Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU KEBUMIAN


PENENTUAN LOKASI EPISENTRUMGEMPA

Disusun oleh :
Novita Dwi Utami

14312244016

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

A. JUDUL
PENENTUAN LOKASI EPISENTRUM GEMPA

B. TUJUAN
Menentukan letak episentrum suatu gempa bumi
C. HIPOTESIS
D. DASAR TEORI
Gempa bumi
Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam
bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempenglempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang
gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Gempa bumi sering terjadi di daerah yang berada dekat dengan gunung berapi dan
juga di daerah yang dikelilingi lautan luas. Pusat atau sumber gempa bumi yang letaknya di
dalam bumi disebut hiposentrum. Sedangkan daerah di permukaan bumi ataupun di dasar laut
yang merupakan tempat pusat getaran bumi merambat disebut episentrum. Gempa bumi dapat
diklasifikasikan menurut kedalaman hiposentrum, kekuatan gelombang atau getaran
gempanya dan faktor penyebabnya.
Parameter Gempa bumi
1. Waktu terjadinya gempa bumi (Origin Time OT).
2. Lokasi pusat gempa bumi (Episenter).
3. Kedalaman pusat gempa bumi (Depth).
4. Kekuatan gempa bumi (Magnitudo).
Karakteristik Gempa bumi
1. Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
2. Lokasi kejadian tertentu.
3. Akibatnya dapat menimbulkan bencana.
4. Berpotensi terulang lagi.
5. Belum dapat diprediksi.
6. Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi.
Lempeng Tektonik
Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng
tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas
astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk
bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng
tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang
menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng

tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua
(Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lapisan Bumi
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan
bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan
yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga
senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses
pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang
merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama
lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng
lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati
(collision) dan saling geser (transform).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi,
saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak
dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15 cm pertahun. Kadang-kadang,
gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang
berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi
kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai
gempa bumi. (Anonim, 2014)
Klasifikasi Gempa Bumi
a. Klasifikasi Gempa Bumi Menurut Kedalaman Hiposentrum
1. Gempa Bumi Dalam
Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari
300 km di bawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam pada umumnya tidak
terlalu berbahaya
2. Gempa Bumi Menengah
Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60
km sampai 300 km di bawah permukaan bumi yang pada pada umumnya
menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa.
3. Gempa Bumi Dangkal
Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang
dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan
kerusakan yang besar.

b. Klasifikasi Gempa Bumi Menurut Gelombang/Getaran Gempa


1. Gempa Akibat Gelombang Primer

Gelombang primer (gelombang longitudinal) adalah gelombang/getaran yang


merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik, getaran ini
berasal dari hiposentrum.
2. Gempa Akibat Gelombang Sekunder
Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran
yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah
berkurang, yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat
melalui lapisan cair.
3. Gempa Akibat Gelombang Panjang
Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui permukaan bumi
dengan kecepatan 3-4 km/detik.Gelombang ini berasal dari episentrum dan
gelombang inilah yang banyak menimbulkan kerusakan di permukaan bumi.
c. Klasifikasi Gempa Bumi Menurut Faktor Penyebabnya
1. Gempa Bumi Tektonik
Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang di sebabkan oleh dislokasi atau
perpindahan akibat pergesaran lapisan bumi yang tiba-tiba terjadi pada struktur
bumi, yakni adanya tarikan atau tekanan sehingga menimbulkan getaran hingga
dipermukaan bumi. Lempeng tektonik bumi memang selalu bergerak (30 mm 70
mm per tahun) dan apabila lapisan batuan atau tanah yang terdapat pada kerak
bumi sudah tidak dapat menahan pergerakan tersebut, maka akan terjadi slip dan
patahan sehingga energi yang besar akibat tumbukan dari lempeng tersebut
terlepas secara tiba-tiba. Akibat dari hal tersebut akan terjadi getaran hingga
kepermukaan bumi, dan apabila getaran tersebut terjadi dalam sekala besar, maka
dampaknya akan sangat merusak terutama pada bangunan-bangunan dan juga
dapat menimbulkan korban jiwa. Gempa type ini juga dapat berdampak pada
terjadinya Tsunami. Apabila gempa ini terjadi di lautan, pergerakan tanah yang
terjadi secara tiba-tiba di dasar laut dapat menyebabkan air laut bergejolak dan
menimbulkan gelombang besar di pantai yang dapat memiliki ketinggian hingga
puluhan meter.
2. Gempa Bumi Vulkanik
Gempa ini terjadi akibat dari aktivitas gunung berapi, kekuatan gempa vulkanik
tidak sebesar kekuatan atau skala gempa tektonik. Apabila sebuah gunung berapi
mengalami peningkatan aktivitas hingga terjadi letusan, pergerakan magma pada
perut bumi di sekitar gunung tersebut akan mengalami peningkatan. Akibat dari
gerakan tersebut adalah timbulnya energi yang mendesak lapisan bumi. Energi
yang mendesak lapisan bumi ada yang mampu mengangkat magma sampai ke

