Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dalam dunia bisnis, informasi merupakan alat yang penting bagi

manajemen untuk membantu menggerakkan dan mengembangkan kegiatan


perusahaan.

Kelangsungan

hidup

dan

pertumbuhan

suatu

perusahaan

tergantung pada system informasi akuntansi manajemen (Mulyadi, 1993).


Dengan menggunakan informasi akuntansi manajemen, maka akan membantu
dalam pengambilan keputusan secara efektif, mengurangi ketidakpastian dan
mengurangi resiko dalam memilih alternative. Dengan menggunakan informasi
manajemen ini, bila dilakukan pengendalian manajemen. Hal ini disebabkan
informasi

akntansi

manajemen

menekankan

hubungan

antara

informasi

keuangan dengan manajer yang bertanggung jawab terhadap perencanaan dan


pelaksanaannya.
Break Even Point yang biasa disingkat dengan BEP, yang di Indonesia kita
kenal dengan TITIK IMPAS adalah suatu bentuk dari sekian banyak informasi
akuntansi

manajemen

yang

dipakai

menganalisa

hubungan

antara:

Revenue/Sales, Cost, Volume & Profit. Analisa break even point sangat penting
bagi pimpinan perusahaan untuk mengetahui pada tingkat produksi berapa
jumlah biaya yang akan sama dengan jumlah penjualan atau dengan kata lain
dengan mengetahui break even point kita akan mengerahui hubungan antara
penjualan, produksi, harga jual, biaya, rugi atau laba, sehingga memudahkan
bagi pimpinan untuk mengambil kebijaksanaan.
1.2

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1.

Ingin mengetahui pengertian break even point

2.

Ingin mengetahui manfaat break even point

3.

Ingin mengetahui jenis biaya berdasarkan break even point

4.

Ingin mengetahui cara menentukan break even point

5.

Ingin mengetahui margin of safety

Break Even Point (BEP)

Page 1

BAB II
TEORI
2.1 Pengertian Break Even Point
Break even point atau titik impas dapat diartikan sebagai suatu keadaan
dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak
menderita rugi (penghasilan = total biaya). (Munawir, 1986). Menurut Rosyandi
(1985) break even point merupakan titik produksi dimana hasil penjualan akan
tepat sama dengan total biaya produksi.
Munawir (1986) menyatakan bahwa analisa break even point merupakan
suatu analisa yang ditujukan untuk menentukan tingkat penjualan yang harus
dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan tersebut tidak menderita
kerugian (keuntungan=0). Melalui analisa BEP dapat dibuat perencanaan
penjualan, sekaligus perencanaan tingkat produksi, agar perusahaan secara
minimal tidak mengalami kerugian. Selanjutnya karena harus untung berarti
perusahaan harus berproduksi di atas BEP atau titik impas. (Rosyandi, 1985).
Analisis break even point digunakan untuk menentukan hal-hal sebagai
berikut: (1) jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar
perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti
juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat, (2) jumlah penjualan yang
harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan atau dapat
diartikan bahwa tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba
tersebut, (3) mengukur dan menjaga agar penjualan dan tingkat produksi tidak
lebih kecil dari BEP, dan (4) menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan
besarnya hasil penjualan atau tingkat produksi. Sehingga analisis terhadap BEP
merupakan suatu alat perencanaan penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat
produksi,

agar

perusahaan

secara

minimal

tidak

mengalami

kerugian.

Selanjutnya karena harus memperoleh keuntungan berarti perusahaan harus


berproduksi di atas BEP-nya (Prawirasentono, 1997).
Manfaat analisis BEP menurut Sutrisno (2000) adalah: (1) perencanaan
produksi dan penjualan sesuai target laba yang diinginkan, (2) perencanaan
harga jual normal atas barang yang dihasilkan untuk mencapai laba yang
Break Even Point (BEP)

