Anda di halaman 1dari 44

EVALUASI CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DUSUN

SEMAWE DESA CONGKRANG KECAMATAN MUNTILAN


KABUPATEN MAGELANG PERIODE JANUARI-FEBRUARI 2012

Disusun Dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Kepaniteraan Klinik


Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Disusun Oleh :

NUR AGAMI
111022129

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 12 MARET- 5 MEI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL VETERAN JAKARTA
2012

LEMBAR PENGESAHAN

EVALUASI CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF


DI DUSUN SEMAWE DESA CONGKRANG KECAMATAN MUNTILAN
KABUPATEN MAGELANG
PERIODE JANUARI-FEBRUARI 2012

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Diponegoro

Oleh :
NUR AGAMI
111022129

Muntilan,

April 2012

Telah disetujui dan disahkan oleh :

Kepala puskesmas Muntilan I

(dr. Imelda Sinaga)

Pembimbing

(dr. Hartoyo, M.Kes)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul Evaluasi
Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan
Muntilan Kabupaten Magelang Periode Januari - Februari 2012. Laporan ini dibuat
untuk memenuhi salah satu syarat tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat di Puskesmas Muntian I. Saya berharap pembuatan laporan dapat bermanfaat
bagi pihak puskesmas, dalam hal ini Puskesmas Muntilan I, dalam

rangka

menyempurnakan kinerjanya sehingga dapat menjadi Puskesmas unggulan di wilayah


Magelang.
Dalam usaha penyelesaian tugas laporan ini, saya banyak memperoleh bimbingan
dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak. Untuk itu, dalam
kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

dr. Imelda Sinaga, selaku kepala puskesmas dan pembimbing dalam penulisan
laporan selama berada di puskesmas Muntilan I

2.

dr. Hartoyo, M.Kes, selaku pembimbing dalam penulisan laporan.

3.

Bidan Endah Wulan,selaku Bidan Desa Congkrang.

4.

Karyawan dan staf pendukung yang selalu membantu saya dalam mengumpulkan
data-data yang diperlukan selama menjalani kepaniteraan klinik di Puskesmas

Muntilan 1.
5. Tim Pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteraan Universitas Diponegoro Semarang.
6.

Orang tua saya yang telah banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil.

7.

Seluruh teman-teman kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Muntilan,


terima kasih atas kerjasamanya dan semoga kita semua mendapatkan hasil yang
maksimal atas usaha kita.
Saya menyadari bahwa di dalam penulisan ini masih banyak kekurangannya. Oleh

karena itu dengan segala kerendahan hati saya menerima semua saran dan kritik yang
membangun guna penyempurnaan tugas laporan ini.

Muntilan, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN........................................................................ i
KATA PENGANTAR................................................................................

ii

DAFTAR ISI...............................................................................................

iv

DAFTAR TABEL.......................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR.................................................................................

vii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................

I.1 Latar Belakang.................................................................................

I.2. Perumusan Masalah.......................................................................... 3


I.3 Tujuan............................................................................................... 3
I.4. Manfaat Penulisan............................................................................

I.5. Batasan Pengkajian.........................................................................

I.6 Metode Kegiatan..............................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................


II.1. Definisi ASI....................................................................................

II.2. Manfaat ASI....................................................................................

II.3. Kandungan ASI................................................................................ 7


II.4 Komposisi Zat Utama.....................................................................

II.5 Macam-macam ASI Eksklusif........................................................

II.6. Manajemen Laktasi..........................................................................

10

BAB III DATA UMUM DAN KHUSUS..................................................

13

III.1 Data Umum Desa Congkrang........................................................

13

III.2 Data Khusus Dusun Semawe ......................................................... 16


BAB IV HASIL SURVEY DAN PENGAMATAN.................................

17

IV.1 Hasil Kuisioner...............................................................................

19

BAB V ANALISIS MASALAH.................................................................

22

V.1 Kegiatan / Indikator Kegiatan yang Bermasalah............................

22

V.2 Kerangka Pikir Pemecahan Masalah..............................................

22

BAB VI ANALISIS PENYEBAB MASALAH.......................................

23

VI.1 Kemungkinan Penyebab Masalah.................................................

24

VI.2 Penyebab Masalah Yang Paling Mungkin....................................

27

BAB VII ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH...........................

28

VII.1. Alternatif Pemecahan Masalah....................................................

28

VII.2. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah............................

29

VII.3. Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah....................

30

BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN................................................

33

VIII.1. Kesimpulan................................................................................

33

VIII.2. Saran..........................................................................................

34

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................

35

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

TABEL 1. Jumlah penduduk Desa Congkrang menurut Jenis Kelamin


pada Bulan Desember tahun 2007...........................................14
TABEL 2. Jumlah penduduk Desa Congkrang berdasarkan Usia
Pada bulan Desember 2009...................................................14
TABEL 3. Jumlah Penduduk Desa Congkrang Menurut Mata
Pencaharian pada bulan Desember tahun 2009......................14
TABEL 4. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan.................................15
TABEL 5. Hasil kuisioner pengetahuan terhadap 16 responden........... 19
TABEL 6. Hasil kuisioner terhadap pemberian ASI Eksklusif............... 20
TABEL 7. Identifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah
Tahap Analisis Pendekatan Sistem.........................................24
TABEL 8. Alternatif Pemecahan Masalah...............................................18
TABEL 9. Skor Penentuan Pemecahan Masalah....................................28
TABEL 10. Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah..............................31
TABEL 11. Plan of Action Rencana Kegiatan Pelatihan kepada kader...32
TABEL 12. Rencana Kegiatan Pelatihan kepada Bidan dan Kader.........33

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Wilayah Dusun Semawe ................................................16


Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah.....................................................22
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Pendekatan sistem ................................23
Gambar 4. Diagram Fish Bone.................................................................26
Gambar 5. Kerangka Alternatif Pemecahan Masalah..............................29
Gambar 6. Gambar 6. Contoh media edukasi yang dibuat......................32

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
pembangunan nasional, karena masalah kesehatan menyentuh hampir semua aspek
kehidupan manusia. Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah membangun sumber
daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar dapat melanjutkan perjuangan pembangunan
nasional untuk menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur. Kualitas SDM di ukur
dari kecerdasan, kematangan, emosi, kemampuan berkomunikasi, keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi peningkatan
kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. ASI merupakan makanan
yang paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-zat gizi yang
bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak,
memberikan zat-zat kekebalan terhadap beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan
emosional antara ibu dan bayinya. 3
Pemberian ASI secara eksklusif dapat mencegah kematian balita sebanyak 13 %.
Pemberian makanan pendamping ASI pada saat dan jumlah yang tepat dapat mencegah
kematian balita sebanyak