permukaan di sertai getaran dan hal inilah yang menyebabkan getaran-getaran


pada tanah yang disebut gempa vulkanik. Seperti halnya gempa tektonik, gempa
ini dapat terjadi hanya dibeberapa bagian bumi yang disekitarnya terdapat gunung
berapi aktif (daerah ring of fire).
3. Gempa Bumi Runtuhan
Gempa bumi runtuhan (terban) adalah gempa bumi yang disebabkan runtuhan dari
lubang-lubang interior bumi, misalnya atap gua atau terowongan tambang di
bawah tanah. Jika batuan pada atap rongga atau pada dinding rongga mengalami
pelapukan, maka rongga dapat runtuh karna tidak mampu lagi menahan beban di
atas rongga. Runtuhnya gua dan terowongan yang besar bisa mengakibatkan
getaran yang kuat.
4. Gempa Jatuhan.
Batu meteor besar yang jatuh di daratan di permukaan bumi juga dapat
menimbulkan gempa bumi. Hal ini sangat jarang terjadi dan apabila memang
terjadi, efek kerusakan yang ditimbulkan dapat sangat besar tergantung dari besar
batu meteor yang jatuh tersebut.
5. Gempa Longsoran
Gempa bumi ini terjadi apabila terjadi longsoran tanah atau tebing di daerah
pegunungan atau perbukitan dan sangat jarang terjadi. Walaupun skala gempa ini
kecil, namun gempa ini dapat terjadi di daerah manapun yang wilayahnya berbukit
dan memiliki struktur tanah yang labil. Tsunami juga dapat terjadi akibat dari
gempa ini, yaitu apabila longsoran dari gunung, bukit ataupun tebing terjadi dilaut.
Hal ini pernah terjadi di Indonesia saat gunung Krakatau meletus pada tahun 1883.
Letusan gunung tersebut sangat besar sehingga mengakibatkan longsoran yang
besar dari gunung tersebut. Karena gunung tersebut berada ditengah laut, maka
material longsoran tersebut jatuh ke laut dan mengakibatkan air laut bergejolak
dan menimbulkan tsunami setinggi 30-36 meter dipesisir Jawa bagian barat dan
Sumatra bagian selatan dan tercatat lebih dari 30.000 nyawa manusia melayang
akibat bencana tersebut.
Istilah-Istilah yang Digunakan dalam Gempa Bumi
Di dalam peristiwa gempa bumi, ada beberapa istilah yang sering digunakan. Berikut ini
adalah istilah-istilah yang digunakan dalam gempa bumi (Anonim, 2014):

Seismologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi.

Seismograf adalah alat pencatat getaran gempa bumi yang terjadi di permukaan bumi.
Seismograf terdiri dari beberapa macam, yakni seismograf vertikal dan seismograf
horizontal. Prinsip yang digunakan seismograf adalah pada saat terjadi gempa bumi,
harus diusahakan penggantungan sedemikian rupa sehingga masa yang digantungkan
tidak ikut bergerak ketika terjadi gempa.

Makroseista adalah wilayah yang mengalami kerusakan terbesar akibat gempa bumi.

Homoseista adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mengalami


getaran gempa pada waktu yang sama.

Isoseista adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai


intensitas yang sama.

Pleistoseista adalah garis yang melingkari daerah yang mengalami kerusakan terbesar
akibat gempa.

Hyposentrum adalah pusat gempa bumi yang terletak di permukaan bumi yang terletak
di dalam bumi.

Episentrum adalah pusat gempa bumi yang letaknya di permukaan bumi. Berdasarkan
episentrumnya, gempa bumi dibedakan menjadi gempa laut dan gempa darat.

Skala Kekuatan Gempa Bumi


1. Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut C.F. Richter.
C . F . Richter adalah seorang ahli sismologi berkebangsaan Amerika Serikat, yang pada tahun
1935, menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala magnitudo (ukuran besar/kecilnya
kekuatan gempa). Richter menggunakan klasifikasi angka 0 sampai 8. semakin besar angka
semakin besar magnitudonya. Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis
10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa
oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat
gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram)
dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo
maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3
mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles
Richter.
2. Skala kekuatan moment diperkenalkan pada 1979 oleh Tom Hanks dan Hiroo Kanamori
sebagai pengganti skala Richter dan digunakan oleh seismologis untuk membandingkan
energi yang dilepas oleh sebuah gempa bumi. Kekuatan moment Mw adalah sebuah angka

tanpa dimensi dimana M0 adalah Moment seismik (menggunakan satu newton metre [Nm]
sebagai moment).
Sebuah peningkatan satu tahap dalam skala logaritmik ini berarti sebuah peningkatan 101,5 =
31,6 kali dari jumlah energi yang dilepas, dan sebuah peningkatan 2 tahap berarti sebuah
peningkatan 103 = 1000 kali kekuatan awal.
3. Skala Kekuatan Gempa Bumi Menurut Mercalli
Mercalli pada tahun 1931 menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala intensitas gempa.
intensitas gempa di suatu tempat adalah kekuatan gempa yang diestimasikan berdasarkan efek
geologis dan efeknya terhadap bangunan dan manusia. Skala Mercalli adalah satuan untuk
mengukur kekuatan gempa bumi. Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan
informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat dan
membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Oleh itu skala Mercalli
adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa
yang lain. Oleh karena itu, saat ini penggunaan skala Richter lebih luas digunakan untuk
untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun
1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama
apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di
tempat kejadian.
4. Skala Kekuatan Gempa Menurut Omori
Skala gempa yang ditilis oleh omoro mirip dengan skala gempa yang ditilis oleh Mercalli.
Alat untuk mengukur gempa bumi adalah seismograf. Seismograf ada 2 jenis: seismogaf
vertikal dan seismograf horizontal untuk mengukur gempa bumi di butuhkan satu seismograf
vertikal dan dua seismograf horizontal.
EPISENTRUM
Sebaran Gempa Bumi
Gempa bumi dapat terjadi dimana saja, tetapi hampir 80% daerah di bumi ini yang
sering terkena gempa ialah di DAERAH CIRCUM-PACIFIC (circum-pacific belt). Daerah ini
meliputi Cili (sepanjang batas sebelah barat Amerika Utara dan Selatan), ke arah utara di
Aleutians, Alaska, Jepang, Pilipina, Indonesia, New Zealand, dan beberapa pulau tertentu di
Kepulauan Pasifik.
Daerah lain yang juga kerap mengalami gempa bumi (sekitar 15% bumi ini) ialah
Mediteranian dan Transasiatic, meliputi daerah Karibia, Himalaya, Alpen, Spanyol, Italia,
Yunani, dan India Utara. Sisa yang 5% tersebar di seluruh belahan bumi ini.

Daerah yang paling sering mengalami gempa ialah Pantai Pasifik (Amerika Serikat),
terutama di Kalifornia, dimana di daerah tersebut terdapat sebuah sesar aktif yang sangat
terkenal ialah Sesar San Andreas, membentang sepanjang ratusan km melewati daerah
Kalifornia, Montana, Utah, dan Nevada. (Yakub Malik, 2014)
Jenis Gelombang Gempa Bumi

Gelombang P (Pressure wave), disebut juga gelombang tekanan, dapat merambat di media
padat dan cair, rambatan gelombangnya paling cepat. Disebut pula sebagai gelombang
primer. Gelombang P menyebabkan banyak kerusakan karena secara berkala mengubah
area dan volume tanah (Kusky, Timothy M, 2008: 77).