Page 2

ditargetkan dengan memproyeksikan target penjualan, (3) perencanaan dan


pemilihan metode produksi yang digunakan dan (4) penentuan titik tutup pabrik
(shut down point), yaitu ketika penjualan tidak mampu menutup biaya variabel
dan biaya tetap tunai.
Dalam menggunakan analisis BEP, harus dipenuhi asumsi-asumsi dasar
sebagai berikut:
1. Biaya di dalam perusahaan digolongkan kedalam dua jenis biaya, yaitu
biaya variabel dan biaya tetap. Jika ada biaya semi variabel harus
dialokasikan kedalam dua jenis biaya tersebut.
2. Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah secara proporsionil
dengan volume produksi/penjualan. Ini berarti bahwa biaya variabel per
unitnya adalah tetap sama.
3. Besarnya biaya tetap secara total tidak berubah meskipun ada
perubahan volume produksi/penjualan. ini berarti bahwa biaya tetap per
unitnya berubah-ubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
4. Harga jual per unit tidak berubah selama periode analisis.
5. Perusahaan hanya memproduksi satu macam produk. Apabila diproduksi
lebih dari satu macam produk, perimbangan penghasilan penjualan
antara masing-masing produk harus tetap.

2.2

Manfaat Analisis Break Even Point


Analisis Break even secara umum dapat memberikan informasi kepada

pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan


tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Analisis
break even dapat membantu pimpinan dalm mengambil keputusan mengenai
hal-hal sebagai berikut:
a. Jumlah penjualan minimalyang harus dipertahankanagar perusahaan
tidak mengalami kerugian.
b. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan
tertentu.
c. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak
menderita rugi.
d. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan
volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

2.3

Jenis Biaya Berdasarkan Break Even (Titik Impas)

Break Even Point (BEP)

Page 3

Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:


1.

Variabel Cost (biaya Variabel)


Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai
dengan

perubahan

volume

penjualan,

dimana

perubahannya

tercermin dalam biaya variabel total. Dalam pengertian ini biaya


variabel

dapat

dihitung

berdasarkan

persentase

tertentu

dari

penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan penjualan


dalam unit.
2.

Fixed Cost (biaya tetap)


Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak
terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan
waktu(function of time) sehingga jenis biaya ini akan konstan selama
periode tertentu. Contoh biaya sewa, depresiasi, bunga. Berproduksi
atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap dikeluarkan.

3.

Semi Varibel Cost


Semi variabel cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan
sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost.
Biaya yang tergolong jenis ini misalnya: Sales expense atau komisi
bagi salesman dimana komisi bagi salesman ini tetap unutk range
atau volume tertentu, dan naik pada level yang lebih tinggi.

2.4

Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas


Break even point adalah titik dimana perusahaan belum memperoleh

keuntungan tetapi juga tidak dalam kondisi rugi, maka Break Even Point dapat
kita formulasikan secara sederhana sebagai berikut:
BEP -> TR = TC
TR = Total Revenue
TC = Total Cost
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan Sales, Cost,
Volume, Profit termasuk waktunya, kita coba kembangkan formula sederhana di
atas sehingga menjadi lebih flexible dan bisa beradaptasi dengan situasi yang
berbeda-beda, yaitu dengan membentuk persamaan linear sederhana seperti
dibawah ini:
TR = TC
TR TC = 0

Break Even Point (BEP)

Page 4

Karena TR adalah untuk Total Revenue maka TR dapat kita turunkan


menjadi :
TR = Unit Price x Qty
Sedangkan TC stand for Total Cost, yang mana kita semua tahu bahwa
dalam Cost Accounting, cost itu ada 2 macamnya, yaitu: Variable Cost dan
Fixed Cost, maka
turunan dari TC adalah:
TC = Variable Cost + Fixed Cost
Dari formula di atas kita turunkan lagi menjadi:
TC = [Qty x Unit Variable Cost] + Fixed Cost
Semua elemen yang ada sudah habis diturunkan, selanjutnya membuat
persamaan linear
secara penuh untuk kondisi Break Even Point:
TR - TC = 0
[Qty x Unit Price] - [(Qty x Unit VC) + Fixed Cost] = 0, atau
[Qty x Unit Price] - [Qty x Unit VC] - Fixed Cost = 0
Qty x [Unit Price - Unit Variable Cost] = Fixed Cost
Determinasi Elemen-Elemen Break Even Point
Setelah mempunyai formula, yang elemen-elemenya terdiri: Revenue (R),
Quantity (Qty), Unit Price, Variable Cost, Unit Variable Cost, dan Fixed
Cost.
selanjutnya

adalah

mendeterminasi

(menentukan)

masing-masing

elemen

tersebut.
Revenue (R): adalah pendapatan, yang dalam perusahaan manufactur biasanya
didominasi oleh Sales, yang mana Sales adalah jumlah terjual (Qty=Quantity)
dikalikan dengan unit price product yang akan terjual.
Quantity

