresi dari saluran cerna, sekresi orofaring,
benda padat, atau cairan ke dalam saluran trakeobronkial.
g. Risiko sindrom disuse: beresiko mengalami deteriorasi sistem tubuh akibat
inaktivitas musculoskeletal yang diharuskan atau yang tidak dapat dihindari.
Diagnosis keperawatan lain yang dapat dipilih perawat adalah:
Defisiensi Pengetahuan (pencegahan kecelakaan): ketidakmampuan untuk mengatakan
atau menjelaskan informasi atau mendemonstrasikan keterampilan yang diperlukan
terkait keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Mengidentifikasi diagnosis, hasil, intervensi keperawatan untuk mengetahui contoh penerepan proses keperawatan pada klien yang
beresiko mengalami cedera.
MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSIS, HASIL, DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
KLIEN YANG BERESIKO TERHADAP GANGGUAN KEAMANAN
Contoh hasil yang
Intervensi
Diagnosis
Contoh tindakan
Data Kelompok
diharapkan
Indikator
pilihan
keperawatan/definisi
NIC
(NOC)/definisi
(NIC)/Definisi
Ny. H mengadopsi
Risiko keracunan yang Perilaku keamanan Adekuat
Manajemen Identifikasi bahaya
Penempelan

anak toddler

berhubungan dengan

fisik rumah

pengkajian di rumah

produk berbahaya

(1910) / Tindakan

penanda label

keamanan

mengungkap terdapat

dalam jangkauan anak-

individu atau

bahaya yang

(6486) /

bahaya dari

berbagai produk

anak /Risiko terpajan

pemberi asuhan

Pemantauan dan

lingkungan, jika

pembersih diletakkan

terpajan secara tidak

untuk

di lantai dan cat di

sengaja dengan atau

dinding terkelupas

menelan obat-obatan
atau zat berbahaya lain
dalam dosis yang cukup
untuk menyebabkan
keracunan

tepat
Penyimpanan

Lingkungan :

keamanan
Singkirkan semua

memungkinkan
Mulai dan atau
materi yang
meminimlakan
lingkungan fisik
lakukan program
berbahaya
faktor lingkungan
untuk
skrining terhadap
untuk mencegah meningkatkan
yang mungkin
bahaya lingkungan
cedera
menyebabkan
keamanan
Perbaikan resiko
(misal, bahaya
bahaya atau cedera
bahaya timbel
timbel).
fisik di rumah
Penyediaan area
Beri penyuluhan
bermain yang
aman

modifikasi

mengenai bahaya
lingkungan
Beri Nomor

telepon darurat
(mis.,pusat
pengendalian
lingkungan)

Tn. P mengalami

Risiko cedera yang

Perilaku keamanan Adekuat

Manajemen

stroke yang

berhubungan dengan

lingkungan fisik Pemasangan

Lingkungan :

menyebabkan

Hambatan dari

rumah (1910) /

susur tangan di

keamanan

kelemahan sisi kiri

kemungkinan bahaya

tindakan individu

dinding kamar

(6486) /

tubuh. Akibatnya gaya

dalam rumah / Beresiko

atau pemberi

berjalannya menjadi

mengalami cedera

asuhan untuk

tidak stabil. Perawat

akibat Kondisi

meminimalkan

perabot yang

mengobservasi bahwa

lingkungan yang

faktor lingkungan

dapat

lantai rumah Tn. P

berinteraksi dengan

yang dapat

mengurangi

terpasang karpet.

sumber adaptif

menyebabkan

risiko.

Selain itu banyak

dansumber pertahanan

bahaya atau cedera

perabot yang dapat

individu.

fisik dalam rumah

mandi
Penataletakkan

menghambat

Identifikasi
kebutuhan
keamanan klien
Identifikasi bahaya

Pemantauan dan keamanan


Modifikasi
modifikasi
lingkungan untuk
lingkungan fisik
meminimalkan
untuk
bahaya dan risiko
meningkatkan
Beri peralatan
keamanan
adaptasi
(mis.,susur tangan
di dinding) untuk
meningkatkan

mobilitas Tn. P.

keamanan dalam

dinding kamar mandi

lingkungan
Pantau lingkungan

Tn. P juga tidak


9

dilengkapi susur

terhadap

tangan didekat toilet

perubahan status

atau shower

keamanan
Beri penyuluhan
mengenai bahaya
lingkungan.

10

3. Perencanaan
Saat menyusun rencana asuhan keperawatan untuk Mencegah kecelakaan dan cedera,
perawat perlu mempertimbangkan semua faktor yang mempengaruhi status keamanan
klien, menyebutkan hasil yang diharapkan, dan memilih tindakan keperawtan untuk
mencapai hasil ini. Tujuan utama bagi klien yang beresiko terhadap gangguan keamanan
adalah Mencegah kecelakaan dan cedera. Klien sering kali harus mengubah perilaku
kesehatan mereka dan harus memodifikasi lingkungan untuk mencapai tujuan ini.
Hasil yang diharapkan terkait pencegahan cedera bergantung pada individu klien.
Kendati ditetapkan pada fase Perencanaan. Contoh hasil yang diharapkan dapat dilihat
pada bagian Evaluasi. Intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang diharapkan
terutama ditujukan membantu klien dan keluarga melakukan tindakan berikut:
a. Mengidentifikasi bahaya lingkungan yang terdapat dalam rumah dan dalam komunitas
b. Mendemonstrasikan tindakan keamanan yang sesuai di institusi perawatan kesehatan
di rumah, komunitas, dan tempat kerja.
c. Mengalami penurunan frekuensi atau keparahan cedera
d. Mendemonstrasikan praktik pengasuhan anak yang aman atau praktik gaya hidup
sehat.
4. Pelaksanaan/implementasi
Bahaya keamanan dapat terjadi pada individu semua usia dan sangat bervariasi,
bergantung pada usia dan tingkat perkembangan individu.
Promosi keamanan disepanjang usia
Tindakan untuk menjamin keamanan individu semua umur berfokus pada
a. Observasi atau perkiraan terjadinya situasi yang kemungkinan berbahaya sehingga
bahaya dapat dicegah
b. Pendidikan kesehatan klien yang memberdayakan klien untuk melindungi dirinya
sendiri dan keluarga mereka dari cedera
Tindakan keamanan pad aindividu semua umur (dari bayi hingga lansia) tertera dalam
kotak penyuluhan: Asuhan Kesejahteraan

PENYULUHAN: Asuhan Kesejahteraan


Tindakan Keamanan Pada Individu Sesuai Kelompok Usia
Bayi Baru Lahir Dan Bayi
5. Dorong remaja untuk menggunakan
1. Gunakan tempat duduk di mobil yang

perlengkapan yang sesuai saat mereka


11

telah disetujui pemerintah (termasuk saat

berpartisipasi dalam kegiatan olah

pulang dari rumah sakit), tempat duduk

raga. Jadwalkan pemeriksaan fisik

tersebut harus terletak di jok belakang

sebelum mengikuti kegiatan olahraga

dengan menghadap ke arah belakang.


2. Jangan tinggalkan bayi sendirian pada

dan pastikan terdapat pengawasan


medis saat mereka mengalami

tempat dengan permukaan tinggi


3. Periksa suhu air mandi bayi sebelum

kecelakaan.
6. Ajarkan tindakan keamanan saat

digunakan dan suhu susu formula

menggunakan alat berat


sebelum diberikan kepada bayi
7. Ajarkan peraturan saat berburu dan
4. Gendong bayi dengan posisi tegak, bukan
perawatan serta penggunaan senjata
tiduran saat pemberian makan. Jangan
yang tepat
sangga botol pemberian makan, potong
8. Beri informasi kepada remaja
makanan kecil-kecil, dan jangan Berikan
kacang atau berondong kepada bayi.
5. Periksa apakah boks bayi memenuh

mengenai bahaya obat-obatan,


alkohol, dan hubungan seksual tanpa
pelindung selain itu Ajarkan remaja

standar keselamatan yang diberlakukan


oleh pemerintah, jarak antar jeruji tidak
lebih dari 6 cm, cat bebas timbel tinggi
sisi boks, kasur yang sesuai dengan
luasnya boks.
6. Gunakan boks tempat bermain

mengenai pencegahndan pertahanan


diri terhadap pemerkosaan saat
kencan
9. Ajarkan mengenai bahaya berjemur di
bawah sinar matahari dan mengenal
pengguinaan krim mentari dan

anakdengan sisi yang terbuat dari jaring


kecil, jangan biarkans sisi boks tempat
bbermain anak turun
7. Beri mainan yang lembut, besar dan tidak
memiliki bagian yang dapat dilepas atau
bagian ujung yang tajam.
8. Pasang pagar pengaman di sisi tangga

pakaian pelindung saat melakukan


aktivitas di luar rumah
10. Waspadai perubahan alam perasaan
dan perilaku remaja, dengarkan dan
pertahankan komunikasi
11. Buat contoh perilaku yang baik yang
dapat ditiru teman

dan pasng terali jendela awasi bayi pada


ayunan bayi dan kursi yang tinggi
9. Pasang penutup pada stop kontak

Dewasa Muda
1. Beri penguatan terhadap keselamatan

usahakan kabel listrik di luar jangkauan


bayi.
10. Letakkan tanaman, pembersih rumah

berkendara dengan tenang, gunakan


sopir pribadi saat mengkonsumsi

12

tangga dan keranjang sampah di luar

alkohol, periksa rem,dan mobil secara

jangkauan bayi. Tutup rrapat zat yang

berkala dan gunakan sabuk pengaman

dapat menyebabkan keracunan seperti

pada semua penumpang.


2. Ingatkan individu dewasa muda untuk

obat-obatan cat, dan minyak tanah

memperbaiki kemungkinan bahaya


kebakaran seperti kabel listrik.
3. Beri penguatan terhadap keselamatan

Todler
1. Lanjutkan penggunaan tempat duduk

dalam air ketahui kedalaman kolam

mobil yang telah disetujui oleh

atau danau sebelum menyelam amati

pemerintah. Letakkan toddler di jok

aktivitas dalam kolam renang di

belakang saat berkendara


2. Ajarkan toddler untuk tidak memasukkan

halaman belakang dan aktivitas


olahraga air lain.
4. Evaluasi mengenai kemungkinan

benda ke dalam mulut termasuk pil


(kecuali diberikan oleh orang tua)
3. Simpan benda dengan ujung yang tajam

cedera atau kematian ditempat kerja


saat mengambil keputusan mengenai

(mis., perabot dan pisau)di luar

karier atau pekerjaan. Dorong

jangkauan toddler.
4. Letakkan panci panas di atas kompor

individu dewasa muda untuk

dengan ganging
5. Simpan cairan pembersih dan insektisida
dan obat-obatan dalam almari terkunci
6. Awasi toddler saat mandi di bath up
7. Pasang pagar keamanan pada kolam

berpartisipasi aktif dalam program


yang dapat mengurangi bahaya di
tempat kerja
5. Diskusikan cara menghindari radiasi

renang. Awasi toddler saat mereka berada

matahari yang berlebihan dengan


membatasi pajanan dengan

di dalam atau di dekat kolam renang.