Gelombang S (Shear wave), gelombang geser, membuat dengan cara menembus batuan.
Gelombang S, juga dikenal sebagai gelombang sekunder, yaitu tipe lain dari tubuh
gelombang yang diciptakan oleh gempa bumi. Gelombang S juga dipengaruhi oleh bahan
dilalui saat perjalanan, meskipun setiap saat mereka bergerak dengan kecepatan kurang
dari gelombang P, sebuah fakta yang membantu ahli geologi untuk menemukan
episentrum gempa. Gelombang S tidak mampu menembus inti luar bumi, gelombang ini
dapat melakukan perjalanan melalui benda padat, tetapi tidak melalui cairan (Sills, Alan
D, 2003: 153).

Gambar 1. Perambatan gelombang longitudinal, gelombang transversal dan gelombang


permukaan.
Sumber/ Pusat Gempa Bumi
Sumber gempa bumi dapat dijumpai di darat dan di bawah dasar laut (Yakub Malik,
2014).

Hiposenter, tempat terjadinya gempa bumi yang berada di bawah permukaan bumi.

Episenter, adalah proyeksi hiposenter di permukaan bumi dinyatakan dalam koordinat


geografis, biasanya ada keterangan jarak dan arah.

Kedalaman, kedalaman gempa bumi adalah jarak tegak lurus episenter ke sumber gempa

bumi. Gempa dangkal (kedalaman < 33 km), gempa menengah (33-90 km), gempa dalam
(> 90 km).

Gambar 2. Hiposenter dan Episenter gempa bumi.


Intensitas dan Kekuatan Gempa Bumi
Tingkat kerusakan yang terasa pada lokasi terjadi gempa bumi disebut Intensitas Gempa
Bumi. Ukuran/ parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan ialah MMI
(Modified Mercalli Intensity), diperkenalkan pada tahun 1902 oleh Giuseppe Mercalli, atau
Wood-Neumann Scale (digunakan di Amerika Serikat). Kisaran angka yang digunakan mulai
dari I-XII, angka I berarti ringan, dapat dideteksi oleh alat, XII menunjukkan kerusakan yang
sangat parah. Berikut adalah tabelnya (Yakub Malik, 2014):
I
II

III

Tidak dapat dirasakan orang, kecuali dalam keadaan luar biasa.


Terasa oleh orang yang sedang beristirahat atau yang berada di lantai atas gedung
bertingkat.
Terasa di dalam gedung. Alat-alat gantung bergoyang. Getaran tanah seperti efek
truk keci lewat. Lama getarannnya dapat ditaksir. Tidak disadari bahwa itu adalah
gempa.
Alat gantung bergoyang. Getaran seperti efek truk besar lewat, atau seperti

IV

dinding tiba-tiba ditabrak sebuah massa besar. Mobil-mobil bergoyang. Jendela,


piring, pintu gemerincing.
Terasa di luar bangunan. Arah goncangan dapat ditaksir. Orang tidur terbangun.

VI

Alat-alat kecil yang labil berpindah tempat atau roboh. Pintu bergoyang,
gantungan potret dan jendela yang tertutup gemerincing. Bandul jam berhenti
dan berjalan lagi dengan berubah kecepatannya.
Terasa oleh semua orang. Banyak yang takut dan mencari jalan keluar. Orang
tidak dapat berjalan dengan tetap. Jendela, piring, barang dari kaca pecah.
Perkakas berpindah tempat atau jatuh. Alat-alat dan buku terlempar dari raknya,
potret terlepas dari gantungannya. Plester bermutu rendah dan tembok retak.

Lonceng gerej berbunyi. Terlihat goncangan pohon dan dedaunan.


Orang sulit berdiri, goncangan terasa oleh supir mobil. Perkakas rumah tangga
rusak, tembok rusak, cerobong asap mutu rendah pecah pada bagian atasnya,
VII

plester berjatuhan, genting dan hiasan arsitek lepas. Tembok sedikit retak, air
kolam menjadi keruh, tanah longsor kecil, pasir dan kerikil runtuh pada bagian
tepi. Bel besar berbunyi, parit dan irigasi rusak.
Sulit mengemudikan mobil. Tembok rusak dan sebagian runtuh. Sedikit

VIII

kerusakan terhadap tembok, sedangkan tidak rusak. Cerobong, monumen dan


menara terpuntir atau jatuh. Fondasi bermutu jelek terpisah. Cabang sobek dari
pohonnya, bila tidak ada hubungan rumah bergeser dari fondasinya.
Kegugupan umum, tembok hancur, tembok rusak berat dan runtuh sama sekali,
tembok rusak cukup berat. Umumnya fondasi bangunan rusak. Rangka struktur

IX

bangunan terpuntir. Permukaan tanah retak cukup besar. Bangunan rangka


terpisah dari fondasinya bila tidak memiliki hubungan. Di dekat sungai terjadi
letusan pasir dan lumpur.
Bangunan tembok dan rangka hancur beserta fondasinya. Beberapa bangunan

XI
XII

kayu dan jembatan bermutu baik runtuh. Tanggul besar dan DAM rusak berat.
Tanah longsor besar, pada daerah yang rata pasir dan lumpur bergeser. Rel kereta
api sedikit membengkok.
Rel kereta api bengkok, pipa saluran rusak berat tidak dapat digunakan.
Kerusakan hampir menyeluruh. Batu besar bergeser. Penglihatan kabur.

Magnituda adalah parameter gempa yang diukur berdasarkan yang terjadi di daerah tertentu
akibat goncangan pada sumbernya. Satuan yang digunakan ialah Skala Richter (SR),
diperkenalkan oleh Charles F. Richter pada tahun 1034.
Gempa bumi dengan kekuatan 8 skala richter setara dengan kekuatan bahan peledak TNT
seberat 1 gigaton (1 milyar ton).
Mekanisme Terjadinya Gempa Bumi
Teori yang dapat menjelaskan tentang energi elakstik yang dapat diterima adalah
pergeseran sesar dan teori kekenyalan elastis (elastic rebound theory) dari H.F Rheid (1906).
Teori ini menjelaskan jika permukaan bidang sesar saling bergesekan, batuan akan mengalami
deformasi (perubahan wujud) jika perubahan tersebut melampaui batas elastisitas/
regangannya. Maka batuan akan patah (repture) dan akan kembali ke bentuk asalnya
(rebound) (Yakub Malik, 2014).

