Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam yang atas rahmat karuniaNya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Patofisiologi pada Ginjal . Dalam penyusunanya,
penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada : Kedua orang tua dan pihak pihak yang telah memberikan
dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini
berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Jakarta , Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
1 GINJAL

Kata pengantar.1
Daftar isi...2
Bab. I Pendahuluan.3
Bab.2 Konsep fisiologis.4
2.1

sistema urinaria6

2.2

sirkulasi pada ginjal.9

2.3

mekanisme pemekatan ginjal.12

2.4

hormon pada ginjal12

2.5

fungsi endokrin ginjal13

Bab.3 konsep patofisiologis


3.1

keadaan penyakit atau cedera.14

Bab.4 penutup
Kesimpulan21
Daftar pustaka22

BAB.I
2 GINJAL

PENDAHULUAN
Makalah ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang konsep anatomi dan
fisiologi sistem urinaria manusia.Kelangsungan hidup secara normal tergantung pada
pemeliharaan konsentrasi garam,asam dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal dan
pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh. Untuk mempertahankan homeostatis ekskresi air dan
elektrolit sesuai dengan asupan. Melebihi ekskresi jumlah zat dalam tubuh akan mengikat. Jika
asupan kurang dari ekskresi jumlah zat dalam tubuh akan berkurang. Kapasitas ginjal untuk
mengubah ekskresi natrium sebagai respons terhadap perubahan asupan natrium sangat besar. Ini
menunjukkan bahwa pada manusia normal natrium dapat ditingkatkan. Hal ini sesuai untuk air
dan kebanyakan elektrolit lainnya, seperti klorida, kalium, kalsium, hidrogen, magnesium dan
fosfat.
Secara anatomi,Ginjal berbentuk seperti kacang koro dengan warna merah coklat dan
berjumlah dua buah.Kedua ginjal terlitak diposterior dari rongga abdomen,disebelah lateral
kolumna vertebralis,retroperitoneal,diselubungi oleh jaringan lemak dan jaringan ikat
kendor.Ginjal kiri terletak lebih tinggi dari ginjal sebelah kanan.Perbedaan ini disebabkan karena
hepar diatas ginjal kanan sehingga ginjal dekstra lebih rendah.Berat ginjal pria sekitar 125 170
gram dan ginjal wanita 115-155 gram.Bagian bagian permukaan ginjal antara lain:fascies
anteriir,fascies posterior,margo lateralis,margo medialis,polus kranialis dan polus kandialis.
Secara fisiologis ginjal berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan asam basa didalam
daraah dengan jalan membuang metabolit dan bahan bahan yang tidak berguna lagi dalam
daraah.Mula mula penyaringan dari darah dilakukan pada glomerulus kemudian diulangi di
tubulus I (Tubulus Proksimalis) sehinggga terdapat keseimbangan garam garam dalam
darah.Hasil ahkir penyaringan tersebut adalah urine yang keluar dari ureter.Walaupun organ ini
sering dianggap hanya sebagai organ yang diperlukan untuk mengeluarkan sisa sisa
metabolisme, namun sebenarnya ginjal memiliki peranan penting dalam mempertahankan
keseimbangan air, garam, dan elektrolit, dan merupakan suatu kelenjar endokrin yang
mengeluarkan paling sedikit tiga hormone serta membantu dalam mengontrol tekanan darah dan
sangat rentan apabila mengalami tekanan darah terlalu tinggi ataupun terlalu rendah.

BAB.II

3 GINJAL

KONSEP FISIOLOGIS

Ginjal itu sendiri terletak di luar rongga porotenium di bagian belakang atas dinding
abdomen,dan terdapat satu pada setiap sisinya. Ginjal terdiri dari sekitar satu juta unit fungsional
yang disebut dengan nefron. Setiap nefron berawal sebagai suatu berkas kapiler yaitu
glomerulus. Plasma difiltrasi pada glomerulus dan masuk ke tubulus nefron, dari tubulus ini
hanya sebagian kecil yang diekskresi sebagai urine. Dan plasma yang tidak disekresi dalam urine
memiliki komposisi akhir dan volumenya yang diubah oleh proses reabsorpsi dan sekresi di
ginjal.
Setiap ginjal secara anatomis dibagi menjadi bagian korteks disebelah luar yang mengandung
semua kapiler glomerulus dan sebagian segmen tubulus pendek, dan bagian medulla di sebelah
dalam tempat sebagian besar segmen tubulus berada.
Ginjal menerima sekitar 1 liter darah per menit / seperlima daei curah jantung. Aliran darah
keginjal berlangsung melalui arteri renalis. Dan arteri renalis bercabang beberapa kali dan
berakhir sebagai beberapa arteriol aferen dimana arteriol aferen ini menjadi sebuah kapiler
glomerulus yang menyalurkan darah ke nefron.
Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai
bagian dari sistem urine, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan
membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang mempelajari
ginjal dan penyakitnya disebut nefrologi.

Ginjal berjumlah 2 buah, berat + 150 gr (125 170 gr pada Laki-laki, 115 155 gr pada
perempuan); panjang 5 7,5 cm; tebal 2,5 3 cm.Letak retroperitoneal sebelah dorsal
4 GINJAL

cavumabdominale, ginjal kiri bagian atas V.Lumbal I, bagian bawah V.Lumbal IV pada posisi
berdiri letak ginjal kanan lebih rendah.

1.

2.

3.

4.

5.

6.
7.