6%, sehingga pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai lebih dari 2 tahun bersama makanan
pendamping ASI yang tepat dapat mencegah kematian balita sebanyak 19%.1
Tahun 1990 pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian
ASI (PP-ASI) yang salah satu tujuannya adalah untuk membudayakan perilaku menyusui
secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai dengan berumur 4 bulan. Pada tahun 2004,
sesuai dengan anjuran badan kesehatan dunia (WHO), pemberian ASI Eksklusif
ditingkatkan menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia nomor 450/MENKES/SK/VI/2004 tahun 2004.4
Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan secara menyeluruh diseluruh
daerah di Indonesia. Dari Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun
1997 tercatat bahwa pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 4 bulan di Indonesia
hanya 52%. Angka pencapaian tersebut telah meningkat sebesar 36% bila dibandingkan
dengan hasil survei serupa yang diadakan oleh WHO (World Health Organization) pada

tahun 1986. Bila dibandingkan dengan target yang harus segera dicapai pada tahun 2020,
angka pencapaian tersebut belum mencapai target 80%.3
Berdasarkan SDKI 2007, Angka Cakupan ASI Ekslusif 6 bulan di Indonesia hanya
39,5% (SDKI 2007), masih jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38%. Sementara itu, saat ini
jumlah bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada tahun
2002 menjadi 32,4% pada tahun 2007.8
Pemberian ASI pada bayi erat kaitannya dengan keputusan yang dibuat oleh ibu.
Selama ini ibu merupakan figure utama dalam keputusan untuk memberikan ASI atau
tidak pada bayinya. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, baik
faktor dari dalam maupun dari faktor dari luar diri ibu.1,5
Dalam upaya pengawasan dan evaluasi pemberian ASI Eksklusif, pemerintah
Kabupaten Magelang memasukkan program ASI Eksklusif ke dalam Standar Pelayanan
Minimal (SPM). Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menargetkan
pemberian ASI Eksklusif sebesar 80%. Namun permasalahan yang ada di Standar
Pelayanan Minimal Puskesmas Muntilan 1 periode Januari - Februari 2012 adalah
cakupan hasil kegiatan bayi yang mendapat ASI Eksklusif belum tercapai dengan besar
pencapaian 71% . Dari 8 desa yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Muntilan
1. Peneliti mengambil penelitian di desa Congkrang, karena desa Congkrang memiliki
persentase pemberian ASI Eksklusif yang rendah, sedangkan pengambilan data di Dusun
Semawe, karena di Dusun Semawe memiliki cakupan Pemberian ASI Eksklusif yang
rendah dibandingkan dari ke-5 Dusun yang ada di Desa Congkrang.12 Berdasarkan hal
tersebut di atas, maka perlu dicari penyebab dari permasalahan bayi yang diberi ASI
Eksklusif di Dusun Semawe, serta menemukan alternatif pemecahan masalahnya. 11
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, terdapat masalah yang belum diketahui, yaitu :


Apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun
Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Periode Januari
Febuari 2012 sehingga tidak memenuhi target?
1.3 Tujuan Penulisan

Mengetahui,

mengidentifikasi,

menganalisis

serta

mengevaluasi

penyebab

rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang


Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang periode Januari Febuari 2012 sehingga tidak
memenuhi target .
1.3.1

Tujuan Umum

Mengetahui,

mengidentifikasi,

menganalisis

serta

mengevaluasi

penyebab

rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang


Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang periode Januari Febuari 2012 sehingga tidak
memenuhi target .
1.3.2

Tujuan Khusus

a. Mengetahui cakupan ASI Ekslusif di Dusun Semawe Desa Congkrang


Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
b. Mampu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan ASI
Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang.
c. Mampu menganalisis masalah ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang
Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
d. Mampu membuat rencana tindak lanjut dalam menyelesaikan masalah ASI Eksklusif di
Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Mahasiswa
a.Sebagai syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat.
b. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang ditemukan di
dalam survei yang dilaksanakan.
c.Melatih kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat.

1.4.2

Bagi Puskesmas

1. Mengetahui masalah atau upaya Puskesmas mengenai penerapan ASI Eksklusif.


2. Membantu puskesmas dalam mengidentifikasi penyebab dari upaya puskesmas
dalam hal penerapan ASI Eksklusif yang tidak berjalan.
3. Membantu puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian terhadap masalah
penerapan ASI Eksklusif yang tidak berjalan.
1.4.3 Bagi Masyarakat
a. Menambah pengetahuan, khususnya bagi para ibu mengenai pentingnya manfaat
pemberian ASI Eksklusif pada bayinya.
b. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan masyarakat dengan
mensosialisasikan program ASI Eksklusif.
c. Membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI Eksklusif sebagai satusatunya makanan yang diperlukan oleh bayi usia 0-6 bulan.

1.5 Batasan Pengkajian


1.5.1 Batasan Judul
Laporan kegiatan dengan judul Evaluasi Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di
Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang
Periode Januari - Februari 2012 mempunyai batasan pengertian judul sebagai
berikut:
a. Evaluasi
Adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut,
apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atau
permasalahan yang ditemukan.
b. Cakupan
Adalah jangkauan suatu hal.
c. Program ASI Eksklusif
d. Desa Congkrang, Dusun Semawe, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang
Adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Muntilan,
Kabupaten Magelang.
e. Periode Januari Febuari 2012
Adalah kurun waktu selama 2 bulan yang diawali dari Bulan Januari 2012 dan
berakhir pada bulan Febuari 2012.

1.5.2 Batasan Operasional


a. Frekuensi kegiatan berlangsung selama 2 bulan.
b. Sasaran adalah Ibu yang memiliki bayi dan balita 6 24 bulan.
c. Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah ibu yang
memberikan ASI Eksklusif di Dusun Semawe dibagi jumlah semua ibu ada di
Desa tersebut pada periode Januari-Febuari 2012.
1.5.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Lingkup lokasi
b.
c.
d.
e.

