Anda di halaman 1dari 17

FRAKTUR DAN CONGENITAL HIP DISEASE

Kelompok 7
Anggota:

1. Emmy Puji Astuti


2. Purwitasari
3. Radha Insyira Alief
4. Santi

Dosen Pembimbing: Antarini, Sp. An

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
PRODI D-IV KEPERAWATAN
2015

FRAKTUR
1. Definisi
Fraktur adalah kerusakan kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang
rawan sendi yang biasanya dengan melibatkan kerusakan vaskuler dan jaringan
sekitarnya yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan tenderness.
2. Patofisiologi
- Trauma yang mengakibatkan fraktur akan dapat merusak jaringan lunak disekitar
fraktur mulai dari otot fascia, kulit sampai struktur neuromuskuler atau organ-

organ penting lain.


Pada saat kejadian kerusakan tejadilah respon peradangan dengan pembentukan
gumpulan atau bekuan fibrin. Osteoblas mulai muncul dengan jumlah yang besar
untuk membentuk suatu matrix tulang baru antara fragmen fragmen tulang. Garam
kalsium dalam matrix membentuk kallus yang akan memberikan stabilitas dan

menyokong untuk pembentukan matrix baru.


Klasifikasi fraktur dapat dibedakan yaitu: fraktur terbuka; terdapat luka yang
menghubungkan tulang fraktur dengan permukaan kulit, fraktur tertutup; bila
mana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur denga permukaan kulit.
Fraktur komplit tidak komplit. Fraktur komplit; garis patah melalui seluruh
penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang. Fraktur inkomplit; garis
patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti; greenstick fraktur
mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya atau terpecahnya pada
samping tulang, buckle fraktur atau torus fraktur terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spingiosa dibawahnya.

3. Komplikasi
o Infeksi
o Kompartemen sindrom
o Kerusakan kulit; abrasi, laserasi, penetrasi, nekrosis
o Gangrene
o Emboli paru
o Trombosis vena
o ARDS
o Osteoporosis pascatrauma
o Ruptur tendon
o Syok; hemoragik, neurogenik
o Pembuluh darah robek
o Osteomielitis
o Tetanus
o Batu ginjal bila lama immobilisasi

4. Etiologi
Trauma karena; kecelakaan dari kendaraan, jatuh, olahraga, dan sekunder dari
penyakit; osteogenesis imperfekta dan kanker.
5. Manifestasi Klinis
- Nyeri atau tenderness
- Immobilisasi
- Menurunnya pergerakan
- Adanya krepitasi
- Ecchymosis dan eritema
- Spasme otot
- Deformitas
- Bengkak atau adanya memar
- Gangguan sensasi
- Hilangnya fungsi
- Menolak untuk berjalan atau bergerak
6. Pemeriksaan diagnostic
- Foto rontgen

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan darah; Hgb, Hct
Pemeriksaan; SGOT, LDH, kreatinin, dan alkaline phosphatase untuk
menentukan meluasnya kerusakan pada otot

7. Penatalaksanaan teraupetik
-

Pengobatan yang terkait dengan fraktur, mengurangi nyeri, mencegah perdarahan


dan edema, mengurangi spasme otot, meluruskan tulang yang patah ,
meningkatkan kesembuhan tulang, immobilisasi fraktur, dan mencegah

komplikasi.
Reduksi; reposisi pada tulang. Reduksi tertutup dilakukan dengan manipulasi
eksternal untuk meluruskan atau kesegarisan tulang yang patah ke posisi
sediakala. Open reduction and internal fixation (ORIF) yaitu dengan pembedahan,

adanya fiksasi internal yang membantu mempertahankan kelurusan tulang.


Retensi; gips, traksi; kulit dan skeletal.