Ginjal mempunyai beberapa fungsi yaitu :


Mengatur volume cairan dalam tubuh
Kelebihan cairan dalam tubuh dikeluarkan sebagai urine encer dalam jumlah besar.Kekurangan
air atau kelebihan keringat menyebabkan urine diekskresikan lebih pekat sehingga susunan dan
volume cairan tubuh dapat dipertahankan relative normal.
Mengatur Keseimbangan osmotic dan keseimbangan ion
Ini terjadi jika plasma terdapat pemasukan atau pengeluaran abnormal dari ion ion.Akibat
pemasukan garam atau penyakit ginjal akan meningkatkan eksresi ion ion penting urine : Na, K,
Cl, Ca dan Fosfat.
Mengatur keseimbangan Asam basa dalm tubuh
Hal ini terjadi karena makanan yang dimakan.Apabila banyak makan sayur urine akan basa.Jika
asam terjadi karena campuran makanan.
Ekskresi sisa sisa hasil metabolisme
Bahan bahan yang diekskresikan oleh ginjal antara lain zat toksik,obat,hasil metabolism
hemoglobin dan bahan kimia.
Fungsi hormonal dan metabolisme
Ginjal akan mengeksresikan hormone rennin yang berfungsi dalam mengatur tekanan
darah.Serta hormone dihidroksi kolekalsifenol atau vitamin D aktif untuk absorbs ion kalsium
dalam usus.
Pengatur tekanan darah
Memproduksi enzim rennin,angiotensin dan aldosteron untuk mengatur tekanan daraah.
Pengeluaran zat beracun
Ginjal mengeluarkan polutan dan bahan kimia asing dari tubuh.

2.1 Sistema Urinaria


5 GINJAL

2.1.1

Fisiologi Ginjal

a. Korteks renalis
Merupakan bagian luar Ginjal yang berwarna merah coklat terletak langsung dibawah kapsula
fibrosa dan berbintik bintik.Bintik bintik pada korteks renalis karena adanya korpuskulus renalis
dari Malphigi yang terdiri atas Kapsula Bowmann dan Glomerulus.
1. Kapsula Bowmann
Kapsula Bowmann merupakan permulaan dari saluran ginjal yang meliputi Glomerulus
2. Glomerulus
Glomerulus merupakan anyaman pembuluh pembuluh darah pada ginjal.Secara fisiologis
pada bagian Glomerulus terjadi filtrasi darah untuk mengeluarkan zat zat yang tidak
digunakan oleh tubuh.
3. Tubulus renalis
Tubulus renalis merupakan bagian korteks yang masuk kedalam medula di antara priramida
renalis,sering disebut kolumna renalis.
b. Medula renalis
Medula renalis terletak dekat hilus,sering terlihat garis aris putih karena adanya saluran yang
terletak di piramida renalis.Tiap piramida renalis mempunyai basis yang menjurus ke arah
korteks dan apeksnya bermuara kedalam kaliks miror sehingga menimbulkan tonjolan yang
dinamakan papila renalis yang merupakan dasar sinus renalis.Jaringan medula dari piramida
renalis ada yang menonjol masuk ke dalam jaringan korteks disebut fascilus radiatus ferreini.
1. Lengkung henle
2. Dukstus koligentes
3. Duktus Bellini/Duktus papilaris
2.1.2

Fisiologi Ureter

Ureter adalah saluran untuk urine yang berasal dadi ginjal (melalui pelvis renalis) ke vesika
urinaria (buli-buli). Saluran ureter dibagi atas dua bagian, yaitu : pars abdominalis (pada dinding
dorsal abdomen ) dan pars pelvina (pada dinding pelvis).
1.

Pars Abdominalis
Secara anatomi , pars abdominalis panjangnya kurang lebih 25-35 cm. Terletak turun ke
bawah ventral dari tepi medial muskulus spoas mayor yang memisahkan dari ujung prosesus
transvesus vertebra lumbalis 2-5 dan merupakan lanjutan dari pelvis renalis yang terletak dorsal
dari vasa renalis. Ureter dextra berjalan dorsal dari pars desenden duodeni, arteri spermatika
interna, arteri kolika dextra, dan arteri iliokolika serta berada di sebelah kanan vena kava inferior.
Ureter sinistra berjalan dorsal dari arteri spermatika interna, arteri kolika sinistera, dan kolon
sigmoid.

6 GINJAL

2.

Pars Pelvica
Setelah masuk ke dalam kavum pelvis, ureter berjalan ke kaudal pada dinding lateral
pelvis yang tertutup oleh peritoneum. Mula-mula terletak ventro kaudal dari arteri venous
iliaka interna kemudian menyilang medial dari (korda) arteri umbinikalis dan arterivananervus
obturatoria. Pada tempt yang setinggi spina iskiadika ia membelok ke arah ventro medial,
kemudian mencapai bagian dorsal vesika urinaria kurang lebih setinggi 4 cm kranial dari
tuberkulum pubikum.

2.1.3
a.

Fisiologi Vesica Urinaria

Mukosa
Mukosa merupakan jaringan ikat kedur sehingga dalam keadaan kosong mukosa vesika urinaria
membentuk lipatan-lipatan yang disebut sebagai Rugae vesikae. Rugae ini menghilang bila
vesika urinaria terisi penuh sehingga mukosanya tampak licin.

b. Submukosa
Submukosa terdiri atas jaringan ikat kendur dengan serabut-serabut elastis kecuali pada trigonum
lieutodidi mana mukosanya melekat erat pada jaringan otot di bawahnya.
c. Muskularis
Lapisan muskularis terdiri atas jaringan otot polos dengan jaringan ikat fibrous di antaranya.
Tebalnya tergantung dari vesika urinaria. Otot-otot ini semua dinamakan muskuli detrussor. Pada
trigonum lieutodi jaringan ototnya adalah lanjutan dari stratum longitudinalis ureter, sedangkan
tonus interureterikus dibentuk di stratum sirkularis yang mengelilingi ureter. Muskularis vesika
urinaria tersusundari tiga lapisan. Lapisan paling luar berjalan longitudinal menebal pada daerah
kollum melanjutkan diri ke prostat (pada pria) dan ke uretra plika rektovesikalis, plika
pubovesikalis (pada wanita). Lapisan tengah berjalan sirkular dan paling tipis di antara dua
lapisan sebelumnya.
2.1.4