Metode-Metode yang Digunakan dalam Menentukan Episenter Gempa


1. Metode Lingkaran dengan Tiga Stasiun
Dianggap ada tiga stasiun pencatat, masing-masing S1, S2, dan S3. Dengan menggunakan dua
data stasiun pencatat, S2 dan S3 sebagai pusatnya, dibuat lingkaran-lingkaran-lingkaran
dengan jari-jari :
R2 = v (t2 t1)

dengan :

R3 = v (t3 t1)

r = jari-jari lingkaran
v = kecepatan gelombang

t = waktu tiba gelombang


Episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran yang melalui S1 dan menyinggung kedua
lingkaran yang berpusat di S2 dan S3 tersebut.

Untuk menyelesaikan perhitungan dimana pusat gempa terletak, seismolog membutuhkan


informasi lebih lanjut dari lokasi lain. Jika ada informasi dari suatu lokasi lain, maka dua
lingkaran menunjukkan jarak ke pusat gempa dari dua titik yang berbeda dapat ditarik, dan
dua lingkaran akan berpotongan di dua tempat sehingga memberikan dua lokasi yang
mungkin untuk lokasi pusat gempa. Oleh karena itu tiga titik pengamatan diperlukan untuk
secara khusus menentukan lokasi pusat gempa. Tiga lingkaran hanya harus berpotongan di
satu lokasi untuk menunjukkan lokasi pusat gempa. Perhitungan akhir dibuat, kekuatan dan
ketinggian gelombang seismik akan berada pada jarak 60 mil (100 km) dari pusat gempa.
Pengukuran ini lebih kompleks, melibatkan banyak variabel seperti jenis bahan gelombang
yang dilewati, tapi diperlukan untuk menetapkan besarnya Richter gempa. Ini sering
memakan waktu lebih lama untuk membuat perhitungan kedua besarnya Richter dan inilah
alas an mengapa kekuatan perkiraan gempa bumi sering diperdebatkan atau dilaporkan
berbeda oleh kelompok yang berbeda segera setelah kejadian gempa.
2. Metode Hiperbola

Bila dianggap kecepatan gelombang seismik v konstan dengan tiga stasiun S1, S2 dan
S3 diukur waktu tiba gelombang seismik pada ketiga stasiun itu adalah jam t 1, t2, dan t3 dimana
t3 > t2 > t1, maka dengan menggunakan pasangan stasiun S1 dan S2, episenternya harus
terletak pada sebuah kurva dengan harga t2 t1 konstan. Kurva semacam ini berupa hiperbola
dengan S1 dan S2 sebagai titik fokusnya. Karena telah diketahui t2 > t1 maka kurva
hiperbolanya cekung kearah titik titik S1. Dengan cara yang sama dilakukan lagi untuk
pasangan stasiun S2, S3 dan S3, S1. Ketiga hiperbola ini berpotongan pada suatu titik dan titik
potong ini adalah episenternya.
3. Metode Titik Berat
Dalam metode ini selain didapat koordinat episenter, kedalaman fokusnya juga dapat
ditentukan. Dengan menggunakan tiga stasiun pencatat S1, S2, dan S3 dapat dibuat masingmasing lingkaran dengan pusat stasiun dan jari jari r1, r2 dan r3. Jari-jari lingkaran adalah jarak
hiposenter d = (s-p) k, dimana k adalah konstanta Omori yang besarnya tergantung pada
kondisi geologi setempat dan besarnya sekitar 7,8.
Sedangkan (s-p) adalah beda waktu tiba gelombang S dan P. Koordinat episenter E
merupakan perpotongan garis berat ketiga lingkaran tersebut. Garis berat lingkaran 1 dan 2
adalah garis yang menghubungkan perpotongan lingkaran 1 dan lingkaran 2 (garis AB). Garis
berat lingkaran 1 dan 3 adalah garis yang menghubungkan perpotongan lingkaran 1 dan
lingkaran 3 (garis CD). Sedang Garis berat lingkaran 2 dan 3 adalah garis yang
menghubungkan perpotongan lingkaran 2 dan lingkaran 3 (garis EF).
Gambar . Penentuan episenter metode titik berat.
Kedalaman hiposenter (h) dapat diperoleh dengan
rumus Pythagoras,
h1 = (r12 (S1 Ep)2)1/2
h2 = (r22 (S2 Ep)2)1/2 , dan h3 = (r32 (S3 Ep)2)1/2
dimana h merupakan rata-rata dari h1, h2 , dan h3 .
Dengan metode ini dapat pula ditentukan waktu kejadian gempa (origin time). Untuk
menentukan origin time dengan pendekatan (s-p) digunakan grafik Wadati seperti terlihat
pada gambar berikut.

Gambar Grafik Wadati tp adalah waktu tiba


gelombang P dan to adalah origin time dan besarnya gradien mendekati angka 1,73.
4. Metode Gerak Partikel
Metode Gerak Partikel (particle motion) dipakai untuk menentukan hiposenter (episenter dan
kedalamannya) dengan menggunakan satu stasiun yang memiliki 3 komponen. Dalam
penentuan ini arah awal impuls ketiga komponen (kompresi atau dilatasi) harus jelas. Variabel
yang dipakai adalah setengah amplitude awal impuls gelombang P ketiga komponen dan beda
waktu gelombang S dan P atau (s-p). Prosedur penentuannya adalah sebagai berikut:
1. Tentukan dahulu arah impuls awal ketiga komponen (kompresi atau dilatasi).
2. Perhatikan rekaman komponen vertikal: jika komponen vertikal kompresi, maka pada
komponen horizontalnya tandanya harus dibalik (C = minus, D = plus), sebaliknya jika
komponen vertikal dilatasi maka komponen horizontalnya tandanya tetap ( C = plus, D =
negatif).
3. Dari bacaan amplitude komponen horizontal dibuat vektor resultannya, misalnya AH.
4. Dari bacaan amplitude komponen vertikal (AV) dan AH dibuat vektor resultannya,
misalnya AR.

