Anda di halaman 1dari 8

PROSES PEMBUATAN BBM

1.DESTILASI
Destilasi adalah pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi
berdasarkan perbedaan titik didihnya.Dalam hal ini adalah destilasi
fraksinasi. Mula-mula minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa
dalamfurnace (tanur) sampai dengan suhu 370C. Minyak mentah
yang sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam kolom
fraksinasi pada bagian flash chamber (biasanya berada pada sepertiga
bagian bawah kolom fraksinasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan
dalam kolom maka dibantu pemanasan dengan steam (uap air panas
dan bertekanan tinggi).
Menara destilasi

Minyak mentah yang menguap pada proses destilasi ini naik ke


bagian atas kolom dan selanjutnya terkondensasi pada suhu yang
berbeda-beda. Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap
berupa cairan dan turun ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih
rendah akan menguap dan naik ke bagian atas melalui sungkup-sungkup
yang disebut sungkup gelembung. Makin ke atas, suhu yang terdapat
dalam kolom fraksionasi tersebut makin rendah, sehingga setiap kali
komponen dengan titik didih lebih tinggi akan terpisah, sedangkan
komponen yang titik didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih
atas lagi. Demikian selanjutnya sehingga komponen yang mencapai
puncak adalah komponen yang pada suhu kamar berupa gas. Komponen
yang berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian dicairkan dan
disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).

Fraksi minyak mentah yang tidak menguap menjadi residu. Residu


minyak bumi meliputi parafin, lilin, dan aspal. Residu-residu ini memiliki
rantai karbon sejumlah lebih dari 20.
Fraksi minyak bumi yang dihasilkan berdasarkan rentang titik didihnya
antara lain sebagai berikut :
1. Gas Rentang rantai karbon : C1 sampai C5
Trayek didih : 0 sampai 50C
2. Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11
Trayek didih : 50 sampai 85C
3. Kerosin (Minyak Tanah)
Rentang rantai karbon : C12 sampai C20
Trayek didih : 85 sampai 105C
4. Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30
Trayek didih : 105 sampai 135C
5. Minyak Berat
Rentang ranai karbon : C31 sampai C40
Trayek didih : 135 sampai 300C
6. Residu
Rentang rantai karbon : di atas C40
Trayek didih : di atas 300C
Fraksi-fraksi minyak bumi dari proses destilasi bertingkat belum memiliki
kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu
pengolahan lebih lanjut yang meliputi proses cracking, reforming,
polimerisasi,I treating, dan blending.
2.CRACKING
Setelah melalui tahap destilasi, masing-masing fraksi yang dihasilkan
dimurnikan (refinery), seperti terlihat dibawah ini:
Cracking
adalah
penguraian
molekul-molekul
senyawa
hidrokarbon yang besar menjadi molekul-molekul senyawa
hidrokarbon yang kecil. Contoh cracking ini adalah pengolahan
minyak solar atau minyak tanah menjadi bensin.
Proses ini terutama ditujukan untuk memperbaiki kualitas dan perolehan
fraksi gasolin (bensin). Kualitas gasolin sangat ditentukan oleh sifat anti
knock (ketukan) yang dinyatakan dalam bilangan oktan. Bilangan oktan
100 diberikan pada isooktan (2,2,4-trimetil pentana) yang mempunyai
sifat anti knocking yang istimewa, dan bilangan oktan 0 diberikan pada
n-heptana yang mempunyai sifat anti knock yang buruk. Gasolin yang
diuji akan dibandingkan dengan campuran isooktana dan n-heptana.
Bilangan oktan dipengaruhi oleh beberapa struktur molekul hidrokarbon.