: Desa Congkrang, Dusun Semawe, Kecamatan Muntilan,

Kabupaten Magelang.
Lingkup waktu : Januari 2012 sampai Febuari 2012.
Lingkup sasaran : seluruh ibu yang memunyai bayi dan balita 6-24 bulan.
Lingkup metode : kuesioner, wawancara, dan pencatatan.
Lingkup materi : evaluasi cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun
Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Periode
Januari Februari 2012.

1.6 Metodologi Kegiatan


Survei dilakukan di dusun Semawe desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang, pada tanggal 06-08 April 2012. Responden yang diambil adalah 16
orang ibu yang mempunyai bayi dan balita 6 -24 bulan, di Desa Semawe. Jenis data
yang diambil adalah :
1. Data primer, yang diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) dengan cara
wawancara. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada ibu 16 orang ibu
yang memiliki bayi dan balita 6 -24 bulan. Selain itu, wawancara juga
dilakukan kepada bidan Desa Congkrang mengenai program pelayanan kesehatan
untuk pemberian ASI Eksklusif.
2. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data-data dari laporan registrasi
pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas, dan buku kelahiran dari bidan Desa
Congkrang.
Data yang terkumpul diolah dan kemudian dianalisis masalah yang ditemukan
dengan mencari kemungkinan penyebabnya, melalui pendekatan sistem, yang meliputi
kelima input, yaitu man, money, material, machine, methods, proses yang meliputi fungsi

manajemen baik P1, P2, P3, serta lingkungan. Dengan demikian dapat ditentukan
alternatif pemecahan masalah berdasarkan penyebab masalah yang paling mungkin dan
penggabungan alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah itu, prioritas pemecahan
masalah ditentukan dengan menggunakan rumus kriteria matriks, yang kemudian dibuat
rencana kegiatan dan plan of action (POA) berdasarkan pemecahan masalah yang terpilih
dan dijadwalkan dalam sebuah Gann chart.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain
pada bayi berumur nol sampai enam bulan, untuk kemudian diteruskan hingga 2 tahun
atau lebih , dan setelah enam bulan baru didampingi dengan makanan / minuman
pendamping ASI ( MPASI ) sesuai perkembangan pencernaan anak. 4
Pemberian ASI pada bayi erat kaitannya dengan keputusan yang dibuat oleh ibu.
Selama ini ibu merupakan figure utama dalam keputusan untuk memberikan ASI atau
tidak pada bayinya. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, baik
faktor dari dalam maupun dari faktor dari luar diri ibu.
Faktor-faktor dari dalam diri ibu atau faktor internal antara lain pengetahuan ibu
mengenai proses laktasi, pendidikan, motivasi, sikap, pekerjaan ibu, dan kondisi
kesehatan ibu. Sementara itu, faktor dari luar diri ibu atau faktor eksternal antara lain
social ekonomi, tata laksana rumah sakit, kondisi kesehatan bayi, pengaruh iklan susu
formula yang intensif, keyakinan keliru yang berkembang di masyarakat dan kurangnya
penerangan dan dukungan terhadap ibu dari tenaga kesehatan atau petugas penolong
persalinan maupun orang-orang terdekat ibu seperti ibu, mertua, suami, dan lain-lain.
11.2Manfaat ASI Eksklusif 5,6
1) Manfaat untuk ibu :
Membantu proses pemulihan setelah melahirkan.
Mencegah perdarahan dan membantu ibu untuk pemulihan uterus.
Salah satu cara ber-KB

Mencurahkan kasih sayang kebayi, dengan menyusui terjalinnya ikatan kasih


sayang yang kuat antara bayi dan ibu, dan membuat keduannya merasa aman dan
bahagia.
2) Manfaat untuk bayi :
Menambah kekebalan pada tubuh bayi sehingga tidak mudah terserang penyakit
infeksi terutama diare.

Tidak hanya mengandung zat gizi dan non zat gizi yang penting, tetapi juga
mengandung enzim penyerapnya sehingga semua ASI dengan mudah diserap
seluruhnya oleh pencernaan bayi.
II.3 Kandungan ASI
ASI mengandung zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang
proses tumbuh kembang otak dan memperkuat daya tahan alami tubuhnya. Kandungan
ASI yang utama terdiri dari:
1. Laktosa
merupakan jenis karbohidrat utama dalam ASI yang berperan penting sebagai
sumber energi . Selain itu laktosa juga akan diolah menjadi glukosa dan galaktosa
yang berperan dalam perkembangan sistem syaraf. Zat gizi ini membantu penyerapan
kalsium dan magnesium di masa pertumbuhan bayi.
2. Lemak
Merupakan zat gizi terbesar kedua di ASI dan menjadi sumber energi utama
bayi serta berperan dalam pengaturan suhu tubuh bayi. Lemak di ASI mengandung
komponen asam lemak esensial yaitu: asam linoleat dan asam alda linolenat yang
akan diolah oleh tubuh bayi menjadi AA dan DHA. AA dan DHA sangat penting untuk
perkembangan otak bayi.
3. Oligosakarida
Merupakan komponen bioaktif di ASI yang berfungsi sebagai prebiotik
karena terbukti meningkatkan jumlah bakteri sehat yang secara alami hidup dalam
sistem pencernaan bayi.

4. Protein
Komponen dasar dari protein adalah asam amino, berfungsi sebagai
pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan,
dan fenilalanin merupakan senyawa yang berperan dalam proses ingatan.
II.4 Komposisi zat utama dalam ASI

1. Laktosa- 7gr/100ml.
2. Lemak- 3,7-4,8gr/100ml.
3. Oligosakarida- 10-12 gr/ltr.
4. Protein- 0,8-1,0gr/100ml.
II.5 Macam-macam ASI
a. Kolostrum
1) Kolostrum yaitu ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke4 setelah
melahirkan.
2)

Kolostrum merupakan cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat anti
infeksi dan berprotein tinggi.

3) Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara,


mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli
dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium.
4) Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
5)

Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning kuningan, lebih


kuning dibandingkan dengan susu yang matang.

6)

Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus


bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi
dan makanan yang akan datang.

7) Lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI yang matur, tetapi
berlainan dengan ASI yang matur. Pada kolostrum protein yang utama adalah
globulin (gamma Globulin).
b. Air Susu Transisi atau Masa Air Susu Peralihan
1) Yaitu ASI yang keluar sejak hari ke-4 sampai hari ke-10 dimasa laktasi, tetapi
adapula pendapat yang mengatakan bahwa ASI matur terjadi pada minggu ke3 sampai dengan minggu ke-5.
2) Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur.
3) Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak
makin meninggi.

4) Volume akan makin meningkat.


c. Air Susu Matang (Mature)
1) Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi
relatif konstan (adapula yang menyatakan bahwa komposisi ASI relatif
konstan baru mulai minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
2) Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI ini merupakan makanan
satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayinya sampai umur 6 bulan.
3) Merupakan suatu cairan yang berwarna putih kekuning-kuningan yang
diakibatkan warna garam Ca-caseinat, riboflavin, dan kariten yang terdapat di
dalamnya.
4) Tidak menggumpal jika dipanaskan.
II.6 MANAJEMEN ASI EKSKLUSIF7,8
Langkah-langkah kegiatan Menejemen Laktasi menurut Depkes RI
adalah :
1. Masa Kehamilan (Antenatal).
Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai manfaat dan
keunggulan ASI, manfaat menyusui bagi ibu, bayi dan keluarga serta cara
pelaksanaan management laktasi.

2. Menyakinkan ibu hamil agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya.
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara. Disamping itu,
perlu pula dipantau kenaikan berat badan ibu hamil selama kehamilan.
4. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan sehari-hari termasuk
mencegah kekurangan zat besi. Jumlah makanan sehari-hari perlu ditambah
mulai kehamilan trimester ke-2 (minggu ke 13-26) menjadi 1-2 kali porsi dari
jumlah makanan pada saat sebelum hamil untuk kebutuhan gizi ibu hamil.

5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Penting pula perhatian


keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan
dukungan dan membesarkan hatinya bahwa kehamilan merupakan anugerah
dan tugas yang mulia.
a) Saat segera setelah bayi lahir.
1. Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar
mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai menyusui bayi.
Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan,
selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara naluriah.
2. Membantu kontak langsung ibu-bayi sedini mungkin untuk memberikan rasa
aman dan kehangatan.
b) Masa Neonetus
1. Bayi hanya diberi ASI saja atau ASI Eksklusif tanpa diberi minum apapun.
2. Ibu selalu dekat dengan bayi atau di rawat gabung.
3. Menyusui tanpa dijadwal atau setiap kali bayi meminta (on demand).
4. Melaksanakan cara menyusui (meletakan dan melekatkan) yang baik dan
benar.
5. Bila bayi terpaksa dipisah dari ibu karena indikasi medik, bayi harus tetap
mendapat ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan agar
produksi ASI tetap lancar.
6. Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) dalam waktu
kurang dari 30 hari setelah melahirkan.
c) Masa menyusui selanjutnya (post neonatal).
1. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi,
yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman lainnya.
2. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui sehari-hari. Ibu
menyusui perlu makan 1 kali lebih banyak dari biasanya (4-6 piring) dan
minum minimal 10 gelas sehari.

3. Cukup istirahat (tidur siang/berbaring 1-2 jam), menjaga ketenangan pikiran


dan menghindari kelelahan fisik yang berlebihan agar produksi ASI tidak
terhambat.
4. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang
keberhasilan menyusui.
5. Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau
menyusu, puting lecet, dan lain-lain ).

BAB III
DATA UMUM DESA CONGKRANG
DAN
DATA KHUSUS DUSUN SEMAWE

III.1 Keadaan Geografi


III.1.1 Letak wilayah

Desa Congkrang terletak di wilayah Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang,


Jawa Tengah. Terdapat 6 dusun di Desa congkrang, yaitu Dusun congkrang, semawe,
kedan, kramat ,besaran, demangan
III.1.2 Batas wilayah
Wilayah Desa Congkrang dibatasi oleh :
a)
b)
c)
d)

Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur
Sebelah barat

: Desa Keji
: Desa Menayu dan Adi karto
: Desa Ngawen dan Sriwedari
: Desa Sukorini dan Tanjung

III. 1. 3. Luas Wilayah


Luas wilayah Desa Congkrang berdasarkan data statistik Bulan Desember tahun
2009 adalah 131.717 hektar.
III. 2. Keadaan Demografi
III. 2. 1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk desa Congkrang pada bulan Desember tahun 2009
berdasarkan data statistik kantor desa Congkrang adalah 3083 jiwa.
III. 2. 2. Data Penduduk
Daftar tabel dibawah ini memberikan gambaran jumlah penduduk Desa
Congkrang menurut jenis kelamin, usia, mata pencaharian, dan pendidikan.

Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Congkrang menurut Jenis Kelamin


pada Bulan Desember tahun 2007
PENDUDUK
Laki-laki

Perempuan

TOTAL

1521

1562

3083

(Sumber : data statistik kantor Desa Congkrang, Desember 2009)

Berdasarkan tabel di atas, jumlah perempuan di Desa Congkrang lebih


banyak dibandingkan laki-laki meskipun perbedaan ini tidak terlalu signifikan yaitu
sebesar 41

Dengan data lebih rinci penduduk Desa Congkrang dikelompokkan


berdasarkan umur dan jenis kelamin pada bulan Desember tahun 2009, sebagai
berikut :
Tabel 2. Jumlah penduduk Desa Congkrang berdasarkan Usia
Pada bulan Desember 2009
Umur (tahun)
0-4
5-9
10-14

Penduduk (orang)
256
275
229

Umur(tahun)
25-29
30-39
40-49

Penduduk (orang)
289
535
392

15-19
20-24

215
258

50-59
60+

294
346

(Sumber: Data Statistik Kantor Desa Congkrang, Desember 2009)

Berdasarkan tabel jumlah penduduk kelompok umur disimpulkan bahwa


kelompok umur terbanyak di desa Congkrang adalah kelompok umur 30-39 tahun ,
yaitu 535jiwa.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Congkrang Menurut Mata Pencaharian pada bulan
Desember tahun 2009
Mata pencaharian
Petani
Buruh tani
Nelayan
Pengusaha
Buruh industry
Buruh bangunan
Buruh harian lepas

Jumlah
236
276
2
91
226
153

Pedagang
Pengangguran

252
15

PNS

79

TNI

13

Polri

Sipil

92

Pensiunan

61

Jumlah
(Sumber: Data Statistik Kantor Desa Congkrang tahun 2009)

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian


terbanyak pada masyarakat di wilayah desa congkrang adalah di bidang buruh/
swasta.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
Pendidikan
Tidak sekolah
Belum tamat SD
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
Tamat Akademi
Jumlah

Jumlah
441
399
388
661
583
476
121

(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Congkrang tahun2009)


Pada tabel di atas dapat kita lihat, bahwa sebagian besar tingkat pendidikan Desa
Congkrang adalah tamatan SD, yaitu sebanyak 661 orang.

