Anda di halaman 1dari 15

A.

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus


Anak yang berkebutuhan khusus secara umum dikenal masyarakat umum sebagai anak
luar biasa. Maka terlebih dahulu dibahas tentang hakekat anak luar biasa. Dalam percakapan
sehari-hari orang yang dijuluki sebagai orang luar biasa ialah mereka yang memiliki kelebihan
yang luar biasa, misalnya orang terkenal karena memiliki kemampuan intelektual yang luar
biasa, memiliki kreativitas yang tinggi dalam melahirkan suatu temuan-temuan yang luar biasa di
bidang IPTEK, religius, dan bidang-bidang kehidupan lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,
dan orang yang mencapai prestasi yang menghebohkan dan spektakuler, misalnya orang yang
berhasil menaklukkan gunung tertinggi didunia, dan sebagainya..
Anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai warga negara Indonesia mempunyai hak dan
kewajiban yang sama dengan anak normal, termasuk berhak memperoleh pendididkan dan belajar
bersama anak anak normal di sekolah umum. Pengintegrasian anak berkebutuhan khusus dengan
anak normal di sekolah umum memerlukan ruangan khusus serta peralatannya, perlu modifikasi
kurikulum, perlu bimbingan khusus, kesiapan dari guru kelas, kesiapan anak-anak normal dan
anak berkebutuhan khusus itu sendiri. Selain itu juga diperlukakan perencanaan yang matang dan
sikap kepala sekolah serta guru-guru yang positif mendukung untuk keberhasilan pendididkan
anak berkebutuhan khusus di sekolah umum. Kenyataannya hal-hal tersebut belum sepenuhnya
ada di sekolah umum dikarenakan beberapa faktor penyebab seperti keterbatasan dana, tenaga,
serta waktu dan keterampilan guru dalam mengajar anak berkebutuhan khusus.
Berdasarkan hasil peneliian Sri Widati (2001) disimpulkan bahwa guru-guru di sekolah
umum khususnya yang ada anak berkebutuhan khusus belum siap mengajar mereka. Kesiapan
dalam hal ini meliputi pemahaman dan keterampilan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus,
sehingga asih banyak ditemukan anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan atau
keterlambatan dalam mengikuti pendidikan di sekolah umum.
Dalam dunia pendidikan, kata luar biasa juga merupakan julukan atau sebutan bagi
mereka yang memiliki kekurangan atau mengalami berbagai kelainan dan penyimpangan yang
tidak dialami orang normal pada umumnya. Kelainan atau kekurangan yang dimiliki oleh mereka
ynga disebut luar biasa dapat berupa kelainan dari segi fisik, psikis, sosial dan moral.Kelainan
dari segi fisik dapat berupa kecacatan fisik, misalnya orang tidak memiliki kakisebelah kiri,
matanya buta sebelah, dan sejenisnya.

Kelainan dari segi psikis, atau aspek kejiwaan (psikologis, misalnya orang yang menderita
keterbelakangan mental akibat dari intelegensi yang dimiliki dibawah normal)

.Anak

berkebutuhan khusus (dulu disebut sebagai anak luar biasa) didefinisikan sebagai anak yang
memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan
mereka secara sempurna. Anak luar biasa disebut anak yang berkebutuhan khusus, karena dalam
rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan, layanan
pendidikan, layang sosial, layanan bimbingan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang
bersifat khusus. Yang.termasuk,kedalam.ABK,antara.lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita,
tunadaksa,tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak dengan gangguan kesehatan.
istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena
karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus
yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka
memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi
menggunakan.bahasa,isyarat. Pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus (student with
special needs)

membutuhkan suatu strategi tersendiri sesuai dengan kebutuhan masing

masing . Dalam penyusunan progam pembelajaran untuk setiap bidang studi hendaknya guru
kelas sudah memiliki data pribadi setiap peserta didiknya. Data pribadi yakni berkaitan dengan
karateristik spesifik, kemampuan dan kelemahanya, kompetensi yang dimiliki, dan tingkat
perkembanganya. Karakteristik spesifik student with special needs.
Masalah kesulitan belajar dalam pendidikan kebutuhan khusus . anak yang mempunyai
kebutuhan khusus baik yang bersifat temporer maupun permanen akan berdampak langsung
kepada proses belajar, dalam bentuk hambatan untuk melakukan kegiatan belajar Misalnya,
kesulitan atau gangguan belajar ABK yang disebabkan akibat gangguan penglihatan (tunanetra),
gangguan