Traksi kulit yang digunakan; Buck extension traction yang digunakan untuk
fraktur panggul, kontraktur, spasme otot, dan hernarthrosis.
Traksi Bryant digunakan untuk fraktur femur atau Congenital Hip Dysplasia.
Traksi Russel digunakan untuk stabilisasi fraktur femur.
Traksi servikal digunakan untuk fraktur servikal dan mengobati iritasi saraf dan otot
pada bahu dan lengan atas.
Traksi skeletal yang digunakan; traksi balanced suspension yang digunakan
untuk fraktur pelvis femur, 90/90 femoral traksi yang digunakan untuk stabilisasi
fraktur femur
Dunlop traksi yang digunakan untuk fraktur supracondylar pada humerus
Cruthfield tongs traksi yang digunakan untuk stabilisasi fraktur servikal, tulang
belakang torak dan dislokasi.
- Fasciotomy adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengurangi
-

tekanan yang terkait dengan compartment sindrom.


Tujuan traksi adalah mengembalikan posisi semula tulang yang patah,
mempertahankan kesegarisan (alignment), mengistirahatkan ekstremitas yang
patah, mencegah dan memperbaiki adanya kontraktur dan deformitas,
memperbaiki dislokasi, mengurangi spasme dan mengurangi nyeri.

Balance suspension

Jenis-jenis fraktur
Russell traction

Buck Extension traction

Cruthfield-tong traction

Bryant traction

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR


PENGKAJIAN
-

Riwayat fraktur
Muskuloskletal; deformitas skeletal, spasme otot, nyeri atau tenderness, krepitasi
Neurologi; hilangnya fungsi, perubahan sensasi, paresthesis, paralysis
Integument; bengkak, memar, laserasi
Kaji nadi bagian distal
Neuromuscular; ekstremitas dingin, pucat, hilangnya fungsi, bengkak, mati rasa,

geli
Perawat harus mengidentifikasi; nyeri, nadi, pucat, paresthesia, dan paralysis
Perubahan status neurovaskuler dan sirkulasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan bengkak
2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan, pembengkakan,
pemasangan gips dan atau traksi
3. Risiko injury berhubungan dengan gangguan neuromuskuler
4. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri untuk mobilisasi, dan
pemasangan gips atau traksi

6. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kondisi fraktur dan kebutuhan


perawatan
7. Risiko infeksi berhubungasn dengan fraktur terbuka
PERENCANAAN
1. Anak akan menunjukkan rasa nyeri berkurang yang ditandai dengan ekspresi wajah
relaks atau tidak tampak menyeringai dan merasa nyaman, dapat tidur, dan tidak
gelisah.
2. Perfusi jaringan perifer adekuat yang ditandai dengan nyeri berkurang, nadi kuat,
warna kulit pink dan hangat, pengisian kembali dipertahankan yang ditandai dengan
warna kulit dan temperature normal.
3. Anak terbebas dari injury dan integritas neuromuscular dapat dipertahankan yang
ditandai dengan warna kulit dan temperature normal, nadi perifer dapat teraba dan
kuat, dan tidak ada keluhan nyeri
4. Integritas kulit dapat dipertahankan dan tidak terjadi infeksi
5. Anak dapat melakukan mobilisasi pada ekstremitas yang tidak mengalami sakit
6. Secara verbal keluarga memahami perawatan yang dibutuhkan oleh anak yang
ditandai dengan aktif berpartisipasi dalam perawatan anak.
7. Anak tidak memperlihatkan tanda-tanda infeksi yang ditandai dengan tanda-tanda
vital dalam batas normal, luka kering, tidak terdapat purulent atau pus
IMPLEMENTASI
1. Meningkatkan rasa nyaman
- Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala nyeri
- Berikan support daerah fraktur atau terpasang gips/ traksi dengan bantal
- Atur posisi dengan posisi kesegarisan
- Merubah posisi anak secara hati-hati
- Hindari tempat tidur adanya getaran-getaran
2. Meningkatkan perfusi jaringan perifer yang adekuat
- Kaji nadi distal area fraktur setiap 2-4 jam
- Kaji warna kulit, suhu, capillary refill, bandingkan tekanan nadi pada area yang
tidak terlibat, tekanan, dan sensasi setiap 15 menit untuk jam pertama kemudian
-

setiap 2-4 jam


Kaji pergerakan daerah distal pada area fraktur
Support sirkulasi dengan mobilisasi daerah yang tidak terlibat seperti melakukan

pijatan daerah yang tertekan


3. Mempertahankan integritas neuromuskuler
- Kaji kebutuhan untuk pemasangan gips sesuai protocol
- Bersihkan daerah kulit untuk pemasangan gips atau traksi dan berikan pelapis gips
(cotton wool, padding dan lainnya)

