Anda di halaman 1dari 16

A.

LK1 Pengertian Dan Konsep Tanah

1. Pengertian Tanah
Menurut Marbut (ahli tanah Amerika Serikat)
Tanah adalah bagian terluar dari kulit bumi yang biasanya dalam keadaan lepas - lepas,
lapisannya bisa sangat tipis dan bisa sangat tebal, perbedaannya dengan lapisan di
bawahnya adalah hal warna, struktur, sifat fisik, sifat biologis, komposisi kimia, proses
kimia dan morfologinya.
Menurut Hilgard (ahli tanah dari Amerika)
Tanah adalah material lepas - lepas dan agak kering yang dipakai untuk tempat akar
tanaman dalam mencari makanan dan sarana pertumbuhan tanaman.
Menurut Henry D. Foth
Pada bukunya yang berjudul Dasar-dasar Ilmu Tanah, tanah dapat diartikan sebagai
bagian permukaan terpisah dari bumi dan bulan sebagaimana dibedakan dari batuan
yang padat.

2. Konsep tanah
A. Tanah sebagai pijakan bumi
Bahwa tanah merupakan salah satu faktor pendukung bagi makhluk hidup untuk
melakukan aktivitas.
B. Tanah sebagai Medium Untuk Pertumbuhan Tanaman
-

Penunjang

Unsur-unsur Hara yang Esensial

Kebutuhan Tumbuhan Akan Air

C. Tanah sebagai Mentel Batuan yang Lapuk


Ahli geologi menjadi tertarik pada tanah sebagai produk pelapukan (hasil tambang,
minyak bumi).
D. Tanah sebagai Campuran Bahan

Konsep tanah sebagai bahan campuran berguna dalam membahas tanah sebagai bahan
teknik, tanah sebagai system 3 fase, dan tanah sebagai produk buatan pabrik.
-

Konsep Tanah Teknik

Tanah sebagai system 3 fase : padatan, cairan dan gas

Tanah Sebagai Produk Buatan Pabrik

E. Tanah sebagai Sumber Daya Alam


Tanah sebagi penyangga (buffer) ekosistem di alam.

3. Horizon Tanah
Ada beberapa horizon tanah yang dikenal dalam ilmu tanah, yaitu: horizon A, B, C, dan
R. profil tanah biasanya terdiri atas dua atau lebih horizon utama. Berikut ini merupakan
penjelasan dari berbagai horizon tanah:

Horizon O: horizon organic tanah-tanah mineral. Horizon ini didominasi oleh bahanbahan organic segar atau bahan-bahan organic yang sudah dilapuki.

Horizon A: Horizon-horizon yang bahan organiknya terbentuk dan terakumulasi di


permukaan tanah.

Horizon B : Horizon terbentuk dari akumulasi liat silikat, besi alumunium atau humus,
baik sendiri-sendiri ataupun akumulasinya. Bahan bahan ini berasal dari horizon A.

Horizon C : Yaitu lapisan mineral yang tidak atau sedikit sekali memiliki sifat-sifat
horizon A dan B

Horizon R : Terdiri atas batu-batuan di bawah tanah seperti batuan granit, batuan pasir
atau batuan kapur.

4. Proses Pemisahan Horizon Tanah


Proses differensiasi atau pemisahan horizon sangat berkaitan dengan beberapa
hal,yaitu:
a. Penambahan (ke dalam tanah) Misalnya:

Air dari curah hujan

Embun atau kondensasi

O2 dan CO2 dari atmosfer

N,Cl, adan S dari atmosfer dan curah hujan.

Bahan organic dari aktifitas biologis

Energy dari matahari

b. Kehilangan (di dalam tanah). Misalnya:

Air melalui proses evpotranspirasi

N melalui proses denitrifikasi diubah bentuknya dari senyawa organic menjadi


anorganik.

CO2 darioksida bahan organic yang merupakan hasil perombakan mikrobiologis.