(Qty): adalah

jumlah

barang

yang

akan

dijual,

yang

dalam

perusahaan manufactur tentunya diproduksi terlebih dahulu.


Unit Price: adalah harga per unit dari barang yang akan dijual.
Variable Cost: adalah cost yang timbul akibat diproduksinya suatu product
(barang), artinya segala yang cost yang terjadi untuk memproduksi suatu
barang. Seperti sebutannya Variable Cost, akan berubah-ubah mengikuti
jumlah product yang akan diproduksi. Semakin banyak jumlah yang diproduksi
semakin bedar juga variable cost-nya, begitu juga sebaliknya. Jika kita lihat pada
Laporan Laba rugi nantinya, variable cost akan tergolong ke dalam kelompok
Cost of Good Sales, yang pada perusahaan manufacur umumnya terdiri dari:
Break Even Point (BEP)

Page 5

Bahan Baku (Raw Material), Bahan Penolong, Cost Tenaga Kerja Langsung (Direct
labor Cost) dan Ovear Head Cost yang biasanya terdiri dari penyusutan Gedung
Pabrik, Penyusutan Mesin (Machineries) yang menggunakan unit production
output, Maintenance, Listrik (electricity), Pengiriman (Delivery & Services), dll.
Unit Variable Cost: adalah besarnya variable cost yang ditimbulkan untuk
membuat satu unit produk tertentu, yang besarnya diperoleh dengan cara
membagi total variable cost (Variable Cost) dengan jumlah product yang dibuat
(qty).
Fixed Cost: adalah cost yang akan terjadi akibat penggunaan sumber daya
tertentu yang penggunaannya tanpa dipengaruhi oleh banyak sedikitnya produk
yang diproduksi. Dengan kata lain: berapapun jumlah product yang dibuat, fixed
cost yang akan dibuat, costnya relative sama, bahkan tidak berproduksi
sekalipun cost ini akan tetap terjadi. Seperti sebutannya, fixed cost sifatnya
relative stabil, tidak dipengaruhi oleh production output. Adapun jenis-jenis cost
yang terjadi biasanya yang ada pada kelompok Biaya Operasional (Operating
Expenses:

Payroll,

Office

Supplies),

Lease

Hold

(Hak

Sewa),

termasuk

penyusutan-penyusutan dan amortisasi yang menggunakan metode garis lurus.


Untuk menentukan BEP suatu usaha bisnis dapat digunakan beberapa cara
yaitu: (1) pendekatan trial and error, (2) pendekatan grafik, dan (3) pendekatan
matematis.

Perhitungan break-even point dengan pendekatan trial and error

(coba-coba), yaitu dengan menghitung keuntungan operasi dari suatu volume


produksi/penjualan tertentu dan terus diulang hingga menghasilkan volume
produksi/penjualan yang menghasilkan keuntungan =0 (Total Revenu=Total
Cost).

Apabila perhitungan menghasilkan keuntungan maka hitung kembali

dengan mengambil volume penjualan/produksi yang lebih rendah sebaliknya jika


hasil perhitungan mengalami kerugian maka hitung kembali dengan mengambil
volume penjualan/produksi yang lebih besar.

