Anda di halaman 1dari 10

Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah

Dengue (PSN-DBD)

adalah seluruh kegiatan masyarakat bersama pemerintah yang dilakukan secara


keseimbangan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit DBD, terutama dalam
memberantas jentik nyamuk penularan, sehingga penularan penyakit DBD dapat dicegah atau
dibatasi.
Sasaran Gerakan PSN-DBD adalah agar semua keluarga dan pengelola tempat umum
melaksnakan PSN-DBD serta menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing,
sehingga bebas dari jentik nyamuk aedes aegypty. Selain itu tentang gerakan ini, semua
keluarga juga diharapkan untuk (Depkes, 2001) :
a.

Melakukan konsultasi (memeriksakan) kepada petugas kesehatan jika ada anggota keluarga
yang sakit dan diduga menderita penyakit DBD, karena penderita penyakit ini perlu segera
mendapat pertolongan.

b.

Melaporkan kepada Kepala Desa/ Kelurahan, jika ada anggota keluarga yang menderita
penyakit DBD, agar dilakukan pergerakan masyarakat di sekitarnya guna mencegah
meluasnya penyakit ini.

c.

Membantu kelancaran penanggulangan kejadian penyakit DBD yang dilakukan oleh petugas
kesehatan.
Sasaran wilayah yang diprioritaskan adalah Kecamatan endemis dan Kecamatan
sporadis. Di wilayah ini, pada akhir pelita VI diharapkan angka kesakitannya menjadi kurang
dari 30 per 10.000 penduduk dan persentase rumah/tempat umum yang bebas jentik (ABJ :
Angka Bebas Jentik) mencapai angka 95 % atau lebih (Depkes RI, 1999).
Metoda yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan persuasif melalui berbagai
kegiatan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat. Gerakan PSN-DBD di Desa/kelurahan
dikoordinasikan oleh kelompok kerja pemberantasan penyakit DBD atau disingkat pokja
DBD, yang merupakan forum koordinasi lintas program/sektoral dalam pembinaan upaya

pemberantasan penyakit DBD yang secara organisasi berada di bawah serta bertanggung
jawab kepada Ketua Harian Tim Pembina LKMD (Warta DBD, 2001).
2.1. Pokok-Pokok Kegiatan Penggerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk
2.1.1. Penggerakan PSN-DBD di Desa/Kelurahan
Sasaran gerakan pemberantasan sarang nyamuk di Desa/ kelurahan adalah keluarga
yaitu dilaksanakannya pemberantasan sarang nyamuk di rumah-rumah secara terus menerus.
Kegiatan rutin penggerakan pemberantasan sarang nyamuk meliputi :
a.

Kunjungan rumah berkala sekurang-kurangnya tiap 3 bulan (untuk penyuluhan dan


pemeriksaan jentik) oleh kader di Tingkat RT/RW, Kader Dasawisma atau tenaga lain sesuai
kesepakatan masyarakat setempat. Pelaksanaan kegiatan kunjungan rumah berkala ini
dibimbing oleh Kader Tingkat Desa/Kelurahan (kader inti) yang telah dilatih oleh petugas
Puskesmas.

b.

Penyuluhan kelompok masyarakat oleh kader dan tokoh masyarakat, di posyandu, tempat
ibadah dan di tempat pertemuan-pertemuan masyarakat.

c.

Kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk dan kebersihan lingkungan secara berkala.

2.1.2. Penyuluhan, Motivasi dan Pemantauan Penggerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk.


Penyuluhan kepada masyarakat luas dilaksanakan melalui media masa

seperti : TV,

radio, bioskop, surat kabar, majalah dan sebagainya. Motivasi tentang pemberantasan sarang
nyamuk bisa dilakukan antara lain misalnya lomba PSN antar Desa.
Pemantauan Penggerakan PSN-DBD di Desa dipantau secara berkala minimal 3 bulan
oleh Pokjanal DBD Tingkat Kecamatan dan Pokjanal DBD Tingkat Kabupaten/Kodya.
Pemantauan dilaksanakan antara lain dengan melakukan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)
pada sejumlah sampel rumah.

