Anda di halaman 1dari 42

Oleh:

Agung Kurniawan

Pembimbing:
Prof.Dr.Djoko Simbardjo, Sp.B., Sp.OT

Identitas
pasien : Tn. TF
Nama
Usia

: 28 tahun

Alamat

: kemayoran, jakarta pusat

Tgl masuk RS : 09/07/2015

ANAMNESIS
Keluhan utama :

nyeri pada bahu sebelah kiri sejak 2 hari


SMRS

Riwayat penyakit Sekarang :

Dua hari SMRS keluarga pasien mengatakan pasien tiba-tiba kejang


dan terjatuh dari sofa. Pasien terjatuh dengan posisi lengan kiri
menahan badannya. Pasien tidak sadar saat terjatuh.

Setelah sadar, Pasien merasa badan nya terasa lemas. Pasien juga
mengatakan nyeri pada bahu kirinya jika pasien menggerakan dan
mengangkat bahu tetapi lengan masih bisa digerakkan. pasien
menyangkal adanya Mual dan muntah .

Riwayat penyakit dahulu :

Ht (-) , DM (-) , riw. Op (-).


Riwayat penyakit keluarga:

Tidak ada
Riwayat pengobatan :

Tidak ada
Riwayat alergi :

Tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK

Primary Survey

A : Jalan napas bebas


B : Look

Pengembangan dada (+)

Listen

Terdapat suara napas

Feel

Terdapat hembusan napas

C : Baik ( TD 130/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, akral hangat)


D : Gangguan pergerakan pada bahu kiri, nyeri (+), bengkak (+),
kemerahan (+)
E : Luka lecet (-)

Secondary Survey
KU

: tampak sakit

Kesadaran

: CM

GCS

: 15

TTV

: TD 130/80 mmHg
Nadi 88 x/menit
Napas 20 xmenit
Suhu 36,50C

Status
Generalis
Kepala
Mata
Hidung

: Normocephal
: Konjungtiva anemi -/Sclera ikterik -/:Deviasi septum nasi -/Secret -/Epistaksis -/-

Telinga
Leher

: normotia
:
Pembesaran KGB (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax
:
Inspeksi simetris kanan dan kiri, retraksi (-), ictus cordis
tidak telihat.
Palpasi vocal fremitus kanan dan kiri sama, teraba massa (-)
Perkusi sonor di kedua lapang paru
Auskultasi vesikular +/+, RH-/-, WH -/-, murmur (-)

Abdomen :

Inspeksi

cembung ,jaringan parut (-)

Auskultasi bising usus normal


Palpasi

Nyeri tekan (-)

Perkusi

timpani di seluruh kuadran

abdomen.
Ekstremitas

:
atas = akral hangat (+/+) , edema -/-, CRT <
2 detik (+/+).
Bawah = akral hangat (+/+), edema +/+,
CRT < 2 detik (+/+).

Status Lokalis
Regio joint shoulder sinistra
Look: tanda inflamasi (+), perdarahan (-)
Feel: dolor/nyeri (+), krepitasi (tidak dilakukan), kalor (teraba

hangat)
Move: tidak dapat digerakkan karena nyeri

PEMERIKSAAN
PUNUNJANG

Laboratorium

PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NORMAL

HEMOGLOBIN

15,4

g/dL

11,7 15,5

LEUKOSIT

9,76

ribu/L

3.60 11.00

HEMATOKRIT

46

35 47

TROMBOSIT

311

ribu/L

150 440

HEMATOLOGI

Hasil pemeriksaan
Radiologi

RESUM
ETn.TF, 28 tahun MRS dengan keluhan Dua hari SMRS keluarga pasien
mengatakan pasien tiba-tiba kejang dan terjatuh dari sofa. Pasien
terjatuh dengan posisi lengan kiri menahan badannya. Pasien tidak
sadar saat terjatuh. Setelah sadar, Pasien merasa badan nya terasa
lemas. Pasien juga mengatakan nyeri pada bahu kirinya jika pasien
menggerakan dan mengangkat bahu tetapi lengan masih bisa
digerakkan.
Pemeriksaan fisik:
Status lokalis
Regio joint shoulder sinistra
Look: tanda inflamasi (+), perdarahan (-)
Feel: dolor/nyeri (+), krepitasi (tidak dilakukan), kalor (+)
Move: tidak dapat digerakkan karena nyeri
Radiologi:
Kesan Fraktur caput humeri sinistra dan dislokasi joint shoulder sinistra

Diagnosis
Diagnosis kerja :

Fraktur caput humeri sinistra dengan


dislokasi sendi bahu

penatalaksanaan
Teknik operasi :

