Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN

PRAKTIKUM ILMU BEDAH KHUSUS


KASTRASI

Oleh:
Nama

: DeshintaPutri M.K

NIM

: 125130101111015

Kelas

: 2012 - A

Kelompok

:8

Asisten

LABORATORIUM ILMU BEDAH KHUSUS


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan populasi hewan saat ini telah meningkat seiring dengan kesukaan manusia
untuk memeliharanya dan menjadikannya sebagai sahabat atau teman bermain. saat ini
anjing dan kucing telah memiliki posisi yang unik dalam kehidupan manusia. anjing dan
kucing tidak hanya dijadikan sebagai hewan penjaga rumah, namun sudah dianggap sebagai
bagian dari anggota keluarga. namun aning dan kucing dalam jumlah besar dpat menjadi
masalah tersendiri bagi kesehatan manusia, terutama hewan kecil seperti anjing dan kucing
karena hewan-hewan tersebut dapat menularkan dan membawa berbagai agen penyakit. dan
dapat menularkannya ke manusia. terutama pada ajing dan kucing liar.
Salah satu solusi untuk memecahkan
permasalahan di atas adalah menekan
pertumbuhan atau kelahiran berlebih pada anjing dan kucing tersebut. Yaitu dengan
melakukan tindakan sterilisasi pada anjing maupun kucing baik pada jantan maupun betina.
Sterilisasi merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat atau menghilangkan testis
(jantan) atau ovarium (betina). Pada hewan jantan dinamakan kastrasi/orchiectomy ,
sedangkan pada hewan betina dinamakan ovariohysterectomy (OH). (deni,2010)
Sistem reproduksi jantan terdiri dari dua testes (testikel) yang terbungkus di dalam
skrotum.. Testis merupakan organ primer dari alat reproduksi jantan yang menghasilkan
spermatozoa dan hormone-hormon reproduksi, khususnya testosteron. Saat dewasa kelamin
testis turun dari rongga perut ke dalam skrotum melalui kanalis inguinalis. Contoh tindakan
bedah yang dilakukan terhadap testis adalah kastrasi.
Kastrasi atau orchiectomi adalah tindakan bedah yang dilakukan pada testis, berupa
pengambilan atau pemotongan testis dari tubuh. Hal ini umumnya dilakukan untuk
sterilisasi (mengontrol populasi), penggemukan hewan, mengurangi sifat agresif, serta salah
satu pilihan terapi dalam menangani kasus-kasus patologi pada testis atau scrotum. Kasuskasus yang sering ditemukan antara lain: oedema scrotalis, tumor scrotalis, orchitis
(peradangan pada testis), tumor testis.Maka dari itu sebagai seorang dokter hewan harus
mempunyai keterampilan dalam melakukan kastrasi atau dalam hal menekan pertumbuhan
kucing dan anjing. (fosum,2007)
1.2 Tujuan
1. Mengetahui definisi dari kastrasi
2
Mengetahui macam-macam teknik kastrasi
3
Mengetahui teknik operasi kastrasi
4
Mengetahui penanganan pre-operasi dan post-operasi kastrasi
5
Mengetahui keuntungan dan kelemahan kastrasi

1.3 Manfaat
1.Menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa mengenai definisi kastrasi

2. Menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa mengenai macam-macam teknik


operasi kastrasi
3. Menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa mengenai teknik operasi kastrasi
4. Menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa mengenai penanganan pre-operasi
dan post-operasi kastrasi
5. Menambah pengetahuan dan kemampuan mahasiswa mengenai keuntungan dan
kelemahan kastrasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Organ reproduksi jantan terdiri atas testis, saluran kelamin, kelenjar kelamin, dan alat
kopulasi. Testis merupakan penghasil sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa serta mensekresi
hormone kelamin jantan atau testosterone. Testis berada dalam satu kantong yang disebut
skrotum. Fungsinya untuk mengatur perubahan suhu agar proses spermatogenesis berjalan

lancer dan sebagai protector bagi testis. (aldi,2006). Contoh tindakan bedah yang dilakukam
terhadap testis adalah kastrasi.

Kastrasi atau orchiectomi adalah tindakan bedah yang dilakukan pada testis, berupa
pengambilan atau pemotongan testis dari tubuh. Hal ini umumnya dilakukan untuk sterilisasi
(mengontrol populasi), penggemukan hewan, mengurangi sifat agresif, serta salah satu pilihan
terapi dalam menangani kasus-kasus patologi pada testis atau scrotum. Kasus-kasus yang sering
ditemukan antara lain: oedema scrotalis, tumor scrotalis, orchitis (peradangan pada testis),
tumor testis.Maka dari itu sebagai seorang dokter hewan harus mempunyai keterampilan dalam
melakukan kastrasi atau dalam hal menekan pertumbuhan kucing dan anjing. Selain itu, tujuan
dilakukannya pembedahan ini diantaranya untuk sterilisasi seksual, adanya neoplasma, dan
kerusakan akibat traumatic. (fosum,2007)
Secara anatomis, lapisan yang membungkus testis dari superficial ke profundal adalah kulit
dan subkutan (scrotum), tunika dartos, dan tunika vaginalis communis. Kastrasi terdiri dari dua
jenis, yaitu kastrasi terbuka dan kastrasi tertutup.
a. Kastrasi Terbuka
Kastrasi terbuka adalah tindakan bedah dimana semua jaringan skrotum dan tunica
vaginalis diinsisi dan testis serta spermatic cord dibuang tanpa pembungkusnya (tunica
vaginalis). Keuntungan cara ini adalah ikatan pembuluh darah terjamin. Akan tetapi
kerugiannya dapat menyebabkan hernia scrotalis karena dengan terbukanya tunica vaginalis
menyebabkan adanya hubungan dengan rongga abdomen (Widyaputri dkk, 2014). Metode
yang digunakan pada kastrasi terbuka ialah Sayatan dilakukan sampai tunika vaginalis
communis, sehingga testis dan epididimis tidak lagi terbungkus.
b. Kastrasi Tertutup
Kastrasi tertutup adalah tindakan bedah dimana testis dan spermatic cord dibuang
tanpa membuka tunica vaginalis yang biasanya dilakukan pada anjing ras kecil atau
masih muda dan kucing. Keuntungan cara ini adalah dengan tidak dibukanya tunica
vaginalis, maka kemungkinan terjadinya hernia scrotalis dapat dihindari. Metode dari
kastrasi tertutup yaitu, sayatan hanya sampai pada tunika dartos, sehingga testis masih
terbungkus oleh tunika vaginalis communis. Peningkatan dan penyayatan pada
funiculus spermaticus. (komang, et all, 2011)