Demikian dilakukan seterusnya

hingga dicapai volume penjualan/produksi di mana penghasilan penjualan tepat


sama dengan besarnya biaya total. Contoh: Suatu perusahaan bekerja dengan
biaya tetap sebesan Rp 300.000. Biaya variabel per unit Rp 40. Harga jual per
unit Rp l00. Kapasitas produksi maksimal 10.000 unit. BEP usaha ini dihitung
dengan cara coba-coba dengan menghitung keuntungan saat volume produksi
6.000 unit. Dengan volume produksi 6.000 unit maka dapat dihitung keuntungan
operasi sebagai berikut:

Break Even Point (BEP)

Page 6

= Q x P (FC + (Q x VC))
= (6.000 x Rp 100) (Rp 300.000,00 + (6.000 x Rp 40))
= Rp 600.000 - (Rp 300.000 + Rp 240.000)
= Rp 60.000
Pada

volume

produksi

6.000

unit

perusahaan

masih

mendapatkan

keuntungan. Ini berarti bahwa break-even pointnya terletak di bawah 6.000 unit.
Hitung kembali dengan memisalkan volume penjualannya sebesar 4.000 unit,
dan hasil perhitungannya adalah sebagai berikut:
= (4.000 x Rp 100) (Rp 300.000 + (4.000 x Rp 40))
= Rp 400.000 (Rp 300.000 + Rp160.000)
= - Rp 60.000,00
Pada volume 4.000 unit ternyata diderita kerugian sebesar Rp 60.000
sehingga break-even pointnya lebih besar dari 4.000 unit. Misalkan volume
penjualannya 5.000 unit, dan hasil perhitungannya adalah sebagai berikut:
= (5.000 x Rp 100) (Rp 300.000 + (5.000 x Rp 40))
= Rp 500.000

(Rp 300.000 + Rp 200.000)

= Rp 0.
Ternyata pada volume produksi penjualan 5.000 unit tercapai break-even point
dimana keuntungan nettonya sama dengan nol.
Pendekatan grafik dilakukan dengan menggambarkan unsur-unsur biaya
dan penghasilan kedalam sebuah gambar grafik. Dalam gambar tersebut akan
terlihat garis-garis biaya tetap, biaya total yang menggambarkan jumlah biaya
tetap dan biaya variabel, dan garis penghasilan penjualan. Besarnya volume
produksi/penjualan dalam unit digambarkan pada sumbu horizontal (sumbu X)
dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan digambarkan pada sumbu
vertikal (sumbu Y).
Untuk menggambarkan garis biaya tetap dalam grafik break even point
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya
tetap secara horizontal sejajar dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan
garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya variabel. Pada cara yang kedua,
Break Even Point (BEP)

Page 7

besarnya contribution margin akan tampak pada gambar break even point
tersebut.
Penentuan break even point

pada grafik, yaitu pada titik dimana terjadi

persilangan antara garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. dan
Apabila titik tersebut kita tarik garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X
akan tampak besarnya break even point dalam unit. dan Kalau titik itu ditarik
garus lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan tampak besarnya break
even point dalam rupiah.
Untuk jelasnya, perhatikan contoh berikut ini: Suatu perusahaan beroperasi
dengan biaya tetap sebesar Rp 300.000, biaya variabel per unit Rp 40. Harga
jual produk per unit Rp l00. Kapasitas produksi maksimal 10.000 unit. Dengan
dua cara dalam menggambarkan garis biaya tetap, atas dasar data tersebut, kita
dapat membuat dua gambar break even point

Gambar 1. Grafik BEP dengan Biaya Tetap Sejajar Sumbu X

Break Even Point (BEP)

Page 8

Gambar 2. Grafik BEP dengan Biaya Tetap yang Sejajar Garis Biaya Variabel
Dari Gambar 1 dan Gambar 2 tersebut terlihat bahwa break even point
tecapai pada volume penjualan sebesar Rp 500.000 atau dinyatakan dalam unit
sebanyak 5.000 unit. Pada Gambar 2. adalah lebih baik karena pada gambar
tersebut tampak konsep contribution margin. Dalam gambar tersebut breakeven point tercapai pada volume kegiatan di mana contribution margin (yaitu
penghasilan penjualan minus biaya variabel) tepat sama besarnya dengan biaya
tetap, yaitu pada volume penjualan Rp 500.000 atau dalam unit sebanyak 5.000
unit.
Perhitungan BEP dengan pendekatan matematis menggunakan rumus
aijabar dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (a) atas dasar unit dan (b) atas
dasar nilai penjualan dalam rupiah.
a. Perhitungan BEP atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
.....................................................................(1)

dimana
P = harga jual per unit
V = biaya variabel per unit
FC = biaya tetap
Q = jumlah unit/kuantitas produk yang dihasilkan dan dijual.

Break Even Point (BEP)

Page 9

Dari contoh di atas dapat dihitung secara langsung dalam unit dengan
menggunakan rumus pada persamaan 1 dan hasilnya adalah sebagai berikut:

b. Perhitungan break-even point atas dasar nilai penjualan dalam rupiah dapat
dilakukan dengan menggunakan rumus aljabar sebagai berikut:

.........................................................................(2)

dimana:
FC = biaya tetap
VC = biaya variabel
S = volume penjualan
Dengan menggunakan contoh pada bagian sebelumnya, BEP penjualan yang
dinyatakan dalam rupiah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2
sebagai berikut:

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa volume penjualan BEP
yang dinyatakan dalam rupiah sebesar Rp 500.000. Apabila volume penjualan
tersebut dibagi dengan harga jual per unit, hasilnya menunjukkan break-even
point dalam unit yaitu:

Dalam analisa BEP perlu pula dipahami konsep Margin of Safety. Margin of
safety

merupakan

batas

penurunan

penjualan

yang

bisa

ditolerir

oleh

perusahaan agar tidak menderita kerugian (Sutrisno, 2000). Besarnya margin of


safety dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Break Even Point (BEP)

Page 10

Margin of Safety merupakan angka yang menunjukkan jarak antara


penjualan yang direncanakan atau dibudgetkan (budgeted Sales) dengan
penjualan pada break even. Dengan demikian maka margin of safety adalah juga
menggambarkan batas jarak, dimana kalau berkurangnya penjualan melampaui
batas jarak tersebut, perusahaan akan menderita kerugian. Dari contoh,
besamya margin of safety dapat dihitung sebagai berikut:

Angka margin of safety sebesar 50% menunjukkan jika jumlah penjualan


yang nyata berkurang atau menyimpang lebih besar dari 50% (dari penjualan
yang direncanakan) perusahaan akan menderita kerugian. Kalau berkurangnya
penjualan hanya 40% dari yang direncanakan, perusahaan belum menderita
kerugian.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makin kecil margin of safety
berarti

makin

penurunan

cepat

jumlah

perusahaan
penjualan

menderita

yang

nyata.

kerugian

dalam hal

Untuk

membedakan

adanya
batas

penyimpangan yang dapat menimbulkan kerugian dinyatakan dalam angka


absolut dan dalam angka relatif, kadang-kadang digunakan dua macam istilah.
Untuk batas penyimpangan yang absolut digunakan istilah margin of Safety
dan untuk batas penyimpangan dalam angka yang relatif (dalam persentase dari
penjualan) digunakan istilah margin of safety ratio. Untuk contoh tersebut di
atas besarnya margin of safety adalah Rp 500.000 dan besarnya margin of
safety ratio adalah 50%.
Keterbatasan Analisis Break Even Point
Analisis break even dapat dirasakan manfaatnya apabila titik break even dapat
dipertahankan selama periode tertentu. Keadaan ini at dipertahankan apabila
biaya-biaya dan harga jual dalah konstan, karena naik turunnya harga jual dan
biaya akan mempengaruhi titik break even. Dalam kenyataan analisis ini agak
sukar untuk diterapkan. Oleh sebab ini bagi analis perlu diketahui bahwa analisis
break even mempunyai limitasi-limitasi tertentu, yaitu:

Fixed cost haruslah konstan selama periode atau range of out put
tertentu

Variabel cost dalam hubungannya dengan sales haruslah konstan

Sales price perunit tidak berubah dalam periode tertentu

Break Even Point (BEP)

Page 11

Sales mix adalah konstan

Berdasarkan limitasi-limitasi tersebut, BREAK EVEN POINT (BEP) akan bergeser


atau berubah apabila:
1. Perubahan FC, terjadi sebagai akibat bertambahnya kapasitas produksi,
dimana perubahan ini di tandai dengan naik turunnya garis FC dan TC-nya,
meskipun perubahannya tidak mempengaruhi kemiringan garis TC. Bila FC
naik BEP akan bergeser keatas atau sebaliknya.
2. Perubahan pada variabel cost ratio atau VC per unit, dimana perubahan ini
akan menentukan bagaimana miringnya garis total cost. Naiknya biayaVC
per unit akan menggeser BEP keatas atau sebaliknya.
3. Perubahan dalam sales price per unit
Perubahan ini akan mempengaruhi miringnya garis total revenue (TR).
Naiknya harga jual per unit pada level penjualan yang sama walaupun
semua biaya adalah tetap, akan menggeser kebawah atau sebaliknya.
4. Terjadinya perubahan dalam sales mix
Apabila suatu perusahaan memproduksi lebih dari satu macam produk maka
komposisi atau perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales
mix) haruslah tetap. Apabila terjadi perubahan misalnya terjadi kenaikan
20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP pun akan berubah.
2.5

Margin Of Safety
Margin of safety dalam hubungannya dengan analisis break even yaitu

untuk menentukan seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan


tidak menderita kerugian. Formulasinya adalah sebagai berikut:
M/S = (Budget sales BEP)/ Budget sales
Budget Sales adalah jumlah penjualan yang telah ditargetkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan :

Break Even Point (BEP)

Page 12

1.

Break Even Point (BEP) dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan
dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan
tidak menderita kerugian.

2.

Analisis Break even secara umum dapat memberikan informasi kepada


pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan
tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu.

3.

Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut: Variabel


Cost (biaya Variabel), Fixed Cost (biaya tetap), dan Semi Varibel Cost

4.

Break even point adalah titik dimana perusahaan belum memperoleh


keuntungan tetapi juga tidak dalam kondisi rugi, maka Break Even Point dapat
kita formulasikan secara sederhana sebagai berikut:
BEP -> TR = TC
TR = Total Revenue
TC = Total Cost

5.

Margin of safety dalam hubungannya dengan analisis break even yaitu untuk
menentukan seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak
menderita kerugian.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno. 2000. Manajemen Keuangan: Teori, Konsep dan Aplikasi. Penerbit
EKONISIA, Yogyakarta.
Sanjaya, Ridwan & Inge, Berlian. 2003. Manajemen Keuangan. Jilid 1 & 2. Edisi
ke empat. Literata Lintas Media.
Break Even Point (BEP)

Page 13

Mulyadi. 1999. Akuntansi Biaya. Edisi 5. Aditya Media. Yogyakarta

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................

1.1 Latar Belakang ............................................................................

1.2 Tujuan Penulisan .........................................................................

BAB II TEORI..................................................................................

Break Even Point (BEP)

Page 14

2.1 Pengertian Break Even Point ........................................................

2.2 Manfaat Analisis Break Even Point ...............................................

2.3 Jenis Biaya Berdasarkan Break Even (Titik Impas) .........................

2.4 Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas .........................

2.5 Margin Of Safety ......................................................................... 11


BAB III PENUTUP ........................................................................... 12
3.1 Kesimpulan ................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 13

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat TuhanYang Maha Esa yang
telah

memberikan

rahmat-Nya

sehingga

penyusunan

makalah

ini

dapat

diselesaikan tepat pada waktunya.


Pembuatan makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Farmasi. Selama penyusunan makalah ini penulis banyak menerima
bantuan

dari

berbagai

pihak.

Untuk

itu

dalam

kesempatan

ini

penulis

mengucapkan terimakasih dan rasa hormat yang sangat besar khususnya


kepada kedua orang tua yang saya cintai yang selalu memberikan doa dan restu

Break Even Point (BEP)

Page 15

serta dorongan baik materil maupun moril, serta kepada teman teman yang
selalu memberikan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis akan senantiasa menerima keritikan dan saran
yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis mengharapkan bahwa makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya.

Bandung, Mei 2014


Penulis

MAKALAH
MANAJEMEN FARMASI

BREAK EVEN POINT (BEP)

Break Even Point (BEP)

Page 16

NAMA : EKA NOVIANTI, S.Farm.


NIM
:
KELAS : B

UNIVERSITAS JENDERAL AHMAD YANI


FAKULTAS FARMASI
PROFESI APOTEKER
2014

Break Even Point (BEP)

Page 17