Reposisi
Medikamentosa :
Infus RL
ketorolac 2 x 1

FRAKTUR PADA EKSTREMITAS


ATAS
Fraktur Humerus
Fraktur humerus dapat terjadi mulai dari
proksimal (kaput) sampai bagian distal
(kondilus) humerus, berupa :
Fraktur leher
Fraktur tuberkulum mayus
Fraktur diafisis
Fraktur suprakondiler
Fraktur kondiler
Fraktur epikondilus medialis

Fraktur leher humerus


Fraktur leher humerus umumnya terjadi pada wanita

tua yang telah mengalami osteoporosis sehingga


terjadi kelemahan pada tulang.
Mekanisme trauma
Biasanya pasien jatuh dan terjadi trauma pada
anggota gerak atas
Klasifikasi
Fraktur impaksi dan fraktur tanpa impaksi dengan
atau tanpa pergeseran
Pengobatan
Pada fraktur impaksi atau tanpa impaksi yang tidak
disertai pergeseran dapat dilakukan terapi konservatif
saja dengan memasang mitela dan mobilisasi segera.

Pada gerakan sendi bahu. Bila fraktur disertai

dengan pergeseran mungkin dapat


dipertimbangkan tindakan operasi.
Komplikasi
Kekakuan pada sendi, trauma saraf yaitu
nervus aksilaris, dan dislokasi sendi bahu.

Fraktur tuberkulum mayus


humerus
Fraktur dapat terjadi bersama dengan dislokasi

humerus atau merupakan fraktur tersendiri akibat


trauma langsung di daerah sendi bahu. Biasanya
terjadi pada orang tua dan umumnya tidak
mengalami pergeseran.
Pengobatan
Fraktur dengan dislokasi humerus yang telah
direposisi, biasanya fraktur juga tereposisi dengan
sendirinya. Pengobatan fraktur tanpa pergeseran
fragmen dengan cara konservatif. Pada fraktur yang
disertai pergeseran fragmen sebaiknya dilakukan
operasi dengan memasang screw.
Komplikasi
Painful arc syndrome

Fraktur diafisis humerus


Fraktur diafisis humerus biasanya terjadi pada 1/3 tengah humerus

dimana trauma dapat bersifat memuntir yang menyebabkan


fraktur spiral dan bila trauma bersifat langsung dapat
menyebabkan fraktur transversal, oblik pendek, atau komunitif.
Fraktur patologis biasanya terjadi pada 1/3 proksimal humerus.
Gambaran klinis
Pada fraktur humerus ditemukan pembengkakan, nyeri tekan
serta deformitas pada daerah humerus. Pada setiap fraktur
humerus harus diperiksa adanya lesi nervus radialis terutama pada
daerah 1/3 tengah humerus.
Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi
dan konfigurasi fraktur.
Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah konservatif karena angulasi dapat
tertutup oleh otot dan secara fungsional tidak terjadi gangguan,
disamping itu 1/3 kontak cukup memadai untuk terjadinya union.

Pengobatan konservatif dibagi atas :


Pemasangan U slab
Pemasangan gips tergantung (hanging cast)
Pengobatan operatif dengan pemasangan plate dan
screw atau pin dari Rush atau pada fraktur terbuka
dengan fiksasi eksterna.
Indikasi operasi yaitu :
Fraktur terbuka
Terjadi lesi nervus radialis setelah dilakukan reposisi
(jepitan nervus radialis)
Nonunion
Pasien yang segera ingin kembali bekerja secara
aktif

Fraktur suprakondiler
humerus
Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak-anak

daripada orang dewasa. Pengobatannya


seperti pada fraktur diafisis humerus.

Fraktur kondilus humerus


Fraktur ini jarang terjadi pada orang dewasa

dan lebih sering pada anak-anak.


Mekanisme trauma
Biasanya terjadi pada saat tangan dalam
posisi out stretched dan sendi siku dalam
posisi fleksi dengan trauma pada bagian
lateral atau medial. Fraktur kondilus lateralis
lebih sering terjadi daripada kondilus medialis
humerus.

Klasifikasi dan pemeriksaan


radiologis
Fraktur pada satu

kondilus
Fraktur interkondiler
(fraktur Y atau T)
Fraktur komunitif

Fraktur kondiler sering bersamasama dengan fraktur suprakondiler


Gambaran klinis
Nyeri dan pembengkakan serta pendarahan
subkutan pada daerah sendi siku. Ditemukan nyeri
tekan, gangguan pergerakan serta krepitasi pada
daerah tersebut.
Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran fragmen tidak
memerlukan reposisi, cukup dengan pemasangan
gips sirkuler selama 6 minggu dan dilanjutkan
dengan fisioterapi secara hati-hati.
Fraktur kondiler adalah fraktur yang mengenai
permukaan sendi sehingga memerlukan reduksi
dengan operasi segera, akurat dan rigid sehingga
mobilisasi dapat dilakukan secepatny

Fraktur lengan bawah


Fraktur kepala dan leher

radius
Fraktur ini terjadi pada
saat seseorang jatuh
dengan posisi tangan
dalam out stretched.
Klasifikasi dibagi dalam :
Tipe 1, terbelah vertikal
Tipe 2, fraktur disertai
dengan kemiringan
Tipe 3, fraktur shearing
(terbelah)
Tipe 4, remuk/ hancur

Fraktur Monteggia
Fraktur Monteggia

sering ditemukan pada


orang dewasa dan
merupakan fraktur 1/3
proksimal ulna disertai
dislokasi radius
proksimal.
Pada orang dewasa
sebaiknya dilakukan
operasi dengan fiksasi
interna yang rigid dan
mobilisasi segera sendi
siku.

Klasifikasi Fraktur dislokasi


Monteggia menurut Bado:
Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna

dengan angulasi anterior disertai


dislokasi anterior kaput radius
Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna
dengan angulasi posterior disertai
dislokasi posterior kaput radii dan
fraktur kaput radii
Fraktur ulna distal processus
coracoideus dengan dislokasi
lateral kaput radio
Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal
ulna dengan dislokasi anterior
kaput radii dan fraktur 1/3
proksimal radii di bawah
tuberositas bicipitalis

Fraktur diafisis radius dan


ulna
Fraktur radius sendiri

biasanya terjadi karena


trauma langsung. Untuk
tatalaksananya, fraktur yang
tidak bergeser diatasi dengan
gips di atas siku dan fleksi
pada siku, sedangkan yang
bergeser sebaiknya dengan
memasang fiksasi interna.
Fraktur ulna sering terjadi
pada seseorang yang
menangkis benda keras.
Untuk tatalaksananya, sama
seperti fraktur radius.

Pengobatan
Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan
gips di atas siku dengan meletakkan lengan bawah dalam
posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal, posisi netral pada
fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan
pemasangan gips di atas siku dalam posisi supinasi.
Apabila ada kelainan perlekatan otot pronator dan supinator
tulang radius dan ulna, reduksi serta imobilisasi yang baik
sulit dilakukan. Reduksi yang akurat sangat diperlukan
karena tangan mempunyai fungsi untuk pronasi dan supinasi.
Pengobatan yang paling baik adalah dengan pemasangan
fiksasi rigid dengan operasi yang mempergunakan plate dan
screw pada kedua tulang.

Komplikasi
Malunion termasuk cross union akan
memberikan gangguan dalam pronasi dan
supinasi
Delayed union
Nonunion

Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo

Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3 distal radius disertai


dislokasi sendi radio-ulnar distal.
Pengobatan
Pada fraktur ini harus dilakukan reposisi secara
akurat dan mobilisasi segera karena bagian distal
mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat
dan cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga
tereposisi dengan sendirinya.
Apabila reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi
dilakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka
dengan fiksasi rigid mempergunakan plate dan
screw.

Fraktur distal radius


Fraktur distal radius dapat dibagi dalam

fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur


Barton.

Fraktur Colles
Pertama kali diutarakan

oleh Abraham Colles.


Merupakan jenis fraktur
yang paling sering
ditemukan pada orang
dewasa di atas usia 50
tahun dan lebih sering
pada wanita daripada
pria.

Mekanisme trauma
Fraktur terjadi bila terjatuh dalam posisi
tangan out stretched pada orang tua dengan
tulang yang sudah osteoporosis.
Fraktur Colles terdiri atas fraktur radius 1 inci
di atas pergelangan tangan, angulasi dorsal
fragmen distal, pergeseran ke dorsal dari
fragmen distal, dan fraktur prosesus stiloid
ulna.

Gambaran klinis
Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan
pergelangan tangan pada orang yang berumur lebih dari 50
tahun, nyeri dan deformitas berbentuk garpu. Gambaran ini
terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke dorsal,
deviasi radial, supinasi, dan impaksi ke arah proksimal.
Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips
sirkuler di bawah siku, lengan bawah dalam keadaan
pronasi, deviasi ulna, serta fleksi. Pada fraktur dengan
pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan pembiusan
umum atau lokal. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama
enam minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi yang
intensif.

Fraktur Smith
Biasa disebut juga sebagai

fraktur Colles terbalik.


Fraktur jenis ini lebih sering
ditemukan pada pria
daripada wanita. Fraktur
Smith pertama kali
dikemukakan oleh R.W.
Smith. Ditemukan
deformitas dengan fragmen
distal mengalami pergeseran
ke volar dimana garis fraktur
tidak melalui persendian.
Pengobatan
Fraktur Smith biasanya
bersifat tidak stabil sehingga
sebaiknya difiksasi dengan
plate buttress.

Fraktur Barton
Merupakan fraktur pada

radius distal dengan


fragmen distal melalui
sendi dan terjadi
pergeseran fraktur serta
seluruh komponen sendi
ke arah volar. Untuk
tatalaksananya, seperti
pada fraktur Smith.