Fisiologi Uretra

a. Uretra Pria
Uretra pada pria merupakan saluran fibromuskular untuk jalan urine dari vesika urinaria keluar
dan juga untuk jalan keluar sekret dari vesikula seminalis, glandula prostata, dan glandula bulbo
uretralis serta spermatozoa. Uretra pria lebih panjang dari pada uretra wanita. Panjangnya kurang
lebih 20 cm di mulai dari kallum vesikae menembus kelenjar prostat difragma urogenital,
kemudian melalui korpus spongiosum penis berakhir di glans penis.

7 GINJAL

1. Pars Prostatika Uretrae


Pars prostatika uretrae adalah bagian dari uretra yang melalui prostat dimana lumennya
paling lebar dan palig elastis. Panjangnya kurang lebih 3cm, bentuknya fusiformis, dan alam
keadaan kosong dinding anterior dan posterior saling berdekatan. Pad dinding posterior (bagian
dalam) terdapat beberapa sruktur, diantaranya sebagai berikut.
a. Krista uretralis : merupakan tonjolan memanjang dari mukosa dinding dorsal di bagian
medial ke arah kranial berhubungan dengan uvula vesikae ke kaudal berhubungan dengan
pars membranasea uretrae.
b. Kolikus seminalis (verumontanum) : merupakan pelebaran krista uretralis kira-kira pada
pertengahannya.
c. Urtikulus protatikus (vagina maskulina) : lubang pada puncak kollikulus seminalis yang
sebetulnya merupakan muara dari suatu suatu saluran yang berhubungan dengan lobus
medius prostat. Bagian ini homolog pada bagian vagina pada wanita.
d. Hiatus ejakulatorius : muara dektus ejakulatoris terdapat sebelah kanan dan kiri urtikulus
prostatikus (sedikit lebih distal).
e. Sinus prostatikus : celah di sebelah kanan dan kiri krista uretralis. Disini terdapat lubanglubang orifisium dari granula prostata.
2. Pars membranasea uretra
Pars membranasea uretrae dimuali dari apeks prostat sampai setinggi bulbus penis.
Bagian ini adalah bagian uretra waktu menembus diafragma U.G., dan merupakan bagian yang
pendek (panjang 2cm). Letak pars membranacea uretrae 2 cm dorsal dari simfisis pubis. Pada
bagisn ini terdapat muskulu sfingter uretra eksternum. Kaudal dari difragma urogenitalis dinding
posterior uretra berhubungan dengan bulbus penis.
3. Pars kavernosa uretrae
Letaknya didalam korpus spongiosum penis berjalan melalui bulbus korpus dan glans
penis (pars navikularis) lumen uretra melebar pada bulbus (fossa intrabulbar) dan pada glandula
(fossa navikularis). Pada dinding ventralnya bermuara duktuli dari glandula bulbouretralis kaudal
dari difragma urogenitalis.
Vaskularisasi. Vaskularisasi arteri uretra pria dintaranya arteri haemorrhoidalis media, arteri
vesikalis kaudalis , arteri bulbi penis, dan arteri uretralis. Vaskularisasi vena uretra pria berjalan
melalui pleksus vesikopudendalis dialirkan ke vena pudendalis inerna.nodus limfa iliaka interna
dan eksterna. Dari pars spongiosa ke nodus limfa inguinalis dan limfa iliaka eksterna.

b. Uretra Wanita

8 GINJAL

Uretra wanita lebih pendk dari pada uretra pria, memiliki panjang 4 cm berjalan ke ventrokaudal
mulai dari ofisium uretrae internum (pada kolum vesicae) sampai pada vesicae uretrae eksternum
pada vestibulum vaginae (antara intoitus vaginae dan klitoris).
Bagian dalam adalah mukosa dimana terdapat lubang-lubang glandula uretralis (lakuna
uretralis)dan di bagian kaudalnya terdapat duktus parauretralis (homolog dengan prostat) yang
bermuara pada sisi kanan dan kiri ofisium uretra eksrernum. Lapisan luar adalah muskularis
bagian kranial/proksimal sirkular (pada kollum vesikae). Stratum longitudinalis dari vesika
urinaria ikut memperrkuat bagian ini. Bagian tengah erdiri atas jaringan otot plos yang bergaris
yang berasal dari muskulus pubovaginalis. Bagian distal tidak ada jaringan ototnya.
Vaskularisasi
Vaskularisasi arteri uretra wanita pada bagian kranial/proksimal dari arteri vesikalis inferior,
bagian tengah dari arteri vesikalis inferior dan arteri uterina, serta bagian distal masuk dari
arteri pudendalis interna. Vaskularisasi vena uretra wanita masuk ke dalam pleksus venous
vesikalis pudendalis interna.
Aliran limfa
Aliran limfa uretra pada wanita mengikuti arteri pudendalis interna ke nodus limfa iliaka interna
dan eksterna.
2.2 SIRKULASI PADA GINJAL ( TAHAP PEMBENTUKKAN URINE )
2.2.1

Filtrasi

Proses ini terjadi di glomerulus. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpan Bowman.
Cairan tersebut tersusun oleh urea, glukosa, air, ion-ion anorganik seperti natrium kalium,
kalsium, dan klor. Darah dan protein tetap tinggal di dalam kapiler darah karena tidak dapat
menembus poripori glomerulus.Cairan yang tertampung di simpai Bowman disebut urine
primer. Selama 24 jam darah yang tersaring dapat mencapai 170 liter. Penyaringan di glomerulus
disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium,
dan garam-garam lainnya
Pengaturan aliran darah
Ginjal memiliki beberapa mekanisme untuk mengontrol aliran darah ginjal yaitu mekanisme
intrarenal dan ekstrarenal. Mekanisme intrarenal mencakup kemampuan bawaan arteriol aferen
dan eferen untuk melebar dan menyempit yang dapat menentukan seberapa banyak darah yang
mengalir melintasi ginjal. Sedangkan mekanisme ektrarenal yang mengatur aliran darah ginjal
mencakup efek langsung peningkatan / penurunan tekanan arteri rata-rata dan efek susunan sarap
simpatis.

9 GINJAL

Kemampuan bawaan pada mekanisme intrarenal disebut otoregulasi. Otoregulasi adalah respon
instrintik otot polos vascular terhadap perubahan tekanan darahekanana darah . Apabila tekanan
darah sistemik meningkat, maka peregangan pada arteriol aferen meningkat. Peregangan tersebut
menyebabkan arteriol berkonstriksi sehingga aliran darah berkurang dan tekanan darah ginjal
kembali ke normal. Dengan adanya otoregulasi, aliran darah ginjal menetap relative konstan
dengan kisaran antara 80 mmHg dan 180 mm Hg. Penurunan aliran darah ginjal sebagai respons
terhadap penurunan tekanan darah sistemik bersifat adaptif dan membantu organism bertahan
dari suatu krisis hipotensif. Pada hipotensi, air dan garam yang difiltrasi di glomerulus berkurang
sehingga yang keluar melalui urine juga berkurang. Hal ini membantu meningkatkan volume
darah dan memulihkan tekanan darah. Harus ditekankan bahwa input simpatis lebih dominan
dibandingkan mekanisme otoregulasi ginjal.
Rennin adalah suatu hormone yang dikeluarkan oleh ginjal sebagai respon terhadap penurunan
tekanan darah atau penurunan konsentrasi natrium plasma. Sel-sel yang membentuk dan
mengluarkan rennin serta mengontrol pelepasannya adalah sekelompok sel nefron yang disebut
aparatus jukstaglomerulus (JG ). Kelompok sel ini mencakup sel otot polos arteriol aferendan sel
macula densa. Sel otot polos mensistensi rennin dan berfungsi sebagai baroreseptor untuk
memantau tekanan darah. Sel macula densa adalah bagian dari parsasendens nefron.
2.2.2

Reabsorpsi ginjal

Reabsorpsi adalah proses kedua yang dilakukan oleh ginjal untuk menentukan konsentrasi suatu
zat yang difiltrasi dari plasma. Reabsorpsi mengacu pada pergerakan aktif atau pasif suatu zat
yang disaring di glomerulus kembali ke kapiler peritubulus.

Reabsorpsi glukosa
Glukosa secara bebas disaring di glomerulus. Dalam keadaan normal semua glukosa
yang difiltrasi akan di reabsorpsi oleh transport aktif, terutama di tubulus proksima.
Reabsorpsi natrium
Reabsorpsi natrium berlangsung di seluruh tubulus melalui kombinasi difusi sederhana
dan transport aktif. Sekitar 65% reabsorpsi natrium terjadi ditubulus proksima dan 25%
dilengkung henle.
Reabsorpsi klorida
Reabsorpsi klorida dapat bersifat aktif atau pasif dan hampir selalu bersamaan dengan
transport natrium. Proses ini dipengaruihi oleh gradient listrik ditubulus.
Reabsorpsi asam amino
Asam amino yang difiltrasi di glomerulus secara aktif direabsorpsi di tubulus proksimal.
Semua reabsorpsi asam amino di perantarai oleh pembawa.
Reabsorpsi urea
Urea dibentuk di hati sebagai suatu produk akhir metabolisme protein. Ure adi filtrasi
secara bebas di glomerulus. Karena sangat permeable menembus sebagian nefron, urea
berdifusi kembali ke kapiler peritubulus.

10 GINJAL

Ginjal berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan asam basa. Sebagian besar
metabli di dalam tubuh menghasilkan asam. Proses tersebut mencakup fosforilasi oksidatif, yang
menghasilkan karbon dioksida yang mudah menguap, dan metabolisme protein yang
menghasilkan asam tiduk mudah menguap misalnya asam sulfat dan asan fosfat. Walaupun
dalam keadaan normal, perlu mengsekresikan semua karbon dioksida yang dihasilkan oleh
oksidasi, namun hanya ginjal yang mampu mengeliminsai asam yanf tidak mudah menguap.
Ginjal memiliki tugas esensial untuk menyerap ulang sejumlah besar bikarbonat basa , yang
difiltrasi secara bebas di glomerulus. Reabsorpsi bikarbonat adalah suatu proses aktif yang
terjadi terutama di tubulus proksimal.
Ginjal mensekresikan dan mengeksresikan H+ kedalam urine sehingga ginjal dapat
membersihkan darah dari asam asam yang tidak mudah menguap yang diproduksi secara
metabolic. Ekskresi H+ terjadi setelah sebagian besar bikarbonat yang difiltrasi mengalami
reabsorpsi. Efek ekskresi hydrogen yang terikat ke fosfat tidak hanya menyebabkan pengeluaran
asam melalui urine, tetapi juga terjadi penambahan neto bikarbonat.
Dibawah kondisi alkalosis ( kelebihan basa ), ginjal dapat mensekresikan bikarbonat sehingga
basa plasma berkurang dan pH kembali ke tingkat normal. Sekresi bikarbonat adalah suatu
proses aktif yang terjadi di duktus pengumpul di korteks.
2.2.3 Sekresi
Sisanya penyerapan urine kembali yang pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya
diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria.
2.2.4 Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus
distal. Urine yg telah terbentuk (urine sekunder), dari tubulus kontortus distal akan turun
menuju saluran pengumpul (duktus kolektivus), selanjutnya urine dibawa ke pelvis renalis. Dari
pelvis renalis, urine mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang
merupakan tempat penyimpanan sementara bagi urine. Jika kantong kemih telah penuh terisi
urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan
keluar melalui uretra. Komposisi urine yang dikeluarkan meliputi air, garam, urea, dan sisa
substansi lainnya seperti pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada
urine. Warna urine setiap orang berbeda dan biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang
dikonsumsi, aktivitas yang dilakukan, ataupun penyakit. Warna normal urine adalah bening
hingga kuning pucat
2.3

MEKANISME PEMEKATAN GINJAL

Untuk dapat bertahan hidup tanpa air, hewan dan manusia harus mampu mengekskresikan urine
pekat. Hewan atau manusia harus mampu mengeluarkan produk sisa, termasuk urea, tanpa
11 GINJAL

kehilangan banyak air dalam prosesnya, dan begitupun sebaliknya. Ginjal telah beradaptasi
untuk menangani variasi harian konsumsi air dengan membentuk suatu countercurrent multiplier
system. System ni dapat bekerja bila terdapat hormone antidiuretik (ADH). Countercurrent
multiplier system terdapat dilengkung henle, suatu tubulus prokmisal dan distal. System
multipikasi tersebut memiliki lima langkah dasar dan bergantung pada transport aktif natrium
( dan klorida) keluar dari pars asendens lengkung tersebut.
Langkah-langkah pada countercurrent multiplier system :
1. Sewaktu natrium di transport akeluar pars asendens, cairan interstium yang
melingkupi lengkung henle menjadi pekat.
2. Air tidak dapat mengikuti natrium keluar pars asendens karena sifatnya impermeable
terhdap air disepanjang bagian tersebut
3. Pars asendens lengkung bersifat permeable terhadap air. Air meninggalkan bagian ini
dan mengalir mengikuti gradient konsentrasi ke dalam ruang interstium di sekitarnya
dan menyebabkan pemekatan cairan pars desendens.
4. Hasil neto dan akhirnya adalah pemekatan cairan interstisium di sekitar lengkung
henle.
5. Dibagian puncak pars asendens lengkung, cairan tubulus bersifat isotonic atau bahkan
hipotonik.
Tujuan system ini adalah memekatkan cairan interstisium yang mengelilingi lengkung henle. Hal
ini sangat penting karena filtrate akan mengalir ke bawah menuju duktus pengumpul melalui
cairan ini.
2.4

Hormon pada Ginjal

1. Hormon yang bekerja pada Ginjal


a. Hormon antidiuretik ( ADH atau vasopressin )
Merupakan peptida yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior, hormon ini
menngkatkan reabsorbsi air pada duktus kolektifus.
b. Aldosteron
Merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh korteks adrenal, hormon ini
meningkatkan reabsorbsi natrium pada duktus kolektivus.
c. Peptida Natriuretik ( NP )
Diproduksi oleh sel jantung dan meningatkan ekskresi natrium pada duktus kolektivus.
d. Hormon paratiroid
Merupakan protein yang diproduksi oleh kelenjar paratiroid, hormon ini meningkatkan
ekskresi fosfat, reabsorbsi kalsium dan produksi vitamin D pada ginjal.
2. Hormon yang dihasilkan Ginjal
a. Renin
Merupakan protein yang dihasilkan oleh apparatus jukstaglomerular, hormon ini
menyebabkan pembentukan angiotensin II. Angiotensin II berfungsi langsung pada
12 GINJAL

tubulus proximal dan bekerja melalui aldosteron ada tubulus distal. Hormon ini juga
merupakan vasokonstriktor kuat.
b. Vitamin D
Merupakan hormon steroid yang dimetabolisme di ginjal, berperan meningkatkan
absorbsi kalsium dan fosfat dari usus.
c. Eritropoeitein
Merupakan protein yang diproduksi di ginjal, hormon ini meningkatkan pembentukan sel
darah merah di sumsum tulang.
d. Prostaglandin
Diproduksi di ginjal, memiliki berbagai efek terutama pada tonus pembuluh darah ginjal.
2.5

FUNGSI ENDOKRIN GINJAL

Fungsi ginjal sebagai suatu organ endokrin tidak hanya menghasilkan dan melepaskan rennin
tetapi sekaligus menghasilkan dan melepaskan dua hormone lain yaitu, 1,25-dihidroksi vitamin
D, yang penting untuk mineralisasi tulang dan eritropoetin yang dibutuhkan untuk pembentukan
sel darah merah.
Ginjal bekerja bersama hati dalam menghasilkan bentuk aktif vitamin D yang disebut 1,25
dihidroksi vitamin D, dari suatu precursor inaktif yang berasal dari makanan dan yang terdapat di
kulit yang dikatalisis oleh sinar matahari. Hormone paratirois merangsang ginjal agar organ ini
memainkan perannya dalam mengaktifkan vitamin D3. Hormone paratiroid dikeluarkan oleh
kelenjar paratiroid sebagai respon terhadap penurunan kalsium plasma. Eritropoetin adalah suatu
hormone yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan eritrosit.
PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nitrogen urea darah


Kreatinin serum
Urinalisis
Sistoskopi
Voiding cystourethrography
Urografi intravena
Ultrasound ginjal
BAB. III
KONSEP PATOFISIOLOGIS

Filtrasi glomerulus bergantung pada penjumlahan tekanan filtrasi plasma menembus glomerulus
dan tekanan filtrat kembali ke dalam glomerulus . tekanan filtrasi adalah tekanan kapiler dan
13 GINJAL

tekanan osmotic koloid cairan interstisium. Tekanan reabsorpsi adalah tekanan cairan
interstisium dan tekanan osmotic koloid plasma.
Tekanan kapiler bergantung pada tekanan arteri rata- rata . peningkatan tekanan arteri rata-rata
meningkatkan tekanan kapiler sehingga terjadi peningkatan filtrasi glomerulus. Otoregulasi
arteriol aferen dan eferan memperkecil perubahan perubahan ini kecuali apabila tekanan darah
arteri rata-rata menjadi sangat tinggi ( 180 mmHg )/ sangat rendah ( 80 mm Hg).
Tekanan osmotic koloid cairan interstisium rendah karena hanya sedikit protein plasma/ sel darah
merah disaring keluar dari glomerulus menuju ruang interstisium. Pada cedera glomerulus /
kapiler peritubulus, tekanan osmotic koloid cairan interstisium meningkat. Pembengkakan ruang
bowman / ruang yang mengelilingi tubulus dapat mengganggu fitrasi glomerulus dan reabsorpsi
tubullus lebih lanjut dengan meningkatkan tekanan cairan interstisium. Pembengkakan dan
edema juga dapat menimbulkan kolaps glomerulus atau kapiler peritubulus yang rapuh sehingga
menyebabkan hipoksia dan kematian nefron dalam keadaan yang ekstrem.
Obstruksi menyebabkan penimbunan cairan dinefron yang mengalir kembali ke kapsula
bowman. Obstruksi tubulus yang tidak diatasi dapat menyebabkan kolaps nya nefron dan kapiler
sehingga terjadi kerusakan ginjal irreversible terutama di papilla yang merupakan tempat akhir
pemekatan urine. Penyebab obstruksi antara lain adalah kalkulus ginjal ( batu) dan pembentukan
jaringan parut akibat infeksi ginjal erulang.
Osteodistrofi ginjal adalah demineralisasi tulang yang terjadi pada penyakit ginjal. Osteodistrofi
ginjal memiliki banyak sebab, termasuk penurunan pengaktifak vitamin D3 oleh ginjal sehingga
terjadi penurunan penyerapana kalsium di usus dan penurunan kadar kalsium serum penurunan
kadar kalsium serum merangsang pelepasan horom paratiroid peningkatan penguraian tulang
mempermudah patah tulang.

3.1

KEADAAN PENYAKIT ATAU CEDERA

A.

Batu Ginjal

Batu ( kalkulus) ginjal adalah batu yang terdapat di mana saja di saluran kemih. Batu yang paling
sering dijumpai tersusun dari Kristal Kristal kalsium. Batu ginjal dapat disebabkan oleh
peningkatan pH urine atau penurunan pH urine. Konsentrasi bahan bahan pembentuk batu yang
tinggi didalam darah dan urin serta kebiasaan makan atau obat tertentu juga dapat merangsang
pembentukan batu.
Gambaran klinis

Nyeri sering bersifat kolik ( ritnik )terutama apabila batu terletak di ureter atu
dibawahnya nyeri mungkin hebat. Lokasi nyeri akan bergantung pada letak batu

14 GINJAL

Batu di ginjal itu sendiri asomatik kecuali apabila batu tersebut mengakibatkan obstruksi
atau timbul infeksi.
Hematuria disebabkan oleh irirtasi dan cedera struktur ginjal sering terjadi menyertai
batu.
Penurunan pengeluaran urine apabila terjadi obstruksi aliran
Pengenceran urine apabila terjadi obstruksi aliran karena kemampuan ginjal memekatkan
urine terganggu oleh pembengkakan yang terjadi disekitar kapiler peritubulus.

Perangkat Diagnostik

Pemeriksaan darah dan urine untuk meriksa bahan bahan pembentuk batu
Radiografi ultrasound atau urografi intravena dapat menentukan lokasi batu.

Komplikasi

Obstruksi urine dapat terjadi disebelah hulu dari batu dibagian mana saja di saluran
kemih obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan hidroureter yaitu ureter
membengkak oleh urine hidroureter yang tidak diatasi / obstruksi pada atau diatas tempat
ureter keluar dari ginjal dapat menyebabkan hidrone frosis yaitu pembengkakan pelvis
ginjal dan system duktus pengumpul
Setiap kali terjadi obstruksi aliran urine ( stasis ), kemungkinan infeksi meningkat
Dapat terbentuk kanker ginjal akibat peradangan dan cedera berulang.

Penatalaksanaan

B.

Peningkatan asupan cairan meningkatkan aliran urine dan membantu mendorong batu.
Asupan cairan dalam jumlah besar pada orang- orang yang rentan mengalami batu ginjal
dapat mencegah pembentukan batu.
Mengubah pH urine sedemikian untuk meningkatkan pemecahan batu
Litotrifisi terapi gelombang kejut eksrtakorporeal (diluar tubuh)atau terapi laser dapat
digunakan untuk memecahkan batu.
Mungkin diperlukan tindakan bedah untuk mengangkat batu besar atau untuk
menempatkan selang disekitar batu untuk mengatasi obstruksi.

GLOMERULONEFRITIS

Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus jenis glomerulonefritis diantaranya adalah


akut, progresif cepat dan kronis.

Glomerulonefritis akut
Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak.
Peradangan akut glomerulus terjadi akibat pengendapan kompleks antigen

15 GINJAL

antibody di kapiler kapiler glomerulus kompleks biasanya terbentuk 7-10 hari


setelah infeksi faring atau kulit oleh streptococus (glomerulonefritis pasca
streptococcus) tetapi dapat timbul setelah infeksi lain.
Glomerulonefritis progresif cepat
Glomerulonefritis progresif cepat adalah peradangan glomerulus yang terjadi
sedemikian cepat sehingga terjadi penurunan GFR 50% dalam 3 bulan setelah
awitan penyakit. Glomerulonefritis progresif cepat dapat terjadi akibat perburukan
glomerulonefritis akut suatu penyakit otoimun atau sebabnya idiopatik ( tidak
diketahui).
Glomerulonefritis kronik
Glomerulonefritis kronis adalah peradangan lama di sel- sel glomerulus. Kelainan
ini dapat terjadi akibat glomerulonefritis akut yang tidak membaik atau timbul
secara spontan. Glomerulonefritis kronis sering timbul beberapa tahun setelah
cedera dan perdangan glomerulus subklinis yang disertai oleh hematuria (darah
dalam urine) dan proteinuria ( protein dalam urine ) ringan.

Gambaran klinis

Semua jenis glomerulonefritis menyebabkan :


Penurunan volume urine
Darah dalam urine ( urine berwarna kecoklatan ) baik makroskopik /
mikroskopik
Retensi cairan

perangkat Diagnostik

Hematuria dapat diukur dengan urinealisis.


Silinder sel darah merah didalam urine
Proteinurea lebih dari 35 mg perhari
Apabila keadaan tersebut disebabkan oleh glomerulonefritis pasca streptokokus
akut, maka akan dijumpai enzyme-enzym anti streptokokus, misalnya
antistreptolisin-O dan anti streptokinase.

Komplikasi

Dapat timbul gagal ginjal

Penatalaksanaan

Apabila kelainan disebabkan oleh glomerulonefritis pascatreptokokus akut, maka


diperlukan terapi antibiotic.

16 GINJAL

C.

Kerusakan glomerulus akibat proses otoimun dapat diobati dengan kortikosteroid utnuk
imunosupresi.
Inhibitor ACE dapat mengurangi kerusakan glomerulus pada individu dengan hipertensi
kronis.
GAGAL GINJAL

Gagal ginjal adalah hilangnya fungsi ginjal. Karena ginjal memiliki peran vital dalam
mempertahankan homeostasis, gagal ginjal menyebabkan efek sistemik multiple. Stadium dibuat
berdasarkan ada tidak nya gejala dan progresifitas penurunan GFR , yang dikoreksi perukuran
tubuh per 1,73 m2

Stadium 1 : kerusakan ginjal (kelainan atau gejala dari potologi kerusakan ,mencakup
kelainan dalam pemeriksaan darah atau urine atau dalam pemeriksaan pencitraan) dengan
laju filtrasi glomerulus (GFR) normal atau hampir normal tepat atau diatas 90 ml per
menit (lebih dari 75% dari nilai normal ).
Stadium 2 ; laju filtrasi glomerulus antara 60 dan 89 ml per menit( kira kira 50% dari
nilai normal), dengan tanda- tanda kerusakan ginjal. Stadium ini dianggap sebagai salah
satu tanda penurunan cadangan ginjal.nefron yang tersisa dengan sendirinya sangat
rentan mengalami kegagalan fungsi saat terjadi kelebihan beban. Gangguan ginjal lainnya
mempercepat penurunan ginjal.
Stadium 3 : laju filtrasi glomerulus antara 30 dan 59 ml per menit (25% -50% dari nilai
normal ). Isufisiensi ginjal dianggap terjadi pada stadium ini. Nefron terus menerus
mengalami kematian.
Stadium 4 :laju filtrasi glomerulus antara 15 dan 29 ml per menit ( 12%-24% dari nilai
normal ) dengan hanya sedikit nefron yang tersisa.
Stadium 5 : gagal ginjal stadium lanjut ; laju filtrasi glomerulus kurang dari 15 ml per
menit ( <12% dari nilai normal ). Nefron yang masih berfungsi tinggal beberapa.
Terbentuk jaringan parut dan atrofi tubulus ginjal.

Gagal ginjal juga digolongkan menjadi gagal ginjal akut, yang terjadi mendadak dan biasanya
reversible , atau gagal ginjal kronis, yang terkait dengan hilangnya fungsi ginjal ynga progresif
dan irreversible.

D.

Gagal ginjal akut

Penyebab gagal ginjal akut dapat dibagi 3 kategori umum : prarenal,intrarenal, dan pascarenal.
Kegagalan prarenal adalah penyebab tersering gagal ginjal akut. Kegagalan prarenal terjadi
akibat keadaan yang tidak berkaitan dengan ginjal, tetapi yang merusak ginjal dengan
memengaruhi aliran darah ginjal. Penyebab prarenal gagal ginjal akut adalah segala sesuatu yang
17 GINJAL

menyebabkan penurunan tekanan darah sistemik yang parah yang menimbulkan syok, misalnya
infark miokardium, reaksi anafilaktik, kehilangan darah atau depresi volume yang berat ,luka
berat, atau sepsis (infeksi yang ditularkan melalui darah ).
Kegagalan intrarenal adalah jenis gagal ginjal akut yang terjadi akibat kerusakan primer jaringan
ginjal itu sendiri. Banyak sekali penyebab kegagalan itrarenal ini, diantaranya adalah
glomerulonefritis, pielonefritis, dan mioglobulinuria.
Kegagalan pascarenal adalah jenis gagal ginjal akut yang terjadi akibat kondisi yang
memengaruhi aliran urine keluar ginjal, dan mencakup cedera atau penyakit ureter, kandungan
kemih, atau uretra. Penyebab kegagalan pascarenal yang sering dijumpai adalah obstruksi.
Obstruksi dapat terjadi sebagai respons terhadap banyak faktor , termasuk batu yang tidak
diobati, tumor, infeksi berulang, hyperplasia prostat, atau kandung kemih neurogenik.
Gambara Klinis

Dapat terjadi oliguria trutama apabila kegagalan disebabkan oleh iskemia atau obstruksi.
Oliguria terjadi karena menurunkan GFR .
Nefrosis tubulus toksik dapat berupa non-oliguria ( haluaran urine banyak)dan terkait
dengan dihasilkannya volume urine encer yang adekuat.

Perangkat Diagnostik

Penyebab yang memicu gagal ginjal diidentifikasi melalui riwayat penyakit yang jelas.
Diagnosis dipastikan berdasarkan hasil laboratorium yang menunjukan azotemia
(peningkatan senyawa nitrogen dalam darah )
dan peningkatan BUN dan keratinin .
hasil laboratorium sering menunjukkan hiperkalemia ( peningkatan kalium dalam darah )
dan asidosis.

Komplikasi

retensi cairan akibat kegagalan fungsi ginjal dapat menyebabkan edema, gagal jantung,
kongestif , atau intoksikasi air.
Gangguan elektrolit dan pH dapat menimbulkan ensefalopati
Apabila hiperkalemianya parah ( lebih dari 6,5 millikuivalen per liter ), dapat terjadi
disritmia dan kelemahan otot.

Penatalaksanaan

Hal terpenting adalah pencegahan gagal ginjal akut. Individu yang mengalami syok harus
cepat diterapi dengan penggantian cairan untuk memulihkan tekanan darah.
Pemberian diuretic untuk meningkatkan pembentukan urine.
Vasodilator, terutama dopamine, diberikan untuk meningkatkan aliran darah ginjal.
18 GINJAL

E.

Pembatasan asupan protein dan kalium dari makanan sering di terapkan pada gagal ginjal
akut.
mungkin diperlukan terapi antibiotic untuk mencegah atau mengobati infeksi karena
tingginya angka sepsis pada gagal ginjal akut.
GAGAL GINJAL KRONIK

Gagal ginjal kronis adalah destruksi struktur ginjal yang progresif dan terus menerus. Pada
individu yang rentan, nefropati analgesic , destruksi papilla ginjal yang terkait dengan pemakaian
harian obat-obat analgesic selama bertahun-tahun dapat menyebabkan gagal ginjal kronis.
Kegagalan ginjal membentuk eritropoetin dalam jumlah yang adekuat sering kali menimbulkan
anemia dan keletihan akibat anemia berpengaruh buruk pada kualitas hidup.
Gambaran klinis

pada gagal ginjal stadium 1, tidak tampak gejala gejala klinis.


Sering dengan perburukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoetin menyebabkan
keletihan kronis dan muncul tanda tanda awal hipoksia jaringan dan gangguan
kardiovaskular.
Dapat timbul poliuria ( peningkatan pengeluaran urine) karena ginjal tidak mampu
memekatkan urine seiring dengan perburukan penyakit.
Pada gagal ginjal stadium akhir , pengeluaran urine turun akibat GFR rendah.

Perangkat Diagnostik

Radigraf atau ultrasound akan memperlihatkan ginjal uyang kecil dan atrofi.
Nilai BUN serum , keratinin, dan GFR tidak normal.
Hematokrit dan hemoglobin turun.
pH plasma rendah.
Peningkatan kecepatan pernafasan mengisyaratkan kompensasi pernafasan akibat
asidosis metabolik.

Komplikasi

Hipertensi, anemia, osteodistrofi, hiperkalemia, ensefalopati, uremik, dan pruritus adalah


komplikasi yang sering terjadi.
Penurunan pembentukan eritropoetin dapat menyebabkan sindrom anemia kardiorenal,
suatu trias anemia yang lama, penyakit kardiovaskular, dan penyakit ginjal yang akhirnya
menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas.
Dapat terjadi gagal jantung kongestif.
Tanpa pengobatan terjadi koma dan kematian.

Penatalaksanaan
19 GINJAL

Untuk gagal ginjal stadium 1,2,3 tuujuan pengobatan adalah memperlambat kerusakan
ginjal lebih lanjut, terutama dengan membatasi asupan protein dan pemberian obat-obat
antihipertensi. Inhibitor enzim pengubah angiotensin (ACE) terutama membantu dalam
memperlambat perburukan.
Pada stadium lanjut, terapi ditujukan untuk mengoreksi ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit
Pada penyakit stadium akhir, terapi berupa dialisis atau transplantasi ginjal.
Pada semua stadium pencegahan infeksi perlu dilaksanakan.

Bab.IV
KESIMPULAN
Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai
bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan
membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang mempelajari
ginjal dan penyakitnya disebut nefrologi

20 GINJAL

Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal
bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Ginjal
kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk hati.
Sistem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga
darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Fungsi ginjal memegang peranan yang sangat penting. Zat-zat yang
tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih).

DAFTAR PUSTAKA
Komara egi.etal.buku saku kedokteran Ed3.Jakarta:EGC.2009
Saiffuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta. Salemba Medika
Gibson John. 2003. Fisiologi dan Anatomi Modern untuk perawat. Jakarta. EGC
Pearce,Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta. Gramedia
21 GINJAL

http://www.docstoc.com/docs/44294891/American-Physiological-Society-Renal-PhysiologyRefresher-Course
http://www.mikrocom.co.uk/Exam/Anaesthetics/Physiology_Biochem/Renal/physiology.html
http://www.siumed.edu/~dking2/crr/rnguide.htm
http://www.zuniv.net/physiology/book/chapter17.html
Ward,Jerremy,dkk.2009.At Glance Fisiologi. Jakarta. Erlangga
Buduanto,A.2005. Guidance to AnatomyII. Surakarta:keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS
Ganong,W,F(1998). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 17. Jakarta:EGC
http://www.pediatricnursing.net/ce/2008/article04128135

22 GINJAL