Jangan biarkan toddler bermain didekat
parit atau sumur
8. Ajarkan toddler untuk tidak mengendarai
sepeda dijalan raya
9. Pilih tempat tidur yang rendah saat

menggunakan krim mentari dan


menggunakan pakaian pelindung
Jelaskan perubahan warna kulit yang
mengindikasikan kanker
6. Dorong individu dewasa muda yang

toddler belajar memanjat


10. Tutupi stop kontak dengan pengaman
atau stiker

tidak dapat mengatasi tekanan


menjalankan tanggung jawab dan
memenuhi harapan sebagai orang
dewasa untuk mencari konseling

Pra sekolah

Dewasa Menengah
13

1. Jangan biarkan anak berlari smabil

1. Beri penguatan terhadap keselamatan

mengemut permen atau benda lain


2. Ajarkan anak untuk tidak memasukkan
benda kecil ke dalam mulut, hidung, dan
telinga.
3. Tutup pintu perabot rumah tangga seperti

berkendara, gunakan sabuk pengaman


dan kendarai mobil dengan kecepatan
normal terutama pada malam hari,
periksa ketajaman penglihatan secara
berkala
2. Pastikan bahwa pencahayaan di

lemari es, jika tidak digunakan.


4. Selalu awasi anak pra sekolah saat

tangga memadai selain itu pastikan

menyeberangi jalan dan mulai beri


pendidikan kemanan mengenai kepatuhan
terhadap lampu lalu lintas dan melihat

bahwa tangga tertata teratur


3. Lengkapi dinding kamar mandi
dengan susur tangan sediakan keset

kiri-kanan sebelum menyeberang.


5. Periksa permen hallowen sebelum

yang tidak licin


4. Periksa alat deteksi asap dan alarm

memberiarkan anak memkaan permen

kebakaran secara berkala


5. Pertahankan agar semua mesin dan

tersebut dan buang permen yang jatuh


atau yang tidak terbungkus lagi.
6. Ajarkan anak-anak untuk bermain di area
yang aman jangna di jalan raya dan jalur
kereta api
7. Ajarkan anak prasekolah mengenai

alat bekerja dengan baik di tempat


kerja dan di rumah patuhi tindakan
kewaspadaan saat menjalanka mesin
6. Beri penguatan terhadap tindakan
keamanan yang lebih diajarkan

bahaya bermain dengan korek api dan

sebelumnya seperti, bahaya pajanan

bermain di dekat api, dan peralatan yang


panas
8. Ajarkan anak prasekolah untuk

sinar matahari yang berlebihan


Lanjut Usia

menghindari orang asing dan tetap

1. Dorong klien untuk menjalani

memberitahu orang tua tentang

pemeriksaan penglihatan dan

keberadaan mereka.
9. Ajarkan ank prasekolah untuk tidak

pendengaran secara berkala


2. Bantu klien untuk melakukan

berjalan di depan ayunan dan jangan

tindakan pengawasan benda

mendorong teman lain dengan peralatan


bermain.

berbahaya di rumah
3. Anjurkan klien untuk sedapat
mungkin tetap aktif

Anak usia sekolah

Tindakan Pencegahan :

1. Ajarkan anak mengenai peraturan

1. Pastikan bahwa kacamata berfungsi


14

keamanan saat rekreasi dan saat

2. Pastikan pencahayaan memadai


3. Beri tanda jalan ke arah pintu dan pad

olahraga: jangan berenang sendirian,

anak tangga sesuai kebutuhan


4. Pertahankan kerapian dan keteraturan

selalu gunakan pelampung saat naik


perahu, dan gunakan helm, pelindung
siku, dan pelindung lutut jika perlu.
2. Awasi olahraga dengan kontak fisik dan
aktivitas tertentu sehingga anak menjadi
saasaran
3. Ajarkan anak untuk mematuhi peratutan
lalu lintas dan peraturan keamanan saat

lingkungan
5. Buat batasan aktivitas yang aman
6. Pindahkan benda-benda yang tidak
aman
7. Gunakan sepatu atau sandal yag
berukuran sesuai dengan sol antiselip
8. Gunakan alat bantu ambulasi jika
perlu (memakai tingkat, kruk, walker,

bersepeda, bermain sepatu roda, dan


papan luncur
4. Ajarkan anak untuk menggunakan baju
berwaran terang saat jalan-jalan atau

rungkup/penopang, kursi roda)


9. Beri bantuan saat ambulasi jika perlu
10. Amati gaya berjalan dan
keseimbangan tubuh
11. Atur semua aktivitas dapat dilakukan

bersepeda di malam hari.


5. Ajarkan anak cara yang aman untuk

pada satu lantai di rumah bila perlu.


12. Dorong olahraga dan aktivitas sesuai

menggunakan kompor, peralatan


berkebun, dan peralatan lain.
6. Ajarkan anak untuk tidak bermain

toleransi untuk mempertahankan


Kekuatan otot, fleksibilitas sendi dan

dengan kembang api, bubuk mesiu, atau


senjata api. Simpan senjata api dalam

keseimbangan
13. Pastikan kerapian lingkungan

keadaan terkunci, tidak berisi amunisi

dengan karpet yang terpasang

dan jauh dari jangkauan anak


7. Awasi anak saat mereka menggunakan
gergaji, peralatan listrik, alat bangunan,
dan peralatan berbahaya lainnya.
8. Ajarkan anak untuk menghindari galian
tambang, gedung kosong dan bermain di
dekat mesin berat.
9. Ajarkan anak tentang bahaya merokok,
jika anda perokok maka berhentilah.
10. Ajarkan anak mengenai dampak obatobatan dan alkohol pada penilaian dan

dengan baik
14. Dorong klien untuk meminta
bantuan
15. Pertahankan tempat tidur pada posisi
yang rendah
16. Lengkapi kamar mandi dengan susur
tangan
17. Naikkan dudukan toilet
18. Minta klien untuk bersiri secara
perlahan dari posisi berbaring ke
posisi duduk kemudian ke posisi
berdiri dan diam di tempat selama

koordinasi
15

Remaja

beberapa detik sebelum mulai

1. Sarankan remaja untuk menyelesaikan


kursus mengendarai mobilnya dan

berjalan
19. Sediakan kursi buang air di sisi
tempat tidur jika perlu
20. Bantru klien berkemih secara teratur

damping anak anda untuk belajar


mengendarai mobil dalam segala cuaca.
2. Buat batasan ketat untuk mengendarai
mobil diantaranya jangna mengendarai
mobil setelah minum alkohol atau
mengkonsumsi obat-obatan dan jangan

dan terjadwal
21. Pantau toleransi aktivitas klien
22. Naikkan pagar tempat tidur
23. Pertahankan pagar tempat tidur tetap
terpasang walaupun posisi tempat
tidur rendah
24. Pantau orientasi dna status

berkendara dengan pengemudi yang


demikian. Dorong remaja untuk
memberi kabar ke rumah untuk meminta

kewaspadaan
25. Dorong peninjauan terhadap semua

dijemput jika mereka baru saja

obat resep setiap tahun atau lebih

minummenjamin bahwa mereka dapat

sering.

minum tanpa harus mendapat teguran


3. Batasi jumlah penumpang mobil selama
tahun pertama mengendarai mobil
4. Ajarkan kepada remaja untuk selalu
menggunakan helm pelindung saat
mengendarai motor, skuter dan
kendaraan sport lain. Ajarkan eraturan
keselamatan saat melakukan olahraga
air.

a. Bayi baru lahir


Kecelakaan merupakan penyebab utama kematian selama masa bayi. Terutama selama
tahun pertama kehidupan. Bayi sangat bergantung pada orang lain untuk menjaga
mereka; mereka sangat rentan terhadap beberapa bahaya seperti: jatuh atau menelan
zat yang berbahaya. Orang tua perlu mempelajari sebuah tindakan yang penting untuk
mempertahankan keselamatan bayi mereka.
Mereka juga memerlukan bantuan untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan bahaya
yang umum yang terdapat di dalam dan di sekitar rumah., serta informasi pertolongan
16

pertama yang meliputi resusitasi jantung paru dan intervensi terhadap sumbatan jalan
nafas. Keelakaan yang paling sering terjadi selama masa bayi adalah luka bakar,
sufokasi atau tercekik, kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dan keracunan.
Pemeberian pendidikan kesehatan dan dukungan bai orang tuadapat membuat mereka
lebih mengetahui dan lebih mempersiapkan diri untuk melindungi anak anak mereka
ari kecelakaan dan cedera.
b. Todler
Todler memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan suka mersakan dan mencicipin semua
hal.mereka sangat menyukai hal-hal yang mengundang bahaya,seperti kolam renang
dan jalan ramai.dengan demikian ,mereka membutuhkan pengawasan dan
perlindungan yang berkala (gambar30-2).Orang tua dapat Mencegah banyak
kecelakan dengan melakukan perlindungan terhadap todler di rumah dan di tatanan
lain tempat todler berda.Praktek ini meluas hingga penggunaan sabuk pengaman
khusus todler yang disetujukan oleh pemerintah serta memindahkan atau
mengamankan semua benda yang dapat membahayakan anak di semua
tatanan.Penting untuk menginspeksi dan menyingkirkan sumber timbel dari
lingkungan. Anak yang terpajan denan serpihan s\cat bertimbel,asap dari bensin yang
bertimbel,atau semua zatbertmbel beresiko mengalami keracunan timbel
(plumbisme).Menelan serpihan cat yang terbuat dari timbel merupakan penyebab
umum keracunan timbel pada anak-anak.
c. Anak prasekolah
Anak usia prasekolah selalu aktif dan sering kali sangat ceroboh,yang membuat
mereka beresiko terhadap cedera.Pengendalian lingkungan harus kontinu,dengan
menyimpan zat yang berbahay,seperti korek api,obat-obatan,dan materi beracun lain,di
luar jangkauan anak.Pendidikan kesehatan mengenai keamanan pada anak-anak harus
dimulai saat ini.pendidikan bagi anak-anak prasekolah meliputi mempelajari cara
menyeberang jalan raya,arti warn lampu llu lintas,dan cara mengendarai sepeda dan
mainan beroda lain secara aman.Anak-anak harus di beri peringatan untuk
menghindari bahaya, seperti jalan raya yang ramai kolam renang,dan area lain yang
kemungkinan berbahaya.orang tua harus melakukan pengawasan ketat;tingkat
perkembangan anak prasekolah tidak memungkinkan anak untuk bergantung pada diri
sendiri dalam menjaga keselamatanya.selain itu, orang tua harus ingat bahwa
17