Kaji status neuromuskuler setiap 2 jam setelah pemasangan gips atau traksi; warna
kulit, temperatur, pergerakan, nadi distal, pembengkakan, capillary refill dan

sensasi
Pertahankan integritas gips dengan memberikan sokongan bantal dan perubahan

posisi setiap 2-4 jam


Kaji traksi sesuai dengan gaya yang dibutuhkan, yakinkan bahwa beban tarikan

sesuai
4. Meningkatkan integritas kulit dan mencegah infeksi
- Kaji integritas kulit khususnya bagian menonjol dan tertekan
- Kaji area terpasangan kawat pada traksi setiap 4-8 jam
- Reposisi setiap 2 jam
- Lakukan pemijatan untuk meningkatkan sirkulasi
- Bersihkan dan keringkan kulit setiap 2 kali sehari
5. Mempertahankan mobilitas kulit
- Kaji kemampuan sendi dan kekuatan otot setiap 8 jam
- Pertahankan ketepatan kesegarisan pada area yang fraktur atau tubuh
- Lakukan ROM
- Monitor serum BUN dan creatinine phosphokinase (CPK)
- Gunakan stoking elastic untuk mencegah trombo emboli
6. Meningkatkan pengetahuan orang tua dan keluarga
- Jelaskan tentang kondisi anak
- Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan alasannya
- Ajarkan pada orang tua bagaimana mencegah infeksi
- Ajarkan untuk meningkatkan kesembuhan tulang; intake nutrisi tinggi protein dan
kalsium
7. Menghindari atau mencegah anak dari infeksi
- Kaji tanda-tanda infeksi; suhu tubuh, demam, pada luka; drainage, pus, atau
-

purulent
Lakukan perawatan luka dengan teknik steril
Berikan obat antibiotik bila indikasi sesuai program
Pertahankan balutan luka tetap bersih dan kering

PERENCANAAN PEMULANGAN
-

Kaji tingkat pemahaman orang tua dan anak tentang kondisi


Berikan informasi secara lisan atau tulisan untuk melakukan perawatan pada
pemasangan gips; menghindari, kerusakan gips; basah, bahan-bahan lain yang
dapat merusak gips, hindari penggarukan pada gips, jangan menggunakan lampu

panas untuk mengeringkan gips


Jelaskan untuk mengkaji status neuromuskuler
Diskusikan tentang perawatan kulit dan mengidentifikasi tanda dan gejala

kerusakan kulit dan infeksi


Diskusikan untuk aktivitas perawatan mandiri
Jelaskan pentingnya melakukan ROM, dan simulasikan pada orang tua dan anak

Jelaskan pada orang tua untuk tetap menstimulasi tumbuh kembang anak; bermain
dan mendukung kreativitas anak

EVALUASI
o Nyeri berkurang atau hilang
o Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler perifer
o Pertukaran gas adekuat
o Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
o Infeksi tidak terjadi
o Meningkatnya pemahaman klien terhadap penyakit yang dialami

CONGENITAL HIP DISEASES


A. DEFINISI
Congenital Dislocation Of The Hip (CDH) adalah deformitas ortopedik yang didapat
segera sebelum atau pada saat kelahiran, Kondisi ini mengacu pada malformasi sendi pinggul
selama perkembangan janin.
Congenital dislocatoin of hip atau biasa disebut pergeseran sendi atau tulang semenjak
lahir. Suatu bentuk kelainan pada persendian yang ditemukan pada bayi baru lahir.Congenital
dislocatoin of hip terjadi dengan kejadian 1,5 per 1.000 kelahiran dan lebih umum terjadi

pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.penyebab hal ini belum diketahui tapi diduga
melibatkan faktor genetik.

