Anda di halaman 1dari 21

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pola Asuh Orang Tua


2.1.1 Definisi Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh merupakan segala sesuatu yang dilakukan orang tua untuk
membentuk perilaku anak-anak mereka meliputi semua peringatan dan
aturan, pengajaran dan perencanaan, contoh dan kasih sayang serta pujian
dan hukuman. Pola asuh orang tua merupakan suatu kecenderungan caracara yang dipilih dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Pola
asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua
bukan hanya pemenuhan fisik (seperti makan, minum, dan sebagainya) dan
kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dan sebagainya),
tetapi juga mengajarkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat agar anak
dapat hidup selaras dengan lingkungan (Taganing. NM & Fortuna. F, 2008).
Pola asuh orang tua merupakan segala bentuk dan proses interaksi
yang terjadi antara orang tua dan anak yang merupakan pola pengasuhan
tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap kepribadian
anak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pola asuh merupakan proses
interaksi antara anak dan orang tua dalam pembelajaran dan pendidikan
yang

nantinya

sangat

bermanfaat

bagi

aspek

pertumbuhan

dan

perkembangan anak (Mariani. L & Indriani. E, 2005).

2.1.2 Macam-Macam Pola Asuh Orang Tua


Orang tua memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan
membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu

10

keluarga dengan keluarga yang lainnya. Studi awal tentang tipologi


pengasuhan anak telah dibuktikan oleh Diana Baumrind, adalah orang
pertama yang mempelajari hubungan antara pola asuh dan kepribadian anak.
Pola asuh Baumrind

diklasifikasikan menjadi tiga tipologi perilaku

berdasarkan dua faktor ortogonal yang diketahui sebagai respon dan


tuntutan (Afriani. A, et al, 2012)
Respon mengacu pada sejauh mana orang tua mendorong anak,
mendukung dan sepakat dengan permintaan anak-anak dengan kehangatan
dan komunikasi. Tuntutan mengacu pada klaim orang tua pada anak untuk
terintegrasi ke dalam masyarakat oleh perilaku regulasi, konfrontasi
langsung, serta batas waktu (kontrol perilaku) dan pengawasan atau
pemantauan kegiatan anak-anak (Afriani. A, et al, 2012). Berikut tiga pola
asuh yang biasa diterapkan orang tua pada anak :
a.

Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)


Merupakan pola asuh yang menetapkan standar mutlak yang
harus dituruti oleh anak dan sering disertai dengan ancaman. Pola asuh
yang penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orang
tua memaksakan kehendaknya, sehingga orang tua dengan pola asuh
otoriter memegang kendali penuh dalam mengontrol anaknya. Orang
tua yang otoriter menerapkan batasan yang tegas dan tidak memberi
peluang yang besar kepada anak untuk berbicara atau bermusyawarah
(Hoang. TN, 2008).
Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri
kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik.

11

Orang tua memaksa anak untuk patuh pada nilai mereka serta mencoba
membentuk tingkah laku sesuai dengan keinginanya dan cenderung
mengekang keinginan anak. Orang tua juga tidak mendorong serta
memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi
pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti orang
dewasa (Wendy. KL, 2008).
b. Pola Asuh Demokratif (Authoritative)
Yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada anak untuk
mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan
mengontrol perilaku mereka. Adanya saling memberi dan saling
menerima,

mendengarkan

memprioritaskan

dan

kepentingan

didengarkan.

anak

tetapi

Pola

tidak

asuh
ragu

mengendalikan mereka. Orang tua bersikap realistis

ini
untuk

terhadap

kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan (Afriani. A, et al,


2012).
Pola asuh demokratif dicirikan dengan adanya tuntutan dari orang
tua disertai dengan komunikasi terbuka antara orang tua dan anak.
Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya
dengan

mempertimbangkan

faktor

kepentingan

dan

kebutuhan

(Stansbury. K, et al, 2012).


c. Pola Asuh Permisif (Permissive)
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek
terhadap anak. Biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam
ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau

12

urusan lain yang akhirnya menyebabkan orang tua lupa untuk mendidik
dan mengasuh anak dengan baik. Pola asuh permisif kerap memberikan
pengawasan yang sangat longgar. Cenderung tidak menegur atau
memperingatkan anak (Yunanda. FP, 2012).
Pola asuh permisif dicirikan dengan orang tua yang terlalu
membebaskan anak dalam segala hal tanpa adanya tuntutan ataupun
kontrol, anak dibolehkan untuk melakukan apa saja yang diinginkan.
Orang tua selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan
kontrol sama sekali, memberikan kasih sayang berlebihan dan
cenderung memanjakan (Onder. A & Gulayb. H, 2009).
Pola asuh permisif ini dibedakan menjadi dua: neglectful
parenting dan indulgent parenting. Pola asuh yang neglectful yaitu bila
orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak peduli).
Pola asuh ini menghasilkan anak-anak yang kurang memiliki
kompetensi sosial terutama karena adanya kecenderungan kontrol diri
yang kurang. Pola asuh yang indulgent yaitu bila orang tua sangat
terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya memberikan kontrol dan
tuntutan

yang

sangat

minim

(selalu

menuruti

atau

terlalu

membebaskan) sehingga dapat mengakibatkan kompetensi sosial yang


tidak adekuat karena umumnya anak kurang mampu untuk melakukan
kontrol diri dan menggunakan kebebasannya tanpa rasa tanggung jawab
serta memaksakan kehendaknya (Garcia. F & Gracia. E, 2009).
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Pola Asuh Orang Tua

13

Pola asuh yang diberikan orang tua pada anak dapat berbeda dan
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Yang
termasuk faktor internal, misalnya latar belakang keluarga orang tua, usia
orang tua, jenis kelamin orang tua dan anak, pendidikan dan wawasan orang
tua, karakter anak dan konsep peranan orang tua dalam keluarga. Sedangkan
yang termasuk faktor eksternal, misalnya tradisi yang berlaku dalam
lingkungan, sosial ekonomi lingkungan dan semua hal yang berasal dari luar
keluarga tersebut yang bisa mempengaruhi orang tua dalam menerapkan
pola asuhnya (Aisyah, 2010).
Faktor tersebut kemudian dijabarkan ke dalam beberpa poin, antara
lain:
a.

Usia Orang Tua


Umur merupakan indikator kedewasaan seseorang, semakin
bertambah umur semakin bertambah pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki mengenai perilaku yang sesuai untuk mendidik anak. Anak
dengan orang tua usia muda akan mendapatkan pengawasan yang lebih
longgar karena dalam diri orang tua usia muda cenderung memiliki sifat
toleransi yang tinggi dan memaklumi terhadap anak. Usia ibu muda
juga dapat mempengaruhi sumber daya yang tersedia untuk anak
(Wallman. KK, 2012).

b.

Jenis Kelamin Orang Tua


Perbedaan gender diantara orang tua akan ikut berpengaruh dalam
cara mereka mengasuh anak, hal ini mungkin disebabkan karena
realisasi perbedaan dalam bagaimana mereka berpikir dan berperilaku.

14

Diantara ayah dan ibu, keduanya memiliki keinginan untuk melakukan


apa yang menurut mereka benar untuk memaksimalkan potensi anakanak mereka. Misalnya seorang ibu ingin putrinya menjadi lebih tegas
dan mahir dalam bersosialisasi dan seorang ayah ingin anaknya
menjadi, lebih fleksibel, tumbuh dengan tegas dan berkepribadian kuat
(Pruett. K & Pruett. MK, 2009).
c.

Pendidikan dan Wawasan Orang Tua


Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua serta pengalaman
sangat

berpengaruh

dalam

mengasuh

anak.

Pendidikan

akan

memberikan dampak bagi pola pikir dan pandangan orang tua dalam
mendidik anaknya. Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan dan
wawasan yang tinggi akan memperhatikan dan merawat anak sesuai
dengan usia perkembangannya dan akan menunjukkan penyesuaian
pribadi dan sosial yang lebih baik yang akan membuat anak memiliki
pandangan positif terhdap orang lain dan masyarakat (Anonim, 2008).
Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika ibu memiliki
pengetahuan yang lebih tinggi terhadap perkembangan anak, mereka
menunjukkan tingkat keterampilan pengasuhan yang lebih tinggi, anakanak mereka memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dan
sedikit masalah perilaku (Sanders. M & Morawska. A, 2008).
d.

Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua


Tingkat sosial ekonomi sangat mempengaruhi pola asuh yang
dilakukan oleh suatu masyarakat, rata-rata keluarga dengan social
ekonomi yang cukup baik akan memilih pola asuh yang sesuai dengan

15

perkembangan anak. Untuk anak yang hidup dalam kemiskinan, watak


yang terbentuk akan lebih keras karena faktor lain dalam lingkungan
sosial anak di samping orang tua telah di temukan memiliki dampak
pada perkembangan anak (Bornstein. L & Bornstein. MH, 2007).
Suatu penelitian tahun 2010 menunjukkan ada pola pengasuhan
yang berbeda antara orang tua berdasarkan status ekonominya. Dalam
penelitian ini ditemukan bahwa orang tua yang telah mendapatkan
penghasilan lebih dari 40.000 baht/bulanan memiliki skor yang lebih
tinggi untuk pola asuh permisif dari orang tua berpenghasilan rendah
(Orratai, et al, 2010).
e.

Kondisi Psikologis Orang Tua


Psikologis orang tua juga mempengaruhi cara orang tua dalam
mengasuh anak, orang tua yang rentan terhadap emosi negatif, baik itu
depresi, lekas marah, cenderung berperilaku kurang peka dan lebih
keras dari orang tua lainnya. Karakteristik kepribadian orang tua juga
berperan dalam mempengaruhi emosi yang mereka alami, kognitif dan
atribusi yang berdampak pada perkembangan kepribadian anak (Belsky.
J, 2008).

f.

Pengasuh Pendamping
Orang tua, terutama ibu yang bekerja di luar rumah dan memiliki
lebih banyak waktu di luar rumah, seringkali mempercayakan
pengasuhan anak kepada nenek, tante atau keluarga dekat lain. Bila
tidak ada keluarga tersebut maka biasanya anak dipercayakan pada

16

pembantu (babysitter). Dalam tipe keluarga seperti ini, anak


memperoleh jenis pengasuhan yang kompleks sehingga pembentukan
kepribadian anak tidak sepenuhnya berasal dari pola asuh orang tua
(Liegm. RMK, 2007).
g.

Budaya
Sering kali orang tua mengikuti beberapa cara yang dilakukan
oleh masyarakat dalam mengasuh anak, karena pola tersebut dianggap
berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan. Orang tua
mengaharapkan kelak anaknya dapat diterima di masyarakat dengan
baik. Oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam
mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orang tua dalam memberikan
pola asuh pada anaknya (Anonim, 2008).

2.1.4 Karakteristik Anak Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua


a. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ini dapat mengakibatkan anak menjadi
penakut, pencemas, menarik diri dari pergaulan, kurang adaptif,
mudah curiga pada orang lain dan mudah stress. Selain itu, orang tua
seperti ini juga akan membuat anak tidak percaya diri, pendiam,
tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma,
kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan
sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu
dengan baik (Nixon. E & Halpenny. AM, 2010; Onder & Gulayb,
2009).
b. Pola Asuh Demokratif

17

Literatur yang ada telah mendokumentasikan bahwa pola asuh


demokratif secara signifikan terkait dengan hasil perkembangan yang
positif antara anak. Baumrind dari hasil penelitiannya menemukan
bahwa teknik asuhan orang tua yang demokratif akan menumbuhkan
keyakinan dan kepercayaan diri maupun mendorong tindakan mandiri
membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku
mandiri yang bertanggung jawab (Sopiah, 2014).
Pola asuh demokratif
berinteraksi

dengan

teman

ini juga dapat membuat anak mudah


sebayanya

dengan

baik,

mampu

menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal yang baru,


kooperatif dengan orang dewasa, penurut, patuh, dan berorientasi pada
prestasi (Wendy. KL, 2008; Onder. A, & Gulayb. H, 2009).
c. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif ini dapat mengakibatkan anak agresif, tidak
patuh pada orang tua, merasa berkuasa dan kurang mampu mengontrol
diri. Karakter anak dengan pola asuh orang tua demikian menjadikan
anak impulsif, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang
percaya diri dan kurang matang secara sosial(Wendy. KL, 2008;
Onder. A, & Gulayb. H, 2009).
Dalam referensi lain disebutkan bahwa anak yang diasuh orang
tuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang
menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri,
nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri

18

buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain dan agresif


(Onder. A, & Gulayb. H, 2009).

