Anda di halaman 1dari 6

SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI

By: Agus Ria. H


A. PENGERTIAN
Berdasarkan pendapat dari para ahli mengidentifikasikan bahwa pemalu adalah suatu sifat
bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah
perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara
definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana
orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas
karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri.
Hariansyah (2007), dalam Supriyo (2008: 32) menyatakan bahwa pemalu adalah perilaku
yang merupakan hasil belajar atau respon terhadap suatu kondisi tertentu.
Swallow (2007) dalam Supriyo (2008:32) mendefinisikan sifat pemalu sebagai suatu keadaan
dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain
terhadap dirinya dan merasa takut atau cemas karena penialain tersebut, sehingga cenderung
untuk menarik diri.
Supriyo (2008: 32) menyebutkan bahwa pemalu adalah rasa tidak nyaman, cemas atau tacit di
dalam setiap kegiatan sosial khususnya karena mereka tidak memahami lingkungannya.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, terminologi malu adalah merasa sangat tidak senang,
rendah, hina dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat.

B. CIRI-CIRI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI


Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya
dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:
1.

Menghindari kontak mata;

2.

Tidak mau melakukan apa-apa;

3. Terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk


melepaskan kecemasannya);
4. Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti ya, tidak, tidak tahu,
halo;
5.

Tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;

6.

Tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;

7.
Mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir
terasa kering) di saat-saat tertentu;
8.
Menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya
agat tidak perlu pergi ke sekolah);
9.

Mengalami psikosomatis;

10. Merasa tidak ada yang menyukainya.

C. SEBAB-SEBAB atau LATAR BELAKANG DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG


PERCAYA DIRI
Supriyo, 2008 juga menyebutkan bahwa factor penyebab perilaku malu yang paling utama
dikarenakan kurangnya kecerdasan sosial yang dimiliki pemalu. Umumnya meraka tidak tahu
seni memperkenalkan dirinya dan memulai suatu percakapan, kurang memiliki keterampilan
mengetengahkan bahasa tubuh dan tidak tegas. Dengan kata lain sang pemalu umumnya tidak
pernah mengetahui bagaimana seharusnya berinteraksi ddengan orang lain secara efektif.
Selain kecerdasan sosia, penyebab rasa malu antara lain adalah unsure rendahnya harga diri,
pengalaman buruk masa lalu, dan pengalaman tak menyenangkan, kondisi fisik yang kurang
sempurna, serta lingkungan keluarga yang kurang nyaman dalam berinteraksi.

D. BAHAYA YANG TIMBUL DARI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA


DIRI
Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan
sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat
pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang
dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang.
Rasa malu sangat berpengaruh cukup besar dalam pergaulan kita dengan orang lain dan
perilaku kita didalam masyarakat. Dalam Centi (1993) disebutkan bahwa orang-orang yang
tidak aman dengan diri sendiri menjadi orang-orang sebagai berikut:
1.
Mereka tidak memenuhi, tepatnya, mencapai kepenuhan dalam pergaulan, sebab rasa
takut mereka menahan dan menghambat langkah dalam pergaulan mereka dengan orang lain.
2.
Mereka mendekatyi orang-orang dengan terlalu hati-hati, mereka berpendapat bahwa
orang lain tidak akan berminat atau menghargai mereka, mendekati orang lain dengan pelan,
ragu-ragu, cemas sambil menduga bagaimana orang lain akan menerima mereka, dan
bertindak sesuai dengan penangkapannya.
3.

Mereka terlalu sadar diri dan cemas tentang bagaimana orang lain melihat mereka.

4.
Mereka berbuat dengan sengaja agar diterima dan disuakai. Mereka mempersiapkan diri
untuk ditolak orang, karena terlalu sopan dan kaku perilaku orang pemalu, jadinya terpecah
antara usaha untuk disukai dan menjaga agar jangan tidak disukai orang.
5.

Mereka terlalu memandang unsur-unsur negative yang dikira ada pada diri mereka.

Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi
terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak
yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya
dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan
sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun
orangtuanya.
Dalam supriyo, 2008 disebutkan beberapa dampak yang muncul akibat perilaku malu, yaitu
terhambatnya perklembangan individu yang mempunyai perilaku malu, semakin tidak
terasahnya kemampuan sosial individu, tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan,
kurang informasi dan pergaulan, kurang pengalaman, menimbulkan kesulitan belajar apabila
terjadi pada anak usia sekolah.

E. CARA MENGATASI SIKAP PEMALU DAN KURANG PERCAYA DIRI


Ada beberapa hal yang dap[at dilakukan para orang tua untuk mengatasi rasa malunya, yaitu
diantaranya dengan cara sebagai berikut:
1. Jangan mengolok-olok atau memperbincangkan sifat pemalu anak. Contohnya dengan
mengatakan kamu sih pemalu atau iya lho Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali,
saya sampai repot dibuatnya, dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak bisa merasa
tak diterima sebagaimana adanya.
2. Pahami kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah ia untuk berani melakukan hal-hal
tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan,
ketika berada di toko, anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia
mencari mobil yang diinginkan.
3. Secara rutin ajak anak berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain
di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain
secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau temanteman sekolah untuk bermain di rumah.
4. Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 di atas, anak
belum tentu berani bicara pada pelayan toko sekalipun didampingi. Maka, ketika
berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di
toko dan anak pura-pura bicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada
contoh-contoh yang lain.
5. Orangtua hrus jadi contoh bagi anak. Misalnya, jangan hanya mendorong anak untuk
percaya diri, tetapi juga jadilah model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya
mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.

6. Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak
langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan
toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah
temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan
melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Centi, Paul J. 1993. Mengapa Rendah Diri?. Yogyakarta: Kanisius.


Supriyo. 2008. Studi Kasus bimbingan Konseling. Semarang: CV. Nieuw Setapak.
http://74.125.153.132/search?
q=cache:HlBaUo_jDHkJ:www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/10/13/kel1.html+ciriciri+PERILAKU+PEMALU&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://74.125.153.132/search?
q=cache:Fed47N4GFFEJ:www.pasamankab.go.id/index.php/artikel/47-psikolog/189-anakpemalu.html+DAMPAK+DARI+PERILAKU+PEMALU&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&cli
ent=firefox-a
http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg04585.html

STUDI KASUS PERMASALAHAN ANAK PEMALU DI TK AISYIYAH 25


MALANG
NURUL FARIDA
Abstrak

ABSTRAK

Farida, Nurul. 2010. Studi Kasus Permasalahan Anak Pemalu di TK Aisyiyah 25 Malang.
Tugas Akhir, Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Universitas Negeri Malang. Pembimbing
: Dr. Musa Sukardi, M.Pd.

Kata kunci : Studi kasus, Permasalahan Anak Pemalu.

Pendidikan informal adalah pendidikan yang pertama dan utama karena melalui keluarga
anak akan belajar untuk mengenal lingkungan yang ada disekitarnya, oleh karena itu
pendidikan informal (keluarga/orang tua) memegang peranan penting serta bertanggung
jawab atas pendidikan anak-anaknya. Permasalahan yang dihadapi oleh anak tidak hanya
berasal dari luar akan tetapi juga dapat berasal dari individu itu sendiri. Oleh karena itu, para
pendidik khusunya guru Taman Kanak-kanak dan Orangtua dalam mengasuh dan mendidik
anaknya harus memperhatikan dan memahami dunia anak, terutama karakteristik anak usia
dini di Taman Kanak-kanak.. para pendidik dan orangtua yang mempunyai ambisi dalam
mendidik anak tanpa melihat kemampuan si anak dapat mempengaruhi sikap anak dalam
kehidupannya sehari-hari.. Diantara sikap tersebut adalah sikap pemalu. Hurlock (dalam
Rosmala Dewi, 2005: 121) mengatakan rasa malu sebagai reaksi emosional yang tidak
menyenangkan, yang timbul pada seesorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya.
Tujuan dari penulisan studi kasus ini adalah (1)Mendeskripsikan ciri-ciri anak pemalu.
(2)Mendeskripsikan faktor penyebab anak mengalami pemalu. (3)Mendeskripsikan alternatif

bantuan untuk menangani permaslahan anak pemalu. (4)Mendeskripsikan dampak


penanganan anak pemalu.
Sementara itu metode yang penulis gunakan adalah (1)Observasi, (2)Wawancara, dan
(3)Dokumentasi, Meliputi buku induk dan foto kegiatan anak.
Hasil yang telah penulis peroleh setelah memberikan alternatif pemecahan masalah adalah
(1) Anak sudah berani dan terlihat percaya diri. (2) Anak sudah tidak bermain-main jari atau
kukunya pada saat kegiatan belajar berlangsung. (3) Anak sudah dapat berkomunikasi dengan
temannya. (4) Anak yang semula tidak berani maju ke depan kelas, sekarang sudah berani
maju ke depan kelas. (5) Anak yang semula suka menyendiri dan tidak mau bermain bersama
teman-temannya pada saat istirahat, sekarang bisa bersosialisasi, anak juga mulai bisa banyak
mendapatkan teman dan dapat bermain bersama.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut: (1)ciri-ciri anak
pemalu, yaitu (a)Anak cenderung menghindari hubungan sosial dengan orang lain dan
lingkungan sekitar. (b)Bersikap segan, ragu-ragu dan tidak mudah melibatkan diri dengan
orang lain dan linkungnnya. (c)Anak yang pemalu tidak berani mengambil resiko, takut dan
ragu-ragu. (2)Faktor penyebab anak pemalu, yaitu (a)anak sering dimarahi oleh orangtuanya
karena tidak mau menuruti permintaan ibunya, sehingga anak merasa tertekan. (b)Anak takut
pad ibunya, hal ini terjadi karena anak terlalu sering dimarahi sehingga anak lebih dekat
dengan ayahnya. (3) penaganan anak pemalu, yaitu (a)Melakukan pendekatan kepada anak.
(b)Memberikan pujian dan motivasi. (c)Memberi dorongan kepada anak agar anak mau
bergabung dengan temannya dalam setiap permainan.