Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU GULMA

ACARA VI
ANALISA VEGETASI

OLEH:
Nama

: 1.

Annisa Riska Wahyuni


NIM: C1M012027
2. Dedy Azwar Saputra
NIM: C1M012039
Kelompok:III (tiga)

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014

ACARA VI
ANALISA VEGETASI
A. Tujuan : Untuk mengetahui cara analisa vegetasi gulma
B. Tinjauan Pustaka
B.1. Distribusi dan Penyebaran Gulma
Penyebaran gulma biasanya tidak dikehendaki keberadaannya karena
memiliki pengaruh yang negatif terhadap tanaman pertanian.Tanaman gulma
mempunyai daya kompetisi yang sangat tinggi sehingga gulma dianggap sebagai
tanaman yang merugikan manusia karena daya kompetisinya tinggi yang dapat
menurunkan hasil panen.Kompetisi semacam ini dapat berupa kompetisi ruang,
air, hara, maupun cahaya. Penyebaran dan pengendalian gulma dapat
menyebabkan kurangnya mutu hasil pasca panen. Beberapa bagian dari gulma
yang ikut terpanen akan memberikan pengaruh negatif terhadap hasil panenan
(pasca panen). Misalnya dapat meracuni, mengotori, menurunkan kemurnian,
ataupun memberikan rasa dan bau yang tidak asli. Adanya tanaman gulma dalam
jumlah populasi yang tinggi akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan
kegiatan pertanian dan menghambat kelancaran aktivitas pertanian. Misalnya
pemupukan, pemanenan dengan alat-alat mekanis, dan lain-lain (Nasution, 1986).
Perkembangbiakan gulma sangat mudah dan cepat, baik secara generatif
maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan, dan
berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun
manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang
berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk
tumbuhan baru.Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma,
dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru jika terpotong-potong
(Barus, 2003).
Sifat unggul yang dimiliki gulma tetapi tidak dimiliki oleh tanaman
budidaya pada umumnya adalah:
Daya adaptasinya tinggi. Gulma seperti alang-alang mampu mengubah
lingkungan yang kurang kondusif (contohnya pH tanah) sehingga sesuai untuk
pertumbuhannya. Alang-alang bersimbiose dengan mikoriza yang membantu

penyerapan unsur fosfor dari tanah. Karena itu, banyak gulma mampu hidup pada
tanah-tanah yang kritis. Dan dapat menyebar ke lokasi yang jauh. Gulma gulma
tertentu memiliki sarana bantu untuk menyebarluaskan biji-bijinya, seperti
rambut-rambut atau sayap. Organ tersebut memudahkan gulma menyebar dengan
bantuan angin, angin atau hewan (Marsono, D, 2004).
B.2. Perlunya Pengembangan Teknik Pengamatan Gulma yang Sederhana
dan Tepat di Lapangan
Identifikasi gulma adalah suatu metode pengenalan gulma dengan cara
menentukan nama botani dan takson gulma yang akan dikenali. Dalam melakukan
identifikasi gulma diperlukan pengetahuan dasar ilmu botani, alat bantu seperti
buku pedoman identifikasi, herbarium, dan sebagainya, serta latihan keterampilan.
Ada empat macam pengabilan sampel dari lahan yaitu pengambilan sampel secara
langsung, secara acak tidak langsung, pengambilan sampel bertingkat dan
pengambilan sampel beraturan (Sukman, 1991).
Konsepsi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi,
tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Misalnya apakah ditujukan
untuk mempelajari tingkat suksesi, apakah untuk evaluasi hasil suatu
pengendalian gulma. Metode yang digunakan harus disesuaikan dengan struktur
dan komposisi vegetasi. Untuk areal yang luas dengan vegetasi semak rendah
misalnya, digunakan metode garis (line intersept), untuk pengamatan sebuah
contoh petak dengan vegetasi tumbuh menjalar (cpeeping) digunakan metode
titik (point intercept) dan untuk suatu survei daerah yang luas dan tidak tersedia
cukup waktu, estimasi visual (visual estimation) mungkin dapat digunakan oleh
peneliti yang sudah berpengalaman. Juga harus diperhatikan keadaan geologi,
tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya, serta
fasilitas kerja/keadaan, seperti peta lokasi yang bisa dicapai, waktu yang tersedia,
dan lain sebagainya; semuanya untuk memperoleh efisiensi (Tjitrosoedirdjo, dkk.,
1984).
C. Tempat dan waktu Praktikum: Praktikum ini dilaksanakan di halaman
Fakultas Pertania Universitas Mataram pada hari Minggu 24 November 2013
pukul 08.00 WITA.

