Anda di halaman 1dari 42

BAB 1

PENDAHULUAN
Limbah padat atau sampah (solid waste) secara umum dapat diartikan
sebagai semua buangan yangdihasilkan dari aktivitas manusia atau hewan yang
tidak diinginkan ataudigunakan lagi, baik berbentuk padat atau setengah
padat.Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia selalu menghasilkan sampah
danhampir setiap hari manusia menghasilkan sampah. Jika sampah tersebut
tidakdikelola dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai masalah
sepertimasalah estetika karena bau yang ditimbulkannya, menjadi vektor
penyakitdan dapat menganggu kualitas tanah dan air tanah sekitarnya.
Untuk

mencegah

terjadinya

gangguan

terhadap

lingkungan

dan

kesehatanmanusia maka perlu dirancang suatu sistem pengelolaan persampahan


yang

baikmulai

TempatPembuangan

dari

sumber,
Akhir

pengumpulan,
(TPA).

transportasi

Dalam

hingga

perancangan

ke

sistem

pengelolaanpersampahan suatu daerah diperlukan data mengenai timbulan


sampah, komposisi dankarakteristik sampah yang dihasilkan di daerah yang
direncanakan.
Menurut UU Nomor 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan seharihari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengelolaan
sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak
dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia
dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sedangkan menurut ilmu kesehatan
lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak siap
digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang sedemikian rupa
sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup.
Keberadaan jumlah sampah di perkotaan dari waktu ke waktu kian
banyak, jika tidak dikelola secara baik dan benar, dapat menimbulkan berbagai
dampak terhadap kualitas kehidupan lingkungan, utamanya kualitas air, polusi
udara, tanah, biologi, sosial ekonomi serta budaya. Karena demikian maka cara

memandang dan mengelola sampah harus diubah dari kebiasaan membuang


sampah secara sembarangan menjadi mengola sampah.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan
serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah
tangga terdiri atas: (a) pengurangan sampah; dan (b) penanganan sampah. Di
mana pengurangan sampah yang dimaksud meliputi kegiatan: (a) pembatasan
timbulan sampah; (b) pendauran ulang sampah; dan/atau (c) pemanfaatan kembali
sampah.
Penanganan sampah atau limbah padat yaitu penanganan sampah yang
dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari rumah tangga, pasar, restoran
dan lain sebagainya yang meliputi kegiatan pemilahan, pengumpulan,
pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir secara sistematis, menyeluruh
dan berkesinambungan melalui TPS atau transfer depo ke Tempat Pembuangan
Akhir (TPA).
Penanganan

persampahan

merupakan

bagian

untuk

mendukung

terwujudnya lingkungan yang berkualitas dan lestari, lingkungan perumahan


layak huni serta pengurangan timbulan sampah dari sumbernya dengan
penanganan sampah berwawasan lingkungan. Namun berbagai tantangan yang
dihadapi pada sub sektor persampahan, maka secara non teknis strategi yang akan
ditempuh kedepan dalam pengelolaan limbah domestik adalah meningkatkan
kapasitas kelembagaan, peraturan, koordinasi lintas sektor, berupaya mendapatkan
dukungan pendanaan dari berbagai pihak, memaksimalkan sosialisasi dan
advokasi, dan secara teknis mengoptimalkan sarana dan prasarana pengelolaan
persampahan yang sudah ada sesuai standar, serta menambah fasilitas pendukung
untuk meningkatkan cakupan pelayanan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A.

PENGERTIAN LIMBAH ATAU SAMPAH


Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan

karenapembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau


sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi
kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan
bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa
berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka
menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu
lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah
secara benar maka bias menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.
B.

DEFINISI LIMBAH PADAT


Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur

atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari
kegiatan industri dan domestik.
Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga,
limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari
tempat-tempat umum.Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit
tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll.
Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula,
pulp, kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging.
Secara garis besar limbah padat terdiri dari :
1)

Limbah padat yang mudah terbakar.

2)

Limbah padat yang sukar terbakar.

3)

Limbah padat yang mudah membusuk.

4)

Limbah yang dapat di daur ulang.

5)

Limbah radioaktif.

6)

Bongkaran bangunan.

7)

Lumpur.

C. PENGGOLONGAN SAMPAH MENURUT SUMBERNYA


Sampah yang ada dapat berasal dari beberapa sumber berikut:
1. Pemukiman penduduk
Sampah di suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau
beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang
terdapat di desa atau dikota. Jenis samp[ah yang dihasilkan biasanya
sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah
basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu atau sampah sisa
tumbuhan.
2. Tempat umum dan tempat perdagangan
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang
berkumpul

dan

melakukan

kegiatan,

termasuk

juga

tempat

perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu


dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisasisa bahan bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.
3. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini, antara alain, tempat
hiburan dan umum, jalan umum, tempat parker, tempat layanan
kesehatan (missal : rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer,
gedung pertemuaan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang
lain. Temapt ini biasanya menghasilkan sampah khusus dan sampah
kering.
4. Industry berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman,
industry kayu, industry kimia, industry logam, tempat pengolahan air
kotor dan air minum, dan kegiatan industry lainnya, baik yang sifatnya
distributive atau memproses bahan mentah saja. Samapah yang
dihasilkan dari tempat ini biasanya samah basah, sampah kering, sisasisa bangunan, sampah khusus, dan sangat berbahaya.
5. Pertanian
Sampah berasal dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti
kebun, lading, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahanbahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk,
maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

D. JENIS SAMPAH PADAT


Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti berikut :
a) Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya
1) Organic, missal : sisa makanan, daun, sayur dan buah
2) Anorganik, misalnya : logam, pecah belah, abu dan lain-lain.
b) Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar
1) Mudah dibakar, missal : kertas plastic, daun kering, kayu
2) Tidak mudah dibakar, missal : kaleng, besi, gelas dan lain-lain
c) Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk
1) Mudah membusuk, missal : sisa makanan, potongam daging,
dan sebagainya
2) Sulit membusuk, missal : plastic, karet, kaleng, dan sebagainya
d) Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah
1) Garbage, terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat
terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Proses
pembususkan sering kali menimbulkan bau busuk. Sampah
jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan,
rumah sakit, pasar, dan sebagainya.
2) Rubbish, terbagi menjadi dua :
a. Rubbish mudah terbakar terdiri atas zat-zat organic,
missal: kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
b. Rubbish tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat
anorganik, missal: kaca, kaleng, dan sebagainya.
3) Ashes, semua sisa pembakaran dari industry
4) Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas
mesin atau manusia
5) Dead animal, bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan
sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami
6) House hold refuse, atau sampah campuran (missal, garbage,
ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan
7) Abandoned vehicle, berasal dari bangkai kendaraan
8) Demolision waste, berasal dari dan hasil sisa-sisa pembangunan
gedung
Contructions waste, berasal dari hasil sisa-sisa pembangunan
gedung, seperti tanah, batu dan kayu
9) Sampah industri, bersal dari pertanian, perkebunan dan
industry
10) Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang
biasanya berupa zat organic, pada pintu masuk pusat
pengolahan limbah cair

11) Sampah khusus, atau sampah yang memerlukan penanganan


khusus seperti kaleng dan zat radioaktif
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH SAMPAH
Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah sampah, yaitu:
a) Jumlah Penduduk
Jumalah penduduk begantung pada aktivitas dan kepadatan penduduk.
Semakin padat penduduk, sampah semakin menumpuk karena tempat atau
ruang untuk menampung sampah kurang. Semakin meningkat aktivitas
penduduk, sampah yang dihasilkan semakin banyak, misalnya pada
aktivitas pembangunan, perdagangan, industry, dan sebagainya.
b) System pengumpulan atau pembuangan sampah yang dipakai
Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak lebih lambat jika
dibandingkan dengan truk
c) Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali
Metode itu dilakukan karena bahan tersebut masih memilki nilai ekonomi
bagi golongan tertentu. Frekuensi pengambilan dipengaruhi oleh keadaan,
jika harganya tinggi, sampah yang tertinggal sedikit.
d) Faktor Geografis
Lokasi tempat pembuangan apakah di daerah pegunungan, lembah, pantai
atau di dataran rendah
e) Faktor Waktu
Bergantung pada faktor harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Jumlah
sampah perhari bervariasi menurut waktu. Contoh, jumlah sampah pada
siang hari lebih banyak daripada jumlah dipagi hari, sedangkan sampah di
daerah perdesaan tidak begitu bergantung pada faktor waktu
f) Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya
Contoh, adat istiadat dan taraf hidup dan mental masyarakat.
g) Faktor Musim
Pada musim hujan sampah mungkin akan tersangkut pada selokan pintu
air, atau penyaringan air limbah
h) Kebiasaan Masyarakat
Contoh, jika seseorang suka mengkonsumsi satu jenis makanan atau
tanaman sampah makanan itu akan meningkat

i) Kemajuan Teknologi
Akibat kemajuan teknologi,

jumalah

sampah

dapat

meningkat.