Gambar Metode gerak partikel


5. Metode Geiger
Metode Geiger menggunakan data waktu tiba gelombang P dan atau gelombang S. Anggapan
yang digunakan adalah bahwa bumi terdiri dari lapisan datar yang homogen isotropik,
sehingga waktu tiba gelombang gempa yang karena pemantulan dan pembiasan untuk setiap
lapisan dapat dihitung. Cara yang digunakan dengan memberikan harga awal hiposenter,
kemudian menghitung waktu rambat gelombang untuk setiap stasiun yang digunakan. Dari
perhitungan ini didapatkan residu, yaitu perbedaan antara waktu rambat gelombang yang
diamati dengan waktu rambat gelombang yang dihitung untuk setiap stasiun.

Meskipun demikian, metode Geiger ini masih mempunyai kesalahan perhitungan, terutama
apabila data yang digunakan berasal dari stasiun dengan jarak yang relatif jauh. Variasi
kecepatan gelombang seismik pada jarak tersebut ternyata tidak dapat dihitung dengan tepat.
Variasi kecepatan gelombang sebesar lebih kurang 0,2 km/dt. ternyata memberikan kesalahan
penentuan posisi hiposenter sampai beberapa puluh kilometer Oleh karena itu, metode ini
hanya dapat digunakan dengan tepat untuk menentukan posisi hiposenter dan waktu asal dari
suatu gempa yang bersifat lokal.

E. METODE PRAKTIKUM
1. Tempat dan Waktu
Tempat
: Laboraturium IPA 2 FMIPA UNY
Waktu
: Kamis, 8 Oktober 2015 pukul 07.00 - 09.20 WIB
2. Alat dan bahan
1.
2.
3.
4.

Jangka
Penggaris
Kertas HVS putih
Alat tulis

3. Langkah Kerja

Tabel Jarak ke episentrum berdasarkan perbedaan waktudatang gelombang P dan S


Distance to epicenter
(in km)
200
300
400
500
600

Difference in arrival time of


P- and S-wave (in sec)
40
60
80
100
120

4. Tabel Hasil Pengamatan


Perbedaan
No

Stasiun

Waktu
antar

Jarak
episentrum

1.

A
B
C

(km)
stasiun (s)
60
300
100
500
80
400

A
B
C

80
80
100

400
400
500

Jarak titik
episentrum
ke stasiun
(km)
270
470
370

290
300
430

Gambar

A
B
C

120
80
100

600
400
500

690
300
420

A
B
C

100
120
80

500
600
400

380
500
240

A
B
C

120
40
60

600
200
300

F. PEMBAHASAN
Praktikum Ilmu Kebumian yang berjudul Penentuan Lokasi Episentrum Gempa
yang dilaksanakan di Laboraturium IPA-2 FMIPA UNY pada Kamis, 8 Oktober 2015
bertujuan untuk menentukan letak episentrum suatu gempa bumi.
Dalam praktikum ini alat dan bahan yang digunakan adalah kertas HVS untuk
menggambar, jangka untuk membuat lingkaran, dan penggaris dan alat tulis. Langkah pertama
dalam praktikm ini adalah membagi kertas HVS dengan cara melipatnya menjadi 4 bagian
sehingga diperoleh titik pusatnya. Setelah diperoleh titik pusatnya langkah selanjutnya adalah
menentukan titik stasiun dengan menggunakan tabel jarak episentrum berdasarkan perbedaan
waktu datang gelombang P dan S. Selanjutnya menggambarkan lingkaran dengan jarak ke
episentrum sebagai radiusnya. Lalu menentukan titik episentrum gempa pada masing-masing
stasiun.

Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam
bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Gempa
bumi terjadi di suatu tempat tertentu namun efek atau dampaknya tidak hanya dirasakan pada
tempat tersebu. Menurut literatur, Episentrum yaitu titik atau garis di permukaan bumi sebagai
tempat gelombang gempa dirambatkan ke wilayah di sekitarnya. Episentrum juga dapat
diartikan sebagai pusat gempa bumi yang letaknya di permukaan bumi. Berdasarkan
episentrumnya, gempa bumi dibedakan menjadi gempa laut dan gempa darat. Untuk
menentukan episentrum gempa bumi, ada beberapa metode, salah satunya adalah menentukan
titik perpotongan dari daerah yang terkena gempa (Bambang Utoyo, 2007:57).
Gempa-gempa mengakibatkan gelombang seismik (gelombang P, gelombang S, dll).
Perbedaan kecepatan jelajah tiap gelombang berbeda dan akibatnya tiba pada sebuah stasiun
seismograf dengan waktu yang berbeda. Gelombang P bergerak lebih cepat, jadi tiba di
stasiun paling awal. Gelombang S, yang bergerak dengan setengah kecepatan gelombang P,
tiba kemudian. Dengan urutan pencatatan yang sangat cepat, stasiun seismik yang dekat
dengan lokasi gempa merekam gelombang P dan S ini. Apabila jarak stasiun dengan pusat
gempa makin jauh, maka bertambah pula perbedaan waktu kedatangan gelombang P dan S
pada stasiun tersebut. Perbedaan atau selisih waktu kedatangan antara gelombang P dan
gelombang S, (waktu S-P) dihitung pada tiap stasiun. Penggunaan selisih waktu S-P
menentukan jarak dari sebuah gempa.
Dalam percobaan penentuan episentrum suatu gempa praktikan menggunakan 5 data.
Setiap datanya menggunakan 3 stasiun.
1. Percobaan pertama
Waktu (s)
Jarak episentrum (km)
Konversi radius (cm)
Titik stasiun episentrum (km)

Stasiun A
60
300
3
270

Stasiun B
100
500
5
470

Stasiun C
80
400
4
370

Pada percobaan data pertama dengan selisih waktu datangnya gelombang P dan S pada
stasiun A 60 sekon, stasiun B 100 sekon dan stasiun C 80 sekon. Dari perbedaan
datangnya gelombang tersebut berdasarkan tabel ketetapan jarak episentrum berdasarkan
perbedaan datang gelombang P dan S didapat jarak episentrum dari titik pusat setelah
dikonversikan 1 cm = 100 km pada stasiun A adalah 3 cm, stasiun B 5 cm dan stasiun C 4
cm. Jarak episentrum tersebut digunakan sebagai radius atau jari-jari lingkaran.