Kehilangan tanah melalui proses erosi

Kehilangan energy oleh radiasi

5. Bahan penyusun Tanah


1. Mineral anorganik 45%
2. Air 25 %
3. Udara 25 %

4. Bahan Organik 5%

B. LK 2 Pengertian Sampah, Sumber Sampah, Jenis Sampah dan Karakteristik Sampah

1. Pengertian sampah
a. Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak
terjadi dengan sendirinya
b. Menurut Depkes RI (1987:2) Sampah adalah benda ynag tidak dipakai, tidak
diingini dan dibuang, yang berasal dari suatu aktivitas dan bersifat padat, tidak
termasuk buangan yang bersifat biologis.
c. Dalam kamus lingkungan (1994) dinyatakan bahwa Pengertian Sampah adalah
bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara
biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat
selama manufaktur; atau materi berkelebihan atau buangan.
d. Dalam buku ilmu kesehatan masyarakat sampah adalah seseuatu bahan atau
benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan
dibuang.
2. Sumber-sumber Sampah
a. Sampah rumah tangga (sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga
bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/halaman, dan lain-lain)
b. Sampah pertanian dan perkebunan (tergolong bahan organik, seperti jerami dan
sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar
atau dimanfaatkan untuk pupuk.)
c. Sampah sisa bangunan dan konstruksi gedung (bisa berupa bahan organik
maupun anorganik. Sampah Organik, misalnya: kayu, bambu, triplek. Sampah
Anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca,
dan kaleng.)

d. Sampah Industri (berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan


perlakuan khusus sebelum dibuang.)
e. Sampah Perdagangan dan perkantoran (terdiri dari kardus, pembungkus, kertas,
dan bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran. Atau biasanya
terdiri dari kertas, alat tulis-menulis (bolpoint, pensil, spidol, dll), toner foto
copy, pita printer, kotak tinta printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium,
pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain.)
3. Jenis-jenis Sampah
Berdasarkan Sumbernya:

Sampah alam

Sampah manusia

Sampah konsumsi

Sampah nuklir

Sampah industri

Sampah pertambangan
Berdasarkan sifatnya:
-

Sampah organic dapat diurai (degradable)

Sampah anorganik tidak terurai (undegradable)

Berdasarkan Bentuk:
sampah padat: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dll
sampah cair:Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak
diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
sampah alam: Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui
proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai
menjadi tanah.
sampah manusia: istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan
manusia, seperti feses dan urin.

sampah konsumsi: Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh


(manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke
tempat sampah.
limbah radioaktif: Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang
menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan
juga manusia.
4. Karakteristik Sampah
a. Garbage: jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan atau sayuran
dari hasil pengolahan yang sebagian besar terdiri dari zat-zat yang mudah
membusuk, lembab, dan mengandung air bebas.
b. Rubbish: terdiri dari sampah yang dapat terbakar atau yang tidak dapat terbakar
yang berasal dari rumah-rumah, pusat-pusat perdagangan, kantor-kantor dan,
tapi tidak termasuk garbage.
c. Ashes (abu): sisa-sisa pembakaran dari zat-zat yang mudah terbakar baik di
rumah, di kantor, dan industri.
d. Street Sweeping (Sampah Jalanan): berasal dari pembersihan jalan dan trotoar
baik dengan tenaga manusia maupun tenaga mesin yang terdiri fari kertas-kertas
dan daun-daunan
e. Dead Animal (Bangkai Binatang): bangkai-bangkai yang mati karena alam,
penyakit atau kecelakaan.
f.

Household Refuse (Sampah Rumah Tangga): terdiri dari rubbish, garbage, dan
ashes yang berasal dari perumahan.