kemampuan kognitif dan motorik anak mereka meningkat cepat.dengan demikian


perolehan keterampilan baru harus diimbangi dengan Pengetahuan mengenai tindakan
keamanan.
d. Anak Usia Sekolah
Saat mulai bersekolah, anak belajar berpikir sebelum bertindak. Mereka sering kali
lebih menyukai mainan yang menyerupai peralatan orang dewasa. Mereka ingin
menjadi aktif dengan teman-teman mereka dalam berbagai perlombaan, seperti
bersepeda,mendaki gunung,berenang dan berperahu.anak usi sekolah sensitive
terhadap tekanan teman sebayaba.namun tetap patuh terhadap perturan.anak usia
sekolahseneng berfikir dan menggunakan pikiran magis.dan pahlawan yang mereka
Identifikasi.
Kecelakaan merupakan penyebab utama kematian anak usia sekolah. Penyebab
tersering kecelakan dari berdasarkan tingkat kefatalan adalah kecelakaan kendaraan
bermotor, tenggelam, kebakaran dan senjata api.anak usia sekolah juga mengalami
berbagai kecelakaan kecil,, sering kali akibat aktivitas luar rumah dan perlengkapan
rekreasi, seperti ayunan, sepeda, papan luncur, dan kolam renang.
e. Remaja
Salah satu peristiwa yang penting dalam kehidupan seorang remaja di Amerika utara
adalah mendapatkan SIM, tetapi hak tersebut tidak selalu di pergunakan dengan
bijaksana Remaja dapat menggunakan mengemudi sebagai cara mengalihkan
stress.menunjukan kebebasan atau untuk memikat teman sebaya perlu mengkaji
tingkat tanggung jawab remaja,akal sehat,dan kemampuan remaja untuk bertahan dari
tekanan teman sebaya. Kesiapan remaja untuk mengemban tanggung jawab ini tidak
semata-mata ditentukan oleh usia remaja.
Remaja beresiko tinggi terhadap cedera olahraga karena keterampilan koordinasi
mereka Belum berkembang sempurna.Namun ,aktivitas olahraga penting untuk
perkembangan harga diri dan perkembangan remaja secara keseluruhan.Selain
memfasilitasi latihan fisik yang bermanfaat, aktivitas olahraga meningkatkan
perkembangan sosial dan persona. Olah raga membantu remaja merasakan iklim
persaingan, kerja tim,dan penyelesaian konflik.
Bunuh diri dan pembunuhan merupakan dua penyebab utama kematian remaja
.Angka bunuh diri remaja putra lebih tinggi dari remaja putri.Angka pembunuhanpada
orang Amerika Afrika lebih tinggi daripada orang Amerika Eropa. Bunuh diri
18

menggunakan senjata api,obat-obatan dan menghirup gas buang kendaraan paling


sering dilakukan.faktor yang menyebabkan peningkatan ekoinomi , perceraian orang
tua, dan kemudahan memiliki senjata api,yang merupakan senjata yang paling sering
digunakan, alat potong atau alat tikam merupakan senjata tersering kedua yang
digunakan untuk bunuh diri.
f. Dewasa muda
Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama kematian pada
kelompok ini.penyebab lain kematian yang tidak disengaja pada individu dewasa
muda adalh tengelam, luka bakar, kebakaran dan senjata api.
Salah satu bahaya individu dewasa adalah pajantan terhadap radiasi alami akibat
berjemur di bawah sinar matahari atau aktivitas luar rumah lain.Pajanan sinar
matahari dapat menyebabkan kanker kulit.Bunuh diri merupakan penyebab utama lain
kematian individu dewasa muda.Banyak bunuh diri dapat di anggap keliru sebagai
kematian yang tidak disengaja(kecelakaan kendaraan bermotor,intoksitasi alkohol,dan
overdosis obat)pada umumnya, bunuh diri disebabkan ketidakmampuan individu
dewasa muda dalam mengahadapi tekanan,mengemban tanggung jawb,dan memenuhi
harapan sebagai orang dewasa.
Peran perawat dalam pencegahan bunuh diri meliputi mengidentifikasi perilaku
yang dapat mengidikasikan kemungkinan masalah yang dapat muncul
;deprisi;berbnagai keluhan fisik termasuk penurunan berat badan,gangguan tidur dan
kelainan saluran cerna;serta penurunan ketertarikan dalam menjalani peran soaial dan
pekerjaan disertai perburukan isolasi.individu dewasa muda yang diketahui beresiko
tinggi melakukan bunuh diri harus dirujuk pada ahli kesehatan jiwa atau pusat krisis,
perawat juga dapat menurunkan insiden bunuh diri dengan berpatisipasi dengan
program pendidikan kesehatan yang memberi informasi mengenai tanda awal bunuh
diri.
g. Dewasa menengah
Perubahan faktor fisiologi dan kekhawatiran terhadap tanggung jawab personal
dan tanggung jawab kerja, dapat mempengaruhi angka kecelakaan pada invidu dewasa
menengah. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab tersering kematian
yang tidak disengaja pada kelompok usia ini. Penurunan waktu reaksi dan ketajaman
penglihatan membuat individu dewasa menengah menjadi rentan terhadap kecelakaan,
penyebab lain kematian yang tidak disengaja yang umum terjadi pada individu dewasa
19

menengah adalah jatuh, kebakaran, luka bakar, keracunan dan tenggelam. Kecelakaan
kerja terus menjadi Ancaman terhadapkeselamatan selama masa ini
h. Lansia
Pencegahan kecelakaan merupakan perhatian yang paling utama bagi lansia.
Karena keterbatasan penglihatan, pelambatan refleks, dan kerapuhan tulang,
diperlukan kewaspadaan saat lansia menaiki tangga, mengemudi mobil, dan bahkan
saat berjalan. Mengemudi terutama dimalam hari, membutuhkan kewaspadaan karena
akomodasi mata terhadap cahaya terganggu dan penglihatan perifer menurun. Lansia
perlu menoleh sebelum berpindah jalur dan tidak boleh hanya melirik ke arah sisi saja
saat menyebrang jalan, misalnya. Lansia tidak boleh mengendarai mobil saat cuaca
berkabut atau saat kondisi membahayakan.
Api merupakan bahaya bagi lansia yang memiliki gangguan daya ingat, lansia
mungkin lupa bahwa setrika dan kompor masih dalam keadaan menyala saat
ditinggalkan atau tidak benar-benar mematikan rokok. Karena penurunan sensitivitas
terhadap nyeri dan panas, harus dilakukan tindakan kewaspadaan terhadapm luka
bakar saat lansia mandi atau menggunakan pemanas.
Lansia yang beresikoterhadap keluyuran akibat sindrom otak organic perlu
mengenakan alat Identifikasi diri. Mereka jaga dapat di daftar dalam alzeimers
associations wanderers alert program setempat.
Lansia yang mengkonsumsi analgetik atau sedatif dapat letargi atau
bingung.sehingga perlu dipantau ketat dan teratur. Tindakan lain untuk memicu tidur
harus dilakukan kapanpun memungkinkan.perawat dapat membantu lansia untuk
membuat lingkungan rumah mereka menjadi lebih aman. Bahaya tertentu dapat
diidentifikasi dan dikoreksisebagai contoh, pagar dapat dipasang pada sisi tangga.
Perawat memberi penyuluhan agar lansia hanya mengkonsumsi obat resep dan
menghubungi tenaga kesehatan professional saat indikasi intoleran muncul pertama
kali.
KEWASPADAAN KLINIS
Lansia mengalami kesulitan dalam melihat batas tepi anak tangga dengan dengan
pengecatan tepi anak tangga dengan warna yang kontras dengan warna anak
tangga, lansia dapat mengetahui batas tepi anak tangga sehingga mencegah jatuh.
insiden bunuh diri pada lansia semakin meningkat dan sering kali tidak
diketahui, jika bunuh diri tersebut disebabkan perilaku merusak diri yang tersembunyi,
20

seperti kelaparan, overdosis obat, ketidakpatuhan terhadap perawatan medis, pengobatan


dan obat. Pad aindividu lansia, usaha bunuh diri biasanya lebih serius karena sering kali
benar-benar bertujuan mengakhiri hidup bukan sekedar mencari perhatian yang sering
terlihat pada kelompok usia lain. Selain itu, metodew bunuh diri pada lansia umumnya
lebih kejam, seperti luka tembak pada kepala atau gantung diri.
Wold (1999) membuat daftar fakta penting terkait tindakan bunuh diri pada
lansia, yaitu sebagai berikut:
1. Lansia kulit putih paling resiko melakukan bunuh diri
2. Penyakit medis merupakan faktor utama penyebab bunuh diri
3. Nyeri membandel, kehilangan ornag yang dicintai, dan perubahan besar pada hidup
dapat menjadi faktor penyebab
4. Depresi mayor dan isolasi sosial meningkatkan resiko bunuh diri.
Perawat harus selalu waspada terhadap gejala serta resiko dan mengidentifikasi
bahwa lansia perlu dirujuk ke tenaga profesional atau instalasi yang tepat untuk
mendapatkan terapi dan konseling.
Masalah Keamanan Pada Individu Semua Umur
Kekerasan dalam rumah tangga semakin mengkhawatirkan dan melibatkan
individu dari semua kelompok usia, dari bayi hingga lansia. Kekerasan dalam rumah
tangga meliputi penganiayaan anak, penganiayaan pasangan, dan penganiayaan terhadap
lansia. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga dapat mempengaruhi kesehatan dan
keamanan keluarga dan masyarakat. Statistic kekerasan dalam rumah tangga tidak akurat
karena banyak insiden yang tidak dilaporkan. Perawat harus terlibat dalam menangani
semua fase kekerasan dalam rumah tangga: pencegahan, skrining, perujukan untuk terapi,
dan perawatan tindak lanjut. Tindakan ini biasanya dilakukan dengan Perencanaan
kolaboratif dengan dokter, lembaga hukum, layann sosial, dan lembaga lain yang terdapat
di tatana komunitas.
Perawat juga memiliki kesempatan untuk menjadi advokat dalam program
dukungan komunitas terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan dapat dilibatkan dalam
meme\beri penyuluhan kepada tenaga kesehatan professional mengenai tindakan
pencegahan, skrining, dan terapi.
Kekerasan dalam rumah tangga perlu mendapat perhatian ekstra karena individu
yang menjadi korban kekerasan saat masih kanak-kanak cenderung menunjukkan perilaku
kekerasan saat dewasa. Hal ini mengacu pada pentingnya pencegahan dan intervensi dini