Kucing yang akan dikebiri harus dalam keadaan sehat. Sebagian besar kucing dikebiri
ketika berumur 5-8 bulan. Para ahli perilaku hewan menyarankan mengkebiri kucing sebelum
memasuki masa puber, karena dapa mencegah munculnya sifat/perilaku kucing yang tidak
diinginkan (Ibrahim, 2000). Sterilisasi dapat dilakukan pada saat anjing/kucing berumur 8
minggu, tetapi lebih baik dilakukan setelah anjing dan kucing divaksinasi lengkap, setelah
sistem immunitas tubuh (kekebalan) mereka bekerja dengan baik, tetapi sebelum masuk masa
pubertas (umur 4-6 bulan).
Tahap-tahap dalam melakukan kastrasi, yaitu:
a. Pre Operasi
1. Persiapan Pasien
Sebelum pelaksanaan operasi, hewan yang akan dilakukan operasi telah dalam
keadan bersih agar tidak menimbulkan kontaminasi nantinya. Kucing diperiksa
keadaan fisiknya dengan menggunakan stetoskop dan thermometer dan juga
dilakukan pemeriksaan lainnya. Hewan juga dipuasakan selama 8-12 jam sebelum
dilakukan operasi.
2. Persiapan Ruangan, Alat, dan Bahan
Ruang operasi dibersihkan dari kotoran dengan disapu (dibersihkan dari debu),
kemudian disterilisasi dengan radiasi atau dengan desinfektan (alcohol 70%).
Sterilisasi pada alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan seluruh mikroba
yang terdapat pada alat-alat bedah, agar jaringan yang steril atau pembuluh darah
pada pasien yang akan dibedah tidak terkontaminasi oleh mikroba pathogen. Alatalat yang akan digunakn disteril dengan menggunakan autoclave. Selain ini tampon
dan towel juga disterilkan dengan autoclave.
3. Persiapan Operator dan Co-Operator
Sebelum melakukan operasi, baik operator ataupun co-operator harus terlebih dahulu
melepaskan semua aksesoris yang dapat mengganggu jalannya operasi. Tangan
dicuci mulai dari telapak tangan hingga mencapai siku dengan menggunakan air
bersih yang mengalir dan dengan menggunakan sabun. Lalu dapat dicui kembali
dengan larutan seperti alcohol 70%, kemudian siap memakai baju operasi, masker,
glove, serta penutup kepala.
b. Premedikasi dan Anastesi
Premedikasi merupakan suatu tindakan pemberian obat sebelum pemberian anastesi
yang dapat menginduksi jalannya anastesi. Premedikasi dilakukan beberapa saat
sebelum anastesi dilakukan. Tujuan premedikasi adalah untuk mengurangi rasa takut,
amnesia, induksi anastesi lancar dan mudah mengurangi keadaan gawat anastesi saat
operasi seperti hipersalivasi, bradikardia dan muntah. Anastesi ialah menghilangkan rasa
sakit atau nyeri pada hewan saat dilakukan pembedahan. (Ganiswara, 2004)
Obat anestesi umum yang ideal mempunyai sifat-sifat, yaitu:
1.Pada dosis yang aman mempunyai daya analgesik relaksasi otot yang cukup,
2.Cara pemberian mudah,
3.Mulai kerja obat yang cepat dan
4.Tidak mempunyai efek samping yang merugikan.

c. Teknik Operasi (diah,2011)


1. Anastetikum dipersiapkan, yaitu kombinasi dari Xylazine dan Ketamine yang
diaplikasikan intra muscular (IM) diantara m. semimembranosus dengan m.
semitendinosus atau di m. gluteus. Setelah hewan teranaesthesi, dilakukan desinfeksi
hewan dengan cara mencukur rambut dan membersihkan rambut bekas cukuran di
sekitar titik orientasi kemudian diusap dengan alkohol 70% dan setelah kering diolesi
dengan iodium tincture 3%.
2. Anjing diletakkan pada meja operasi dalam posisi dorsal dan keempat kaki diikat
dengan simpul tomfool pada meja. Selanjutnya ditutup dengan duk (harus dalam
posisi yang tepat sehinga titik orientasi, yaitu pada testis dapat terlihat dengan jelas).
Duk dan kulit difiksasi dengan menggunakan towel clamp.
3. Penyayatan dilakukan langsung pada bagian ventral dari kedua testis (dua sayatan).
Panjang sayatan tergantung dari ukuran testis.
4. Untuk tipe tertutup, tunica vaginalis communis tidak ikut tersayat. Sayatan hanya
sampai pada tunica dartos.
5. Testis ditarik sepanjang mungkin
6. Pada daerah funniculus spermaticus dijepit dengan dua tang arteri (atas dan bawah),
kemudian pada bagian cranial diikat dengan benang silk (3/0).
7. Pemotongan dilakukan diantara kedua tang arteri. Apabila ikatan sudah kuat
(dicirikan dengan tidak adanya darah yang keluar) maka tang arteri dilepaskan.
8. Pada tipe terbuka, tunica vaginalis communis ikut disayat, testis dilepaskan dari
ligament penggantungnya (unsur yang disayat hanya pembuluh darah, syaraf, dan
ductus deferent).
9. Setelah testis tersayat, diberi Penicillin secara topikal. unica dan scrotum dijahit
dengan simple suture menggunakan catgut.
10. Daerah sekitar jahitan diolesi dengan iodium tincture, untuk menghindari adanya
kontaminasi lebih lanjut.
d. Perawatan Pasca Operasi
Setelah operasi dilakukan, pasien dirawat hingga jahitan sudah dapat dibuka. Setiap hari
pasien dikontrol secara rutin, pemberian revanol dan betadin 2 kali sehari dapat
membantu mempercepat pengeringan luka jahitan. Selain itu suhu dan pulsus selalu
dikontrol atau diukur. Pada hari ke-5 jahitan sudah dapat dibuka, perawatan secara rutin
dan pemberian iodine dapat mencegah terjadinya infeksi. Selain itu pemberian antibiotic
juga dapat membantu mempercepat kesembuhan luka. (ibraim,2000)
Kastrasi memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
a. Mencegah Kelahiran Anak Kucing Yang Tidak Diinginkan
Salah satu keuntungan mengkebiri kucing adalah mencegah kelahiran anak kucing yang
tidak diinginkan. Selain menjaga populasi kucing tetap terkendalikan, tindakan ini juga
memungkinkan pemilik kucing bisa merawat kucing-kucingnya dengan maksimal.
b. Kurang Agresif Terhadap Kucing Lain
Testosteron adalah hormon kelamin jantan. Hormon ini mempengaruhi banyak pola-pola
perilaku pada kucing jantan. Salah satu perilaku yang banyak dipengaruhi hormon