III.3 Data Khusus Dusun Semawe


III.3.1. Letak wilayah
Dusun Semawe terletak di wilayah Desa Congkrang, Kecamatan Muntilan,
Kabupaten Magelang, Jawa tengah.
III.3. 2. Batas Wilayah
Wilayah Dusun semawedibatasi oleh :
a)
b)
c)
d)

Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur
Sebelah barat

: Dusun congkrang
: Dusun Sukorini
: Dusun Tanjung
: Dusun Sriwedari

III.3.3. Keadaan Demografi


III. 3. 4. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Dusun Semawe Mei tahun 2010 berdasarkan data statistik
Kantor Desa Congkrang adalah 829 jiwa.
Gambar 1. Peta wilayah Dusun Semawe

BAB IV
HASIL SURVEY DAN PENGAMATAN

VI.1 HASIL SURVEY


Pada tanggal 6-8 April 2012,

telah dilaksanakan wawancara dan pengisian kuisioner

terhadap bidan desa dan 5 orang kader di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang dan 16 responden yang merupakan ibu yang mempunyai bayi dan balita
usia 6-24

bulan di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten

Magelang.

Hasil Wawancara Bidan:


a.

Terdapat satu bidan di Dusun Semawe desa Congkrang kecamatan Muntilan


Kabupaten Magelang Endah Wulan, berdasarkan penjelasan yang disampaikan bidan
tersebut, beliau dengan bantuan kader sudah berusaha untuk menjelaskan pentingnya ASI
Eksklusif secara individu kepada ibu-ibu yang sedang hamil ataupun yg mempunyai bayi
usia < 6 bulan. Penjelasan tersebut disampaikan terutama pada saat pemeriksaan ANC
ataupun PNC. Beliaupun sudah menerapkan IMD kepada ibu-ibu yang melahirkan terutama
di tempat prakteknya. Beliau mengutarakan bahwa secara garis besar masyarakat khususnya
ibu-ibu yang memiliki bayi, tahu tentang pentingya ASI Eksklusif hanya saja mereka
menghiraukannya dengan alasan mereka masing-masing. Kesulitan yang dihadapi bidan
adalah sulitnya pengawasan terhadap ibu-ibu yang memiliki bayi < 6 bulan untuk tetap

menerapkan ASI Eksklusif.

Bidanpun mengaku, walaupun telah diberikan penyuluhan

tentang manfaat ASI Eksklusif tetapi tetap saja, para ibu memberikan makanan tambahan
selain ASI, sehingga penerapan ASI Eksklusif tidak tercapai.

Hasil Pengisian Kuisioner oleh Bidan:


Dari 5 pertanyaan pengetahuan, bidan dapat menjawab pertanyaan yang meliputi tentang
Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), langkah kegiatan dalam manajemen laktasi,
cara mengatasi kesulitan menyusui,dan cara penyimpanan ASI dirumah.

Hasil Pengisian Kuisioner oleh Kader :

Dari 10 pertanyaan tentang pengetahuan ASI Eksklusif yang diajukan


kepada kader, persentase hasil yang didapatkan sebanyak 90% terhadap
pengetahuan kader Posyandu, yang dapat disimpulkan pengetahuan kader terhadap
ASI Eksklusif baik. Begitupun untuk pertanyaan essay kader menjawab dengan
tepat. Dapat disimpulkan pengetahuan Kader di dusun Semawe sudah baik.
Hasil Wawancara Kader:
Berdasarkan hasil wawancara salah satu kader, didapatkan bahwa jumlah
kader di Dusun Semawe, Kecamatan Muntilan sebanyak 5 orang,

dan pihak

puskesmas yag diwakili oleh bidan desa juga sudah sering memberikan penyuluhan
secara langsung saat dilakukan imunisasi atau saat posyandu, tapi pihak kader tidak
pernah membantu penyuluhan tetang ASI Eksklusif, dikarenakan banyaknya tugastugas yang harus mereka kerjakan saat posyandu, seperti melakukan timbangan
berat badan terhadap bayi, pengisian KMS dan lain-lain. Kader tersebut mengaku
tidak ada catatan khusus tentang cakupan pemberian ASI Eksklusif di dusun
Semawe. Pendataan hanya berdasarkan pada tanya jawab langsung kepada ibu yang
membawa bayinya ke posyandu tapi tidak dicatat.

Tabel 5. Hasil kuisioner pengetahuan terhadap 16 responden


Pertanyaan

Pengetahuan Jawaban
Benar
ASI Eksklusif
Jumlah
Pengertian ASI eksklusif
7

%
43,75

Salah
Jumlah
9

%
56,25

31,25

11

68,75

43,75

56,25

MPASI

14

87,5

12,5

sebelum > 6 bulan


Berapa kali bayi menyusu

14

87,5

12,5

dalam sehari
Apakah
komposisi

susu

15

93,75

6,25

formula

bisa
13

81,25

18,75

16

100

16

100

43,75

56,25

Usia Pemberian ASI eksklusif


Umur berapa anak mulai
diberikan MPASI
Alasan pemberian

saat

ini

menyamai komposisi ASI


Cairan
yang
berwarna
kekuning-kuningan

yang

keluar saat ASI pertama kali


Darimana ibu mendapatkan
pengetahuan

tentang

ASI

Eksklusif
Teknik menyusui yang benar
Manfaat
pemberian
ASI
eksklusif bagi pertumbuhan