3. REFORMING
Reforming adalah perubahan dari bentuk molekul bensin yang bermutu
kurang baik (rantai karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih
baik (rantai karbon bercabang). Kedua jenis bensin ini memiliki rumus
molekul yang sama bentuk strukturnya yang berbeda. Oleh karena itu,
proses ini juga disebut isomerisasi. Reforming dilakukan dengan
menggunakan katalis dan pemanasan.
4.ALKILASI
Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi
molekul yang lebih panjang dan bercabang. Dalam proses ini
menggunakan katalis asam kuat seperti H2SO4, HCl, AlCl3 (suatu asam
kuat Lewis)
Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi
molekul besar
5. TREATING
Treating adalah pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan
pengotor-pengotornya. Cara-cara proses treating adalah sebagai
berikut :
Copper sweetening dan doctor treating, yaitu proses penghilangan
pengotor yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.
Acid treatment, yaitu proses penghilangan lumpur dan perbaikan warna.
Dewaxing yaitu proses penghilangan wax (n parafin) dengan berat
molekul tinggi dari fraksi minyak pelumas untuk menghasillkan minyak
pelumas dengan pour point yang rendah.
Deasphalting yaitu penghilangan aspal dari fraksi yang digunakan untuk
minyak pelumas
Desulfurizing (desulfurisasi), yaitu proses penghilangan unsur belerang.
Sulfur merupakan senyawa yang secara alami terkandung dalam minyak
bumi atau gas, namun keberadaannya tidak dinginkan karena dapat
menyebabkan berbagai masalah, termasuk di antaranya korosi pada
peralatan proses, meracuni katalis dalam proses pengolahan, bau yang
kurang sedap, atau produk samping pembakaran berupa gas buang
yang beracun (sulfur dioksida, SO2) dan menimbulkan polusi udara serta
hujan asam. Berbagai upaya dilakukan untuk menyingkirkan senyawa
sulfur dari minyak bumi, antara lain menggunakan proses oksidasi,
adsorpsi selektif, ekstraksi, hydrotreating, dan lain-lain. Sulfur yang
disingkirkan dari minyak bumi ini kemudian diambil kembali sebagai
sulfur elemental.

Desulfurisasi merupakan proses yang digunakan untuk menyingkirkan


senyawa sulfur dari minyak bumi.
6.BLENDING
Proses blending adalah penambahan bahan-bahan aditif kedalam fraksi
minyak bumi dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produk
tersebut. Bensin yang memiliki berbagai persyaratan kualitas
merupakan contoh hasil minyak bumi yang paling banyak digunakan di
barbagai negara dengan berbagai variasi cuaca. Untuk memenuhi
kualitas bensin yang baik, terdapat sekitar 22 bahan pencampur yang
dapat ditambanhkan pada proses pengolahannya.
Diantara bahan-bahan pencampur yang terkenal adalah tetra ethyl lead
(TEL). TEL berfungsi menaikkan bilangan oktan bensin. Demikian pula
halnya dengan pelumas, agar diperoleh kualitas yang baik maka pada
proses pengolahan diperlukan penambahan zat aditif. Penambahan TEL
dapat meningkatkan bilangan oktan, tetapi dapat menimbulkan
pencemaran udara.
KARAKTERISTIK DAN SIFAT-SIFAT BENSIN
Bensin adalah zat cair yang mempunyai kemampuan untuk menguap
pada suhu yang rendah. Molekul-molekul pada bensin memiliki
kecenderungan untuk lepas dari permukaan lebih besar dibandingkan
dengan zat cair lainnya, makin tinggi temperatur maka makin cepat pula
molekul-molekul bensin lepas dari permukaannya. Bensin merupakan
campuran hidrokarbon yang didapatkan dari penyulingan bertingkat dari
minyak bumi dengan proses pemecahan (cracking) fraksi-fraksi berat
minyak bumi, gas bumi juga secara sintetik dengan jalan
polimerisasi/alkalisasi hidrokarbon.
Bensin sering juga dinamakan gasoline atau petrol. Bensin untuk
kendaraan bermotor dibedakan atas empat tingkat, yaitu :
1) Bensin putih, memiliki kandungan bahan anti ketukan yang rendah.
2) Bensin regular, bensin yang mengandung sedikit tetraethylead,
karena itu bensin regular mempunyai kualitas anti ketukan yang lebih
baik dari bensin putih. Bensin ini dapat dipakai untuk semua mesin
kompresi tinggi untuk kendaraan traktor dan truk pada kondisi biasa.
3) Bensin premium dan super premium, mempunyai sifat anti ketukan
yang lebih baik (nilai oktannya lebih dari 95) dan dapat dipakai pada
mesin kompresi tinggi pada semua kondisi.
4) Bensin premium, super premium maupun bensin regular banyak
tersedia pada stasiun pompa bensin sebagai bahan bakar motor.
Sifat penting pada bahan bakar bensin yaitu :