21

guna memutus siklus kekerasan tersebut. Perawat dapat membantu klien mengembalikan
martabat, kesehatan, dan keselamatan individu yang rapuh.
Pencegahan Bahaya Tertentu
Implementasi tindakan untuk Mencegah bahaya tertentu, atau kecelakaan seperti
luka bakar, kebakaran, jatuh, keracunan, sufokasi, terstrum, dsb. Merupakan aspek kritis
asuhan keperawatan. Pemberi penyuluhan kepada klien mengenai keselamatan merupakan
aspek penting lainnya. Perawat biasanya memiliki kesempatan untuk memberi penyuluhan
kepada klien saat mereka merawat klien.
1. Luka bakar dan lepuh
Merupakan luka bakar akibat cairan atau uap air (kukus). Luka bakar terjadi akibat
pajanan berlebih terhadap agens dengan suhhu ekstrem, zat kimia, listrik, atau agen
radioaktif.
Bahaya dalam rumah yang menyebabkan lepuh adalah :
a. Gagang panci yang menjorok keluar dari tepi kompor
b. Perlengkapan listrik yang digunakan untuk memanaskan cairan atau minyak,
terutama alat dengan kabel yang menjuntai sehingga berada dalam jangkauan bayi
yang mulai merangkak dan anak-anak yang masih kecil.
c. Air mandi yang sangat panas.
Di Institusi layanan kesehatan, resiko lepuh, dan luka bakar lebih tinggi pad aklien
yang mengalami gangguan sensitivitas kulit terhadap suhu. Lepuh dapat terjadi akibat
air mandi yang sangat panas. Luka bakar dapat terjadi akibat tindakan terapeutik yang
menggunakan panas. Penting bagi perawat untuk mengkaji sejauh mana klien dapat
melindungi dirinya sendiri dan jenis tindakan kewaspadaan, jika ada perlu dilakukan.
2. Kebakaran
Kebakaran terus menjadi resiko yang menetap, ditatana layanan kesehatan dan
dirumah. Kebakaran di institusi biasanya terjadi akibat perlengkapan listrik yang tidak
berfungsi dengan baik atau pembakaran gas anestesis. Kebakaran yang terjadi di
dalam rumah biasanya terjadi akibat pembuangan rokok, korek api, yang masih
menyala, akibat minyak, dan akibat kebocoran kabel listrik.
Di instansi layanan kesehatan, kebakaran sangat berbahaya. Saat individu tidak
berdaya dan tidak dapat meninggalkan gedung tanpa bantuan. Ketidakmampuan ini
membuat perawat harus memwaspadai peraturan keamanan kebakaran dan praktik
pencegahan kebakaran di instasi mereka bekerja. Saat terjadi kebakaran, perawat
mengikuti serangkaian prioritas berikut :
a. Melindungi dan mengevakuasi klien yang berada dalam keadaan berbahaya
22

b. Melaporkan kebakaran tersebut


c. Mencegah penyebaran api
d. Memadamkan api
Pemadaam api membutuhkan Pengetahuan tentang tiga kategori kebakaran, yang
dikelompokkan berdasarkan materi yang terbakar.
Kelas A : kertas, kayu, kain pelapis furniture, perca, sampah rumah tangga
Kelas B : cairan dan gas yang mudah terbakar
Kelas C : Listrik
Jenis pemadam api yang tepat harus digunakan untuk memadamkan api. Pemadam api
dilengkapi dengan simbul jenis api yang bisa digunakan dengan pemadam tersebut.
Petunjuk penggunaan juga ditempel pada pemadam api.
Kebakaran di rumah, intervensi keperawatan dalam menghadapi kebakaran di rumah,
Berfokus pad apenyuluhan mengenai keamanan dari kebakaran. Tindakan pencegahan
mencakup :
a. Meletakkan catatan Nomor telepon Gawat darurat didekat pesawat telepon, atau
disimpan dalam memori telepon pada daftar panggilan cepat
b. Pastikan bahwa alarm asap berfungsi dengan baik dan diletakkan ditempat yang
sesuai
c. Ajarkan klien untuk mengganti baterai alrm asap mereka setiap tahun, misalnya
setiap tahun baru, atau setiap ulang tahun
d. Buat peta meloloskan diri dari kebakaran keluarga setiap anggota keluarga perlu
mengetahui peta jalan keluar yang terdekat dari ruang tertentu dalam rumah
e. Selalu sediakan pemadam api dan pastikan alat tersebut berfungsi dengan baik
f. Tutup jendela dan pintu jika mungkin; tutup mulut dan hidung dengan kain basah
saat keluar menyusuri area yang penuh asap; dan hindari daerah dengan asap tebal
dengan merayap, dengan kepla sedekat mungkin ke lantai
3. Jatuh
Individu berapa pun usianya dapat terjatuh, akan tetapi bayi dan lansia paling
rentan jatuh dan mengalami cedera serius. Jatuh merupakan penyebab utama
kecelakaan pada lansia. Jatuh merupakan penyebab tersering individu dirawat di
rumah sakit dan panti wreda. Jatuh sering kali terjadi dalam rumah dan merupakan
Ancaman terbesar terhadap kemandirian lansia. Ketakutan jatuh sering muncul pada
lansia, bahkan pada lansia yang tidak pernah jatuh. Ketakutan ini semakin menjadijadi pad alansia yang tinggal sendiri dan pada lansia yang merasa tidak berdaya dan
23

tidak mampu meminta bantuan setelah jatuh. Bagi individu ini, perawat harus
mendorong mereka lakukan kontak harian atau kontak harian yang lebih sering dengan
teman atau anggota keluarga lain, memasang sistem respon kedaruratan personal dan
melakukan tindakan untuk mempertahankan lingkungan fisik yang dapat Mencegah
terjadinya jatuh.
Faktor resiko jatuh dan tindakan pencegahan
Faktor resiko dan tindakan pencegahan jatuh
Faktor Resiko
Tindakan Pencegahan
Penglihatan yang buruk
Pastikan bahwa kaca mata klien berfungsi
dengan baik
Pastikan pencahayaan yang tepat
Tandai jalan kearah pintu dan tepi anak
tangga jika perlu
Pertahankan keteraturan lingkungan
Disfungsi kognitif (bingung,
Buat batasan aktivitas yang aman
disorientasi, gangguan daya ingat, atau Singkirkan benda yang membahayakan
Hambatan pembuatan keputusan)
Gangguan gaya berjalan atau

Gunakan sepatu atau sandal ayng pas di

keseimbangan dan kesulitan berjalan

kaki dengan sol anti selip

Gunakan
alat bantu ambulasi jika perlu
karena disfungsi ekstremitas bawah
(tongklat, kruk, walker,
(arthritis)
rungkup/penopang, kursi roda)
Beri bantuan bantuan saat ambulasi bila
perlu
Amati gaya berjalan dan keseimbangan
tubuh
Atur agar semua aktivitas dapat dilakukan
satu lantai di rumah, jika perlu
Dorong olah raga dan aktivitas sesuai
toleransi untuk memperthankan Kekuatan
otot, fleksibilitas sendi dna keseimbangan
Pastikan kerapihan dengan karpet yang
terpasang dengan baik
Kesulitan untuk berdiri dan duduk di Dorong klien untuk meminta bantuan
kursi atau bangkit dari dan ke tempat Pertahankan tempat tidur dalam posisi
24

tidur

Hipotensi ortostatik

yang rendah
Lengkapi dinding kamar mandi dengan
susur tangan
Naikan dudukan toilet
Minta klien untuk berdiri secara perlahan
dari posisi berbaring ke posisi duduk
kemusian ke posisi berdiri, dan diam di
tempat selama beberapa detik sebelum
mulai berjalan

Sering berkemih atau menggunakan Sediakan kursi buang air di sisi tempat
diuretik

Kelemahan akibat proses penyakit


atau terapi
Regimen pengobatan saat ini yang

tidur
Bantu klien berkemih secra teratur dan
terjadwal
Dorong klien untuk meminta bantuan
Pantau toleransi aktivitas pasien

Naikkan pagar tempat tidur


meliputi penggunaan sedatif, hipnotik, Perthankan agar pagar tempat tidur tetap
terpasang walaupun tempat posisi tidur

obat penenang, narkotik, analgesik,


diuretik.

rendah
Pantau orientasi dan status kewaspadaan
Diskusikan bagaimana alkohol dapat
menyebabkan cedera akibat jatuh
Anjurkan klien untuk tidak mencampur
alkohol dan obat serta menghindari
alkohol jika perlu
Dorong peninjauan terhadap semua obat
resep setiap tahun atau lebih sering.

Kewaspadaan klinis
Jatuh dapat mengakibatkan patah tulang dan menurunkan harga diri klien
mengakibatkan ketakutan akan jatuh selanjutnya menyebabkan penurunan tingkat
aktivitas dan penurunan Kekuatan otot semau faktor tersebut meningkatkan risiko
jatuh

25

Otot tungkai yang lemah, lutut yang lemah keseimbangan yang buruk dan
kurang fleksibilitas menjadi faktor utama penyebab jatuh pada lansia, perawata harus
dapat menggunakan instrument pengkajian misalnya uji get up and go, di tatanan
rumah sakit, tatanan sub akut dan dirumah. Kimbell (2001) mendiskripsikan beberapa
langkah pemeriksaan :
1. Amati postur tubuh klien saat duduk di kursid engan sandaran tegak
2. Minta klien untuk berdiri amati apakah klien dapat berdiri hanya menggunakan
otot kakinya atau apakah ia perlu menggunakan tangannya untuk membantunya
berdiri dari kursi
3. Saat klien berdiri dengan nyaman minta klien untuk menutup matanya, apakah ia
lambung?
4. Minta klien untuk membuka matanya, berjalan 3 meter, berputar dan kembali ke
kursi,. Amati gaya berjalan, keseimbangna kecepatan, dan kestabilan klien
seberapa halus gerakan berputar klien
5. Saat klien kembali ke kursi minta ia untuk berputar dan duduk, amati seberapa
halus klien melakukan gerakan tersebut.
Penggunaan pengakajian cepat ini bersamaan dengan pengkajian lingkungan
klien dapat membantu perawat merekomendasikan tindakan keamanan pada klien dan
keluarga.
Pencegahan jatuh di tatanan layanan kesehatan merupakan masalah yang
continu. Lingkungan layanan kesehatan dirnacnag dengan berbagai bentuk yang aman
untuk mengurangi resiko jatuh. Seperti, pemasangan susur tangan di dinding koridor,
bel pemanggil disisi tempat tidur, susur tangan di area toilet, pengunci roda tempat
tidur, kursi roda dan roda brankar, pagar tempat tidur, lampu tidur, dsb. Selain itu
perawat dapat mengimplementasikan tindakan untuk menurunkan insiden jatuh
PEDOMAN PRAKTIK
Pencegahan Jauth Di Instansi Layanan Kesehatan
Saat masuk orientasikan klien dengan lingkungan sekitar dan sistem yang tersedia
untuk memanggil perawat
Kaji secara seksama kemampuan ambulasi dan kemampuan perpindahan klien, beri
alat bantu jalanm dan bantuan jika perlu
Awasi klien yang beresiko terhadap jatuh secara ketat terutama malam hari
Dorong klien untuk menggunakan bel untuk meminta bantuan, pasrikan bahwa bel
tersebut berada dalam jangkauan klien
26

Letakkan meja di sisi tempat tidur dan meja lipat dekat dengan tempat tidur atau kursi
sehingga klien tidak kesulitan dalam menjangkau benda di atas meja
Selalu Pertahankan tempat tidur rumah sakit pada posisi rendah dengan roda terkunci
saat tidak dilakukan perawatan sehingga memudahkan klien untuk naik turun tempat
tidur
Sarankan klien untuk menggunakan susur tangan di dinding toilet dan area kamar
mandi serta susur tangan di dinding sepanjang koridor
Pastikan bahwa keset kamar mandi yang idak licin tersedia di dekat bath tub dan
shower
Anjurkan klien untuk mengenakan kaos kaki yang tidak licin
Pertahankan lingkungan tetap rapi terutama pertahankan agar kabel listrik tidak
menjuntai di lantai dan atur perabot aga ritdak menghalangi jalan
Gunakan intervensi individual (misal, alarm yang sensitif terhadap posisi klien)
buakan pagar tempat tidur pad aklien yang bingung.
Menaikkan pagar tempat tidur tamapak sebagai metode efektif dalam Mencegah
jatuh, namun pagar tempat tidur seharusnya tidak dinaikkan secar arutin untuk
menceah jatuh. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami gangguan
daya ingat, Hambatan mobilitas, nokturia, dan gangguan tidur lain rentan terjebak di
terali pagar temapt tidur dan pada kenyataannya, cenderung lebih mudah jatuh saat
mencoba meloloskan diri dari terali pagar atau saat mencoba turun dari tempat tidur
yang terpasang pagar (capezuti et al., 1999).
Alat elektronik tersedia untuk mendeteksi bahwa klien sedang berusaha untuk
bergerak atau turun dari tempat tidur. Alat peantau keamanan tempat tidur atau kursi
memiliki tombol yang sensitif terhadap posisi yang memicu alarm audio saat klien
berusaha untuk turun dari temapt tidur atau dari kursi.
Kewaspadaan klinis
Saat klien jatuh tanggung jawab pertama perawat adalah kondisi klien pertama kali
cedera, kemudian baru beri tahu dokter.
Peretimbangna usia
Mencegah jatuh
Lansia
Kaji kondisi personal yang dapat menyebabkan jauth, hipotensi, gaya berjalan yang
mantap, gangguan respon kejiwaan (misal akibat obat)
27