c.

d.

e.

f.

testosteron adalah perilaku agresi. Setelah kebiri, perilaku ini cenderung berkurang
banyak. Spraying/Urine marking Spraying/urine marking adalah salah satu perilaku
alami kucing jantan yang tidak di kebiri. Sebagian besar perilaku ini hilang setelah
kucing di kebiri.
Tidak Suka Berkeliaran
Kucing betina yang sedang birahi mengeluarkan feromon yang dapat menyebar melalui
udara. Feromon ini dapat mencapai daerah yang cukup jauh. Kucing jantan dapat
mengetahui dimana letak kucing betina yang sedang birahi melalui feromon ini, lalu
kemudian mencari dan mendatangi sang betina meskipun jaraknya cukup jauh. Kucing
jantan yang telah dikebiri cenderung tidak bereaksi terhadap feromon ini dan lebih suka
diam di dalam rumah.
Lebih Jarang Terluka
Keuntungan medis lain dari kebiri adalah jarangnya kucing terluka akibat berkelahi
dengan kucing lain. Semakin jarang terluka semakin kecil juga kemungkinan terkena
penyakit yang dapat menular melalui luka/kontak.
Peningkatan Genetik
Beberapa kucing dikebiri karena mempunyai/membawa cacat genetik. Diharapkan
kucing-kucing cacat tersebut tidak dapat lagi berkembang biak, sehingga jumlah kucingkucing cacat dapat dikurangi.
Mengurangi Resiko Tumor & Gangguan Prostat
Tumor dan gangguan prostat lebih sering terjadi pada anjing, pada kucing jarang sekali
terjadi. Sebagian besar gangguan pada prostat berhubungan dengan hormon testosteron
yang dihasilkan oleh testis. Tindakan kebiri menyebabkan hewan tidak lagi
menghasilkan hormon tersebut, sehingga resiko tumor dan gangguan pada prostat dapat
dikurangi.

g. Cenderung Lebih Manja


Sebagian besar perilaku agresif pada kucing jantan dipengaruhi hormon testosteron.
Kucing yang dikebiri cenderung tidak agresif dan lebih manja.
Kelemahan dari kucing yang dikastrasi antara lain:
a. Kegemukan atau obesitas. Rata-rata seekor kucing jantan yang dikastrasi membutuhkan
asupan kalori sebanyak 25% untuk menjaga berat badannya dank arena kucing yang
dikastrasi memiliki rata2 proses metabolisme makanan yang rendah maka asupan nutrisi
tersebut akan disimpan menjadi lemak, sehingga menimbulkan kegemukan.
b. Kehilangan untuk memperoleh keturunan yang potensial /berharga terutama untuk para
breeder.
c. Penurunan kadar testosterone mengakibatkan kehilangan sifat maskulinasi dan
penurunan fungsi otot-otot badan. Penurunan kadar testosteron juga mengakibatkan
penundaan penutupan pertumbuhan tulang panjang, sehingga kucing yang dikastrasi
pertumbuhan tulang-tulang ekstremitasnya lebih panjang dibandingkan yang tidak
dikastrasi.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum kastrasi kali ini terdapat beberapa alat yang digunakan yaitu, ganggang
scalpel dan blade alat ini digunakan untuk menginsisi pada bagian skrotum. Scissors
digunakan untuk memotong jaringan. Needle holder digunakan untuk memegang jarum saat
menjahit. Pinset anatomis dan sirurgis digunakan untuk membantu memegang jaringan. smal
hemostatic forsep dan big hemostatic forsep digunakan untuk menjepit arteri apabila
terpotong atau menghambat perdarahan. Towel digunakan sebagai penutup anggota tubuh
yang tidak akan di operasi, towel yang digunakan yaitu satu towel yang terdapat lubang
ditengahnya sebagai tempat untuk menginsisi bagian yang akan dioperasi. Towel clamp
untuk menjepit towel dengan kulit agar tidak bergerak dari tempatnya, sehingga saat operasi
dapat lebih mudah dan tidak ribet. Needle digunakan untuk menjahit bagian yang telah
diinsisi biasanya digabungkan dengan benang. Tampon digunakan untuk menghambat darah
yang keluar sehingga saat pembedahan lebih mudah. Alat cukur digunakan untuk mencukur
bulu kucing agar lebih mudah saat menginsisi dan agar tidak adanya infeksi yang terjadi
akibat bulu-bulu kucing. Koran digunakan sebagai alas saat mencukur bulu kucing. Senter
digunakan sebagai penerang saat dilakukan pembedahan laparotomi.Glove digunakan untuk
melindungi tangan agar teteap steril saat pembedahan. Masker digunakan sebagai penutup
mulut dan hidung agar tidak ada infeksi lain atao kontaminasi.Penutup kepala sebai

pelindung rambut agar tidak jatuh dan menginfeksi kucing. Spuit, digunakan untuk
menyuntikkan obat ke kucing. Perlak digunakan sebagai alas saat dilakukan operasi.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan saat bedah laparotomi yaitu:

Kucing sebagai hewan coba yang akan dilakukan pembedahan


Air sabun digunakan untuk memudahkan saat pencukuran bulu. Cukup dengan dibasahkan
saja pada bulu yang akan dicukur
Benang, benang dibagi menjadi dua bagian, yaitu benang absorbable dan non absorbable

Betadine atau Iodine


Betadine digunakan sebelum dilakukan pembedahan. Setelah bulu-bulu kucing telah
dikuris bersih, maka di berikan betadin pada bagian bulu yang telah dibersihkan tersebut.
Pemberian dilakukan secara sirkular mulai dari tengah atau dalam ke bagian luar.
Iodine digunakan sebagai antiseptik yang dapat berperan dalam membunuh atau
menghambat pertumbuhan kuman seperti bakteri, jamur, virus, protozoa, atau spora bakteri.
Terdapat berbagai bentuk sediaan betadine. Misalnya betadine yang dicampur dengan
solusi alkohol, biasanya digunakan untuk pembersih kulit sebelum tindakan operasi.
Sedangakan pada kondisi teradapat darah atau nanah, dan jaringan yang mati, betadine
masih memiliki efek jika warnanya masih tampak. Sehingga jika luka diberikan betadine,
dan masih muncul nanh, artinya pembersihan luka menggunakan betadine harus diulang
kembali. Betadine tidak boleh digunakan jika terbukti alergi terhadap yodium. Tanda alergi
di antaranya kulit menjadi merah, bengkak, atau terasa gatal.
Atropin sulfat
Pada pembedahan atropin sulfat berguna sebagai premedikasi. tujuan dari premedikasi
ialah, mencegah muntah post operasi, mengurangi produksi saliva, mengurangi dosis
anastesi, agar hewan lebih tenang dan mudah dihandling, mencegah reflek yang tidak
diinginkan, memudahkan induksi anastesi
Xylazin dan ketamin
Xylazin dan ketamin digunakan sebagai anastesi umum. Agen anestesi yang sekarang
banyak digunakan adalah kombinasi ketamin-xylazin. Anestetika ini mempunyai banyak
keuntungan: yaitu ekonomis, mudah dalam pemberian, induksinya cepat begitu juga
pemulihannya, mempunyai pengaruh relaksasi otot yang baik dan jarang menimbulkan
komplikasi klinis. Ketamin-xylazin mempunyai sifat kerja yang berbeda terhadap sistim
saraf otonom. Ketamin merupakan obat yang bersifat simpatomimetik yang bekerja
menghambat saraf parasimpatis pada sistim saraf pusat dengan neurotransmitter

noradrenalin sehingga akan menimbulkan dilatasi pupil, dilatasi bronkiolus dan


vasokonstriksi pembuluh darah. Xylazin merupakan obat parasimpatomimetik yang bekerja
menghambat saraf simpatis dengan reseptor muskarinik. Reseptor muskarinik xylazin akan
menekan sistim saraf pusat, sehingga menimbulkan efek sedatif hipnotik.
Tolfen
Tolfen diberikan ketika kucing sudah sadar. Tolfen diberikan secara intramuscular. Tolfen
berfungsi sebagai analgesik dan diberikan 2 hari sekali selama lima hari.
Alkohol
Digunakan untuk menstrelilisasi alat yang dicampurkan dengan iodin. Selain itu juga untuk
membersihkan bagian yang akan dibedah agar tidak adanya infeksi
Betamox
Pengobatan infeksi saluran pernafasan dan pencernaan akibat bakteri yang peka terhadap
amoxycillin seperti E. coli, Pasteurella, Haemophillus, Salmonella, Clostridium,
Erysipelotrix, Camphylobacter, Corynebacterium,Staphylococcus dan Streptococcus spp.
pada sapi, kambing, domba, babi, anjing, kucing dan ayam.

3.2 Cara Kerja

Tahan pre operasi

kucin
g
dianamnesa, dan dilakukan pemeriksaan fisik
dipuasakan makan 6-12 jam, puasakan minum 2-6 jam
dimandikan, dikeringkan
dilakukan perhitungan dosis dari atropin sulfat, xylazin, ketamin, tolfenamic, amoxicillin
di berikan premedikasi dengan atropin sulfat, ditunggu selama 15 menit sampai muncul
efeknya, ditandai dengan kering pada bagian mukosa mulutnya
dilakukan anastesi dengan xylazin dan ketamin
diletakkan diatas koran dan dilakukan pencukuran bulu
diberikan air sabun pada bulunya, dicukur dan dibersihkan dengan menggunakan kapas
yang telah dibasahi oleh air
kucing diletakkan diatas mejayang diberi perlak degan posisi rebah dorsal, kemudian
keempat kakinya diikat dengan tali kekang
ditutup dengan menggunakan duk yang terdapat lubang pada bagian tengahnya dan duk
dijepit dengan menggunakan duk clemp
Hasil

Tahap operasi

kucing
Dipencet dinding skrotum, salah satu testis di dorong ke bagian
cranial scrotum
Diinsisi kulit sskrotum, fascia spermatika, dan dilanjutkan dengan tunica
vaginalis pad bagian raphe median

Diperlebar bagian insisinya sampai testis menyembul atau keluar dari lubang insisi,
dan tarik testis keluar

Dilakukan insisi meshorcium tipis dan epididimis mulai spermatic cord dibagian
cranial dan ekor epididimis di bagian caudal.

Dilakukan ligasi pada ligament testis dengan benang absorbable.

Dilakukan pemotongan testis yang masih menempel di tunica vaginalis parietalis


dengan ligamen pada ekor epididimis.

Disiapkan jarum dan catgut silk, Dijahit pada kulit skrotum dengan pola jahitan
simple interupted
Diberikan iodin setelah penjahitan selesai

Dijahit bagian subkutan dengan menggunakan catgut plain dengan pola simple
continuous dan dilanjutkan dengan jahitan kosmetik
Dimasukkan dalam kandang perawatan sambil menunggu kucing benar-benar sadar
dan kembali aktif.
Hasil

Post Operasi

kucin
g
ditunggu sampai kucing sadar
setiap 15 menit diukur suhu dan pulsusunya
setelah suhunya kembali dapat dibawa pulang
diperhatikan nafsu makannya,
setiap 2 hari sekali diberikan tolfenamic, dan sehari 2 kali sehari diberikan amoxicilin

setiap hari di kontrol suhu tubuhnya dan juga pulsusunya

diberikan nembacetin agar lukanya cepat kering


Hasil

BAB IV
HASIL
4.1 Anamnesa
4.1.1 Kucing dalam kondisi sehat
4.1.2 Testis tidak mengalami pembesaran
4.1.3 Tidak ada luka pada testis
4.1.4 Nafsu makan baik
4.1.5 Minum moe baik
4.1.6 Berdiri tegak, dengan penopang keempat kakinya
4.2 Perhitungan Dosis
4.2.1 Betamox (intramuscular)
Dosis : 15 mg/ kg BB
Konsentrasi : 150 mg/ ml
3,3 kg x 15 mg/kg BB
x=
=0,3 3
150 mg/kg BB
4.2.2

Amoxicillin (per oral)


Dosis : 20 mg/ kg BB
Konsentrasi : 125/5 mg/ ml
3,3 kg x 20 mg/kg BB
x=
=2,64
125
mg/ kg BB
5

4.2.3

Atropin (subcutan)
Dosis : 0,04 mg/ kg BB
Konsentrasi : 1 mg/ ml
x=

4.2.4

Ketamin (intramuscular)
Dosis : 10 mg/ kg BB
Konsentrasi : 100 mg/ ml
x=

4.2.5

3,3 kg x 0,004 mg /kg BB


=0,5 2
0,25 mg /kg BB

3,3 kg x 10 mg/kg BB
=0,3 3
100 mg /kg BB

Xylazin (intramuscular)
Dosis : 2 mg/ kg BB
Konsentrasi : 20 mg/ ml

x=

4.2.6

Tolfenamid Acid (subcutan)


Dosis : 4 mg/ kg BB
Konsentrasi : 40 mg/ ml
x=

4.2.7

3,3 kg x 2 mg/kg BB
=0,33
20 mg/kg BB

3,3 kg x 4 mg/kg BB
=0 ,33
40 mg/kg BB

Sanpicillin (topical)

4.3 Data yang diperoleh (Form)


Pemeriksaan Hewan
Kelompok: 8

Kelas: 2012 A

1.
2.
3.
4.
5.

Nama
Deshinta Putri M.K
Dessy Dwi R.
Putri Suci R.
Anggit Prio Pambudi
Galant Gestuyef

SIGNALEMENT
Nama
Jenis hewan
Kelamin
Ras/breed
Warna bulu/kulit
Umur
Berat badan
Tanda kusus

Hospital Name
Address
City
Tanggal
Temp: 38,6 C
Pulse: 92 / menit
Membrane color: pink

Nim
125130101111015
125130100111018
125130101111073
125130102111003
125130107111002

: Moe
: Kucing
: Jantan
: Persia Medium
: Putih dan Cream
: + 1,5 tahun
:3,3 kg
: Matanya selalu berair
Pemeriksaan Hewan
: CLINIC VETERINARY OF BRAWIJAYA UNIVERSITY
: JL. MT. HARYONO
: MALANG
: 30 September 2015
Respirasi: 108 / menit
CRT: < 2 detik

Hydration: normal
Body Weight: 3,3kg
and consistency of feces: coklat padat
Body condition : Underweight
Overweight
Normal
System Review
a. Integumentary
Normal
Abnormal
e. Nervus
Normal
Abnormal
Lympatic
Normal
Abnormal

b. Otic
Normal
Abnormal
f. Cardiovaskuler
Normal
Abnormal
j. Reproduction
Normal
Abnormal

c. Optalmic
Normal
Abnormal
g. Respiration
Normal
Abnormal
k. Urinaria
Normal
Abnormal

Color

d. Muscoloskeletal
Normal
Abnormal
h. Digesty
Normal
Abnormal

Deskripsi Abnormal
Vaksinasi
Ya
Tidak
ctt: Disease Record:
FORM OPERASI
KASTRASI / OH
Nama Pemilik : kelompok 8
Alamat
: Malang
Nama
: Moe
Jenis Kelamin : Jantan
Jenis Hewan : Kucing
Ras/ Brees
: Persia medium
KONTROL ANASTESI
Obat

Golongan Obat

Betamox
Atropin
Sulfat

ANTIBIOTIK
PREMEDIKAS
I
PREMEDIKAS
I
ANASTHESI

Ketamin +
Xylazin
Tolfen

Analgesik

Temp
Membrane mucosa
CRT
Pulsus
Respirasi
Hydration
DOSIS
(mg/K
g BB)
15

KOSENTRAS
I
(mg/ml)
150

Volume
Obat
(ml)
0,33

0,04

10
2
4

100
20
40

: 38 C
: pink
:< 2 detik
: 124 kali / menit
: 44 kali / menit
: terhidrasi

Rute

Waktu

IM

14.35

0,52

Subcutan

13.05

0,33
0,33
0,33

Intramuscular
Intramuscular
Subcutan

13.30
13.30
15.15

KONTROL PEMERIKSAAN
Menit ke0
15
Pulsus(/menit)
124
80
0
Temp( C)
38
38,8

30
88
35,7

45
100
35,4

60
108
35,2

75
104
35,6

90
92
37,3

105
112
37,6

120
110
37

Menit
Pulsus(/menit)
Temp(0C)

165
128
36,3

180
108
36,0

195
128
37,3

210
124
37,2

285
120
37,1

300
120
37,1

315
128
37,2

135
144
35,9

150
112
36,2

FORM MONITORING
PASCA OPERASI
Nama Hewan
Jenis Hewan
Ras/Breed
Umur
Jenis Kelamin
Tanggal
Kamis
8/10/2015

: Moe
: Kucing
: Persia medium
: > 1,5 tahun
: Jantan

Suhu : 38,1C
Pulsus : 132
CRT : <2

jumat
9/10/2015

Suhu : 38,5 C
Pulsus : 112
CRT : <2

sabtu
10/10/201
5

Suhu : 37,8C
Pulsus : 124
CRT : <2

minggu
11/10/201
5

Suhu : 37,4C
Pulsus : 124
CRT : <2

senin
12/10/201
5

Suhu : 38,1C
Pulsus : 128
CRT : <2

selasa
13/10/201
5

Suhu : 38,2C
Pulsus : 112
CRT : <2

Pemeriksaan
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi

Nama Pemilik : Kelompok 8


Alamat
: Malang
No telp
:

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

Terapi
T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1

T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1
Tolfenamide
acid (0,33 ml)
T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1

T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1
Tolfenamide
acid (0,33 ml)
T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1

T/ Amoxicillin
(2,64 ml) 2x1
Tolfenamide

rabu
14/10/201
5

Suhu : 38,1C
Pulsus : 112
CRT : <2

Kamis
15/10/201
5

Suhu : 38,4 C
Pulsus :124
CRT :<2

ACC ASISTEN
Tgl 7 Oktober 2015

SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

Dosen
Tgl

acid (0,33 ml)


T/

T/

Catatan :
Lepas Jahitan

(
(

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Analisa Prosedur
5.1.1 Sterilisasi Alat

Alat-alat yang akan digunakan pada saat praktikm harus disterilisasi terlebih dahulu.
Fungsinya agar tidak terjadi kontaminasi pada saat dilakukan operasi yang mengakibatkan
adanya infeksi nantinya. Baju operasi sudah harus dicuci bersih terebih dahulu sebelumnya
lalu dikeringkan dan ditata sesuai urutan. Selain itu, sarung tangan, masker, dan tutup kepala
serta handuk juga harus steril dan telah dibersihkan. Semua dilipat dan disusun sesuai urutan
lalu dimasukkan ke dlam kain muslin kemudian dimasukkan ke dalam autoclav dengan
suhu 600C selama 15-30 menit.
Sedangkan peralatan operasi minor yang telah dicuci bersih kemudian dikeringkan
terlebih dahulu baru setelah itu ditata di dalam kotak peralatan sesuai dengan urutan
penggunaannya. Kotak peralatan tersebut kemudian dibungkus dengan muslin atau
non woven dan disterilisasi menggunakan autoclav dengan suhu 121C selama 60 menit.
Peralatan yang telah disterilisasi digunakan pada saat operasi.
5.1.2

Persiapan hewan coba


Persiapan-persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi pemeriksaan signalemen,

anamnese, status present serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Data fisiologis hewan
yang harus diambil sebelum operasi yaitu suhu tubuh, frekuensi jantung, frekuensi nafas,
limfonodulus, dan selaput lendir dan juga diperiksa apakah kucing bunting atau tidak dan
ada atau tidaknya penyakit lainnya. Kucing juga ditimbang berat badan untuk mengetahui
normal tidaknya kucing dan untuk menentukan dosis obat yang akan digunakan. Sebelum
operasi, hewan dipuasakan terlebih dahulu, dipuasakan makan 6-12 jam sedangkan puasa
minum 2-6 jam. Hal tersebut dilakukan untuk mengosongkan vesica urinaria dan lambung
agar saat dioperasi hewan tidak defekasi dan urinasi. Selanjutnya hewan yang kotor,
dimandikan terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi, dikeringkan.
Selanjutnya hewan diberikan premedikasi dengan menggunakan atropin sulfat yang
berfungsi untuk menenangkan hewan saat akan dilakukan anastesi, selain itu fungsi
premedikasi juga untuk mencegah muntah post operasi, mengurangi dosis anastesi umum,
dan mengurangi produksi saliva kucing. Setelah itu diunggu selama 15 menit efeknya dilihat
dari mukosa mulutnya yang terlihat menegering. Premedikasi ini diberikan secara subkutan.
Kemudian disuntikkan atropin dan xylazin sesuai dosisnya, xylazin dan ketamin
digunakan sebagai anastesi umum. Agen anestesi yang sekarang banyak digunakan adalah
kombinasi ketamin-xylazin. Anestetika ini mempunyai banyak keuntungan: yaitu ekonomis,
mudah dalam pemberian, induksinya cepat begitu juga pemulihannya, mempunyai pengaruh
relaksasi otot yang baik dan jarang menimbulkan komplikasi klinis. Ketamin-xylazin

mempunyai sifat kerja yang berbeda terhadap sistim saraf otonom. Ketamin merupakan obat
yang bersifat simpatomimetik yang bekerja menghambat saraf parasimpatis pada sistim
saraf pusat dengan neurotransmitter noradrenalin sehingga akan menimbulkan dilatasi pupil,
dilatasi bronkiolus dan vasokonstriksi pembuluh darah. Xylazin merupakan obat
parasimpatomimetik yang bekerja menghambat saraf simpatis dengan reseptor muskarinik.
Reseptor muskarinik xylazin akan menekan sistim saraf pusat, sehingga menimbulkan efek
sedatif hipnotik. (Morison,2005)
Setelah kucing teranastesi, hewan diletakkan dia atas meja operasi yang telah disediakan
dan diposisikan rebah dorsal. Kemudian keempat kaki difiksasi pada meja operasi dengan
menggunakn tali yang telah disediakan. Hal tersebut untuk mencegah hewan banyak
bergerak saat terbangun di tengah operasi dan memudahkan dalam melakukan operasi agar
tidak perlu memegangi kakinya selama operasi.
Kemudian daerah yang akan dioperasi dicukur bulunya untuk menghindari kontaminasi
dari hewan itu sendiri dan mencegah adanya infeksi yang akan terjadi nantinya. Pencukuran
bulu dilakukan dengan cara, pertama-tama bulu dibasahi dengan air sabun terlebih dahulu
agar saat akan dilakukan pencukuran lebih mudah dan menghindari terjadinya lecet, dan
bulu lebih mudah terlepas dari kulit. Pencukuran bulu dilakukan secara hati-hati dan
perlahan sesuai dengan arah rebah bulu, hal tersebut dilakukan agar bulu lebih mudah
terlepas dari kulit dan tidak menyakiti kucing. Lalu setelah dicukur, daerah yang akan
dioperasi dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air untuk menghilangkan sisa-sisa
pencukuran bulu yang telah dilakukan kemudian dikeringkan. (Morison,2005)
Selanjutnya dilakukan pemasangan duk. Pada saat pemasangan duk arus benar-benar
diperhatikan mana bagian yang steril mana bagian yang tidak steril. Bagian yang steril yang
terletak pada bagian luar, sedangkan bagian yang tidak steril terletak pada bagian dalam
yang menempel dengan bulu kucing. Duk yang dapat digunakan ada dua macam, dapat
menggunakan 4 duk atau dapat menggunakan satu duk yang terdapat lubang di tengahnya.
Pada pembedahan kali ini yang digunkan yaitu satu duk yang terdapat lubang di bagian
tengahnya. Lubang tersebut yaitu untuk menginsisi daerah yang akan dioperasi. Kemudian
duk direkatkan denganmenggunakan duk clamp.
5.1.3 Persiapan Operator
Dalam melakukan operasi dibagi menjadi beberapa operator. Ada operator utama,
asisten operator, operator anastesi, operator non steril, dan dokumentasi. Operator yang
akan melakukan operasi harus steril. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh operator
dan asisten adalah menggunakan tutup kepala dan masker, mencuci kedua tangan dengan

sabun dan menyikatnya dengan sikat pada air yang mengalir. Pencucian dimulai dari
ujung jari yang paling steril kemudian dibilas dengan arah dari ujung jari kelengan yang
dilakukan sebanyak 10-15x. Setelah selesai mencuci tangan dan membilasnya,
keran ditutup dengan siku untuk mencegah kontaminasi. Kemudian tangan dikeringkan
dengan handuk dan glove dipakai. Setelah semua langkah dilalui, operasi siap dilakukan.
5.1.4

Pelaksanaan Operasi
Setelah kucing teranastesi, kemudian diterlentangkan di meja operasi dan difiksasi
menggunakan tali pada ke empat kakinya untuk menghindari apabila kucing bangun akan
memberontak dan agar tidak mengganggu jalannya operasi. Lalu dilakukan pencukuran
rambut pada bagian skrotum agar tidak terjadi kontaminasi nantinya akibat bulu yang
masuk kedalam saat dilakukan operasi dan juga untuk memudahkan incisi saat kastrasi,
selanjutnya didesinfeksi dengan alcohol 70% agar tidak terjadi kontaminasi. Setelah
semuanya siap, kucing dipasangkan duk dengan menggunakan towel clamp disekitar bagian
scrotum dengan scrotum tidak tertutup duk. Metode kastrasi yang digunakan adalah tipe
kastrasi terbuka yakni Tunica vaginalis ikut disayat, spermatic chord dicari terlebih dahulu,
kemudian di clamp menggunakan arteri clamp, kemudian diligasi menggunakan catgut
chromic 3-0 lalu testis dipotong dari penggantungnya. Pelaksanaan Operasi dimulai pada
pukul 13.15 WIB di lab.Ilmu Bedah Khusus Universitas Brawijaya. Berikut operasi yang
dilakukan: Bagian scrotum di tekan dengan tangan sampai terlihat batas tengah antara kedua
testis. Batas tersebut diinsisi dengan menggunakan blade. Panjang sayatan disesuaikan
dengan ukuran testis. Selanjutnya bagian tunica vaginalis dari salah satu testis ikut disayat
sampai testis keluar dengan menekan bagian testis. Setelah testis menyembul keluar, testis
ditarik sampai terlihat spermatic cord (duktus deferens dan pembuluh darah). Kemudian
dilakukan ligasi menggunakan arteri clamp pada masing-masing duktus deferens dan
pembuluh darah, fungsi dari ligasi yaitu agar darah tidak mengalir kelur saat dilakukan
pemotongan pada testis. Lalu diligasi dengan arteri clamp, masing-masing duktus deferens
dan pembuluh darah diligasi menggunakan catgut chromic 3-0 diantara arteri clamp dan
testis sampai benar-benar terligasi secara kuat, hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi
perdarahan saat pemotongan testis. Setelah masing-masing diligasi., pembuluh darah dan
duktus deferens diligasi menjadi satu menggunakan catgut chromic 3-0 agar benar-benar
terikat kuat. Sesudah dilakukannya ligasi, testis dipotong menggunakan blade, pemotongan
dilakukan di antara testis dan ligasi. Untuk testis berikutnya juga dilakukan dengan metode
yang sama dengan testis sebelumnya. Setelah kedua testis terambil, disemprotkan dengan
menggunakan spuit yang berisi sanpicillin sebanyak 1 ml di sekitar ligasi. Sanpicillin
merupakan antibiotik, berfungsi untuk mencegah adanyak kontaminasi bakteri yang dapat
menghambat proses penyembuhan. Kedua testis telah dipotong, selanjutnya dilakukan
penjahitan pada kulit bagian luar (skrotum) yang diinsisi menggunakan silk 3-0 dengan
jahitan terputus sederhana sebanyak 8 jahitan. Pada saat proses penjahitan, pasien mulai
sedikit sadar, sehingga operator mengalami kesulitan. Ditambah dengan kulit scrotum yang
tebal sehingga sangat susah untuk menjahitnya. Setelah selesai menjahit, luka diolesi
dengan povidone iodine agar cepat menutup dan cepat kering. Lalu diinjeksikan dengan

tolfenamide acid dengan dosis 0,32 ml secara subcutan untuk mengurangi rasa sakit.
Operasi selesai dilakukan pada pukul 14.30 WIB.Selanjutnya dilakukan pencatatan secara
bertahap yang berisikan perhitungan temperature dan pulsus.
5.1.5

Post Operasi
Setelah operasi selesai dilakukan, dilakukan pemeriksaan suhu dan pulsusunya juga.

Setiap 15 menit, suhu dicek dan pulsusu dihitung sampai suhunya benar-benar kembali
normal. Setelah kucing bergerak, kucing diberikan tolfen secara subkutan. Tolfen ini
berfungsi sebai analgesik. Lalu setelah suhunya normal kucing dapat dibawa pulang. Setelah
itu kucing diberikan amoxicilin secara oral sebagai antibiotik, setiap 2kali sehari dan setiap
2 hari sekali kucing diberikan tofen. Agar kucing cepat pulih kembali. Setiap 2 hari sekali
kasa diganti dan luka dibersihkan. Hal tersebut dimaksutkan agar tidak adanya kontaminasi
yang nantinya akan memperlama penyembuhan luka. Sebelum ditutup, luka diberikan iodin
agar tidak ada bakteri. Bila perlu gurita juga diganti setiap 2hari sekali agar luka tidak kotor
dan mempercepat penyembuhannya. Agar lukanya cepat mengering, dapat diberikan
nembacetin. Setelah seminggu jahitan dapat diperiksa dan dilepas.
5.2 Analisa Hasil
Jadi berdasarkan hasil yang di dapatkan dari kelompok kami, berdasarkan pemeriksaan
hewan yang dilakukan didapatkan tem awal 36,6C dengan pulsus 92/menit hydration < 2
detik, respirasi 108/menit, hal tersebut dikarenakan kucing stress dan ketakutan sehingga
respirasinya cepat. CRT <2 detik dan berat badan 3,3 Kg. Sedangkan berdasarkan sistem
review didapatkan semua , berdasarkan hasil dapat diketahui kondisi awal kucing tersebut
mengalami ketakutan atau stress, dilihat dari respirasi yang cukup tinggi. Pada kontrol
pemeriksaan selama operasi sampai kucing bangun, kontrol dilakukan selama selang waktu
15 menit, kontrol yang dilakukan yaitu kontrol pada pulsus dan suhu. Didapatkan hasil yang
berbeda-beda tiap menitnya. Suhu dan pulsus tiap menit naik dan turun atau dapat dikatakan
tidak stabil. Hal tersebut mungkin dikarenakan efek dari post operasi dan efek dari obat
anastesi yang digunakan serta suhu ruangan yang ada. Operasi dimulai pada pukul 13.50
dan selesai pada pukul 14.30.
Pasca operasi, juga dilakukan kontrol setiap harinya. Suhu kucing sehari setelah operasi
mulai stabil dan mulai normal. Begitu juga dengan pulsusnya. Suhu dan pulsus yang di lihat
atau di cek setiap harinya hasilnya selalu berbeda-beda. Hasilnya selalu naik turun, namun
masih dalam batas normal. Yang berarti kucing sudah normal. Kucing diberikan amoxycilin
setiap 2x sehari dan tolfen setiap 2 hari 1x. Hari peratama kucing sudah menunjukkan nafsu
makan yang baik, serta feses dan urinnya juga normal. Kucing juga sudah dapat bergerak

aktif. Begitu juga hari-hari seterusnya. Jahitan kucing mulai dilepas pada hari ke 7. Awalnya
skrotum kucing mengalami kerak, naun hanya dengan dibersihkan engan normal salin kerak
dapat lepas dan skrotum bersih kembali.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kastrasi adalah memutuskan saluran reproduksi kucing jantan dengan jalan memotong
vasdeferen atau efididimis yang menghubungkan testis dengan penis, sehingga kucing tidak
dapat memproduksi spermatozoa, akibatnya kucing menjadi in vertil. Terdapat dua metode
kastrasi yaitu mettode terbuka dan metede tertutup. Metode tertutup tidak menginsisi tunica
vaginalis sedangkan metode terbuka tunica vaginalis juga diinsisi. Pada peraktikum kali ini
kami menggunakan metode kastrasi terbuka.
Sebelum dilakukannya kastrasi, dilakukan beberapa persiapan terlebih dahulu, yaitu
persiapan alat dan bahan, persiapan hewan, persiapan ruangan, persiapan operator, lalu
persiapan operasi. Persiapan yang dilakukan untuk mempermudah dalam melaksanakan
operasi dan agar operasi berjalan dengan lancar dan steril sehingga tidak ada kontaminasi
pada kucing.
6.2 Saran

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya dalam mengetahui prosedur
kastrasi pada kucing. Dalam pembuatan lapora ini masih terdapat banyak kekurangan makan
dari itu mohon sarannya.

Daftar Pustaka

Denni,2012. Definition of Castration and Effect of Age Castration on Animal Performance,


Muscle Characteristics and Meat Quality Traits in 26-month-old Charolais Streers.
Livestock Science. ELSEVIER
Fissum, G, et al. 2007. Small Animal Paediatric Medicine and Surgery. Oxford: Butterworthheinemann
Ganiswara. 2004. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Gaya Baru: Jakarta
Ibrahim R. 2000. Pengantar Ilmu Bedah Veteriner , Edisi Pertama. SyiahKualaUniversity Press,
Darussalam Banda Aceh
I Komang Wiarsa Sardjana dan Diah Kusumawati. 2011.Bedah Veteriner ,Cetakan
Pertama.
Airlangga University Press, Surabaya.
Komalasari, diah, 2011. Laporan Orchiectomy. Universitas Airlangga : Surabaya
Morison, moya.2005.Manajemen Luka.Jakarta :EGC
Putri, Widya. 2014. Kastrasi. Bagian Bedah dan Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB:
Bogor
Sofian, Aldi. 2006. Anatomi dan fisiologi ternak. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta