Anda di halaman 1dari 18

DESAIN SURVEY SEISMIK REFRAKSI

(Laporan Praktikum Seismik Refraksi)

Oleh
Noris Herlambang
1315051039

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI...........................................................................................................
DAFTAR TABEL.................................................................................................. ii
I PENDAHULUAN
1 Latar Belakang.............................................................................. 1
2 Tujuan Percobaan........................................................................... 2
3 Batasan Masalah............................................................................. 2
II
TINJAUAN PUSTAKA
1 Kelistrikan Batuan......................................................................... 3
2 Lumpur Pemboran......................................................................... 3
3 Air Formasi.................................................................................... 4
III
TEORI DASAR
IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
1 Alat dan Bahan................................................................................
2 Diagram Alir....................................................................................
V
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
1 Data Praktikum............................................................................. 8
2 Pembahasan.................................................................................. 8
VI

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1.1 Data Penentuan Rt metode grafis....................................................... 8

ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika yang
digunakan untuk menyelidiki karakteristik lapisan bawah permukaan
dengan konsep fisika tentang gelombang khususnya hukum pembiasan.
Secara umum tahapan dalam metode seismik refraksi meliputi akuisisi
(pengambilan data), prosesing (pengolahan data), dan interpretasi. Tahap
awal adalah tahap akuisisi, akan tetapi terlebih dahulu membuat desain
akuisisi. Pembuatan desain akuisisi ini penting guna lebih mengefisienkan
pengambilan data dan hasil yang akan diperoleh.Dalam melakukan akuisisi
seismik terlebih dahulu kita harus mengetahaui gambaran bagaimana daerah
yang akan menjadi objek pengukuran. Sehingga dengan diketahuinya objek
maka akan memudahkan dalam pembuatan desain akuisisi.

Gambaran

daerah penelitian bukan hanya kondisi geologi daerah tersebut, akan tetapi
juga bagimana situasi daerah tersebut serta topografinya. Dengan
dilakukannya desain survey akuisisi, akan membantu kita dalam melakukan
akuisisi serta akan mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang
diharapkan. Dengan dibuatnya desain survey akan mempengaruhi data yang
akan dihasilkan, mengurangi kegagalan delam akuisisi, dan bisa membuat
sikap orang yang terlibat dalam akuisisi dapat melakukan pekerjaan
seefektif dan seefisien mungkin. Mengingat pentingnya pebuatan desain
akuisisi sebelum akuisisi maka dilakukanlah praktikum ini yang berjudul
desain survey seismik refraksi.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mendesain pengukuran seismik refraksi, sebelum melakukan
akuisisi data dilapangan.
2. Dapat menentukan parameter-parameter yang akan digunakan pada
saat akuisisi data dilapangan.
1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada praktikum ini adalah membuat desain


pengukuran seismik refraksi yang disesuaikan dengan data topografi,
geologi, dan situasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Daerah Pengamatan
Adapun daerah pengamatan pada praktikum seismik kali ini adalah di
daerah x.

2.2

Peta Geologi Daerah Penelitian


Peta daerah pengukuran terdiri dari peta situasi, peta topografi, dan peta
geologi daerah pengukuran yang terter seperti gambar dibawah ini.

Gambar 5.1.1 Pata Topografi, Geologi, dan Situasi yang telah


digabungkan

2.3 Geologi Regional


Adapun formasi batuan yang terdapat pada daerah penelitian adalah
sebagai berikut:
a. Formasi Lampung
Formasi Lampung terdiri dari riolitdasit dan vulkanoklastika tufan,
berumur Plistosen, tersebar luas diseluruh lembar tanjung karang,
khususnya di bagian timur dan timurlaut dengan ketebalan mencapai 500