Sebagai indikator kebersihan penggerakan PSN-DBD yang digunakan adalah Angka


Bebas Jentik (ABJ) yaitu persentase rumah yang tidak dikemukakan jentik. Hasil pemantauan
disajikan dalam form PWS PSN-DBD dibahas dalam pertemuan berkala oleh masing-masing
instansi/lembaga yang bersangkutan.
2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Melakukan Pemberantasan
Sarang Nyamuk Aedes Aegypty
Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat melakukan pemberantasan sarang
nyamuk aedes aegypty dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap, ketersediaan sarana dan
sosial ekonomi masyarakat. Hambatan yang ada yaitu bahwa pemahaman/ pengetahuan
masyarakat mengenai DBD cukup baik (Handarwan, 1999)
Ilmu perilaku adalah suatu multi disiplin ilmu. Maksudnya pengkajian ilmu perilaku
itu menyangkut banyak aspek yang dikaji oleh ilmu-ilmu yang lain. Hal ini memang
disebabkan karena perilaku itu sendiri merupakan refleksi dari berbagai macam aspek fisik
maupun non fisik (Notoatmodjo, 1993)
Dalam hal ini termasuk penggunaan obat anti nyamuk karena sudah merupakan
kebiasaan yang dilakukan sehingga masyarakat menjadi suatu hal yang sering dilakukan.
Namun jika dikaitkan dengan cara pemberantasan nyamuk tidak efektif karena pengusiran
nyamuk yang dilakukan hanyalah bersifat sementara.
Para ahli berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku
amatlah komplek tergantung dari situasi dan kondisi orang.
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan yang dimaksud di sini

adalah pengetahuan ibu-ibu rumah tangga dalam pemberantasan nyamuk aedes aegypty agar
terhindar dari penyakit DBD. Pengetahuan masyarakat tentang pemberantasan sarang
nyamuk sangat penting. Pengetahuan merupakan yang penting dalam membentuk prilaku
seseorang (Riyadi, 2001). Pengetahuan memegang peranan penting dalam peningkatan hidup
sehat, sehingga usaha pemberantasan sarang nyamuk dapat dilaksanakan oleh masyarakat
secara baik dan memahami terhadap kebersihan lingkungan. mengemukakan, pengetahuan
merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan hidup sehat serta mempunyai
wawasan terhadap pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat. (Depkes RI, 2000)
2. Sikap
Menurut Newcomb (1999), sikap adalah kesiapan dan kesediaan untuk bertindak
seseorang terhadap hal-hal tertentu kemudian dilahirkan dalam perilaku. Sikap merupakan
kecendrungan untuk bertingkah laku seseorang terhadap sesuatu hal termasuk dalam
pemberantasan nyamuk aedes aegypty.
Sikap masyarakat terlihat dari positif atau tidak merespon keadaan yang terjadi yang
diamatinya, sikap positif terhadap pemberantasan sarang nyamuk akan diketahui dari
kemauan ibu-ibu serta usaha yang dilakukan sehingga akan tergambar lingkungan yang bebas
dari sarang nyamuk malaria. Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang
masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Menurud Harold Browd (1988) sikap
seseorang terhadap pemberantasan sarang nyamuk tergambar dari ada reaksi, atau respon
terhadap usaha-usaha yang dilakukan, baik dalam penyediaan fasilitas maupun pelaksanaan
kegiatan pemberantasan sarang nyamuk. Sikap seseorang menunjukkan kepeduliaan, setuju
serta mempunyai respon yang positif terhadap prilaku hidup bersih.
Sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan, untuk terwujudnya sikap menjadi
perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan.

Sikap merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ibu-ibu rumah tangga
dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk aedes agypty, terutama dalam menjaga
lingkungan, hal ini berkaitan dengan pencegahan dan pengobatan. Sikap masyarakat jika
mereka telah terserang bagaimana sikap yang akan mereka ambil hal ini juga sangat berkaitan
dengan tingkat pengetahuan yang mereka miliki.
3. Ketersediaan Fasilitas
Fasilitas kerja merupakan salah satu faktor penting yang turut membangkitkan
semangat kerja petugas. Ketersediaan fasilitas kerja merupakan salah satu faktor kelancaran
kerja sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat lebih bermutu tanpa adanya
fasilitas kerja akan sulit melaksanakan program kerja yang telah direncanakan. Menurunnya
Azwar (1996) semangat kerja akan berpengaruh terhadap rendahnya produktivitas kerja
yang diakibatkan oleh ketiadaan fasilitas kerja. Fasilitas kerja perlu tersedia dalam jumlah
yang sangat memadai sehingga pelaksanaan kerja dapat berjalan dengan baik. Azwar
(1996). Menyediakan bubuk pembunuh jentik, memasang kawat-kawat kasa pada ventilasi,
menyediakan alat penyemprot nyamuk, Azwar (1996).
4. Tindakan
Untuk terwujudnya suatu sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Di samping
faktor fasilitas diperlukan juga faktor lingkungan (support) dari pihak lain. Menurut
Poerwodarminto. (1976) (dalam buku Soekitjo, ilmu kesehatan masyarakat) tindakan atau
praktek adalah aturan yang dilakukan, melakukan, mengadakan aturan-aturan untuk
mengatasi sesuatu atau perbuatan. Tindakan dalam praktek mempunyai beberapa tingkatan.
a; Persepsi (perception)

Yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan
diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama, misalnya seorang ibu dapat menjaga
kebersihan lingkungan rumahnya.
b; Respon tersimpan (guide respon)
Yaitu seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai
dengan contohnya, hal ini merupakan indikator praktek tingkat ke dua, misalnya seseorang
ibu dalam memasak air sebelum diminum dan menjaga sanitasi.
c; Mekanisme (mecanism)
Yaitu seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau
sudah merupakan suatu kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat ketiga.
d; Adaptasi (Adaptation)
Yitu merupakan suatu tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan
itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut, misalnya seorang
ibu dapat memilih dan menggunakan fasilitas kesehatan jika dalam keluarganya terjadi diare
(Soekidjo, 2003).
5. Sosial Ekonomi
Menurut Pratama (2002) tingkat ekonomi yang tinggi memungkinkan anggota
keluarga untuk memperoleh kebutuhan yang lebih, misalnya bidang pemeliharaan kesehatan
pendidikan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Keadaan sosial ekonomi
(kemiskinan, orang tua yang tidak bekerja atau berpenghasilan rendah) akan mengurangi
pengeluarannya untuk mendapatkan kebutuhan, sehingga tidak berkemampuan untuk
meningkatkan kebutuhan sehari-hari (Pratama, 2002). Sosial ekonomi keluarga erat kaitannya
dengan tingkat pendapatan bagi keluarga yang berpenghasilan tinggi, maka pemanfaatan
pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit, dalam hal ini rendahnya kemampuan

masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan, karena kurangnya daya beli yang
dikeluarkan oleh rumah tangga untuk pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 1996).
2.3. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Aedes Aegypty di Masyarakat
Gerakan 3 M merupakan upaya masyarakat yang efektif dalam pemberantasan
penyakit DBD, dapat dilaksanakan secara massal dan murah sehingga gerakan 3 M dapat
membudaya dimasyarakat (Depkes RI, 2001).
1; Menguras tempat penampungan air (1 kali seminggu)
2; Menutup rapat tempat penampungan air sehingga nyamuk tidak dapat masuk
3; Menguburkan barang-barang bekas, sampah, botol-botol, kaleng-kaleng, tempurung
kelapa dan lain-lain.
Untuk terlaksananya kegiatan tersebut, maka pemerintah perlu memberikan
penyuluhan kepada masyarakat yang tujuannya adalah :
1; Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam PSN
2; Meningkatkan peran aktif Pekjanal, Pokja DBD
3; Menggalang kemitraan lintas sektor, lintas program dan masyarakat
4; Meningkatkan lingkungan masyarakat yang bebas dari jentik aedes aegypty
5; Meningkatkan kualitas pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD.
pokok-pokok kegiatan bulan bakti gerakan 3 M sebagaimana disebutkan (Suratno,
2002) meliputi :
1. Penyuluhan insentif melalui berbagai media seperti televisi, radio, surat kabar dan lain-lain,
penyuluhan kelompok maupun penyuluhan kader-kader.

2.

Kerja bakti secara serentak dikoordinasikan oleh kepala wilayah setempat untuk
membersihkan lingkungan termasuk tempat-tempat penampungan air untuk keperluan seharihari.

3. Kunjungan dari rumah ke rumah untuk memeriksa jentik tempat-tempat yang dapat menjadi
perindukan nyamuk oleh tenaga terlatih dan menaburkan bubuk abate, altosid pada tempat
penampungan air yang masih ada jentik nyamuk.
Masyarakat perlu jeli dan cepat tanggap terhadap keluagarnya terkena penyakit
demam berdarah serta perlu mengenal ciri-ciri terserang penyakit demam berdarah.
Keputusan yang diambil masyarakat harus tepat, sehingga sipenderita demam berdarah dapat
langsung ditanggulangi sebelum bertambah parah.
a; Penyemprotan (pengasapan)
Penyediaan sarana dalam usaha penanggulangan penyakit demam berdarah sangat
diperlukan, tanpa adanya fasilitas maka usaha tersebut sulit untuk mencapai keberhasilan.
Satu-satunya cara mencegah demam berdarah hanya dengan membasmi nyamuk, nyamuk
pembawa virus demam berdarah, karena membunuh virusnya belum bisa, virus dengue masih
terus tumbuh. Kita tidak bisa memberantasnya dari muka bumi, karena virusnya dibawa
nyamuk, maka nyamuklah yang paling mungkin diberantas. Tanpa nyamuk virus tak mungkin
berpindah, tidak mungkin memasuki tubuh manusia (Handrawan,1999).
b; Abatisasi
Perlu dilakukan abatisasi yaitu masyarakat harus menabur bubuk abate ke tempat-tempat
penyimpanan air, seperti bak penyimpanan air, kolam ikan yang ada di sekeliling rumah dan
sebagainya, manfaat dari kegiatan abatasi ini adalah untuk membunuh jentik-jentik nyamuk
yang bersarang dan tidak mudah berkembang biak. Sasaran kegiatan abatasi ini adalah untuk
setiap rumah penduduk yang lingkungannya kumuh dan mudah tergenang banjir. Karena
penyakit demam berdarah adalah penyakit akibat lingkungan buruk juga dapat mempengaruhi

timbulnya penyakit ini. Sama seperti kolera, typus dan disenteri. Lingkungan hidup disekitar
kita harus dibersihkan, untuk menvegah wabah demam berdarah, lingkungan harus bebas dari
genangan air. Menjelang musim penghujan semua rongsokan dan barang bekas berupa wadah
disingkirkan, pekarangan rumah harus bebas dari semua sampah (Handrawan, 1996).
c; Upaya Penyuluhan
Upaya penyuluhan merupakan salah satu cara penanggulangan penyakit demam berdarah,
oleh karena itu perlu masyarakat diikut sertakan dalam kegiatan penyuluhan, yang tujuannya
adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat serta memberikan berbagai
pemahaman tentang usaha hidup bersih, khususnya masyarakat yang berpendidikan rendah,
anak-anak sekolah, guru dan lainnya sehingga dengan adanya penyuluhan, diharapkan
masyarakat dapat mencegah timbulnya penyakit demam berdarah yaitu dengan pembersihan
lingkungan tempat tinggal.
Cara pemberantasan sarang nyamuk yang perlu dilakukan masyarakat, menurut Hendrawan
(1999) antara lain :
1.

Gerakan membasmi jentik atau larva nyamuk. Caranya dengan membunuh jentik nyamuk
kebun memakai obat bernama abate. Obat ini mirip garam dapur, bubuk abate ditaburkan
dalam wadah-wadah air di dalam rumah. Setelah ditaburkan obat ini akan membuat lapisan
pada dinding wadah yang ditaburi obat ini. Lapisan ini bertahan beberapa bulan kalau tidak
disikat.

2.

Wadah yang ada lapisan obat abate ini tidak disukai jentik nyamuk kebun, jentik nyamuk
akan mati, semua wadah di dalam rumah setelah ditaburi obat ini tidak dihuni jentik nyamuk.
Termasuk wadah tempat penampungan air minum. Dalam takaran yang tepat obat abate tidak
berbahaya, air yang sudah ditaburi obat ini dengan dosis tepat, tidak beracun bagi tubuh
manusia, air tetap boleh diminum tanpa membahayakan kesehatan.

3. Kolam ikan pun perlu ditaburi abate, dengan takaran yang tepat ikan tidak akan mati, atau
memelihara jenis ikan tertentu, mujahir, misalnya malah menguntungkan. Ikan ini memakan
jentik nyamuk, kolam yang demikian tidak perlu ditaburi obat abate.
4. Wadah air di dalam rumah yang telah ditaburi abate tidak boleh disikat sebelum 3 bulan, air
cukup dikuras tanpa menyikat atau menggosok dinding bagian dalamnya, karena jika
menyikat atau menggosok dinding bagian dalamnya, lapisan obat abatenya akan hilang, sifat
anti jentik nyamuk hilang.
5.

Abatasi dilakukan menjelang musim hujan, pada daerah-daerah yang endemis demam
berdarah, abatasi dilakukan sebagai sebuah gerakan, dinas kesehatan kota sampai tingkat
kecamatan, kelurahan atau Desa.
Depkes RI (2002) mengemukakan usaha pemberantasan sarang nyamuk malaria dapat
dilakukan dengan penyuluhan, tersedianya sarana dan prasarana serta peran serta masyarakat.
Handrawan (1999) pengetahuan, sikap, pendidikan, sarana/fasilitas dan sosial ekonomi.
Prathama (2002) pendidikan, fasilitas dan pendapatan