Penglihatan yang buruk, patologi pada kaki, perubahan kognitif dan ketakutan
Ditatanan rumah atau komunitas kaji kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan
jatuh :
a) Pencahayaan tidak adekuat, saklar yang sulit dijangkau atau tidak letak saklar
yang tidak tepat
b) Lantai : adanya kabel listrik, karpet yang tertekuk atau kusut, permukaan yang
licin
c) Tangga : pagar pada sisi tangga rapuh atau tidak ada, tinggi antar anak tangga
atau permukaan anak tangga yang tidak rata
d) Perabot: dasar perabot yang kurang kokoh, penyangga lengan pada kursi yang
kurang kuat, lemari yang kurang tinggi atau terlalu rendah
e) Kamar mandi: tinggi kloset yang tidak tepat, lantai atau bathtub yang licin, tidak
tersedia susur tangan di dinding kamar mandi.
Di rumah, pertimbangkan alternatif tempat tidur rumah sakit atau tempat tidur biasa
jika klien sangat rentan untuk jatuh dari tempat tidur
a) Letakkan kasur tepat di atas lantai (tanpa tempat tidur)
b) Gunakan kasur air
c) Letakkan bantalan pada lantai di dekat tempat tidur atau di antara klien dan
pagar tempat tidur.
4. Kejang
Kejang merupakan awitan konvulsi atau aktivitas paroksimal motoris atau sensorik
secara tiba-tiba. Klien dapat rentan terhadap kejang akibat kondisi medis yag
permanen atau sementara, seperti reaksi obat, epilepsi, ataud emam yang sangat tinggi.
Mereka sangat beresiko terhadap cedera paabila mengalami kejang yang melibatkan
seluruh tubuh, seperti kejang grand mal (tonik-klonik) atau kejang lain yang disertai
hilangnya kesadaran. Tindakan kewaspadaan kejang merupakan tindakan keamanan
yang dilakukan perawat untuk melindungi klien dari cedera saat kejang
Prosedu

Mengimplementasikan tindakan kewaspadaan kejang

r
Tujuan
Melindungi klien dari cedera
Pengkajian
Kaji riwayat kejang sat pengkajian awal jika klien pernah kejang gali informasi detail
termasuk karakteristik aura atau gejala pra kejang yang mengindikasikan dimulainya
serangan kejang, durasi dan frekuensi kejang, akibat kejang (mis., inkontinensia atau
28

sulit bernafas, dan tindakan yang harus dilakukan untuk Mencegah dan mengurangi
aktivitas kejang
PERENCANAAN
Tinjau prosedur kedaruratan karena klien mungkin mengalami henti nafas atau cedera
lain akibat serangan kejang
Delegasi
Staf bantu yang Belum memiliki izin harus familier dengan penetapan dan
pelaksanaan tindakan kewaspadaan kejang dan metode meminta bantuan selama klien
kejang, namun perawatan klien selama kejang merupakan tanggung jawab perawat
karena pentingnya pengkajian yang seksama terhadap status pernafasan dan
kemungkinan kebutuhan terhadap intervensi
Peralatan
Selimut atau kain untuk melapisi pagar tempat tidur
Perlengkapan Pengisapan lendir oral
Perlengkapan oksigen
Implementasi
Kerja
1. Jelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan, alasan
pentingnya prosedur tersebut dan bagaimana ia dapat bekerja sama dengan
anda demi kelancaran prosedur tersebut
2. Cuci tangan dan amati prosedur pengontrolan infeksi secara tepat apabila klien
sedang kejang, kenakan sarung tangan bersih sebagai persiapan untuk
melakukan tindakan perawatan pernafasan.
3. Jaga privasi klien
4. Pasang bantalan pada setiap sisi tempat tidur. Pasang selimut atau kain lain
disekitar kepala, kaki, dan pagar temapat tidur.
5. Siapkan peralatan Pengisapan lendir oral dan periksa apakah alat tersebut
berfungsi
6. Sesuai kebijakan instansi letakkan spatel lidah yang telah dilapisi kasa atau
gudel di tempat terjangkau di deka tbagian kepala tempat tidur.
7. Apabila terjadi serangan kejang
8. Saat kejang telah berakhir Dokumentasikan dalam catatan klien menggunakan
format atau daftar tilik yang dilengkapi dengan narasi jika mungkin.
Evaluasi
Lakukan pemeriksaan tindak lanjut detail pada klien, beri obat sesuai indikasi
Laporkan kelainan yang bermakna kepada dokter
Pertimbangan Usia
29

Mengimplementasikan tindakan kewaspadaan kejang


Bayi
sekitar 24 % anak-anak mengalami serangan kejang Sebagian besar saat bayi
Anak-anak
Kejang demam terjadi lebihs sering dibanding orang dewasa dan biasanya dapat

dicegah dengan antipiretik dan Kompres air hangat


Tentukan status oksigenase : Berikan oksigen jika pembacaan oksimetri nadi

kurang dari 95%


Anak-anak sering kejang perlu menggunakan helm perlindungan
Anak-anak yang sedang menggunakan obat anti kejang harus menggunakan tanda
Identifikasi medis (gelang atau kalung)

Pertimbangan perawatan di rumah


Apabila sering kejang berulang dan sedang mengkonsumsi obat anti kejang klien
harus menggunakan tanda Identifikasi medis (gelang atau kalung) dan membawa

kartu yang menjelaskan obat-obatan yang sedang mereka gunakan.


Saat melakukan kunjungan rumah lakukan pengamatan terhadap obat-obatan anti
kejang dan pastikan bahwa klien patuh terhadap pengobatan tersebut. Pengukuran

kadar obat dalam darah perlu dilakukan secara periodik


Bantu klien dalam menentukan individu dalam masyarakatyang harus diberi tahu
mengenai gangguan kejang yang mereka miliki (mis.,pimpinan di tempat kerja,
pemberi layanan kesehatan, seperti dokter gigi, departemen perhubungan jika klien

mengemudi kendaraan bermotor, rekan kerja


Diskusikan mengenai tindakan kewaspadaan di dalam dan di luar rumah, jika
kejang terkontrol aktivitas yang membutuhkan pembatasan atau pengawasan ketat
dari orang lain adlah mandi, bathtub, berenang, memasak menggunakan mesin

atau perlengkapan listrik, dan mengemudi


Diskusikan dengan klien dan keluarga mengenai faktor pemicu kejang

5. Keracunan
Penyebab utama keracunan pada anak-anak adalah pengawasan yang tidak adekuat
dan penyimpanan zat rumah tangga beracun yang tidak tepat. Pelaksanaan pencegahan
keracunan pada anak-anak berfokus pada penyuluhan kepada orang tua untuk
menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak termasuk menyingkirkan obat30

obatan yang tidak dipergunakan kembali dengan membasuhnya ke dalam toilet.


Keracunan pada remaja dan individu dewasa biasanya disebabkan gigitan serangga
atau ular serta penggunaan obat rekreasi atau penggunaan obat untuk bunuh diri.
Pelaksanaan tindakan pencegahan keracunan pada kelompok usia ini Berfokus pada
penyebaran informasi dan konseling. Keracunan pada lansia biasanya disebabkan
menelan zat toksik secara tidak sengaja ( salah lihat label ) atau overdosis obat resep
( karena gangguan daya ingat ). Pelaksanaan tindakan pencegahan pada lansia
berfokus pada perlindungan terhadap lingkungan dan pemantauan terhadap masalah
dasar pada lansia.
Pada lansia yang mengalami demensia, kercunan sering kali menjadi masalah
keamanan. Saat terjadi deteriorasi kemampuan kognitif, perilaku sering kali regresi
sehingga menyerupai perilaku anak-anak. Tindakan kewaspadaan yang sama dengan
tindakan kewaspadaan pada anak-anak perlu dilakukan pada lansia ini. Lansia yang
mengalami demensia menganggap dirinya harus merasakan apapun dn akan
memasukan semunya kedalam mulutnya termasuk tanaman, bunga, lilin, benda kecil
dan obat-obaatan. Semua benda ini dan benda lain yang mungkin berbahaya bagi
lansia harus disimpan rapat-rapat atau dijauhkan dari jangkauan lansia. Nomor telepon
pusat pengendalian keracunan terdekat harus tersedia di rumah. Semua tindakan
kewaspadaan ini sangat penting dilakukan disemua tatanan tempat klien lansia yang
mengalami demensia dirawat, baik di rumah maupun di panti wreda.
Sebagai respons terhadap peningkatan banyaknya bahaya keracunan, beberapa negara
membangun pusat pengendalian keracunan yang memberikan informasi akurat dan
terkini mengenai bahaya yang mungkin terjadi dan rekomendasi pengobatan sesuai
keperluan. Untuk keracunan beberapa zat tertentu, tersedia antidote atau pengobatan
tertentu, dan untuk keracunan zat lain tidak terdapat terapi khusus.
Perawat memberi intervensi dalam tatanan komunitas dengan memberi pendidikan
kesehatan kepada masyarakat mengenai tindakan yang harus dilakukan saat terjadi
keracunan: Identifikasi racun khusus dengan mencari botol yang telah terbuka, botol
kosong, atau bukti lain. Hubungi pusat pengendalian keracunan, tentukan jumlah
racun yang ditelan dan usia individu yang keracunan dan gejala yang terlihat.
Tenangkan ia semaksimal mungkin dan minta ia berbaring miring atau duduk dengan
kepala menunduk di antara tungkai untuk Mencegah aspirasi muntahan.
31

Penyuluhan: Perawatan klien Mencegah keracunan

Letakan agens beracun termasuk obat dan agens pembersih dalam lemari terkunci
atau pasang cantelan khusus untuk menggantung plastic dibagian dalm pintu lemari
untuk mempertahankan agar plastic yang berisi agens tersebut sulit dijangku,
cantelan ini hanya dapat dibuka dengan teknan ibu jari yang kuat yng tidak dapat

dikeluarkan oleh anak-anak


Jangan simpan cairan atau materi padat beracun dalam wadah makanan, seperti

botol mnuman ringan, toples selai kacang atau kardus susu


Jangan buang label wadah atau menggunakan kembali wadah kosong untuk
menyimpan zat lain , menurut hukum pada label semua zat beracun harus tertera

anti dotnya
Jangan mengandalkan memasak sebagai tindakan memusnahkan zat kimia beracun
dalam sayuran, jangan gunakan segala sesuatu yang di amabil dari alam sebagai

obat atau teh


Ajarkan anak-anak untuk tidak memakan semua bagian tanaman atau jamur yang
tidak diketahui dan untuk tidak memasukan daun, batang, kulit, kayu, benih, kacng-

kacangan atau buah sejenis buni dari tanaman apapun ke dalam mulut mereka
Tempel stiker peringatan racun yn dirancng khusus untuk anak-anak pada wadah zat

pemutih, zat alkali, minyak tanah, pelarut dan zat beracun lain.
Jangan katakana bahw obat adalah permen atu berpura-pura menikmati minum obat
di depan anak-anak, biar mereka melihat pentingnya minum obat tanpa melebih-

lebihkannya
Baca dan ikuti petunjuk pada label semua produk sebelum menggunakan produk

tersebut
Sedia sirup ipekak setiap saat. Sirup ipekak merupakan emetic bebas yang tersedia
dalam vial dosis tunggal 15 ml di semua took obat. Gunakan obat tersebut hanya
setelah mendapat saran dari pusat pengendalian keracunan setempat atau dokter

keluarga
Jangan simpan tanaman beracun di rumah, dan jangan menanam tumbuhan beracun

di halaman. Badan pemerintah di kota anda dapat memberi daftar tanaman beracun
Temple nimir telepon pusat pengendalian beracun di dekat atau di gagang telepon
dalam rumah sehingga semua anggota keluarga, pengasuh anak dan teman-teman
mudah mengaksesnya jika perlu.
32

Keracunan karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun yang tidak berbau, tidak
berwarna dan tidak berasa. Pajanan terhadap CO dapat menyebabkan gejala seperti:
sakit kepala, limbung, kelemahan, mual, muntah aatau kehilangan kontrol otot.
Pajanan panjang terhadap CO dapat menyebabkan hilang kesadaran atau kematian.
Sangat penting untuk mempelajari langkah-langkah pencegahan bahaya CO karena
semua kendaraan berbahan bakar bensin, mesin pemotong rumput, kompor minyak
tanah, pan barbekyu dan kayu bakar mengeluarkan CO. pembakaran yang tidak
sempurna atau yang kurang tepat terhadap semua bahan bakar termasuk gas alam yang
di gunakan dalam tungku dapat menghasilkan CO. saat ini tersedia alat pendeteksi CO
untuk digunakan di rumah.
6. Sufokasi atau tercekik
Sufokasi (asphyxiation) adalah keadaan kurang oksigen akibat nafas yang terputus.
Sufokasi terjadi saat sumber udara terputus karena beberapa sebab, salah satu
penyebab umum tercekik adalah makanan atau benda asing yang tersangkut di
tenggorokan. Tanda umum distres adalah korban tampak memegang leher depan dan
tidak dapat bicara atau batuk. Respon Kegawatan adalah perasat heimlich atau
abdominal thrust yang dapat membebaskan benda asing tersebut dan membuat jalan
nafas kembali paten
Penyebab lain sufokasi adalah tenggelam, menghirup gas atau asap, hidung dan mulut
yang terbekap selembar plastic secara tiba-tiba, tercekik sabuk pengaman secara tidak
sengaja dan terjebak dalam ruang yang sempit ( misal: lemari es yang sudah tidak
terpakai ). Apabila individu tidak segera menerima tindakan terhadap sufokasi, nafas
yang terputus menyebabkan henti nafas dan henti jantung serta kematian. Setiap
obstruksi pada jalan napas harus segera disingkirkan dan tindakan bantuan hidup harus
dilakukan jika terjadi henti napas dan henti jantung.
7. Suara bising
Suara bising merupakan bahaya kesehatan yang dapat menyebabkan ketulian,
bergantung pada tingkat suara secara keseluruhan, rentang frekwensi suara, durasi
pajanan dan kerentanan individu
8. Bahaya listrik
Semua alat lisrik dengan arus listrik terhubung dengan tanah harus terpasang
dengan benar. Steker alat listrik yang terhubung dengan tanah memiliki tiga cabang.
Dua cabang yang pendek menghantar arus ke alat, Sedangkan cabang yang lebih
33

panjang merupakan alat yang menghantar arus pendek atau kebocoran arus listrik ke
tanah. Cabang yang panjang memberi lintasan yang kurang resistan terhadap
kebocoran arus listrik.
Perlengkaapan arus listrik yang cacat (perlengkapan dengan kabel yang terurai )
menimbulkan bahaya syok listrik atau mungkin memicu kebakaran. Sebagai contoh
percikan listrik di dekat gas anestetik tertentu atau di dekat oksigen konsentrasi tinggi
dapat menyebabkan kebakaran hebat. Tindakan untuk mengurangi bahaya listrik

Penyuluhan : Perawatan Klien


Mengurangi Bahaya Listrik
Periksa apakah kabel terurai atau terdapat tanda Kerusakan lain sebelum

menggunakan alat, jangan gunakan alat jika terlihat ada Kerusakan


Jangan sambungkan terlalu banyak alat listrik ke stop kontak dan kotak sikring
Gunakan hanya stop kontak dan steker dengan arus terhubung dengan tanah
Saat melepas steker dari stop kontak, genggam steker dengan tegas, kemudian tarik
steker tarik stiker tersebut. Melepas stiker dengan menarik kabelnya dapat merusak

kabel dan unit stiker tersebut


Jangan gunakan alat lisrtik di dekat wastafel, bathtub, shower, atau area lain yang

basah karena air mudah menghantarkan listrik


Jauhkan kabel atau alat listrik dari jangkauan anak-anak
Pasang penutup pada stopkontak dinding untuk melindungi anak
Ganti semua kabel yang tidak berlapis isolator agar memenuhi standar keamanan
Baca petunjuk penggunaan secara seksama sebelum mengoprasikan perlengkapan
listrik, klien yang tidak memahami cara pengoprasian perlengkapan tersebut harus

meminta bantuan
Selalu putus sambungan alat listrik dari sumber listrik sebelum membersihkan atau

memperbaikinya
Lepas stiker semua alat yang menimbulkan sensasi kesemutan atau syok dari

34

stopkontak dan minta ahli listrik Memeriksa apakah terdapat kebocoran arus dalam

alat tersebut
Pertahankan kabel listrik tergulung rapi atau terfiksasi pada lantai yang tidak dilalui
orang sehingga orang tidak menyebabkan Kerusakan atau tersandung kabel tersebut

9. Radiasi
Cedera radeasi dapat terjadi akibat pajanan berlebihan terhadap materi radioaktif yang
digunakan dalam prosedur diagnostik dan terapeutik. Klien yang menjalani
pemeriksaan menggunakan radiografi atau fluoroskopi umumnya sedikit terpajan
dengan radioaktif dan perlu dilakukan beberapa tindakan kewaspadaan. Meskipun
demikian, perawat harus melindungi dirinya sendiri dari radiasi saat klien menjalani
terpai radiasi. Pajanan terhadap radiasi dapat diminimalkan dengan
a) Membatasi durasi saat berada di dekat sumber radiasi
b) Memberi jarak sejauh mungkin dari sumber radiasi
c) Menggunakan alat pelindung, seperti tameng rasiasi saat berada di dekat sumber
radiasi,

Pemasangan restrain
a. Restrain
Merupakan alat pelindung yang digunakan untuk membatasi aktivitas fisik atau bagin
tubuh klien. Terdapat restrain fisik atau kimia.
1) Restrain fisik
Semua metode manual atau alt fisik atau alat mekanik, materi, atau perlengkapan
yang terpasang pada tubuh klien; alat tersebut sulit dilepas dan membatasi gerak
klien.
2) Restrain kimia
Adalah obat, seperti agen neuroleptik, ansiolitik, sedative, dan psikotropik, yang
digunakan untuk mengendalikan perilaku sosial yang suka mengacau.
Tujuan restrain adalah mencegah klien mencederai dirinya sendiri dan orang lain.
b. Implikasi Legal Restrain
Dewasa ini penentuan kebutuhan akan tindakan keaman dipandang sebagai
fungsi keperawatan mandiri. Walaupun demikian Penggunaan restrain memiliki
implikasi legal karena restrain membatasi kebebabsan individu. Perawat harus
mengetahui kebijakan instansi dan hukum negara mengenai tindakan restrain terhadap
35

klien. U.S. Centers For Medicare and Medicaid Service menerbitkan revisi standar
Penggunaan restrain di Amerika Serikat pada tahun 2001. Standar ini berlaku pada
semua organisasi layanan kesehatan dan mengkhususkan dua standar dalam
menggunakan restrain: standar menejemen perilaku (klien berbahaya bagi dirinya
sendiri dan orang lain) dan standar perawatan medis dan bedah akut (imobilisasi
sementara pada klien terkait prosedur).
Pada standar manejemen perilaku, perawat dapat memasang restrain, tetapi
dokter atau praktisi lain yang memiliki ijin praktik mandiri harus mengobservasi klien
dalam 1 jam untuk Evaluasi. Program restrains tertulis bagi individu dewasa, setelah
Evaluasi hanya berlaku selama 4 jam. Apabila klien harus dipasang restrain dan
diisolasi perlu dilakukan pemantauan visual dan audio secara kontinyu terhadap status
klien standar perawatan medical Bedah mengijinkan batas waktu hingga 12 jam untuk
program tertulis pemasangan restrain dari dokter.
Menurut standar, program pemasangan restrain yang dibuat dokter harus
memuat alasan pemasangan restrain serta berapa lama restrain tersebut diindikasikan,
selain itu, standar juga melarang indikasi jika perlu (pro renata, PRN) pada program
pemasangan restrain. Pada semua kasus, restrain hanya boleh digunakan setelah semua
cara dapat dilakukan untuk menjamin keamanan klien dicoba, namun tidak
membuahkan hasil (dan harus didokumentasikan).
Alternatif penggunaan restrain dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Alternatif Restrain
Atur agar perawat bekerja berpasangan Letakkan bantal atau lapisi sisi kursi roda
sehingga salah satu perawat dapat
mengobservasi saat perawat lain
meninggalkan unit tersebut.
Tempatkan klien yang tidak stabil pada

dengan kain untuk menjaga posisi klien tetap


mantap.
Letakkan baki pangku yang dapat dilepas
pada kursi roda untukmemberi sokongan dan

area dengan pengawasan ketat dan teratur


membantu memantapkan posisi klien.
Persiapkan klien sebelum perpindahan
Coba tenangkan klien, agitasi dengan
untuk meminimalkan syok akibat
perpindahan dan bingung yang

minuman yang hangat, lampu yang redup,


gosok punggung atau jalan-jalan.
Gunakan restrain lingkungan seperti perabot

diakibatkannya.
Damping klien saat menggunakan pispot di
sisi tempat tidur atau saat klien ke kamar

atau tanaman yang besar sebagai pemabatas


untuk mencegah klien keluyuran keluar area
36

mandi. Jika klien bingung atau sedasi atau yang ditetapkan.


mengalami gangguan gaya berjalan atau Letakkan gambar atau benda pribadi lain di
beresiko tinggi jatuh
Pantau semua pengobatan klien dan jika
memungkinkan usahakan untuk

pintu kamar klien untuk untuk membantu


klien mengenali kamar mereka.
Coba tentukan penyebab sundowning

menurunkan dosis atau menghentikan

(keluyuran dan disorientasi nocturnal,

penggunaan agen sedative atau

biasanya terjadi pada penderita demensia) pad

psikotropik.
Atur posisi tempat tidur pada posisi

aklien sundowning kemungkinan disebabkan

terendah untuk mempermudah klien naik


turun tempat tidur.
Turunkan ketinggian pagar tempat tidur

oleh gangguan pendengaran, penglihatan


yang buruk atau nyeri.
Lakukan pengkajian secara kontinyu untuk

hingga setengah atau tiga perempatnya

memantau perubahan kemampuan fungsional


fisik serta kognitif dan faktor risiko.

untuk mencegah klien yang bingung


memanjat pagar tempat tidur atau jatuh
dari ujung tempat tidur
Gunakan kursi goyang untuk membantu
klien yang bingung untuk menghabiskan
Sebagian energi mereka sehingga mereka
tidak keluyuran.
Klien yang terpasang restrain sering kali menjadi (semakin) gelisah dan cemas
karena merasa kehilangan kontrol diri. Perawat harus mendokumentasikan bahwa
kebutuhan terhadap pemasangan restrain dijelaskan kepada klien dan orang yang
memberikan dukungan kepada klien.
c. Pemilihan Restrain
Sebelum memilih restrain, perawat harus benar-benar memahami tujuan penggunaan
restrain dan melakukan pemasangan restrain berdasarkan lima kriteria berikut :
1) Restrain membatasi gerak klien seminimal mungkin
Jika indikasi pemasangan restrain hanya pada lengan, jangan restrain seluruh tubuh
pasien.
2) Restrain tidak mengganggu pengobatan atau memperberat masalah kesehatan klien
Jika sirkulasi darah ke tangan buruk, pasang restrain yang tidak memperburuk
masalah sirkulasi tersebut.
3) Restrain mudah diganti
37

Restrain harus sering diganti terutama jika kotor. Ingat pedoman lain pemasangan
restrain, pilih restrain yang daapt diganti tanpa banyak menimbulkan gangguan pada
klien
4) Restrain aman digunakan pada klien tertentu
Pilih restrain yang tidak memicu klien mencederai diri sendiri. Sebagai contoh,
individu yang terpasang restrain fisik dapat mencederai diri saat berusaha turun dari
tempat tidur dengan memanjat pagar tempat tidur jika salah satu pergelangan
tangannya diikat ke kerangka tempat tidur. Restrain jaket lebih aman digunakan
untuk membatasi gerakan individu tersebut.
5) Resrain tidak terlalu mencolok
Baik klien dan pengunjung sering kali merasa tidak nyaman akibat emasnagna
restrain meskipun mereka mengetahui alasan penggunaan restrain. Pemasangan
restrain yang tidak mencolok lebih dirasa nyaman bagi mereka (semakin tidak
mencolok, semakin nyaman bagi mereka)
d. Jenis Restrain
Ada beberapa jenis restrain. Restrain yang paling banyak digunakan pada orang
dewasa adalah restrain jaket, restrain sabuk, dan restrain sarung tangan atau restrain
sarung tapak tangan, dan restrain ekstremitas. Kursi geriatri dan kursi roda diguanakan
untuk membatasi aktivitas klien juga dianggap sebagai restrain. Restrain untuk bayi dan
anak-anak meliputi restrain mumi, restrain siku, dan jarring boks bayi.
Ada beberapa jenis restrain rompi, tetapi pada dasarnya semua restrain tersebut
merupakan jaket tanpa lengan (rompi) dengan tali (ekor) yang dapat diikat pada
kerangka tempat tidur di bawah kasur. Restrain tubuh ini digunakan untuk menjamin
keselamatan klien yang bingung dan sedasi di tempat tidur atau kursi roda. FDA
menganjurkan pabrik untuk mencantumkan label depan dan belakang pada restrain
rompi (USFDA, 1992).
Restrain sabuk atau restrain tali tubuh digunakan untuk menjamin keamanan,
semua klien yang akan dipindahkan menggunakan brankar atau kursi roda. Beberapa
kursi roda dilengkapi dengan batang keselamatan yang lunak dan lembut yang
disambungkan ke siku-siku kursi roda dan diletakkan di bawah sandaran tangan. Untuk
Mencegah agar individu tidak merosot ke depan. Perawat mengikat tali bahu Y yaitu
dibatang keselamatan, menyusuri bahu klien kemudian diikat ke bagian belakang
pegangan kursi roda. Model sabuk pengaman lain memiliki desain tiga simpul. Satu
simpul mengelilingi pergelangan tangan individu dan diikat ke bagian belakang
38

sandaran tangan. Jika restrain tersebut tidak tersedia perawat dapat melilitkan lipatan
handuk atau selimut kecil mengelilingi pergelangan tangan klien dan mengaitkannya di
bagian belakang kursi roda. Restrain sabuk juga dapat digunakan pada klien tertentu di
tempat tidur atau di kursi.
Restrain sarung tapak tangan atau sarung tangan digunakan untuk mencegah
klien yang bingung menggunakan tangan ataujari mereka untuk mencakar dan
mencederai diri sendiri, sebagai contoh klien klien yang konfusi perlu dicegah agar
tidak menarik selang intravena atau balutan pada kepala setelah pembedahan otak.
Restrain sarung tapak tangan atau sarung tangan memungkinkan klien untuk ambulasi
dan atau menggerakkan lengannya secara bebas, tanpa terikat di tempat tidur atau kursi.
Restrain sarung tapak harus dibuka secara teratur agar klien dapat mencuci dan melatih
tangan tersebut. Perawat juga harus m,elepas restrain tapak tangan untuk Memeriksa
sirkulasi darah ke tangan tersebut.
Restrain ekstremitas yang umumnya terbuat dari kain, digunakan untuk
melakukan imobilisasi terhadap ekstremitas terutama untuk alasan terapeutik (mis.,
untuk mempertahankan infus intravena)
e. Pedoman Praktik Pemasangan Restrain
PEDOMAN PRAKTIK
Memasang Restrain
1. Dapatkan persetujuan klien atau wali klien
2. Pastikan terdapat program restrain tertulis dari dokter atau dalam kondisi darurat minta
program tertulis restrain dari dokter dalam 24 jam setelah pemasangan restrain.
3. Yakinkan klien dan keluarga klien bahwa restrain hanya dipasang sementara demi
melindungi klien dan jangan gunakan restrain sebagai hukuman atas perilaku atau sebagai
alat yang digunakan semata-mata demi kesenangan perawat.
4. Pasang restrain dalam cara tertentu sehingga klien dapat bergerak sebebas mungkin tanpa
menghambat tujuan pemasangan restrain
5. Pastikan bahwa restrain ekstremitas terpasang kuat tetapi tidak terlalu ketat sehingga tidak
mengganggu sirkulasi darah ke semua area tubuh atau ekstremitas
6. Lapisi penonjolan tulang pada tubuh (mis., pada pergelangan tangan dan mata kaki)
sebelum memasang restrain pada area tersebut. Pergerakan restrain pada daerah
penonjolan tulang tanpa adanya bantalan dapat cepat merusak kulit.
7. Selalu ikat restrain ekstremitas dengan simpul yang erat (mis., simpul manuk), namun
tidak menjadi semakin erat jika ditarik.
39

8. Ikat ujung restrain tubuh pad abagian tempat tidur yang bergerak untuk meninggikan
kepala. Jangan ikat ujung restrain pada pagar tempat tidur atau pada rangka tempat tidur
jika osisi tempat tidur akan diubah.
9. Kaji restrain setiap 30 menit beberapa fasilitas memiliki format khusus untuk mencatat
pengkajian yang kontinyu.
10. Lepas semua restrain sedikitnya 2 sampai 4 jam dan lakukan latihan rentang pergerakan
sendi (RPS) dan perawatan kulit.
11. Kaji kembali kebutuhan kontinyu penggunaan restrain sedikitnya setiap 8 jam. Sertakan
pengkajian terhadap penyebab perilaku yang mengindikasikan penggunaan restrain.
12. Saat restrain dilepas sementara jangan tinggalkan klien sendirian
13. Segera laporkan kepada ketua tim dan catat status klien jika area kulit yang terpasang
restrain memerah atau rusak
14. Pada indikasi awal sianosis atau pucat area kulit yang dingin atau keluhan klien berupa
kesemutan, nyeri, atau kebas, kendurkan restrain dan latih ekstermitas tersebut.
15. Pasang restrain sedemikian rupa sehingga restrain mudah dilepas jika terjadi kedaruratan
dengan bagian tubuh berada pada posisi anatomis.
16. Beri dukungan emosi secara lisan dan lewat sentuhan.

PROSEDU

Prosedur Memasang Restrain

R
Tujuan :

Memfasilitasi klien menerima terapi


Memungkinkan pengobatan berjalan lancar tanpa gangguan dari klien
(mis.,Mencegah pergerakan yang dapat mengganggu terapi pada ekstremitas yang

terhubung dengan slang atau alat


Pengkajian
Kaji :

Perilaku yang mengindikasikan kemungkinan kebutuhan terhadap pemasangan

restrain
Penyebab perilaku yang telah dikaji
Tindakan perlindungan lain yang dilakukan sebelum pemasangan restrain
Status kulit yang akan terpasang restrain
Status sirkulasi di area distal terhadap restrain dan ekstremitas yang terpasang
restrain
40

Efektivitas tindakan kewaspadaan keamanan lain.


Perencanaan
Tinjau kebijakan institusi terkait penggunaan restrain dan lakukan konsultasi jika perlu
sebelum secara mandiri memutuskan untuk memasang restrain. Semua intervensi lain yang
kurang restriktif dan dapat dilakukan harus sudah dicoba. Perawat harus memberi tahu
dokter mengenai pemasangan restrain kecuali pada keadaan darurat.
Delegasi
Perawat harus menentukan bahwa pemasangan restrain merupakan tindakan yang tepat
dalam situasi tertentu. Memilih jenis restrain yang tepat, mengevaluasi efektivitas restrain,
dan mengkaji kemungkinan komplikasi penggunaan restrain. Pemasangan restrain yag
diprogramkan dan pelepasan restrain sementara. Untuk pengkajian dan perawatan kulit
dapat didelegaiskan pada staf bantu yang Belum memiliki ijin yang terlatih dalam
penggunaan restrain.
Peralatan
Restrain dengan berbagai jenis dan ukuran yang sesuai.
Implementasi
Kerja
1. Jelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan anda lakukan, alasan pentingnya
prosedur tersebut dan bagaimana ia dapat bekerja sama dengan anda demi
kelancaran prosedur tersebut.
2. Diskusikan bahwa hasil dari tindakan ini digunakan dalam merencanakan
perawatan atau pengobatan yang akan datang.
3. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya terkait pemasangan
restrain.
4. Beri klien penjelasan yang membuatnya yakin bahwa restrain hanya digunakan jika
benar-benar perlu dan bahwa klien dapat meminta bantuan perawat setiap saat ia
membutuhkannya.
5. Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang tepat
6. Jaga privasi klien jika diindikasikan

