Anda di halaman 1dari 14

PLANIMETER

Dibuat untuk memenuhi tugas


mata kuliah Teknik Reservoir

Disusun Oleh :
Sigit Hermawan

(1403015)

M. Mirza Pahlevi

(1403020)

Tcesar Risky J

(1403030)

Arischo Putranto

(1403035)

Abdul Hadi Habibi

(1403040)

Kelas : TEP 3A

Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas


Politeknik Akamigas Palembang
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya jualah kami dapat menyelesaikan Makalah Teknik reservoar ini dengan judul
planimeter yang dibuat guna memenuhi persyaratan mata kuliah teknik
reservoar pada Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas Politeknik
Akamigas Palembang. Di dalam penyusunan Makalah ini, kami menyadari
sepenuhnya masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan Makalah ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan semangat yang tak terhingga dalam
pembuatan Makalah teknik reservoar ini.
2. Bapak revia nanda putra, ST selaku Dosen Pengajar teknik reservoar
3. Rekan-rekan mahasiswa di TEPM III A Politeknik Akamigas Palembang
4. Dan pihak-pihak lain memberikan bantuan dalam menyelesaikan Makalah ini
Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
penulisannya yang lebih baik.

Hormat Kami

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................... xi


DAFTAR ISI ................................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 1
1.3 Tujuan ...................................................................................... 1
BAB II ISI DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Planimeter .............................................................. 2
2.2 Metode Planimeter ................................................................... 3
2.3 Pengoperasian dan Langkah Menghitung Luas Planimeter ..... 6
2.4 Pembuatan Peta Metode Planimetris ....................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................. 10
3.2 Saran ........................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peta merupakan gambaran dari permukaan bumi yang diproyeksikan
terhadap bidang datar. Peta yang baik memberikan informasi yang akurat
mengenai permukaan bumi kepada penggunanya. Suatu peta dapat digunakan
sebagai dasar perencanaan pengembangan suatu wilayah. Pada tahap perencanaan
suatu pembangunan, luasan wilayah yang akan dibangun menjadi hal yang
penting untuk diperhatikan. Dengan mengetahui luasan suatu wilayah, maka akan
dapat dijadikan pedoman pembangunan daerah tersebut.
Planimeter merupakan salah satu metode pembuatan peta. Metode ini
digunakan untuk memetakan wilayah yang luasnya haya beberapa ratus sampai
beberapa meter. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih dalam pemetaan
planimeter sehingga dapat memberikan informasi secara visualisasi dua dimensi
mengenai keadaan dan posisi suatu bangunan.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam penulisan makalah terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa yang dimaksud Planimeter?
2. Apa metode yang terdapat dalam Planimeter?
3. Bagaimana langkah pengukuran Planimeter?
4. Bagaimana pembuatan peta dalam Planimeter?

1.3 Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian Planimeter.
2. Mengetahui metode yang terdapat dalam Planimeter.
3. Memahami langkah pengukuran Planimeter.
4. Mengetahui pembuatan peta melalui metode Planimetris.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Planimeter
Planimeter adalah suatu alat yang digunakan untuk menghitung luas dengan
cara mekanis. Planimeter ada dua macam, yaitu planimeter manual dan planimeter
digital. Pada makalah ini akan dibahas tentang planimeter manual.
Alat planimetri terdiri dari dari dua tangkai (batang) yang dihubungkan oleh
sendi yang memungkinkan kedua tangkai tersebut bergerak bebas pada meja
gambar. Tangkai yang pertama disebut tangkai jarum tetap atau tangkai batang
(kutub), dibagian ujung lain dari tangkai tetap terdapat jarum pelacak tetap yang
disebut dengan kutub planimeter. Tangkai yang kedua disebut tangkai pelacak.
Pada ujung-ujung tangkai pelacak terdapat sebuah roda (roda ukur) dan jarum
pelacak untuk menelusuri batas daerah yang diukur.
Roda ukur dapat berputar bersamaan dengan gerakan dari jarum pelacak.
Banyaknya putaran dapat dibaca pada piringan berskala yang dihubungkan
dengan roda ukur
Bagian-bagian Planimetri :
1. Batang kutub
2. Batang pelacak
3. Kutub planimeter (tetap)
4. Sendi (engsel)
5. Jarum pelacak
6. Roda ukur berskala
7. Piringan berskala
8. Klem (untuk mengatur panjang batang pelacak)
9. Skala Nonius
Cara tepat di mana planimeter dibangun bervariasi, dengan jenis utama
planimeter mekanis yang planimeter "kapak" polar, linear dan Prytz. Swiss
matematika Jakob Amsler-Laffon membangun planimeter modern pertama pada
1854, konsep yang telah dirintis oleh Johann Martin Hermann pada tahun 1814.

