Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
Dalam bidang kedokteran (manusia maupun hewan), uji-uji diagnostik merupakan salah
satu metode untuk menangani kasus penyakit. Berbagai uji
diagnostiktelahdikembangkan, baik yang didasarkan pada teknik kultur agen penyakit,
reraksi kimia/ biokimia maupun reaksi imunologik. Dengan berkembangnya teknologi
dalam bidang biologi molekuler, maka pengembangan uji-uji diagnostik mulai diarahkan
kepada teknologi tersebut yang menggunakan materi genetik sebagai dasar
pengujiannya. Materi genetik yang berupa asam nukleat baik DNA (Deoxy-ribose
Nucleic Acid) maupun RNA (Ribo Nucleic Acid) mengandung tiga komponen, yaitu: 1) basa (purin dan pirimidin); 2) gula (deoksiribosa untuk
DNA dan ribosa untuk RNA); dan 3) fosfat.
Basa purin yang terdapat pada DNA maupun RNA adalah sama, yaitu Adenine [A] dan
Guanine [G] sedangkan basa pirimidin berbeda, untuk DNA adalah Cytocine [C] dan
Thymine [T] dan untuk RNA kedudukan Thymine digantikan oleh Uracil [U]. Kedua
unsur basa tersebut (purin dan pirimidin) akan berpasangan membentuk kode-kode
genetik pada DNA maupun RNA melalui ikatan hidrogen (A akan berpasangan dengan T
[pada
DNA] atau A dengan U [pada RNA]; dan G dengan C). Unsur gula dan fosfat akan
membentuk struktur DNA dan RNA. DNA memiliki struktur rantai ganda sedangkan
RNA memiliki rantai tunggal. Struktur DNA lebih stabil bila dibandingkan dengan
RNA. Berdasarkan materi genetik tersebut, uji-uji diagnostik di- kembangkan melalui
teknik-teknik molekuler seperti hibridisasi dengan probe asam nukleat; polymerase
chain reaction (PCR), restriction fragment length polymorphism (RFLP) dan sekuensing
asam nukleat.
HIBRIDISASI
Mekanisme dasar di balik uji-uji diagnostik yang menggunakan probe asam nukleat
adalah hibridisasi. Teknik ini didasarkan pada perpaduan dua basa nukleotida dan rantai
asam nukleat yang komplementer (DNA dengan DNA atau RNA; dan RNA dengan
RNA). Teknik hibridisasi meliputi dua proses, yaitu proses denaturasi atau pemisahan
dua rantai asam nukleat yang komplementer dari proses renaturasi atau perpaduan
kembali dua rantai asam nukleat. Proses denaturasi biasanya dilakukan dengan cara
pemanasan DNA untuk memecah ikatan hidrogen yang terdapat di antara pasangan basa
sehingga rantai asam nukleat akan terpisah. Proses ini kemudian diikuti dengan proses
renaturasi dengan cara pendinginan. Uji-uji yang menggunakan hibridisasi
membutuhkan proses denaturasi dan fragmen asam nukleat yang tidak diketahui dan
memfiksasi fragmen tersebut pada bahan solid seperti filter nitroselulosa. Kemudian
suatu probe asam nukleat yang komplementer dicampurkan dengan fragmen asam
nukleat yang terdapat pada bahan solid tersebut pada kondisi yang mendukung terjadinya
hibridisasi. Proses hibridisasi dapat juga dilakukan dalam larutan (bukan bahan solid).
Baik DNA yang hendak didiagnosis (target) maupun probe dimasukkan dalam larutan
buffer. Kedua DNA tersebut bebas bergerak dan proses hibridisasinya berlangsung 510
kali lebih cepat danipada di bahan solid. Keadaan tersebut sangat penting dalam aplikasi