pendengaran

dan

bicara

(tunarungu/wicara),

kelainan

kecerdasan

(tunagrahita giffted dan genius), gangguan anggota gerak (tunadaksa), gangguan perilaku dan
emosi (tunalaras), lamban belajar (slow learner), autis, atau ADHD akan berdampak terhadap
proses pembelajaran sesuai dengan tingkat kesulitannya. Dalam diklat ini terfokus kepada
pembahasan kesulitan belajar bagi ABK di sekolah dasar inklusi yang mengalami gangguan
belajar spesifik yaitu disleksia.
Anak

yang

mengalami learning

disabilities (LD)

atau Specific

Learning

Diificulties (SLD) secara umum dapat diartikan suatu kesulitan belajar pada anak yang ditandai
oleh ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya dan berdampak pada
hasil akademiknya. Kesulitan belajar merupakan hambatan atau gangguan belajar pada anak
atau remaja yang ditandai adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan
kemampuan akademik yang seharusnya dicapai oleh anak seusianya.

B. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus


Dalam dunia pendidikan luar biasa dewasa ini, anak berkebutuhan khusus
diklasifikasikan atas beberapa kelompok sesuai dengan jenis kelainan anak, klasifikasi tersebut
mencakup kelompok anak yang mengalami keterbelakangan mental, ketidak mampuan belajar,
gangguan emosional, kelainan fisik, kerusakan atau gangguan pendengaran, kerusakan atau
gangguan penglihatan, gangguan bahasa dan wicara, dan kelompok anak yang berbakat (Abdul
Hadis, 2006 : 4). Anak Berkebutuhan Khusus dapat diketahui dengan cara mengamati Gejala.
Gejala-gejala itu antara lain yang dikemukakan oleh Alja de Bruin de Boer seorang
Orthopedagog anak gifted Belanda dalam suatu kongres di Belanda tentang anak gifted tahun
2003, ia memberikan beberapa patokan sebagai pegangan untuk melihat gejala-gejala anak usia
4-6 tahun yang mengalami loncatan perkembangan, bahwa kita bisa melihat dari hal-hal berikut
ini:
1.

Motoriknya berkembang dengan baik : umumnya pada usia yang sangat muda, anak ini
mempunyai perkembangan motorik yang lebih baik dari anak seusianya. Mereka duduk dan
berjalan lebih dahulu dari teman sekolahnya, dan masih sangat muda sudah dapat bermain
dengan material yang kecil-kecil.

2.

Penggunaan bahasa yang amat baik : sebagian anak berbakat memppunyai perkembangan
bicara yang sangat cepat, tetapi sebagiannya lagi mengalami keterlambatan bicara, namun
lambat laun akan segera menyusul ketertinggalannya dan menggunakan bahasa yang sulit
seperti mesin cuci baju.

3.

Sangat mandiri : para orang tua melaporakan bahwa anak-anak ini sejak masih kecil sekali
sudah ingin melakukan segala hal sendiri.

4.

Memiliki energi yang luar biasa dan sangat banyak gerak : anak-anak ini bagai anak yang
tak pernah lelah. Sering mereka sangat sedikit membutuhkan waktu atau jam tidur , dan
selalu ingin memlakukan berbagai hal.

5.

Dalam berbicara mempunyai perhatian masalah spesifik: cerita-cerita para orang tua
tentang anaknya diusia 2 - 2,5 tahun yang sangat sering adalah cerita tentang merek-merek
dan tipe mobil.

6.

Sangat cepat akan pemahaman dan logika analisis: anak-anak yang mempunyai loncatan
perkembangan pada usia yang sangat dini mempunyai memori yang sangat baik, dan
mempunyai kemampuan menghubungkan kejadian satu dengan kejadian lainnya, dimana
anak-anak lain masih belum mampu.

7.

Mempunyai kreatifitas dalam bermain: anak-anak yang mengalami loncatan perkembangan


ini, sejak masih kecil sudah bisa bisa melakukan permainan fantasi.

8.

Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa setiap anak mempunyai pribadi yang unik,
setiap anak mempunyai bakat dan minat yang berbeda-beda. Tanggung jawab orang tua
adalah mengenal potensi setiap anak dan menciptakan suatu iklim atau suasana di dalam
keluarga yang memupuk dan mendorong perwujudan potensi kreatif ini (Utami Munandar,
1998, hlm 5).

9. Lebih cepat berlajar membaca dan berhitung: melalui kemampuan pengenalan, melalui
banyak pertanyaan yang di ajukannya, serta daya ingat yang sangat baik, anak-anak dengan
loncatan. Misalnya: belajar huruf-huruf melalui permainan, huruf M ada di Mc Donald,
Mora, atau Coklat Mars. (Julia Maria van Tiel, 2007, hlm 41)

C. Karakteristik Siswa Mengalami Kesulitan Belajar


Secara umum menurut Torey Hayden (2000) karakteristik siswa berkebutuhan khusus
yang mengalami kesulitan belajar dapat dilihat dari hal-hal berikut.
a. Banyak murid berkebutuhan khusus mengalami masalah di ruang kelas karena:

Mereka tak bisa membaca dengan baik

Mereka tidak memahami kuliah dan diskusi

Mereka tidak mudah mengonseptualisasi simbol, konsep, atau teori abstrak

Mereka kesulitan mengaitkan pengetahuan baru dengan apa yang sudah mereka ketahui

Mereka mungkin tidak cakap dalam keterampilan dasar yang diperlukan untuk
pembelajaran, misalnya mempertahankan perhatian, menafsirkan makna suatu informasi
baru, mengikuti petunjuk, dan mengelola perilaku

b. Murid berkebutuhan khusus sulit mengikuti instruksi karena:

Mereka mungkin tak mampu memusatkan perhatian dalam waktu yang cukup lama.

Mereka mungkin tak mampu melihat atau mendengar instruksinya.

Mereka mungkin tak mampu memahami arti perintah itu atau tak bisa membaca dengn
baik.

Mereka mungkin tak mampu mengenali perilaku penting saat melihat contoh.

c. Beberapa murid memiliki kesulitan untuk berusaha menyelesaikan tugas secara konsisten. Hal
ini bisa disebabkan oleh:

Mereka bekerja terlalu lambat dan memakan banyak waktu

Mereka tidak mampu mengantisipasi sumber-sumber dan materi-materi yang diperlukan.

Mereka mendapatkan masalah ditengah pengerjaan tugas dan enggan untuk meminta
pertolongan. Atau, merka juga dapat kehilangan ketertarikan terhadap tugas tersebut dan
menolak untuk melanjutkan pekerjaan tugas

d. Tugas yang rumit memunculkan masalah beberapa murid berkebutuhan khusus, karena:

Mereka memiliki kesulitan untuk memecah perhatian pada lebih dari satu hal dalam
waktu yng bersamaan.

Mereka lebih mudah terganggu.

Mereka melupakan petunjuk dan kebingungan menyelesaikan tugas.

Mereka menemukan banyak sekali detail-detail yang membingungkan mereka.

Beberapa materi petunjuk tidak diformat secara jelas di halaman atau buku petunjuk.

e. Murid-murid berkebutuhan khusus kesulitan menyimpan materi-materi pelajaran di kelas


karena :

Mereka kekurangan kendali internal.

Mereka tidak mengerti apa yang diharapkan.

Mereka tidak dapat mengingat apa yang harus dilakukan.

Mereka tidak tahu bagaimana menyimpan materi-materi tugas agar mudah ditemukan.

f. Banyak murid berkebutuhan khusus yang tak bisa membaca sebaik teman-temannya:

Mereka mungkin masih mempelajari keterampilan pengenalan lambang dasar dan


pengenalan kata atau strategi pemahaman, untuk membatu mereka memahami kata, frase,
dan kalimat yang dibaca.

Ada materi tertulis yang memberikan tantangan lebih karena tidak tersusun dengan baik.

Mereka mungkin kesulitan menentukan gagasan utama atau apa yang penting diingat
dalam informasi yang dibaca.