1) Kecepatan penguapan bensin


Kecepatan penguapan bensin menyatakan mudah tidaknya bensin
itu menguap pada kondisi tertentu, kondisi ini akan terjadi sempurna
apabila terdapat oksigen yang cukup. Proses penguapan merupakan
akibat dari suatu reaksi yang terjadi pada setiap temperature. Pada
saat penguapan molekul-molekul bensin melepaskan diri dari
permukaan, makin tinggi temperature, makin banyak molekul yang
lepas dari permukaan bensin. Kecepatan penguapan bensin
dipengaruhi beberapa hal, yaitu konsentrasi, suhu, tekanan dan luas
penampang.
2) Kualitas Berdetonasi Bensin
Kecenderungan bensin untuk berdentonasi dinilai dari bilangan
oktana. Bilangan oktana bensin ialah bilangan bulat yang terdekat
pada persen campuran volume iso-oktana (iso-oktana murni diberi
indek 100) dengan heptana normal (heptana normal murni diberi
indek nol) yang menyamai sifat-sifat berdetonasi dari bensin yang
ingin diketahui bilangan oktananya. Jadi bensin dengan bilangan
oktana 80 artinya bensin tersebut mempunyai kecenderungan
berdetonasi sama dengan campuran yang terdiri dari 80% volume isooktana dan 20% volume heptana normal. Kecenderungan berdetonasi
mempunyai peran penting bagi bensin. Pada akhir kompresi,
campuran udara bahan bakar di dalam tangki silinder dinyalakan oleh
percikan api dari busi. Pembakaran mulai terjadi di sekitar busi.
Permukaan api bergerak menyembur ke semua arah dan campuran
yang disinggung api segera terbakar. Makin banyak bagian campuran
yang terbakar, makin banyak panas terbentuk maka tekanan dan
suhu akan naik. Kenaikan suhu dari bagian campuran yang belum
dicapai oleh nyala atau permukaan api, pada suatu saat dapat
mencapai keadaan kritis dan dapat terbakar sendiri, sehingga
mengalami detonasi. Detonasi ini dapat merusak motor terutama
torak, batang penggerak, pena engkol dan sebagainya. Untuk
mengurangi kecenderungan berdetonasi, di dalam bensin diberi
bahan anti ketukan yaitu tetraethyleade.

3) Kadar Belerang Bensin


Kadar belerang dalam bensin tidak boleh lebih dari 2% bahkan jika
mungkin harus rendah daro 0,7 %. (BM. Surbhakty : 1978 : 40)
4) Kadar Damar Bensin
Kadar damar pada bensin dapat menimbulkan berbagai kerusakan
diantaranya :

a) Dapat menempel kuat diberbagai tempat di dalam motor, misalnya


pada katup-katup, saluran pembuangan dan torak.
b) Menurunkan bilangan oktana pada waktu masih da dalam tangki
penyimpanan. Makin lama bensin disimpan makin banyak
pembentukan damar. Kadar damar maksimum 10 mg tiap 100 cm3
bensin.
5) Titik Beku Bensin
Suhu pada bensin mulai membeku dinamakan titik beku bensin. Bila
di dalam bensin terdapat kadar aromat yang tinggi, maka pada suhu
tertentu aromat-aromat itu mengkristal dan saluran-saluran bensin
bisa tersumbat. Karena itu motor-motor yang bekerja pada cuaca
dingin titik beku bensin harus rendah sekitar -50 oC.
6) Titik Embun Bensin
Suhu pada saat uap bensin mulai mengembun dinamakan titik
embun bensin. Penguapan lengkap tetesan bensin dalam saluran isap
tergantung pada tinggi rendahya titik embun. Bila titik embun terlalu
tinggi, maka tetesan bensin yang belum menguap dalam saluran isap
dapat turut masuk ke dalam silinder sehingga pemakaian bahan bakar
menjadi boros, karena di dalam silinder terdapat campuran dengan
kondisi yang tidak homogen. Hal ini menyebabkan pembakaran
berlangsung dengan tidak baik. Banyaknya bensin yang menetes ke
dalam ruang engkol melalui cicin torak tergantung titik rendahnya
embun ini. Pada umumnya, titik embun bensin motor tidak lebih dari
140 oC.
7) Titik Nyala Bensin
Titik nyala bensin berkisar antara -10 oC s/d -15 oC. Titik nyala
bensin merupakan uap bensin terendah yang membentuk campuran
sehingga dapat menyala dengan udara apabila terkena percikan api.
Titik nyala yang rendah menyulitkan penyimpanan dan pengangkutan.
(Anonim :1996 : 1-42)
8) Berat Jenis Bensin
Berat jenis sering dinyatakan dengan skala baume atau skala API.
Masing-masing skala ini dapat dinyatakan sebagai fungsi dari berat
jenis pada suhu 60 oF. Berat jenis bensin yang dipakai sebagai bahan
baker berkisar dari 0.71-0.76 atau 67-54 oBe atau 67.8-54.7 oAPI (BM.
Surbhakty : 1978 : 41).
Bensin merupakan campuran isomer-isomer heptana (C7H16) dan
oktana (C8H18) yang dihasilkan dari destilasi langsung minyak bumi,
terdiri dari hidrokarbon jenuh (alkana) rantai lurus / bercabang,
hidrokarbon rantai tertutup naftalena, sebagian kecil hidrokarbon
aromatic dan jarang sekali terdapat hidrokarbon tak jenuh olefin. Akan