bayi
Untuk perhitungan pengetahuan dari kuisioner diatas, dikatakan pengetahuan ibu
baik, apabila jumlah perhitungan mencapai > 80%, dikatakan cukup apabila jumlah
perhitungan 60-80 %, dan jika didapatkan hasil perhitungan <60 % dikatakan kurang,
dan didapatkan enam orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, tujuh orang ibu
berpengetahuan cukup, dan tiga orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang.
Dari hasil survey menggunakan kuisioner di atas, dapat dilihat bahwa 43,75 %
ibu yang memiliki bayi mengetahui tentang pengertian ASI Eksklusif. Sedangkan hanya
31,25% ibu yang mengetahui berapa lama pemberian ASI Eksklusif, dan hanya 43,75 ibu
yang mengetahui kapan waktu yang tepat pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil
survey tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu yang memiliki balita sudah
cukup baik tentang ASI dan manfaatnya, hanya saja mereka masih belum mengerti
tentang pemberian ASI Eksklusif antara lain waktu yang tepat ibu mulai bisa memberikan
makanan padat, sehingga diperlukan adanya penyuluhan untuk menambah tingkat
pengetahuan kepada ibu di Dusun Semawe tentang begitu pentingnya pemberian ASI
Eksklusif.
Tabel 6. Hasil kuisioner terhadap pemberian ASI Eksklusif
Jawaban
Ya
Pemberian ASI Ekskusif
Jumlah
Saat ibu melahirkan, apakah
16

100

Tidak
Jumlah
-

%
-

ibu langsung menyusui anak


ibu
Apakah ibu memberikan ASI

25

12

75

saja selama 6 bulan


Apakah sebelum menyusui

12,5

14

87,5

ibu mencuci tangan dulu


Jika anak ibu menanggis,

15

93,75

6,25

12,5

37,5

apakah

ibu

memberikan

makanan tambahan
Bagi ibu yang

bekerja,

apakah ASI diganti dengan

susu formula
Berdasarkan survey yang dilakukan tentang status ASI Eksklusif, hanya 25%
bayi yang diberikan ASI selama 6 bulan, dan 93,75 % ibu juga memberikan makanan
tambahan sebelum usia bayi 6 bulan. Adapun alasan ibu memberikan makanan tambahan
sebelum usia bayi menginjak 6 bulan, sangat bervariasi. Sebagian besar responden yang
memberikan makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan mengatakan bahwa kadang
kadang air susu ibu tidak keluar atau keluarnya hanya sedikit pada hari-hari pertama
kelahiran bayinya, kemudian membuang ASI-nya tersebut dan menggantikannya dengan
madu, gula, mentega, air atau makanan lain. Responden lain mengatakan bahwa bayinya
rewel terus jika tidak mendapatkan makanan tambahan selain ASI.
Dan bagi ibu yang bekerja 12,5 % memberikan susu formula kepada bayinya dan
37,5 % ibu yang bekerja, tidak memberikan susu formula, adapun alasan ibu tidak
memberikan susu formula, karena masih ada keperluan lain yang bisa dibeli selain
membeli susu, dan mereka lebih memilih memberikan bayinya biskuit atau nasi tim dari
hal tersebut, menunjukkan bahwa kesadaran ibu masih kurang tentang pentingnya
pemberian ASI Eksklusif.
Pada pertanyaan tentang tenaga kesehatan, didapatkan bahwa sekitar 85% ibu
menjawab bahwa tenaga kesehatan sudah
Eksklusif dan manfaatnya.

memberikan penjelasan mengenai

ASI

BAB V

ANALISIS MASALAH

V.I KEGIATAN/ INDIKATOR KEGIATAN YANG BERMASALAH


Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Indikator Indonesia Sehat menargetkan bayi
yang mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 80%. Namun permasalahan yang ada di Standar
Pelayanan Minimal Puskesmas Muntilan 1 pada periode 2011 adalah cakupan hasil kegiatan bayi
yang mendapat ASI Eksklusif 36,09% ,sedangkan sisanya sebanyak 63,91 % tidak diberi ASI
eksklusif , sedangkan untuk pemberian ASI Eksklusif bulan Januari Februari 2012 pencapaian
yang didapatkan sebanyak 71% yang dimana dari hasil tersebut bahwa belum mencapai Standar
Pelayanan Minimal Puskesmas, yang ditargetkan 80 % Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.
5.1. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH

Dalam pemecahan masalah, langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah yag


ada, lalu menganalisis penyebab masalah dengan cara menggali berdasarkan data atau
kepustakaan. Untuk membantu menentukan kemungkinan penyebab masalah digunakan
diagram Fish Bone. Kemudian, mencari penyebab dilakukan dengan mengkonfirmasikan
kemungkinan penyebab yang ditemukan pada bagian program tersebut. Setelah itu, dicari
penanggulangan penyebab masalah dengan menyusun alteratif pemecahan masalah.
Selanjutnya, menetapkan pemecahan masalah terpilih dengan kriteria matriks. Setelah
menemukan urutan prioritasnya, disusunlah Plan of Action (POA).

Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah

BAB VI
ANALISIS PENYEBAB MASALAH

Upaya penyelesaian dari masalah hasil cakupan kegiatan puskesmas yang belum
memenuhi target tersebut dapat dilaksanakan melalui proses pengkajian masalah
berdasarkan metode pendekatan sistem sebagai berikut:

INPUT

PROSES
P1
P2
P3

Man,
Money,
Method,
Material,
Machine

OUT
PUT
Cakupan
Program

OUT
COME

LINGKUNGAN
Fisik
Kependudukan
Sosial Budaya
Sosial Ekonomi

Gambar 3. Kerangka Pikir Pendekatan Sistem


Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem tersebut di atas,
untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan pendekatan masalah.
Dari pendekatan sistem ini dapat ditelusuri hal hal yang mungkin menyebabkan
munculnya permasalahan pemberian ASI Ekskusif di Dusun Semawe.

Tabel 7. Identifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah


Tahap Analisis Pendekatan Sistem

INPUT
Man

Kelebihan

Kekurangan

Tersedianya 1 Bidan desa,


koordinator

promosi

Tidak ada koordinasi antara bidan


dan bagian promosi kesehatan

kesehatan

dan

Kader

Posyandu.
Money

Tersedianya

dana

Bantuan

Operasional Kesehatan untuk


transportasi
Method

Pemberitahuan secara lisan


oleh bidan kepada ibu-ibu
yang memeriksa kandungan,
setelah melahirkan dan saat
membawa anak-anak mereka

Tidak adanya dana khusus untuk


program

penyuluhan

dan

sosialisasi ASI Eksklusif.


Tidak adanya Standar Operasional
dalam

pelaksanaan

program

pemberian ASI eksklusif.