Contoh,plastic, kardus, rongsokan, AC, TV, kulkas dan sebagainya


j) Jenis Sampah
Makin maju tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin kompleks pula
macam dan jenis sampahnya
F. KOMPOSISI SAMPAH PADAT
Komposisi sampah padat sangat bervariasi tergantung dari sumbernya,
dari yang terbentuk sangat padat (seperti besi) hingga yang berbentuk
busa/gabus. Selain itu, volume sampah juga bervariasi dari yang besar seperti
bangkai kendaraan hingga yang berbentuk abu.
Komposisi sampah suatu daerah yang ingin diketahui bergantung pada
rencana pengolahan sampah yang akan dipakai. Atau sebaliknya, komposis
sampah suatu daerah harus diketahui lebih dahulu untuk perencanaan
pengolahan sampah selanjutnya.
Para ahli mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menentukan komposisi
sampah suatu daerah. Salah satunya ialah dengan menghitung jumlah
bahan/materi sampah dalam dalam gram/ % dari sampah yang terdiri atas
bahan-bahan berikut :
a. Logam : kaleng-kaleng, besi, paku dan sejenisnya
b. Benda terbuat dari bahan kertas : kertas, Koran, majalah, karton, dan
lain-lain
c. Benda terbuat dari bahan plastic : plastic pembungkus, bekas alat-alat
rumah tangga dan lain-lain
d. Benda terbuat dari bahan karet : ban, sandal, dan lain-lain
e. Benda terbuat dari bahan kain : sobekan-sobekan kain, gorden, dan
lain-lain
f. Benda terbuat dari kaca/beling : pecahan gelas, lampu, botol dan lainlain
g. Benda terbuat dari bahan kayu : kayu, ranting, kursi, meja dan lain-lain
h. Garbage : sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain
i. Bahan-bahan dari batu, tanah, abu, dan lain-lain
Komposisi dari bahan-bahan tersebut penting untuk diketahui dalam
perencanaan

pengolahan

sampah,

mulai

dari

cara

pengangkutan,

pengumpulan, dan pembuangan/pemusnahan sampah suatu daerah. Selain itu,


dengan diketahuinya komposisi sampah tersebut, dapat diupayakan daur

ulang dari bahan-bahan sampah yang masih dapat terpakai, misalnya besi,
kaca, kertas, plastic, dan lainnya.

G. PENGOLAHAN SAMPAH PADAT


Ada beberapa tahapan di dalam pengolahan sampah padat yang baik, di
antara tahap pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber, tahap
oengangkutan dan tahap pemusnahan.
1. Tahap pengumpulan dan Penyimpanan di Tempat Sumber
Sampah yang ada dilokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, dan
sebagainya) ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam
hal ini tempat. Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan
dalam tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya.
Adapun tempat penyimpanan sementara (tempat basah) yang
digunakan harus memenuhi persyaratan berikut :
1) Kontruksi harus kuat dan tidak mudah bocor
2) Memiliki tutp dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan
3) Ukuran sesuai sehingga mudah diangkut oleh satu orang
Dari tempat penyimpanan, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan
ke dalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang
digunakan untuk menampung sampah rumah tangga. Pengelolaannya
dapat diserahkan pada pihak pemerintah.
Untuk pembangunan suatu dipo, ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, diantaranya :
1) Dibangun diatas permukaan tanah dengan ketinggian bangunan
setinggi kendaraan pengangkut sampah
2) Memiliki dua pintu, pintu masuk dan pintu untuk mengambil sampah
3) Memiliki lubang ventilasi yang tertutup kawat halus untuk mencegah
lalat dan binatang lain masuk ke dalam dipo
4) Ada keran air untuk membersihkan
5) Tidak menjadi tempat tinggal atau sarang lalat dan tikus
6) Mudah dijangkau masyarakat
Pengumpulan sampah dapat dilakukan dengan dua metode :
a) System duet : tempat sampah kering dan tempat sampah basah
b) System trio : tempat sampah basah, sampah kering, dan tidak
mudah terbakar
2. Tahap Pengangkutan

Dari dipo, sampah diangkut ke tempat pembuangan akhir atau


pemusnahan sampah dengan menggunakan truk pengangkut sampah
yang disediakan oleh Dinas Kebersihan Kota.
3. Tahap Pemusnahan
Di dalam tahap pemusnahan sampah ini, terdapat beberapa metode
yang dapat digunakan, antara lain :
1) Sanitary Landfill
Sanitary Landfill adalah system pemusnahan yang paling baik.
Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara
menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi
selapis. Dengan demikian, sampah tidak berada di ruang
terbuka dan tentunya tidak menimbulkan bau atau menjadi
sarang binatang pengerat. Sanitary landfill yang baik harus
memenuhi persyaratan berikut :
a) Tersedai tempat yang luas
b) Tersedia tanah untuk menimbun
c) Tersedia alat-alat besar
Lokasi sanitary landfill yang lama dan sudah tidak dipakai lagi
dapat dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, perkantoran,
dan sebagainya.
2) Incineration
Inceneration atau

insenerasi

merupakan

suatu

metode

pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah secara


besar-besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik. Manfaat
system ini, antara lain:
a) Volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya
b) Tidak memerlukan ruang yang luas
c) Panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap
d) Pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal
jam kerja yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Adapun kerugaian yang ditimbulkan akibat penerapan metode
ini :
a) Biaya besar
b) Lokalisasi pembuangan pabrik sukar didapat karena
keberatan penduduk
Peralatan yang digunakan dalan insenerasi, antara lain :
1. Charging apparatus

Charging apparatus adalah tempat penampungan sampah


yang berasal dari kendaraan pengangkut sampah. Ditempat
ini sampah yang terkumpul ditumpuk dan diaduk.
2. Furnace
Furnace atau tungku merupakan alat pembakar yang
dilengkapi dengan jeruji, besi yang berguna untuk mengatur
jumlah masuk sampah dan untuk memisahkan abu dengan
sampah yang belum terbakar. Dengan demikian, tungku
tidak terlalu penuh.
3. Combustion
Combustion atau tungku pembakar kedua, memiliki nyala
apai yang lebih panas dan berfungsi untuk membakar
benda-benda yang tidak terbakar pada tungku pertama.
4. Chimney atau stalk
Chimnet atau stalk adalah cerobong asap untuk mengalirkan
asap keluar dan mengalirkan udara kedalam.
5. Miscellaneous features
Miscellaneous features adalah tempat penampungan
semntara dari debu yang terbentuk, yang kemudian diambil
dan dibuang.
3) Composting
Pemusnahan sampah dengan cara memanfaatkan proses
dekomposisi zat organic oleh kuman-kuman pembusuk pada
kondisi tertentu. Proses ini menghasilkan bahan berupa kompos
atau pupuk. Berikut tahap-tahap di dalam pembuatan kompos :
a) Pemisahan benda-benda yang tidak dapat dipakai sebagai
pupuk seperti gelas, kaleng, besi dan sebagainya
b) Penghancuran sampah menjadi partikel-partikel yang lebih
kecil (minimal berukuran 5cm)
c) Pencampuran sampah dengan mmerhatikan kadar karbon
dan nitrogen yang paling baik (C:N = 1:30)
d) Penempatan sampah dalam galian tanah yang tidak begitu
dalam. Sampah dibiarkan terbuka agar terjadi proses
aerobic.
e) Pembolak-balikan sampah 4-5 kali selama 4-5 kali selama
15-21 hari agar pupuk dapat terbentuk dengan baik. Perlu

