Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
pembangunan nasional, karena masalah kesehatan menyentuh hampir semua
aspek kehidupan manusia. Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah
membangun sumber daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar dapat
melanjutkan perjuangan pembangunan nasional untuk menuju

masyarakat

sejahtera, adil dan makmur. Kualitas SDM di ukur dari kecerdasan, kematangan,
emosi, kemampuan berkomunikasi, keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa. 1
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi
peningkatan kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. ASI
merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti
memberikan zat-zat gizi yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat-zat kekebalan terhadap
beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya. 3
Pemberian ASI secara eksklusif dapat mencegah kematian balita sebanyak
13 %. Pemberian makanan pendamping ASI pada saat dan jumlah yang tepat
dapat mencegah kematian balita sebanyak 6%, sehingga pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai lebih dari 2 tahun
bersama makanan pendamping ASI yang tepat dapat mencegah kematian balita
sebanyak 19%.1
Tahun 1990 pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan
Pemberian ASI (PP-ASI) yang salah satu tujuannya adalah untuk membudayakan
perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai dengan berumur
4 bulan. Pada tahun 2004, sesuai dengan anjuran badan kesehatan dunia (WHO),
pemberian ASI Eksklusif ditingkatkan menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan
dalam

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor

450/MENKES/SK/VI/2004 tahun 2004.4


Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan secara menyeluruh
diseluruh daerah di Indonesia. Dari Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia
1

(SDKI) Tahun 1997 tercatat bahwa pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur
4 bulan di Indonesia hanya 52%. Angka pencapaian tersebut telah meningkat
sebesar 36% bila dibandingkan dengan hasil survei serupa yang diadakan oleh
WHO (World Health Organization) pada tahun 1986. Bila dibandingkan dengan
target yang harus segera dicapai pada tahun 2020, angka pencapaian tersebut
belum mencapai target 80%.3
Berdasarkan SDKI 2007, Angka Cakupan ASI Ekslusif 6 bulan di Indonesia
hanya 39,5% (SDKI 2007), masih jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38%. Sementara
itu, saat ini jumlah bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula meningkat dari
16,7% pada tahun 2002 menjadi 32,4% pada tahun 2007.8
Pemberian ASI pada bayi erat kaitannya dengan keputusan yang dibuat oleh
ibu. Selama ini ibu merupakan figure utama dalam keputusan untuk memberikan
ASI atau tidak pada bayinya. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh banyak
faktor, baik faktor dari dalam maupun dari faktor dari luar diri ibu.1,5
Dalam upaya pengawasan dan evaluasi pemberian ASI Eksklusif,
pemerintah Kabupaten Magelang memasukkan program ASI Eksklusif ke dalam
Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten
Magelang menargetkan pemberian ASI Eksklusif sebesar 80%. Namun
permasalahan yang ada di Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Muntilan 1
periode Januari - Februari 2012 adalah cakupan hasil kegiatan bayi yang
mendapat ASI Eksklusif belum tercapai dengan besar pencapaian 71% . Dari 8
desa yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Muntilan 1. Peneliti
mengambil penelitian di desa Congkrang, karena desa Congkrang memiliki
persentase pemberian ASI Eksklusif yang rendah, sedangkan pengambilan data di
Dusun Semawe, karena di Dusun Semawe memiliki cakupan Pemberian ASI
Eksklusif yang rendah dibandingkan dari ke-5 Dusun yang ada di Desa
Congkrang.12 Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu dicari penyebab dari
permasalahan bayi yang diberi ASI Eksklusif di Dusun

Semawe, serta

menemukan alternatif pemecahan masalahnya.11

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, terdapat masalah yang belum diketahui, yaitu :
2

Apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di


Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang
Periode Januari Febuari 2012 sehingga tidak memenuhi target?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis serta mengevaluasi penyebab
rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang
Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang periode Januari Febuari 2012
sehingga tidak memenuhi target .
1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis serta mengevaluasi penyebab

rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang


Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang periode Januari Febuari 2012
sehingga tidak memenuhi target .
1.3.2

Tujuan Khusus

a. Mengetahui cakupan ASI Ekslusif di Dusun Semawe Desa Congkrang


Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
b. Mampu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan ASI
Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang.
c. Mampu menganalisis masalah ASI Eksklusif di Dusun Semawe Desa
Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
d. Mampu membuat rencana tindak lanjut dalam menyelesaikan masalah ASI
Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Mahasiswa
a. Sebagai syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat.
b. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang
ditemukan di dalam survei yang dilaksanakan.

c. Melatih kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan


masyarakat.
1.4.2

Bagi Puskesmas
1. Mengetahui masalah atau upaya Puskesmas mengenai penerapan
ASI Eksklusif.
2. Membantu puskesmas dalam mengidentifikasi penyebab dari upaya
puskesmas dalam hal penerapan ASI Eksklusif yang tidak berjalan.
3. Membantu puskesmas dalam memberikan alternatif penyelesaian
terhadap masalah penerapan ASI Eksklusif yang tidak berjalan.

1.4.3 Bagi Masyarakat


a. Menambah pengetahuan, khususnya bagi para ibu mengenai
pentingnya manfaat pemberian ASI Eksklusif pada bayinya.
b. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan masyarakat
dengan mensosialisasikan program ASI Eksklusif.
c. Membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI Eksklusif
sebagai satu-satunya makanan yang diperlukan oleh bayi usia 0-6
bulan.
1.5 Batasan Pengkajian
1.5.1 Batasan Judul
Laporan kegiatan dengan judul Evaluasi Cakupan Pemberian ASI
Eksklusif di Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang Periode Januari - Februari 2012 mempunyai
batasan pengertian judul sebagai berikut:
a. Evaluasi
Adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai,
atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian
solusi-solusi atau permasalahan yang ditemukan.
b. Cakupan
Adalah jangkauan suatu hal.
c. Program ASI Eksklusif
d. Desa Congkrang, Dusun Semawe, Kecamatan Muntilan, Kabupaten
Magelang
4

Adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Muntilan,


Kabupaten Magelang.
e. Periode Januari Febuari 2012
Adalah kurun waktu selama 2 bulan yang diawali dari Bulan Januari
2012 dan berakhir pada bulan Febuari 2012.
1.5.2 Batasan Operasional
a. Frekuensi kegiatan berlangsung selama 2 bulan.
b. Sasaran adalah Ibu yang memiliki bayi dan balita 6 24 bulan.
c. Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah ibu yang
memberikan ASI Eksklusif di Dusun Semawe dibagi jumlah semua
ibu ada di Desa tersebut pada periode Januari-Febuari 2012.
1.5.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Lingkup lokasi

: Desa Congkrang, Dusun Semawe, Kecamatan

Muntilan, Kabupaten Magelang.


b. Lingkup waktu : Januari 2012 sampai Febuari 2012.
c. Lingkup sasaran : seluruh ibu yang memunyai bayi dan balita 6-24
bulan.
d. Lingkup metode : kuesioner, wawancara, dan pencatatan.
e. Lingkup materi : evaluasi cakupan pemberian ASI Eksklusif di
Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten
Magelang Periode Januari Februari 2012.

1.6 Metodologi Kegiatan


Survei dilakukan di dusun Semawe desa Congkrang Kecamatan Muntilan
Kabupaten Magelang, pada tanggal 06-08 April 2012. Responden yang diambil
adalah 16 orang ibu yang mempunyai bayi dan balita 6 -24 bulan, di Desa
Semawe. Jenis data yang diambil adalah :
1. Data primer, yang diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) dengan
cara wawancara. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada ibu 16
orang ibu yang memiliki bayi dan balita 6 -24 bulan. Selain itu,
wawancara juga dilakukan kepada bidan Desa Congkrang mengenai
program pelayanan kesehatan untuk pemberian ASI Eksklusif.

2. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data-data dari laporan


registrasi pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas, dan buku kelahiran dari
bidan Desa Congkrang.
Data yang terkumpul diolah dan kemudian dianalisis masalah yang
ditemukan dengan mencari kemungkinan penyebabnya, melalui pendekatan
sistem, yang meliputi kelima input, yaitu man, money, material, machine,
methods, proses yang meliputi fungsi manajemen baik P1, P2, P3, serta
lingkungan. Dengan demikian dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah
berdasarkan penyebab masalah yang paling mungkin dan penggabungan alternatif
pemecahan masalah tersebut. Setelah itu, prioritas pemecahan masalah ditentukan
dengan menggunakan rumus kriteria matriks, yang kemudian dibuat rencana
kegiatan dan plan of action (POA) berdasarkan pemecahan masalah yang terpilih
dan dijadwalkan dalam sebuah Gann chart.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6

II.1 Definisi ASI Eksklusif


ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan, untuk kemudian
diteruskan hingga 2 tahun atau lebih , dan setelah enam bulan baru didampingi
dengan makanan / minuman pendamping ASI ( MPASI ) sesuai perkembangan
pencernaan anak. 4
Pemberian ASI pada bayi erat kaitannya dengan keputusan yang dibuat oleh
ibu. Selama ini ibu merupakan figure utama dalam keputusan untuk memberikan
ASI atau tidak pada bayinya. Pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh banyak
faktor, baik faktor dari dalam maupun dari faktor dari luar diri ibu.
Faktor-faktor dari dalam diri ibu atau faktor internal antara lain pengetahuan
ibu mengenai proses laktasi, pendidikan, motivasi, sikap, pekerjaan ibu, dan
kondisi kesehatan ibu. Sementara itu, faktor dari luar diri ibu atau faktor eksternal
antara lain social ekonomi, tata laksana rumah sakit, kondisi kesehatan bayi,
pengaruh iklan susu formula yang intensif, keyakinan keliru yang berkembang di
masyarakat dan kurangnya penerangan dan dukungan terhadap ibu dari tenaga
kesehatan atau petugas penolong persalinan maupun orang-orang terdekat ibu
seperti ibu, mertua, suami, dan lain-lain.
11.2

Manfaat ASI Eksklusif 5,6

1) Manfaat untuk ibu :


Membantu proses pemulihan setelah melahirkan.
Mencegah perdarahan dan membantu ibu untuk pemulihan uterus.
Salah satu cara ber-KB

Mencurahkan kasih sayang kebayi, dengan menyusui terjalinnya ikatan


kasih sayang yang kuat antara bayi dan ibu, dan membuat keduannya
merasa aman dan bahagia.
2) Manfaat untuk bayi :
7

Menambah kekebalan pada tubuh bayi sehingga tidak mudah terserang


penyakit infeksi terutama diare.
Tidak hanya mengandung zat gizi dan non zat gizi yang penting, tetapi
juga mengandung enzim penyerapnya sehingga semua ASI dengan mudah
diserap seluruhnya oleh pencernaan bayi.
II.3 Kandungan ASI
ASI mengandung zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk
menunjang proses tumbuh kembang otak dan memperkuat daya tahan alami
tubuhnya. Kandungan ASI yang utama terdiri dari:
1. Laktosa
merupakan jenis karbohidrat utama dalam ASI yang berperan penting
sebagai sumber energi . Selain itu laktosa juga akan diolah menjadi glukosa
dan galaktosa yang berperan dalam perkembangan sistem syaraf. Zat gizi ini
membantu penyerapan kalsium dan magnesium di masa pertumbuhan bayi.
2. Lemak
Merupakan zat gizi terbesar kedua di ASI dan menjadi sumber energi
utama bayi serta berperan dalam pengaturan suhu tubuh bayi. Lemak di ASI
mengandung komponen asam lemak esensial yaitu: asam linoleat dan asam
alda linolenat yang akan diolah oleh tubuh bayi menjadi AA dan DHA. AA
dan DHA sangat penting untuk perkembangan otak bayi.
3. Oligosakarida
Merupakan komponen bioaktif di ASI yang berfungsi sebagai
prebiotik karena terbukti meningkatkan jumlah bakteri sehat yang secara alami
hidup dalam sistem pencernaan bayi.
4. Protein
Komponen dasar dari protein adalah asam amino, berfungsi sebagai
pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin,
triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berperan dalam proses
ingatan.
II.4 Komposisi zat utama dalam ASI
8

1. Laktosa- 7gr/100ml.
2. Lemak- 3,7-4,8gr/100ml.
3. Oligosakarida- 10-12 gr/ltr.
4. Protein- 0,8-1,0gr/100ml.
II.5 Macam-macam ASI
a. Kolostrum
1) Kolostrum yaitu ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke4
setelah melahirkan.
2)

Kolostrum merupakan cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat


anti infeksi dan berprotein tinggi.

3) Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara,


mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam
alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa
puerperium.
4) Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
5)

Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning kuningan,


lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matang.

6) Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari


usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan
makanan bayi dan makanan yang akan datang.
7) Lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI yang matur,
tetapi berlainan dengan ASI yang matur. Pada kolostrum protein yang
utama adalah globulin (gamma Globulin).

b. Air Susu Transisi atau Masa Air Susu Peralihan


1) Yaitu ASI yang keluar sejak hari ke-4 sampai hari ke-10 dimasa
laktasi, tetapi adapula pendapat yang mengatakan bahwa ASI matur
terjadi pada minggu ke-3 sampai dengan minggu ke-5.
9

2) Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang


matur.
3) Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan
lemak makin meninggi.
4) Volume akan makin meningkat.
c. Air Susu Matang (Mature)
1) Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya,
komposisi relatif konstan (adapula yang menyatakan bahwa komposisi
ASI relatif konstan baru mulai minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
2) Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI ini merupakan
makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayinya
sampai umur 6 bulan.
3) Merupakan suatu cairan yang berwarna putih kekuning-kuningan yang
diakibatkan warna garam Ca-caseinat, riboflavin, dan kariten yang
terdapat di dalamnya.
4) Tidak menggumpal jika dipanaskan.
II.6 MANAJEMEN ASI EKSKLUSIF7,8
Langkah-langkah kegiatan Menejemen Laktasi menurut Depkes
RI adalah :
1. Masa Kehamilan (Antenatal).
Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai manfaat
dan keunggulan ASI, manfaat menyusui bagi ibu, bayi dan keluarga
serta cara pelaksanaan management laktasi.

2. Menyakinkan ibu hamil agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya.

10

3. Melakukan

pemeriksaan

kesehatan,

kehamilan

dan

payudara.

Disamping itu, perlu pula dipantau kenaikan berat badan ibu hamil
selama kehamilan.
4. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan sehari-hari termasuk
mencegah kekurangan zat besi. Jumlah makanan sehari-hari perlu
ditambah mulai kehamilan trimester ke-2 (minggu ke 13-26) menjadi
1-2 kali porsi dari jumlah makanan pada saat sebelum hamil untuk
kebutuhan gizi ibu hamil.
5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Penting pula
perhatian keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil
untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya bahwa
kehamilan merupakan anugerah dan tugas yang mulia.
a) Saat segera setelah bayi lahir.
1. Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi
agar mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai
menyusui bayi. Karena saat ini bayi dalam keadaan paling peka
terhadap rangsangan, selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu
secara naluriah.
2. Membantu

kontak

langsung

ibu-bayi

sedini

mungkin

untuk

memberikan rasa aman dan kehangatan.


b) Masa Neonetus
1. Bayi hanya diberi ASI saja atau ASI Eksklusif tanpa diberi minum
apapun.
2. Ibu selalu dekat dengan bayi atau di rawat gabung.
3. Menyusui tanpa dijadwal atau setiap kali bayi meminta (on demand).
4. Melaksanakan cara menyusui (meletakan dan melekatkan) yang baik
dan benar.
5. Bila bayi terpaksa dipisah dari ibu karena indikasi medik, bayi harus
tetap

mendapat

ASI

dengan

cara

memerah

ASI

untuk

mempertahankan agar produksi ASI tetap lancar.


6. Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) dalam
waktu kurang dari 30 hari setelah melahirkan.
11

c) Masa menyusui selanjutnya (post neonatal).


1. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia
bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan atau minuman
lainnya.
2. Memperhatikan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui seharihari. Ibu menyusui perlu makan 1 kali lebih banyak dari biasanya
(4-6 piring) dan minum minimal 10 gelas sehari.
3. Cukup istirahat (tidur siang/berbaring 1-2 jam), menjaga ketenangan
pikiran dan menghindari kelelahan fisik yang berlebihan agar produksi
ASI tidak terhambat.
4. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk
menunjang keberhasilan menyusui.
5. Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak
mau menyusu, puting lecet, dan lain-lain ).

BAB III
DATA UMUM DESA CONGKRANG
DAN
DATA KHUSUS DUSUN SEMAWE

12

III.1 Keadaan Geografi


III.1.1 Letak wilayah
Desa Congkrang terletak di wilayah Kecamatan Muntilan, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah. Terdapat 6 dusun di Desa congkrang, yaitu Dusun
congkrang, semawe, kedan, kramat ,besaran, demangan
III.1.2 Batas wilayah
Wilayah Desa Congkrang dibatasi oleh :
a)
b)
c)
d)

Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur
Sebelah barat

: Desa Keji
: Desa Menayu dan Adi karto
: Desa Ngawen dan Sriwedari
: Desa Sukorini dan Tanjung

III. 1. 3. Luas Wilayah


Luas wilayah Desa Congkrang berdasarkan data statistik Bulan Desember
tahun 2009 adalah 131.717 hektar.
III. 2. Keadaan Demografi
III. 2. 1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk desa Congkrang pada bulan Desember tahun
2009 berdasarkan data statistik kantor desa Congkrang adalah 3083 jiwa.
III. 2. 2. Data Penduduk
Daftar tabel dibawah ini memberikan gambaran jumlah penduduk
Desa Congkrang menurut jenis kelamin, usia, mata pencaharian, dan
pendidikan.

Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Congkrang menurut Jenis Kelamin


pada Bulan Desember tahun 2007
PENDUDUK
Laki-laki

Perempuan

TOTAL

1521

1562

3083

(Sumber : data statistik kantor Desa Congkrang, Desember 2009)

13

Berdasarkan tabel di atas, jumlah perempuan di Desa Congkrang


lebih banyak dibandingkan laki-laki meskipun perbedaan ini tidak terlalu
signifikan yaitu sebesar 41
Dengan data lebih rinci penduduk Desa Congkrang dikelompokkan
berdasarkan umur dan jenis kelamin pada bulan Desember tahun 2009,
sebagai berikut :
Tabel 2. Jumlah penduduk Desa Congkrang berdasarkan Usia
Pada bulan Desember 2009
Umur (tahun)

Penduduk

Umur(tahun)

Penduduk

0-4
5-9
10-14

(orang)
256
275
229

25-29
30-39
40-49

(orang)
289
535
392

15-19
20-24

215
258

50-59
60+

294
346

(Sumber: Data Statistik Kantor Desa Congkrang, Desember 2009)

Berdasarkan tabel jumlah penduduk kelompok umur disimpulkan


bahwa kelompok umur terbanyak di desa Congkrang adalah kelompok umur
30-39 tahun , yaitu 535jiwa.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Desa Congkrang Menurut Mata Pencaharian pada
bulan Desember tahun 2009
Mata pencaharian
Petani
Buruh tani
Nelayan
Pengusaha
Buruh industry
Buruh bangunan
Buruh harian lepas

Jumlah
236
276
2
91
226
153

Pedagang
Pengangguran

252
15

PNS

79

TNI

13

Polri

Sipil

92

Pensiunan

61
14

Jumlah
(Sumber: Data Statistik Kantor Desa Congkrang tahun 2009)

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian


terbanyak pada masyarakat di wilayah desa congkrang adalah di bidang
buruh/ swasta.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
Pendidikan
Tidak sekolah
Belum tamat SD
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
Tamat Akademi
Jumlah

Jumlah
441
399
388
661
583
476
121

(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Congkrang tahun2009)


Pada tabel di atas dapat kita lihat, bahwa sebagian besar tingkat pendidikan
Desa Congkrang adalah tamatan SD, yaitu sebanyak 661 orang.

III.3 Data Khusus Dusun Semawe


III.3.1. Letak wilayah
Dusun Semawe terletak di wilayah Desa Congkrang, Kecamatan
Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa tengah.
III.3. 2. Batas Wilayah
Wilayah Dusun semawedibatasi oleh :
a)
b)
c)
d)

Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah timur
Sebelah barat

: Dusun congkrang
: Dusun Sukorini
: Dusun Tanjung
: Dusun Sriwedari

III.3.3. Keadaan Demografi


III. 3. 4. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Dusun Semawe Mei tahun 2010 berdasarkan data
statistik Kantor Desa Congkrang adalah 829 jiwa.
15

Gambar 1. Peta wilayah Dusun Semawe

BAB IV
HASIL SURVEY DAN PENGAMATAN

VI.1 HASIL SURVEY


Pada tanggal 6-8 April 2012, telah dilaksanakan wawancara dan pengisian
kuisioner terhadap bidan desa dan 5 orang kader di Dusun Semawe Desa
Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang dan 16 responden yang
merupakan ibu yang mempunyai bayi dan balita usia 6-24 bulan di Dusun
Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
Hasil Wawancara Bidan:
a.

Terdapat satu bidan di Dusun Semawe desa Congkrang kecamatan


Muntilan Kabupaten Magelang Endah Wulan, berdasarkan penjelasan yang
disampaikan bidan tersebut, beliau dengan bantuan kader sudah berusaha
untuk menjelaskan pentingnya ASI Eksklusif secara individu kepada ibu-ibu
16

yang sedang hamil ataupun yg mempunyai bayi usia < 6 bulan. Penjelasan
tersebut disampaikan terutama pada saat pemeriksaan ANC ataupun PNC.
Beliaupun sudah menerapkan IMD kepada ibu-ibu yang melahirkan terutama
di tempat prakteknya. Beliau mengutarakan bahwa secara garis besar
masyarakat khususnya ibu-ibu yang memiliki bayi, tahu tentang pentingya
ASI Eksklusif hanya saja mereka menghiraukannya dengan alasan mereka
masing-masing. Kesulitan yang dihadapi bidan adalah sulitnya pengawasan
terhadap ibu-ibu yang memiliki bayi < 6 bulan untuk tetap menerapkan ASI
Eksklusif. Bidanpun mengaku, walaupun telah diberikan penyuluhan tentang
manfaat ASI Eksklusif tetapi tetap saja, para ibu memberikan makanan
tambahan selain ASI, sehingga penerapan ASI Eksklusif tidak tercapai.
Hasil Pengisian Kuisioner oleh Bidan:
Dari 5 pertanyaan pengetahuan, bidan dapat menjawab pertanyaan yang
meliputi tentang Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), langkah
kegiatan dalam manajemen laktasi, cara mengatasi kesulitan menyusui,dan cara
penyimpanan ASI dirumah.
Hasil Pengisian Kuisioner oleh Kader :
Dari 10 pertanyaan tentang pengetahuan ASI Eksklusif yang
diajukan kepada kader, persentase hasil yang didapatkan sebanyak 90%
terhadap

pengetahuan

kader

Posyandu,

yang

dapat

disimpulkan

pengetahuan kader terhadap ASI Eksklusif baik. Begitupun untuk


pertanyaan essay kader menjawab dengan tepat. Dapat disimpulkan
pengetahuan Kader di dusun Semawe sudah baik.
Hasil Wawancara Kader:
Berdasarkan hasil wawancara salah satu kader, didapatkan bahwa
jumlah kader di Dusun Semawe, Kecamatan Muntilan sebanyak 5 orang,
dan pihak puskesmas yag diwakili oleh bidan desa juga sudah sering
memberikan penyuluhan secara langsung saat dilakukan imunisasi atau saat
posyandu, tapi pihak kader tidak pernah membantu penyuluhan tetang ASI
Eksklusif, dikarenakan banyaknya tugas-tugas yang harus mereka kerjakan
17

saat posyandu, seperti melakukan timbangan berat badan terhadap bayi,


pengisian KMS dan lain-lain. Kader tersebut mengaku tidak ada catatan
khusus tentang cakupan pemberian ASI Eksklusif di dusun Semawe.
Pendataan hanya berdasarkan pada tanya jawab langsung kepada ibu yang
membawa bayinya ke posyandu tapi tidak dicatat.

Tabel 5. Hasil kuisioner pengetahuan terhadap 16 responden


Pertanyaan Pengetahuan

Jawaban
Benar
Jumlah
%
7
43,75

ASI Eksklusif
Pengertian ASI eksklusif

Salah
Jumlah
%
9
56,25

31,25

11

68,75

43,75

56,25

MPASI

14

87,5

12,5

sebelum > 6 bulan


Berapa kali bayi menyusu

14

87,5

12,5

dalam sehari
Apakah
komposisi

susu

15

93,75

6,25

formula

bisa
13

81,25

18,75

Usia Pemberian ASI eksklusif


Umur berapa anak mulai
diberikan MPASI
Alasan pemberian

saat

ini

menyamai komposisi ASI


Cairan
yang
berwarna
kekuning-kuningan

yang
18

keluar saat ASI pertama kali


Darimana ibu mendapatkan
pengetahuan

tentang

16

100

16

100

43,75

56,25

ASI

Eksklusif
Teknik menyusui yang benar
Manfaat
pemberian
ASI
eksklusif bagi pertumbuhan
bayi
Untuk perhitungan

pengetahuan

dari kuisioner

diatas,

dikatakan

pengetahuan ibu baik, apabila jumlah perhitungan mencapai > 80%, dikatakan
cukup apabila jumlah perhitungan 60-80 %, dan jika didapatkan hasil perhitungan
<60 % dikatakan kurang, dan didapatkan enam orang ibu yang memiliki
pengetahuan baik, tujuh orang ibu berpengetahuan cukup, dan tiga orang ibu yang
memiliki pengetahuan kurang.
Dari hasil survey menggunakan kuisioner di atas, dapat dilihat bahwa
43,75 % ibu yang memiliki bayi mengetahui tentang pengertian ASI Eksklusif.
Sedangkan hanya 31,25% ibu yang mengetahui berapa lama pemberian ASI
Eksklusif, dan hanya 43,75 ibu yang mengetahui kapan waktu yang tepat
pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan hasil survey tersebut dapat disimpulkan
bahwa pengetahuan ibu yang memiliki balita sudah cukup baik tentang ASI dan
manfaatnya, hanya saja mereka masih belum mengerti tentang pemberian ASI
Eksklusif antara lain waktu yang tepat ibu mulai bisa memberikan makanan padat,
sehingga diperlukan adanya penyuluhan untuk menambah tingkat pengetahuan
kepada ibu di Dusun Semawe tentang begitu pentingnya pemberian ASI
Eksklusif.
Tabel 6. Hasil kuisioner terhadap pemberian ASI Eksklusif
Jawaban
Pemberian ASI Ekskusif
Saat ibu melahirkan, apakah

Ya
Jumlah
16

%
100

25

Tidak
Jumlah
-

%
-

ibu langsung menyusui anak


ibu
Apakah ibu memberikan ASI
saja selama 6 bulan
19

12

75

Apakah sebelum menyusui

12,5

14

87,5

ibu mencuci tangan dulu


Jika anak ibu menanggis,

15

93,75

6,25

12,5

37,5

apakah

ibu

memberikan

makanan tambahan
Bagi ibu yang

bekerja,

apakah ASI diganti dengan


susu formula
Berdasarkan survey yang dilakukan tentang status ASI Eksklusif, hanya
25% bayi yang diberikan ASI selama 6 bulan, dan 93,75 % ibu juga memberikan
makanan tambahan sebelum usia bayi 6 bulan. Adapun alasan ibu memberikan
makanan tambahan sebelum usia bayi menginjak 6 bulan, sangat bervariasi.
Sebagian besar responden yang memberikan makanan tambahan sebelum bayi
berusia 6 bulan mengatakan bahwa kadang kadang air susu ibu tidak keluar atau
keluarnya hanya sedikit pada hari-hari pertama kelahiran bayinya, kemudian
membuang ASI-nya tersebut dan menggantikannya dengan madu, gula, mentega,
air atau makanan lain. Responden lain mengatakan bahwa bayinya rewel terus jika
tidak mendapatkan makanan tambahan selain ASI.
Dan bagi ibu yang bekerja 12,5 % memberikan susu formula kepada
bayinya dan 37,5 % ibu yang bekerja, tidak memberikan susu formula, adapun
alasan ibu tidak memberikan susu formula, karena masih ada keperluan lain yang
bisa dibeli selain membeli susu, dan mereka lebih memilih memberikan bayinya
biskuit atau nasi tim dari hal tersebut, menunjukkan bahwa kesadaran ibu masih
kurang tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif.
Pada pertanyaan tentang tenaga kesehatan, didapatkan bahwa sekitar 85%
ibu menjawab bahwa tenaga kesehatan sudah memberikan penjelasan mengenai
ASI Eksklusif dan manfaatnya.

20

BAB V
ANALISIS MASALAH

V.I KEGIATAN/ INDIKATOR KEGIATAN YANG BERMASALAH


Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Indikator Indonesia Sehat
menargetkan bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 80%. Namun
permasalahan yang ada di Standar Pelayanan Minimal Puskesmas Muntilan 1
pada periode 2011 adalah cakupan hasil kegiatan bayi yang mendapat ASI
Eksklusif 36,09% ,sedangkan sisanya sebanyak 63,91 % tidak diberi ASI
eksklusif , sedangkan untuk pemberian ASI Eksklusif bulan Januari Februari
2012 pencapaian yang didapatkan sebanyak 71% yang dimana dari hasil tersebut
bahwa belum mencapai Standar Pelayanan Minimal Puskesmas, yang ditargetkan
80 % Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.
5.1. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH
Dalam pemecahan masalah, langkah pertama adalah mengidentifikasi
masalah yag ada, lalu menganalisis penyebab masalah dengan cara menggali
berdasarkan data atau kepustakaan. Untuk membantu menentukan kemungkinan
penyebab masalah digunakan diagram Fish Bone. Kemudian, mencari penyebab
21

dilakukan dengan mengkonfirmasikan kemungkinan penyebab yang ditemukan


pada bagian program tersebut. Setelah itu, dicari penanggulangan penyebab
masalah dengan menyusun alteratif pemecahan masalah. Selanjutnya, menetapkan
pemecahan masalah terpilih dengan kriteria matriks. Setelah menemukan urutan
prioritasnya, disusunlah Plan of Action (POA).

Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah


BAB VI
ANALISIS PENYEBAB MASALAH

Upaya penyelesaian dari masalah hasil cakupan kegiatan puskesmas yang


belum memenuhi target tersebut dapat dilaksanakan melalui proses pengkajian
masalah berdasarkan metode pendekatan sistem sebagai berikut:

INPUT

Man,
Money,
Method,
Material,
Machine

PROSES
P1
P2
P3

LINGKUNGAN
Fisik
Kependudukan
Sosial Budaya
Sosial Ekonomi

22

OUT
PUT
Cakupan
Program

OUT
COME

Gambar 3. Kerangka Pikir Pendekatan Sistem


Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem tersebut
di atas, untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan
pendekatan masalah. Dari pendekatan sistem ini dapat ditelusuri hal hal yang
mungkin menyebabkan munculnya permasalahan pemberian ASI Ekskusif di
Dusun Semawe.

Tabel 7. Identifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah


Tahap Analisis Pendekatan Sistem
INPUT
Man

Kelebihan

Kekurangan

Tersedianya 1 Bidan desa,

Tidak ada koordinasi antara bidan

koordinator promosi

dan bagian promosi kesehatan

kesehatan dan 5 Kader


Posyandu.
Money

Tersedianya dana Bantuan


Operasional Kesehatan untuk

Method

transportasi
a. Pemberitahuan secara lisan
oleh bidan kepada ibu-ibu
yang memeriksa kandungan,
setelah melahirkan dan saat
membawa anak-anak mereka

Tidak adanya dana khusus untuk


program penyuluhan dan

sosialisasi ASI Eksklusif.


b. Tidak adanya Standar Operasional
dalam pelaksanaan program
pemberian ASI eksklusif.
c. Kurangnya

materi

yang

ke posyandu tentang ASI

disampaikan tentang keunggulan

Eksklusif melalui ANC dan

ASI Eksklusif

PNC.

23

Material

Terdapat 1 unit posyandu di


dusun Semawe dan
puskesmas

Machine

Terdapat

buku lembar

balik tentang ASI Eksklusif

Tidak adanya brosur, pamflet dan


poster sebagai sarana edukasi
mengenai

pentingnya

ASI

Eksklusif.
Lingkungan

Adanya warga yang dapat Ketidakpercayaan diri para ibu


direkrut sebagai kader

apabila hanya memberikan ASI

Terjangkaunya posyandu dari

saja

wilayah

tambahan.

tempat

tinggal

tanpa

disertai

makanan

Permasalahan yang dihadapai oleh

masyarakat.

para ibu dalam manajemen laktasi


(puting

susu

puting

susu

datar/terbenam,
nyeri,

payudara

bengkak, ASI tidak keluar, dll).


Ibu

yang

bekerja

tidak

memberikan ASI Eksklusif.


P1
(Perencanaan)
P2
(Pergerakan,
Pelaksanaan)

Tersedianya

jadwal

Belum adanya penjadwalan rutin

posyandu sebulan sekali,

untuk

setiap rabu minggu pertama

mengenai ASI Eksklusif.

Jadwal

kegiatan

penyuluhan

sesuai

Tidak ada program dari Puskesmas

dengan perencanaan
Dilakukan pencatatan bumil

atau Posyandu setempat untuk

dan bayi serta balita yang

untuk meningkatkan pengetahuan

datang ke posyandu

ibu mengenai ASI Eksklusif dan

pelayanan

mengadakan penyuluhan terjadwal

manajemen laktasi.
Tidak ada buku pencatatan khusus
bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif
Semawe.
24

di

Posyandu

dusun

P3

Adanya

registrasi Tidak ada pencatatan khusus atau

(Pengawasan,

mengenai jumlah bayi yang laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

Pengendalian

mendapat ASI Eksklusif yang Tidak ada tindak lanjut dari hasil
dibuat oleh bidan.
evaluasi.

dan penilaian)

Adanya evaluasi tiap 2


bulan

sekali

melalui

pertemuan bidan desa dengan


kader setiap akhir bulan.

25

VI.1 Kemungkinan Penyebab Masalah


1.

Tidak ada koordinasi antara bidan dan bagian promosi kesehatan.

2.

Tidak adanya dana khusus untuk program penyuluhan dan sosialisasi ASI
Eksklusif.

3.

Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian


ASI eksklusif.

4.

Kurangnya materi yang disampaikan tentang keunggulan ASI Eksklusif

5.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif

6.

Ketidakpercayaan diri para ibu apabila hanya memberikan ASI saja tanpa
disertai makanan.

7.

Tidak ada program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk


mengadakan penyuluhan terjadwal untuk meningkatkan pengetahuan ibu
mengenai ASI Eksklusif dan manajemen laktasi.

8.

Tidak ada buku pencatatan khusus bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif di Posyandu dusun Semawe

9.

Tidak ada pencatatan khusus atau laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

10.

Tidak ada tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan.

VI.2 Penyebab Masalah Yang Paling Mungkin


Setelah dilakukan konfirmasi kepada bidan desa dan kader posyandu , maka
didapatkan penyebab masalah yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada pencatatan cakupan ASI eksklusif oleh kader ,bidan desa.
2. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.
26

3. Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif.
4. Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian
ASI eksklusif.

BAB VII
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

VII.1 Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah diperoleh daftar masalah, maka dapat dilakukan langkah
selanjutnya yaitu dibuat alternatif pemecahan penyebab masalah. Berikut ini
adalah alternatif pemecahan penyebab masalah yang ada :
Tabel 8. Alternatif Pemecahan Masalah
No.

Penyebab Masalah Yang paling

Alternatif Pemecahan Masalah

Mungkin
1.

Tidak ada pencatatan cakupan ASI

Melakukan pembinaan kepada petugas

eksklusif oleh kader ,bidan desa.

dalam pencatatan bayi yang diberi ASI


Eksklusif .

2.

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran

Melakukan penyuluhan mengenai ASI

ibu

Eksklusif.

mengenai

faktor-faktor

yang

mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.


3.

4.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster

Membuat sarana edukasi tentang ASI

sebagai

Eksklusif.

sarana

edukasi

mengenai

pentingnya ASI Eksklusif


Tidak adanya Standar Operasional dalam

Membuat Standar Operasional tentang

pelaksanaan program pemberian

ASI Eksklusif

ASI eksklusif.

27

VII.2 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah


Penyebab Masalah Paling Mungkin

Alternatif Pemecahan Masalah

Tidak ada pencatatan cakupan ASI


eksklusif oleh kader ,bidan desa.

Melakukan pembinaan kepada petugas


dalam pencatatan bayi yang diberi ASI
Eksklusif

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran


ibu mengenai

faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi ASI Eksklusif.


Mengadakan penyuluhan mengenai ASI
eksklusif dan manajemen laktasi, serta
membuat sarana edukasi yang menarik
Tidak adanya brosur, pamflet dan poster
sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif

Membuat Standar Operasional tetang ASI


Eksklusif
Tidak adanya Standar Operasional dalam
pelaksanaan program pemberian
ASI eksklusif.

28
Gambar 4. Kerangka Alternatif Pemecahan Masalah

VII.3 Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah


Dari hasil analisis pemecahan masalah didapatkan alternatif pemecahan
masalah sebagai berikut :
1. Melakukan pembinaan kepada petugas dalam pencatatan bayi yang diberi
ASI Eksklusif.
2. Mengadakan penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan manajemen laktasi,
serta membuat sarana edukasi yang menarik.
3. Membuat Standar Operasional tentang ASI Eksklusif.
Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya
dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan
menggunakan Kriteria Matriks. Berikut ini proses penentuan prioritas
alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan Kriteria Matriks
Menggunakan Rumus
1.

Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program:
a. Magnitude (M) : Besarnya penyebab masalah yang dapat
diselesaikan.
b. Importancy (I) : Pentingnya cara penyelesaian masalah
c. Vulnerability (V) : Sensitifitas cara penyelesaian masalah

2. Efisiensi pogram
Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost). Kriteria cost
(c) diberi nilai 1-5. Bila cost nya makin kecil, maka nilainya mendekati 1.
Tabel 9. Skor Penentuan Pemecahan Masalah
Magnitude
1 = Tidak

Importancy
1 = Tidak penting

Vulnerability
1 = Tidak sensitif

Cost
1 = Sangat murah

magnitude
2=Kurang

2 = Kurang

2 = Kurang

2 = Murah

magnitude
3= Cukup

penting
3 = Cukup

sensitif
3 = Cukup

3 = Cukup murah

magnitude
4 = Magnitude
5= Sangat

penting
4 = Penting
5 = Sangat

sensitif
4 = Sensitif
5 = Sangat

4 = Sedikit Mahal
5 = Mahal

29

magnitude

penting

sensitif

Tabel 10. Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah


NO

1.

Alternatif pemecahan masalah

Melakukan

pembinaan

Nilai Kriteria

Hasil

Priorita

(m x i x v)/c

24

II

25

16

III

kepada

petugas dalam pencatatan bayi


yang diberi ASI Eksklusif
2.

Mengadakan penyuluhan mengenai


ASI

eksklusif dan

laktasi,

serta

manajemen

membuat

sarana

edukasi yang menarik.


3.

Membuat Standar Operasional


tentang ASI Eksklusif

Setelah menentukan prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah


dengan menggunakan M.I.V/C maka didapatkan urutan prioritas alternatif
pemecahan masalah cakupan ASI Eksklusif di Dusun Semawe sebagai berikut :
1.

Mengadakan penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan manajemen laktasi,


serta membuat sarana edukasi yang menarik.

2.

Melakukan pembinaan kepada petugas dalam pencatatan bayi yang diberi


ASI Eksklusif.

3.

Membuat Standar Operasional tentang ASI Eksklusif.

30

Gambar 6. Contoh media edukasi yang dibuat


31

BAB VII
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian sederhana ini didapatkan bahwa cakupan bayi yang
diberi ASI Eksklusif di Dusun Semawen adalah 0%, yaitu dari 16 responden yang
diberikan kuesioner tidak satupun yang memberikan ASI eksklusif pada anaknya.
Sehingga keadaan ini menjadi masalah karena cakupan yang kurang dari target
dan pencapaian yang kurang dari 80%. Adapun penyebab yang terjadi antara lain
adalah sebagai berikut :

Tidak ada koordinasi antara bidan dan bagian promosi kesehatan.

Tidak adanya dana khusus untuk program penyuluhan dan sosialisasi ASI
Eksklusif.

Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian


ASI eksklusif.

Kurangnya materi yang disampaikan tentang keunggulan ASI Eksklusif.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif.

Ketidakpercayaan diri para ibu apabila hanya memberikan ASI saja tanpa
disertai makanan.

Tidak ada program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk


mengadakan penyuluhan terjadwal untuk meningkatkan pengetahuan ibu
mengenai ASI Eksklusif dan manajemen laktasi..

Tidak ada buku pencatatan khusus bagi ibu yang memberikan ASI
Eksklusif di Posyand Dusun Semawe

Tidak ada pencatatan khusus atau laporan ASI Eksklusif tiap bulannya.

Tidak ada tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan.

32

Dan dari hasil analisis alternatif pemecahan masalah didapatkan empat


prioritas alternatif pemecahan masalah, yaitu sebagai berikut :

Tidak ada pencatatan cakupan ASI eksklusif oleh kader ,bidan desa.
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi ASI.

Tidak adanya brosur, pamflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai
pentingnya ASI Eksklusif.
Tidak adanya Standar Operasional dalam pelaksanaan program pemberian
ASI eksklusif.
Selanjutnya dirancang Plan Of Action (POA) untuk dapat dijalani sehingga

dapat mencapai target yang ditentukan.

B. SARAN
Diharapkan masalah yang ada dapat diselesaikan dengan menjalankan POA
yang sudah dirancang, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan pencapaian
bayi yang diberi ASI eksklusif. selain itu harus ditingkatkan juga kerjasama antara
aparat puskesmas seperti bidan desa dengan kader yang ada, sehingga program
yang ada dapat dijalankan untuk mencapai hasil yang maksimal. Dan untuk
masyarakat juga disarankan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya
ASI eksklusif dengan cara turut mengikuti penyuluhan maupun pelatihan tentang
bagaimana caranya memberikan ASI eksklusif yang baik dan benar.

33

DAFTAR PUSTAKA
1. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi
Sehat

dan

Kabupaten/Kota

Sehat.Kepmenkes

1202/Menkes/SK/VIII/2003.DEPKES

Nomor

RI.Available

from:

http://www.litbang.depkes.go.id/download/is2010/indikator.pdf
2. Supraptini,Lubis Agustina,lrianto Joko.CAKUP AN IMUNISASI BALIT A
DAN ASI ESKLUSIF DI INDONESIA,HASIL SURVEI KESEHA TAN
NASIONAL

(SURKESNAS)

2001.Available

from:

http://www.ekologi.litbang.depkes.go.id/data/vol%202/Supraptini2_2.pdf
3. Arimurti

Ida.KEBIJAKAN

PENINGKATAN

DEPARTEMEN

PEMBERIAN

WANITA.2007[cited

08

Juli

AIR

KESEHATAN

SUSU

2007].Available

IBU

(ASI)

from:

TENTANG
PEKERJA

http://www.mail-

archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg18698.html
4. Depkes RI. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru Dua Persen. Jakarta.
2004.Available from: http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_eksklusif
5. Seminar ASI Ekslusif dan Aturan Hukumnya bagi Wanita Pekerja.2006[cited
23

Februari

2006].Available

from:

http://medicastore.com/seminar/1/Seminar_ASI_Ekslusif_dan_Aturan_Hukum
nya_bagi_Wanita_Pekerja.html
6. Pengertian ASI Eksklusif.Dewa (Editor).[cited 3 Februari 2010].Available
from: http://irham1977.wordpress.com/2010/02/03/pengertian-asi-eksklusif/
7. ASI

Eksklusif.Susi

(Editor).[Cited

Agustus

2008].Available

from:

http://susirahmawati.multiply.com/journal/item/73
8. Komposisi

Asi.Club

Nutricia.2009.Available

from:

http://www.clubnutricia.co.id/new_mum/breastmilk_breastfeeding/benefits/arti
cle/Breastmilk_composition
9. Komposisi

Asi.2010.Available

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/04/komposisi-asi.html
34

from:

10.

Manajemen Laktasi.Departemen Kesehatan RI.2005.Available from:

http://askep-free.blogspot.com/2010/04/manajemen-laktasi.html
11. Profil Puskesmas Muntilan 1 tahun 2011
12. Laporan Kegiatan Survey dan Intervensi Masalah Kesehatan Masyarakat
Dusun Semawe Desa Congkrang Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang

35