Mereka mungkin tersesat dalam detail dan bingung dengan cara gagasan dihadirkan
dalam teks atau buku referensi.

g. Seorang murid berkebutuhan khusus mungkin memahami informasi saat ia mendengarkannya


tetapi tidak mampu membaca materi yang diperlukan untuk tugas sekolah.
h. Murid berkebutuhan khusus mungkin kesulitan mempelajari konsep dan proses matematis
karena:

Keterampilan prosedural mereka buruk dan mereka bergantung pada strategi yang
kekanakan, misalnya menghitung dengan jari.

Kemampuan ingatan mereka buruk, sehinga mereka kesulitan mengingat fakta mendasar.

Banyak

murid

yang

memiliki

ketidakmampuan-matematika

juga

memiliki

ketidakmampuan-membaca, dan ketidakmapuan-membaca inilah yang menyulitkan


mereka memahami soal.

Secara khusus menurut Direktorat PLB (2000) karakteristik siswa yang mengalami disleksia
dapat dilihat dari hal-hal berikut:
1)

Perkembangan kemampuan membaca terlambat,

2)

Kemampuan memahami isi bacaan rendah,

3)

Kalau membaca sering banyak kesalahan

Secara harfiah Peer (2002:45) mendefinisikan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar
disleksia adalah kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini
disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan
mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis. Lebih lanjut, Paat menjelaskan bahwa
anak dengan gangguan belajar disleksia memiliki masalah pada kemampuan meta kognisi.
Dengan kata lain, anak tersebut sulit mengatur pemahaman ketika menerima informasi atau salah
memberikan respon.

Apabila dibandingkan anak disleksia dengan anak normal dalam hal perkembangan
kemampuan membaca, maka anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam
atau tujuh tahun. Berbeda halnya dengan anak disleksia, ia sampai usia dua belas tahun kadang
mereka masih belum lancar membaca. Dengan demikian, disleksia merupakan gangguan akan
kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan seharusnya. Gangguan ini bukan
bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti masalah penglihatan, tetapi mengarah pada bagaimana
otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini
biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

D. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak bisa disebabkan oleh faktor internal pada
diri anak itu sendiri, faktor ekternal di luar diri anak, dan faktor internal dan eksternal.

a. Faktor Internal
Hambatan belajar bisa terjadi akibat adanya kerusakan secara fisik pada diri anak
(impairment), misalnya kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, dan gangguan pada pada
gerak

motorik,

serta

anak

yang

mengalami

Keadaan impairment seperti itu menimbulkan

hambatan

perkembangan

intelektual.

kesulitan atau ketidakmampuan

tertentu

(disability), sehingga merintangi anak untuk belajar.

b. Faktor Eksternal
Hambatan belajar pada seorang anak bisa disebabkan oleh faktor-faktor di luar diri anak
itu sendiri. Anak mengalami kesulitan-kesulitan tertentu untuk belajar karena eksternal.
Misalnya, anak sering mendapat perlakuan kasar, sering diolok-olok, tidak pernak dihargai,
sering melihat kedua orang tuanya bertengkar dsb. Keadaan seperti ini dapat menimbulakan
kehilangan kepercayaan diri, sulit untuk memusatkan perhatian,cemas, gelisah, takut yang tidak
beralasan dan sebagainya.
Bentuk-bentuk hambatan belajar yang dapat teridentifikasi akibat dari keadaan seperti itu
misalnya, anak tidak memiliki keberaian untuk bertanya mesikipun ada yang ingin ia tanyakan
kepada gurunya, tidak bisa menyatakan bahwa dia tidak mengerti sesuatu karena takut, tidak

dapat mengikuti intruksi, tidak dapat mengemukakan pendapat atau keinginan secara lisan
karena tidak berani. Anak-anak seperti ini tidak mungkin dapat belajar dengan benar.
Faktor eksternal lainnya yang dapat menjadi hambatan belajar bagi seorang anak seperti,
pengalaman belajar di kelas yang sangat keras dan sangant kompetitif, pengalaman belajar di
kelas yang terlalu mudah, sehingga tidak ada tantangan untuk belajar lebih lanjut, pembelajaran
yang tidak sesuai dengan gaya belajar anak, kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak
secara personal , dan ketidaktersediaan sumber belajar dan media pembelajaran.

c. Faktor Internal dan Eksternal


Hambatan belajar bisa terjaidi karena komibinasi antara faktor intenal dan faktor
eksternal. Misalnya seorang anak yang mengalami gangguan perkemabngan intelektual (internal)
belajar pada lingkungan kelas yang keras dan kompetip (eksternal). Sudah dapat dipastikan
bahwa hambatan belajar yang dialami oleh anak ini akan berakibat lebih buruk pada
perkembangan hasil belajar anak. Anak menghadapi dua hambatan belajar secara bersamaan.
Dalam Encyclopedia of

Disability (2006:257) tentang pendidikan luar biasa

dikemukakan sebagai berikut: Special education means specifically designed


instruction to meet the unique needs of a child with disability. Pendidikan luar biasa
berarti pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan yang
unik dari anak penyandang cacat.
Ketika seorang anak diidentifikasi mempunyai kelainan, pendidikan luar biasa
sewaktu-waktu diperlukan. Hal itu dikemukakan karena siswa berkebutuhanpendidikann khusus
tidak secara otomatis memerlukan pendidikan luar biasa.Pendidikan luar biasa akan sesuai hanya
apabila kebutuhan siswa tidak dapatdiakomodasi dalam program pendidikan umum. Singkat
kata, pendidikan luar biasa adalah program pembelajaran yang disiapkan untuk memenuhi
kebutuhan unik dari individu siswa. Mungkin dia memerlukan penggunaan bahan-bahan,
peralatan,layanan, dan/atau strategi mengajar yang khusus.

Sebagai contoh, seorang anak yangkurang lihat memerlukan buku yang hurufnya
diperbesar; seorang siswa dengankelainan fisik mungkin memerlukan kursi dan meja belajar
yang dirancang khusus;seorang siswa dengan kesulitan belajar mungkin memerlukan waktu
tambahan untukmenyelesaikan pekerjaannya. Contoh yang lain, seorang siswa dengan kelainan
padaaspek kognitifnya mungkin akan memperolah keuntungan dari pembelajarankooperatif yang
diberikan oleh satu atau beberapa guru umum bersama-sama denganguru pendidikan luar biasa.
Pendidikan luar biasa merupakan salah satu komponendalam salah satu sistem pemberian
layanan yang kompleks dalam membantu individuuntuk mencapai potensinya secara maksimal.

Berdasarkan Undang-Undang RepublikIndonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang


sistempendidikan nasional, pendidikan adalah usahasadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertadidik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilanyang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu program pendidikan yangdilakukan untuk mengatasi isu diskriminasi dalam
bidang pendidikan adalah pendidikan inklusi.Guru merupakan salah satu tokohpenting dalam
praktek inklusi di sekolah,karena guru berinteraksi secara langsung dengan para siswa, baik
siswa yang berkebutuhan khusus, maupun siswa non berkebutuhan khusus.

E. Cara menangani anak berkebutuhan khusus


1. Bagi orang tua, mereka akan berusaha setengah mati untuk memahami kondisi anak dan
memikirkan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang tua harus bisa
mempercayai pengajar dan merasa yakin bahwa mereka, sebagai orang tua, akan diijinkan
untuk terlibat dan kemajuan anak selama prasekolah.
2. Bagi para pengajar, langkah-langkah yang akan mereka lakukan adalah :

a.

Menjalin kerjasama dengan orang tua, kerjasama antara pengajar dengan orang tua sangat
penting untuk mengetahui kebutuhan pembelajaran anak dan memastikan adannya respons
cepat pada setiap kesulitan. Oramg tua dan keluarga merupakan tempat paling nyaman
untuk anak, dan pengajar harus mendukung hubungan penting ini dengan cara saling
berbagi informasi dan menawarkan dukungan pembelajaran di rumah.

b. Menjalin kerjasama dengan pihak lain, pengajar perlu bekerja sama dengan pengajar dari
pihak lain misalnya dinas kesehatan masyarakat lokal, atau tempat anak tersebut
dilindungi oleh Pemerintah Lokal, untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan serta
menggunakan pengetahuan dan saran mereka guna memeberikan perlindungan sosial
kepada anak melalui kesempatan dan lingkungan belajar terbaik untuk anak.
c.

Memberikan kesetaraan kesempatan, penyedia layanan pendidikan bertanggungjawab


menjamin sikap positif terhadap perbedaan dan keragaman, tidak hanya supaya setiap
anak bisa bergabung dan tidak dirugikan, namun juga supaya mereka belajar sejak dini
untuk menghargai keragaman yang dimiliki orang lain dan tumbuh dengan memberikan
sumbangan positif untuk masyarakat.(Chris Dukes dan Maggie Smith,2009:3-6).

Salah satu kegiatan yang memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan
anak usia dini adalah kegiatan bimbingan. Kegiatan bimbingan bagi anak dapat dijadikan
sebagai salah satu cara membantu guru dalam memantau proses, kemajuan dan perbaikan
hasil belajar anak secara berkesinambungan sehingga dapat memberikan umpan balik
bagiguru dalam menyempurnakan proses pembelajaran.
Terkait denagan permasalahan anak, berikut beberapa bentuk bimbingan yang dapat
dilakukan, baik oleh guru maupun orang tua dalam membantu mengatasi permasalahan anak
tersebut :
1.

Periksa

Tidak semua tingkah laku yang bemasalah digolongkan gangguan. Oleh karena itu, Perlu
menambah pengetahuan tenytang gangguan mengenai perkembangan dan jenis gangguan
anak.
2.

Pahami
Untuk bisa menangani anak yang mengalami gangguan, ada baiknya keluarga mengikuti
support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan
perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual)
maupun fisiologis.

3.

Telaten
Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk menghadapi anak yang memilik gangguan
psikologis.

4.

Membangkitkan kepercayaan diri


Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku,
seperti menggunakan penguasa positif. Misalnya memberikan pujian apabila anak makan
dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu yang benar, memberikan disiplin yang
konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya
diri anak.

5.

Mengenali arah minatnya


Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana
sebenarnya tujuan dari keaktifannya. Jangan dilarang semuanya karena membuat anak
menjadi frustasi. Yang penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya
secara dini.

6.

Meminimalisir stimulasi yang dapat mengacaukan pikiran dan konsentrasi


Anak diupayakan tenang terkendali, gangguan dari luar minimal menggunakan media
penanganan yang menarik sesuai dengan modalitas anak (visual, auditori, kinestik), praktik
langsung, menyenangkan, variatif, sesuai dengan minat anak, mengajarkan strategi
meningkatkan memori, mnemoik, kata kunci, peta pikiran dan insight.

7.

Merancang lingkungan rumah kondusif

Menjauhkan benda berbahaya/tajam, lingkungan fisik nyaman, memfasilitasi anak yang


normal untuk menjadi role model, mempertahankan kontak mata, memberikan pekerjaaan
yang menantang, memastikan adanya sisi menarik pengajaran, menyederhanakan instruksi,
memperjelas instruksi, menjelaskan tujuan/target dengan jelas, memberi contoh, monitoring
perlu dilakukan untuk memberi masukan pada penanganan lebih lanjut.
Kita sebagai calon pendidik harus tahu bagaimana cara mendidik anak sesuai dengan
minat bakat, karakter dan tentunya anak yang berkebutuhan khusus. Agar kita lebih bijak
dalam memberikan pelayanan khusus dalam menghadapi kasus anak yang berkebutuhan
khusus. Anak-anak tidak bahagia karena tidak ada sesuatu pun yang tidak diperhatikan.
Untuk itulah orang tua diciptakan.

DAFTAR PUSTAKA
Fadhli Aulia, Buku Pintar Kesehatan Anak, Yogyakarta: IKAPI, 2010
Moechiam Herniawatty, Tumbuh Di Tengah Badai, Yogyakarta:IKAPI, 2009
Utami Rini, Jangan Biarkan Anak Kita Berperilaku Menyimpang, Yogyakarta: IKAPI, 2006
Yusuf Munawair, Jangan Biarkan Anak Kita Berkesulitan Belajar, Yogyakarta: IKAPI, 2006
Elisa, Syafridha. (2013). Sikap Guru Terhadap Pendidikan Inklusi Ditinjau Dari Faktor
Pembentukan Sika. (2nd ed). Fakultas Psikolgi Universitas Airlangga
Polloway, E Patton. (2001). Strategies For Teaching Learners With Special Needs. (7th ed).

Upper Saddle River, NJ: Merill/Prentice Hall


Smith, CR. (2008). History, Definition And Prevalence In Learning Disabilities : The
Interaction Of Learner, Task, And Setting. (4th ed, pp. 1-51). Boston : Allyn And Bacon

Anda mungkin juga menyukai