Anda di halaman 1dari 6

RESUME

AKUNTANSI PERBANKAN
AKUNTANSI AKTIVA LAIN-LAIN

Setelah Saya Membuat Resume Ini, Saya Sudah Memahaminya


Dan Layak Mendapat Nilai B+

OLEH:
NAMA

: HILMAN

NIM

: A1C013040

PRODI

: S1 AKUNTANSI REGULER PAGI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MATARAM
2015

Aktiva lain-lain merupakan pos yang dimaksudkan untuk menampung aktiva-aktiva yang
tidak dapat digolongkan dalam pos-pos aktiva di atas dan tidak cukup material disajikan dalam
pos tersendiri. Sebagai contoh: emas batangan, mata uang asing yang ditarik dari peredaran,
commemorative coin, agunan yang diambil-alih, biaya yang ditangguhkan, biaya dibayar di
muka, persekot internal, uang muka pajak penghasilan, dan lain-lain, dicatat dalam aktiva lainlain. Biaya yang ditangguhkan adalah biaya yang telah dikeluarkan tetapi belum diakui sebagai
beban pada periode terjadinya karena memberikan manfaat bagi periode selanjutnya, antara lain
biaya pengembangan, dan sebagainya. Biaya yang ditangguhkan tersebut diamortisasi secara
sistematis selama taksiran jangka waktu manfaat biaya tersebut. Biaya yang termasuk dalam
golongan biaya yang ditangguhkan antara lain:

Biaya pra-operasi, yaitu biaya yang terjadi sebelum bank menjalankan usahanya secara
komersial

Biaya emisi saham dan emisi obligasi, yaitu biaya yang terjadi dalam rangka penerbitan
(emisi) saham bank atau obligasi, yang meliputi biaya notaris, akuntan publik,
underwriter, konsultan hukum, penilai, dan biaya lain.

BIAYA DIBAYAR DI MUKA


Biaya dibayar di muka adalah biaya yang telah dibayar, yang akan digunakan untuk
kegiatan perusahaan yang akan datang. Biaya dibayar di muka dimaksudkan sebagai biaya yang
telah dibayarkan tetapi belum menjadi beban periode yang bersangkutan, seperti: premi asuransi
dibayar di muka, sewa dibayar di muka, bunga dibayar di muka, gaji dibayar di muka, dan lain
sebagainya. Biaya dibayar di muka memberikan manfaat untuk periode yang akan datang dan
disajikan sebesar jumlah yang belum diamortisasi.
Biaya dibayar di muka dapat diakui sebagai beban dalam periode berjalan, berdasarkan:

Telah berlalunya waktu, yang dilakukan dengan mengalokasikan biaya dibayar di muka
secara sistematis sepanjang periode yang menerima manfaat, atau

Sudah tidak dapat memberikan manfaat ekonomis untuuk kegiatan di masa yang akan
datang.

Terdapat dua tahapan pembukuan yang dilakukan berkaitan dengan transaksi biaya dibayar di
muka, meliputi pembayaran dibayar di muka dan pembebanan biaya.
1. Pembayaran Biaya Dibayar di Muka
Pada saat melakukan pembayaran uang muka, maka pembayaran tersebut seluruhnya
dicatat sebagai biaya dibayar di muka dan dicatat dalam neraca. Contoh transaksi
pembukuan berakaitan dengan pembayaran biaya dibayar di muka:
a. Pembayaran sewa kantor sebesar Rp 18.000.000 untuk jangka waktu selama tiga
tahun. Jurnalnya:
Sewa Kantor Dibayar di Muka

Rp 18.000.000

Kas

Rp 18.000.000

b. Pembayaran premi asuransi kebakaran gedung kantor sebesar Rp 3.600.000 untuk


jangka waktu selama tiga tahun.
Premi Asuransi Dibayar di Muka

Rp 3.600.000

Kas

Rp 3.600.000

c. Pembayaran biaya pendirian yang akan memberikan manfaat di masa depan sebesar
Rp 36.000.000 untuk jangka waktu selama tiga tahun.
Biaya yang Ditangguhkan Biaya Pendirian
Kas

Rp 36.000.000
Rp 36.000.000

2. Pembebanan Biaya
Pembebanan biaya dapat dilakukan denga dua cara, yaitu pembebanan biaya berdasarkan
berlalunya waktu dan pembebanan biaya sekaligus.
a. Pembebanan biaya berdasarkan berlalunya waktu: biaya dibayar di muka
dialokasikan secara sistematis sepanjang periode yang menerima manfaat.
Pembebanan biaya ini dilakukan secara harian, yang dilakukan pada saat proses akhir
hari. Contoh pembebanan ke biaya secara sistematis sebagai berikut:

Biaya Sewa Kantor

Rp 16.667

Sewa Kantor Dibayar di Muka

Rp 16.667

atau
Biaya Premi Asuransi Kebakaran Kantor

Rp 3.333

Premi Asuransi Dibayar di Muka

Rp 3.333

atau
Amortisasi Biaya Pendirian

Rp 33.333

Biaya yang Ditangguhkan Biaya Pendirian

Rp 33.333

b. Pembebanan Biaya Dibayar di Muka Dibebankan Sekaligus karena sudah tidak


dapat memberikan manfaat ekonomis untuk kegiatan di masa yang akan datang.
Misalkan pada akhir tahun kedua, bank memutuskan untuk menghentikan pemakaian
kantor tersebut di atas, maka sewa dibayar di muka harus dibukukan sebagai biaya
denga jurnal:
Biaya Sewa Kantor

Rp 6.000.000

Sewa Kantor Dibayar di Muka

Rp 6.000.000

PERSEKOT
Persekot terdiri dari persekot internal dan persekot eksternal. Persekot internal adalah
pengeluaran uang tanpa surat perjanjian pinjam meminjam uang dengan pihak internal bank yang
penyelesaiannya segera setelah ada putusan. Sedangkan persekot eksternal adalah pengeluaran
yang diberikan secara terpaksa kepada pihak ketiga tanpa adanya surat perjanjian pinjam
meminjam uang yang bertujuan untuk mengamankan kepetingan bank. Penyelesaian dilakukan
segera setelah ada putusan.
Berikut ini adalah contoh transaksi pembukuan berkaitan dengan persekot internal beban
pegawai, misalkan jumlah persekot sebesar Rp. 1.500.000 yaitu:

Pada saat terjadinya persekot internal


Persekot Internal Beban Pegawai

Rp. 1.500.000

Kas Kantor/Rekening Pihak Ketiga

Rp. 1.500.000

Pada saat penihilan persekot internal


Kas Kantor/Rekening Pegawai
Persekot Internal Beban Pegawai

Rp. 1.500.000
Rp. 1.500.000

Selanjutnya berikut ini adalah contoh transaksi pembukuan berkaitan dengan persekot internal
beban perusahaan, misalkan jumlah persekot internal sebesar Rp 20.000.000 yaitu:

Pada saat terjadinya persekot internal


Persekot Internal Beban Perusahaan
Kas Kantor/Rekening Pihak Ketiga

Rp 20.000.000
Rp 20.000.000

Pada saat penihilan persekot internal dan membukukan ke rekening yang seharusnya
Biaya/

Rp 25.000.000

Aktiva

Rp 25.000.000
Persekot Internal Beban Perusahaan

Rp 20.000.000

Kas Kantor/Rekening Pihak Ketiga

Rp 5.000.000

(jika biaya/aktiva

dari persekot internal)

PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA LAIN-LAIN


Berdasarkan SK BI No. 31/148/KEP/DIR Tanggal 12 November 1998, aktiva lain-lain
harus dibentuk PPAP minimal sebesar sebagai berikut:

Cadangan Umum sebesar 1% x Aktiva Produktif Lancar x Risiko Bank

Cadangan Khusus sebesar:

5% x Aktiva Produktif Dalam Perhatian Khusus (DPK) x Risiko Bank

15% x (Aktiva Produktif Lancar Nilai Agunan) x Risiko Bank

50% x (Aktiva Produktif Diragukan Nilai Agunan) Risiko Bank

100% x (Aktiva Produktif Macet Nilai Agunan) Risiko Bank

Sedangkan prosedur pembukuan PPAP adalah sebagai berikut: Apabila PPAP yang harus
dibentuk masih kurang dibandingkan dengan yang tersedia, maka harus dilakukan pembukuan
penambahan PPAP dengan cara mengkredit PPAP dengan debit biaya PPAP, sedangkan bila
PPAP yang harus dibentuk lebih kecil dari PPAP yang tersedia dilakukan pembukuan sebaliknya.
Cara perhitungan pembentukan PPAP seperti yang dijelaskan di atas, sedangkan jurnal transaksi
pembukuan pembentukan PPAP aktiva lain-lain adalah sebagai berikut:

Saat melakukan pencadangan aktiva lain-lain setiap akhir bulan:


Biaya Cadangan Aktiva Lain-Lain
Penyisihan Penghapusan Aktiva Lain-Lain

Pada saat melakukan penghapusan aktiva lain-lain:


Penyisihan Penghapusan Aktiva Lain-Lain
Aktiva Lain-Lain yang Dihapus

Aktiva lain-lain inilah yang akan nampak dalam laporan neraca pada pos aktiva lainlain. Sedangkan pendapatan atau biaya yang terjadi berkaitan dengan aktiva lain-lain tersebut
akan tercatat dalam laporan laba rugi pada pos pendapatan/biaya lain-lain.

Sumber:
Bastian, Indra, Suhardjono. 2006. Akuntansi Perbankan Buku 1. Jakarta: Salemba Empat