7. Pasang restrain yang tepat bagi klien


a. Restrain sabuk (Sabuk pengaman)
1) Pastikan bahwa sabuk pengaman berfungsi dengan baik apabila sabuk
41

pengaman Velcro akan digunakan, pastikan bahwa kedua bagian Velcro


utuh.
2) Apabila sabuk tersebut memiliki bagian yang panjang dan bagian yang
pendek letakkan bagian sabuk yang panjang di belakang (di bawah) klien
yang berbaring serta ikat tali tersebut pada rangka tempat tidur yang dapat
digerakkan. Bagian panjang yang diikat pada rangka tempat tidur tersebut
akan bergerak ke atas saat kepala tempat tidur dinaikkan sehingga klien
tidak akan tersesak. Letakkan bagian sabuk yang pendek di atas baju di
sekitar pinggang klien. Diantara sabuk dan pasien harus ada jarak sselebar
satu jari.
Atau
Pasang sabuk di sekitar pinggang klien dan ikat sabuk di bagain belakang
kursi
Atau
Apabila sabuk diikat pada brankar, fiksasi sabuk diatas pinggul atau
abdomen klien. Restrain sabuk harus dipasang pada semua klien yang
berbaring di atas brankar walaupun pagar brankar dinaikkan.
b. Restrain jaket
1) Pasang restrain rompi pada klien dengan bagian pembuka di depan atau di
belakang tergantung pada jenisnya.
2) Tarik tali pada ujung lipatan restrain rompi melewati dada dan masukkan
pada lubang restrain rompi di sisi dada yang berlawanan.
3) Ulangi tindakan diatas untuk tali lain pada restrain rompi
Gunakan simpul hidup untuk memfiksasi masing-masing tali pada rangka
tempat tidur yang dapat digerakkan atau di bagian belakang kursi pada kaki
kursi
Atau
Ikat tali di bagian belakang kursi menggunakan simpul segi empat (reef
knot)
4) Pastikan posisi klien tepat sehingga memungkinkan ekspansi dada
maksimum untuk bernafas.
c. Restrain sarung tapak tangan
1) Pasang restrain sarung tapak tangan (tanpa jempol) pada tangan yang akan
dilakukan restrain. Pastikan bahwa jari dapat sedikit fleksi dan tidak
tersangkut Dibawah telapak tangan.
2) Ikuti petunjuk pabrik untu memfiksasi restrain sarung tapak tangan
3) Jika diindikasikan untuk beberapa hari, buka restrain sarung tapak tangan
42

sedikitnya setiap 2 hingga 4 jam.


4) Cuci dan latih tangan klien, kemudian pasang kembali restrain tersebut.
Sesuaikan dengan kebijakan praktik di instasi terkait interval pelepasan
restrain sarung tapak tangan yang direkomendasikan.
5) Kaji sirkulasi ke tangan klien segera setelah restraing sarung tapak tangan
dipasang dan kaji kembali secara berkala. Perasaan kebas atau tidak nyaman
atau ketidakmampuan menggerakkan jari dapat mengindikasikan gangguan
sirkulasi ke tangan.
d. Restrain pergelangan tangan atau pergelangan kaki
1) Lapisi area penonjolan tulang pada pergelangan tangan atau pergelangan
kaki, jika perlu untuk mencegah kerusakan kulit
2) Gunakan bagian restrain yang dilapisi pada pergelangan tangan atau
pergelangan kaki.
3) Tarik restrain lewat lubang di bagian pergelangan tangan atau lewat gesper
restrain
4) Melalui penggunaan simpul hidup (simpul yang mudah dilepas) atau simpul
segi empat yang tepat ikat ujung tali yang lain pada bagian rangka tempat
tidur yang dapat digerakkan. Apabila tali diikat pada bagian yang yang dapat
digerakkan, pergelangan tangan atau pergelangan kaki tidak akan tertarik
saat posisi tempat tidur diubah.
8. Catat pada status klien perilaku yang mengindikasikan kebutuhan terhadap
pemasangan restrain. Semua intervensi lain yang dilakukan untuk menghindari
penggunaan restrain dan hasilnya, serta waktu ketika dokter diberi tahu mengenai
kebutuhan klien terhadap pemasangan restrain. Catat juga :
a. Jenis restrain yang digunakan serta waktu dan tujuan pemasangan restrain
b. Respon klien terhadap restrain
c. Waktu pelepasan restrain dan perawatan kulit klien
d. Semua pengkajian dan intervensi lain.
9. Sesuaikan Rencana perawatan jika perlu, misalnya, melepas restrain setiap 2 jam,
melakukan perawatan kulit, dan memberi latihan rentang pergerakan sendi.
Evaluasi

Lakukan tindak lanjut yang detail terhadap kebutuhan terhadap pemasangan


restrain dan respon klien, hubungkan hasilnya dengan data sebelumnya jika

tersedia.
Evaluasi status sirkulasi pada tungkai yang terpasang restrain.
Evaluasi status kulit yang berada di bawah restrain
Lepas restrain segera setelah alat tersebut tidak perlu digunakan lagi dan
43

dokumentasikan.
Laporkan kelainan yang bermakna pada dokter

PERTIMBANGAN USIA PEMASANGAN RESTRAIN


A. Bayi
1. Restrain Siku
Digunakan untuk mencegah bayi atau anak-anak yang masih sangat kecil
membengkokkan sikunya untuk menyentuh atau mengaruk lesi leis kulit atau untuk
memegang kepala saat bayi atau anak terpasnag infus intravena pada kulit kepala.
Restrain ini berupa kain satu lapis dengan kantung tempat memasukkan spatel lidah
plastik atau kayu untuk membuat restrain ini kaku.
a. Periksa restrain untuk meyakinkan bahwa spatel lidah utuh (semua utuh dan tidak
rusak)
b. Letakkan siku bayi pada bagian tengah restrain, pastikan bahwa lapisan kain
menutupi ujung spatel lidah agar spatel tidak mengiritasi kulit.
c. Bungkus lengan secara perlahan menggunakan restrain ini.
d. Fiksasi restrain menggunakan peniti, tali, atau plester. Pastikan restrain terfiksasi
sedemikian rupa sehingga tidak menghambat sirkulasi darah
e. Pilihan setelah restrain terpasang fiksasi dengan peniti pada baju anak agar restrain
tidak merosot
2. Restrain Mumi
Adalah membedong tubuh bayi menggunakan selimut atau linen untuk mencegah bayi
bergerak saat dilakukan prosedur, seperti bilas lambung, irigasi mata, atau
pengambilan specimen darah.
a. Ambil selimut ataulinen yang cukup panjang. Setidaknya dua klai panjang tubuh
bayi letakkan selimut atau linen tersebut pada permukaan yang datar atau kering.
b. Lipat salah satu sudut kain ke bawah dan letakkan bayi di atas lipatan tersebut pada
posisi terlentang
c. Lipat sisi kanan selimut di atas tubuh bayi, dengan membiarkan lengan kiri tidak
terbungkus selimut. Lengan kanan berada pada posisi alami di sisi tubuh bayi
d. Lipat ke atas sisa selimut bagian bawah
e. Denganlengan kiri pada posisi alami di sisi tubuh bayi, lipat sisi kiri selimut
sehingga menutupi tubuh bayi termasuk lengan tersebut, kemusian sisipkan ujung
selimut di bawah tubuh bayi.
f. Terus damping bayi yangterpasang restrain mumi hingga prosedur tertentu selesai
dilakukan

44

B. Anak-anak
Jaring pengaman pada tempat tidur (boks) anak merupakan alat yang dipasang di atas
boks anak yang aktif bergerak untuk mencegah mereka memanjat boks tersebut. Pada saat
yang sama jarring tersebut memungkinkan mereka bergerka bebas dalam boks. Jarring
pengaman atau kubah tidak tersambung pada bagian boks yang bergerak sehingga
pengasuh mudah menemui anak tanpa harus melepas jarring pengaman atau kubah.
1. Letakkan jarring di bagian sisi dan ujung boks anak
2. Kencangkan tali ke terall atau kerangka tempat tidur. Pagar boks anak mudah
diturunkan tanpa membuka jaring.
3. Periksa dengan tangan anda bahwa jaring akan meregang apabila anak berdiri dalam
boks dan menekan jaring
C. Lansia
Beberapa perubahan akibat proses penuaan yang menyebabkan lansia beresiko tinggi
terhadap masalah keamanan adalah
1. Penurunan pendengaran dan penglihatan
2. Penurunan respon refleks
3. Kerapuhan tulang dan penurunan fleksibilitas sendi dan otot
4. Penurunan pengaturan suhu, peningkatan resiko hipotermia dan hipertermia
5. Penurunan fungsi ginjal, yang meningkatkan resiko keracunan dalam pengobatan
Lingkungan rumah yang aman bagi lansia saat masih muda mungkin perlu dimodifikasi
untuk menurunkan risiko cedera. Rencana dan Nomor telpon yng harus dihubungi harus
tersedia untuk situasi darurat.
Pertimbangan Perawatan Di Rumah
Restrain mungkin diperlukan oleh klien saat menggunakan kurai roda atau di rumah. Keamanan
berlaku pada semua kasus.kaji Pengetahuan dan keterampilan semua pemberi asuhan
penggunaan restrain dan Berikan pendidikan kesehatan mengenai restrain sesuai indikasi
1. Sedapat mungkin, lakukan intervensi lain selain restrain dan damping klien
2. Lapisi area penonjolan tulang seperti pergelangan tangan dan pergelangan kaki, jika perlu
sebelum memasang restrain pada area tersebut.
3. Ikat restrain dengan simpul yang tidak akan semakin erat saat ditarik, ikat restrain pada bagian
kursi roda yang tidak dapat bergerak
4. Kaji tungkai yang terpasang restrain terhadap tanda-tanda gangguan sirkulasi darah
5. Selalu damping klien yang terpasang restrain saat restrain dilepas sementara waktu

5. Evaluasi
45

Untuk mencegah cedera pada klien, peran utama perawat adalah sebagai pendidik, selain
itu hasil yang diharapkan mencerminkan pencapaian Pengetahuan klien tentang bahaya,
perilaku dalam praktek keamanan, dan keterampilan yang dipraktikkan dalam kedaruratan
yang rendah saat toddler Contoh hasil yang diharapkan antara lain klien mampu:
a. Menggambarkan metode untuk mencegah bahaya (mis., jatuh, sufokasi, tercekik
kebakaran, tenggelam, syok listrik)
b. Melaporkan praktik tindakan keamanan di rumah (mis., tindakan keamanan terhadap
kebakaran, pemeliharaan alat deteksi asap, strategi pencegahan jatuh, tindakan
pencegahan luka bakar, tindakan pencegahan keracunan, penyimpanan yang aman
terhadap materi berbahaya, tindakan kewaspadaan senjata api, pencegahan elektrokusi,
trindakan keamanan terhadap air, keamanan bersepeda, keamanan kendaraan
bermotor).
c. Memodifikasi lingkungan fisik rumah untuk menurunkan risiko cedera
d. Mendeskripsikan prosedur kedaruratan terhadap keracunan dan kebakaran
e. Mendesripsikan resiko spesifik-usia atau resiko keamanan di tempat kerja atau risiko
kemanan di komunitas
f. Mendemontrasikan Penggunaan kursi keamanan anak yang tepat
g. Mendemonstrasikan pelaksanaan resusitasi jantung paru yang benar

46