D. Bahan dan Alat: Tali rafis,patok, meteran, gunting, buku identifikasi gulma,
alat tulis-menulis.
E. Metode percobaan:
Metode Kuadrat. Yang dimaksud kuadrat disini adalah ukuran luas dalam
satuan kuadrat (m2, cm2, dsb), tetapi bentuk petak-contoh dapar berupa segi
empat, segi-panjang ataupun lingkaran. Untuk vegetasi yang pendek/rendah,
bentuk lingkaran lebih menguntungkan karena ukurannya dapat diperluas
dengan cepat dan teliti dengan menggunakan seutas tali yang dikaitkan pada
titik pusat petak. Untuk gulma berbebtuk herba rendah lebih efisien
menggunakan metode kuadrat segi-panjang dari pada kuadrat segi-empat,
karena kelompok tumbuhan berkembang membentuk sebuah lingkaran.
Dengan kuadrat segi panjang akan lebih memungkinkan memotong kelompok
tumbuhan dan lebih banyak kelompok yang bisa diamati. Jika yang ditinjau
distribusi suatu kelompok tumbuhan, kuadrat lingkaran kurang efiasien
dibanding semua bentuk segi-empat, tetapi lingkaran mempunyai keuntungan
dibanding semua bentuk geometri lainnya karena lingkaran mempunyai
perbandingan terkecil antara tepi dan luasnya. Bentuk lingkaran juga paling
cocok untuk evaluasi asosiasi gulma di daerah yang luas dan bila
menggunakan sampling estimasi visual.
Penentuan Luas/Jumlah minimal Petak Contoh
Karena luas dan keadaan vegetasi yang sangat bervariasi maka yang selalu
menimbulkan pertanyaan adalah berapa luas/jumlah petak contoh yang
memedai. Terutama bila kita hanya menggunakan petak contoh tunggal
(gambar 2), luas yang memadai harus kita tentukan. Luas/jumlah petakcontoh minimal ini berbentuk kaudrat atau lingkaran, dapat ditentukan dengan
menyusun sebuah kurva-jenis.
Caranya:
1. Pilih satu komunitas vegetasi yang dapat dipakai sebagaia contoh acak,
tentukan batasnya.
2. Dst.
E. Hasil :
Tabel 1. Lembar Data untuk Kurva Luas/Jumlah Minimal Petak-Contoh
Tanggal : Minggu, 24 November 2013
Lokasi : Kebun Fakultas Pertanian Unram
No Jenis
Petak-Contoh No.
1
2
3
4
5
6 7 8 9 10
1 Vernonia cneria

(L.)
2 Euphorbia hirta

L.

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Spilanthes
paniculata
Murdannia
spirata (L)
Bruddner
Cleume
rutidusperma DC
Melastoma afine
D. Don
Basilicum
polistachyon (L)
Cyperus rotundus
Ipomoea tiloba L.
Phillanthus
debilis Klein
exwild
Phillanthus niruri
cyperus
brevifolius
Tridax
procumbens L.
Stachytaspheta
jamaicensis (L)
Vehl
Azolla pinnata R.
Br.

Dari lembar data petak contoh:


p.c. (1)
ditemukan 12 jenis
p.c. (1 + 2)
ditemukan 13 jenis
p.c. (1 + 2 + 3)
ditemukan 14 jenis
p.c. (1 + 2 + 3 + 4)
ditemukan 15 jenis
Grafik: Terlampir

F. Pembahasan:
Ada berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini.
Diantaranya dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan
kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena
tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.
Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk
melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan
waktu yang sangat lama. Selain menggunakan metode kuadran, analisis vegetasi
juga dapat dilakukan dengan metode titik dan metode garis.
Penyebaran gulma dari tempat satu ketempat lain dapat terjadi melalui
aktivitas gulma itu sendiri atau dengan bantuan baik alam maupun mahluk hidup.
Faktor alam yang dapat membantu penyebaran gulma diantaranya angin, air, dan
tanah. Sedangkan mahluk hidup yang dapat membantu penyebaran diantaranya
hewan mamalia, burung dan manusia.
Praktikum ini bertujuan menganalisis vegetasi gulma dengan menggunakan
metode kuadrat. Jenis gulma yang paling banyak muncul adalah Vernonia cneria
(L.) Murdannia spirata (L) Bruddner dan Cyperus rotunduns. Untuk mendapatkan
luas minimum, disusun sebuah grafik dari data yang diperoleh. Perlu dipahami
bahwa luas minimum jika penambahan jumlah jenis tidak melebihi 10 %. Dari
masing-masing petak dilakukan analisis vegetasi berdasarkan variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi. Garis m ditarik dari titik 0 ke koordinat A dari jumlah
jenis dan 10% dari luas petak. Garis m ini merupakan tempat kedudukan dari 10%
luas petak contoh adalah luas daerah minimum yang mewakili jumlah jenis. Garis
sejajar antara garis m dengan garis n akan menyinggung kurva k. Proyeksi k pada
sumbu x memepunyai luas minimum didapat dari jumlah jenis gulma total yakni
15x10%=1,5 m2. Garis ini dapat dibuat karena perbedaan pada tiap petak kurang
dari 10% yaitu hanya memeiliki satu perbedaan.

F. Kesimpulan:
1. Analisia vegetasi gulma dapat menggunakan metode kuadrat.
2. Luas minimum petak contak yaitu 1,5 m2
3. Jenis gulma yang paling banyak muncul adalah Vernonia cneria (L.) Murdannia
spirata (L) Bruddner dan Cyperus rotunduns

Daftar Pustaka
Nasution. 1986. Ilmu Gulma. PT Raja Grafindo. Jakarta.
Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup.
Yogyakarta : BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Sekolah Tinggi
Teknik Lingkungan (STTL).
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di
Perkebunan.
PT Gramedia, Jakarta.
Sukman, Yernelis. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers,
Jakarta.
Barus, Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius: Yogyakarta.