Komposisi Kandungan sampah


No

komponen

Organik

73,98

47,08

674,57

Kertas

10,18

4,97

235,55

Kaca

1,75

Plastik

7,86

2,28

555,46

Logam

2,04

Kayu

0,98

0,32

38,28

Kain

1,57

0,63

42,64

Karet

0,55

0,02

7,46

Baterai

0,29

10

Lain - lain

0,86
55,3

1553,96

Total

100

Kadar air (%)

N. kalor (kkal/kg)

C. LK3 TIMBULAN SAMPAH


1. Pengertian
a. Timbulan sampah adalah volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan
dari jenis sumber sampah di wilayah tertentu per satuan waktu (Departemen
PU, 2004).
b. Timbulan sampah biasanya dinyatakan dalam (Damanhuri, 2004) :
c. Satuan berat : kilogram per orang per hari (kg/o/h), kilog
kilogram per meterpersegi bangunan per hari (kg/m2/h) atau kilogram per tempat tidur per hari
(kg/bed/h).

d. Satuan volume : liter per orang per hari (l/o/h), liter per meter-persegi
bangunan per hari (l/m2/h) atau liter per tempat tidur per hari (kg/bed/h).
e. Di Indonesia umumnya menerapkan satuan volume. Penggunaan satuan
volume dapat menimbulkan kesalahan dalam interpretasi karena terdapat
faktor kompaksi yang harus diperhitungkan.
2. Faktor-faktor yang memperngaruhi timbulan sampah
a. Lokasi Geografi
Lokasi

geografi

terutama

berhubungan

dengan

iklim

yang

dapat

mempengaruhi jumlah maupun jenis limbah padat yang dihasilkan, sehingga


akan berpengaruh pada metode pengumpulan.
b. Musim dalam setahun
Musim akan berpengaruh pada kuantitas serta jenis limbah misalnya musim
buah mangga, durian, dll.
c. Frekuensi pengumpulan
Frekuensi pengumpulan berpengaruh terhadap banyaknya sampah yang
dapat ditangani.
d. Jenis bangunan yang ada
Jenis bangunan yang ada akan menentukan macam jenis dan besarnya
timbulan sampah seperti perkantoran, pasar, industri dll.
e. Tingkat aktivitas
Jumlah sampah yang timbul pada setiap bangunan berhubungan dengan
tingkat aktifitas orang - orang yang menggunakan misalnya pabrik gula,
bangunan pasar dll.
f. Iklim
Pada daerah banyak hujan, umumnya mempunyai jenis tumbuhan yang lebih
lebat daripada musim kering.
g. Musim
Setiap pergantian musim akan berganti pula jenis sampah yang timbul akan
berbeda pula volumenya dan saat itu timbul fluktuasi volume sampah

h. Kepadatan Penduduk Dan Jumlah Penduduk


Dikota besar makin padat penduduknya makin besar pula sampah yang
dihasilkan sehingga berbeda pula jumlah peralatan yang diperlukan.

3. Tempat yang menjadi sumber timbulan sampah


a. Pemukiman
Perumahan teratur dengan kriteria :
Rumah-rumah yang dibangun denagn susunan rapi dan teratur dilengkapi
dengan infrastruktur kota
Jalan yang dapat dilalui kendaran pengumpulan dan pengangkut.
Kondisi rumah yang umumnya permanen.
Tingkat penghasilan masyarakat yang relatif tinggi dan sedang.
Kepadatan penduduk relatif kurang padat sekitar < 50 jiwa/Ha.
Perumahan tidak teratur dengan kriteria :
Rumah dengan susunan tidak rapi dan tidak teratur.
Jalan yang relatif sempit sehingga tidak dapat dilalui kendaraan pengumpul
dan pengangkut.
Kondisi perumahan pada umumnya bersifat non-permanen
Tingkat penghasilan relatif rendah.
Kepadatan penduduk relatif tinggi > 50 jiwa/Ha.
b. Daerah komersial (pasar dan pertokoan)
c. Perkantoran
Daerah perkantoran wilayah kota yang berkonsentrasi didaerah pertokoan
dan sekitarnya yang menjadikan pusat kota, dengan kegiatan perdagangan
yang meliputi: Kabupaten atau kotamadya dan kantor aparat Pemda
lainnya,Bank,Telekomunikasi,ABRI dll
d. Jalan dan tempat umum (yang meliputi : Jalan- jalan utama/arteri,Kawasan
selokan ditepi jalan, Taman-taman,Gedung sekolah dll)

4. Pengelolaan timbulan sampah


1. Pemilahan
2. Pewadahan
3. Pengumpulan
4. Pengangkutan
5. Daur Ulang
6. Composting
7. Biogas
8. Incinerator
9. Landfill

D. LK4 Limbah RS dan Limbah B3


1. Pengertian
Limbah merupakan sisa hasil dari suatu kegiatan. Limbah rumah sakit adalah semua
limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit. Limbah harus dikelola dengan baik
agar tidak mencemari lingkungan. Menurut Permenkes no 1204 th 2004 mengenai
Persyaratan Lingkungan Rumah Sakit, RS wajib melakukan pengelolaan limbah.
Pengelolaan limbah yang baik akan mengurangi dampak penularan penyakit dan
efek negatif dari alat / bahan yang digunakan dalam mendukung kegiatan di Rumah
Sakit.
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit
dalam bentuk padat, cair, dan gas yang mengandung mikroorganisme pathogen,
bersifat infeksius, bahan kimia berbahaya dan sedikit bersifat radioaktif.
2. Jenis- jenis limbah rumah sakit
a. Limbah medis (limbah yang langsung dihasilkan dari kegiatan diagnosis
maupun tindakan medis terhadap pasien. Limbah ini bisa berwujud padat,
cair dan radioaktif). Kategorinya:

Limbah benda tajam seperti jarum suntik, perlengkapan intravena,


pipet Pasteur, pecahan gelas, dan lain-lain.

Limbah infeksius. Limbah infeksius adalah limbah yang berkaitan


dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan
intensif) dan limbah laboratorium. Limbah patologi. Limbah ini

merupakan limbah jaringan tubuh yang terbuang dari proses bedah


atau autopsi.

Limbah sitotoksik, yaitu bahan yang terkontaminasi selama peracikan,


pengangkutan, atau tindakan terapi sitotoksik.

Limbah farmasi, merupakan limbah yang berasal dari obat-obatan


yang kadaluarsa, obat-obat yang terbuang karena tidak memenuhi
spesifikasi dan lain lain
Limbah kimia yang dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan
medis, laboratorium, proses sterilisasi dan riset.
Limbah radioaktif,
yaitu
limbah
yang
terkontaminasi
dengan radioisotop yang berasal dari penggunaan medis atau
riset radionukleotida.
b. Limbah nonmedis (limbah yang dihasilkan dari selain kegiatan medis di
rumah sakit). Bisa berwujud padat yang berasal dari ruang kantor
administrasi, ruang tunggu, ruang rawat inap, unit gizi/dapur, unit pelayanan,
halaman parkir atau taman. Yang berwujud cair berasal dari kloset / WC,
dapur, lavatory berupa tinja, air bekas mandi, air bekas cucian pakaian
pasien/selimut dll.
c. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari
kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroba pathogen,
infeksus, bahan kimia, dan radio aktif, serta darah yang berbahaya bagi
kesehatan.
d. Limbah gas adalah semua limbah yang berasal dari gas yang digunakan di
rumah sakit. Limbah gas yang lain seperti sisa pembakaran incenerator,
dapur, generator, obat sitotoksis. Pembuangan melalui cerobong / saluran
khusus.
3. Jenis-jenis limbah rumah sakit (Shahib dan Djustina, 1998)
a. Limbah Klinik, Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin,
pembedahan dan di unit-unit resiko tinggi. Limbah ini mungkin berbahaya
dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum dan staff
rumah sakit.
b. Limbah Patologi, Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya
diotoklaf sebelum keluar dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi
label biohazard.
c. Limbah Bukan Klinik, Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau
kantong dan plastik yang tidak berkontak dengan cairan badan.

d. Limbah Dapur, Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor.
Berbagai serangga seperti kecoa, kutu dan hewan mengerat seperti tikus
merupakan gangguan bagi staff maupun pasien di rumah sakit.
e. Limbah Radioaktif, Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan
pengendalian infeksi di rumah sakit, pembuangannya secara aman perlu
diatur dengan baik.
4. Sumber limbah rumah sakit
a. Peralatan yang berada di rumah, seperti : Jaringan atau potongan tubuh
manusia, darah dan cairan tubuh yang lain termasuk janin, jarum, peralatan
infus, skalpel, pisau, potongan kaca, kantong urin, masker yang digunakan
setelah operasi, hingga obat-obatan yang sudah kadaluwarsa atau tidak
diperlukan lagi.
b. Air bilas, kultur laboratorium, limbah dari ruang isolasi, kapas, materi atau
peralatan yang tersentuh pasien yang terinfeksi, eksreta.
c. Perban atau pembungkus yang kotor, cairan badan, anggota badan yang
diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung urin dan produk darah.
d. Sisa-sisa makanan pasien yang tidak habis, air bekas mandi atau mencuci
peralatan rumah sakit, juga kertas-kertas pembungkus atau kantong dan
plastik yang tidak berkontak dengan cairan badan.
e. Labolatorium menghasilkan limbah seperti disinfektan yang tidak diinginkan,
pelarut, pengembang film, reagen dalam laboratorium uji yang bersifat
toksik.
5. Penyimpanan limbah
a. kantung-kantung dengan warna harus dibuang jika telah berisi 2/3 bagian.
Kemudian diikat bagian atasnya dan diberi label yang jelas
b. kantung harus diangkut dengan memegang lehernya, sehingga kalau
dibawa mengayun menjauhi badan, dan diletakkan di tempat-tempat
tertentu untuk dikumpulkan
c. petugas pengumpul limbah harus memastikan kantung-kantung dengan
warna yang samatelah dijadikan satu dan dikirim ke tempat yang sesuai
d. kantung harus disimpan di kotak-kotak yang kedap terhadap kutu dan
hewan perusak sebelum diangkut ke tempat pembuangannya.
6. Wadah Limbah Rumah Sakit
Penampungan dalam pengelolaan sampah medis dilakukan perlakuan standarisasi
kantong dan kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang bermacam
warna seperti telah ditetapkan dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992.
a. Kantong hitam : limbah umum
b. Kantong kuning : limbah yang harus diinsinerasi

c. Kantong kuning strip hitam : limbah yang sebaiknya diinsinerasi, tetapi dapat
dibuang ke landfill
d. Kantong biru muda : limbah yang harus disterilisasi
7. Dampak limbah Rumah sakit
Dapat membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu limbah berupa virus dan kuman
yang berasal dari laboratorium virology dan mikrobiologi yang sampai saat ini belum
ada alat penangkalnya hingga sulit untuk dideteksi. Limbah cair dan limbah padat
yang berasal dari rumah sakit dapat berfungsi sebagai media penyebaran gangguan
atau penyakit bagi para petugas, penderita atau masyarakat.
Dampak pencemaran secara langsung dirasakan adalah:
o timbulnya bau busuk karena degradasi limbah organik oleh mikroorganisme.
o menimbulkan kesan kumuh dan kotor, Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
akan menjadi pusat perkembangbiakan tikus dan serangga yang merugikan
manusia seperti lalat dan nyamuk. Penyakit-penyakit yang ditimbulkan
dengan perantaraan tikus, lalat dan nyamuk di antaranya adalah pest, kaki
gajah, malaria, demam berdarah dan sebagainya.
o dampak pencemaran udara tidak hanya berakibat langsung terhadap
kesehatan manusia, tetapi juga berpengaruh kepada hewan, tanaman dan
sebagainya.
8. Pengelolaan dan pembuangan limbah medis secara singkat:
a. Pengumpulan ( Pemisahan Dan Pengurangan )
b. Penampungan
c. Pengangkutan (pengangkutan internal dan eksternal)
d. Pengolahan dan pembuangan
e. Incinerator
9. Cara meminimalisasi limbah RS
a. House Keeping yang baik, usaha ini dilakukan oleh rumah sakit dalam
menjaga kebersihan lingkungan dengan mencegah terjadinya ceceran,
tumpahan atau kebocoran bahan serta menangani limbah yang terjadi
dengan sebaik mungkin.
b. Segregasi aliran limbah, yakni memisahkan berbagai jenis aliran limbah
menurut jenis komponen, konsentrasi atau keadaanya, sehingga dapat
mempermudah, mengurangi volume, atau mengurangi biaya pengolahan
limbah.
c. Pelaksanaan preventive maintenance, yakni pemeliharaan/penggantian alat
atau bagian alat menurut waktu yang telah dijadwalkan.

10. Pengertian limbah B3


o Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa
suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau
beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau
merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
o Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa
(limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability,reactivity,
dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau
membahayakan kesehatan manusia.
11. Jenis limbah B3
Berdasarkan sumber:
1. Primary sludge: limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan
awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah
menguap.
2. Chemical Sludge: yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
3. Excess activated sludge: limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn
lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari
hasil proses tersebut.
4. Digested sludge: limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested
aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil
dan banyak mengandung padatan organik.
Karakteristik Limbah beracun a.l:
Limbah mudah meledak
Limbah mudah terbakar
Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena
melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang
tidak stabil dalam suhu tinggi.
Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi
manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit
bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang
terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti

bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang
terkena infeksi.
Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada
kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0
untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang
bersifat basa.
12. Sumber-sumber Limbah B3
a. Industri farmasi
b. Industri logam
c. Industri kendaraan bermotor
d. Industri kimia
e. Industri tekstil
f. Industri kertas
g. Rumah sakit
h. Rumah tangga
13. Penangan limbah B3
a. Metode pengolahan secara kimia atau fisik
Proses pengolahan limbah B3 secara kimia atau fisik yang umumnya
dilakukan adalah stabilisasi/ solidifikasi. stabilisasi/solidifikasi adalah proses
pengubahan bentuk fisik dan sifat kimia dengan menambahkan bahan
peningkat atau senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil atau
membatasi pelarutan, pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah,
sebelum dibuang. Contoh bahan yang dapat digunakan untuk proses
stabilisasi/solidifikasi adalah semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik.
b. Metode pengolahan secara biologi
saat ini dikenal dengan istilah bioremediasi dan viktoremediasi. Bioremediasi
adalah penggunaan bakteri dan mikroorganisme lain untuk mendegradasi/
mengurai limbah B3. Sedangkan Vitoremediasi adalah penggunaan
tumbuhan untuk mengabsorbsi dan mengakumulasi bahan-bahan beracun
dari tanah. Kedua proses ini sangat bermanfaat dalam mengatasi
pencemaran oleh limbah B3 dan biaya yang diperlukan lebih muran
dibandingkan dengan metode Kimia atau Fisik.

14. Metode pembuangan limbah B3


a. Sumur dalam/ Sumur Injeksi (deep well injection)
Salah satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia
adalah dengan cara memompakan limbah tersebut melalui pipa kelapisan

batuan yang dalam, di bawah lapisan-lapisan air tanah dangkal maupun air
tanah dalam.
b. Kolam penyimpanan (surface impoundments)
limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat
untuk limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat
mencegah perembesan limbah.
c. Landfill untuk limbah B3 (secure landfils)
limbah B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus pengamanan tinggi.
Pada metode pembuangan secure landfills, limbah B3 ditempatkan dalam
drum atau tong-tong, kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus
untuk mencegah pencemaran limbah B3.
15. Cara meminimalisasi limbah B3
a. Reduksi pada sumber dengan pengolahan bahan.
b. Subsitusi bahan, yaitu mengganti penggunaan bahan yang memiliki potensi
menimbulkan limbah B3 dalam jumlah besar dan bersifat sangat toksik
dengan bahan yang memiliki potensi menimbulkan limbah B3 lebih rendah
dan kurang toksik dan bahkan tidak toksik
c. Pengaturan operasi kegiatan, yaitu mengatur jalannya proses produksi secara
sistematis dan terencana dengan mempertimbangkan pemilihan proses
produksi yang dapat mengurangi timbulnya pencemaran.
d. Penerapan teknologi bersih.