tetapi jenis senyawa hidrokarbon tersebut tergantung juga dari jenis


asal minyak mentahnya.Pada umumnya bensin yang dipasarkan
sekarang ini merupakan hasil campuran dari beberapa komponen
bensin hasil destilasi langsung maupun bensin hasil dari proses
lanjutan seperti perengkahan reformasi, alkilasi, isomerisasi /
polimerisasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komposisi
kimia bensin yang dipakai sebagai bahan baker motor terdiri dari
hidrokarbon alifatik jenuh / tak jenuh, hidrokarbon siklik ataupun
hidrokarbon aromatik. (Semar 1988 : 75).
PENYIMPANAN BENSIN
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas bahan bakar
setelah proses pengolahannya selesai sampai dengan digunakan oleh
pemakai. Hal ini penyimpanan bahan bakar akan menyebabkan
terkontaminasinya bahan bakar tersebut seperti adanya air, logam,
asam, dan sebagainya sehingga menurunkan kualitas bahan bakar.
Pengaruh Penyimpanan
-Selama penyimpanan pada tangki, kualitas bahan bakar dapat
meningkat terutama karena kotoran yang bercampur selama proses
dan pengiriman dapat terpisah. Disamping itu air yang ada didalam
minyak atau bahan bakar juga akan terpisah dan mengendap pada
bagian bawah tangki sehingga bahan bakar menjadi lebih bersih.
-Kandungan endapan dan air yang di-ijinkan dalam bahan bkar biasanya
ditentukan dengan stndard tertentu. Pengujian kandungan endapan dan
air dilakukan dengan memakai sampel yang diputar pada gelas yang
bersih dan kemudian dilihat endapan dan air yang terkandung
didalamnya. Batas kandungan air dan endapan ditentukan dengan
standard tertentu, misalnya 0,05% kandungan air dan sedimen yang
dijinkan pada solar.
-Kesulitan yang lain adalah timbulnya oksidasi bila penyimpanannya
terlalu lama. Untuk mengatasi ini biasanya dilakukan pembungkusan
dengan gas nitrogen
-Kontaminasi mikrobiologi bisa terjadi dalam bahan bakar. Kalau ini
sampai terjadi maka akan terbentuk endapan-endapan yang
disebabkan oleh proses dari mikrobiologi tersebut seperti terjadinya
endapan air dan korosi serta timbul bau yang tidak enak. Lebih-lebih
kalau bercampur dengan bahan bakar dan tidak mengendap maka
bahan bakar menjadi keruh dan bila dilewatkan filter dapat menyumbat
filter. (Kasus solar di UNI SOVYET)
-Pembentukan sludge juga bisa terjadi termasuk pemisahan wax dari
solar. Bahan tambah harus diberikan untuk mengatasi maslah endapan
ini karena bisa menimbulkan masalah pada mesin.

-Kehilangan akibat penguapan bisa juga terjadi didalam penyimpanan.


Penguapan ini disamping merupakan kerugian karena pengurangan
juga merupakan polusi lingkungan.
-Oksidasi bisa terjadi selama penyimpanan dan menghasilkan kotoran
pada tanki penyimpan. Kotoran ini akan menyebabkan masalah yakni
dari kotoran pada pipa, filter, sampai ruang bakar. Adanya TEL pada
bahan bakar juga akan membantu terjadinya oksidasi.
Faktor Keamanan selama penyimpanan dan pengiriman
-Titik nyala bahan bakar akan sangat mempengaruhi kemudahan bahan
bakar untuk terbakar. Solar memiliki titik nyala sekitar 50 derajat
selsius sementara bensin memiliki titik nyala yang sangat rendah yakni
dibawah nol drajat selsius. Oleh karena itu masalah keselamatan orang
dan barang sangat diperlukan untuk dijaga dengan ketat agar tidak
terjadi kecelakaan.
-Listrik statis yang timbul pada bahan bakar juga merupakan bahaya
yang bisa menimbulkan kebakaran. Hal ini bisa terjadi terutama kalau
terjadi pemompaan dengan kecepatan tinggi.