Setelah dibuat lingkaran pada setiap stasiun diperoleh lokasi episentrum gempa. Lokasi
episentrum gempa bumi adalah titik dimana tiga lingkaran berpotongan. Setelah
menemukan daerah episentrum tersebut, dilanjutkan dengan menentukan titik episentrum
dengan membentuk segitiga pada perpotongan tiga lingkaran tersebut dan menentukan
titik beratnya. Setelah titik berat segitiga tersebut ditemukan, maka praktikan
menghubungkan titik tersebut ke stasiun A, stasiun B, dan stasiun C. Titik berat ini
digunakan sebagai titik pusat episentrum dari ketiga stasiun tersebut. Apabila kita sudah
mengetahui jarak dari gempa ke 3 stasiun, maka lokasi gempa dapat ditentukan. Dari titik
pusat pada setiap stasiun, kita dapat menggambar 3 lingkaran dengan radius lingkaran
yang diambil adalah jarak gempa ke stasiun seismograf yang bersangkutan. Titik dimana
ketiga lingkaran bertemu adalah perkiraan lokasi terjadinya gempa. Sehingga, dapat
diperoleh data bahwa stasiun A memiliki jarak dengan pusat gempa sebesar 2,7 cm, jarak
stasiun B dengan pusat gempa sebesar 4,7 cm dan pada jarak stasiun C dengan pusat
gempa sebesar 3,7 cm. Setelah dikonversikan diperoleh jarak titik pusat gempa dengan
stasiun A 270 km, stasiun B 470 km dan stasiun C 370 km dengan sketsa gambar sebagai
berikut.

Lokasi
gempa

Berdasarkan percobaan pertama di atas, penentuan pusat gempa digunakan Metode


Lingkaran dengan Tiga Stasiun. Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran
yang melalui SA dan menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di SB dan SC tersebut.
Penentuan letak episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang
gempa yang pertama (gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga
tempat yang berbeda. Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius
sepanjang jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang

terletak didaerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan
Metode Homoseista.

2. Percobaan 2
Waktu (s)
Jarak episentrum (km)
Konversi radius (cm)
Titik stasiun episentrum (km)

Stasiun A
80
400
4
290

Stasiun B
80
400
4
300

Stasiun C
100
500
5
430

Pada percobaan data kedua dengan selisih waktu datangnya gelombang P dan S pada
stasiun A 80 sekon, stasiun B 80 sekon dan stasiun C 100 sekon. Dari perbedaan
datangnya gelombang tersebut berdasarkan tabel ketetapan jarak episentrum berdasarkan
perbedaan datang gelombang P dan S didapat jarak episentrum dari titik pusat setelah
dikonversikan 1 cm = 100 km pada stasiun A adalah 4 cm, stasiun B 4 cm dan stasiun C
5cm. Jarak episentrum tersebut digunakan sebagai radius atau jari-jari lingkaran.
Setelah dibuat lingkaran pada setiap stasiun diperoleh lokasi episentrum gempa. Lokasi
episentrum gempa bumi adalah titik dimana tiga lingkaran berpotongan. Setelah
menemukan daerah episentrum tersebut, dilanjutkan dengan menentukan titik episentrum
dengan membentuk segitiga pada perpotongan tiga lingkaran tersebut dan menentukan
titik beratnya. Setelah titik berat segitiga tersebut ditemukan, maka praktikan
menghubungkan titik tersebut ke stasiun A, stasiun B, dan stasiun C. Titik berat ini
digunakan sebagai titik pusat episentrum dari ketiga stasiun tersebut. Apabila kita sudah
mengetahui jarak dari gempa ke 3 stasiun, maka lokasi gempa dapat ditentukan. Dari titik
pusat pada setiap stasiun, kita dapat menggambar 3 lingkaran dengan radius lingkaran
yang diambil adalah jarak gempa ke stasiun seismograf yang bersangkutan. Titik dimana
ketiga lingkaran bertemu adalah perkiraan lokasi terjadinya gempa. Sehingga, dapat
diperoleh data bahwa stasiun A memiliki jarak dengan pusat gempa sebesar 2,9 cm, jarak
stasiun B dengan pusat gempa sebesar 3 cm dan pada jarak stasiun C dengan pusat gempa
sebesar 4,3 cm. Setelah dikonversikan diperoleh jarak titik pusat gempa dengan stasiun A
290 km, stasiun B 300 km dan stasiun C 430 km dengan sketsa gambar sebagai berikut.

Lokasi gempa

Sama dengan percobaan sebelumnya, penentuan pusat gempa digunakan Metode


Lingkaran dengan Tiga Stasiun. Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran
yang melalui SA dan menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di S B dan SC tersebut.
Penentuan letak episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang
gempa yang pertama (gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga
tempat yang berbeda. Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius
sepanjang jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang
terletak didaerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan
Metode Homoseista.

3. Percobaan 3
Waktu (s)
Jarak episentrum (km)
Konversi radius (cm)
Titik stasiun episentrum (km)

Stasiun A
120
600
6
690

Stasiun B
80
400
4
300

Stasiun C
100
500
5
420

Pada percobaan data ketiga dengan selisih waktu datangnya gelombang P dan S pada
stasiun A 120 sekon, stasiun B 80 sekon dan stasiun C 100 sekon. Dari perbedaan
datangnya gelombang tersebut berdasarkan tabel ketetapan jarak episentrum berdasarkan
perbedaan datang gelombang P dan S didapat jarak episentrum dari titik pusat setelah
dikonversikan 1 cm = 100 km pada stasiun A adalah 6 cm, stasiun B 4 cm dan stasiun C 5
cm. Jarak episentrum tersebut digunakan sebagai radius atau jari-jari lingkaran.

Setelah dibuat lingkaran pada setiap stasiun diperoleh lokasi episentrum gempa. Lokasi
episentrum gempa bumi adalah titik dimana tiga lingkaran berpotongan. Setelah
menemukan daerah episentrum tersebut, dilanjutkan dengan menentukan titik episentrum
dengan membentuk segitiga pada perpotongan tiga lingkaran tersebut dan menentukan
titik beratnya. Setelah titik berat segitiga tersebut ditemukan, maka praktikan
menghubungkan titik tersebut ke stasiun A, stasiun B, dan stasiun C. Titik berat ini
digunakan sebagai titik pusat episentrum dari ketiga stasiun tersebut. Apabila kita sudah
mengetahui jarak dari gempa ke 3 stasiun, maka lokasi gempa dapat ditentukan. Dari titik
pusat pada setiap stasiun, kita dapat menggambar 3 lingkaran dengan radius lingkaran
yang diambil adalah jarak gempa ke stasiun seismograf yang bersangkutan. Titik dimana
ketiga lingkaran bertemu adalah perkiraan lokasi terjadinya gempa. Sehingga, dapat
diperoleh data bahwa stasiun A memiliki jarak dengan pusat gempa sebesar 6,9 cm, jarak
stasiun B dengan pusat gempa sebesar 3 cm dan pada jarak stasiun C dengan pusat gempa
sebesar 4,2 cm. Setelah dikonversikan diperoleh jarak titik pusat gempa dengan stasiun A
690 km, stasiun B 300 km dan stasiun C 420 km dengan sketsa gambar sebagai berikut.

Lokasi gempa

Sama dengan percobaan sebelumnya, penentuan pusat gempa digunakan Metode


Lingkaran dengan Tiga Stasiun. Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran
yang melalui SA dan menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di S B dan SC tersebut.
Penentuan letak episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang
gempa yang pertama (gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga
tempat yang berbeda. Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius
sepanjang jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang

terletak didaerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan
Metode Homoseista.

4. Percobaan 4
Waktu (s)
Jarak episentrum (km)
Konversi radius (cm)
Titik stasiun episentrum (km)

Stasiun A
100
500
5
390

Stasiun B
120
600
6
500

Stasiun C
80
400
4
240

Pada percobaan data keempat dengan selisih waktu datangnya gelombang P dan S pada
stasiun A 100 sekon, stasiun B 120 sekon dan stasiun C 80 sekon. Dari perbedaan
datangnya gelombang tersebut berdasarkan tabel ketetapan jarak episentrum berdasarkan
perbedaan datang gelombang P dan S didapat jarak episentrum dari titik pusat setelah
dikonversikan 1 cm = 100 km pada stasiun A adalah 5 cm, stasiun B 6 cm dan stasiun C 4
cm. Jarak episentrum tersebut digunakan sebagai radius atau jari-jari lingkaran.
Setelah dibuat lingkaran pada setiap stasiun diperoleh lokasi episentrum gempa. Lokasi
episentrum gempa bumi adalah titik dimana tiga lingkaran berpotongan. Setelah
menemukan daerah episentrum tersebut, dilanjutkan dengan menentukan titik episentrum
dengan membentuk segitiga pada perpotongan tiga lingkaran tersebut dan menentukan
titik beratnya. Setelah titik berat segitiga tersebut ditemukan, maka praktikan
menghubungkan titik tersebut ke stasiun A, stasiun B, dan stasiun C. Titik berat ini
digunakan sebagai titik pusat episentrum dari ketiga stasiun tersebut. Apabila kita sudah
mengetahui jarak dari gempa ke 3 stasiun, maka lokasi gempa dapat ditentukan. Dari titik
pusat pada setiap stasiun, kita dapat menggambar 3 lingkaran dengan radius lingkaran
yang diambil adalah jarak gempa ke stasiun seismograf yang bersangkutan. Titik dimana
ketiga lingkaran bertemu adalah perkiraan lokasi terjadinya gempa. Sehingga, dapat
diperoleh data bahwa stasiun A memiliki jarak dengan pusat gempa sebesar 3,9 cm, jarak
stasiun B dengan pusat gempa sebesar 5 cm dan pada jarak stasiun C dengan pusat gempa
sebesar 2,4 cm. Setelah dikonversikan diperoleh jarak titik pusat gempa dengan stasiun A
390 km, stasiun B 500 km dan stasiun C 240 km dengan sketsa gambar sebagai berikut.

Lokasi
gempa

Sama dengan percobaan sebelumnya, penentuan pusat gempa digunakan Metode


Lingkaran dengan Tiga Stasiun. Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran
yang melalui SA dan menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di S B dan SC tersebut.
Penentuan letak episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang
gempa yang pertama (gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga
tempat yang berbeda. Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius
sepanjang jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang
terletak didaerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan
Metode Homoseista.

5. Percobaan 5
Waktu (s)
Jarak episentrum (km)
Konversi radius (cm)
Titik stasiun episentrum (km)

Stasiun A
120
600
6
-

Stasiun B
40
200
2
-

Stasiun C
60
300
3
-

Pada percobaan data keempat dengan selisih waktu datangnya gelombang P dan S
pada stasiun A 120 sekon, stasiun B 40 sekon dan stasiun C 60 sekon. Dari perbedaan
datangnya gelombang tersebut berdasarkan tabel ketetapan jarak episentrum berdasarkan
perbedaan datang gelombang P dan S didapat jarak episentrum dari titik pusat setelah
dikonversikan 1 cm = 100 km pada stasiun A adalah 6 cm, stasiun B 2 cm dan stasiun C
3cm. Jarak episentrum tersebut digunakan sebagai radius atau jari-jari lingkaran.