B. ETIOLOGI

Kebanyakan bayi yang lahir dengan Congenital dislocatoin of hip memiliki orang tua yang
jelas-jelas tidak memiliki gangguan kesehatan maupun faktor resiko. Seorang wanita hamil
yang telah mengikuti semua nasihat dokternya agar kelak melahirkan bayi yang sehat,
mungkin saja nanti melahirkan bayi yang memiliki kelainan bawaan. 60% kasus kelainan
bawaan penyebabnya tidak diketahui; sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan atau genetik
atau kombinasi dari keduanya.
1. Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan. Radiasi, obat tertentu dan racun
merupakan teratogen.
2. Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari
teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik. Salah satu zat yang
penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat. Kekurangan asam folat bisa
meningkatkan resiko terjadinya spina bifida atau kelainan tabung saraf lainnya.
Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil,

maka setiap wanita usia subur sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak
400 mikrogram/hari.
3. Faktor fisik pada rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan
pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa menyebabkan
atau menunjukkan adanya kelainan bawaan.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paru-paru dan
anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat
proses pembentukan air kemih.
Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa
disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).
4.

Faktor genetik dan kromosom


Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan. Beberapa
kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang diwariskan melalui gen yang
abnormal dari salah satu atau kedua orang tua. Gen adalah pembawa sifat individu yang
terdapat di dalam kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau
cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.

Informasi yang diperoleh dari ortopedi Radiologi oleh Adam Greenspan tentang
Congenital dislocatoin of hip tentang pergeseran pada panggul adalah:
a. Y-line adalah garis yang ditarik melalui bagian superior dari tulang rawan triradiate.
Pada bayi normal, jarak yang diwakili oleh baris (ab) tegak lurus garis-Y pada titik paling
proksimal leher femoralis harus sama di kedua sisi panggul, sebagaimana seharusnya jarak
diwakili oleh garis (bc) ditarik bertepatan dengan garis-Y medial ke lantai acetabular. Pada
bayi usia enam sampai tujuh bulan, nilai rata-rata untuk jarak (ab) menjadi 19,3 mm + / - 1,5
mm; untuk jarak (bc), 18,2 mm + / - 1,4 mm.
b.Garis Perkins-Ombredanne ditarik tegak lurus dengan garis-Y, melalui tepi paling
lateral acetabular tulang rawan kaku, yang benar-benar sesuai dengan spina iliaka
anteroinferior pada bayi baru lahir normal dan bayi, aspek medial femur atau leher kaku
modal femoral epiphysis jatuh di dalam kuadran yang lebih rendah. Munculnya salah satu

dari struktur di kuadran luar atau lebih rendah menunjukkan subluksasi atau dislokasi
pinggul.
c. The Rosen von Andren-line, yang diperoleh dengan setidaknya 45 derajat dari
pinggul dan rotasi internal, digambarkan sepanjang sumbu longitudinal batang femoralis.
Dalam pinggul normal, memotong panggul di tepi atas acetabulum tersebut.
d. Dalam subluksasi atau dislokasi pinggul, baris membagi-dua atau jatuh di atas tulang
belakang anteorsuperior iliaka.
C. MANIFESTASI KLINIK
1. Bayi
a.