kebanyakan diagnostik mikrobiologi yang memiliki konsentrasi DNA target sangat


sedikit dan membutuhkan waktu diagnosis lebih cepat. Kondisi yang dapat
mempengaruhi apakah dua rantai asam nukleat akan berhibridisasi disebut stringency.
Kondisi stringency yang kuat akan mendukung perpaduan dua basa dari dua rantai yang
komplementer dengan tepat. Sedangkan kondisi stringency yang lemah akan
menyebabkan banyaknya perpaduan dua basa yang tidak sesuai di antara dua rantai asam
nukleat. Salah satu kondisi yang mempengaruhi hibridisasi adalah tipe asam nukleat yang
akan dihibndisasi. Perpaduan dua basa antara dua rantai DNA tidak sekuat pasangan basa
antara DNA dan RNA. Rantai asam nukleat yang lebih panjang dengan jumlah pasngan
basa yang komplementer lebih banyak akan berhibridisasi lebih kuat daripada rantai yang
pendek. Komposisi basa asam nukleat juga akan mempengaruhi hibridisasi, karena
pasangan basa G-C lebih kuat daripada pasangan A-T. Selain itu temperatur dan
kekuatan ionik buffer yang digunakan juga akan mempengaruhi reaksi hibridisasi. Probe
asam nukleat adalah suatu fragmen rantai tunggal dari DNA atau RNA yang
komplementer yang telah dilabel. Probe ini dapat dibuat sesuai dengan komposisi basa
yang terdapat pada gen dan suatu agen penyakit sehingga probe tersebut hanya dapat
berhibridisasi dengan gen dan agen penyakit tersebut dan secara spesifik akan mendeteksi
adanya agen penyakit. Ada berbagai cara untuk memperoleh dari melabel probe asam
nukleat. Sebuah gen dan agen penyakit yang akan dideteksi hams dimurnikan terlebih
dahulu, kemudian dilabel apakah dengan radioisotop seperti 32P atau dengan substansi
non-radio- isotop. Walaupun substansi non-radioisotop dan dapat disimpan dalam waktu
yang lebih lama. Sensitifitas uji diagnostik menggunakan probe yang dilabel dengan nonradioisotop dapat ditingkatkan dengan penggunaan PCR. Substansi non-radioisotop yang
paling sering digunakan sebagai label adalah biotin dan digoxigenin. Probe yang dilabel
dengan biotin akan dideteksi dengan menggunakan konjugat streptavidin-alkaline
phosphatase (atau enzim lain) dan pewarna yang sesuai untuk menghasilkan reaksi yang
berwarna seperti pada reaksi ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Untuk
probe yang dilabel dengan digoxigenin, konjugat antibodi terhadap digoxigenin dengan
berbagai enzim dapat digunakan dengan substrat yang sesuai untuk menghasilkan reaksi
berwarna. Bila antibodi terhadap digoxigenin dikonjugasikan dengan alkaline
phosphatase, substrat chemiluminescent dapat digunakan untuk menghasilkan reaksi
bercahaya, yang bila diekspos ke film sinar X akan memberikan metode deteksi yang
sensitif. Probe dapat juga dibuat dari oligonukleotida (biasanya terdiri dari 30-40
nukleotida) yang dibuat secara sintetik. Oligonukleotida tersebut dapat berupa fragmen
DNA rantai tunggal atau fragmen RNA yang dilabel. Probe asam nukleat dapat
digunakan pada hampir seluruh agen patogen, baik untuk digunakan dalam laboratonium
riset sebagai alat eksperimental atau untuk uji-uji diagnostik yang sifatnya komersial.
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Salah satu perkembangan teknik biologi molekuler yang sangat membantu dalam
pengembangan uji-uji diagnostik adalah PCR. PCR dapat mengamplifikasi DNA dan
jumlah yang sedikit menjadi jumlah yang dapat dideteksi/banyak. Adanya penemuan
DNA polymerase (Taq polymerase) yang stabil pada temperatur tinggi dan
pengembangan alat yang mengatur temperatur proses PCR secara otornatis, telah
membuat PCR dapat digunakan untuk uji-uji diagnostik secara praktis. DNA polymerase
adalah enzim yang dapat mensintesis rantai DNA yang baru dan DNA yang sudah ada.
Penemuan enzim yang tahan panas sangat membantu untuk mensintesis DNA barn,

karena tahap awal proses PCR dilakukan dengan cara pemanasan rantai DNA yang
sudah ada pada temperatur
90C. Untuk mengamplifikasi DNA dilakukan 30-40 kali siklus proses PCR. Satu siklus
terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap denaturasi pada temperatur 95C, tahap hibridisasi primer
pada temperatur 37 sampai 56C dan tahap polimerisasi pada temperatur 72C.
Secara umum, DNA yang akan diamplifikasi diapit oleh sepasang primer sintetik yang
merupakan potongan pendek dari DNA yang spesifik/komplementer yang berfungsi
sebagai
template dari DNA yang akan diamplifikasi. DNA target yang akan diamplifikasi
didenaturasi terlebih dahulu dengan pemanasan, kemudian primer ditambahkan pada
DNA target dan temperatur diturunkan agan terjadi proses hibridisasi. Bila tahap
polimerisasi dimulai, maka rantai DNA target yang terdapat di antara primer akan
diperbanyak menjadi dua rantai dengan panjang yang sama seperti DNA target. Dengan
adanya pengulangan tahap-tahap denaturasi, hibridisasi dan polimerisasi beberapa kali,
maka DNA target akan diperbanyak secana efektif. Bila enzim reverse transcriptase yang
mensintesis DNA dan template RNA, digunakan pada tahap awal proses PCR, maka
RNA ribosom dan genomik dan virus RNAjuga dapat diamplifikasi.
PCR dapat digunakan dalam uji-uji diagnostik untuk mengamplifikasi asam nukleat dan
agen-agen penyakit yang ada dalam jumlah sedikit sehingga sensitifitas uji dapat diting
katkan. DNA yang telah diamplifikasi selanjutnya diidentifikasi dengan teknik hibridisasi
yang rnenggunakan probe asam nukleat yang spesifik, atau dengan analisis restriction
fragment length polymorphism (RFLP) dan elektroforesis pada gel aganose atau
dengan cara sekuensing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Hibridisasi
Hibridisasi atau crossbreeding adalah teknik breeding yang digunakan untuk
memperbaiki produktifitas ketika tidak ada variasi ke A (VA) yang muncul dan juga sulit
atau tidak mungkin untuk mengubah fenotip melalui seleksi. Hibridisasi dapat
memperbaiki produktifitas pada variasi ke D (VD)
VD adalah variasi genetic yang dihasilkan oleh interaksi dari alel pada beberapa
lokus, karena itu disisi variasi genetik tergantung pada interaksi, dipisahkan selama
miosos dan tidak dapat diturunkan dari induk keturunannya. Hibridisasi disini dapat
dilakukan dengan mengawinkan antara dua individu yang berbeda rasa tau species.
Variasi dominansi genetic adalah variasi yang dihasilkan oleh beberapa generasi
dengan kombinasi yang berbeda dan biasa itu berdasarkan keberuntungan. Variasi ini
juga dapat disebabkan oleh perubahan bahan genetis terutama melalui mutasi.

2.2 Penggunaan Hibridisasi


a. Hibridisasi digunakan sebagai salah satu dari bebrapa cara untuk
memperbaiki populasi produktifitas, karena seleksi disini juga akan
menentukan.
b. Hibridisasi akan tergabung dalam seleksi program selama persilangan terakhir
pada hewan untuk grow out. Dalam kasus ini kita dapat memisahkan ikan
dalam dua batasan yang ditunjukkan pada hasil persilangan yang baik setelah
seleksi program, baru hibridisasi dapat dilakukan.
c. Hibridisasi digunakan untuk memperoleh jenis baru.
d. Hibridisasi digunakan untuk menghasilkan keturunan yang seragam, karena
metodenya yang efisien.
e. Hibridisasi digunakan untuk memperoleh populasi yang monosex.
f. Hibridisasi digunakan untuk menghasilkan keturunan sebagai cadangan dalam
ekosistem air yang digunakan untuk mempertahankan populasi yang tak
mampu lagi bereproduksi sendiri.

2.3 Perencanaan Crossbreeding atau Hibridisasi


Banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalm rekayasa genetika ikan dengan cara
perkawinan silang (crossbreeding). Oleh karena itu, perencanaan dalam crossbreeding
harus dilakukan secara matang. Hal-hal yang harus diperhatikan itu adalah:
a. Phylogenetik ikan, yaitu batas kesamaan takson dua jenis ikan yang
memungkinkan untuk dikawinkan. Semakin dekat kekerabatan dua jenis ikan,
maka kemungkinan keberhasilan rekayasa ini lebih besar. Contoh, dua spesies
ikan yang berbeda tapi mempunyai genus yang sama akan lebih berhasil
dikawinkan daripada spesies ikan yang hanya mempunyai kesamaan familinya.
b. Kariotif species, yaitu kesamaan karfotif dua species ikan yang akan dikawinkan.
Ini terutama untuk crossbreeding antara species (inter species). Ikan ini
mempunyai kariotif yang berbeda juga dikawinkan akan mempunyai
kemungkinan sangat kecil untuk berhasil.
c. Tingkah laku biologis ikan dan reproduksi ikan yang akan dikawinkan, hal ini
perlu diperhatikan karena kita tidak akan dapat mengawinkan ikan yang
mempunyai perbedaan waktu (bulan) pemijahan dan perbedaan habitat yang
digunakan untuk memijah. Contoh, ikan yang memijah pada bulan juni. Ikan yang
memijah diair tenang sulit untuk dikawinkan dengan ikan yang memijah diair
yang mengalir.
d. Kesalahan manusia, untuk mencapai suatu kesalahan dalam crossbreeding ini kita
harus berusaha semaksimal mungkin untuk menekan kegagalan walaupun hasil
crossbreeding pada umumnya ditentukan oleh kebruntungan.

2.4 Seleksi
Seleksi adalah program breding yang dilakukan secara individu atau famili induk
diseleksi berdasarkan keunggulannya untuk memperoleh perubahan rata 2 fenotif
kuantitatif suatu populasi pada generasi berikutnya (berat, panjang, warna).
Program untuk mengeksploitasi Va, proporsi variansi adiftif (Va) terhadap variansi
populasi disebut Heretabilitas (h2 = Va/ VP),Heretabilitas sebagai dasar untuk mentukan
faktor apa yang berperan sebagai pengontrol dan model seleksi. Nilai heretabilitas juga
menentukan prosentasi keberhasilan program seleksi,
respon seleksi dapat diitung dari rumus:
R= Sh2 = I d h2.
Populasi dengan nilai (d) &CV, h2 (>) mudah diseleksi.
Sedang SD & CV, h2 (<)
sulit untuk dilakukan seleksi.
Tujuan untuk mendapatkan nilai ekonomis dari spesies,
misalnya : - ikan konsumsi seleksi berdasarkan pertumbuhan,
- ikan hias berdasarkan penonjolan warna (kualitatif)

2.4. a Menentukan Model Seleksi


Menentukan parameter seleksi, bagian mana yang tidak diikutkan dalam program
breeding (culling) berdasarkan nilai. Nilai SD dan Coofesien varian (cv) ; sebagai dasar
apakah populasi memiliki varaisi fenotif, serta Seberapa besar prosentasi populasi yang
bisa digunakan untuk program breeding
Populasi dengan nilai SD &CV yang besar memiliki diferential seleksi yang
besar, sedang SD & CV kecil nilai diferensial seleksinya kecil sehingga sulit untuk
mendapatkan keberhasilan dalam program seleksi.
Nilai SD juga memberikan indikasi intensitas seleksi yang diperlukan untuk
mencapai tujuan seleksi yang akan kita lakukan
Hal yang perlu di perhatikan dalam seleksi fenotif kualitatif. Bila fenotif di kendalikan
oleh genotif yang homozigot maka sekali seleksi dapat menghasilkan populasi tangkaran
murni. Bila fentif dikendalikan olah dua atau lebih genotif, seleksi tidak dapat
menghasilkan pop tangkaran murni, perlu uji progeni untuk memantapkan fenotif dan
baru dpt tangkaran murni.
Bila fenotif yang dikendalikan oleh genotif yang heterozigot, no program tangkaran
yang dapat menghasilkan pop tangkaran murni, tp dengan cross 2. fen yg homozigot tsb,
dgn pengulangan prosedur.
Seleki fenotif kuantitatif dikendalikan oleh banyak gen (poligenik). lebih sulit dan
membutuhkan pengetahuan dan teknologi serta pencatatan data yang baik, dan kontiyu
dan apabila terhenti hasil yang diperoleh dapat hilang kembali.
Metode seleksi fenotif kuantitatif : 1. S individu
2. S famili.
Seleksi individu.
Seleksi ini dapat dilakukan secara sederhana. dimulai dari populasi dasar yang memilii
keragaman genetik yang tinggi .
Seleksi famili
apabila h2 kecil atau karena Ve membuat bias atau keraguan terhadap perbedaan genetik
dan bila seleksi individu sudah tidak efektif. Seleksi individu butuh beberapa kolam saja,
seleksi family butuh banyak kolam, sesuai spesies dalam satu famili.
Efek seleksi yang asalsalan (unidentional selction):
1. bisa menghilangkan gen pool dari populasi,merugikan bisa menyebabkan tingkat
survival dan daya reproduksi rendah
2. eleminasi alel, misalnya , alel ketahanan penyakit, pertumbuhan, serta kegagalan
program seleksi yang mengunakan ikan tersebut.
untuk menghindari efek unidentional selection maka:
3. mengawinkan ikan pada saat musim pemijahan.
4. mengawinkan ikan semua ukuran.

2.4.b Seleksi Hibridisasi


Peningkatan produksi perikanan:
1. Keberhasilan intensifikasi
2. peningkatan kualitas benih
Hibridisasi, seleksi dan . Selektif breeding.
Sifat fenotif terdiri:
1.Fenotif kualitatif meliputi sifat sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan
warna, pola sisik, type sisik.
2. Kuantitatif fenotif adalah suatu yang terukur bukan sesuatu yang bersifat deskriftif
pertumbuhan, panjang sirip dorsal, fekunditas, hacthybilitas dll. Analisis statistik fenotif
kuantitatif terdiri atas : X, SD, CV. Kuantitatif fenotif dipengaruhi,
eksperesi 2, 20,50,100,1000 gen, faktor lingkungan.
VP = VG + Ve + VG-e
VG = Va + Vd +V1
Vp = Va + Vd + Vi+ Ve +
VG-e
VP = Variasi populasi
VG = Genetic varience
Ve = enviromental varience
Va = Additive Genetic
varience
Vd = Dominance Genetic
varience
V1 = epistatik genetik
varience
VG-e = Interaction Genetic
varience & enviromental
varience
Performen spesies yang sama dapat berbeda bila berada dalam lingkungan yang
berbeda
Genetik dominan : suatu alel yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap alel lain.
Variasi d adalah variasi akibat dominasi suatu alel terhadap alel lainnya .
ex : Aa X Aa
AA
Aa
aa
genetik adiftif : kedua alel memiliki pengaruh yang sama, atau merupakan efek lain
dari keberadaan beberapa alel.
G G X GG
G G
G G GG
Va terbentuk karena jumlah semua efek dari tiap alel yang membantu terbentuknya
suatu fenotif.
Genetik epistatik kombinasi dari 2 atau lebih alel yang berbeda menghasilkan fenotif
tertentu.
a. SsNn x Ss Nn
SSnn, Ss nn
Ss nn SsNN, SsNn ssnn
b. V1(Variasi epistatik) terjadi akibat interaksi alel dari dua atau lebih loci yang menjadi
kombinasinya
c. V1 sulit untuk di eksploitasi karena,sulit mengukur nilai V1 (kurang informasi) dan
belum diketahui alel alel yang menjadi kombinasinya secara keseluruhan. . Komponen
fenotif kuantitatif dalam ekploitasi genetik adalah : Vd, Va.
a. Va di eksploitasi dengan seleksi b. Vd diekploitasi dengan hibridisasi.

2.4.c Seleksi Ulang


Seleksi ulang digunakan untuk menentukan kemungkinan kombinasi ikan (perkasinan)
atau untuk menentukan kombinasi khusus yang diinginkan. Seleksi ini jug adapt
digunakan untuk memperbaiki hasil perkawinan. Contoh, pada budidaya ikan nila
(monosex) secara interaktif dibutuhkan ikan yang berkelamin jantan agar produksinya
maksimal. Perkawinan pada ikan nila ini banyak menghasilkan ikan yang berkelamin
betina. Untuk mengurangi hasil yang berkelamin betina maka dilakukan seleksi ulang
timbal bali.

2.4.d Penentuan Heritabilitas


Nilai fenotif kuantitatif untuk suatu parameter dalam populasi membentuk pola
distribusi normal
h2 = Va/ VP
Heretabilitas menunjukkan besarnya pengaruh variasi adittif, semakin besar nilai
variasi adiftif, maka nilai heretabilitasnya akan semakin besar. Semakin tinggi nilai h2
semakin besar respon seleksi yang kita ingginkan
R = S. h2
h2 = R/ S
Respon seleksi dapat ditingkatkan dengan :
a. meningkatkan nilai S
b. meningkatkan nilai h2
c. Menurunkan waktu interval antar generasi.

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Tanki fiber glass volume 1m3 air untuk wadah
pemeliharaan induk ikan
Aerator dan perlengkapannya untuk suplai oksigen
Serok untuk mengambil induk ikan
Mistar dan timbangan untuk mengukur panjang dan
berat tubuh iinduk ikan
Aquarium kecil dan besar untuk pemeliharaan larva dan
benih ikan
Heater sebagai alat stabilisasi suhu air
3.2 Bahan

BAB IV
PEMBAHASAN
5.1 Langkah Kerja
Betina: Ikan Ar ar
Jantan: Ikan Mas
5.1.a. KontroI
1. Mengambil sel telur Ar ar dan menyimpan didalam petridish.
2. Menghitung jumlah sel telur.
3. Mengambil sperma ikan Mas dan memasukkan kedalam petridish yang berisi sel telur.
4. Mengaduk petridish yang berisi sperma ikan Mas dan sel telur Ar ar dengan bulu ayam
selama
satu menit.
5. Memasukkan sel telur Ar ar yang telah dicampur sperma Mas kedalam saringan yang
direndam setengah bagian.
6. Mengecek perkembangan larva ikan secara berkala.

5.2 Pengolahan data

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Ginogenesis, triploidisasi, dan hibridisasi merupakan teknik rekayasa genetika
dengan cara buatan (tidak alami) dengan tujuan untuk menghasilkan keturunan yang kita
inginkan. Pada ginogenesis dihasilkan individu yang seluruhnya betina, pada triploidisasi
menghasilkan individu yang bersifat triploid dan steril namun pertumbuhannya cepat, dan
pada hibridisasi untuk menghasilkan warna yang dominan.
Kejutan panas dalam ginogenesis dan triploidisasi merupakan teknik yang dipakai
dalam praktikum ini. Pada dasarnya dalam praktikum yang kami lakukan hampir
berhasil, namun karena banyak faktor diantaranya faktor lingkungan, seperti kualitas air
serta aerasinya yang kurang diperhatikan setelah terjadi pembuahan, sehingga setelah
pembuahan hanya sedikit sekali yang mengalami penetasan. Selain itu juga dalam setiap

takaran NaCl yang dibutuhkan mungkin terlalu banyak bila dibandingkan dengan sperma
yang dicampur, sehingga telur kebanyakan meresap NaCl nya dibandingkan dengan
sperma dari induk jantannya.
Berdasarkan dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :
1. Untuk mendapatkan hibrida hibrida yang unggul ataupun memproleh benih
yang baik, dibutuhkan induk yang baik pula baik dari jantan maupun betina guna
menghasilkan sperma dan telur dengan kusntitas dan kualitas yang baik.
2. Selain itu, untuk mendapatkan atau mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi dan
juga memuaskan perlu dibutuhkan penanganan yang tepat dan sesuai dengan
prosedur dalam setiap perlakuan seperti dalam Ginogenesis, Triploidisasi, maupun
control hybrid (Hibridisasi).
3. Praktikan mampu untuk mempelajari dan mengetahui effek perlakuan dengan
Ginogenesis, Triploid (3n), dan control hybrid (Hibridisasi). Dengan ke-3
perlakuan pemijahan
Setelah kelompok kami melakukan percobaan terhadap beberapa jenis ikan
dengan beberapa teknik yaitu triploidisasi, hibridisasi, dan ginogenesis. Kelompok kami
menyimpulkan bahwa ada beberapa keuntungan dari percobaan yang kami lakukan antara
lain adalah :
1. Keuntungan Triploidisasi
Triploidisasi merupakan salah satu metode manipulasi kromosom untuk perbaikan
dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang
mempunyai keunggulan, antara lain :
1. Menghasilkan individu-individu yang unggul dan sterilitas.
2. Ukuran sel ikan triploid lebih besar dibandingkan dengan diploid.
3. Mengontrol overpopulate.
4. Membuat populasi monosex.
5. Memacu pertumbuhan dan kelulushidupan serta memiliki pertumbuhan
lebih cepat dari pada diploid, karena energi yang dipergunakan untuk
perkembangan gonad pada diploid dipergunakan pada pertumbuhan
somatic pada triploid.
6. Toleransi terhadap lingkungan.

7. Resisten terhadap penyakit.


2. Keuntungan Hibridisasi
Kuntungan dari Hibridisasi itu sendiri yaitu :
1. Dapat menghasilkan strain baru yang memiliki keunggulan dibandingkan
dengan tetuanya dalam peningkatan kecepatan pertumbuhan.
2. Ketahanan hidup
3. Rasio seks.
3. Keuntungan Ginogenesis
Kuntungan dari Ginogenesis itu sendiri yaitu :
1. Untuk memperpendek masa pemurnian.
Pemijahan dengan cara ginogenesis akan menghasilkan selurunya berkelamin jantan.

5.2 Saran dan Rekomendasi


5.2.a Saran
Sesuatu ilmu tanpa adanya penerapan maka sia-sialah ilmu yang telah kita dapat
selama ini, dengan adanya salah satu bukti laporan yang kami buat mudah-mudahan
dapat di jadikan acuan atau motivasi untuk terus meningkatkan kinerja dari aplikasi teori
yang selama ini kita dapat. Dengan ilmu yang telah kita dapat dapatkan dan langsung
diaplikasikan maka akan terasa berarti suatu ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Tidak ada yang sempurna di dunia, dari laporan yang kami buat tidak terlalu baik,
maka kami mminta saran yang membangun untuk kelancaran laporan yang lebih lengkap
dan baik dari sebelumnya.
5.2.b Rekomendasi
Adapun rekomendasi atau saran yang kami berikan diantaranya :

1. Untuk praktikan, dalam setiap perhitungan perlu ketelitian dan kecermatan yang
sangat tinggi guna mendapatkan data yang sangat akurat.
2. Untuk praktikan, dalam setiap perlakuan diperlukan kecermatan guna memproleh
hasil yang memuaskan.
3. Untuk penyediaan alat maupun bahan praktikum perlu ditingkatkan agar
praktikum dapat berjalan lancar.

DAFTAR PUSTAKA