Radius tersebut lalu digunakan untuk menemukan daerah episentrum dengan


membentuk lingkaran sesuai dengan radius pada setiap stasiunnya. Lokasi episentrum
gempa bumi adalah titik dimana tiga lingkaran berpotongan. setelah menemukan daerah
episentrum tersebut, dilanjutkan dengan menentukan titik episentrum dengan membentuk
segitiga pada perpotongan tiga lingkaran tersebut dan menentukan titik beratnya. Setelah
titik berat segitiga tersebut ditemukan, maka praktikan menghubungkan titik tersebut ke
stasiun A, stasiun B, dan stasiun C. Titik berat ini digunakan sebagai titik pusat episentrum
dari ketiga stasiun tersebut. Berikut adalah sketsa dari ke-3 stasiun pada percobaan 5

Dari sketsa gambar diatas, antara Stasiun A, Stasiun B, dan Stasiun C hanya ditemui
perpotongan pada Stasiun A dan Stasiun C, serta Stasiun A dengan Stasiun B. Hal ini
menunjukkan tidak terdapat persinggungan dari ke-3 stasiun untuk menentukan lokasi episentrum
gempa. Berdasarkan literatur, untuk mengetahui posisi episentrum, ahli seismologi membutuhkan
sedikitnya tiga stasiun pencatat. Kemudian, di atas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan
radius sepanjang jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang
terletak di daerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut.
Dari permasalahan pada percobaan kelima ini, praktikan tidak mendapatkan garis
persinggungan yang antara 3 stasiun sehingga lokasi gempa tidak dapat diketahui. Tidak adanya
persinggungan dari ketiga stasiun dapat disebabkan karena kemungkinan getaran yang dirasakan
pengamat sangat lemah dengan kecepatan rambat gempa sangat pelan atau memiliki skala
intensitas modified mercalli no. I, baik pada jenis gelombang primer, gelombang sekuder, maupun
gelombang panjang. Sehingga getaran yang sangat lemah ini, tidak cukup untuk menjangkau
gelombang yang berasal dari daerah pengamat lain. Selain itu, penentuan pusat gempa dengan
metode ini memiliki kelemahan, yaitu untuk mendapatkan data lebih akurat, harus dilakukan

dengan cara berulang-ulang untuk mencoba membuat lingkaran, sehingga didapatkan titik E yang
terbaik. Metode ini kurang dapat diandalkan, karena kualitas penentuannya tergantung pada
ketelitian penggambaran ketiga lingkaran tersebut.
Sama dengan percobaan sebelumnya, penentuan pusat gempa digunakan Metode Lingkaran
dengan Tiga Stasiun. Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran yang melalui
SA dan menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di S B dan SC tersebut. Penentuan letak
episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang gempa yang pertama
(gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga tempat yang berbeda.
Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius sepanjang jarak stasiun ke
episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang terletak didaerah sekitar irisan
ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan Metode Homoseista.
G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa dengan metode lingkaran dengan tiga
stasiun, dari kelima percobaan dengan perbedaan waktu antara penerimaan gelombang gempa
bumi, terdapat 4 percobaan yang diketahui pusat gempanya yaitu pada percobaan pertama,
kedua, ketiga, dan keempat, dan hanya ada 1 percobaan yang tidak ditemukan pusat
gempanya, yaitu pada percobaan ke-5. Jarak episentrumnya adalah :
Percobaan
ke-
1
2
3
4
5

EA
270
290
690
390
-

E (km)
EB
470
300
300
500
-

EC
370
430
420
240
-

H. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Jenis Gempa Bumi. Diakses dari http://www.bimbie.com/jenis-gempa-bumi.htm.
Pada tanggal 11 Oktober 2015 pukul 21.58 WIB
Bambang Utoyo. 2007. Geografi: membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT. Setia Purna Inves
Gunawan Ibrahim dan Subarjo. 2009. Pengetahuan Seismologi. Jakarta: Badan Metereologi,
Klimatologi, dan Geofisika.
Kusky, Timothy M. 2008. Earthquake: Plate Tectonics and Earthquake Hazards. New York:
Facts on File, Inc.

Sills, Alan D. 2003. Earth Science the Easy Way. New York: Barons Educational Series, Inc.
Yakub Malik. 2014. Gempa Bumi. Diakses dari http://file.upi.edu%2FDirektori%2FFPIPS
%2FJUR._PEND._GEOGRAFI%2F195901011989011-YAKUB_MALIK
%2FHANDOUT_GEMPABUMI.pdf. Pada tanggal 11 Oktoberr 2015 pukul 22.05

.
Lampiran
Jawaban Pertanyaan
1. Kapan ilmuwan perlu menggunakan metode ini untuk menentukan episentrum gempa?
Ilmuwan perlu menggunakan metode lingkaran dengan tiga stasiun/ metode
episentral/ metode homoseista, saat tidak ada alat seismograf. Sehingga untuk menemukan
episentrum, diperlukan data saat terdapat data kejadian gempa minimal dari tiga stasium
pengamatan. Hal ini akan mempermudah untuk menentukan letak pusat gempa.
2. Bagaimana seseorang dapat memprediksi lokasi episentrum tanpa seismograf?
Untuk menentukan lokasi sumber gempa bumi diperlukan data waktu tiba
gelombang seismik dengan sekurang kurangnya 4 data waktu tiba gelombang P.
Sedangkan penentuan magnitude gempa memerlukan pengukuran amplitude, dan periode
atau lamanya gelombang tersebut tercatat di suatu stasiun . Selain itu juga diperlukan data
posisi stasiun yang digunakan dan model kecepatan gelombang seismik. Episenter gempa
dapat ditentukan secara manual, salah satunya adalah menggunakan metode lingkaran.
Dalam metode ini, dianggap ada tiga stasiun pencatat, masing-masing S1, S2, dan S3.
Dengan menggunakan dua data stasiun pencatat, S2 dan S3 sebagai pusatnya, dibuat
lingkaran-lingkaran.
Dimana, episenter yang dicari adalah pusat sebuah lingkaran yang melalui SA dan
menyinggung kedua lingkaran yang berpusat di SB dan SC tersebut. Penentuan letak
episentrum dengan melakukan pencatatan waktu datangnya gelombang gempa yang
pertama (gelombang primer) pada waktu yang bersamaan dari minimal tiga tempat yang
berbeda. Kemudian, diatas peta disekitar stasiun dibuat lingkaran dengan radius sepanjang
jarak stasiun ke episentrum sehingga akan didapatkan episentrum gempa yang terletak
didaerah sekitar irisan ketiga lingkaran tersebut. Metode ini biasa disebut dengan Metode
Homoseista.

Anda mungkin juga menyukai