Kemungkinan tidak ada bukti gejala karena bayi dapat mengalami kesalahan

tempat femur minimal


b. Lipatan gluteal yang tidak sejajar (posisi pronasi)
c. Pemendekan ekstremitas pada tempat yang terkena
d. Abduksi terbatas pada pinggul sisi yang terkena
e. Adanya tanda-tanda Galeazzi
f. Temuan positif saat dilakukan Manuver Barlow
g. Temuan positif saat dilakukan maneuver ortolani
2. Toddler dan anak yang lebih tua
a. Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi pinggul bilateral)
b. Peningkatan lordosis lumbal (punggung cekung) saat berdiri (dislokasi pinggul
bilateral)
c. Tungkai yang terkena lebih pendek dari yang lain
d. Temuan positif pada uji trendeelenburg
e. Pincang.
D. PATOFISIOLOGI
Dysplasia perkembangan pinggul (developmental dysplasia of the hip, DDH) atau
congenital dislocation of the hip merupakan ketidak normalan perkembangan antara kaput
femur dan asetabulum. Pinggul merupakan suatu bonggol (kaput femur) dan mangkuk
(asetabulum) sendi yang memberikan gerakan dan stabilitas pinggul. Terdapat tiga pola
dalam CDH :
1.

Dysplasia asetabular (perkembangan tidak normal )- keterlambatan dalam

perkembangan asetabulum sehingga lebih dangkal dari normal, kaput femur tetap
dalam asetabulum ;

2. Subluksasi dislokasi pinggul yang tidak normal ; kaput femur tidak sepenuhnya
keluar dari asetabulum dan dapat berdislokasi secara parsial ; dan
3. Dislokasi pinggul berada pada posisi dislokasi, dan kaput femur tidak
bersentuhan dengan asetabulum. DDH pada akhirnya dapat berkembang menjadi
reduksi permanen, dislokasi lengkap, atau dysplasia akibat perubahan adaptif yang
terjadi pada jaringan dan tulang yang berdekatan.

E. PENATALAKSANAAN
Penanganan bervariasi sesuai keparahan manifestasi klinis, usia anak, dan tingkat
dysplasia. Jika dislokasi terkoreksi pada pada beberapa hari pertama sampai beberapa minggu
kehidupan, kesempatan untuk berkembangnya pinggul normal akan lebih besar. Selama
periode neonatal, pengaturan posisi dan mempertahankan pinggul tetap fleksi dan abduksi
dapat dicapai dengan menggunakan alat bantu pengoreksi. Antara usia 6 dan 18 bulan, traksi
digunakan diikuti dengan imobilisasi gips. Jika jaringan lunak menghalangi dan menyulitkan
penurunan dan perkembangan sendi, dilakukan reduksi tertutup maupun terbuka (bergantung
pada apakah ada atau tidak kontraktur otot-otot adductor dan kesalahan letak kaput femur
yang terjadi) dan gips spika pinggul di pasang
F. KOMPLIKASI
1. Displasia asetabular persisten
2. Dislokasi berulang
3. Nekrosis avaskular iatrogenic pada kaput femur
G. INSIDEN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

CDH terjadi pada 1 atau 1,2 dari 100 kelahiran hidup


Di Amerika serikat, sekitar 38.900 sampai 46.000 bayi terkena setiap tahun.
Rasio wanita/pria adalah 6 : 1
Insidens meningkat dengan adanya presentasi bokong.
Peningkatan insidens terbukti diantara saudara kandung anak yang terinfeksi
Bila hanya 1 pinggul yang terkena, pinggul kiri lebih sering terkena dari pada

pinggul kanan
7. Sering ada hubungannya dengan ketidaknormalan muskuluskeletal dan renal
congenital lain.

8. Peningkatan insidens terlihat diantara kultur yang membedung bayi terlalu rapat
dan mengikat bayi pada papan ayunan selama bulan-bulan awal kehidupan.
9. Ada hubungan antara CDH dan perkembangan arthritis pinggul sekunder pada
awal masa dewasa.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan yang paling penting adalah pemeriksaan USG, pada bayi yang agak besar
atau anak-anak dapat dilakukan rontgen.
1) Rontgen
Menunjukkan lokasi / luasnya fraktur / trauma
2) Scan tulang, tonogram, CT scan / MRI
Memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan
lunak.
3) Pemeriksaan radiografi pelvis anteroposterior dan lauenstein lateral didapatkan (kaji
tingkat kesalahan letak atau dislokasi femur ; tidak berguna pada bayi yang berusia kurang
dari 1 bulan).
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian muskuloskeletal
a. Fungsi motorik kasar
1)