diingat bahwa galian tersebut jangan sampai menjadi


tempat bersarang hewan pengerat atau serangga.
4) Hot feeding
Pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (missal babi).
Perlu doongat bahwa sampah basah tersebut harus diolah lebih
dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan
penyakit cacing dan trichinosis ke hewan ternak.
5) Discharge to sewers
Sampah dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam system
pembuangan air limbah. Metode ini dapat efektif asalkan
system pembuangan air limbah memang baik.
6) Dumping
Sampah dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapangan,
jurang, atau tempat sampah
7) Dumping in water
Sampah dibuang ke dalam air sungat atau laut. Akibatnya,
terjadi pencemaran pada air dan pandangkalan yang dapat
menimbulkan bahaya banjir.
8) Individual incineration
Pembakaran sampah secara perorangan ini biasa dilakuakn oleh
penduduk terutama di daerah perdesaan.
9) Recycling
Pengolahan kembali bagian-bagian dari sampah yang masih
dapat dipakai atau di daur ulang. Contoh bagian sampah yang
dapat di daur ulang antara lain, plastic, gelas, kaleng, besi dan
sebagainya.
10) Reduction
Metode ini diterapkan dengan cara mengahncurkan sampah
(biasanya dari jenis garbage) sampai ke bentuk yang lebih
kecil, kemudian diolah untuk menghasilkan lemak.
11) Salvaging
Pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali, misalnya,
kertas bekas. Bahasanya adalah bahwa metode ini dapat
menularkan penyakit.
H. MANAJEMEN SAMPAH
Untuk pengelolaan sampah dibutuhkan sejumlah tenaga. Jumlah dan
kualitas tenaga tersebut tergantung dari besar kecilnya permasalahan sampah

yang dikelola. Sebagai contoh dapat dilihat pada struktur organisasi dibawah
ini.

GUBERNUR
DINAS KEBERSIHAN

DINAS

WALI KOTA

SUKU DINAS

SUKU DINAS
KEBERSIHAN

KECAMATAN

1. Peralatan
PENILIK KEBERSIHAN

Alat-alat yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah padat antara

lain, sapupengki atau ica, cangkul/cangkrang, skop, truk, truk pemadat,


KELURAHAN
crane hopper, dragline traktor,
bullodozer,dan lain-lain. Di samping itu,

dibutuhkan juga alat pelindung diri seperti topi, masker, tutup telinga,
pakaian kerja, sarung tangan, sepatu, dan kacamata bila perlu.

SEKSI KEBERSIHAN

2. Biaya
RW

Setiap pelaksanaan suatu program tidak luput dari rencana anggaran


biaya. Alokasi biaya pada pengelolaan sampah meliputi :
1) Honor/gaji petugas
2) Pembelian alat-alat
3) Biaya operasi/bahan bakar dan pemeliharaan alat-alat
4) Pembelian tanah untuk lokasi kantor, tempat penampungan
sementara, dipo, serta tempat pembuangan

5) Biaya alain, seperti listrik, air, telepon, dan lainnya.

I. DAMPAK NEGATIF SAMPAH


Sampah padat yang bertumpuk dan tidak dapat teruraikan dalam waktu yang
lama akan mencemarkan tanah dan lingkungan. Yang dikategorikan sampah padat
adalah bahan yang tidak dipakai lagi (re-use) karena telah diambil bagian-bagian
utamanya dengan pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara
ekonomi tidak ada harganya.
Ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan, yaitu :
a.Dampak terhadap kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai atau pembuangan
sampah yang tidak terkontrol merupakan tempat ( habitat ) yang cocok bagi
kehidupan beberapa organisme dan menarik bagi berbagai jenis hewan/ binatang
seperti, lalat, nyamuk, tikus dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.
Potensi

bahaya

kesehatan

yang

dapat

ditimbulkan

adalah;

Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal
dari

sampah

dengan

pengelolaan

tidak

tepat,

bercampur

air

minum.

Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat meningkat dengan cepat di


daerah

Penyakit

yang
jamur

pengelolaan
dapat

juga

sampahnya
menyebar

kurang

(misalnya

jamur

baik.
kulit)

Penyakit cacingan menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya


adalah penyakit cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam
pencernaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/
sampah.
b.Dampak terhadap lingkungan
Rembesan cairan sampah yang membawa zat kimia berbahaya jika tanpa
dikelola masuk ke dalam saluran air (drainase) atau sungai akan mencemari air.
Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati, hal tersebut mengakibatkan
berubahnya ekosistem biologis. Penguraian sampah yang di buang ke dalam air

akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain
berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak.

c.Dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi


Dampak-dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi tersebut adalah
sebagai berikut:
Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya derajat
kesehatan masyarakat. Hal yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah resiko
meningkatnya beban pembiayaan bagi warga yang sakit ketika si pasien berobat
atau dirawat di rumah sakit.
Infrastruktur jalan dan got/saluran air juga dipengaruhi oleh pengelolaan
sampah yang tidak memadai, jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak
efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya ke jalan atau got/saluran air.
Hal ini mengakibatkan jalan dan got/ saluran air kotor atau rusak hingga perlu
lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

BAB 3
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH
A. TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH
Pembuangan sampah akhir merupakan suatu upaya yang tidak mungkin
dicarikan alternatifnya, kecuali harus dimusnahkan atau dimanfaatkan. Hal ini
mengingat pengaruh yang dapat ditimbulkan jika perencanaan pemusnahan dan
pemanfaatan sampah tidak dilakukan dengan baik.
Teknologi pemanfaatan dan pembuangan akhir sampah dapat dibagi seperti
berikut :
a) Pemanfaatan sampah dengan teknik pengolahan yang dapat
menjadikan sampah sebagai bahan yang berguna, misalnyapembuatan
kompos dan biogas
b) Pemusnahan atau reduksi sampah dengan insenerator dan metode
sanitary landfill.
1. Teknologi Pengolahan dengan Kompos
Pengolahan sampah garbage dilakukan

secara

biologis

dan

berlangsung dalam keadaaan aerobic dan anaerobic. Proses dekomposisi


sampah dengan bantuan bakteri akan menghasilkan kompos atau humus.
Proses dekomposisi yang sifatnya anaerobic berlangsung dengan sangat
lambat dan mengahsilkan bau, tetapi dekomposisi aerobik berlangsung
relatif lebih cepat dari dekomposisi anaerobic dan kurang menimbulkan
bau.
Ada beberapa metode pembuatan kompos, antara lain :
a) Secara alami
Proses pembuatan kompos secara alami dapat dilakukan baik
secara tradisional (anaerobik) maupun secara sederhana (aerobic).
Metode tradisional banyak digunakan oleh petani. Pada metode ini,
bahan organic dihancurkan tanpa bantuan udara, yaitu dengan

meletakkan tumpukan sampah di dalam lubang tanpa udara di


tanah dan dibiarkan beberapa saat. Pembuatan kompos dengan
metode ini memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan
kompos selain dapat menimbulkan bau akibat pembentukan gas
H2S dan NH3. Pembuatan kompos dengan metode sederhana
dilakukan dengan cara mengaduk atau mebolak-balikkan sampah
atau dengan menambahkan nutrient yang berupa lumpur atau
kotoran binatang ke dalam sampah.
b) Mekanis
Pembuatan kompos secara mekanis dilakukan di pabrik untuk
menghasilkan kompos dalam waktu yang singkat. Sampah organic
yang telah dipisahkan dari sampah anorganik (karet, plastic,
logam) dipotong kecil-kecil dengan alat pemotong. Potongan
sampah