2.2 Konsep Kecerdasan Majemuk


2.2.1 Pengertian Kecerdasan Majemuk
Kecerdasan majemuk didefinisikan sebagai kemampuan untuk
memecahkan masalah dan memiliki nilai lebih dalam sebuah kultur
masyarakat. Kecerdasan adalah potensi biopsikologikal untuk mengolah
informasi sehingga dapat memecahkan masalah, menciptakan hasil baru
yang menambah nilai-nilai budaya setempat (Suarca. K, Soetjiningsih. IGA,
& Endah. A, 2005).
Kecerdasan majemuk adalah suatu kemampuan, dengan proses
kelengkapannya yang sanggup menangani kandungan masalah yang spesifik
di dunia seperti bunyi musik, atau pola spasial (Armstrong. T, 2005).
Kecerdasan

majemuk

adalah

kemampuan

seseorang

untuk

menemukan dan menyelesaikan masalah atau menciptakan produk-produk


yang berguna bagi masyarakat (Sutawi. TP, 2009).
2.2.2

Macam-Macam Kecerdasan Majemuk


Menurut Howard Gardner seorang pencetus teori

Multiple

intelligences, terdapat delapan jenis kecerdasan manusia yaitu:

a. Kecerdasan Matematika dan Logika


Kecerdasan logis matematis memuat kemampuan seseorang dalam
berfikir secara induktif dan deduktif, berfikir menurut aturan logika,
memahami dan menganalisis pola angka, serta memecahkan masalah

19

dengan menggunakan kemampuan berfikir (Uno. HB & Kuadrat. M,


2009).
Kemampuan ini bisa diasah lewat permainan yang menggunakan
angka-angka,
mengoptimalkan

misalnya

bermain.

kecerdasan

Untuk

merangsang

logis-matematis,

anda

serta
harus

mengondisikan otak anak agar siap menerima materi dengan situasi dan
cara pembelajaran yang menyenangkan (Uno. HB & Kuadrat. M,
2009).
b. Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan bahasa

memuat

kemampuan

seseorang

untuk

menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan,


dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasangagasannya. Kecerdasan bahasa biasanya tampak dalam beberapa
aspek, seperti retorika, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk
meyakinkan orang lain; mnemonik, yaitu kemampuan untuk membantu
orang lain mengingat berbagai macam informasi; penjelasan, yaitu
kemampuan untuk menjelaskan; dan metalinguistik, yaitu kemampuan
menggunakan bahasa untuk membuat refleksi atas bahasa itu sendiri
(Surya. S, 2007).
Ada beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa
pada anak. Selain mengajak bicara, membaca cerita, dan menyanyi,
anda dapat juga memasukkannya kedalam aktivitas drama yang kerap
digelar oleh sanggar kesenian anak (Surya. S, 2007).
c. Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan visual-spasial memuat kemampuan seseorang untuk
memahami secara lebih mendalam dalam hubungan antara objek dan
ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan, misalnya untuk

20

menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya atau kemampuan untuk


menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang
dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitektur suatu bangunan.
Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian
memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini
adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual-spasial. Peserta
didik yang demikian akan unggul, misalnya dalam permainan mencari
jejak pada suatu kegiatan kepramukaan (Widayati. S, & Widjiati. U,
2008).
Kemampuan meningkatkan kecerdasan spasial bisa dilakukan
sedini mungkin dengan belajar mengamati benda-benda dalam berbagai
bentuk, menemukan cara untuk keluar dari suatu ruangan hanya dengan
membayangkannya, menggambarkan apa yang dibayangkan, menikmati
gambar-gambar abstrak, belajar dengan menggunakan diagram,
menyusun

atau

menggabungkan

bentuk

bangun

tertentu

dan

menghasilkan bentuk bangun yang baru (Widayati. S, & Widjiati. U,


2008).
d. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal memuat kemampuan seseorang peka terhadap
suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal
ini adalah nada dan irama. Peserta didik jenis ini cenderung senang
sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah melalui
senandung yang dilagukan sendiri, mendengarkan tape recorder, radio,
pertunjukan orkestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri.
Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dengan mengekspresikan

21

beberapa gagasan apabila dikaitkan dengan musik (Widayati. S, &


Widjiati. U, 2008).
Kecerdasan musik pada anak pun dapat dirangsang sejak dini.
Anak-anak diajarkan melalui irama dan melodi. Semua bisa dipelajari
dengan mudah, bila hal itu dinyanyikan atau diberi aba-aba dengan
ketukan menurut irama. Anak diperkenalkan dengan lagu dan ritme.
Pengenalan lagu-lagu harus dilakukan secara bertahap dan sesuai usia
(Widayati. S, & Widjiati. U, 2008).
e. Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik memuat kemampuan sesorang untuk secara
aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk
berkomunikasi dan memecahan berbagai masalah. Hal ini dapat
dijumpai pada peserta didik yang unggul pada salah satu cabang
olahraga, seperti bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, dan
sebagainya, atau bisa pula tampil pada peserta didik yang pandai
menari, terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap
(Surya. S, 2007).
Pengoptimalan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan
berbagai permaianan yang berorientasi pada kegiatan bergerak secara
fisik. Contoh permainan ini yaitu,n menari, bermain peran, melompat,
menari, main dorong-dorongan, dan permainan bola (Surya. S, 2007).
f. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang
untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk
memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah
bersosialisasi

dengan

lingkungan

di

sekelilingnya.

Kecerdasan

semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain

22

kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga


mencangkup

kemampuan

seperti

memimpin,

mengorganisasi,

menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari peserta


didik yang lain, dan sebagainya (Uno. HB & Kuadrat. M, 2009).
Untuk mengoptimalkan kecerdasan ini anda dapat memberikan
permainan-permainan yang bisa memunculkan berbagai perasaan.
Misalnya menunjukkan perasaan sedih, gembira, kesal, kecewa,
bahagia dan sebagainya. Sebelumnya anda harus menunjukkan dulu
berbagai

perasan

emosi

tersebut,

jelaskanlah

situasi

yang

menimbulkannya, lalu anak akan memainkan peran sedang sedih, kesal,


dan lain-lain (Uno. HB & Kuadrat. M, 2009).
g. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang
untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu
untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada
dirinya sendri. Peserta didik semacam ini senang melakukan intropeksi
diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian
mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung
menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan
dirinya sendiri (Surya. S, 2007).
Permainan yang dapat merangsang perkembangan kecerdasan
interpersonal yaitu, misalnya bermain peran, bermain telepon, dll.
dorong anak untuk melakukan aktifitas belajar kelompok (Surya. S,
2007).
h. Kecerdasan naturalis
Kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka
terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam

23

yang terbuka, seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta
didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi
lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis lapisan tanah,
aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya
(Uno. HB & Kuadrat. M, 2009).
Belajar dengan cara naturalis dapat dilakukan di perumahan yang
aman, nyaman, asri, dekat dengan danau, dan bebas polusi, karena tidak
dilewati kendaraan umum (Uno. HB & Kuadrat. M, 2009).
2.2.3

Faktor yang Dapat Mempengaruhi Kecerdasan Anak


Menurut Setiawati (2008), faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan
majemuk anak, yaitu: intervensi keluarga, interversi lingkungan (sekolah),
kesehatan (fisik maupun mental).
a. Lingkungan keluarga
Perhatian orang tua terhadap kemampuan anak sangat berpengaruh
positif pada kecerdasan majemuk anak, sedangkan ketidak percayaan
orang tua terhadap kemampuan anak akan berpengaruh negatif
terhadap kecerdasan majemuk anak. Faktor lingkungan keluarga
memiliki sumbangan terhadap perkembangan tingkah laku anak.
Dalam mengasuh anak orang tua cenderung menggunakan pola asuh
tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan
dalam mewarnai perkembangan terhadap kecerdasan majemuk pada
anak. Sehingga penggunaan pola asuh yang sesuai dapat
mengembangkan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak.
b. Lingkungan sekolah
Program yang dibuat oleh sekolah yaitu program yang mendorong anak