Ukuran otot : adanya atrofi atau hipertrofi otot ; kesimetrisan massa otot

2)

Tonus otot : spastisitas, kelemahan, rentang gerak terbatas

3)

Kekuatan

4)

Gerakan abnormal : tremor, distonia, atetosis

b. Fungsi motorik halus


1)

Manipulasi mainan

2)

Menggambar

c. Gaya berjalan : ayunan lengan dan kaki, gaya tumit jari


d. Pengendalian postur
1)

Mempertahankan posisi tegak

2)

Adanya ataksia

3)

Bergoyang-goyang

e. Persendian
1)

Rentang gerak

2)

Kontraktur

3)

Kemerahan, edema, nyeri

4)

Tonjolan abnormal

f. Tulang belakang
1)

Lengkung tulang belakang : skoliosis, kifosis

2)

Adanya lesung pilonidal

g. Pinggul
1)

Abduksi

2)

Adduksi

2. Criteria pengkajian
a. Maneuver ortolani
b. Maneuver barlow
c. Tanda galeazzi
d. Uji trendelenburg
3.
4.
5.
6.
B.

Kaji tanda tanda iritasi kulit


Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dengan adanya gips spika.
Kaji tingkat perkembangan anak
Kaji kemampuan pasien untuk mengelola perawatan gips spika di rumah.
DIAGNOSA
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dislokasi
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri saat mobilisasi
3. Gangguan bodi image berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh

C.

RENCANA TINDAKAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dislokasi
Tujuan :Nyeri dapat berkurang atau hilang

Criteria hasil : Nyeri berkurang, Klien tampak tenang


a.

Kaji tingkat nyeri

Rasional : Untuk mengetahui skala Nyeri


b. Atur posisi senyaman mungkin
Rasional : Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri
c.

Ajarkan tekhnik relaksasi

Rasional : Merelaksasi otot-otot tubuh


d. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Menghiangkan rasa nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri saat mobilisasi
Tujuan : Klien dapat bergerak bebas
Criteria hasil : Klien dapat bergerak bebas
a.

Kaji tingkat mobilisasi klien

Rasional : Mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman


tindakan selanjutnya
b. Beri latihan ROM
Rasional : Memulihkan atau meningkatkan fungsi sendi dan kekuatan otot
yang berkurang karena proses penyakit atau kecelakaan
c.

Anjurkan alat bantu jika dibutuhkan

Rasional : membantu dalam melakukan suatu hal


3. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh
Tujuan : Masalah klien teratasi
Criteria hasil : Klien dapat menungkapkan masalahnya
a.

Kaji konsep diri

Rasional : Mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman


tindakan selanjutnya
b. Bantu klien mengungkapkan masalahnya
Rasional : Memberikan minat dan perhatian serta memperbaiki kesalahan
konsep
c.

Berikan dukungan spiritual kepada klien

Rasional : Agar klien tetap bersemangat dan tidak berputus asa terhadap
perubahan status kesehatannya

D. EVALUASI
Hasil yang diharapkan:
1.

Pinggul bayi atau anak akan tetap pada posisi yang diharapkan

2.

Kulit bayi atau anak akan tetap utuh tanpa kemerahan atau kerusakan

Orang tua akan mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk mengakomodasi alat bantu
pengoreksi bayi / anak atau gips spika pin
DAFTAR PUSTAKA

Haryanto (ed.). 2010. Asuhan Keprawatan pada Anak. Jakarta: Sagung Seto.
https://www.scribd.com/doc/217902593/WOC-FRAKTUR
Daffmoxe. 2011. Askep Pada Anak Dengan Gangguan Sistem.
http://daffmoxe.blogspot.co.id/2011/04/askep-pada-anak-dengan-gangguan
sistem.html. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015.