tersebut

kemudian

dimasukkan

ke

dalam

digesterstabilizator agar terjadi dekomposisi. Dalam digester ini


perlu dilakuakn pengaturan suhu, udara, dan pengadukan sampah.
Setelah 3-5 hari, kompos sudah dapat dihasilkan dank e dalamnya
dapat pula dialiri zat kimia tertentu untuk keperluan tanaman
(missal, karbon, nitrogen, fosfor, sulphur dan sebagainya).
2. Teknologi Pengolahan dengan Gas Bio
Gas bio merupakan bahan bakar yang dihasilkan dari proses
fermentasi dan proses pembususkan oleh bakteri anaerobic terhadap
bahan-bahan organic termasuk kotoran manusia, kotoran hewan, sisa-sisa
pertanian, ataupun campurannya pada alat yang dinamakan penghasil gas
bio. Agar efektif, proses tersebut harus berlangsung dalam kondisi baik,
misalnya, pada tingkat kelembaban yang sesuai, suhu yang tetap dan pH
yang netral. Karena termasuk bahan bakar, gas bio memilki nilai ekonomis
tinggi sebagai sumber energy alternative, disamping dapat mengurangi
dampak akibat pembuangan kotoran yang tidak diolah.
Komposisi gas bio terdiri atas gas metan, karbon dioksida, nitrogen,
monoksida, oksigen dan hydrogen sulfida. Konsentrasi gas metan cukup
tinggi dan bila bercampur dengan udara akan menghasilkan gas bakar.
Karakteristik gas metan murni, antara lain, tidak berwarna, tidak berbau,
dan tidak berasa. Nilai kalor panasnya cukup tinggi, antara 4.000-6.700

kcal/m atau hamper sama dengan energy yang diperlukan untuk


mendidihkan 130 kg air pada suhu 20oC atau energy yang diperlukan
untuk menyalakan lampu ukuran sekitar 60-100 watt selama 5-6 jam.
3. Teknologi Pengolahan dengan Insenerator
Insenerator (incinerator) adalah alat untuk membakar sampah secara
terkendali melaui pembakaran suhu tinggi. Insenerator merupakan salah
satu metode pembuangan sampah yang dapat diterapkan di daerah
perkotaan atau didaerah yang sulit mendapatkan lahan untuk membuang
sampah. Keuntungan metode ini adalah bahwa pembakaran dapat
dilakukan pada semua jenis sampah kecuali batu atau logam dan
pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi iklim. Suhu yang masih tinggi
dalam insenerator dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan generator atau
mengeringkan lumpur pada pengolahan air kotor.
Residu pe,bakaran berupa abu dapat dimanfaatkan untuk menimbun
tanah. Abu yang dihasilkan kurang lebih 20-25% total berat sampah yang
dibakar atau sekitar 5-10% total volume sampah yang dibakar.
Kerugiannya, tidak semua jenis sampah dimusnahkan, terutama sampah
dari logam, selain dapat mengakibatkan pencemaran udara jika insenerator
tidak dilengkapi dengan air pollution control.
Negara maju telah banyak dibangun insenerator modem dengan panas
yang tinggi dan rancangan sedemikian ruapa sehingga dapat membakar
relative semua jenis sampah menjadi abu dan tetap menjaga lingkungan
dari pencemaran. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa abu sisa
pembakaran secara berkala harus diambil dan dibuang. Dengan demikian,
perlu disediakan tempat khusus untuk pembuangan abu sisa pembakaran.
4. Teknologi Pengolahan dengan Sanitary Landfill
Semua jenis sampah diangkut dan dibuang ke suatu tempat yang jauh
dari lokasi pemukiman. Di tempat tersebut, tumpukan sampah diratakan
dan dipadatkan kemudian ditimbun dengan tanah selapis demi selapis.
Ada tiga metode yang dapat digunakan dalam menerapkan teknik
sanitary landfill ini, yaitu :
a) Metode galian parit (trench method)
Sampah dibuang ke dalam galian parit yang memanjang. Tanah
bekas galian digunakan untuk menutup parit tersebut. Sampah
yang ditimbun dan tanah penutup dipadatkan dan diratakan

kembali. Setelah satu parit terisi penuh, dibuat parit baru di


sebelah parit terdahulu.
b) Metode area
Sampah dibuang di atas tanah seperti pada tanah rendah, rawarawa atau pada lereng bukit kemudian ditutup dengan lapisan
tanah yang diperoleh dari tempat tersebut.
c) Metode Ramp
Metode ramp merupakan teknik gabungan dari kedua metode di
atas. Prinsipnya adalah bahwa penaburan lapisan tanah dilakukan
setiap[ hari dengan tebal lapisan sekitar 15 cm diatas tumpuka
sampah.
Setelah lokasi sanitary landfill yang terdahulu stabil, lokasi
tersebut

dapat

dimanfaatkan

sebagai

sarana

jalur

hijau

(pertamanan), lapangan olahraga, tempat rekreasi, tempat parker,


dan sebagainya.
Pengelolaan sampah di suatu daerah akan membawa pengaruh bagi
masyarakat maupunlingkungan daerah sendiri. Pengaruhnya tentu saja ada
yang positif da nada yang negatif.
a) Pengaruh yang baik
Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang
positif terhadap masyarakat dan lingkungannya, seperti berikutb :
1) Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam
rawa-rawa dan dataran rendah
2) Sampah dimanfaatkan untuk pupuk
3) Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah
menjalani proses pengolahan yang telah ditentukan lebih
dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut
terhadap ternak
4) Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk
berkembang biak serangga atau binatang pengerat
5) Menurunkan insiden kasus penyakit menular yang erat
hubungannya dengan sampah
6) Keadaaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan
kegairahan hidup masyarakat
7) Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuan
budaya masyarakat

8) Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran


dana kesehatan suatu Negara sehingga dana itu dapat
digunakan untuk keperluan lain
b) Pengaruh negatif
Pengolahan sampah yang kurang baik dapat memberikan pengaruh
negative bagi kesehatan, lingkungan, maupun bagi kehidupan
social ekonomi dan budaya masyarakat, seperti berikut :
1) Pengaruh terhadap kesehatan
a) Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan
sampah sebagai tempat perkembangbiakan vector penyakit,
seperti lalat atau tikus
b) Insidensi penyakit demam berdarah dengue akan meningkat
karena vector penyakit hidup dan berkembang biak dalam
sampah kaleng ataupun ban bekas yang berisi air hujan
c) Terjadinya kecelakaan akibat pembuangan sampah secara
sembarangan, misalnya luka akibat benda tajam seperti besi,
kaca dan sebagainya
d) Gangguan psikomatis, misalnya sesak nafas, insomnia, stress
dan lain-lain
2) Pengaruh terhadap lingkungan
a) Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata
b) Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan
menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk
c) Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara
dan bahaya kebakaran yang lebih luas
d) Pembuangan sampah ke dalam saluran pembuangan air akan
menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air menjadi
dangkal
e) Apabila musim hujan dating, sampah yang menumpuk dapat
menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada
sumber air permukaan atau sumur dangkal
f) Air banjir mengakibatkan kerusakan

pada

fasilitas

masyarakat, seperti jalan, jembatan, dan saluran air


3) Terhadap social ekonomi dan budaya masyarakat
a) Pengelolaan sampah yang kurang baik mencerminkan
keadaan social budaya masyarakat setempat

b) Keadaan lingkungan yang kurang baik dan jorok, akan


menurunkan minat dan hasrat orang lain (turis) untuk dating
berkunjung ke daerah tersebut
c) Dapat menyebabkan terjadinya perselisihan antara penduduk
setempat

dan

pihak

pengelola

(misal,

kasus

TPA

Bantargebang, Bekasi)
d) Angka kasus kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja
sehingga produktivitas masyarakat menurun
e) Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana
yang besar sehingga dana untuk sector lain berkurang
f) Penurunan pemasukam daerah (devisa) akibat penurunan
jumlah

wisatawan

yang

diikuti

dengan

penurunan

pengahasilan masyarakat setempat


g) Penurunan mutu dan sumber daya alam sehingga mutu
produksi menurun dan tidak memiliki nilai ekonomis
h) Penumpukan sampah di pinggir jalan menyebabkan
kemacetan lalu lintas yang dapat menghambat kegiatan
transportasi barang dan jasa
B. UKURAN PENGELOLAAN SAMPAH
Dalam pengelolaan sampah padat ukuran-ukuran yang sering dipakai
adalah ukuran berat, berat jenis/kepadatan, dan volume.
1. Ukuran Berat
Ukuran berat yang sering dipakai adalah :
1) Ton per hari untuk jumlah produksi sampah dari suatu daerah
2) Kilogram per orang per hari atau gram per orang per hari untuk
produksi sampah per orang atau per kapita
Ukuran berat baik digunakan karena hasil perhitungan produksi
sampah dengan ukuran berat dapat dibandingkan antara satu daerah
dan daerah lain, atau antara satu kota/Negara dengan kota/Negara
lain. Adapun kekurangan adalah dengan menggunakan ukuran berat,
maka diperlukan alat timbangan sehingga dibutuhkan modal cukup
besar. Untuk kota atau Negara yang sedang berkembang, kebutuhan
akan alat tersebut kadang menjadi hambatan dalam pengelolaan
sampah padat.
2. Ukuran Berat Jenis/Kepadatan
Ukuran berat jenis digunakan bila pemakaian ukuran berat belum
dapat terpenuhi. Untuk itu dibutuhkan suatu penelitian pendahuluan

(dengan menggunakan alat timbangan) guna mengetahui berat


sampah setiap volume sampah tertentu. Dengan demikian, diperoleh
berat jenis atau kepadatan dari sampah tersebut. Ukuran jenis
dipengaruhi oleh :
1) Jenis sampah dan komposisinya
2) Cara pengisisan alat ukur volume sampah, apakah dipadatkan
atau tidak
Membandingkan produksi sampah suatu daerah dengan daerah lain
dengan menggunakan ukuran ini relative lebih sulit karena
dipengaruhi oleh jenis dan komposisi sampah masing-masing daerah,
serta cara pengisian container sampah dari masing-masing daerah
tersebut. Bila akan melakukan perbandingan dengan menggunakan
ukuran ini, maka faktor-faktor yang berpengaruh tersebut harus di
control atau disamakan lebih dahulu
3. Ukuran Volume
Ukuran ini sering digunakan terutama di Negara berkembang di mana
masih terdapat kesulitan biaya untuk pengadaan alat timbangan.
Satuan ukuran yang dipakai adalah m3/hari atau liter/orang/hari.
Dalam pelaksanaan sehari-hari, sering alat ukuran volume diterapkan
langsung pada alat-alat pengumpul dan pengangkut sampah, misalnya
bak penampung sampah dengan volume 60 liter, atau volume truk 12
m3. Dengan mengetahui volume sampah per angkut dan jumlah rate
angkutan, maka volume produksi sampah keseluruhan dapat
diketahui. Akan tetapi, perbandingan produksi sampah antardaerah
sulit dilakukan karena faktor-faktor berikut ini :
a. Jenis dan komposisi sampah yang berbeda antara daerah yang
satu dan daerah yang lain
b. Cara pengisian alat ukur/alat penampung dan alat pengangkut
sampah yang berbeda, apakah dengan dipadatkan atau tidak
Jadi dalam membandingkan produksi sampah antara daerah dan
menggunakan ukuran ini, harus diperhatikan satuan yang dipakai dan
cara pengukuran yang dilakukan.

BAB 4
PEMBAHASAN
A. DAMPAK SAMPAH TERHADAP LINGKUNGAN
Sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan
jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang dapat ditimbulkan
oleh sampah antara lain sebagai berikut:
1. Pencemaran Udara.
Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap,
dan sebagainya. Sampah menimbulkan biogas yang mengandung banyak metan
dan karbondioksida serta bahan berbahaya lainnya. Menurut California Waste
Management Board (1988), biogas mengandung karbon dioksida, dan bahanbahan lain seperti karbon disulfida, merkaptan, dan bahan lainnya. Biogas tersebut
dihasilkan

oleh

dekomposisi

anaerobik

dari

bahan

organik.

Biogas dapat lepas ke udara ambien dan dapat bermigrasi secara lateral melalui
tanah dan batu.Biogas juga dapat mengalami infiltrasi ke dalam bangunanbangunan dan mengalami akumulasi metan sehingga dapat menimbulkan ledakan
yang berbahaya.
Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa bahan dalam biogas
dapat mengganggu perkembangan embrio, fetus, dan dapat menyebabkan
kemandulan, kematian, berat badan kelahiran rendah, dan kelainan bawaan. Ibu-

ibu, yang tinggal di sekitar TPA, yang terkontaminasi biogas memiliki fisiko
tinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan mempengaruhi umur
kehamilan. Individu yang terpapar biogas berhubungan dengan gangguan
hipertensi pada saat kehamilan, stillbirths (kematian janin pada kehamilan tua),
cacat bawaan. Dampak tersebut tergantung pada sifat, waktu , dan tingkat
kontaminasinya.
Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui sanitary
landfill. dihasilkan substansi kimia dalam bentuk gas seperti CH4, CO2, NH3,
dan H2S. Perhatian khusus diberikan pada CH4 karena dapat diubah menjadi
bahan berbahaya (HCHO) kemudian dihasilkan CO2. jalur perubahan CH4
menjadi CO2 mengikuti jalur-jalur reaksi tertentu. Gugus OH dapat terbentuk oleh
pelepasan NH3 di udara. Gas CO2, NH3, dan H2S dapat diubah menjadi H2CO3,
HNO3, dan H2SO4 berturut-turut dalam sehari.Diperkirakan hal tersebut akan
berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.
Bau busuk sampah memiliki dampak emosional terhadap penduduk yang
tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah . Bau digunakan sebagai
alasan penduduk untuk mencegah dibangunnya TPA. Bau busuk yang ditimbulkan
sampah organik terjadi tatkala proses penguraian ( dekomposisi) berlangsung
dalam kondisi tanpa oksigen atau intensitas aerasi rendah (anaerob) , atau kadar
air atau kelembaban rendah maupun terlalu kering serta suhu yang tidak kondusif
bagi bekerjanya bakteri pengurai. Pada kondisi prasyarat bagi berlangsungnya
penguraian (dekomposisi) material organik tidak terpenuhi, bakteri akan diam dan
tidur (dorman) , saat sama akan terjadi reaksi anaerobik dan menimbulkan gas
H2S maupun methana ( CH4) . Kedua jenis gas inilah yang dirasakan sebagai bau
busuk.
Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejalagejala sebagai berikut : Sakit kepala atau pusing badan terasa lesu, hilangnya
nafsu makan, rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada, batukbatuk, kulit
terasa perih.

2.Pencemaran air akibat sampah.

Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air permukaan dan air tanah
karena pembasuhan sampah oleh air hujan. Selain itu sampah dapat menyumbat
saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir.Lindi (leachate) merupakan
cairan yang dihasilkan oleh penguraian sampah yang terbilas oleh adanya air,baik
yang terkandung dalam sampah itu sendiri maupun dari luar (rembesan air hujan
atau air tanah). Dampak negatif secara signifikan terhadap air permukaan dan
kualitas air tanah merupakan polusi yang disebabkan oleh lindi.Karakteristik
pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang
dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturutturut sekitar 30,000 mgi1, 20 mg/l, dan 60 mg/l (Japan International Cooperation
Agency). Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah
organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD
yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.Hal ini
menyebabkan sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara
serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol.
Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah,
evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah, sedangkan kualitas lindi
berhubungan erat dengan kadar BOD dan COD.Karakteristik pencemar yang
dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang.
Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar
30,000 mg/l, 20 mg/l, dan 60 mg/l. Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya
didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi
didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000
ppm

atau

lebih.

Hal ini menyebabkan sampah sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran


air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk
dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam
sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah.
3. Penurunan Derajat Kesehatan Masyarakat.
Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk akan
semakin tinggi jika sampah tidak dikelola dengan baik. Keadaan kesehatan di
daerah pemukiman dapat diukur dengan jumlah kasus penyakit kolera dan

penyakit menular lainnya. Dinyatakan oleh WHO dan Bank Dunia bahwa kolera
adalah penyakit endemik, pada tahun 1974 terdapat 51.399 kasus atau case
fatality rate 8,8%. Tingkat laju angka kematian di Indonesia pada tahun tersebut
adalah 14,4 permil. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagian besar dari kematian
tersebut disebabkan oleh penyakit menular. Penyakit menular itu disebabkan
keadaan yang sangat buruk, pada saat itu dalam bidang sanitasi dan kesehatan
lingkungan, seperti kurangnya sarana penyediaan air minum dan sistem air
buangan yang tidak baik, masalah sampah yang belum terpecahkan, dan
kurangnya kesadaran sebagian besar penduduk tentang pemeliharaan kesehatan
lingkungan. Akibat dari keadaan lingkungan pemukiman yang buruk tidak saja
merugikan dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan
secara tidak langsung terhadap aspek-aspek sosial ekonomi pada umumnya.
Sampah dapat menjadi sarang lalat, tikus, kecoak, dan jasad renik yang
dapat menjadi pembawa ataupun sumber penyakit. Selain itu, populasi pembawa
penyakit (vector) dapat meningkat oleh aktifitas pengangkutan dan pembuangan
sampah.
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan
sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa
organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat
menjangkitkan penyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari
sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit
demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di
daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga
menyebar (misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai
makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh
cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang
ternak

melalui

makanannya

yang

B. PERAN SERTA MASYARAKAT

berupa

sisa

makanan/sampah.

Pengumpulan dan pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan baik,


tanpa adanya peran serta masyarakat, sebagaimana yang dilakukan di berbagai
kota di Indonesia. Masyarakat selalu dilibatkan dalam pengumpulan sampah.
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan kesediaan
masyarakat untuk membantu berhasilnya program pengelolaan sampah sesuai
dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri
sendiri. Tanpa adanya peran serta masyarakat semua program pengelolaan
persampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan masyarakat
agar dapat membantu program pemerintah dalam keberhasilan adalah
membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai dengan program
persampahan yaitu mengubah paradigma masyarakat terhadap pengelolaan
sampah yang tertib, lancar dan merata, mengubah kebiasaan masyarakat dalam
pengelolaan sampah yang kurang baik dan faktor-faktor sosial, struktur dan
budaya

setempat.

Peran serta masyarakat yang utama dalam sistem pengumpulan sampah adalah
kesadaran masyarakat sendiri untuk membawa sampahnya ke TPS (Tempat
Penampungan Sementara) terdekat. Organisasi rukun tetangga (RT) dan rukun
warga (RW) merupakan organisasi penting yang mengkoordinir pengumpulan
sampah di permukiman yang tidak memiliki akses ke jalan utama. Berdasarkan
hal tersebut, sistem pengumpulan sampah khususnya sampah rumah tangga yang
saat

ini

dilakukan

didasarkan

pada

kondisi

dan

kultur

masyarakat.

Selain itu, peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah, menurut Pasal 28
ayat 1 UUPengolahan Sampah dapat dilakukan melalui:
1) Pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah;
2) Perumusan kebijakan pengelolaan sampah; dan/atau
3) Pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa
persampahan

Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program


pemerintah dalam penanganan kebersihan adalah bagaimana membiasakan

masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut,
yang menyangkut:

Bagaimana mengubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan

sampah yang tertib, lancar, dan merata.


Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat.
Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.

Tanpa adanya partisipasi masyarakat, semua program pengelolaan sampah


(kebersihan) yang direncanakan akan sia-sia. Partisipasi masyarakat akan
membangkitkan semangat kemandirian dan kerjasama diantara masyarakat akan
meningkatkan swadaya masyarakat.
C. PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS
MASYARAKAT
Undang-undang Lingkungan Hidup No.23 Tahun 1997 padaPasal 16,
menetapkan; tanggung jawab pengelolaan lingkungan ada pada masyarakat
sebagai produsen timbulan limbah sejalan dengan hal tersebut, masyarakat
sebagai produsen timbulan sampah diharapkan terlibat secara total dalam lima sub
sisitem pengelolaan sampah, yang meliputi sub sistem kelembagaan, sub sistem
teknis operasional, sub sistem finansial, sub sistem hukum dan peraturan serta sub
sistem peran serta masyarakat.
Contoh pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dalam skala
rumah tangga berbasis masyarakat di Indonesia, contohnya adalah sebagai
berikut :
1) Pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang
Sakti Takakura.
Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik
untuk skala rumah tangga. Hal menarik dari keranjang Takakura adalah
bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman

digunakan di rumah. Keranjang ini di sebut masyarakat sebagai keranjang


sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.
2) Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat yang dilakukan di
sebuah kawasan di Permata Cimahi telah memakai peralatan yang disebut
insinerator. Insinerator adalah alat pembakar sampah yang rendah kadar
polusi asapnya. Masyarakat di area ini mengelola sampahnya dengan bantuan
insinerator. Warga tak lagi terbebani biaya angkot sampah atau mencium bau
busuk dan menyaksikan gunungan sampah. Tiap warga tinggal menyimpan
sampah yang dikemas kantong plastik di depan pagar rumah. Petugas sampah
akan mengangkutnya dengan grobak, lantas mengirimkannya ke tempat
pembuangan yang telah ditentukan. Di tempat pembuangan, seorang petugas
akan memasukkannya ke bak insinerator. Sampah itu dibakar. Sampah pun tak
mengusik ketenangan dan kenyamanan hidup warga.
Perencanaan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat.
Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan,
peran serta masyarakat adalah melibatkan masyarakat dalam tindak-tindak
administrator yang mempunyai pengaruh langsung terhadap mereka. Peran serta
masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak masyarakat, terutama
dalam pengambilan keputusan, dalam tahap identifikasi masalah, mencari
pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan.
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat diartikan sebagai
keikutsertaan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah baik
langsung maupun tidak langsung.
Perencanaan merupakan suatu proses yang mempersiapkan seperangkat
keputusan untuk melakukan tindakan dimasa depan. Tahap perencanaan
merupakan tahapan awal dalam proses pelaksanaan program pembangunan
pengelolaan sampah. Hal ini dimaksudkan bahwa perencanaan akan memberikan
arah, langkah atau pedoman dalam proses pembangunan dimaksud. Pada tahapan
ini akan ditelusuri aktivitas atau kegiatan yang dilakukan masyarakat, dimulai dari
keterlibatan mereka dalam menyusun rencana program yang diaktualisasikan

melalui keaktifannya pada setiap rapat dan inisiatif diadakannya rapat, dan
keterlibatan

dalam

memberikan

pendapat,

tanggapan

masyarakat

serta

pengembangan terhadap upaya pengelolaan sampah, sampai dengan keterlibatan


mereka dalam pengambilan keputusan terhadap program yang direncanakan.
Secara umum, pelaksanaan pekerjaan berdasarkan perencanaan teknis
pengelolaan sampah terpadu 3R(reuse, reduce, recycle) yaitu kegiatan
penggunaan kembali sampah secara langsung, mengurangi segala sesuatu yang
menyebabkan timbulnya sampah, memanfaatkan kembali sampah setelah
mengalami proses pengolahan, maka 5 tahap pelaksanaan pekerjaaan, yaitu :
tahap

persiapan,

tahap

pemilihan

lokasi,

tahap

pengorganisasian

dan

pemberdayaan masyarakat, tahap uji coba pelaksanaan pengelolaan sampah 3R


(Reuse,

Reduce,

Recycle).

D. PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN KONSEP 3R


Kegiatan Penyusunan Program Sampah 3R (reuse, reduce, recycle) adalah
proses penyusunan rencana pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat
dengan pola 3R adalah: membuat identifikasi permasalahan dan menentukan
rumusan permasalahan serta menentukan kebutuhan yang dilakukan dengan
metode

penyerapan

aspirasi

masyarakat

dan

melakukan

survei

kampung/pemukiman sendiri dan menyusun analisis permasalahan untuk


menentukan skala perioritas kebutuhan serta menentukan potensi sumber daya
setempat.
Menurut Departemen Pekerjaan, pengertian pengelolaan sampah 3R secara
umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program
menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang
(Recycle).Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah
secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.Reduce
(mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya
sampah.Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah
mengalami proses pengolahan. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di

perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upayaupaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah (dari
hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R .
Kegiatan menyusun indentifikasi kebutuhan peralatan prasarana dan
sarana persampahan 3R (reuse, reduce, recycle) yaitu menentukan jenis dan
jumlah peralatan yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah rumah tangga
berbasis masyarakat, pewadahan, pengangkutan dan alat pengolahan sampah
untuk menjadi kompos. Juga melakukan identifikasi lokasi yang dapat
dimanfaatkan.

E. ASPEK PENGELOLAAN SAMPAH


Sistem Pengelolaan sampah adalah proses yang meliputi lima aspek,yaitu :
1.Aspek Teknis Operasional
Aspek teknis operasional pengelolaan sampah meliputi kegiatan-kegiatan
pewadahan sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah, pengangkutan
sampah, pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Keterkaitan antar sub
sistim dalam pengelolaan sampah .Tata cara pengelolaan sampah bersifat integral
dan terpadu secara berantai dengan urutan yang berkesinambungan yaitu :
penampungan/pewadahan,

pengumpulan,

pemindahan,

pengangkutan,

pembuangan/ pengolahan.
2. Penampungan Sampah dan Pewadahan
Proses awal dalam penampungan sampah terkait langsung dengan sumber
sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara
penampungan sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke TPA.
Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak
mengganggu lingkungan (SNI 19-2454-2002). Bahan wadah yang dipersyaratkan
sesuai Standart Nasional Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah
diperoleh dan dibuat oleh masyarakat dan mudah dikosongkan, persyaratan bahan

wadah adalah awet dan tahan air, mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat
serta ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat.
3. Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah yaitu cara atau proses pengambilan sampah mulai dari
tempat penampungan / pewadahan sampai ke TPS (Tempat Pembuangan
Sementara).
Pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikelompokkan dalam dua
kelompok yaitu(SNI 19-2454-2002) :

Pola Individual adalah proses pengumpulan sampah dimulai dari


sumber

sampah

kemudian

diangkut

ketempat

pembuangan

sementara/ TPS sebelum dibuang ke TPA.

Pola Komunal adalah pengumpulan sampah dilakukan oleh


penghasil sampah ketempat penampungan sampah komunal yang
telah disediakan/ ke truk sampah yang menangani titik pengumpulan
kemudian diangkut ke TPA tanpa proses pemindahan.

4. Pemindahan Sampah
Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan
ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat
yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang
dilengkapi dengan container pengangkut (SNI 19-2454- 2002).
5. Pengangkutan Sampah
Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan
di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat
pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada
sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah
dengan truk kontainer.

E. PENGELOLAAN SAMPAH DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR


Terdapat paling tidak 5 cara yang dikenal secara umum dalam
penanggulangan sampah di TPA yaitu;
1) Open Dumps, yang mengacu pada cara pembuangan sampah pada area
terbuka tanpa dilakukan proses apapun.
2) Landfills, adalah lokasi pembuangan sampah yang relatif lebih mbaik
daripada open dumping dengan cara yaitu sampah yang ada di tutup
dengan tanah kemudian dipadatkan dan setelah lokasi penuh maka lokasi
landfill akan ditutup tanah tebal dan kemudian lokasi tersebut dijadikan
tempat parkir.
3) Sanitary Landfils, yaitu menggunakan material yang kedap air sehingga
rembesan air dari sampah tidak akan mencemari lingkungan sekitar,
namun biaya sanitary landfill relatif lebih mahal.
4) Incenerator, yaitu dilakukan pembakaran sampah dengan terlebih dahulu
dengan memisahkan sampah daur ulang, biasanya proses pembakaran
sampah dilakukan alternatif terakhir atau lebih difouskan pada penanganan
sampah medis.
5) Pengomposan, yaitu proses biologis yang kemudian organisme kecil
mengubah sampah organik menjadi pupuk.
Dalam pengelolaan sampah, diketahui beberapa cara pengolahan sebagai
berikut:
1) Pemanfaatan Ulang atau Daur Ulang (Recycling)
Daur ulang adalah proses pengambilan dan pengumbulan barang yang
masih memiliki nilai ekonomis dari sampah untuk digunakan kembali.
Sampah yang biasanya dikelola dengan cara daur ulang adalah sampahsampah anorganik.

Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampah
untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar
untuk membangkitkan listik dan sebagainya. Pengumpulan bisa dilakukan
dari sampah yang sudah dipisahkan sejak awal misalnya dengan kotak
sampah/kendaraan sampah khusus, atau dapat juga dari sampah yang
sudah

tercampur.

Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng


baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton,
koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan
PS) juga bisa di daur ulang. Daur ulang dari produk seperti komputer atau
mobil lebih susah, karena terlebih dulu bagian-bagiannya harus diurai, lalu
dikelompokan kembali menurut jenis bahannya.
Cara yang digunakan agar membuat sampah yang ada menjadi memiliki
nilai ekonomis setelah dikelola, memiliki kelebihan dan kekurangan
pengelolaan sampah dengan cara daur ulang adalah sebagai berikut :
Kelebihannya adalah 1)Tidak membutuhkan lahan yangbesar; 2) Bahan
yang telah didaur ulang dapat digunakan lagi; 3) Metode ini memberikan
kesempatan kerja bagi para pemulung.
Kekurangannya adalah 1) Memerlukan biaya investasi yang besar serta
biaya operasional yang juga lumayan tinggi; 2) Pasokan sampah harus
memiliki jumlah yang besar dan selalu konstan; 3) Tidak semua jenis
sampah dapat di daur ulang; 4) Sampah yang tidak dapat didaur ulang
terpaksa tetap menjadi sampah dan harus dikelola dengan cara yang
lainnya atau dibuang; 5) Tidak cocok untuk kebutuhan jangka panjang,
karena jumlah sampah yang tidak dapat didaur ulang akan bertambah
banyak.
2) Pengolahan Biologis
Material sampah organik, seperti sisa tanaman, sisa makanan atau kertas,
dapat diolah dengan menggunakan proses biologis untuk dibuat kompos,
atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang

bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang digunakan untuk
membangkitkan

listrik.

Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan


adalah Green Bin Program ( program tong hijau) di Toronto, Kanada,
dimana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan
tanaman dikumpulkan dikantong khusus untuk dibuat kompos.
3) Pemulihan Energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah dapat diambil langsung
dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung
dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Ini adalah salah
satu metode memanfaatkan sampah dalam pemulihan energi. Daur ulang
melalui cara pemanasan bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai
bahan bakar memasak atau untuk memanaskan boiler guna menghasilkan
uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua
bentuk pemanasan, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan
keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup
bertekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi
produk berzat padat, gas, dan zat cair. Produk zat cair dan gas bisa dibakar
untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain.
4) Penimbunan Darat
Penimbunan darat adalah cara pembuangan sampah dengan cara
menguburnya. Metode ini adalah metode paling populer di dunia.
Penimbunan

ini

biasanya

dilakukan

di

tanah

yg

ditinggalkan,

ditelantarkan, atau lubang bekas pertambangan, atau lubang lubang atau


ceruk yang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di
kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang
hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan
tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah
lingkungan, diantaranya angin berbau busuk sampah yang akan menarik
berkumpulnya hama juga terjadinya genangan air sampah. Efek samping

lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang sangat
berbahaya karena rawan meledak. (peristiwa demikian pernah terjadi di
Bandung akibat kandungan gas methan di TPA tiba-tiba meledak dan
melongsorkan

gunung

sampah

di

tempat

itu)

Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah


metode pengumpulan air sampah dengan menggunakan bahan tanah liat
atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan, untuk menambah
kepadatan dan kestabilannya lalu ditutup untuk tidak menarik hama
(biasanya tikus). Banyaknya penimbunan sampah mempunyai sistem
pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas
yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar
di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk
membangkitkan listrik yang bermanfaat bagi warga perkotaan.
5) Pembakaran/pengkremasian
Pembakaran

sampah

atau

pengkremasian

sampah

memanfaatkan

temperatur tinggi bisa disebut Perlakuan panas. Kremasi mengubah


sampah menjadi panas, gas, uap dan abu. Pengkremasian dilakukan oleh
perorangan atau oleh industri untuk skala besar. Hal ini bisa dilakukan
untuk sampah padat , cair maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai
cara praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya,
contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah
metode yang kontroversial karena dampaknya menghasilkan polusi udara.
Pengkremasian dilakukan di negara seperti Jepang karena lahan yang
begitu terbatas. Metode ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan
darat. Sampah diubah menjadi energi (Waste-to-energy=WtE) atau energi
dari sampah (Energy-from-Waste = EfW) adalah terminologi untuk
menjelaskan sampah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna
menghasilkan panas/uap/listrik. Pembakaran pada alat kremasi tidaklah
selalu sempurna, bahkan sering ada keluhan adanya polusi mikro dari
emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat

dioxin yang kemungkinan dihasilkan didalam pembakaran dan mencemari


lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak, pengkremasian seperti ini
dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh penerapannya di
Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.
6) Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah perkotaan adalah
pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan pengurangan
sampah. Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas
pakai , memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk secara kreativ
supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja
katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari
penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue), dan mendesain
produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang
sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).
7) Pembuatan Kompos (Composting)
Pengertian pengomposan (Composting) adalah sistem pengolahan sampah
organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga membentuk pupuk organis
(pupuk kompos). Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat
dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan
mesin (skala industri atau komersial). Membuat kompos dapat dilakukan
dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses
dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada
oksigen. Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku
menjadi kompos tidak memerlukan oksigen.
Dampak

dan

Manfaat

Pengelolaan

sampah

secara

mandiri

Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan


dapat memberikan beberapa manfaat antara lain:
1) Meningkatnya Nilai-nilai Sosial

Meningkatnya nilai-nilai kerekatan sosial ditandai dengan meningkatnya


nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan tentunya menjadi
sebuah tujuan utama adanya pengelolaan sampah secara mandiri.
Masyarakat dilatih bekerjasama untuk menentukan program-program
rencana

kegiatan

bagi

pembangunan

di

pemukimannya

tanpa

ketergantungan terhadap pihak-pihak lain. Adanya kemandirian tersebut


membuat masyarakat lebih memahami apa yang mereka butuhkan dan
bersama-sama memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk
membangun lingkungan tempat tinggal mereka, agar selalu bersih dan
ramah lingkungan.
2) Meningkatnya Nilai-nilai Ekonomi
Sampah-sampah yang didaur ulang oleh masyarakat dapat menjadi
berbagai kerajinan bisa dijual dan tentunya akan memberikan penghasilan
tambahan bagi masyarakat. Walaupun jumlah keuntungan dari penjualan
barang daur ulang tersebut tidak signifikan, setidaknya itu dapat terus
momotivasi masyarakat untuk berkreasi dan sekaligus peduli dengan
lingkungannya.

BAB 5
PENUTUP
Pada dasarnya limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil
pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi
sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak
yang dihasilkan oleh limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau
solusi tersebut tidak ada hasilnya karena masih banyak pula kita jumpai limbah
atau sampah disungai dan didarat yang dapat pula menimbulkan banjir serta
kerusakan lingkungan lainnya.
Untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap lingkungan dan kesehatan
manusia maka perlu dirancang suatu sistem pengelolaan limbah yang baik mulai
dari sumber, pengumpulan, transportasi hingga ke Tempat Pembuangan Akhir
(TPA). Dalam perancangan sistem pengelolaan limbah suatu daerah diperlukan
data mengenai timbulan sampah, komposisi dan karakteristik sampah yang
dihasilkan di daerah yang direncanakan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdoli, S. 2009. RFID Application in Municipal Solid Waste Management
System. Int. J. Environ. Res., 3(3):447-454, Summer 2009.
Al Ansari, M.S. 2012. Improving Solid Waste Management in Gulf Cooperation Council States: Developing Integrated Plans to Achieve
Reduction in Greenhouse Gases. Modern Applied Science Vol. 6, No. 2;
February 2012
Dolfina, I.O. 2015. Effective Solid Waste Management: A Panacea to Disease
Prevention and Healthy Environment in Bayelsa State, Nigeria. Inter. J.
Acad. Res. Educ. Rev. Vol. 3(3), pp. 65-75, April 2015
Firdaus, G . and Ahmad , A . 2009. Management of Urban Solid Waste
Pollution in Developing Countries. Int. J. Environ. Res., 4(4):795-806,
Autumn 2010.
Ghiasinejad, H. and Abduli, S. 2007. Technical and Economical Selection of
Optimum Transfer-Transport Method in Solid Waste Management in
Metropolitan Cities. Int. J. Environ. Res., 1(2): 179-187, Spring 2007.
Hadi, Sudharto P. 2005. Dimensi Lingkungan : Perencanaan Pembangunan.
Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu.
Jakarta.
Suyoto, B. 2008. Rumah Tangga Peduli Lingkungan. Prima Media, Jakarta.
Hyun , P., Borinara, P. and Hong, K. D. 2011. Geotechnical Considerations for
End-Use of Old Municipal Solid Waste Landfills. Int. J. Environ. Res.,
5(3):573-584, Summer 2011
Monney, I., B.M. Tiimub and H.C. Baga. 2013. Characteristics and
management of household solid waste in urban areas in Ghana: the case
of WA. Civil and Environmental Research. Vol.3, No.9, 2013.

Nyakaana, J.B. 2000. Solid Waste Management in Urban Centers: the Case of
Kampala City - Uganda.East African Geographical Review, 19:1
Omran, A., Mahmood, A., Abdul Aziz, H. and Robinson, G.M. 2009.
Investigating Households Attitude Toward Recycling of Solid Waste in
Malaysia: A Case Study. Int. J. Environ. Res., 3(2):275-288, Spring 2009
Oyoo, R., Leemans, R. and Mol, A. P. J. 2011. Future Projections of Urban
Waste Flows aand their Impacts in African Metropolises Cities. Int. J.
Environ. Res., 5(3):705-724, Summer 2011
Perda Prov Sumsel no. 20, 2014. Tentang Pengelolaan Sampah. Palembang.
Perda Kota Palembang no. 27, 2011. Tentang Pengelolaan dan Distribusi
Pelayanan Persampahan/Kebersihan dan Penyediaan/Penyedotan
Kakus. Palembang.
PP no. 16, 2005. Tentang perlindungan air baku. Jakarta.

PP no. 38, 2007. Tentang kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan


Pemerintah kab/Kota. Jakarta.

Permen PU no. 21, 2006. Tentang Kebijakan & Strategi Nasional


Persampahan) NSPM (SNI) bidang persampahan. Jakarta.
Ruslinda, Y., S. Indah dan W. Laylani. 2012. Studi Timbulan, Komposisi dan
Karakteristik Sampah Domestik Kota Bukittinggi. Jurnal Teknik
Lingkungan UNAND 9 (1) : 1-12 (Januari 2012)
SNI -T-12-1991-03. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman. Badan
Standar Nasional. Jakarta.

SNI T-13-1990-F.Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. Badan


Standar Nasional. Jakarta.

SNI -T-11-1991-03. Tata cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir


Sampah. Badan Standar Nasional. Jakarta.

State of Hawaii Department of HealthOffice. 2000. Hawaii D 2000 Plan for


Inegrated Solid Waste Management. Hawaii Oegon.
Swapan, Das and B.Kr. Bhattacharyya. 2013.
Municipal Solid Waste
Characteristics and Management in Kolkata, India. International
Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering, Volume 3,
Issue 2, February 2013.
UNEP. 2009.Waste Characterization and Quantification withProjections for
Future. Volume 1. Developing Integrated Solid Waste Management Plan,
Training Manual. United Nations Environmental Programme Division of
Technology, Industry and Economics, International Environmental
Technology Centre, Osaka/Shiga, Japan.
UNEP. 2009.Assessment of Current Waste Management System andGaps
therein. Volume 2. Developing Integrated Solid Waste Management Plan,
Training Manual. United Nations Environmental Programme Division of
Technology, Industry and Economics, International Environmental
Technology Centre, Osaka/Shiga, Japan.
UNEP. 2009.Targets and Issues of Concern for ISWM. Volume 3. Developing
Integrated Solid Waste Management Plan, Training Manual. United Nations
Environmental Programme Division of Technology, Industry and
Economics, International Environmental Technology Centre, Osaka/Shiga,
Japan.
UNEP. 2009.ISWM Plan. Volume 4. Developing Integrated Solid Waste
Management Plan, Training Manual. United Nations Environmental
Programme Division of Technology, Industry and Economics, International
Environmental Technology Centre, Osaka/Shiga, Japan.
UU no. 8, 2008.Tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta.

UU no. 23, 1997. Tentang Lingkungan Hidup. Jakarta.

UU no 7, 2004. Tentang SDA. Jakarta.

UU no 32, 2004. Tentang otonomi daerah. Jakarta.

Yoada, R.M., D. Chirawurah and P.B. Adongo. 2014. Domestic waste disposal
practice and perceptionsof private sector waste management in
urbanAccra. BMC Public Health 2014, 14:697.