24

menyukai belajar dan melaksanakan tugas sekolah bukan sekedar


suka pergi ke sekolah sehingga anak dapat mengembangkan kecerdasan
anak.
c. Kesehatan
Kesehatan adalah suatu bahan yang perlu didapatkan supaya
pertumbuhan baik dan sempurna. Pemenuhan kesehatan yang cukup
baik untuk fisik maupun mental berpengaruh terhadap kecerdasan
majemuk anak.
1. Kesehatan fisik
Kesehatan fisik sangat berguna bagi pertumbuhan anak, seperti zat
makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin
untuk mengatur metabolisme tubuh.
2. Kesehatan mental
Kesehatan mental harus disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.
2.2.4 Penghambat Perkembangan Kecerdasan Anak
Ada beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan
kecerdasan anak. Secara garis besar dapat kita bagi kedalam 3 golongan
penyebab, yaitu :
a. Penyebab organ biologis
Kekurangan pada organ biologis bisa menhambat perkembangan
kecerdasan anak, yang dimaksud dengan penyebab organ biologis
adalah setiap kerusakan yang terjadi pada sel otak, yang bisa disebabkan
oleh penyakit, tumor otak, kecelakaan, ataupun kekurangan gizi
(Anonim, 2012).

25

Di Indonesia penyebab organ biologis merupakan faktor penting,


karena faktor infeksi dan kekurangan gizi masih banyak terjadi pada
para ibu hamil, bayi, dan balita. Infeksi mudah menyerang tubuh yang
lemah, misalnya karena kekurangan gizi (Trisnawati. E, 2013).
Pengobatan yang tidak tepat dan cepat bisa mengakibatkan
menjalarnya kuman ke otak dan mengakibatkan peradangan otak atau
selaput otak. Sel otak menjadi rusak akibat peradangan, sehingga tak
dapat berfungsi lagi. Makin berat kerusakan sel tersebut, makin berat
pula gangguan fungsi otak yang terjadi (Anonim, 2012).
b. Penyebab lingkungan sosial
Selain sebagai pendorong kecerdasan anak, lingkungan sosial juga
bisa menjadi penghambat perkembangan kecerdasan anak. Yang
dimaksud dengan penyebab lingkungan sosial adalah hambatan yang
disebabkan oleh lingkungan dimana si anak tinggal, seperti misalnya
kekurangan rangsangan mental pada bayi dan anak. Biasanya, hal ini
disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua dan juga oleh faktor
kemiskinan (Anonim, 2012).
Bagi masyarakat golongan ekonomi lemah, semua sumberdaya dan
keuangan orang tua telah habis untuk mencukupi sandang dan pangan.
Sehingga, orang tua tidak mempunyai perhatian yang cukup untuk
mendidik anak-anaknya. Kebanyakan anak-anak itu dibiarkan tumbuh
sendiri dan meniru apa yang mereka lihat di lingkungannya (Anonim,
2012).
c. Penyebab yang misterius
Penghambat kecerdasan anak lainnya adalah penyebab yang misterius.
Dalam dunia kedokteran banyak sekali hal yang masih misterius dan
belum bisa dijelaskan secara ilmiah, termasuk dalam hal kecerdasan

26

anak. Misalnya anak-anak yang menderita keterbelakangan mental, yang


disebut golongan mongoloid. Disebut mongoloid oleh karena mereka
mempunyai penampilan yang sama, yaitu bentuk tubuhnya pendek
gemuk, jari tangannya pendek, matanya sipit dan ujungnya miring ke
atas, hidungnya pesek, mulutnya kecil dengan ujung ke bawah. Selain
itu mereka juga menderita keterbelakangan mental (Anonim, 2012).
Anak-anak golongan mongoloid itu menderita kelainan kromosom,
yang sampai sekarang dunia kedokteran belum bisa menjelaskan
mengapa kelainan itu sampai terjadi (Anonim, 2012).
Akhirnya, kecerdasan anak harus kita sikapi dan pahami dengan
bijak. Setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing yang berbeda
satu dengan yang lain. Bila anak kita tidak menonjol dalam satu hal,
boleh jadi ia memiliki bakat lain yang belum kita ketahui. Kita tidak
pernah tahu kelak ia akan menjadi ekonom, musisi, fisikawan atau atlet
dan

lain-lain.

Adalah

tugas

orang

tua

untuk

mendidik

dan

membimbingnya, sehingga anak tersebut menemukan kecerdasan dan


bakat terbaiknya (Anonim, 2012).
2.3 Hubungan Antara Pola Asuh dengan Kecerdasan Anak
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Gardner dan rekan-rekannya
di Harvard University, menunjukkan bahwa setiap anak mempunyai banyak
cara yang berbeda untuk menjadi pandai. Bisa melalui kata-kata, angka,
gambar, musik, ekspresi fisik, pengalaman dengan alam, interaksi sosial, dan
pemahaman terhadap diri sendiri. Kecerdasan majemuk adalah sebuah
penilaian yang melihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan

27

kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu


(Armstrong. T, 2005).
Menurut Tientje dan Iskandar, salah satu faktor yang mempengaruhi
kecerdasan majemuk adalah lingkungan keluarga. Keluarga merupakan unit
sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak.
Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilainilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya
merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi
dan anggota masyarakat yang sehat (Setiawati. R, 2008).
Anak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal jika orang tua
memahami bagaimana harus bersikap dan menentukan tipe pola asuh yang
sesuai dengan perkembangan anaknya. Pola asuh yang tepat akan
memberikan ruang gerak bagi perkembangan anak secara umum yang
meliputi

perkembangan

intelektualnya,

perkembangan

emosinya,

perkembangan kreatifitasnya, perkembangan religiusnya dan perkembangan


sosialnya. Pola asuh menggambarkan kemampuan orang tua menyediakan
waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan
berkembang dengan sebaik-baiknya secara fisik, mental, dan sosial (Syahreni.
E, 2011).
Gunarsa (2005), menyatakan bahwa orang tua memiliki tanggung
jawab dalam memenuhi kebutuhan anak, baik dalam organis-psikologis,
antara lain pemberian makanan, kebutuhan akan perkembangan intelektual,
perawatan, dan asuhan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gerber dan Ware

28

(dalam Djamarah, 2008), menyebutkan bahwa semakin tinggi kualitas


lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi juga kecerdasan anak.
Hurlock menyatakan bahwa ada 10 sumbangan yang dapat diberikan
oleh keluarga (orang tua) kepada anak, yaitu: 1) perasaan aman, 2)
pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis, 3) sumber kasih sayang dan
penerimaan, 4) model perilaku yang disetujui guna belajar menjadi sosial, 5)
bimbingan dalam pengembangan pola perilaku yang disetujui secara sosial, 6)
bantuan dalam pemecahan masalah anak, 7) bimbingan dan bantuan dalam
mempelajari kecakapan motorik, verbal, dan sosial yang diperlukan untuk
penyesuaian, 8) perangsang kemampuan untuk mencapai keberhasilan di
sekolah dan kehidupan sosial, 9) bantuan dalam menetapkan aspirasi yang
sesuai minat dan kemampuan, dan 10) sumber persahabatan sampai mereka
cukup besar untuk mendapatkan teman di luar rumah (Djamarah, 2008).
Menurut Armstrong salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan
majemuk ialah sejarah hidup pribadi, termasuk di dalamnya adalah
pengalaman-pengalaman (bersosialisasi dan hidup) dengan orang tua, guru,
teman sebaya, atau orang lain, baik yang membangkitkan kecerdasan maupun
yang menghambat perkembangan kecerdasan (Musfiroh. T, 2008).
Menurut Kohn pola asuh merupakan cara orang tua berinteraksi
dengan anak yang meliputi pemberian aturan, hadiah, hukuman, pemberian
perhatian, serta tanggapan orang tua terhadap setiap perilaku anak (Muallifah,
2009).
Penelitian yang dilakukan Yunanda, FP (2012) menyatakan bahwa
pola asuh orang tua mempengaruhi tingkat kemandirian personal hygiene

29

anak, orang tua menerapkan pola asuh demokratif memiliki anak yang
mandiri. Pada penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati, E (2013)
menyatakan bahwa pola asuh dapat mempengaruhi perkembangan personal
sosial anak usia pra sekolah yaitu, pola asuh demokratif menghasilkan
perkembangan personal sosial anak yang baik. Sedangkan pada penelitian
yang dilakukan oleh Sopiah (2014) menjelaskan bahwa pola asuh pengganti
ibu berpengaruh pada perkembangan psikososial anak usia pra sekolah yang
menjelaskan bahwa pola asuh demokratif akan menghasilkan psikososial anak
yang baik. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Hoang, TN
(2008) yang menyatakan bahwa pola asuh berpengaruh terhadap motivasi
remaja.