2.2 Metode Planimeter


Metode yang digunakan dalam pemetaan planimetris adalah:
1. Pengukuran Jarak Langsung
Pengukuran jarak langsung adalah pengukuran yang dilakukan dengan cara
membentangkan pita ukur sepanjang garis yang akan diukur dengan alat utama
berupa pita ukur. Apabila jarak tidak dapat diukur dengan sekali bentangan pita
ukur, maka perlu dilakukan pelurusan. Pelurusan dilakukan dengan cara membuat
penggalan-penggalan pada jarak yang akan diukur. Pengukuran dilakukan
sebanyak dua kali, yakni pengukuran pergi dan pengukuran pulang.
Pengukuran jarak langsung dapat dilakukan di medan mendatar dan medan
miring. Pengukuran pada medan mendatar dilakukan dengan pelurusan terlebih
dahulu. Kemudian mengukur langsung dengan menggunakan pita ukur.
Sedangkan pada medan miring perlu dilakukan beberapa tahapan tambahan. Yang
pertama adalah melakukan pelurusan seperti pada medan mendatar. Kemudian
melakukan pengukuran jarak dengan bantuan unting-unting. Di sini pita ukur
ditarik sehingga mendatar dan batas penggal jarak yang diukur di tanah diperoleh
dengan bantuan unting-unting yang digantung dengan benang dari pita ukur yang
direntangkan.
Namun, sering kali terdapat penghalang pada jarak yang akan diukur. Pengukuran
pada jarak terhalang dapat dilakukan dengan beberapa macam cara sebagai
berikut :
a. Dengan perbandingan sisi segitiga siku-siku
b. Dengan mengukur titik tengah tali busur
c. Dengan bantuan cermin penyiku atau prisma penyiku
2. Pengukuran Sudut
Salah satu alat yang didesain untuk mengukur sudut, dalam bidang geodesi dan
pengukuran tanah dikenal dengan nama teodolit. Teodolit memiliki tiga bagian,
bagian atas (teropong, lingkaran vertikal, sumbu mendatar, klem teropong dan
penggerak halus, aldehide vertikal dan nivo, nivo teropong), bagian tengah (kaki

penyangga, aldehide horizontal, piringan horizontal, klem dan penggerak halus


aldehide horizontal, klem dan penggerak halus nimbus, nivo tabung, mikroskop
pembacaan lingkaran horizontal), dan bagian bawah (tribranch, nivo kotak, skrup
penyetel ABC, plat dasar).
Prosedur penggunaan teodolit diawali dengan pendirian teodolit di atas statif dan
melakukan sentering dan mengatur sumbu I agar vertikal. Yang dimaksud
sentering adalah bahwa sumbu I (sumbu vertikal) teodolit segaris dengan garis
gaya berat yang melalui titik tempat berdiri alat. Sentering dilakukan dengan
medirikan teodolit sehingga ujung unting-unting berada tepat di atas titik (patok).
3. Pengukuran Jarak Optis
Pengukuran jarak optis merupakan pengukuran jarak secara tidak langsung,
karena dalam pelaksanaannya digunakan alat bantu berupa teropong pada alat
ukur teodolit dan rambu ukur. Pengukuran ini dapat dilakukan karena pada
teropong teodolit dilengkapi dengan garis bidik (benang silang) dan benang stadia
yang diarsir pada diafragma.
Garis bidik adalah garis khayal yang menghubungkan titik benang silang dengan
sumbu optis lensa obyektif teropong. Benang stadia terdiri dari tiga macam, yakni
benang atas, benang tengah, dan benang bawah.
Posisi suatu target diketahui dengan membaca bacaan piringan vertikal teodolit
dan angka pada rambu ukur yang ditunjukkan dengan benang stadia yang dilihat
dari teropong teodolit.
D = a (ba - bb) cos2h
D = jarak detil
a = konstanta = 100
ba = benang atas
bb = benang bawah
h = bacaan vertikal