Kurangnya

materi

yang

ke posyandu tentang ASI

disampaikan tentang keunggulan

Eksklusif melalui ANC dan

ASI Eksklusif

PNC.
Material

Terdapat 1 unit posyandu di


dusun

Semawe

dan

puskesmas
Machine

Terdapat buku lembar balik


tentang ASI Eksklusif

Tidak adanya brosur, pamflet dan


poster sebagai sarana edukasi
mengenai

pentingnya

ASI

Eksklusif.
Lingkungan

Adanya warga yang dapat Ketidakpercayaan diri para ibu apabila


direkrut sebagai kader
Terjangkaunya posyandu dari
wilayah tempat tinggal masyarakat.

hanya memberikan ASI saja tanpa


disertai makanan tambahan.

Permasalahan yang dihadapai oleh


para ibu dalam manajemen laktasi
(puting
puting

susu
susu

datar/terbenam,
nyeri,

payudara

bengkak, ASI tidak keluar, dll).


Ibu

yang

bekerja

tidak

memberikan ASI Eksklusif.


P1

Tersedianya jadwal posyandu

(Perencanaan)

adanya

penjadwalan

rutin

sebulan sekali, setiap rabu

untuk kegiatan penyuluhan mengenai

minggu pertama

ASI Eksklusif.

P2

Jadwal pelayanan sesuai dengan

(Pergerakan,

perencanaan
Dilakukan pencatatan bumil dan

Pelaksanaan)

Belum

Tidak ada program dari Puskesmas


atau

Posyandu

mengadakan

setempat

penyuluhan

untuk

terjadwal

bayi serta balita yang datang ke

untuk meningkatkan pengetahuan ibu

posyandu

mengenai

ASI

Eksklusif

dan

manajemen laktasi.

Tidak ada buku pencatatan khusus


bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif

di

Posyandu

dusun

Semawe.
P3

Adanya

registrasi Tidak ada pencatatan khusus atau

(Pengawasan,

mengenai jumlah bayi yang laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

Pengendalian

mendapat ASI Eksklusif yang Tidak ada tindak lanjut dari hasil

dan penilaian)

dibuat oleh bidan.

evaluasi.

Adanya evaluasi tiap 2


bulan

sekali

melalui

pertemuan bidan desa dengan


kader setiap akhir bulan.

VI.1 Kemungkinan Penyebab Masalah


1.

Tidak ada koordinasi antara bidan dan bagian promosi kesehatan.

2.

Tidak adanya dana khusus untuk program penyuluhan dan sosialisasi ASI
Eksklusif.

3.

Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian

ASI eksklusif.
4.

Kurangnya materi yang disampaikan tentang keunggulan ASI Eksklusif

5.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif

6.

Ketidakpercayaan diri para ibu apabila hanya memberikan ASI saja tanpa
disertai makanan.

7.

Tidak ada program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk


mengadakan penyuluhan terjadwal untuk meningkatkan pengetahuan ibu
mengenai ASI Eksklusif dan manajemen laktasi.

8.

Tidak ada buku pencatatan khusus bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif di Posyandu dusun Semawe

9.

Tidak ada pencatatan khusus atau laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

10.Tidak ada tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan.

VI.2 Penyebab Masalah Yang Paling Mungkin


Setelah dilakukan konfirmasi kepada bidan desa dan kader posyandu , maka
didapatkan penyebab masalah yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada pencatatan cakupan ASI eksklusif oleh kader ,bidan desa.
2. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai

faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.


3. Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya ASI
Eksklusif.

4. Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian


ASI eksklusif.

BAB VII
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

VII.1 Alternatif Pemecahan Masalah

Setelah diperoleh daftar masalah, maka dapat dilakukan langkah selanjutnya yaitu
dibuat alternatif pemecahan penyebab masalah. Berikut ini adalah alternatif pemecahan
penyebab masalah yang ada :
Tabel 8. Alternatif Pemecahan Masalah
No. Penyebab

Masalah

Yang

paling Alternatif Pemecahan Masalah

Mungkin
1.

Tidak ada pencatatan cakupan ASI

Melakukan pembinaan kepada petugas

eksklusif oleh kader ,bidan desa.

dalam pencatatan bayi yang diberi ASI


Eksklusif .

2.

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran

Melakukan penyuluhan mengenai ASI

ibu

Eksklusif.

mengenai

faktor-faktor

yang

mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.


3.

4.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster

Membuat sarana edukasi tentang ASI

sebagai

Eksklusif.

sarana

edukasi

mengenai

pentingnya ASI Eksklusif


Tidak adanya Standar Operasional dalam

Membuat Standar Operasional tentang

pelaksanaan program pemberian

ASI Eksklusif

ASI eksklusif.

VII.2 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah


Penyebab Masalah Paling Mungkin

Alternatif Pemecahan Masalah

Tidak ada pencatatan cakupan ASI


eksklusif oleh kader ,bidan desa.

Melakukan pembinaan kepada petugas


dalam pencatatan bayi yang diberi ASI
Eksklusif

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran


ibu mengenai

faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.


Mengadakan penyuluhan mengenai ASI
eksklusif dan manajemen laktasi, serta
membuat sarana edukasi yang menarik
Tidak adanya brosur, pamflet dan poster
sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif

Membuat Standar Operasional tetang ASI


Eksklusif
Tidak adanya Standar Operasional dalam
pelaksanaan program pemberian
ASI eksklusif.

Gambar 4. Kerangka Alternatif Pemecahan Masalah

VII.3 Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah


Dari hasil analisis pemecahan masalah didapatkan alternatif pemecahan
masalah sebagai berikut :
1. Melakukan pembinaan kepada petugas dalam pencatatan bayi yang diberi ASI
Eksklusif.
2. Mengadakan penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan manajemen laktasi, serta
membuat sarana edukasi yang menarik.
3. Membuat Standar Operasional tentang ASI Eksklusif.
Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya dilakukan
penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan Kriteria
Matriks. Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah
dengan menggunakan Kriteria Matriks Menggunakan Rumus
1.

Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program:
a. Magnitude (M) : Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan.
b. Importancy (I) : Pentingnya cara penyelesaian masalah
c. Vulnerability (V) : Sensitifitas cara penyelesaian masalah

2. Efisiensi pogram

Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost). Kriteria cost (c)
diberi nilai 1-5. Bila cost nya makin kecil, maka nilainya mendekati 1.
Tabel 9. Skor Penentuan Pemecahan Masalah
Magnitude
Importancy
1 = Tidak 1 = Tidak penting
magnitude
2=Kurang

magnitude
penting
3=
Cukup 3
=

Vulnerability
1 = Tidak sensitif

Kurang 2

sensitif
Cukup 3
=

Cost
1 = Sangat murah

Kurang 2 = Murah
Cukup 3 = Cukup murah

magnitude
penting
sensitif
4 = Magnitude 4 = Penting
4 = Sensitif
4 = Sedikit Mahal
5=
Sangat 5
=
Sangat 5
=
Sangat 5 = Mahal

magnitude

penting

sensitif

Tabel 10. Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah


NO

Alternatif pemecahan masalah

Nilai Kriteria
M I

1.

Melakukan

pembinaan

kepada 3

Hasil

Priorita

(m x i x v)/c

24

II

25

16

III

petugas dalam pencatatan bayi


yang diberi ASI Eksklusif
2.

Mengadakan penyuluhan mengenai 4


ASI

eksklusif dan

laktasi,

serta

manajemen

membuat

sarana

edukasi yang menarik.


3.

Membuat Standar Operasional 4


tentang ASI Eksklusif

Setelah menentukan prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah dengan


menggunakan M.I.V/C maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan masalah
cakupan ASI Eksklusif di Dusun Semawe sebagai berikut :
1.

Mengadakan penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan manajemen laktasi,


serta membuat sarana edukasi yang menarik.

2.

Melakukan pembinaan kepada petugas dalam pencatatan bayi yang diberi


ASI Eksklusif.

3.

Membuat Standar Operasional tentang ASI Eksklusif.

Gambar 6. Contoh media edukasi yang dibuat

BAB VII
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian sederhana ini didapatkan bahwa cakupan bayi yang diberi ASI
Eksklusif di Dusun Semawen adalah 0%, yaitu dari 16 responden yang diberikan
kuesioner tidak satupun yang memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Sehingga
keadaan ini menjadi masalah karena cakupan yang kurang dari target dan pencapaian
yang kurang dari 80%. Adapun penyebab yang terjadi antara lain adalah sebagai berikut :

Tidak ada koordinasi antara bidan dan bagian promosi kesehatan.

Tidak adanya dana khusus untuk program penyuluhan dan sosialisasi ASI
Eksklusif.

Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian


ASI eksklusif.

Kurangnya materi yang disampaikan tentang keunggulan ASI Eksklusif.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif.

Ketidakpercayaan diri para ibu apabila hanya memberikan ASI saja tanpa
disertai makanan.

Tidak ada program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk


mengadakan penyuluhan terjadwal untuk meningkatkan pengetahuan ibu
mengenai ASI Eksklusif dan manajemen laktasi..

Tidak ada buku pencatatan khusus bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif di Posyand Dusun Semawe

Tidak ada pencatatan khusus atau laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

Tidak ada tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan.

Dan dari hasil analisis alternatif pemecahan masalah didapatkan empat prioritas
alternatif pemecahan masalah, yaitu sebagai berikut :

Tidak ada pencatatan cakupan ASI eksklusif oleh kader ,bidan desa.
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi ASI.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif.

Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian


ASI eksklusif.
Selanjutnya dirancang Plan Of Action (POA) untuk dapat dijalani sehingga dapat

mencapai target yang ditentukan.

B. SARAN
Diharapkan masalah yang ada dapat diselesaikan dengan menjalankan POA yang
sudah dirancang, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan pencapaian bayi yang diberi
ASI eksklusif. selain itu harus ditingkatkan juga kerjasama antara aparat puskesmas
seperti bidan desa dengan kader yang ada, sehingga program yang ada dapat dijalankan
untuk mencapai hasil yang maksimal. Dan untuk masyarakat juga disarankan untuk
meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya ASI eksklusif dengan cara turut mengikuti
penyuluhan maupun pelatihan tentang bagaimana caranya memberikan ASI eksklusif
yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
1. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan
Kabupaten/Kota Sehat.Kepmenkes Nomor 1202/Menkes/SK/VIII/2003.DEPKES
RI.Available from: http://www.litbang.depkes.go.id/download/is2010/indikator.pdf
2. Supraptini,Lubis Agustina,lrianto Joko.CAKUP AN IMUNISASI BALIT A DAN ASI
ESKLUSIF

DI INDONESIA,HASIL SURVEI KESEHA TAN

(SURKESNAS)

NASIONAL

2001.Available

from:

http://www.ekologi.litbang.depkes.go.id/data/vol%202/Supraptini2_2.pdf
3. Arimurti

Ida.KEBIJAKAN

PENINGKATAN

DEPARTEMEN

PEMBERIAN

WANITA.2007[cited

08

Juli

AIR

KESEHATAN

SUSU

2007].Available

IBU
from:

(ASI)

TENTANG
PEKERJA

http://www.mail-

archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg18698.html
4. Depkes RI. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru Dua Persen. Jakarta. 2004.Available from:
http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_eksklusif
5. Seminar ASI Ekslusif dan Aturan Hukumnya bagi Wanita Pekerja.2006[cited 23
Februari

2006].Available

from:

http://medicastore.com/seminar/1/Seminar_ASI_Ekslusif_dan_Aturan_Hukumnya_ba
gi_Wanita_Pekerja.html
6. Pengertian ASI Eksklusif.Dewa (Editor).[cited 3 Februari 2010].Available from:
http://irham1977.wordpress.com/2010/02/03/pengertian-asi-eksklusif/
7. ASI

Eksklusif.Susi

(Editor).[Cited

Agustus

http://susirahmawati.multiply.com/journal/item/73

2008].Available

from:

8. Komposisi

Asi.Club

Nutricia.2009.Available

from:

http://www.clubnutricia.co.id/new_mum/breastmilk_breastfeeding/benefits/article/Bre
astmilk_composition
9. Komposisi

Asi.2010.Available

from:

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/04/komposisi-asi.html
10.

Manajemen Laktasi.Departemen Kesehatan RI.2005.Available from: http://askep-

free.blogspot.com/2010/04/manajemen-laktasi.html
11. Profil Puskesmas Muntilan 1 tahun 2011
12. Laporan Kegiatan Survey dan Intervensi Masalah Kesehatan Masyarakat
Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang