Anda di halaman 1dari 11

A.

SEJARAH RUMUSAN PANCASILA


Tiga setengah abad lebih, bangsa kita dijajah bangsa asing. Tahun
1511 Bangsa Portugis merebut Malaka dan masuk kepulauan Maluku,
sebagai awal sejarah buramnya bangsa ini, disusul Spanyol dan Inggris
yang juga berdalih mencari rempah - rempah di bumi Nusantara.
Kemudian Tahun 1596 Bangsa Belanda pertama kali datang ke Indonesia
dibawah pimpinan Houtman dan de Kyzer. Yang puncaknya bangsa
Belanda mendirikan VOC dan J.P. Coen diangkat sebagai Gubernur Jenderal
Pertama VOC.
Penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942, tepatnya tanggal 9
Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada
Jepang. Sejak saat itu Indonesia diduduki oleh bala tentara Jepang. Namun
Jepang tidak terlalu lama menduduki Indonesia, sebab tahun 1944, tentara
Jepang mulai kalah melawan tentara Sekutu.
Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu
Jepang

dalam

melawan

tentara

Sekutu,

Jepang

memberikan

janji

kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana


Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus
terdesak, maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji
kemerdekaan

yang

kedua

kepada

bangsa

Indonesia,

yaitu

janji

kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan


(Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan
Madura) Dalam maklumat tersebut sekaligus dimuat dasar pembentukan
Badan

Penyelidik

Usaha-Usaha

Persiapan

Kemerdekaan

Indonesia

(BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul


untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat
dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.
Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan
mengadakan sidang pertama pada tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945. Dalam
sidang pertama tersebut yang dibicarakan khusus mengenai dasar negara
untuk Indonesia merdeka nanti. Pada sidang pertama tersebut 2 (dua)
Tokoh membahas dan mengusulkan dasar negara yaitu Muhammad Yamin
dan Ir. Soekarno.
Tanggal 29 Mei 1945, Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai
calon
1)
2)
3)
4)
5)

dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu :
Peri Kebangsaan
Peri Kemanusiaan
Peri Ketuhanan
Peri Kerakyatan
Kesejahteraan Rakyat

Selain secara lisan M. Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yaitu :
1) Ketuhanan Yang Maha Esa
2) Persatuan Indonesia
3) Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/ Perwakilan
5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kemudian pada tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno (Bung Karno) mengajukan
usul mengenai calon dasar negara yaitu :
1) Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2) Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3) Mufakat atau Demokrasi
4) Kesejahteraan Sosial
5) Ketuhanan yang Berkebudayaan
Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama PANCASILA, lebih lanjut Bung
Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi
Trisila, yaitu:
1) Sosio nasionalisme
2) Sosio demokrasi
3) Ketuhanan.
Selanjutnya oleh Bung Karno tiga hal tersebut masih bisa diperas lagi
menjadi Ekasila yaitu GOTONG ROYONG.
Selesai sidang pembahasan Dasar Negara, maka selanjutnya pada
hari yang sama (1 Juni 1945) para anggota BPUPKI sepakat untuk
membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usulusul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang
pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul
secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945.
Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas 8 orang, yaitu:
1) Ir. Soekarno
2) Ki Bagus Hadikusumo
3) K.H. Wachid Hasjim
4) Mr. Muh. Yamin
5) M. Sutardjo Kartohadikusumo
6) Mr. A.A. Maramis
7) R. Otto Iskandar Dinata dan
8) Drs. Muh. Hatta
Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia
Kecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang
dicapai antara lain disetujui dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik
Usul - usul/ Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang,
yaitu: Ir. Soekarno, Drs. Muh. Hatta, Mr. A.A. Maramis, K.H. Wachid Hasyim,
Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Mr. Ahmad

Subardjo dan Mr. Muh. Yamin. Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan
orang ini berhasil merumuskan Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian
dikenal dengan sebutan PIAGAM JAKARTA.
Dalam sidang BPUPKI kedua, Tanggal 10 s/d 16 Juli 1945, hasil yang
dicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar. Tanggal 9 Agustus
1945 dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dan pada
Tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu,
sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut
dimanfaatkan

dengan

sebaik-baiknya

oleh

para

pemimpin

bangsa

Indonesia, yaitu dengan mem-Proklamasi-kan Kemerdekaan Indonesia,


pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan
PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama :
1) Mengesahkan Rancangan Hukum Dasar

dengan

Preambulnya

(Pembukaan)
2) Memilih Presiden dan Wakil Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang sangat panjang,
sehingga sebelum mengesahkan Preambul, Drs. Muhammad Hatta terlebih
dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari,
sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian
Timur

yang

menemuinya.

Intinya,

rakyat

Indonesia

bagian

Timur

mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata


KETUHANAN yang berbunyi 'dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya' dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia
bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja
diproklamasikan.
Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI,
khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki
Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Bung
Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan
kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi
persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka,
akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya 'dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' di belakang kata
Ketuhanan dan diganti dengan 'Yang Maha Esa', sehingga Preambule
(Pembukaan) UUD1945 disepakati sebagai berikut :
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN (Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh
sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak
sesuai dengan peri-kemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah
kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan
rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia,
yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah

Indonesia

dan

untuk

memajukan

kesejahteraan

umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia


yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan dengan berdasar
kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan

Indonesia

kebijaksanaan

dalam

dan

Ke-rakyatan

Permusyawaratan/

yang

dipimpin

Perwakilan,

oleh
serta

hikmat
dengan

mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Dan untuk dapat melaksanakan PANCASILA sebagai ideologi dan dasar
negara sekaligus sebagai pandangan hidup seluruh Rakyat Indonesia,
maka Pancasila diterjemahkan dalam butir - butir Pancasila yaitu :
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA :
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya

terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing

menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.


Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
antara

pemeluk agama

dengan

penganut kepercayaan

yang

berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah

masalah yang
Menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha

Esa.
Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan

ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.


Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB :


Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan

martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.


Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi
setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama,
kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan

sebagainya.
Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
Berani membela kebenaran dan keadilan.
Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat

manusia.
Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama

dengan bangsa lain.


3. PERSATUAN INDONESIA :
Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di

atas kepentingan pribadi dan golongan.


Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa

apabila diperlukan.
Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air

Indonesia.
Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial.


Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal

Ika.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN/ PERWAKILAN :

Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia

Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.


Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk

kepentingan bersama.
Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat

kekeluargaan.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai

sebagai hasil musyawarah.


Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan

melaksanakan hasil keputusan musyawarah.


Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas

kepentingan pribadi dan golongan.


Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati

nurani yang luhur.


Keputusan yang diambil

harus

dapat

dipertanggungjawabkan

secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi


harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan
mengutamakan

persatuan

dan

kesatuan

demi

kepentingan

bersama.
Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk

melaksanakan pemusyawaratan.
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA :
Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap

dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.


Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Menghormati hak orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri

sendiri.
Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat

pemerasaN terhadap orang lain.


Tidak menggunakan hak milik

pemborosan dan gayA hidup mewah.


Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau

merugikaN kepentingan umum.


Suka bekerja keras.
Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi

kemajuan dan kesejahteraan bersama.


Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan berkeadilan sosial.

untuk

hal-hal

yang

bersifat

B. IMPLEMENTASI NILAI SILA PANCASILA DALAM KEHIDUPAN SEHARIHARI


Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dari Sila
ke I sampai Sila Sila ke V yang harus diaplikasikan atau dijabarkan dalam
setiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup adalah sebagai berikut
( Soejadi, 1999 : 88- 90) :
1.
Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai
religius, antara lain :
a.
Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai
pencipta segala sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti
Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya;
b.
Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan
semua

perintah-

NYA

dan

menjauhi

larangan-larangannya.

Dalam

memanfaatkan semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha


Pemurah manusia harus menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk
yang ada di sekeliling manusia merupakan amanat Tuhan yang harus
dijaga dengan sebaik-baiknya; harus dirawat agar tidak rusak dan harus
memperhatikan kepentingan orang lain dan makhluk-makhluk Tuhan yang
lain.
Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
misalnya menyayangi binatang; menyayangi tumbuhtumbuhan

dan

merawatnya; selalu menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam Islam


bahkan ditekankan, bahwa Allah tidak suka pada orang-orang yang
membuat kerusakan di muka bumi, tetapi Allah senang terhadap orangorang yang selalu bertakwa dan selalu berbuat baik. Lingkungan hidup
Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan
bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-NYA yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi
sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta
makhluk hidup lainya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas Hidup
itu sendiri.
2.

Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab terkandung nilai-

nilai perikemanusiaan yang harus diperhatikan dalam kehidupan


sehari-hari. Dalam hal ini antara lain sebagai berikut :
Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala
hak dan kewajiban asasinya;

Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri,

alam sekitar dan terhadap Tuhan;


Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki

daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan.


Penerapan, pengamalan/ aplikasi sila ini dalam kehidupan sehari hari
yaitu:
dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk
memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak setiap orang
untuk mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan
peran dalam pengelolaan lingkungan hidup; hak setiap orang untuk
berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan
ketentuanketentuan hukum yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi
Hardjasoemantri, 2000 : 558). Dalam hal ini banyak yang bisa dilakukan
oleh masyarakat untuk mengamalkan Sila ini, misalnya mengadakan
pengendalian tingkat polusi udara agar udara yang dihirup bisa tetap
nyaman; menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan
sekitar; mengadakan gerakan penghijauan dan sebagainya. Nilai-nilai Sila
Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab ini ternyata mendapat penjabaran
dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 di atas, antara lain dalam Pasal
5 ayat (1) sampai ayat (3); Pasal 6 ayat (1) sampai ayat (2) dan Pasal 7
ayat (1) sampai ayat (2). Dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan, bahwa setiap
orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan
sehat; dalam ayat (2) dikatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak atas
informasi

lingkungan

hidup

yang

berkaitan

dengan

peran

dalam

pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (3) dinyatakan, bahwa setiap


orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan
lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Dalam

Pasal

ayat

(1)

dikatakan,

bahwa

setiap

orang

berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta


mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan
hidup dan dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa setiap orang yang melakukan
usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar
dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Dalam Pasal 7 ayat
(1) ditegaskan, bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama
dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup;
dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa ketentuan pada ayat (1) di atas
dilakukan dengan cara :

1.
2.
3.

Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;


Menumbuhkembangkan kemampauan dan kepeloporan masyarakat;
Menumbuhkan ketanggapsegeraan masya-rakat untuk melakukan

pengwasan sosial;
4.
Memberikan saran pendapat;
5.
Menyampaikan informasi dan/atau menyam-paikan laporan
3.

Dalam Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan

bangsa, dalam arti dalam hal-hal yang menyangkut persatuan


bangsa patut diperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :
Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami
wilayah Indonesia serta wajib membela dan menjunjung tinggi

(patriotisme);
Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis)
dan kebudayaan bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang

memberikan arah dalam pembinaan kesatuan bangsa;


Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara

Indonesia

(nasionalisme).
Penerapan sila ini dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
dengan melakukan inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu
diperhitungkan dalam pengambilan kebijaksanaan dan pengendalian
pembangunan lingkungan di daerah dan mengembangkannya melalui
pendidikan

dan

latihan

serta

penerangan

dan

penyuluhan

dalam

pengenalan tata nilai tradisional dan tata nilai agama yang mendorong
perilaku

manusia

untuk

melindungi

sumber

daya

dan

lingkungan

(Salladien dalam Burhan Bungin dan Laely Widjajati , 1992 : 156-158). Di


beberapa daerah tidak sedikit yang mempunyai ajaran turun temurun
mewarisi nilai-nilai leluhur agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan
yang

dilarang

oleh

ketentuan-ketentuan

adat

di

daerah

yang

bersangkutan, misalnya ada larangan untuk menebang pohon-pohon


tertentu tanpa ijin sesepuh adat; ada juga yang dilarang memakan
binatang-bintang

tertentu

yang

sangat

dihormati

pada

kehidupan

masyarakat yang bersangkutan dan sebagainya. Secara tidak langsung


sebenarnya ajaran-ajaran nenek leluhur ini ikut secara aktif melindungi
kelestarian alam dan kelestarian lingkungan di daerah itu. Bukankah hal
ini sudah mengamalkan Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang
bersangkutan sehari-hari.
4.

Dalam

Sila

Kerakyatan

Yang

Dipimpin

Oleh

Hikmat

Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan terkandung

nilainilai kerakyatan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus
dicermati, yakni:
Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;
Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi

akal sehat;
Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat

mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama;


Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh

wakilwakil rakyat.
Penerapan sila ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara
lain (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 560 ) :
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan
kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam

pengelolaan lingkungan hidup;


Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan
kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam

pengelolaan lingkungan hidup;


Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan

kemitraan
masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

5.

Dalam Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

terkandung nilai keadilan sosial. Dalam hal ini harus diperhatikan


beberapa aspek berikut, antara lain :
a. Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang
politik, ekonomi dan sosial budaya;
b. Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;
c. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak milik
orang lain;

Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material

spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia;


Cinta akan kemajuan dan pembangunan.
Penerapan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang
mengatur masalah lingkungan hidup. Sebagai contoh, dalam Ketetapan
MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN), Bagian H yang mengatur aspekaspek pengelolaan lingkungan
hidup dan pemanfaatan sumber daya alam. Dalam ketetapan MPR ini hal
itu diatur sebagai berikut (Penabur Ilmu, 1999 : 40) :

Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya


agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari

generasi ke generasi;
Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan
hidup dengan melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan

pengunaan dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan;


Mendelegasikan secara betahap wewenang pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber
daya alam secara selektif dan pemeliharaan ling-kungan hidup,
sehingga kualitas ekosistem tetap terjaga yang diatur dengan

undangundang;
Mendayagunakan

sumber

daya

alam

untuk

sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan


keseim-bangan

lingkungan

hidup,

pembangunan

yang

berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal


serta penataan ruang yang pengaturannya diatur dengan undang

undang;
Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian
kemampuan.

DAFTAR PUSTAKA
http://pancasila.weebly.com/penerapan-sila-dalam-kehidupan.html
http://www.academia.edu/9593969/IMPLEMENTASI_PANCASILA_DAL
AM_KEHIDUPAN_SEHARI-HARI_PRODI_D3-TEKNIK_INFORMATIKA