4. Poligon Tertutup
Poligon dapat diartikan sebagai suatu rangkaian dari titik titik secara berurutan
sebagai kerangka pemetaan. Posisi atau koordinat titik titik poligon tersebut
diperoleh dengan mengukur sudut dan jarak antar titik titik poligon, serta
azimuth salah satu sisinya.
Adapun rumus penentuan koordinat poligon adalah :
x2 = x1 + d12sin 12
y2 = y1 + d12cos 12
Dilihat dari bentuknya, ada dua macam poligon, yaitu :
1. Poligon Tertutup
2. Poligon Terbuka
3. Poligon Bercabang
Poligon tertutup adalah poligon yang diawali dan diakhiri pada titik yang sama
(berimpit).
Unsur yang diperlukan dari bentuk poligon tersebut adalah
- Unsur sudut pada tiap titik
- Unsur jarak pada tiap sisi
- Azimut salah satu sisi, agar poligon tersebut terorientasi
Dari unsur unsur tersebut semua unsur sudut diukur, salah satu sisi poligon perlu
diukur atau diketahui azimutnya, karena untuk menghitung koordinat titik
poligon, yang diperlukan adalah azimut, bukan sudut sehingga azimut sisi lainnya
bias dicari dengan melihat hubungan antar sudut dan azimut awal
5. Pengukuran Azimut
Beda tinggi arah utara yang ditunjukkan oleh magnetis dan utara geografis disebut
dengan deklinasi magnet atau salah tunjuk jarum. Besar sudut deklinasi magnet
tidak sama dari satu tempat ke tempat lain, makin mendekat kutub makin besar,
serta dari waktu ke waktu tidak sama pula.

Salah tunjuk jarum magnet di suatu tempat selain dikarenakan deklinasi juga bisa
disebabkan karena adanya atraksi local yaitu adanya gangguan medan magnet
setempat, akibat adanya benda- benda yang terbuat dari besi baja, bangunanbangunan gedung dan lain- lain serta kemungkinan adanya kesalahan dari
kontruksi alat itu sendiri seperti halnya jarum magnet tidak sejajar sumbu datar
(kesalahan kolimasi). Sehingga alat-alat yang menggunakan pembacaan dengan
kompas, sebaiknya bila akan digunakan untuk pengukuran di suatu tempat perlu
diukur deklinasi magnet di tempat tersebut dengan cara membandingkan suatu
arah yang diukur dengan pengamatan matahari.
Selisih arah yang didapat merupakan besaran koreksi yang harus diberikan
terhadap data hasil ukuran arah dengan kompas untuk mendapatkan arah yang
benar.

2.3 Pengoperasian dan Langkah Menghitung Luas Planimeter


1. Pengoperasian Planimeter
Langkah-langkah mempersiapkan alat planimeter sebelum digunakan untuk
menghitung luas :
1. Letakan Peta yang akan dgunakan di atas meja, dan usahakan agar tidak
bisa berpindah posisi
2. Mengeluarkan alat dari box alat
3. Mengatur panjang batang pelacak
4. Mencari posisi untuk kutub planimeter. Posisi kutub diusahakan agar
batang pelacak dapat menjangkau seluruh garis batas dengan sudut
antara batang pelacak dengan batang kutuk lebih kecil dari 180.
5. Setelah kutub terpasang, gerakkan mengelilingi area batas untuk
mengetahui ada tidaknya hambatan dari gerak roda
Langkah menghitung luas:
1. Lihat titik merah pada lensa alat, kemudian tepatkan titik tersebut pada garis/
batas wilayah yang akan dicari luasannya.

2.

Tempatkan jarum pelacak mulai dari titik awal (misal x 0 ), yang telah
ditentukan, kemudian putar roda ukur maju (searah jarum jam) atau mundur
(berlawanan arah jarum jam) melalui x 1 sampai kembali ketitik awal (x 0 ).
Pada titik start awal sebelum mulai menyusuri garis batas, dilakukan
pembacaan terlebih dahulu pada titik start. Nilai didapat dari piringan berskala
dan skala nonius. Tahap ini juga dilakukan pada titikakhir (x 1 ).
Syarat dari pengukuran luas dengan planimeter yang baik adalah selisih
antara bacaan di x 0 dan x 1 tidak lebih dari 20.
Dengan konversi tertentu, maka luas akan dapat dihitung. Ketelitian hasil
sangat bergantung pada besar atau kecilnya skala peta. Semakin besar skala
petanya, akan semakin teliti hasil luasannya.
2. Penghitungan Luas dengan Planimeter
Untuk mendapatkan luasan suatu daerah permukaan bumi dipeta maka
diadakan pengukuran dengan metode planimetri dari titik awal x 0 sampai dengan
titik akhir x 1 dengan menggunakan rumus :
Lb =

p
l
x
skala peta skala peta La =

Lx
xLb
Ly

Keterangan :
La = luas area yang dicari (km2)
Lx = luas daerah dalam peta diperoleh dari perhitungan menggunakan planimeter
Ly = luas kalibrasi dalam peta diperoleh dari perhitungan menggunakan
planimeter
Lb = luas kotak kalibrasi
P = panjang (cm)
l = lebar (cm)

2.4 Pembuatan Peta Metode Planimetris


Adapun langkah langkah dalam proses pembuatan peta planimetris ini yang
sudah kami susun secara sistematis yakni:
1. Melakukan pengamatan lokasi yang dipetakan.
Pengamatan lokasi penting dilakukan agar dapat menentukan dimana saja
letak titik kontrol agar memudahkan penggambaran detil. Dicatat pula detil mana

saja yang perlu dipetakan. Detil yang terlalu kecil bisa tidak diukur karena bila
ukurannnya diubah dengan skala tertentu maka bentuknya akan tidak nampak.
2. Melakukan koreksi alat.
Koreksi alat dilakukan hanya pada alat theodolite,koreksinya berupa
mencari konstanta pengali teropong (A),heling (h),kesalahan kolimasi,dan
kesalahan indeks vertical.
3. Membuat sketsa sederhana lokasi yang dipetakan.
Sketsa cukup digambar tangan tanpa berisi keterangan jarak,fungsinya untuk
memudahkan pengambaran hasil akhir. Sketsa nanti dibandingkan dengan
penggambaran akhir,apakah sebuah detil dengan hasil pengukuran sudah mirip
dengan yang disketsakan.
4. Mengukur jarak antar titik kontrol,azimuth disalah satu titik kontrol, dan sudut
di masing - masing titik kontrol.
Jarak antar titik kontrol diukur secara pulang pergi,azimuth diukur disatu
titik kontrol saja,sisanya bisa dicari dengan rumus,sedangkan sudut dimasing masing titik kontrol diukur secara seri rangkap.
5. Menggambar kerangka polygon menggunakan data pengukuran pada poin 4
Penggambaran dilakukan dengan terlebih dahulu mengubah jarak
sebenarnya ke dalam cm dengan skala yang telah ditentukan.
6. Melakukan pengukuran detil.
Pengukuran detil ini dapat menggunakan beberapa metode. Antara lain
metode offsetting yang terdiri dari metode penyikuan dan metode pengikatan.
Metode lain yang digunakan yakni metode polar. Dalam tugas akhir ini terdapat
ketentuan yakni pengukuran detil 70% harus menggunakan metode offset dan
30% menggunakan metode polar.

7. Penggambaran detil (plotting)


Pengambaran detil ini yang agak lama bagi kelompok saya,begitu sebuah
detil digambarkan kadang bentuknya tidak sesuai keadaanya didunia nyata,jika
hal ini terjadi maka harus dilakukan pengukuran ulang terhadap detil yang
bersangkutan dan hal itu memerlukan waktu yang lama.
8. Penggabaran secara keseluruhan dilengkapi dengan atribut peta.
Penggambaran secara keseluruhan menggunakan rapido atau bisa juga
drawing pen dan juga menggunakan pensil

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Planimeter adalah suatu alat yang digunakan untuk menghitung luas dengan
cara mekanis. Planimeter ada dua macam, yaitu planimeter manual dan planimeter
digital. Pada makalah ini akan dibahas tentang planimeter manual.
Alat planimetri terdiri dari dari dua tangkai (batang) yang dihubungkan oleh
sendi yang memungkinkan kedua tangkai tersebut bergerak bebas pada meja
gambar. Tangkai yang pertama disebut tangkai jarum tetap atau tangkai batang
(kutub), dibagian ujung lain dari tangkai tetap terdapat jarum pelacak tetap yang
disebut dengan kutub planimeter. Tangkai yang kedua disebut tangkai pelacak.
Metode pengukuran planimeter terdiri dari pengukuran jarak langsung,
pengukuran sudut (cara repetisi dan cara reiterasi), pengukuran jarak optis,
poligon tertutup, dan pengukuran azimut.
Peta planimetris sampai saat ini dibuat dengan melakukan pengukuran
secara langsung di lapangan. Maksud dari pengukuran yang dilakukan pada
pembuatan peta ini adalah mengumpulkan data-data lapangan yang berupa
panjangan dari penggal-penggal garis pembentuk/penentu posisi dari objek-objek
yang diukur

3.2 Saran
a.1. Hendaknya dalam melakukan pengukuran, ketelitian harus diutamakan,
terutama dalam hal membaca skala ukuran, baik jarak maupun sudut.
a.2. Sebaiknya dalam membentangkan pita ukur, tenaga pemegang harus sama
untuk tiap-tiap jarak, sehingga hasil ukuran yang didapat dapat masuk dalam
toleransi nilai benar, yakni 1/3000.
a.3. Dalam menggunakan sistem jarak optis, sebaiknya bacaan vertikalnya dibuat
mendekati 900, agar lebih mudah dalam penghitungannya.
a.4. Proses penggambaran harus menggunakan tingkat kecermatan yang tinggi,

DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/makalah-planimeter.html
http://geoexpose.blogspot.co.id/2011/12/menghitung-luas-dengan-

planimeter.html
http://dokumen.tips/documents/planimeter-1.html
http://dokumen.tips/search/?q=MAKALAH+PLANIMETER