meter. Diendapkan di lingkungan terestrial-fluvial air payau. Menindih tak


selaras batuan-batuan yang lebih tua.
b. Granit Jatibaru
Granit Jatibaru terdiri atas batuan granit merah jambu. Batuan terobosan
dengan umur Eosen-Tersier Kenozoikum. Dengan ketebalan lebih dari 2000
meter. Terbentuk karena proses alterasi dari mineral utama pembentuk
batuan granit yaitu teridiri dari kuarsa, potasium feldspar dari jenis
ortoklas dan mikroklin, plagioklas dari jenis albitoligoklas dan sedikit
andesit, biotit, hornblende. Dan mineral tambahan terdiri dari zirkon,
apatit, rutil sphen dan oksida besi.
c. Komplek Gunung Kasih
Kompleks Gunung Kasih terdiri atas runtuhan sedimen-malih dan
batuan beku-malih terdiri dari sekis, kuarsit, gnes. Sekis terdiri dari dua
jenis sekis kuarsa mika grafit dan sekis amfibol. Ditafsirkan sebagai batuan
gunung api malihan. Kuarsit, putih kecoklatan sampai kemerahan berbutir
sedang-kasar tekstur granoblastik jelas, sedimen malihan tak murni. Untuk
ketebalannya bisa mencapai lebih dari 2500 meter (Prawiradisastra, 2008).

III. TEORI DASAR

Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat dalam bumi.


Bumi sebagai medium gelombang terdiri dari beberapa lapisan batuan yang antar
satu lapisan dengan lapisan lainnya mempunyai sifat fisis yang berbeda. Ketidakkontinuan sifat medium ini menyebabkan gelombang seismik yang merambatkan
sebagian energinya dan akandipantulkan serta sebagian energi lainnya akan
diteruskan ke medium di bawahnya (Telford dkk, 1976).
Pada bidang batas antara dua medium gelombang seismik akan
dipantulkan dan sebagian lagi dibiaskan, memenuhi persamaan snellius sebagai
berikut :
sin i V 1
=
sinr V 2

(1)

Gambar 3.1 Hukum Snellius (Suswandi, 1997)


Dimana i adalah sudut datang, r adalah sudut bias, V1 dan V2 adalah kecepatan
gelombang pada medium 1 dan medium 2.
Dalam survei seismik refraksi dilakukan desain survei konfigurasi
peralatan yang disusun seperti pada Gambar 3.1. Pengambilan data dilakukan
dengan memberikan sumber getar. Pengukuran dilakukan dengan memberikan
impuls vertikal pada permukaan tanah dan merekam sinyal yang terjadi, sensor
diletakkan sepanjang garis lurus dari sumber impuls. Sensor yang digunakan
adalah seismometer darat yaitu geophone. Akuisisi dalam pengambilan data
seismik menggunakan cara end-on (Common Shot). Dari akusisi akan didapatkan
data mentah seismik, berupa trace-trace seismik dari geophone yang merekam
waktu tempuh gelombang seismik (Nurdianto, 2011).

Gambar 3.2 Konfigurasi akuisisi data seismik refraksi (Rosid, 2008).


Terdapat beberapa parameter utama lapangan yang akan mempengaruhi
kualitas data, yang juga perlu dipertimbangkan secara teknis dan ekonomis, yaitu :
1.

Offset Terjauh (Far Offset) jarak antara sumber seismik dengan sensor
penerima/receiver terjauh.

2.

Offset Terdekat (Near Offset); jarak antara sumber seismik dengan sensor
penerima terdekat.

3.

Group Interval; jarak antara satu kelompok sensor penerima/receiver dengan


kelompok penerima berikutnya.

4.

Ukuran Sumber Seismik (Charge Size); sumber seismik umumnya


menggunakan peledak/dinamit atau vibroseis truck (untuk survey darat.

5.

Kedalaman Sumber (Charge Depth); sumber seismik sebaiknya ditempatkan


di bawah lapisan lapuk, sehingga energi sumber seismik dapat ditransfer
secara optimal ke dalam sistem pelapisan medium di bawahnya.

6.

Kelipatan Cakupan (Fold Coverage); merupakan jumlah suatu titik di


bawah permukaan yang terekam oleh perekam di permukaan

7.

Tapis Potong Bawah (Low-Pass Filter); merupakan filter pada instrumen


perekam untuk memotong amplitudo frekuensi gelombang seismik/trace
yang rendah.

9.

Frekuensi Perekam; merupakan karakteristik instrumen perekam dalam


merespon suatu gelombang seismik.

10.

Panjang Perekaman (Record Length); merupakan lamanya waktu perekaman


gelombang seismik yang ditentukan oleh kedalaman sasaran.

11.

Rangkaian Penerima (Receiver Group); merupakan suatu kumpulan


instrumen sensor penerima/receiver yang disusun (Sismanto, 1999).

IV. METEDOLOGI PRAKTIKUM

4.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Peta Topografi daerah survey
2. Peta Geologi Daerah Survey
3. Peta Situasi daerah Survey
4. Alat Tulis
5. Komputer atau Laptop

4.2 Diagram Alir


Mulai

Menentukan daerah survey sesuai data


topografi, geologi, dan situasi pengukuran
Mendesain pengukuran seismik refraksi
sesuai dengan target

Menentukan parameter-parameter akuisisi


yang tepat.
Hasil

V. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

5.1 Data Pengamatan


Adapun data pengamatan pada praktikum kali terdiri dari data topografi,
geologi, dan situasi yang telah digabungkan dan telah dibuat desain
akuisisinya seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 5.1.1 Data Topografi, Geologi, dan Situasi yang telah


digabungkan

5.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas mengenai desain akuisisi pada survey
seismik refraksi. Ketika praktikum diajarkan mengenai prinsip-prinsip dalam
seismik

refraksi.

Dimana

prinsip

yang

digunakan

adalah

dengan

memanfaatkan sifat pembiasan gelombang. Gelombang seismik merambat


pada lapisan bawah permukaan yang memiliki lithologi yang tidak sama.
Prinsip hukum sneil juga dibahas ketika praktikum. Ketika gelombang
merambat pada suatu medium, kemudian dia mengenai batas medium dia
akan mengalami pembiasan, hal ini dikarenakan adanya perbedaan lapisan
pertama dan lapisan dibawahnya. Lapisan dibawahnya memiliki densitas

yang lebih besar karena bereada lebih dalam dari lapisan atasnya sehingg
mengalami tekanan yang lebih berat dari lapisan diatasnya. Pengaruh tekanan
inilah yang menyebabkan lapisan kedua tersebut semakin rapat(padat) yang
menyebabkan densitasnya semakin naik.
Pada praktikum ini kita diajarkan bagaimana membuat desain akuisisi yang
baik dan benar, hal ini bertujuan untuk lebih memudahkan kita dalam
melakukan akuisisi nanti, juga bisa memudahkan kita dalam melakukan
akuisisi, dengan dibuatnya desain survey maka kita bisa lebih meminimalkan
dana tetapi tetap mengoptimalkan data yang akan kita dapat nanti.
Tugas pada praktikum kali ini membuat desain akuisisi seismik berdasarkan
data yang telah diberikan. Data tersebut terdiri dari data topografi, data
geologi, dan data situasi. Data topografi berisi bagaimana kondisi geografis
(ketinggian) daerah tersebut, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.
Pada data topografi tersebut daerah memiliki bentuk topografi dengan daerah
pusat(tengah) objek yang akan diukur memilki ketinggian yang lebih tinggi
dari daerah disekitarnya dan berangsur-angsur mengalami penurunan elevasi
hingga mementuk pola yang terbentuk seperti yang tertera di lampiran.
Pengaruh topografi ini sangat berpengaruh terhadap peletakkan soure ataupun
geophone nanti, jika daerah tersebut memiiki topografi yang relatif datar
pemasanan geophone tidak harus dengan spasi yang terlalu dekat, sedangkan
bila topografi daerah tersebut sangat curam, maka pemasangan geophone
harus lebih dirapatkan. Hal ini dimaksudnkan agar terjadi persamaan
kekuatan sinyal gelombang seismik yang didapatkan. Jika pada daerah yang
curam dipasang geophone dengan spasi yang jarang atau tidak rapat maka
berkas gelombang seismik akan menghilang karena perbedaan elevasi antara
daerah satu dengan daerah lainnya.Kemudian terdapat data situasi, data
situasi berisi gambaran demografi daerah yang akan menjadi objek
pengukuran. Berdasarkan data yang telah diberikan daerah yang akan menjadi
target pengukuran terletak di pemukiman penduduk. Data situasi seperti ini
akan berbeda bila kita bandingkan dengan data situasi dihutan atapun di
lapagan dengan daerah yang relatif datar dan tidak ada rumah penduduk.
Dengan data situasi yang diberikan, kita bisa memilih bagaimana bentuk

desain yang lebih efisien. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan posisi
geophone ataupun source agar tidak mengenai rumah warga ataupun jalan.
Peletakkan geophone diusahakan tidak mengenai jalan ataupun terlalu dekat
dengan jalan karena banyak terdapat kendaraan yang berlalulalang sehingga
akan menyebabkan gangguan ketika dilakukkannya akuisi. Getaran
kendaraan dan sura yang dihasilkan menyebabkan gangguan (adanya sinyal
baru)

yang bisa menyulitkan ketika dilakukan prosesing data hingga

interpretasi. Hal semacam inilah yang disebut sebagai noise. Noise adalah
sinyal yang tidak diharapkan yang

akan menyebabkan kesulitan ketika

interpretasi apabila tidak dihilangkan. Hal yang disebutkan diatas seperti


kendaraan merupakan salah satu contoh dari noise. Selain itu contoh dari
noise antara lain angin, pohon, dan benda-benda bergerak. Kemudian
praktikan juga disediakan data geologi daerah penelitian. Dengan adanya data
geologi tersebut membantu kita dalam

melakukan desain akuisisi. Data

geologi memberikan informasi bagaimana formasi batuan yang ada di daerah


pengukuran, ada tidaknya strutur geologi seperti sesar ataupun lipatan.
Berdasarkan data geologi yang diberikan daerah tersebut merupakan daerah
yang terdiri dari formasi lampung, komplek gunung kasih, tanah aluvial.
Dimana berdasarkan litelatur didaerah tersebut terdapat sesar, sehingga
akuisisi metode seismik sangat cocok untuk melakukan pengukuran di daerah
tersebut. Data geologi ini akan membantu kita dalam mencari target yang
akan kita ukur.
Beedasarkan data yang diberikan telah dibuat desain akuisisi seperti yang
tertera

pada

data

pengamatan.

Pembuatan

desain

tersebut

dengan

memperhatikan bagaimana topografi dan situasi daerah yang objek


pengukuran. Luas daerah yang menjadi objek pengukuran adalah 800 m 2.
Dengan demikian diperkirakan daerah tersebut memiliki ukuran panjang dan
lebarnya ssekitar 28 m. Pemasangan geophone dipasang dengan spasi ratarata adalah 5m, akan tetapi ada sebagian yang lebih atau kurang dari 5m, hal
ini dikarenakan terdapat jalan atau rumah warga sehingga peletakkan
geophone harus digeser. Pada desain akuisisi tersebut dipasang source
sebanyak 8 buah dan jumlah geophone adalah 14. Spasi antar geophone

berpengaruh terhadap data yang dihasilkan. Geophone yang memiliki spasi


lebih rapat dengan geophone lainnya akan memberikan hasil sinyal
gelombang yang lebih baik jika dibandingkan dengan geophone yang dipasng
dengan spasi yang jarang-jarang. Akan tetapi posisi geophone yang terlalu
rapat akan mengakibatkan mahalnya biaya akuisisi. Sehingga pembuatan
desain yang baik dengan mempertimbangkan biaya yang seminimal mungkin
tetapi data yang didapat optimal mungkin.
Pada praktikum dijelaskan berbagai macam desain akuisisi, salah satunya
common mid point. Desain tersebut digambarkandengan posisi geophone
yang berada di samping baik kiri atau kanan dan dibagian tengahnya adalah
sourcenya, desain seperti ini disebut sebagai CPM (Common Mid Point).

BAB VI. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik pada praktikum kali ini adalah :
1.

DAFTAR PUSTAKA

Prawiradisastra,S, 2008, Analisis Morfologi Dan Geologi Bencana Tanah


Longsor Di Desa Ledoksari Kabupaten Karanganyar, Jurnal Sain Dan
Teknologi Indonesia BPPT, Vol.10 No. 2.
Rosid, S., & Setiawan, B. (2008). Pemetaan tingkat kekerasan batuan
menggunakan metode seismik refraksi. Prosiding Seminar Nasional Sains
dan Teknologi-II 2008. Lampung: Universitas Lampung.
Suswandi, Iwan, 1997. Pendugaan Struktur Lapisan Bumi Dengan Metode
Seismik Bias, Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja No.4 TH.XXX Juli
1997.
Telford, M.W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E, Keys,D.A., 1976, Applied Geophysics,
New York, Cambridge University Press.
Nurdiyanto, Boko dkk. 2011. Penentuan Tingkat Kekerasan Batuan
Menggunakan Metode Seismik Refraksi. Jurnal Meteorologi dan geofisika.

LAMPIRAN